Tragedi Kematian Koran

August 29, 2008 · Filed Under jurnalisme 

udah lama wartawan senior itu tak menelepon. Kabar yang disampaikannya cukup mengejutkan. Meski ini sering terjadi, tetap saja bagi saya berita ini sebuah tragedi. Ya, tragedi kematian sebuah surat kabar yang makin sering terjadi sejak reformasi. Apakah gejala ini hanya di Indonesia? Ternyata tidak.

”Mulai hari ini, koranku ditutup,”kata sahabat saya itu, dari Jakarta. Nadanya datar. Tak ada protes dan keluh kesah. Ia seolah menatap ”jenazah” surat kabar yang dikelolanya dan siap dikuburkan dalam-dalam.
Soal pengalaman bekerja di surat kabar, teman saya ini tak diragukan lagi. Ia malah pernah merintis beberapa surat kabar di beberapa kota. Koran yang mati di tangannya itu, juga berkembang karena gagasannya. Ia sempat keluar lalu menulis di media online. Setahun belakangan, ia ditarik kembali ke surat kabar tersebut. ”Aku kini pengangguran,”katanya.
Mengapa surat kabar mati? Penyebabnya bermacam-macam. Mulai dari kurang modal, keterbatasan SDM dan teknologi, hingga persaingan yang saling bunuh di lapangan. Banyak juga koran yang tutup akibat konflik internal pengelolanya.
Yang jelas, ketika koran mati atau berhenti terbit, nasib wartawannya pun ikut dipertaruhkan. Celakanya, tidak jarang muncul masalah soal pesangon yang tak dibayar, gaji distop yang berbuntut demo ke perusahaan surat kabar yang kolaps itu.
Ironisnya, saat pertama kali terbit, koran-koran mengumumkan dan menerima ucapan selamat, mengadakan acara launching besar-besaran. Namun, ketika tutup dan mati, kebanyakan memilih diam-diam dan tidak terbuka.
Sejak reformasi, sudah banyak koran yang mati. Begitu juga di Kepri. Koran-koran yang mati itu antara lain: Tabloid Gemuruh, Batam Ekspres, Batam Bisnis, Nona, Nagoya Post, Lantang, Koran Batam, Majalah Utama, Koran Berani, Suara Nusantara dan Media Kepri. Wartawannya pun beralih profesi. Ada yang jadi pengusaha, ada yang terjun ke politik dan hanya sebagian kecil yang meneruskan karirnya di dunia jurnalistik.

Kematian Koran di Amerika

Jumlah koran di Amerika Serikat terus menurun sejak tahun 1959. Tercatat sebanyak 300 ribu koran telah tutup sejak itu. Demikian disampaikan oleh Gene Mater, Media Consultant dari Freedom Forum.”Keuntungan dari koran itu hanya 25 persen,” kata mantan wartawan CBS ini kepada detikcom di kantor Freedom Forum, Pennsylvania Avenue, Washington DC. Mater menyebutkan bahwa telah terjadi perubahan dalam cara mengkonsumsi berita seiring dengan berubahnya kehidupan masyarakat.

“Saat ini di Amerika tercatat ada 1.437 koran harian dengan 60 persen di antaranya beroplah 50 ribu eksemplar dan semua dikelola oleh swasta. Ada 1.600 televisi dan 13 ribu stasiun radio, 6.700 majalah dan koran yang terbit mingguan dan 400 TV kabel yang berasal dari luar Amerika Serikat,”jelas wartawan yang baru saja menerima penghargaan dari pemerintah Jerman atas jasanya mendorong kebebasan pers di negara-negara baru ini.
Analisa Wally Dean, wartawan senior yang sekarang menjadi direktur online broadcast di Committee of Concerned Journalists (CCJ), juga mengatakan hal yang serupa. Dean menegaskan bahwa oplah koran memang terus menurun, dan terjadi penurunan sebesar 1 persen setiap tahunnya dalam 20 tahun terakhir ini. “Penonton berita sore menurun 50 persen dalam 30 tahun terakhir dan penonton TV yang menayangkan berita lokal menurun 20 persen, di seluruh TV lokal di Amerika dalam 20 tahun terakhir ini,” jelas Dean.
“Sekarang lebih banyak orang yang tinggal di pinggir kota, yang harus berangkat lebih awal dari rumah untuk menuju ke kantor, sehingga tak sempat lagi membaca koran pagi. Mereka pun pulang ke rumah sudah malam, dan terlalu capek untuk membaca koran atau pun untuk menonton berita malam,” katanya.
Perubahan konsumsi masyarakat akan berita pun kemudian bergerak menuju pertumbuhan media online. “Saat ini 50 persen pembaca koran beralih menjadi pembaca media online,” kata Dean.

Dia juga menjelaskan bahwa tren ini semakin meningkat dan mendukung semakin suburnya pertumbuhan media-media online, apakah itu versi online dari media cetaknya atau pun yang hanya berupa media online,” kata Dean. Pertumbuhan ini bukan hanya menyenangkan bagi Dean, tapi juga meresahkan. “Ketika 50 persen pembaca koran berpindah ke media online, tetapi hanya 8 persen pengiklan yang kemudian pindah beriklan ke media online. Mereka masih tak percaya bahwa beriklan di media online itu efektif,” jelasnya.
Karena terjadi penurunan pembaca media konvensional, Dean mencatat telah terjadi pengurangan karyawan di sejumlah perusahaan media yang menyebabkan para wartawan kehilangan pekerjaannya. Dalam rangka efisiensi, perusahaan media mengganti karyawan yang bergaji besar dengan karyawan yang bergaji

lebih rendah, atau bahkan tidak digantikan sama sekali. Juga ada beberapa pekerjaan yang bisa digantikan fungsinya oleh komputer, seperti editor bahasa dan ejaan. “Lima tahun lalu kami percaya bahwa dengan adanya media baru ini masalahnya adalah perpindahan wartawan ke media baru itu sendiri, tapi sekarang kami tak percaya itu lagi, karena yang juga harus berpindah adalah para pengiklan,” ungkapnya.

Kekhawatiran Dean sangat beralasan, karena menurutnya media online yang populer seperti huffingtonpost. com pun sampai saat ini belum bisa menghasilkan keuntungan. “Media online saat ini masih dilihat hanya sebagai investasi saja, dan selama ini mereka bisa bertahan karena merupakan subsidi silang dari unit bisnis yang lain,” jelas dia. ****

Comments

2 Responses to “Tragedi Kematian Koran”

  1. reza on August 30th, 2008 11:24 pm

    Pasti Pembunuhnya Punya Nyali Besar ….

  2. kamalius on July 8th, 2009 11:20 am

    saya yakin dan setuju. pada era informasi skrng.
    orang semuanya pada mau instan. saat ini saya di daerah yg cukup dari kota. Bayangkan untuk mendapatkan koran Kompas aja. harus telat 1 hari. sangat disayangkan…terima kasih buat kompas epaper dan online, epaper kontan, riaupos dan dll. pihak media skrng sdh bnyk yg sadar dan berangsur beralih ke media online, jika media cetak terjadi penurunan drastis dan kolap maka meraka sudah siap duluan.

Leave a Reply