<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; humaniora</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/tag/humaniora/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kesaksian di Pengadilan (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/kesaksian-di-pengadilan-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/kesaksian-di-pengadilan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 16:02:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Waktu terus berlalu. Tanggal 14 Mei 2009 saya dipanggil kejaksaan agar hadir di pengadilan negeri Batam sebagai saksi korban.  Meski beberapa tahun lalu saya pernah meliput sebagai wartawan dipengadilan, namun seumur hidup, baru kali ini saya duduk di ruang pengadilan. 
Sidang dijadwalkan jam 13.00 WIB. Saya mengajak teman saya Herman dan sekretaris saya Levina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu terus berlalu. Tanggal 14 Mei 2009 saya dipanggil kejaksaan agar hadir di pengadilan negeri Batam sebagai saksi korban.  Meski beberapa tahun lalu saya pernah meliput sebagai wartawan dipengadilan, namun seumur hidup, baru kali ini saya duduk di ruang pengadilan. <span id="more-264"></span></p>
<p>Sidang dijadwalkan jam 13.00 WIB. Saya mengajak teman saya Herman dan sekretaris saya Levina menemani saya.<br />
Kami masuk ke Pengadilan Negeri Batamlewat samping dan mampir ke kantin. Asap rokok mengepul di tiap sudut.  Beberapa lelaki berpakaian rapi yang saya kira pengacara, berbincang –bincang soal perkara. Saat kami masuk ke ruangan pengadilan, di depan ruangan tahanan sementara, belasan warga bergerombol. Polisi berseragam dan bersenjata serta beberapa pegawai kejaksaan,  tampak berjaga-jaga.<br />
Dalam surat panggilan itu tertulis, saya harus menghadap kepada jaksa Eny Maryani SWR, SH pada pukul 13.00 WIB untuk didengar keterangannya sebagai saksi di persidangan. Awalnya, saya sempat malas untuk datang. Tapi, sebagai warga negara yang taat hukum saya harus datang. Saya berpikir, korbannya bukan hanya saya sendiri. Bagaimana kalau saksi korban lainnya juga tidak datang?<br />
Ternyata, benar. Saksi korban lainnya seorang wanita yang mobilnya dipecahkan kacanya dan kehilangan handphone dan perhiasan, tidak hadir di pengadilan. Sempat juga muncul kekhawatiran, jangan-jangan wajah saya ditandai pelakunya. Soalnya, saya menduga mereka residivis dan sangat lihai dengan kejahatan jenis ini. Buktinya, ada belasan warga yang jadi korban. Kabarnya, kasusnya terungkap setelah mereka membobol mobil saya.<br />
Saya memutuskan hadir sebagai saksi di pengadilan. Apalagi, dalam surat panggilan kejaksaan disebutkan: Barang siapa yang dengan melawan hukum tidak datang sesudah dipanggil dapat dituntut berdasarkan ketentuan pasal  216 KUHP. Di kantor Pengadilan Negeri  Batam, saya menelusuri ruangan demi ruangan dan mencari di ruangan mana kira-kira saya akan bersidang.<br />
Ruangan sidang ada empat. Tiga di lantai satu dan satunya di lantai dua.  Meski di depan ruang sidang utama ada white board berukuran cukup besar yang memuat jadwal persidangan, baik perdata, pidana dan ekonomi, tapi tak satupun jadwal sidang tertulis di sana. Papan tulis itu kosong melompong. Padahal, pada hari itu, jadwal sidang cukup padat. Sedikitnya ada enam persidangan ang digelar sampai pukul 15.00 WIB sore. ‘’Kadang ada sidang sampai sore,’’ kata seorang pegawai kejaksaan.<br />
Di ruangan tahanan sementara di belakang gedung, kalau diintip dari ventilasi di tangga ke lantai dua, sekitar 18 orang berdesak-desakan menunggu jadwal sidang. Para terdakwa itu mengenakan seragam warna oranye. Padatnya persidangan di Pengadilan Negeri Batam, makin terasa gedung berlantai dua itu sempit. Gerbang pemeriksaan di pintu masuk tak berfungsi. Saya malah ikut menghadiri sidang penipuan kartu kredit dengan terdakwa warga negara Malaysia menunggu sidang pembobolan kaca mobil saya digelar.<br />
Yang mengherankan, meski  jaksa yang menangani perkara saya Eny Maryani, jaksa tersebut tidak ada di tempat. Saat saya hubungi memberitahu bahwa saya sudah hadir tepat waktu di pengadilan, ia malah menyuruh saya menghubungi  rekannya jaksa Melinda. Namun, perkaranya dioper lagi kepada jaksa Jusnetty.  Hakim Elfian SH yang akan mengadili perkara tersebut, juga tampak sibuk menjadi hakim kasus lain.<br />
Setelah menunggu hampir tiga jam, akhirnya kasus pembobolan mobil itu digelar juga. Setelah palu diketuk hakim tanda sidang dimulai, jaksa Jusnetty mulai membacakan surat dakwaan.  Jaksa tersebut membaca kurang lancar. Maklum, kasus tersebut bukan perkaranya sendiri.  Namun, jaksa ini cukup ramah. Ia berterima kasih karena saya sudah datang menjadi saksi.<br />
Dua orang terdakwa pembobol mobil itu, Kandar dan Wajir, usianya masih muda. Hebatnya, wajah keduanya terkesan lugu. Mereka hanya duduk tenang dan mendengarkan dakwaan. Saat hakim bertanya, apakah benar dakwaan tersebut, keduanya mengangguk. Lalu, saya disumpah sebagai saksi. Inilah pertama kali saya duduk di persidangan.  Saya diminta menceritakan kronologi singkat kejadian.<br />
Saat hakim meminta saya maju ke depan melihat barang-barang bukti, ternyata laptop-nya tidak ada. Termasuk handphone, kalung dan sepeda motor yang digunakan kedua terdakwa berbuat kejahatan. Satu persatu barang bukti dicek kembali. Lagi-lagi, jaksa kelabakan. Ia lalu menelepon seseorang dan meminta menghadirkan barang bukti tersebut.  ‘’Nah, inilah yang saya sesalkan. Barang bukti tidak lengkap. Nanti dikira orang sidang ini main-main saja,’’ cetus hakim Elfian.<br />
Saat hakim kembali memeriksa barang bukti, tiba-tiba telepon jaksa Jusnety berdering. ‘’Cepatlah, ini saya ditegur hakim karena barang buktinya tidak lengkap,’’ katanya. Mendengar itu, hakim tambah marah. ‘’Ibu Jusnety, tolong matikan handphone Anda. Saya saja saya matikan. Sidang ini tidak siap. Sidang saya skor sementara, selesaikan dulu urusan telepon Anda,’’ kata hakim sambil mengetuk palu sidang dan berdiri meninggalkan ruangan.<br />
Jaksa berusaha membela diri. ‘’Maaf, pak hakim. Ini bukanperkara saya. Saya hanya dititipi teman,’’ katanya. Di luar ruang sidang, saya dipanggil hakim saat ia merokok di ujung tangga di lantai dua. ‘’Itulah yang saya sesalkan. Masa di ruang sidang handphone-nya aktif. Saya saja saya matikan. Ini kan tidak menghormati sidang yang sakral,’’ kata hakim kepada saya. Di papan aturan persidangan nomor tiga, memang tertulis agar setiap pengunjung sidang mematikan telepon selularnya. Sidang kemudian ditunda seminggu kemudian.<br />
Saat menyusuri lorong-lorong gedung pengadilan negeri Batam, saya merasa ada sesuatu yang sulit dipahami  secara kasat mata. Mulai dari pengunjung dan keluarga tahanan, ruangan para hakim, jaksa, pengacara hingga panitera. Orang-orang pencari keadilan, seperti masuk ke labirin yang tak berujung.  Aturan soal kedisiplinan waktu, aturan yang sudah dibuat, dilanggar tanpa merasa bersalah. Adakah sesuatu yang lebih besar lagi di balik itu? Entahlah&#8230;*** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/kesaksian-di-pengadilan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Korban Kejahatan (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/jadi-korban-kejahatan-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/jadi-korban-kejahatan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 16:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Siapapun, bisa jadi korban kejahatan.  Termasuk saya. Mobil Grand Vitara BP 2 MN yang saya pakai, dibobol alap-alap maling pemecah kaca mobil. Kejadiannya cepat sekali, dan siang hari. Sebagai wartawan, saya selalu stand by dengan kamera dan laptop di mobil. Siapa tahu, ada kejadian bernilai berita saat saya di jalan. Biasanya, perlengkapan tersebut saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapapun, bisa jadi korban kejahatan.  Termasuk saya. Mobil Grand Vitara BP 2 MN yang saya pakai, dibobol alap-alap maling pemecah kaca mobil. Kejadiannya cepat sekali, dan siang hari. Sebagai wartawan, saya selalu stand by dengan kamera dan laptop di mobil. Siapa tahu, ada kejadian bernilai berita saat saya di jalan. Biasanya, perlengkapan tersebut saya bawa ke rumah. Tapi, malam itu karena pulang larut malam, tas kamera dan laptop saya tinggal di mobil.<span id="more-263"></span></p>
<p>Saya ingat benar, kejadiannya hari Kamis, 21 Januari 2009. Sekitar jam 10.00 WIB saya mandi dan bersiap ke kantor. Lamat-lamat, saya mendengar seperti butiran kerikil ditumpahkan di depan rumah. Saya kira, ada tukang yang sedang bekerja. Begitu saya mau berangkat, saya heran, kok kaca belakang sebelah kanan mobil terbuka. Alangkah kagetnya saya ternyata,  tas di dalam mobil lenyap. Kacanya berhamburan di jok mobil.<br />
Saya bertanya pada sekuriti, tapi tak ada yang melihat pelakunya. Siang itu juga, saya melapor ke kantor polisi di Polsek Batam Kota. Saya pikir, saya lagi sial. Kenapa tas kamera dan laptop itu saya tinggal di mobil?  Saya uring-uringan. Laptop Toshiba seri terbaru milik kantor, lensa kamera, enam data traveler, modem internet  lenyap tak berbekas.  Saya hanya bisa pasrah dan mengantongi surat laporan ke polisi. Kecil kemungkinan barang-barang itu bisa ditemukan. Sebab, pelakunya sepertinya sangat lihai.<br />
Jalan masuk ke komplek saya hanya satu. Selain dipasangi portal, jarak dua rumah dari rumah saya, ada pos keamanan. Pos itu saya yang membangun saat saya menjadi Ketua RW XIV Taman BPD Indah. Dua tahun lalu, saya mundur sebagai ketua RW. Sayangnya, sekuriti yang bertugas siang itu, tak punya kepekaan terhadap aksi kejahatan yang terjadi. Ia hanya menjawab tidak tahu apa yang sudah terjadi.<br />
Namun, dua bulan kemudian, saya dihubungi polisi dari Poltabes Barelang. Ia mengabarkan bahwa pelaku pembobolan mobil saya ditangkap. Ia minta saya datang memastikan apakah benar laptop yang disita polisi milik saya. Saat bertemu polisi, saya sempat ragu. Merek dan serinya sama. Tapi, datanya sudah dihapus semua dan diformat ulang.  Ternyata, kasus pembobolan mobil itu terjadi secara beruntun. Pelakunya diduga sama.<br />
Polisi mengatakan kepada saya, modus kejahatan pembobolan mobil itu. Caranya, setelah pelaku mengintip ada barang atau tas dalam mobil, seorang stand by di motor dan seorang lagi memecahkan kaca mobil dengan menggunakan busi bekas. Busi itu dipecahkan keramik putihnya, lalu dikulum di mulut. Lho, untuk apa? Ternyata, air ludah dianggap bisa meredam suara pecahan kaca saat busi tersebut dilempar sekuat tenaga ke kaca mobil.<br />
Kaca akan segera retak dan dengan mudah didorong pakai tangan. Setelah itu, barulah mereka menyambar benda berharga apa saja dalam mobil.  Saya baru yakin, mereka pelakunya setelah polisi memperlihatkan barang bukti lain tas kamera dan data-data saya di USB.  Setelah kasus saya terungkap, polisi mengembangkannya dan berhasil mengungkap beberapa kasus lainnya dengan pelaku yang sama.<br />
Kendati banyak juga warga yang enggan melapor ke polisi jika menjadi korban kejahatan pencurian yang nilainya relatif kecil, saya tetap melapor ke polisi. Jujur saja, memang makan waktu berjam-jam dan merepotkan. Tapi, kepada siapa lagi kita melaporkan kejadian naas yang menimpa kita? Saya dengan tulus mengucapkan, terima kasih pak polisi. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/jadi-korban-kejahatan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiket Bahagia</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/tiket-bahagia/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/tiket-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 08:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[ 
Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu. Semakin kita kejar, semakin dia berusaha terbang menghindar. Kalau punya pikiran yang tenang, berpikir dan berkontemplasi dengan baik, biasanya kebahagiaan lebih mudah kita dapatkan.  Postingan ini mungkin ada gunanya bagi Anda yang sering berkeluh kesah dan merasa tidak bahagia.
Mengapa banyak di antara kita merasa tidak bahagia? Penyebabnya, kita lebih banyak tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal">Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu. Semakin kita kejar, semakin dia berusaha terbang menghindar. Kalau punya pikiran yang tenang, berpikir dan berkontemplasi dengan baik, biasanya kebahagiaan lebih mudah kita dapatkan.<span>  </span>Postingan ini mungkin ada gunanya bagi Anda yang sering berkeluh kesah dan merasa tidak bahagia.<span id="more-259"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV">Mengapa banyak di antara kita merasa tidak bahagia? Penyebabnya, kita lebih banyak tahu tentang: ”apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang yang berbahagia” daripada tahu tentang: ”mengapa kita tidak bahagia”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV">Perasaan tidak bahagia sebenarnya adalah penyakit. Hal itu adalah bentuk dari upaya meracuni diri sendiri. Mari kita rawat penyakit itu dengan cara yang terjangkau. Kita cermati gejala penyakit tersebut dan kita hancurkan gejala itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV">Di bawah ini terdaftar hal-hal yang biasanya merupakan gejala yang meracuni kebahagiaan kita beserta antibodi yang dapat menghancurkan gejala penyakit ketidakbahagiaan kita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>   </span><span>   <strong>Racun 1 = Menghindar</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejalanya, lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapat kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodinya : Realitas</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustrasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 2 = Ketakutan</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkawinan, kesulitan seksual.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodinya : Keberanian. Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun3 = Egoistis</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Nyinyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodinya : Bersikap sosial.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> </span>Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apa pun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 4 = Stagnasi</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejalanya berhenti di satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodinya : Ambisi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita akan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 5 = Rasa rendah diri</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi: Keyakinan diri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 6 = Narsistik</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodi : Rendah hati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan berbahagia. Hindari sikap ” sok tahu”. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 7 = Mengasihani diri</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Kebiasaan menarik perhatian, suasana hati yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodi : Sublimasi</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimental dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 8 = Sikap bermalas-malasan</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi : Kerja</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 9 = Sikap tidak toleran</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi : Kontrol diri</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 10 =Kebencian</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Keinginan balas dendam, kejam, bengis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi : Cinta kasih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  Simpanlah paket tiket untuk melawan perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama saat kita sedang berada dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.***</span></span></span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/tiket-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Kerjasama Tim</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/hukum-kerjasama-tim/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/hukum-kerjasama-tim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 08:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[ 
Kata kerjasama, koordinasi dan sejenisnya sangat sering diucapkan. Namun, tidak mudah mewujudkan kerjasama. Padahal, kerjasama penting untuk mencapai keberhasilan. Berikut 17 hukum kerjasama tim yang efektif yang dikutip entah dari mana saya lupa. Yang jelas, bagus buat orang yang sulit bekerja sama. 
1. Nilai kerjasama. 
Satu adalah jumlah yang terlalu sedikit untuk mencapai kebesaran. 
Jadi, untuk mencapai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/kerjasama1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-258" title="kerjasama1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/kerjasama1-280x300.jpg" alt="" width="280" height="300" /></a></span>Kata kerjasama, koordinasi dan sejenisnya sangat sering diucapkan. Namun, tidak mudah mewujudkan kerjasama. Padahal, kerjasama penting untuk mencapai keberhasilan. Berikut 17 hukum kerjasama tim yang efektif yang dikutip entah dari mana saya lupa. Yang jelas, bagus buat orang yang sulit bekerja sama. <span id="more-256"></span></p>
<p>1. Nilai kerjasama. </p>
<p><em>Satu adalah jumlah yang terlalu sedikit untuk mencapai kebesaran. </em></p>
<p>Jadi, untuk mencapai kebesaran, perlu kerjasama. </p>
<p>2. Gambaran Besarnya</p>
<p><em>Sasarannya adalah lebih lenting daripada perannya</em></p>
<p>Apakah yang mendorong seorang mantan presiden Amerika Serikat untuk berkeliling dengan bis, tidur di lantai bawah tanah, dan melakukan pekerjaan kasar selama satu minggu? Jawabannya dapat ditemukan dalam hukum gambaran besarnya.</p>
<p>3.Posisi yang tepat</p>
<p><em>Semua pemain memiliki tempat dimana mereka paling memberikan nilai tambah</em></p>
<p>Seandainya Anda adalah pemimpin dunia yang bebas, bagaimanakah Anda memutuskan, tugas apa yang harus Anda berikan kepada orang yang mampu mengerjakan tugas apapun &#8212; termasuk tugas Anda sendiri? Kalau Anda ingin semua orang menang, tentu Anda akan menggunakan hukum posisi yang tepat.</p>
<p>4. Gunung Everest</p>
<p><em>Semakin tinggi tantangannya, semakin tinggi kebutuhan kerjasamanya </em></p>
<p>Tenzing Norgay dan Maurice Wilson adalah pendaki gunung yang berpengalaman dengan peralatan yang tepat. Lalu mengapakah yang satu meninggal di gunung sementara yang lain berhasil menaklukkannya? Hanya satu yang mengenal Hukum Gunung Everest.</p>
<p>5. Mata Rantai</p>
<p><em>Kekuatan tim dipengaruhi oleh mata rantainya yang paling lemah</em></p>
<p>Apakah menjadi soal, kalau ribuan karyawan Anda mengerjakan tugas mereka dengan baik dan hanya satu orang saja yang membuat kekeliruan? Tanyakan saja kepada perusahaan yang membayar lebih dari $ 3 milyar untuk ganti rugi dan terjerat oleh Hukum Mata Rantai.</p>
<p>6. Katalisator</p>
<p><em>Tim-tim hebat memiliki pemain-pemain yang menjadikan segalanya terlaksana</em></p>
<p>Apakah yang akan Anda perbuat kalau tanggal 31 Desember sudah semakin dekat sementara armada penjualan Anda masih jauh dari sasaran? Gunakan hukum katalisator.</p>
<p>7. Kompas</p>
<p><em>visi memberikan arah serta kepercayaan diri kepada para anggota tim</em></p>
<p>Presiden Enron baru tahu tentang usaha bernilai multijutaan dolar di perusahaannya dua bulan sebelum usaha tersebut diluncurkan, dan itu sama sekali tidak mengganggunya. Mengapa? Karena ia dan timnya menuai manfaat dari Hukum Kompas.</p>
<p>8. Apel Busuk</p>
<p><em>Sikap-sikap busuk merusak tim</em></p>
<p>Mereka diharapkan menghancurkan persaingan. Mereka memiliki bakat serta ambisi untuk meraih kemenangan. Tetapi bukannya mendominasi, mereka malah merusak diri. Seandainya saja mereka tahu tentang Hukum Apel Busuk.</p>
<p>9. Keterandalan</p>
<p><em>Rekan-rekan satu tim harus dapat saling mengandalkan satu sama Lain dalam soal-soal penting</em></p>
<p>Mungkin orang takkan mati di organisasi Anda kalau seseorang menjatuhkan bolanya. Tetapi itu bisa terjadi pada orang-orang dalam bisnis keluarga ini. Itulah sebabnya Hukum Keterandalan ini demikian penting bagi mereka.</p>
<p>10. Bandrol Harga</p>
<p><em>Tim akan gagal mencapai potensinya kalau tidak membayar harganya</em></p>
<p>Perusahaan ini seharusnya dapat menjadi pengecer terbesar di dunia. Ternyata perusahaan ini malah terpaksa menutup usahanya setelah 128 tahun berbisnis. Mengapa? Para pemimpinnya harus menanggung ganjaran akibat mengabaikan Hukum Bandrol Harga.</p>
<p>11. Papan Angka</p>
<p><em>Tim bisa melakukan penyesuaian kalau tahu posisinya</em></p>
<p>Ribuan perusahaan berbasis Internet telah gagal. Banyak perusahaan yang &#8220;sukses&#8221; masih menunggu untuk membukukan keuntungan. Tetapi perusahaan yang satu ini terus menang dan tumbuh serta meraih keuntungan! Mengapa? Karena sedari awal perusahaan ini bermain menurut Hukum Papan Angka.</p>
<p>12. Pemain Cadangan</p>
<p><em>Tim-tim hebat memiliki kedalaman</em></p>
<p>Siapakah yang biasanya menjadi pemain paling berharga dalam sebuah organisasi? Direktur Utamanya? Pimpinan Puncaknya? Pramuniaga topnya? Percayakah Anda bahwa mungkin saja itu adalah seseorang dari Sumber Daya Manusia? Anda akan percaya kalau saja Anda tahu Hukum Pemain Cadangan.</p>
<p>13. Identitas</p>
<p><em>Yang Mengidentifikasikan Tim adalah Nilai-nilai yang Dijunjung Bersama</em></p>
<p>Bagaimanakah Anda membuat ribuan orang bersemangat bekerja, mengenakan seragam berwarna cerah, dan memenuhi setiap kebutuhan konsumen? Bernie Marcus dan Arthur Blank melakukannya dengan membangun landasan perusahaan mereka pada Hukum Identitas.</p>
<p>14. Komunikasi</p>
<p><em>Interaksi mendorong diambilnya tindakan</em></p>
<p>Tim mereka telah sepuluh kali ganti pemimpin dalam kurun waktu sepuluh tahun. Para karyawannya kelelahan serta penuh dengan kepahitan, dan perusahaannya terus kehabisan uang. Jadi bagaimanakah Gordon Bethune akan menyelamatkan penerbangan yang paling ketinggalan ini dari kehancuran? Ia mulai dengan menggunakan Hukum Komunikasi.</p>
<p>15. Keunggulan</p>
<p><em>Perbedaan antara dua tim yang sama berbakatnya adalah kepemimpinannya</em></p>
<p>Tim mereka mengalami masalah besar. Para pesertanya memiliki segalanya yang mereka butuhkan untuk meraih sukses &#8212; bakat, dukungan, sumber- sumber daya &#8212; segalanya, kecuali hal yang paling penting. Satu- satunya harapan mereka untuk mengubah segalanya adalah seseorang yang memenuhi Hukum Keunggulan.</p>
<p>16. Moral yang tinggi</p>
<p><em>Kalau Anda menang, sakitnya tak terasa</em></p>
<p>Apakah yang mendorong seorang pria berusia lima puluh tahun, yang bahkan berenang saja tidak bisa, untuk terus berlatih demi mengikuti lomba triatlon yang paling berat di dunia? Bukan, bukan karena krisis paruh baya. Melainkan karena Hukum Moral yang Tinggi.</p>
<p>17. Hasil Investasi</p>
<p><em>Investasi dalam tim akan berkembang dengan berjalannya waktu</em></p>
<p>Pernahkah Anda tertipu untuk menerima sebuah pekerjaan? Morgan Wootten mengalaminya, dan akibatnya, ia telah mengubah kehidupan ribuan anak. Kehidupannya yang diwarnai dengan sikap memberi akan mengajari Anda segalanya yang perlu Anda ketahui tentang Hukum Hasil Investasi.</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/hukum-kerjasama-tim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Penghancur Karir</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/sepuluh-penghancur-karir/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/sepuluh-penghancur-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 07:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[ 
Mungkin Anda perlu waktu tiga bulan, bahkan setahun lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok. Celakanya, hanya dalam waktu beberapa hari atau minggu kita bisa kehilangan pekerjaan tadi. Lho, kok bisa?  Tentu saja bisa dan itu karena kesalahan yang Anda lakukan. Tanpa disadari, Anda menghancurkan karier sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mematikan karier dalam sekejap. 
 1. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/jenjang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-255" title="jenjang" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/jenjang-300x263.jpg" alt="" width="300" height="263" /></a>Mungkin Anda perlu waktu tiga bulan, bahkan setahun lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok. Celakanya, hanya dalam waktu beberapa hari atau minggu kita bisa kehilangan pekerjaan tadi. Lho, kok bisa?  Tentu saja bisa dan itu karena kesalahan yang Anda lakukan. Tanpa disadari, Anda menghancurkan karier sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mematikan karier dalam sekejap. <span id="more-254"></span></p>
<p> 1. KETIDAKMAMPUAN </p>
<p>Ketidakmampuan bisa berbuntut panjang. Penelitian menunjukkan, perusahaan selalu berpendapat, lebih baik punya pegawai yang secara konsisten mau belajar menambah keterampilannya daripada yang hanya berhenti pada satu kemampuan. Soalnya, pegawai tipe ini tidak akan berkembang dan cenderung tak mau bekerja sama.</p>
<p>2. SULIT KERJA TIM</p>
<p>Tidak ada seorang pun yang merasa senang hidup di samping seorang primadona. Perusahaan pasti akan kesulitan menghadapi karyawannya yang tak mau atau tak mampu bekerja dalam tim. Jadi, pastikan Anda bisa menjadi anggota tim kerja yang baik dan bisa bertindak sebagai makhluk sosial yang baik pula. </p>
<p>3. TAK TEPAT WAKTU</p>
<p>Jika pekerjaan harus selesai hari Rabu, misalnya, camkan di benak bahwa hari Kamis tidak akan pernah ada. Suatu organisasi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab, dipercaya. Tak menepati tenggat waktu bukan hanya mencerminkan seseorang yang tidak profesional, tapi juga berarti merusak bahkan menghancurkan jadwal kerja orang lain. Ujung-ujungnya, bos Anda yang bakal jadi sorotan. Jika sudah meiliki komitmen, tepati janji, apa pun yang terjadi. Hal ini sangat penting!</p>
<p> </p>
<p>4. MEMANFAATKAN FASILITAS PERUSAHAAN</p>
<p>Fasilitas perusahaan seperti e-mail dan telepon yang ada adalah untuk keperluan bisnis perusahaan. Gunakan telepon untuk keperluan pribadi sesingkat mungkin dan jangan menerima pangggilan telepon yang bersifat pribadi dengan waktu bicara yang lama. Juga jangan pernah menulis e-mail yang tidak ingin dibaca oleh bos karena banyak sistem yang dapat menyimpan kiriman-kiriman e-mail yang dihapus ke dalam satu berkas. Ingat pada orang-orang yang berjiwa kerdil yang mencari muka pada atasan. Lagipula, memanfaatkan e-mail milik perusahaan untuk keperluan pribadi, amat tidak diperbolehkan.</p>
<p>5. SOK EKSKLUSIF </p>
<p>Jangan mengisolasi diri atau bertingkah sok eksklusif. Kembangkan diri Anda dan jalin hubungan dengan rekan sekerja. Orang yang mempunyai jaringan yang efektif, akan memiliki jalur dan sumber informasi yang akurat sehingga dapat lebih mudah mencapai dan mengerti plotik organisasi di perusahaan tersebut. Penelitian membuktikan, para pegawai yang mempunyai jaringan yang luas, umumnya cenderung menjadi seorang yang dapat bekerja dalam tim, banyak memberi andil pada sukses tim kerja, memiliki nilai lebih, sehingga bisa lebih cepat mendapat promosi serta kompensasi yang tinggi.</p>
<p>6. MENJALIN ASMARA DI KANTOR </p>
<p>Walaupun Anda dan si dia berada di ruangan atau divisi terpisah, menjalin hubungan asmara di kantor bukan merupakan pilihan yang baik. Jika kebetulan terlibat percintaan dengan bos, begitu ada kesempatan promosi, naik jabatan, pasti akan mejadi gunjingan. Minimal, rekan sekerja mencibir karena anggapan Anda naik posisi gara-gara dekat dengan atasan. Yang juga tak mengeenakkan, hubungan asmara dengan atasan atau rekan sekerja yang putus di jalan, bisa membuat hubungan kerja jadi terganggu. Belum lagi harus menghadapi omongan rekan-rekan sejawat. </p>
<p>7. TAKUT AMBIL RISIKO </p>
<p>Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, maka orang lain pun tidak akan percaya pada Anda. Bersikaplah untuk dapat mengerjakan sesuatu dan mengambil risiko. Katakan dengan jujur, &#8220;saya belum pernah mengerjakan hal tersebut tapi saya akan berusaha mempelajari bagaimana caranya.&#8221; Jangan takut gagal atau khawatir membuat kesalahan. Jika keadaan menjadi kacau, segera ubah dan minta bantuan rekan atau atasan yang lebih jago. Pokoknya, coba untuk belajar pada semua kesempatan yang ada di setiap situasi. Ingat, lembur karena risiko kerja dapat membuat Anda menjadi lebih tertantang dan lebih cepat maju. </p>
<p>8. TANPA TUJUAN </p>
<p>Kegagalan bukanlah sesuatu keburukan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Yang buruk adaklah jika Anda tak punya tujuan untuk mencapai sesuatu. Jadi, susun rencana kegiatan sehari-hari untuk mencapai tujuan tadi. Percaya atau tidak, 80 persen dari keberhasilan yang diraih seseorang, 20 persennya datang dari aktivitas yang dilakukannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Atur mana yang menjadi prioritas dan fokuskan pada pekerjaan tersebut. </p>
<p>9. TERKESAN CEROBOH </p>
<p>Jujur atau tidak, penampilan selalu diperhitungkan. Orang selalu menilai semua penampilan serta tingkah laku Anda. Dengan kata lain, usahakan untuk tidak berpakaian seenaknya saat pergi ke kantor atau berpakaian yang tidak selayaknya dikenakan ke kantor. Berlakulah jujur, berbicara dengan bahasa yang baik, sopan, tidak menggunakan bahasa dialek atau daerah. Bersikaplah sebagai seorang yang kompeten, mempunyai komitmen dan perilaku yang baik.</p>
<p>10. TAK MENJAGA MULUT </p>
<p>Ruangan kecil, gang, tangga berjalan, bahkan kamar mandi kantor, semua itu bukan milik pribadi Anda. Berhati-hatilah jika sedang berbicara di tempat-tempat umum tadi dan perhatikan pada siapa Anda berbicara.  Jangan bercanda mengenai kepercayaan, suku, rahasia perusahaan, gosip teman sekantor, dan juga pribadi-pribadi para bos. Semua pembicaraan mengenai hal itu bukanlah sesuatu yang bebas, tidak gratis, terutama sangat berharga dan amat berarti bagi pekerjaan Anda! ***</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/sepuluh-penghancur-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerakan Hemat Batam (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 10:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[ 
Berita-berita perusahaan bangkrut, pemutusan hubungan kerja secara massal makin gencar di media massa hari-hari ini. Berbagai lembaga keuangan seperti bank, kepayahan terancam krisis global. Kepanikan tidak akan memberi jalan keluar. Marilah kita berhemat, sebelum keadaan bertambah buruk.
 Sama seperti orang kebanyakan lainnya, awalnya saya tak begitu paham apa binatang krisis finansial ini. Kebetulan, dua tahun lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/simpanan-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-246" title="simpanan-1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/simpanan-1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Berita-berita perusahaan bangkrut, pemutusan hubungan kerja secara massal makin gencar di media massa hari-hari ini. Berbagai lembaga keuangan seperti bank, kepayahan terancam krisis global. Kepanikan tidak akan memberi jalan keluar. Marilah kita berhemat, sebelum keadaan bertambah buruk.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <span id="more-245"></span>Sama seperti orang kebanyakan lainnya, awalnya saya tak begitu paham apa binatang krisis finansial ini. Kebetulan, dua tahun lalu saya coba-coba investasi di reksadana. Konon, bunganya lebih tinggi dari deposito. Setiap bulan, saya dikirimkan laporan keuangan dan saldonya. Namun, sejak krisis terjadi, jangankan bunga, malah uang yang saya tanamkan jauh merosot. Oh, begini rasanya kena krisis. Untunglah nilainya relatif kecil. Padahal, saya sudah berencana menambah jumlah investasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kembali ke soal hemat tadi,<span>  </span>zaman sekarang kita makin konsumtif. Kita membeli apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan. Paman saya pernah mengajarkan: Kalau kamu butuh sesuatu, usahakan mendapatkannya. Tapi, kalau hanya ingin, sebaiknya ditunda dulu. Caranya, saya disuruh membuat daftar kebutuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Nah, dari daftar itu, bisa diketahui, mana yang paling dibutuhkan. Kalau kita butuh punya rumah, mobi, motor, handphone terbaru, televisi LCD dan sebagainya, dengan membuat daftar ini, mungkin membeli barang yang tak perlu bisa ditunda. Yang jadi kebutuhan adalah rumah. Tapi, sering terjadi, begitu ada uang yang dibeli motor atau handphone dulu sehingga kapan uangnya cukup beli rumah. Satu hal yang menjadi catatan adalah: kita harus fokus. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Zaman sekarang, mungkin tidak semua anak-anak punya celengan. Sehingga dari uang receh yang dikumpulkan, lama-lama jadi banyak juga. Kita tentu ingat dengan pepatah lama.<span>  </span>Sedikit demi sedikit , lama-lama menjadi bukit, sehari selembar benang, lama-lama menjadi kain. Malah, membawa anak kecil ke mesin ATM yang terekam dalam memorinya adalah, ada mesin yang bisa memberikan uang secara cuma-cuma!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Dulu, waktu saya kecil, saya permah melihat ibu saya mengambil segenggam beras dari panci yang mau dimasak. Ketika saya tanya, ibu saya bilang, selagi ada jangan dimakan, kalau tidak ada barulah dimakan. Saya tidak mengerti maksudnya. Ternyata, ibu saya berhemat dan menabung beras! Jadi, pada saar mau memasak, segenggam beras itulah yang ditabung dalam tempat khusus. Kalau terjadi krisis keuangan keluarga, ada tabungan beras untuk dimakan. Masihkah ibu-ibu punya kebiasaan ini sekarang? Tentu tidak kalau yang memasak adalah pembantu rumah tangga, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Saya membaca buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin yang pernah menaburkan uang Rp100 juta dari pesawat terbang itu. Ia mengajarkan, 20 persen dari penghasilan kita, harus diinvestasikan, lalu diinvestasikan lagi. Investasi yang paling mudah adalah menabung. Dalam pikiran saya, kalau gaji kita Rp1 juta, sebanyak Rp200 ribu harus ditabung. Setahun sudah Rp2,4 juta (tanpa bunga) dan 40 bulan Anda sudah bisa punya deposito di bank manapun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Seorang teman berkata kepada saya. Ia mau meminjam uang ke bank, lalu uang pinjaman itu ditabung. Lho, kok bisa? Bukankah bunga kredit jauh lebih besar daripada bunga tabungan? ’’Saya tak pernah bisa menabung. Jadi, saya harus memaksa diri saya dengan cara seperti itu,’’ katanya. Ini hanya contoh kecil betapa kita memang tidak memenej finansial kita secara baik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Sebagian pejabat kita juga tak lebih baik. Sebab, Batam seperti namanya, bisa diartikan Banyak TAMu sehingga perlu biaya ekstra menjamu tamu-tamu yang datang agar kita dianggap tuan rumah yang baik. Akibatnya, tak jarang banyak pengeluaran yang berada diluar pos anggaran yang menjadi kewenangannya. Maka, tidak heran kalau ada biaya-biaya tertentu yang di mark-up agar mulus saat diperiksa BPK, BPKP atau KPK!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Lalu, bagaimana caranya agar hidup hemat menjadi sebuah gerakan bersama?<span>  </span>Kalau mau formal, kita minta Wali Kota yang mencetuskan gerakan ini. Hemat listrik, akan meringankan warga bayar rekening, dan membantu PLN yang kekurangan daya. Hemat air juga begitu sehingga bisa membantu warga yang belum tersambung air bersih. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Kalaupun tak bisa mewujudkan gerakan hemat secara menyeluruh di Batam, marilah kita berhemat untuk diri kita sendiri. Tulisan yang saya kutip dari danareksa.com ini mungkin bisa membantu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p><strong><span lang="SV">Tips Menabung dengan Mudah</span></strong></p>
<p><span lang="SV">Anda mungkin menemukan kesulitan untuk mulai menabung, padahal Anda punya penghasilan yang menurut Andapun cukup dan Anda bahkan tidak mempunyai hutang dimanapun. Jadi dimana masalahnya ? Masalahnya adalah Anda terbiasa menghabiskan seluruh uang Anda setiap bulannya dan Anda tidak sanggup untuk merubah kebiasaan tersebut.</span></p>
<p><span lang="SV">Berikut ini adalah tips-tips menabung dengan mudah , yang dapat membantu Anda untuk menyimpan uang dengan lebih baik.</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Pay your self first.<br />
Seringkali kesulitan menabung bukan karena tidak adanya uang, tetapi lebih      tepatnya karena tidak ada lagi sisa penghasilan yang bisa ditabung. Jadi      mengapa harus menunggu ada sisa uang terlebih dahulu, toh selama ini dari      penghasilan anda juga jarang ada sisanya. Karena itu rubahlah kebiasaan      Anda dan mulailah dengan membayar tabungan Anda terlebih dahulu sebelum      anda membayar kebutuhan hidup lainnya. Dengan demikian Anda tidak perlu      khawatir lagi apakah diakhir bulan ini Anda masih punya uang atau tidak      untuk ditabung</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Jadikan tabungan sebagai      pos pengeluaran.<br />
Pada tiap bulannya sebelum Anda lakukan pembayaran untuk pengeluaran      apapun maka bayarlah sejumlah tertentu untuk pengeluaran tabungan . Jadi      masukkan pos tabungan ke dalam pos pengeluaran rutin tiap bulan. Anggaplah      menabung sebagai pengeluaran rutin Anda sama dengan membayar cicilan      hutang, atau biaya rumah tangga lainnya seperti tagihan listrik, PAM,      makanan , transportasi dan lain-lain.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Jangan remehkan uang receh<br />
Jangan pernah membayar dengan uang logam . Berbelanjalah hanya dengan uang      kertas saja. Jika Anda dapat kembalian uang logam , masukanlah uang logam      tersebut ke dalam celengan ( celengan ayam atau kaleng ). Jangan dibuka      sebelum penuh, jika sudah penuh masukkanlah ke dalam rekening Anda di      Bank. Besarnya uang logam yang harus masuk celengan dapat Anda tentukan      sendiri misalnya uang logam senilai Rp 100 dan Rp 500 ,- atau hanya Rp      1000,- saja atau semuanya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Naikkan setoran tabungan      tiap kali penghasilan anda naik<br />
Setiap kali Anda mendapat uang lebih seperti bonus tahunan, atau THR maka      sisihkanlah terlebih dahulu untuk menambah tabungan Anda. Begitu juga jika      gaji Anda naik maka naikkan juga jumlah setoran rutin tabungan anda.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Miliki rekening khusus      tabungan<br />
Kesulitan orang pada umumnya dalam mengelola keuangan sehari-hari      disebabkan karena tidak adanya kejelasan antara pengeluaran untuk keluarga      , mana pengeluaran untuk pribadi dan mana pengeluaran untuk investasi.      Karena itu sebuah keluarga sebaiknya memiliki satu rekening khusus yang      digunakan untuk membiayai pos-pos pengeluaran keluarga terpisah dari      rekening pribadi. Sedangkan rekening khusus tabungan sebaiknya juga dibuat      terpisah agar akumulasi dana yang terkumpul untuk tujuan keuangan yang      ingin dicapai tidak terpakai untuk pengeluaran lain.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p><span lang="SV"></p>
<p></span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerakan Hemat Batam (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 09:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[
Krisis membuat kita miris. Dampaknya sudah terasa secara psikologis. Kendati sampai tulisan ini dibuat belum ada pemutusan hubungan kerja di Batam, namun krisis global ini dengan mudah menggerus sendi sendi ekonomi kita.  Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
 
Menurut hemat saya, yang harus kita lakukan adalah berhemat. Hemat dalam apa saja. Hemat listrik, hemat air bersih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="center">
<div style="text-align: left;">Krisis membuat kita miris. Dampaknya sudah terasa secara psikologis. Kendati sampai tulisan ini dibuat belum ada pemutusan hubungan kerja di Batam, namun krisis global ini dengan mudah menggerus sendi sendi ekonomi kita.<span>  </span>Lalu, apa yang bisa kita lakukan?</div>
<p> </p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span id="more-244"></span>Menurut hemat saya, yang harus kita lakukan adalah berhemat. Hemat dalam apa saja. Hemat listrik, hemat air bersih, hemat belanja dan apa saja yang bisa dihemat. Sedari kecil, kita sering mendengar pepatah, hemat pangkal kaya. Masihkan pepatah lama ini relevan dan berguna?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Warga Batam ’terbiasa’ hidup dengan biaya mahal. Sebab, mata uang kedua di kota pulau ini adalah Dolar Singapura. Sepuluh tahun lalu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Singapura hanya Rp1.800 . Kini, saat krisis tiba menjadi Rp7.800. atau naik 4,3 kali lipat.<span>  </span>Bisa dibayangkan, bagaimana harus membayar sewa ruko atau transaksi bisnis dengan mata uang negara tetangga itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Sejak krisis moneter tahun 1997, pedagang dan pramuniaga terbiasa mengambil kalkulator dan menghitung harga barang berdasarkan kurs yang setiap saat berubah alias kurs jalan. Beberapa pengusaha lainnya—tidak hanya pedagang valuta asing—punya teletext, untuk memonitor pergerakan mata uang dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Sadar atau tidak, warga Batam memang cenderung konsumtif. Selain godaan barang-barang impor dan bermerek, sebagian terbiasa belanja ke Singapura. Padahal, di Orchard Road masih juga suka memilih barang-barang diskon dan cuci gudang. Lalu, bertemu pakaian made in Indonesia. Selain itu, mal-mal terus bertambah. Tak cukup uang beli yang baru? Bisa berburu barang-barang seken. Biar bekas tapi bermerek punya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Tak percaya? Perhatikan saja kalau ada orang yang baru pindah ke Batam. Kalau sebelumnya dandanannya terkesan kuno dan kampungan, tak lama kemudian, bisa berganti gaya. Pakaian kinclong, jam tangan dan sepatu berkilat, dan tentu saja kalau balik kampung, tampak makin gaya dan keren. Kalau saya? Ya, sama saja. Belanja ke Singapura, beli baju diskon merek Montagut, buatan Paris dengan harga miring. He..he..Soalnya, harga biasa tak terjangkau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Celakanya, sanak saudara, handai tolan di kampung beranggapan (mungkin karena penampilan berubah) mereka yang bekerja di Batam hidupnya sudah enak dan jadi orang kaya. Maka, mengalunlah lagu permintaan. Minta barang elektroniklah, barang imporlah, sampai bantuan uang. Padahal, taruhlah gajinya tinggi, namun biaya hidup di Batam juga tinggi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Ketika warga Batam pulang kampung, biasanya harga barang-barang di kota asalnya, terasa lebih murah. Akibatnya, ya main borong sehingga kesan orang Batam banyak uang, beredar dari mulut ke mulut. Ditambah lagi kalau orang tersebut sesumbar di kampungnya bahwa Batam dekat dengan Singapura, barang impor murah dan gampang cari kerja. Inilah yang antara lain menjadi promosi ampuh sehingga orang datang berbondong-bondong ke Batam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Tidak sedikit pula, warga yang jauh-jauh datang ke Batam, harus mengirim uang ke kampung halaman. Membantu orang tua, saudara dan keluarga. Padahal, pada saat ia baru bekerja, tentulah penghasilannya pas-pasan dengan ukuran Upah Minimum Regional yang besarnya Rp960 ribu per bulan. Nah, hitung saja kalau biaya kos Rp250 ribu, transportasi Rp200 ribu, makan Rp450 ribu, maka gajinya habis untuk biaya satu orang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Bagi pekerja di Mukakuning, selain gaji mereka berharap dapat overtime alias kerja lembur. ’’Sejak krisis global ini, semua pekerja di Mukakuning tak ada OT tapi masih bekerja meneruskan order tahun ini,’’ kata seorang pekerja kepada saya. Kalau dihitung-hitung, jauh lebih bisa berhemat dan menyimpan uang seorang pembantu rumah tangga di Batam dibandingkan mereka yang bekerja di kawasan industri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Tak percaya? Gaji seorang pekerja taruhlah Rp1 juta sebulan. Sementara, biaya harian yang harus dikeluarkannya, terutama yang tidak tinggal di dormitori, sehingga susah untuk menabung. Sedangkan seorang pembantu rumah tangga, begitu dia diambil majikan dari yayasan penyalur, dibayar Rp1,2 juta sebagai ganti ongkos, lalu gajinya berkisar Rp450 ribu hingga Rp600 ribu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Makan dan minum, tempat tinggal jelas sudah ditanggung majikan. Malah, kalau beruntung dapat majikan baik, segala kebutuhan tetek bengek seperti sabun, sampo, pembalut hingga pakaian, dibelikan sang majikan. Kalau pembantu tersebut bisa berhemat, dengan gaji Rp500 ribu ia bisa menyimpan paling tidak Rp5 juta setahun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Kita tidak tahu sedalam apa krisis global ini, dan sejauh mana dampaknya. Seorang pengusaha mengatakan kepada saya, krisis ini bakal lebih parah tiga kali dibandingkan resesi dunia yang pernah terjadi 50 tahun lalu. Memang, bagi orang awam tak terlalu terasa pada awalnya. Karena krisis ini adalah krisis orang kaya yang bermain saham di lantai bursa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Yang bisa kita lakukan adalah berhemat. Ya, sekali lagi berhemat dan hidup lebih efisien. Setidaknya, ketika dampak krisis itu sudah sampai di depan pintu rumah kita, kita jauh lebih siap. Bagaimana caranya? Ikuti tulisan selanjutnya. ***</span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merasa Bisa, Bisa Merasa</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/merasa-bisa-bisa-merasa/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/merasa-bisa-bisa-merasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 07:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Belajar tidak selalu dari orang pintar. Bisa jadi, pengetahuan baru kita dapatkan dari orang yang baru kenal, orang-orang sederhana dan biasa-biasa saja. Tapi, dari mereka banyak mutiara kehidupan yang bisa diperoleh. Saya mencatat beberapa pelajaran dari orang-orang biasa, yang ternyata relevan dengan kondisi kekinian. Sementara, bagi sebagian orang, ini dianggap tidak keren, kuno dan djadoel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belajar tidak selalu dari orang pintar. Bisa jadi, pengetahuan baru kita dapatkan dari orang yang baru kenal, orang-orang sederhana dan biasa-biasa saja. Tapi, dari mereka banyak mutiara kehidupan yang bisa diperoleh. Saya mencatat beberapa pelajaran dari orang-orang biasa, yang ternyata relevan dengan kondisi kekinian. Sementara, bagi sebagian orang, ini dianggap tidak keren, kuno dan djadoel alias jaman dulu. <span id="more-234"></span></p>
<p>Namanya Katidjan. lelaki separo baya itu senang dipanggil mbah. Saya mengenalnya saat lengan saya sakit bukan kepalang. Sudah enam tukang urut yang dimintai bantuan. Sampai akhirnya, saya dibawa teman ke rumah mbah Katidjan. Ia mengaku tukang pijat syaraf dengan pengobatan yang lain daripada yang lain. Saya dipijat dari kaki hingga kepala. Lalu, sebelah kaki diangkat, dan kaki Mbah itu mendarat di tubuh saya. Krakk..krak, tulang belulang saya bunyi semua. Setelah itu, penat hilang dan terasa lega. </p>
<p>    Lama-lama, saya jadi akrab dengan mbah Katidjan. karena sama-sama perokok, ia menyarankan agar saya minum jamu Anik. Saya baru dengar, jamu apa itu? Oalah&#8230;ternyata jamu Anti Nikotin, produksi Djago. Saat ngobrol-ngobrol itulah, mbah Katidjan mengatakan, sekarang banyak orang yang <em>rumongso biso, biso rumangsani. </em>Saya nggak ngerti artinya. Melihat saya bengong, Mbah Katidjan menjelaskan, itu artinya banyak orang yang merasa bisa, tapi tidak banyak yang bisa merasa. Saya makin bingung. </p>
<p>  Orang yang merasa bisa selalu merasa dirinya hebat, punya kemampuan lebih, merasa bisa jadi pemimpin seperti orang lain. Rasa percaya diri berlebihan dan cenderung sombong. Kadang-kadang, mereka merasa bisa sekedar menutupi kelemahannya. Ada yang merasa bisa jadi pemimpin, jadi manajer, jadi wali kota, wakil rakyat dan bahkan presiden. </p>
<p>Merasa bisa jadi anggota parlemen, misalnya. Entah berapa banyak calon legislatif yang merasa bisa dan merasa akan terpilih saat pemilu nanti. Merasa dikenal oleh calon pemilihnya, merasa bisa mewakili suara rakyat. Orang-orang yang merasa bisa ini, bahkan tidak segan-segan membicarakan kemampuannya jika ia menduduki posisi yang diinginkannya di antara sesamanya. Tentu sesama yang merasa bisa juga. </p>
<p>  Sebaliknya, orang yang bisa merasa, akan menunjukkan sikap empati dan bisa merasakan, tidak mudah menjadi pemimpin, menjadi manajer, menjadi wali kota dan presiden. Sebab, semua jabatan itu memiliki tingkat kesulitan sendiri-sendiri, tantangan yang berbeda dan sebagainya. Orang yang bisa merasa, akan lebih rendah hati (bukan rendah diri) tidak selalu melihat ke atas, tetapi juga ke samping dan ke bawah. </p>
<p>Orang yang merasa bisa, kadang terjebak dengan pikirannya sendiri dan memandang orang lain secara streotype. Bisa dari bentuk tubuh sampai ke suku bangsa. Sedangkan orang yang bisa merasa, mampu menempatkan diri dalam perspektif orang lain dan memiliki empati terhadap orang lain. Selalu ada pertanyaan dan dialog dengan dirinya sendiri,&#8221; kalaulah saya jadi dia, apakah saya sanggup memikul beban seperti dia? dan sebagainya. </p>
<p>Selain Mbah Katidjan, saya sering medapat masukan, nasehat, dan kata-kata yang memberi motivasi. Seorang lelaki tua yang saya tidak kenal namanya, pernah bercerita tentang kisah orang yang mencari sesuatu dalam hidupnya, ibarat mencari air sebagai sumber kehidupan. Ia mengisahkan, ada orang yang mencari air, lalu menggali tanah berharap mendapatkan air. </p>
<p>&#8221;Ia menggali tanah dengan bersemangat dan sekuat tenaga. Namun, setelah menggali sedalam satu meter, air yang dicari tak ditemukan juga sehingga ia pindah dan menggali lubang yang lain. Satu meter digali, air tak ada, begitu seterusnya. Ia pindah-pindah dari satu lubang ke lubang yang lain. Tapi, air yang dicarinya tidak kunjung ditemukan, dan sudah banyak lobang yang digali,&#8221; kata pak tua itu. </p>
<p>&#8221;Kalau ibaratnya kamu mencari air, cobalah pakai apa yang diajarkan orang-orang tua dulu. Yakin, tekun, dan sabar. Cukup satu lobang saja yang digali, cepat atau lambat, air yang dicari akan ditemukan. Nah, seperti itu juga hal-hal lain dalam kehidupan ini,&#8221; katanya. Lama saya mencerna kata-katanya. Sampai akhirnya saya temukan satu kata mengartikan perumpamaan itu. Yakni: fokus. </p>
<p>Saya mengibaratkan seperti kamera. Sehebat apapun obyek fotonya, secanggih apapun kameranya, tapi kalau tangan sang fotografer bergoyang-goyang, fotonya akan kabur dan hasilnya tidak menarik dipandang mata. Banyak orang karena tidak fokus, merasa semua bisa, akhirnya tak satupun upayanya berhasil dan mendulang sukses. </p>
<p>Soal kesabaran, Dahlan Iskan juga punya perumpamaan yang menarik. &#8221;Orang yang sabar itu, seperti sekolah dan ada tahapannya. Kelas satu, kelas dua, kelas tiga dan seterusnya. Tapi, kalau orang yang tidak sabar, dari kelas satu maunya loncat ke kelas tiga. Tapi, kalau Anda kelas satu terus, keterlaluan sabarnya,&#8221; katanya. </p>
<p>Pak Dahlan juga pernah berkata, dalam perusahaan, ada tiga orang yang tidak boleh dilawan. Pertama, atasan. Kedua, orang kaya. Dan ketiga, orang gila. &#8221;Yang lebih celaka lagi, kalau atasan Anda, sudahlah kaya, gila pula,&#8221; katanya. </p>
<p>banyak sekali mutiara kehidupan di sekitar kita. Tidak hanya dari buku teks, tapi ada dimana-mana. Seperti kata pepatah, alam terkembang menjadi guru. Sayang, kita tak lagi banyak belajar kepada alam. Apa yang saya sampaikan ini, hanya sekedar berbagi. Saya yakin, Anda punya banyak kisah inspiratif dan mutiara kehidupan. </p>
<p>Saya hanya bisa berkata, saya tidak punya uang untuk dibagikan-bagikan secara cuma-cuma kepada Anda. Jadi, saya beri nasehat saja. Mudah-mudahan berguna. Jangan sampai seperti teman saya ini. Teman saya yang sudah bekerja sambil kuliah ini, malah pernah berkata lebih kasar lagi, meski disampaikan secara bergurau. &#8221;Daripada kamu aku beri uang dan akhirnya jadi berak, lebih baik aku beri berak, siapa tahu bisa jadi uang setelah diolah jadi pupuk,&#8221; katanya tertawa ngakak. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/merasa-bisa-bisa-merasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Minuman Kaleng</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/minuman-kaleng/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/minuman-kaleng/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Oct 2008 09:27:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Entah sejak kapan tradisi berlebaran dengan minuman kaleng di Batam di mulai. Yang jelas, menjelang lebaran, sebagian warga Batam berburu minuman kaleng. Agaknya, kalau tak ada minuman kaleng di rumah, terasa ada yang kurang. Selain lebih praktis, tidak banyak yang menyadari bahaya minuman kaleng berbagai merek ini. 

Saya sudah menjadi warga Batam sebelas tahun. Setiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Entah sejak kapan tradisi berlebaran dengan minuman kaleng di Batam di mulai. Yang jelas, menjelang lebaran, sebagian warga Batam berburu minuman kaleng. Agaknya, kalau tak ada minuman kaleng di rumah, terasa ada yang kurang. Selain lebih praktis, tidak banyak yang menyadari bahaya minuman kaleng berbagai merek ini. <span id="more-229"></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 36pt;">Saya sudah menjadi warga Batam sebelas tahun. Setiap lebaran datang, berbagai merek minuman kaleng dicari dan dibagikan. Mulai dari pejabat kelas atas hingga masyarakat kelas bawah, gandrung dengan minuman kaleng. Maklum, saat itu banyak sekali tempat hiburan yang memberi hadiah lebaran berupa minuman kaleng.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Biasanya, para supir taksi mendapat hadiah dua atau tiga kes minuman kaleng dari tempat hiburan dimana ia mangkal. Sementara, para pejabat mendapat puluhan bahkan ratusan kes minuman kaleng. Saking banyaknya, tumpukan minuman itu dikirim pakai lori atau truk. Tak jarang pula, ada warga yang antri menunggu jatah pemberian minuman kaleng itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Saat itu, minuman kaleng yang dibagikan masih minuman yang bermerek pula seperti Coca-cola, Sprite, Fanta, dan kadang-kadang minuman kaleng yang mengandung alcohol seperti Stouth, bir Heineken dan sebagainya. Soalnya, harganya masih relative murah. ‘’Dulu, sekaleng Heineken hanya Rp500 saja. Pada saat lebaran, ada juga warga yang menyuguhkan bir,’’ kata seorang warga Bengkong.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Harga minuman kaleng makin lama juga makin mahal. Namun, tradisi memberi minuman kaleng tetap berjalan. Hanya saja, mereknya pun berubah. Jarang yang memberi minuman merek terkenal lagi, tapi diganti merek Sarsi, ABC Yeo’s dan sebagainya buatan Malaysia yang jauh lebih murah. Kalau yang memberi minuman tidak mau repot, maka yang dibagikan dalam bentuk kupon. Tinggal menjemput minuman ke toko grosir minuman tersebut.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Wartawan juga sering mendapat minuman kaleng setiap lebaran. Menjelang lebaran, bertahun-tahun saya membagikan minuman kaleng untuk puluhan wartawan yang diberikan sebuah perusahaan. Jumlahnya mencapai 90 kes. Ruang tamu rumah kontrakan saya, sampai penuh minuman kaleng. Minuman itulah yang saya bagikan.</p>
<p class="MsoNormal">Seorang wartawan tua pernah berkata kepada saya. ‘’Setiap lebaran, saya mendapat paling tidak 50 kes minuman kaleng, sampai keluarga saya sakit perut,’’katanya, tertawa. Saya tercengang.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kalau perayaan lebaran dekat dengan Natal, saya jadi repot. Soalnya, puluhan kes minuman itu sudah dibagikan. Lalu, ada yang menelepon saya. ‘’Ketua, mana jatah aku?,’’katanya. Ops! Terpaksa saya belikan minuman kaleng yang sama mereknya dengan pemberian orang itu, lalu saya antar ke rumahnya. Makin lama, pemberian minuman kaleng makin sedikit, lalu lebaran kali ini tidak ada sama sekali.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Lebaran ini, tak satupun saya menerima minuman kaleng, apalagi untuk dibagikan. Istri saya membeli tiga kes minuman Cincau dan hari lebaran pertama tinggal beberapa kaleng saja. Permintaan minuman kaleng dari beberapa teman, terpaksa saya diamkan saja. Sebab, saya dan keluarga sebenarnya tak terlalu suka minuman kalengan ini. Selain rasanya makin tak enak, kami khawatir dampak minuman bersoda itu. Hanya jenis tertentu yang kami suka seperti Soya Bean, Cincau atau Sprite yang bisa bikin sendawa itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Informasi dari internet menyebutkan, ternyata minuman kaleng mengandung virus yang disebut Leptospirosis, yang berasal dari air kencing tikus yang mengering dan bereaksi membentuk zat tersebut. Virus tersebut menempel pada kaleng minuman itu dan berbahaya jika meminum minuman tersebut tanpa gelas atau sedotan. Pasalnya, kaleng-kaleng tersebut disimpan digudang dan sangat mungkin tercemar bakteri dan virus. Bagaimana menurut Anda? ***<span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/minuman-kaleng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Musala Al-Jihad</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/musala-al-jihad/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/musala-al-jihad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 16:13:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=226</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Ramadan mengingatkan saya Musala Al-Jihad, di komplek perumahan kami, Taman BPD Indah Batam Centre. Sebab, musala tersebut dibangun bersama-sama warga pada bulan Ramadan, empat tahun silam. Kami gotong royong pada malam hari. Hari pertama salat di musala, azan tanpa pengeras suara. Muazin melantunkan panggilan salat dari jendela. Kini, musala itu bersiap-siap naik status menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Ramadan mengingatkan saya Musala Al-Jihad, di komplek perumahan kami, Taman BPD Indah Batam Centre. Sebab, musala tersebut dibangun bersama-sama warga pada bulan Ramadan, empat tahun silam. Kami gotong royong pada malam hari. Hari pertama salat di musala, azan tanpa pengeras suara. Muazin melantunkan panggilan salat dari jendela. Kini, musala itu bersiap-siap naik status menjadi masjid.</p>
<p><span id="more-226"></span></p>
<p>Awalnya, tak ada rumah ibadah di komplek kami. Tanah kosong di bagian tengah, direncanakan untuk taman. Namun, sampai beberapa rumah terisi (hanya 58 rumah saja) tanah itu ditumbuhi rumput liar. Kami sepakat membangun musala. Ketuanya pembangunan musala itu namanya Mujahidin. Kami memanggilnya Pak Muja. Ia pegawai Bank BPD yang kini berganti nama menjadi Bank Riau.</p>
<p>Warga setuju nama musala itu Al-Jihad. Artinya, berjuang di jalan Allah yang diusulkan Pak Muja. Pelan tapi pasti, pembangunan musala itu akhirnya rampung juga. Berbagai kegiatan warga, kami lakukan di musala itu. Mulai dari rapat RT, peringatan hari besar Islam, pemotongan hewan kurban dan sejak tahun lalu, warga bisa melaksanakan salat Idul Fitri di musala kebanggan warga Taman BPD itu.</p>
<p>Namun, sejak dua tahun lalu, Pak Muja pindah tugas ke Pekanbaru.  Kami harus mencari penggantinya. Saya dan warga meminta Pak Jaffar, yang juga bekerja di Bank Riau, sebagai pengganti Pak Muja. Apalagi, beliau selalu menjadi imam saat salat Magrib dan Isya di musala itu. Pak Jaffar meneruskan pembangunan musala seperti memasang keramik di beranda musala, membuat pagar. Salah seorang pengurus, Ansyari membangun tempat berwuduk.</p>
<p>Musala Al Jihad makin bagus. Sesekali, warga gotong royong membersihkan musala. Bagi umat Islam yang sesekali salat di musala kami menyebutkan, musala Al Jihad dilihat dari fisiknya, pantas dijadikan masjid. Sejak beberapa bulan lalu, saya terpilih menjadi ketua pembangunan musa itu. Padahall, saya baru saja mengundurkan diri menjadi ketua RW setelah menjabat selama hampir tiga tahun.</p>
<p>Alasan saya menolak saat itu, karena saya jarang di rumah, pulang kerja larut malam. Dan yang paling berat, jujur saja salat saya masih bolong-bolong. Alasan itu saya sampaikan kepada warga. Namun, tiga kali saya menolak, warga masih terus meminta saya. Akhirnya, saya bismillah saja. Toh, ada pengurus lain yang ilmu agamanya lebih tinggi dari saya. Ada Pak Iswandi sebagai ketua harian, ada Badaruddin sebagai ketua bidang dakwah, ada Ansyari, Pak Yamin, Pak Ardiansyah dan Pak Wawan sebagai sekretaris serta Ismail sebagai bendahara.</p>
<p>Tak lama setelah pengurus baru terbentuk, kami melaksanakan pemotongan hewan kurban. Alhamdullilah, dibanding tahun lalu, jumlah hewan kurban bertambah. Pengajian ibu-ibu majlis taklim juga makin aktif dibawah binaan ibu Hajjah Nurhayati. Dan yang patut kami syukuri, menjelang Ramadan 1429 ini, seorang ustad bernama Ahmad Bulkin yang biasa disapa AA Bulkin, bersedia menjadi imam tetap di musala kami. Sehingga salat lima waktu kini bisa dilaksanakan di musala Al Jihad.</p>
<p>Meski saya tak berpengalaman menjadi ketua musala, saya berharap musala ini bisa ditingkatkan statusnya menjadi masjid. Saya ingin membangun taman di depan musala agar lebih indah. Apalagi, di sekitar komplek kami saat ini makin ramai dengan dibangunnya beberbapa perumahan seperti Kapital Raya, Maitri Garden, Alam Raya Tahap II dan menyusul Bukit Airis.</p>
<p>Bagi saya pribadi, mudah-mudahan amanah warga makin mendekatkan diri saya kepada Allah SWT dan musala ini bisa menjadi rumah ibadah yang makmur. Insya Allah. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/musala-al-jihad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

