<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; pribadi</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/tag/pribadi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 10:57:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bukittinggi setelah 12 Tahun</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas tahun?<span id="more-271"></span></p>
<p class="MsoNormal">Saat menjejakkan kaki di Bukittinggi 12 tahun lalu, saya dan beberapa teman ditugaskan merintis perwakilan Riau Pos di Sumatera Barat. Ada Riki di bagian pemasaran, Nila sebagai kapoltir iklan, Aning, Arman dan Santi di pemasaran koran, Junaidi pengantar koran serta Afrimen dan kawan-kawan di beberapa daerah sebagai wartawan. Ada satu karyawan administrasi bernama Eva.</p>
<p class="MsoNormal">Kami menempati sebuah rumah tua –konon dulu pernah jadi rumah sakit—di kawasan Mandiangin. Dua kamar tidur, satu ruangan tengah, dan satu kamar di belakang dan dapur. Dua bulan kemudian, Ade Adran Syahlan bergabung ke Bukittinggi. Kami menjadikan kantor itu sekaligus sebagai tempat tinggal.</p>
<p class="MsoNormal">Rumah tua itu berdebu. Saya dan Riki gotong royong membersihkannya. Semua serba terbatas. Saya tidur di kamar depan menggunakan velbed alias tempat tidur lipat. Dari Pekanbaru yang panas lalu pindah tugas ke Bukittinggi yang dingin, memang bukan perkara gampang. Yang jelas, jadilan saya tidur meringkuk di tempat tidur lipat, lalu paginya memburu berita.</p>
<p class="MsoNormal">Saat itu, sungguh sulit menjelaskan ke narasumber, apa dan bagaimana koran Riau Pos. Sebab, selain koran-koran di Sumatera Barat sudah eksis seperti Haluan dan Singgalang, nama Riau Pos tidak populer dan familiar di telinga orang Minang. Malah, ada yang mengira saya pegawai kantor pos, ha..ha..ha..!</p>
<p class="MsoNormal">Namun, bekerja di Bukittinggi cukup menyenangkan. Meski gaji saya saat itu relatif kecil, tapi cukup karena tak biaya hidup terjangkau. Apalagi, tak perlu bayar kos. Kota ini gudang kuliner dan makan enak. Selain nasi kapau yang terkenal itu, di sebelah kantor kami, ada warga yang berjualan nasi dengan sambal lado teri yang enak dan gurih.</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, hubungan dengan kawan-kawan sekerja akrab dan hangat. Kadang-kadang, kami patungan beli sayur dan lauk, lalu cewek-ceweknya masak-masak dan kami makan beramai-ramai. Dengan wartawan dari media lain, kami juga akrab dan diterima sebagai teman seprofesi. Meski medianya bersaing, hubungan antar wartawan cukup dekat.</p>
<p class="MsoNormal">Ada beberapa kisah yang saya kenang di Bukittinggi. Sekitar empat bulan di Bukittinggi, tiba-tiba saya menerima perintah pindah tugas ke Batam. Namun, saya datang ke kantor Riau Pos di Pekanbaru yang saat itu masih di Jl Kuantan Raya, saya dipanggil bos saya Pak Rida, ke ruangan dekat percetakan. Saya ditanya,’’ kau mau kemana?,’’ tanya Pak Rida. Saya heran, lalu menjawab,’’ Kan katanya mau pindah ke Batam, Pak,’’ jawab saya.</p>
<p class="MsoNormal">Tanpa saya duga, Pak Rida berkata,’’Nggak usahlah kau ke Batam. Kau balik saja ke Bukittinggi dan menjadi Kepala Perwakilan di sana,’’ katanya. Saya tercengang. Padahal, baru sekitar delapan bulan saya menjadi wartawan. Spontan saya berkata,’’ Apa nggak buru-buru mengambil keputusannya, Pak?,’’ kata saya. ‘’Kau coba sajalah. Aku dulu juga nggak tahu soal bisnis surat kabar,’’ katanya. Jadilah saya kembali ke Bukittinggi menjabat sebagai Kepala Perwakilan. Saya jadi malu, karena sebelumnya sempat pamitan dengan kawan-kawan dan kenalan di Bukittinggi.</p>
<p class="MsoNormal">Tidak gampang memasarkan Riau Pos di Sumbar. Selain cetaknya di Pekanbaru, perlu waktu lima jam mengirimnya ke Bukittinggi menggunakan mobil ekspedisi. Supir dan pemilik mobil ekspedisi itu kami panggil Uwo, orang Bangkinang. Tubuhnya tinggi dan gempal, memakai kacamata minus. Kalau koran siap cetak, ia ngebut ke Bukittinggi seperti kesetanan. Padahal, jalan ke Pekanbaru sempit dan penuh tikungan tajam.</p>
<p class="MsoNormal">Suatu hari, saya heran melihat Uwo. Matanya merah dan jalannya limbung. Dia bilang, minta maaf karena sudah tidak tahan lagi. Saya makin heran, maksudnya apa. Uwo lalu pergi ke belakang kantor. Ketika saya ke belakang, saya melihat Uwo duduk di kursi dan tangannya di dengkul. Kepalanya menggeleng-geleng dengan kuat. Matanya terpejam. Di kupingnya, terpasang earphone dari sebuah walk man.</p>
<p class="MsoNormal">Ada apa dengan Uwo? Oalah! Ternyata ia lagi ‘’on’’ setelah menelan pil ekstasi. Jadi, selama di perjalanan, ia menggeleng-geleng sambil menyetel musik keras-keras. Saya lalu menagmbil kamera dan memotretnya. Saya berpikir, kalau saya tulis ulahnya, dia pasti marah. Dan kalau saya biarkan, ia pasti ketagihan. Nah, kalau terus-terusan begitu, bisa-bisa mobilnya masuk jurang dan koran tidak sampai ke pelanggan. Lalu, bagaimana?</p>
<p class="MsoNormal">Saya putuskan tetap menulis. Nama Uwo saya samarkan. Begitu tulisan itu terbit keesokan harinya, si Uwo marah besar. Ia hampir memukul saya. <span> </span>Saya diam saja. Saya bilang, tujuannya baik agar ia tak celaka di jalan.<span> </span>Perkiraan saya benar.<span> </span>Saya mendengar kabar, Uwo pernah menabrak kerbau yang melintasi jalan, menabrak beberapa taksi yang parkir di pinggir jalan,<span> </span>dan pernah masuk jurang. Sekarang, saya tidak pernah bertemu lagi, setelah saya pindah ke Batam.</p>
<p class="MsoNormal">Meski setahun jadi Kepala Perwakilan Riau Pos di Sumbar, kami sempat menjadi tuan rumah rapat Jawa Pos Grup wilayah Barat. Saya bertemu dan ngobrol dengan Pimred Jawa Pos Dimam Abror. Saya juga pernah dikejar-kejar tentara, gara-gara menulis kisah seorang pramuria di kafe bernama Pondok Bambu. Tulisan itu salah kode sehingga senior saya M Siebert juga kena getahnya. Saya salut, ia bertahan tidak memberitahukan identitas saya kepada tentara yang datang menjemputnya jam tiga dinihari.</p>
<p class="MsoNormal">Tak terasa, dua belas tahun sudah saya meninggalkan Bukittinggi. Tak banyak yang berubah, kecuali sudah cukup bersih. Hanya saja, hawanya tidak sedingin dulu. Mungkin karena makin padat dan hutannya berkurang. Jalan-jalan masih saja sempit. Billboard dan papan merek makin bertaburan tak teratur. Saya menginap di hotel Novotel yang sejak dua tahun lalu berganti nama menjadi hotel The Hills.</p>
<p class="MsoNormal">Bagi saya, Bukittinggi masih tetap kota yang saya sukai. Makanannya tetap enak. Mulai dari nasi kapau, emping dadiah, hingga lontong sayur dan serabi. Saat melintasi Jalan A Rivai, saya teringat seseorang. Jalan ini adalah alamat yang selalu jadi tujuan surat-surat yang saya kirimkan kepadanya. Juga seseorang yang tak sanggup melawan kehendak ayahnya ketika ada yang mendekatinya.</p>
<p class="MsoNormal">Jam Gadang, Ngarai Sianok, Nasi kapau, panorama, pasar atas, bawah dan pasar lereng, bendi-bendi yang ditarik kuda, benteng Fort de Kock, jembatan Limpapeh. Jalannya yang berliku dan menurun mendaki serta hawanya yang sejuk. Ah, Bukittinggi memang kota yang menawan&#8230;.</p>
<p class="MsoNormal">Bukittinggi, 24 Juli 2009</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdamai dengan Kenyataan (20/5/1967 &#8211; 20/5/2009)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/berdamai-dengan-kenyataan-2051967-2052009/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/berdamai-dengan-kenyataan-2051967-2052009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 21:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[ 
Hari ini, 20 Mei 2009, saya berumur 42 tahun. Tak ada rencana khusus untuk merayakannya. Meski istri saya sudah berencana mengantarkan makanan sekadarnya untuk anak-anak panti asuhan, tanda bersyukur kepada Allah SWT. Kalau biasanya saya diberi kado buku oleh mama, beberapa hari sebelum ultah, mama mengatakan kepada saya: Berdamailah dengan kenyataan&#8230;
Seingat saya, tak pernah ulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal">Hari ini, 20 Mei 2009, saya berumur 42 tahun. Tak ada rencana khusus untuk merayakannya. Meski istri saya sudah berencana mengantarkan makanan sekadarnya untuk anak-anak panti asuhan, tanda bersyukur kepada Allah SWT. Kalau biasanya saya diberi kado buku oleh mama, beberapa hari sebelum ultah, mama mengatakan kepada saya: Berdamailah dengan kenyataan&#8230;<span id="more-267"></span></p>
<p class="MsoNormal">Seingat saya, tak pernah ulang tahun saya dirayakan. Meski tak kekurangan, keluarga saya biasa-biasa saja. Malah, makin lama, hidup terasa makin susah. Padahal, sampai berumur 10 tahun, keluarga saya termasuk berada untuk ukuran di kota kecil Payakumbuh, Sumatera Barat. <span> </span>Sebab, papa saya penguasaha di bidang transportasi dan mama bekerja sebagai perawat bidan yang pensiun muda lalu buka apotik.</p>
<p class="MsoNormal">Papa punya usaha angkutan antar kota. Mobil bus kuno miliknya namanya Pozsla. Artinya, Perusahaan Oto Zubir Sutan Lembang Alam. Itu nama kakaknya yang kemudian sakit-sakitan dan usahanya diteruskan papa. Mama buka apotik di kawasan pecinan dan namanya Misoya Farma. Tetangga kami orang Tionghoa dan pergaulan orangtua saya, cukup banyak warga Tionghoa. <span> </span>Rumah kami, hanya 100 meter dari bioskop sehingga saya paling sering diajak nonton film kungfu dan Shaolin.</p>
<p class="MsoNormal">Teman-teman pun banyak warga Tionghoa. Ada Asiong yang pernah saya tendang sampai setengah pingsan, Aming, Meme, Lily dan lainnya. Seperti dua kakak dan adik saya, kami semua sekolah di SD Pius, sekolah terbaik di Payakumbuh. Anak-anak warga Tionghoa, umumnya sekolah di sana. Sampai kemudian, keluarga saya pindah dan membangun rumah sendiri di <span> </span>LabuhBasilang.<span>  </span>Ini karena jalannya bersimpang empat seperti silang.</p>
<p class="MsoNormal">Kawasan ini terkenal dengan premannya.<span>  </span>Jadilah saya ikut-ikutan ulah preman juga. Begadang sambil main gitar, nyolong ayam, hingga berkelahi dan tawuran. Beberapa kali, saya malah berkelahi dengan tentara. Akibatnya bisa ditebak. Bonyok. Lantaran nakal, saat kelas I SMA saya tinggal kelas karena memaki guru dalam kelas. Saya jengkel karena dituduh bikin keributan karena ulah teman yang iseng.<span>  </span>Karena malu, saya kemudian pindah ke INS Kayutanam.</p>
<p class="MsoNormal">Sebenarnya, ini sekolah bagus. Memadukan teori dan praktek, seperti SMK sekarang. Namun, imejnya terlanjur jelek: sekolah anak nakal. Saya akui, teman-teman saya rata-rata nakal. Tapi, mereka juga pintar. Mungkin karena kurang perhatian dan label nakal sudah disandangnya. Yang saya suka sekolah disana, sikap hidup mandiri tertanam kuat. Dari pohon mangga, jangan harapkan buah rambutan, tapi harapkanlah buah mangga yang paling manis. Jadilah dirimu sendiri. Itulah motto sekolah itu.</p>
<p class="MsoNormal">Masa kuliah, adalah masa-masa sulit. Saya harus kuliah sambil kerja serabutan. Mulai dari kerja di toko dan numpang tinggal di rumah majikan, beternak ayam, jual stiker di kampus dan menulis opini di surat kabar. Saat baru kuliah, papa saya terserang stroke selama 13 tahun! Mama harus berperan seperti single parent dan pontang-panting mencari uang. Keluarga kami selalu terbelit utang.<span>  </span>Saya masih ingat, mama memberi uang receh untuk ongkos ke kota provinsi berangkat kuliah yang baru diambil dari celengan.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi, saya tak menyerah. Kuliah hampir tujuh tahun akhirnya tamat juga. Saya masih bisa jadi aktivis kampus. Ketua kesenian, pimred buletin kampus, ketua UKM Olahraga dan selalu jadi team manager kampus saat bertanding dalam kejuaraan olahraga antar kampus di tingkat nasional. Padahal, saya tidak mengerti olahraga. Hanya hobi main catur dan tenis meja.</p>
<p class="MsoNormal">Tahun 1996 saya masuk ke dunia kerja. Tidak mengerti komputer, tidak pernah jadi wartawan. Hanya modal menulis opini selama tujuh tahun dan pengalaman ikut penelitian, sangat membantu. Saya bersyukur karir saya tergolong cepat dan sering meloncat-loncat. Delapan bulan jadi reporter, dikarbit jadi kepala perwakilan. Lalu jadi redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana, pimpinan redaksi dan pimpinan umum. Tiga tahun lalu, jadi direktur. <span> </span>Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan.</p>
<p class="MsoNormal">Tuhan memang maha adil. Ada siang, ada malam. Ada susah, ada senang. Baik dan buruk. Bahagia dan menderita. Sukses dan gagal.<span>  </span>Kaya dan miskin. Sehat atau sakit dan seterusnya. Saya mengalami keduanya. Setelah susah payah sekolah, ada juga masa senangnya setelah bekerja dan bisa menabung. Menderita bertahun-tahun, akhirnya<span>  </span>kebahagiaan mulai merebak. <span> </span>Banyak teman yang suka, tak sedikit pula yang membenci&#8230;</p>
<p class="MsoNormal">Gagal di sekolah, toh bisa juga menuai prestasi dan tiga kali menerima beasiswa. Sehat sepanjang tahun, tiba-tiba drop sakit lalu masuk rumah sakit. Beberapa hari lalu, saya malah di rumah sakit Pakar Putri Hospital, Johor Bahru<span>  </span>Malaysia. Saya check-up perut dan lambung dengan USG seperti orang hamil dan endoskopi, memasukkan monitor melalui selang di rongga mulut untuk memotret isi perut. Hari ini, saat saya berulang tahun ke 42, teman-teman mengucapkan selamat dan minta traktir makan-makan, saya malah duduk di kursi dokter gigi.</p>
<p class="MsoNormal">Saat salat Zuhur berjamaah di masjid Darul Hikmah Baloi, saya berdoa: Ya Allah, ampunilah aku. Lindungi ibuku, istri dan anak-anakku dan seluruh keluargaku. Jauhkanlah kami dari api neraka jahanam, dari orang-orang yang berniat jahat dan malapetaka. Terima kasih atas rahmat dan karunia-Mu. Jangan jadikan aku orang yang mendustai nikmat-Mu.</p>
<p class="MsoNormal">Meski saya tak punya agenda merayakan ulang tahun kali ini, istri tercinta menyediakan kue dan lilin, lalu saya tiup bersama kedua buah hati saya. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun, lalu mencium pipi papanya. Terima kasih ya Allah&#8230;</p>
<p class="MsoNormal"> Batam, 20 Mei 2009</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/berdamai-dengan-kenyataan-2051967-2052009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Axel dan Sonya</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 17:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan&#8230;
Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan&#8230;</p>
<p>Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam Bintang Kejora.<span id="more-262"></span></p>
<p>Sungguh, saya berbahagia dikarunia sepasang buah hati yang sehat, cerdas, lincah dan rupawan. Si sulung Axel yang biasa disapa Ari, menyandang nama yang saya artikan orang yan gagah perkasa dan penyayang seperti Nabi Muhammad. Sementara Sonya artinya wanita yang berakhlak mulai, bijaksana dan penyayang. Beda usia keduanya empat tahun. </p>
<p>Sejak awal, saya ingin mendidik Axel menjadi anak yang mandiri. Sebab, sejak ia mulai bisa berjalan, tampaknya ia sangat tergantung pada ibunya. Ia anak yang lasak dan tak suka diam. Meloncat, berlarian dan membuat suasana rumahjadi gaduh. Saat saya bawa ia menghadiri acara yang dihadiri gubernur, ia malah bergulingan di dekat panggung. </p>
<p>Saat adiknya lahir, sebagai anak sulung, ia agak cemburu. Malah, kadang tak segan-segan ia mengungkapkan kecemburuan itu pada istri saya yang mereka panggil Bunda. Saya mulai mengajarinya mengambil keputusan saat mau masuk sekolah dasar. Seharian saya tak masuk kantor dan mengajaknya mengunjungi beberapa sekolah yang dinilai favorit.</p>
<p>Kami berkeliling. Mulai dari SD Islam Terpadu di Tiban, SD unggulan di Sei Panas, Sekolah Nabila dan terakhir ke SD Kalista, afiliasi sekolah internasional Global Indoasia. Setelah itu, saya tanya, ia mau sekolah dimana. Namun, pertanyaan saya dijawabnya dengan ucapan tidak tahu, sambil memalingkan muka. Tak lama kemudian, saya mendengar ia meminta kepada ibunya agar sekolah di Kalista saja.</p>
<p>&#8221;Kan sekolahnya pakai bahasa Inggris?&#8221; kata istri saya. Anak saya menjawab enteng. &#8221;Ya, nggak apa-apa. kan kalau kita ke Singapura bisa ngomong,&#8221; katanya. Ketika saya mengajuknya masuk sekolah itu mahal, lagi-lagi ia menjawab,&#8221; Kan tabungan Ai (sebutan sayangnya) ada,&#8221; katanya. Sejak bayi, kami memang menabung untuk biaya sekolahnya.</p>
<p>Meski masih kelas 2, anak saya kini terbiasa bicara memakai bahasa Inggris di sekolahnya. Tapi, ia menolak bila di rumah diajak berbahasa Inggris. Capek, katanya. Nilai rapornya bagus. Ia juga keranjingan komputer dan internet. Laptop milik omnya di rumah jadi sasarannya untuk membuka games cartoonnetwork. Saya juga melihatnya mencatat beberapa alamat situs internet. </p>
<p>Yang jadi pikiran saya, saya bapaknya tidak pernah kursus komputer dan baru paham setelah bekerja. Itupun dengan mencatat di tangan bagaimana mengoperasikan komputer. Sesekali, kalau ia libur, saya ajak Axel meliput dan melihat bagaimana realitas kehidupan. </p>
<p>Berbeda dengan abangnya yang agak serius dan pendiam, terutama sejak sekolah yang dari jam 07.30 WIB hingga pukul 15.00 sore, adiknya Sonya sifatnya bertolak belakang. Selalu ceria dan suka tertawa. Umur dua tahun dan saat pandai berjalan, ia susah bicara. Tapi sekarang, cerewetnya minta ampun. Saya tercengang ketika saat mulai bisa ngomong ia berkata,&#8221; Batu, jembatan, ai juuun&#8230;&#8221; celotehnya. Saya heran. Oala, ternyata ia menirukan ucapan Dora, dalam film Dora Explorer. </p>
<p>Sonya memang generasi televisi. Kini, ia sering menirukan iklan kartu selular murah seperti: jojing-jojing,cakep-cakep, mau, mau, mau?&#8230;Atau iklan coca cola yang setelah diminum langsung berucap brrrrrr&#8230;Ia juga senang menyanyi dan mewarnai. Satu kegemarannya terhadap boneka berbie dan princess membuat saya dan istri kadang kewalahan. Tidak saja boneka dan tas, apa saja yang bergambar putri itu ia mau. kalau tak dipenuhi, ia langsung berdiri tegak dengan muka manyun!</p>
<p>Apapun, saya bersyukur punya buah hati yang membanggakan hati. Saya hanya makin terkaget-kaget ketika Sonya bilang ia mau nonton sinetron Cinta Fitri. Meski saya sibuk dan kadang harus pulang larut malam, sesekali saya berusaha mendongeng dan membacakan buku cerita. Untunglah kedua buah hati saya ini suka buku. Sehingga ia tidak kehilangan daya imajinasi. ***</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
