<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; feature</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/tag/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 10:57:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>In memoriam Gus Dur</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 15:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengagumi KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, sebelum ia jadi presiden RI ke 4. Itu pun hanya melalui wawancara dan pikiran-pikiran bernasnya di media massa. Lalu, saya membaca buku Tabbayun Gus Dur, hasil wawancaranya tentang negara, demokrasi dan pluralisme. Saya gembira ketika diberitahu ikut dalam rombongan wartawan Riau Pos Grup yang akan diterima wawancara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengagumi KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, sebelum ia jadi presiden RI ke 4. Itu pun hanya melalui wawancara dan pikiran-pikiran bernasnya di media massa. Lalu, saya membaca buku Tabbayun Gus Dur, hasil wawancaranya tentang negara, demokrasi dan pluralisme. Saya gembira ketika diberitahu ikut dalam rombongan wartawan Riau Pos Grup yang akan diterima wawancara khusus di istana negara, Jakarta. pada awal tahun 1999.<span id="more-293"></span></p>
<p>Wartawan yang berangkat menjumpai Gus Dur antara lain, Kazzaini, Abubakar Siddik, Muchid Al Bintani (dari Riau Pos Pekanbaru) Erisman Yahya (Jakarta) dan saya sendiri dari Sijori Pos, Batam. Kami menginap di Wisma Pemda Riau di Jakarta. Saya sibuk memikirkan apa yang akan saya tanyakan kepada Gus Dur. Sementara, Kazzaini sebagai yang paling senior, menyiapkan tiga lembar daftar pertanyaan. </p>
<p>Kami sempat berdiskusi soal wawancara khusus itu. Saya nyeletuk, saya akan menanyakan soal Batam yang sejak lama jadi kota judi dan soal pembagian keuangan pusat dan daerah yang saat itu sedang menjadi isu hangat secara nasional. Tiba-tiba, Abubakar berkata,&#8221; Ah, kau jangan tanya yang macam-macam pula,&#8221; katanya. Saya heran, kok wartawan tak boleh tanya apa saja?</p>
<p>Pagi-pagi karena takut macet, kami meluncur ke istana negara. Begitu melapor, ke sekretariat presiden, kami disuruh menunggu. Tapi, berjam-jam menunggu, tak ada tanda-tanda kami disuruh masuk menjumpai Gus Dur. Saya sempat ikut konferrensi pers dengan Yenni Wahid bersama puluhan wartawan istana. Sampai jam 14.00 WIB siang, kami belum juga bisa wawancara Gus Dur. </p>
<p>Tak lama kemudian, Ratih Harjono Sekretaris Presiden mantan wartawan yang cantik itu, datang menemui kami. Ia berkata,&#8221; Mohon maaf, wawancara dengan Presiden batal karena ada rapat kabinet mendadak. Semua biaya Anda ke Jakarta, akan diganti,&#8221; katanya, tegas. Kami melongo. Lho, kok bisa? Abubakar langsung menyodorkan tape recorder soal pembatalan itu dan berkata, apa alasannya dan pertanyaan itu on the record. </p>
<p>Ratih Harjono sempat menawarkan, meski wawancara batal, besok Gus Dur mau terbang ke Batam dan satu orang bisa ikut pesawat kepresidenan. Semua mata teman-teman tertuju kepada saya. Sebab, hanya saya sendiri yang dari Batam. Saya sudah membayangkan, alangkah hebatnya wawancara khusus dengan Gus Dur di atas pesawat. Namun, rencana itu batal. Ratih melapor lagi ke Gus Dur dan akhirnya, kami diberi waktu 15 menit saja. Setelah menunggu 8 jam! Kabarnya, Gus Dur kurang disiplin dengan waktu dan protokoler istana sehingga kalau ada tamu yang sudah duluan, bisa molor sehingga tamu berikutnya terpaksa diluar jadwal yang semestinya. </p>
<p>Kami masuk beriringan. Di depan saya, Erisman Yahya menyalami Gus Dur. Saat Erisman mau mencium tangannya, sontak Gus Dur menolak dan menarik tangannya. Saya hanya menyalami sambil menyebutkan nama saya, diikuti Muchid. Foto saya bersalaman itulah yang sampai saat ini dipajang di dinding rumah saya. </p>
<p>Kazaini memulai wawancara, setelah berbasa-basi sejenak. Jawaban Gus Dur juga datar-datar saja. Saya tak sabar karena waktunya terbatas. Meski kawan-kawan kurang suka, saya lalu nyelonong bertanya.&#8221; Gus Dur, saya mau tanya dua hal. Apakah pemerintah sedang kesulitan finansial sehingga pembagian keuangan pusat dan daerah itu belum juga direalisasikan? Kedua, ada pendapat Batam itu dijadikan kota judi saja. Bagaimana menurut Anda? </p>
<p>Gus Dur memutar duduknya dan langsung menjawab. &#8221;Anda ini gimana. Kalau kesulitan finansial, semua kita sedang kesulitan. Soal Batam jadi kota judi, ah pendapat kayak gitu aja kok dianggap. Gitu aja kok repot,&#8221; katanya. Saya kecewa tak dapat jawaban memuaskan. Padahal, kalau soal Batam jadi kota judi itu, saya ingin mendengar jawaban seorang presiden yang sekaligus ulama terkemuka. Berita wawancara bersama teman-teman RPG itu, lalu menjadi headline di koran kami masing-masing. Kalau melihat foto saya bersalaman yang dikirimkan Muchid ke saya itu, saya teringat pertemuan dengan Gus Dur.</p>
<p>Pertemuan kedua, saat Gus Dur berada di Kedutaan RI di Beirut, Lebanon tahun 2002. Saya dan rombongan dari Batam, mampir ke kedutaan saat melawat ke Timur Tengah. Saat itu, Gus Dur hanya pakai batik lengan pendek dan tanpa kopiah. Tapi, tak ada yang saya tanyakan ke Gus Dur karena saat itu ia sedang berbincang-bincang dengan duta besar. Saya mendapat kabar, Gus Dur terbilang sering ke Lebanon. </p>
<p>Lebanon yang terkoyak-koyak perang saudara karena agama memang unik. Gaya hidup sebagian warganya mengacu ala Paris. Sebagian penduduknya beragama Islam dan sebagian lagi Kristen sehingga masalah agama tabu dibicarakan. Saya hanya menduga, toleransi antar umat beragama yang ditularkan Gus Dur, bisa jadi karena pemahamannya yang mendalam tentang konflik antar umat beragama seperti yang terjadi di Lebanon. Itulah terakhir kali bertemu langsung dengan Gus Dur. </p>
<p>Saya kadang terheran-heran dengan pikiran-pikirannya, gaya nyelenehnya dan leluconnya. Ia menjadikan istana milik rakyat. Membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan, membela kaum minoritas, membentuk kementerian HAM dan sebagainya. Jabatan presiden yang sangat formal, bagi seorang Gus Dur bisa jadi lelucon. Siapa calon presiden tahun 2014 Gus Dur? tanya wartawan. Dengan santainya Gus Dur menjawab dirinya. Caranya gimana Gus? &#8221;Ketik Reg Gus Dur Ciganjur,&#8221; katanya, enteng. </p>
<p>Meski matanya sejak lama tak melihat, berbagai penyakit yang menderanya, Gus Dur tidak hanya sebagai bapak bangsa, ia layak menjadi pahlawan dengan pikiran-pikiran besarnya. Selamat jalan KH Abdurahman Wahid&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Well Come to Casino Singapore</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 07:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dua tahun lalu, Singapura menggesa pembangunan dua kasino. Setelah perjudian ilegal dan kasino di Batam ditutup, diperkirakan kasino tersebut bakal banjir pengunjung dan bersaing ketat dengan Genting Highland, Malaysia. Bagaimana peluangnya dan seperti apa pengaruhnya terhadap pelaku bisnis di Batam?
Saat ini, Pemerintah Singapura tengah sibuk merampungkan pembangunan The Marina Bay Sands dan Sentosa World [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Sejak dua tahun lalu, Singapura menggesa pembangunan dua kasino. Setelah perjudian ilegal dan kasino di Batam ditutup, diperkirakan kasino tersebut bakal banjir pengunjung dan bersaing ketat dengan Genting Highland, Malaysia. Bagaimana peluangnya dan seperti apa pengaruhnya terhadap pelaku bisnis di Batam?<span id="more-276"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini, Pemerintah Singapura tengah sibuk merampungkan pembangunan The Marina Bay Sands dan Sentosa World Resorts, dua proyek raksasa yang sempat diperdebatkan di parlemen negeri Singa itu. <span> Di dua kawasan itu terpadu itu, disediakan berbagai jenis pertunjukan wisata dan kasino serta berbagai aneka perjudian yang bakal menjadi daya tarik utama. Meski belum rampung, diprediksi dua kawasan ini bakal menyedot wisatawan lebih besar lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kawasan wisata terpadu dan perjudian Genting Highland saja, yang dikenal sebagai Las Vegas-nya Malaysia berkembang pesat dan beranak pinak menjadi perusahaan kertas, pembangkit listrik, kapal pesiar, perusahaan minyak, perkebunan dan perumahan di bawah bendera Genting Bhd. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kawasan wisata itu memiliki enam hotel yang saling berdempetan di puncak bukit Titiwangsa dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Hotel First World memiliki 6.118 kamar dan merupakan hotel terbesar kedua di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika dua kasino di Singapura rampung, diperkirakan orang akan memilih Singapura karena mudah dijangkau. Sementara, Genting Highland yang terletak di perbatasan Pahang dan Selangor, lebih jauh dan bisa dicapai dengan mobil dengan jalan berkelok-kelok dan curam, serta naik kereta gantung (sky way) sepanjang 3,5 kilometer. Sky Way ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara dan tercepat di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebelum Singapura memutuskan membangun kasino, pada akhir pekan, kapal pesiar Star Virgo, Star Cruise yang nota bene milik Genting Group, membawa ribuan pelancong belanja ke Singapura. Dengan dua kasino ini, bakal menjadikan ekonomi Singapura makin perkasa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Konon kabarnya, dua kasino ini akan memiliki jenis perjudian yang berbeda. Di Sentosa World Resort akan bergaya Timur seperti Makau dan di Marina Bay Sand akan bergaya Barat seperti Las Vegas. Yang pertama dibangun<span> </span>Genting International,<span> </span>Malaysia dan yang kedua dibangun Las Vegas Sand. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dari pantauan <em>Batam Pos</em> di Singapura pekan lalu, ribuan pekerja kontruksi bekerja siang malam menggarap proyek raksasa dan prestisius ini. Ratusan kendaraan dan alat berat seperti eskavator, kren, buldozer hilir mudik mengangkut bahan bangunan dan tak henti-hentinya meraung. Diperkirakan, dalam tempo enam bulan, kasino ini siap beroperasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Di Sentosa World Resorts (SWR), bangunan utama berbentuk kubah sudah mulai menampakkan wujud aslinya. Dibangun di kawasan wisata Pulau Sentosa, SWR nyaris membutuhkan seperempat lahan pulau tersebut. Integrasi antara sarana transportasi dan kawasan judi dibuat sedemikian rupa hingga akan memudahkan orang berkunjung ke sana. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Monorel yang menghubungkan Pelabuhan Harbour front dengan Pulau Sentosa, nantinya bakal menembus masuk dalam bangunan SWR . <em>Cable car</em> pun dirancang ulang sebagai alat transportasi baru. Bagi yang bermobil, sudah disiapkan berhektar-hektar lahan parkir proyek senilai S$6.59 miliar yang dikerjakan oleh perusahaan judi Malaysia, Genting International. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Nantinya, orang Batam atau Indonesia yang ingin berjudi, tinggal mengeluarkan uang tak lebih dari S$ 8 untuk bisa masuk ke SWR. Tapi untuk bertaruh, tentu saja tak cukup dengan bekal uang sekecil itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>The Marina Bay Sands (MBS) jauh lebih <span>masif</span>. Dibangun oleh perusahaan judi terbesar dunia Las Vegas Sands, daerah wisata MBS nantinya akan berpadu dengan Marina Barrage, dam yang indah dan mengesankan itu. MBS akan dikelilingi taman yang luar biasa besar dan indah. Bahkan disebut-sebut akan menjadi taman bunga terbesar di Asia. Sepekan lalu, ribuan bunga dan pohon aneka jenis teronggak di lokasi pembangunan taman, siap ditanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Selain berjudi, pengunjung MBS nantinya akan bisa berbelanja, menikmati hotel bintang lima, sekaligus mengasah otak di museum Lotus yang akan dibangun searea dengan MBS. Proyek senilai S$226 juta itu direncanakan bakal dibuka tahun depan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Singapura, dengan proyek dua kasino <span> </span>mereka yang luar biasa, tampaknya sudah berhitung betul sisi buruk dan manfaat yang bakal didapatkan. Dalam pembangunannya saja, ribuan pekerja dan jutaan dolar uang berputar. Ketika tahun ini Singapura dihantam krisis hingga menyebabkan ribuan warga menganggur, MBS dan SWR memberi lowongan kerja sekitar 4000 warganya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Antrian panjang terlihat ketika pihak manajemen MBS dan SWR membuka bursa lowongan pekerjaan di mal-mal seantero Singapura. Beberapa bulan lalu ketika dua kasino tersebut membuka sekitar 450 karyawan, ada sekitar 5.000 pencari kerja Singapura antri mendapatkan formulir lamaran. Mengutip <em>The Straits Times</em>, antrian tersebut dianggap sebagai antrian terbanyak pencari kerja sepanjang sepuluh tahun terakhir. Jika sudah jadi nanti, Pemerintah Singapura memprediksi bisa mempekerjakan 10.000 orang hanya untuk Sentosa Worlds Resort.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Hotel-hotel dipastikan bakal penuh jika dua rumah judi nanti akan dibuka. Pelaku judi yang disyaratkan harus berpaspor asing, tentu saja datang ke Singapura dengan segepok uang yang tak hanya dihabiskan di meja judi.Tentu saja mereka butuh makan, tempat tinggal, pakaian, dan tak akan segan mengeluarkan uang untuk keperluan ini. Bukan hanya pemerintah yang menangguk untung dari pajak kunjungan mereka, tapi pelaku usaha di Singapura dipastikan kecipratan untung dengan pembukaan dua kasino tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagi sebagian warga Singapura, juga menunggu dua kasino ini rampung. Misalnya, Raaj seorang lelaki keturunan India warga Malaysia namun bekerja di Singapura ini. Ia menyewa kamar di Hougang Avenue dan bekerja di perusahaan elektronik. Hobinya: bertelepon dan main judi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Jika sudah menelepon ke kampungnya di Perak, Malaysia, Raaj bisa menghabiskan setengah malam yang ia punya untuk bercengkerama dengan ibu, dan tentu saja calon istri pilihan ibunya. Untuk berjudi 4D atau yang biasa kita sebut <em>toggle</em> (baca togel), Raaj dengan mudah meloloskan 25 hingga 50 dolar sekali bukaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setiap akhir pekan, taruhan <em>on-line</em> tentang tebak skor sepakbola, tak pernah ia lewatkan. Taruhan sepakbola dilakukannya<span> </span>melalui internet. Penjudi kelas teri dan kecil-kecilan seperti Raaj, memang amat populer di Singapura, negara yang memang melegalkan perjudian. Kesenangan, adrenalin yang melonjak saat dada dag-dig-dug menanti skor akhir, adalah faktor utama Raaj untuk menggemari taruhan 4D atau judi <em>on-line. </em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selain mal, <em>foodcourt</em>, dan alat-alat transportasi massal yang selalu disesaki masyarakat Singapura, konter 4D selalu menghadirkan antrian panjang petaruh setiap hari. Di pinggir jalan yang disesaki pelancong, kupon-kupon judi pacuan kuda, dengan mudah bisa didapat. Tinggal menunggu keberuntungan. Ini bukti betapa gairah warga Singapura terhadap perjudian.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika kasino itu beroperasi, tak menutup kemungkinan tahun depan Raaj bakal menaikkan “kelas” judinya. Berada di meja judi sebenarnya. Ada roullet, black jack, baccarat dan berbagai jenis perjudian. Kasino di Sentosa dan Marina akan membuat Raaj menahan nafas, mengadu nasibnya, berjudi yang sebenar-benarnya.<span> </span><span> </span>“Saya pasti akan mencobanya,” katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Tampaknya, Singapura<span> </span>tahu betul, ketimbang uang penggemar judi seperti Raaj disetorkan ke rumah judi <em>on-line </em>di Eropa sana, mendingan “diputar” di Singapura. Raaj yang berpaspor Malaysia, tentu saja dengan senang hati dipersilahkan menikmati bertaruh di meja judi sebenarnya: MBS dan SWR. Tapi untuk warga Singapura, cukup bermain judi lewat <em>toggle</em> saja. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagaimana peluangnya bagi pelaku bisnis di Batam jika dua kasino itu dibuka? Ternyata, sebagian pengusaha Batam sudah mengintip peluang sejak pembangunan dua kasino ini digulirkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>’’Pasti anginnya akan berdampak ke Batam. Kabarnya, tahun lalu mereka mau buka, tapi ditunda karena krisis global. Kabarnya, Desember tahun ini mereka akan buka. Jika dibuka, tentu akan berpengaruh terhadap bisnis di Batam,’’ kata Cahya, yang baru saja dilantik menjadi Ketua Apindo itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut Cahya, pembangunan dua kasino dan kawasan wisata terpadu di Singapura itu, merupakan angin segar bagi pelaku bisnis di Batam. Diperkirakan, tamu hotel akan meningkat, bisnis properti menggeliat, kunjungan wisatawan bertambah. ‘’Para pekerjanya tentu akan mencari rumah sewa yang lebih murah di Batam. Kita perlu persiapan untuk tahun depan,’’ ujar Cahya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Program pariwisata Batam yang mengapungkan slogan Visit Batam 2010 menurut Cahya, juga perlu berbenah. ‘’Infrastruktur harus dibenahi sehingga segala sesuatunya oke. Pemko Batam wajib promosi ke Singapura dan luar negeri. Wisatawan di Singapura kan tinggal selangkah lagi ke Batam. Kalau tidak mau berpromosi, visit Batam 2010 itu sama saja bohong,’’ kata Cahya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk menangkap peluang bisnis tersebut, kata Cahya, perlu berbagai kebijakan dan kemudahan mengingat status Batam free trade zone (FTZ) yang memiliki kekhususan. ‘’Mestinya kewenangannya ada pada gubernur sebagai ketua Dewan Kawasan sehingga tidak menunggu pusat melulu,’’ tukasnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Cahya mengakui, pembangunan perumahan prestisius Coastarina dan kawasan wisata modern Ocarina, juga disiapkan untuk menangkap peluang dibangunnya dua kasino di Singapura. Coastarina dan Ocarina sendiri dibangun di atas lahan seluas 126 hektar. ‘’Saya akan kebut membangun water park dan mudah-mudahan Desember tahun ini juga rampung,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sementara itu, pengusaha lain seperti Abi yang terkenal dengan restoran Golden Prawn di kawasan Bengkong, juga menyiapkan diri. Restoran yang dibangun sejak tahun 1992 itu, kini terus mengembangkan sayap bisnisnya dengan mendirikan hotel Golden View yang beroperasi sejak 1996 lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini, Abi terus ngebut dengan membangun kawasan wisata terpadu Golden City di atas lahan seluas 100 hektar. ‘’Selain berbagai permainan dan wisata alam, kami juga membuat miniatur kapal Ceng Ho,’’ kata Abi. Bagaimana dengan pengusaha lain melihat peluang ini? <strong>(Socrates &amp; Sultan Yohana)</strong> ***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lansia Batam dan Husnul Khatimah</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/lansia-batam-dan-husnul-khatimah/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/lansia-batam-dan-husnul-khatimah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 15:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[ 
Setiap anak, pasti punya orang tua. Tetapi, belum tentu setiap orang tua punya anak. Ketika memasuki usia senja, pada orang tua yang menjadi lanjut usia (lansia) membutuhkan perhatian, kepedulian dan penghargaan yang tidak sebatas lips service belaka.
 TANGGAl 29 Mei kemarin, tepat 13 tahun peringatan Hari Lansia. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, Lansia adalah orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal">Setiap anak, pasti punya orang tua. Tetapi, belum tentu setiap orang tua punya anak. Ketika memasuki usia senja, pada orang tua yang menjadi lanjut usia (lansia) membutuhkan perhatian, kepedulian dan penghargaan yang tidak sebatas lips service belaka.<span id="more-268"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> TANGGAl 29 Mei kemarin, tepat 13 tahun peringatan Hari Lansia. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, Lansia adalah orang yang sudah berumur 60 tahun ke atas. <span> </span>Meski pemerintah sudah membentuk Komisi Nasional Perlindungan Penduduk Lanjut Usia atau Komnas Lansia, sebanyak 1,5 juta Lansia di republik ini, hidup terlantar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Barangkali, tak banyak yang mengingat, apalagi memperingati Hari Lansia Nasional itu. Sebab, selain kurang punya nilai jual, hari penting tersebut kalah populer dengan misalnya Valentine Days atau hari besar lainnya. Padahal, tanpa orang tua, kita tak akan ada di dunia ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jumlah orang lanjut usia di Indonesia saat ini sekitar 16,5 juta jiwa dari total penduduk yang mencapai lebih 220 juta jiwa. Jumlah tersebut, terus bertambah seiring meningkatnya angka harapan hidup penduduk Indonesia, termasuk meningkatnya pelayanan kesehatan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada tahun 1980, angka harapan hidup warga Indonesia adalah 54 tahun (perempuan) dan 50,9 tahun (laki-laki) . Sepuluh tahun kemudian, tahun 1990 meningkat menjadi 64,7 tahun (perempuan) dan 61 tahun (laki-laki). Pada tahun 2000 meningkat lagi menjadi 70 tahun (perempuan) dan 65 tahun (laki-laki).<span>  </span>Sehingga, tidak berlebihan jika pada abad ke 21disebut sebagai abad lansia (<em>era of population ageing</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, sebagian besar lansia di Indonesia (61,73%) tinggal di pedesaan. Lansia perempuan jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. Lalu, seperti bagaimana data dan jumlah lansia di Batam? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebagai kota urban, pertumbuhan penduduk Batam terbilang pesat. Pada periode tahun 1990 sampai 2000, laju pertumbuhan kota pulau ini mencapai 12,87 persen. Namun, sejak dibatasi melalui Perdaduk, pertumbuhannya bisa ditekan menjadi 6,36 persen pada tahun 2001 hingga 2006. </span></p>
<p><span>Sampai Agustus 2007 penduduk Batam berjumlah 727.878 jiwa yang tersebar di 12 kecamatan dan 64 kelurahan. Menurut Kepala Dinas Kependudukan Kota Batam Sadri Khairuddin, hingga Desember 2008 total penduduk Batam 899.944 jiwa. <span> </span>Jumlah lansia mencapai 13.981 jiwa. </span></p>
<p><span>Perinciannya, usia 60 sampai 64 tahun 6.363 jiwa, usia 65 sampai 69 tahun 3.866 jiwa, usia 70 sampai 74 tahun 1.852 dan usia 75 tahun ke atas 1.900 jiwa. ‘’Kebanyakan berdomisili di pulau-pulau dan kawasan hinterland,’’ kata Sadri Khairuddin. </span></p>
<p><span>Mengapa kita harus peduli dengan para lansia? Lanjut usia sering diidentikan dengan kepikunan, ketergantungan pada orang lain (baca: keluarga), tidak produktif, menurunnya kemampuan baik secara fisik, ekonomi dan sosial. Sehingga, tidak jarang muncul perasaan tak berdaya dan hanya menunggu datangnya kematian. </span></p>
<p><span>Meski kita sering mengumandangkan bahwa para lansia dihormati karena memiliki kearifan dan pengalaman lebih banyak, faktanya berbicara lain. Tidak sedikit keluarga yang menitipkan para lansia ke panti jompo, atau ‘’dipaksa’’ mengasuh cucu, disediakan baby sitter dan sebagainya. </span></p>
<p><span>Psikolog Sartono Mukadis, yang pada usia senja tetap produktif meski kakinya diamputasi itu mengatakan, ia selalu memberi semangat pada dirinya untuk menikmati hari tua. Sebab, ia tak ingin mengalami kematian psikologis berupa kemarahan terhadap diri sendiri karena merasa tak berguna, serta kematian sosial berupa perasaan tak dibutuhkan dan menjadi beban bagi orang lain. </span></p>
<p><span>Kendati di Batam pada umumnya penduduk berusia produktif,<span>  </span>dengan jumlah lansia yang mencapai 13.981 jiwa itu, merupakan generasi yang perlu mendapat perhatian dan meningkatkan partisipasi mereka dalam kegiatan sosial, ekonomi, kesehatan, kerohanian dan sebagainya. Budaya kita tentu berbeda dengan Singapura yang mengabaikan para lansia sementara anak-anaknya sibuk bekerja. </span></p>
<p><span>Sering orang mengadakan hajatan pada saat anaknya lahir, berulang tahun, menikah dan seterusnya. Namun, jarang orang merayakan pada saat ia memasuki usia pensiun dan menjadi lansia. Paling tidak, perlu dikampanyekan semangat menikmati hari tua. Bukan menghadapinya dengan ketakutan dan menimbulkan apa yang disebut post power syndrom.</span></p>
<p><span>Salah satu kegiatan para lansia yang cukup positif adalah majlis taklim Husnul Khatimah, yang dikelola dan dibina oleh Masjid Raya Batam. ‘’Awalnya, kami mengadakan pesantren kilat khusus lansia. Ternyata, sambutannya luar biasa. ‘’Kini, setiap minggu lebih 250 orang lansia adalah anggota aktif,’’ kata Teten Nasrudin, salah seorang pengurus Masjid Raya yang sejak awal ikut membidani kelahiran majlis taklim ini. </span></p>
<p><span>Menurut Teten, ia menyaksikan betapa para lansia anggota majlis taklim Husnul Khatimah menemukan kegembiraan, kebersamaan, teman berbagi suka dan duka dan bersama-sama menimba ilmu agama. ‘’Yang diperlukan mereka adalah mengisi batinnya,’’ kata Teten, sambil menunjuk dadanya. </span></p>
<p><span>Selain pengajian mingguan secara rutin, sejak berdiri pada 5 April 2008 lalu, anggota majlis taklim Husnul Khatimah terus bertambah. Melihat animo para lansia itu, Teten menggagas mendirikan villa pesantren Husnul Khatimah. ‘’ Misinya, sebagai pembinaan dan pemberdayaan orang tua dan meningkatkan kualitas hidupnya secara terpadu. Makanya namanya bukan pondok, tapi villa pesantren,’’ ujar<span>  </span>Teten. </span></p>
<p><span>Apa yang akan dipelajari para lansia di pesantren itu? Antara lain, membaca Al-Quran, memahami hukum Islam, tauhid dan akhlak. Juga pemberdayaan di bidang ekonomi dan sosial kemasyaratan. Teten sudah menyiapkan proposal pembangunan villa pesantren tersebut. <span> </span>Ia berharap, para lansia di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, ikut tertarik bergabung dengan para lansia di Batam. </span></p>
<p><span>Ketidak berdayaan para lansia, tidak hanya karena keterbatasan fisik karena makin menua, tapi juga oleh sikap dan label yang dilekatkan kepada mereka. <span> </span>Antara lain, pembatasan dan isolasi secara sosial. Misalnya, agar orang tua alias lansia di rumah saja. Akibatnya,<span>  </span>mereka kehilangan kepercayaan diri, frustrasi dan akhirnya sakit-sakitan. </span></p>
<p><span>Gagasan mendirikan vila pesantren Husnul Khatimah untuk para lansia, patut didukung. Sebab, selain jumlah lansia di Batam terus bertambah, misalnya anak yang merantau ke Batam dan kehidupan sosial ekonominya mulai meningkat, membawa orangtuanya yang sudah lansia ke kota ini. </span></p>
<p><span>Setahun usia majelis taklim Husnul Khatimah, selain mengadakan pengajian rutin sekali seminggu, mereka juga mengadakan wisata dakwah ke Pulau Setokok. Malah, baru-baru ini berkunjung ke Masjid Sultan di Singapura. </span></p>
<p><span>Selain itu, pesantren lansia ini bisa menjadi contoh dan model di kota-kota lain. Sehingga, para lansia menikmati hidup dan hari tuanya dengan penuh kegembiraan. </span></p>
<p><span> Batam, 29 Mei 2009</span></p>
<p><em><span>Tulisan ini dimuat di Harian Batam Pos edisi 29 Mei dan saya dedika-sikan buat mama saya yang pada 22 Agustus nanti berusia 67 tahun.<span style="font-style: normal;"> </span></span></em></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/lansia-batam-dan-husnul-khatimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Penawar Rindu</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/pulau-penawar-rindu/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/pulau-penawar-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 07:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[ 
Menatap Belakangpadang, seperti gambar kontras dengan Batam. Padahal, dulu Batam adalah bagian dari Kecamatan Belakangpadang. Pelantar, pancung yang berjejer, menjadi pemandangan khas dan tak berubah dari tahun ke tahun. Mengapa pulau yang berjuluk Penawar Rindu itu lambat sekali maju?
  
SUDAH lebih tiga tahun saya tidak ke Belakangpadang. Meski terkesan lambat, kecamatan tertua di Batam ini mulai maju. Begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/padang.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-243" title="padang" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/padang-300x233.jpg" alt="" width="300" height="233" /></a>Menatap Belakangpadang, seperti gambar kontras dengan Batam. Padahal, dulu Batam adalah bagian dari Kecamatan Belakangpadang. Pelantar, pancung yang berjejer, menjadi pemandangan khas dan tak berubah dari tahun ke tahun. Mengapa pulau yang berjuluk Penawar Rindu itu lambat sekali maju?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <span id="more-242"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">SUDAH lebih tiga tahun saya tidak ke Belakangpadang. Meski terkesan lambat, kecamatan tertua di Batam ini mulai maju. Begitu boat pancung<span>  </span>merapat ke pelantar yang sesak dengan motor yang diparkir itu, di bibir pantai tertulis: Selamat Datang di Belakangpadang, Pulau Penawar Rindu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span><span>       </span>Saat menuju Belakangpadang, laut tampak makin kotor dan penuh sampah. Ganggang yang mati, potongan kayu mengapung dan mengganggu jalannya boat pancung, karena bisa nyangkut di mesin Yamaha berbekuatan 40 PK itu. Sama seperti dulu, boat pancung itu tak dilengkapi pelampung pengaman yang memadai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span><span>       </span>Belakangpadang makin ramai. Terutama oleh sepeda motor. ’’Mobil di Belakangpadang hanya dua. Mobil ambulan dan mobil jenazah,’’cetus seorang warga Belakangpadang. Becak juga masih jadi angkutan andalan di Belakang-padang. Namun, jarang pengemudi motor yang menggunakan helm. Padahal, jalan-jalan di pulau ini tidak mulus dan berlubang-lubang di sana-sini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>       </span><span>     </span>Pasarnya juga makin luas. Tapi tetap sepi. Sebagian besar toko-toko ma-lah tutup. ’’Pasar Belakangpadang ya begini inilah setiap hari,’’ kata tukang beca yang membawa saya berkeliling. Toko-toko pun makin ramai dibanding tiga tahun lalu. Namun Belakangpadang masih tetap menjadi andalan perdagangan pulau-pulau di sekitarnya seperti Pulau Terong, Kasu, Geranting dan sebagainya. Maklum, kecamatan Belakangpadang terdiri dari 55 buah pulau. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>      </span><span>      </span>Belakangpadang, seperti julukannya, memang menjadi pulau penawar rindu, bagi warganya yang bermukim di Singapura dan Malaysia, atau pulau-pulau lain seperti Batam, Bintan dan Karimun. Suasana kampung sangat terasa dan tenang. Belakangpadang jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan kota besar. Namun, suara knalpot sepeda motor, makin ramai saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>   </span><span>         </span>Kalau dulu warga Belakangpadang selalu kesulitan air bersih, sejak adanya dam sehingga air bersih kini tak masalah lagi. </span><span>Sebelumnya, warga terpaksa membeli air bersih yang diangkut dengan boat pancung dari pulau-pulau lain. </span><span lang="SV">Selain itu, Belakangpadang kerap menjadi tumpahan limbah dan minyak yang berasal dari kapal-kapal tanker yang melayari Selat Malaka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Saat saya berkeliling, ternyata Sekolah Dasar Negeri 001 Belakang-padang,<span>  </span>sejak tiga pekan lalu pekarangannya longsor. Akibatnya, plang nama SD yang terbuat dari semen itu, patah. Longsor tersebut berbahaya bagi murid-murid SD yang tetap bersekolah. &#8221;Longsor terjadi sudah tiga minggu, sejak hujan sering turun. Murid-murid tetap sekolah. Mau belajar dimana lagi?,&#8221; kata seorang warga di depan sekolah yang berlokasi di Kampung Bugis, Belakangpadang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Di depan jalan, dipasang papan pengumuman dari triplek. Dilarang mendekat di lokasi longsor, berbahaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span><span>       </span>Agar tidak mengancam keselamatan murid-murid, guru SDN 001<span>  </span>Belakangpadang memasang pembatas di pekarangan sekolah agar murid tidak menjadi korban. Lokasi sekolah yang berbukit-bukit, sementara dam pengaman su-dah retak dan tua, sehingga sekolah itu rawan longsor. Namun, meski longsor terjadi tiga pekan lalu, belum ada upaya memperbaiki pekarangan sekolah yang longsor tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span><span>          </span>Sementara itu, jembatan Melawa di Belakangpadang, juga rusak dan ber-lubang di sana-sini. Jembatan kayu yang cukup panjang itu, dilewati pejalan kaki, sepeda motor, becak dan sepeda. Kayu jembatan yang sudah lapuk, sebagian ditambal-tambal. Namun, karena banyaknya kayu yang lapuk, sebagian jem-batan itu dihiasi lubang yang menganga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>&#8221;Sudah banyak yang jatuh dan terjungkal ke laut. Entah mengapa jem-batan ini tak pernah diperbaiki,&#8221; kata seorang warga yang melintasi jembatan tersebut. Apalagi, di kiri dan kanan jembatan, tidak ada pagar pembatas sehingga rawan kecelakaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span>Anehnya, pihak Dinas Pendidikan mengaku belum tahu soal ini, saat ditanya wartawan. Begitulah. Belakangpadang masih tetap berkutat dengan segala problematikanya. Perlu keperdulian dan terobosan, semisal membangun hotel, agar pulau ini tidak tertinggal dan dikebelakangkan. ***   </span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/pulau-penawar-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung Pekasih Pulau Terong</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/kampung-pekasih-pulau-terong/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/kampung-pekasih-pulau-terong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 11:31:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Ratusan pulau-pulau di Batam punya daya tarik dan pesona alami. Ingin sesekali melepaskan diri dari hiruk pikuk kota dan rutinitas kerja? Pergilah ke pulau. Menikmati alam, bercakap-cakap dengan nelayan,  ikannya yang gurih, dan menginap semalam memberikan nuansa berbeda. Salah satunya di Kam-pung Pekasih, Desa Pulau Terong Kecamatan Belakang Padang. Inilah ceritanya.
 
Semburat cahaya matahari sore menerpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/anak-kasu3.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-240" title="anak-kasu3" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/anak-kasu3-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ratusan pulau-pulau di Batam punya daya tarik dan pesona alami. </span><span lang="FI">Ingin sesekali melepaskan diri dari hiruk pikuk kota dan rutinitas kerja? Pergilah ke pulau. Menikmati alam, bercakap-cakap dengan nelayan,<span>  </span>ikannya yang gurih, dan menginap semalam memberikan nuansa berbeda. Salah satunya di Kam-pung Pekasih, Desa Pulau Terong Kecamatan Belakang Padang. Inilah ceritanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span lang="FI"><span id="more-236"></span>Semburat cahaya matahari sore menerpa air laut, saat pancung melaju. </span><span lang="SV">Pancung yang sudah penuh pe</span><span lang="FI">numpang, berangkat dari Sekupang ke Belakang-padang. Namun, pancung yang kami tumpangi, menuju Pulau Terung, pulau pa-ling ujung di gugusan pulau Kota Batam. Saat pancung melesat di riak ge-lombang, bau laut yang khas, kapal-kapal yang lego jangkar, pikiran terasa lepas sejauh mata memandang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>    </span><span>        </span>Jalur Sekupang ke Pulau Terung bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Rutenya begini. Melewati Pulau Sekilak, terus melintasi Pulau Sarang, Pulau Lengkang, Pulau Mecan, Pulau Nirop, Pulau Pemping, Pulau Labun dan me-lintasi Pulau Kasu. Dari sana terus melewati Pulau Siali, Pulau Panjang, Pulau Bontong, Pulau Kepala Jeri, Pulau Pecong, Pulau Jaloh, Pulau Tumbar, Pulau Sayak, Pulau Geranting dan Pulau Terong. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>  </span><span>          </span>Pulau Terong sendiri, merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Be-lakangpadang dan terdiri dari beberapa kampung seperti Pulau Teluk Bakau, Pulau Sunti, Teluk Kangkung dan Pulau Pekasih. Puluhan pulau-pulau yang kami lintasi itu, hanya yang berpenghuni. Belum lagi puluhan pulau-pulau kosong dan sebagian belum punya nama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>  </span><span>          </span>Penduduk Pulau Terong sekitar 250 Kepala Keluarga atau sekitar 3.000 jiwa. Warga Pulau Terong umumnya nelayan dan pengumpul rumput laut secara tradisional. Uniknya, sejak dulu transaksi di Pulau Terong menggunakan dolar Singapura. Saat mata uang negeri jiran itu perkasa, warga juga mendapat keun-tungan dari selisih nilai tukar dengan rupiah. ’’Dulu, nelayan sini bisa langsung jual ikan ke Singapura,’’ kata Amin. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>    </span><span>        </span>Saya, Iman Wahyudi, Ahmadi dan Herianton, beruntung bisa berkunjung ke Pulau Terong. Sebab, Hasan pemilik pancung yang mengangkut Batam Pos setiap dinihari dari Batam ke Tanjungbalai Karimun, putra asli Pulau Terong.<span>  </span>Se-panjang perjalanan,<span>  </span>Iman menjepret panorama alam, menjelang matahari terbenam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>  </span><span>         </span>Pulau-pulau yang berjejer tak beraturan, kampung nelayan, kapal-kapal yang melintas dan betapa jauh bedanya dengan Batam yang gemerlapan bermandikan cahaya lampu. Satu jam kemudian, pancung merapat di Kampung Pekasih, Pulau Terong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>   </span><span>         </span>Suasana malam di kampung nelayan itu sepi. Jauh dari hiruk pikuk kota. Beberapa warga duduk-duduk di beranda rumah, menunggu mata mengantuk. Sunyi senyapnya Kampung Pekasih lantaran tidak ada satu pun mobil. Yang punya sepeda motorpun hanya satu orang, yakni pegawai PLN. ’’Motor satu-satunya di pulau ini untuk mengatasi kalau ada masalah listrik,’’ kata Hasan. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="FI"><span>  </span><span>          </span>Listrik di Kampung Pekasih dilayani PLN Tanjungpinang. Dua mesin diesel di ujung pulau dengan kapasitas 200 kilowatt, menerangi desa nelayan itu dari pukul 17.00 sore hingga jam 07.00 pagi.<span>  </span>’’Selama ini, listrik tak ada masalah dan jarang mati,’’ kata Ibrahim, warga Pekasih. Padahal, hanya satu orang yang menjaga mesin diesel itu sepanjang malam. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="FI"><span>    </span><span>        </span>Malam itu, kami berkeliling. Dari Pekasih, Teluk Bakau hingga ke Pulau Sunti berjalan kaki. Menyaksikan pelantar yang sudah rusak dan bolong-bolong dan melihat warga menangkap udang yang diterangi lampu petromak. ’’Warga sini menangkap udang pakai serampang. Kalau tak biasa, udangnya lari dan air keruh,’’ kata Amin, pemuda di Pekasih kepada kami. Serampang adalah kayu untuk menombak udang dan diujungnya dipasangi empat besi runcing dari besi tangkai payung. Udang akan terjepit di tengah ujung besi dan tak bisa meloloskan diri lagi.</span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="FI"><span>         </span><span>   </span>Makan malam yang disajikan istri Hasan, sedap sekali. Ikan lebam bakar yang gurih, masak tumis tenggiri dan udang asam pedas. </span><span lang="SV">Selain ikannya segar, bumbunya sangat terasa dan pas di lidah. Yang juga istimewa, otak-otak buatan sendiri. ’’Selama ini aku makan otak-otak, tak ada yang seenak ini,’’ kata Iman Wahyudi. Selain isinya lebih banyak ikannya, kebanyakan otak-otak yang dijual lebih banyak tepungnya. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span></span><span lang="FI">Saat malam tiba, kampung nelayan itu sunyi senyap. </span><span lang="SV">Tak ada suara knalpot yang meraung-raung di tengah malam. Warga lebih suka tinggal di rumah dan bercengkrama dengan keluarga. Warung yang bisa dihitung jari, jam 20.00 malam sudah tutup. Kalau udara panas, warga memilih duduk bahkan tidur di pelantar di antara sepoi angin laut.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>  </span><span>          </span>Kendati warga Batam jarang yang pelesir ke Kampung Pekasih Pulau Terong, ternyata beberapa kali ada warga Singapura yang suka ke sana. Menikmati kesunyian dan keasrian alamnya dan tentu saja makanannya. Namun, sebagian besar warga Pekasih, merantau dan bekerja di Malaysia. ’’Kampung ini ramai kalau lebaran. Semua warga yang merantau pulang,’’ kata Hasan. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span> </span><span>           </span>Kehidupan warga Pekasih bernuansa religius. Umumnya, setiap kampung punya masjid yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja.<span>  </span>Air bersih yang dialirkan dengan selang ke rumah-rumah penduduk, dikelola oleh masjid. Yang menagih pembayaran rekening adalah pengurus masjid. Satu-satunya SMA di sana, berlokasi di Teluk Bakau. Pelajar datang berjalan kaki, melewati jalan setapak. Namun, yang sering dikeluhkan warga, jalan menuju SD yang sudah bertahun-tahun tidak juga disemen. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span>Jembatan yang menghubungkan Teluk Bakau dan Teluk Sunti, baru selesai dibangun. Namun, sebuah pelantar yang menjadi andalan untuk trans-portasi warga menggunakan pancung dan speed boat, sudah lama rusak dan kayunya nyaris hancur. Seorang bidan desa bernama Ami, sudah dua tahun bertugas di Poliklinik Desa, melayani pengobatan warga. ’’Warga di sini lebih suka obat luar daripada obat generik,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span>Pulau yang letaknya paling ujung di Batam itu, sampai saat ini masih menghadapi kendala soal telekomunikasi. Sinyal handphone hilang timbul. Beberapa warga, terpaksa pergi ke ujung pelantar untuk menelepon. Atau memasang antena khusus di rumah agar bisa menangkap sinyal operator<span>  </span>selular. Dalam perjalanan ke Pulau Terong, yang muncul malah sinyal Sing Tel Mobile Singapura. ’’Tak satu pun tower operator seluler berdiri di pulau ini,’’ kata Hasan. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span>Selain menangkap ikan, sektor perkebunan dan pariwisata, bisa dikembangkan di pulau ini. Apalagi, pasar Singapura yang sudah dimasuki warga bertahun-tahun sebelumnya, bisa dikembangkan lagi secara lebih baik sehingga mampu mendongkrak perekonomian warga setempat. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV">Yang diperlukan warga Pulau Terong adalah, perhatian dan kesungguhan hati pemerintah Kota Batam mengembangkan potensi yang ada. Bukan sekedar kunjungan seremonial beberapa jam, mengumbar janji-janji kepada warga, lalu pergi dan tak pernah kembali lagi. Dengan begitu, warga Pulau Terong tak perlu mengeluarkan pernyataan, memilih bergabung ke Kabupaten Karimun. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"> <strong>Kalau Stres, Pergilah ke Pulau&#8230;</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> KALIMAT itu terlontar secara spontan dari mulut Hasan. Sebelum ia mengundang saya ke Kampung Pekasih Pulau Terong, sudah beberapa kali rombongan warga Singapura, datang dan menginap di sana. Wisata alam dan wisata kuliner berpontensi dikembangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Batam memang kota pulau.<span>  </span>Ratusan pulau-pulau mengelilingi kota perbatasan ini. Di Kecamatan Belakangpadang terdapat 55 pulau, Kecamatan Sekupang 7 pulau, Kecamatan Bulang 68 pulau, Kecamatan Nongsa 18 pulau dan di Kecamatan Galang 83 pulau. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Berkunjung ke pulau-pulau itu, selain melepaskan ketegangan dan menghilangkan stres, juga bisa memantau perkembangan warga hinterland yang tersebar di pulau-pulau tersebut. Alamnya yang menawan, makanan khas laut yang menggiurkan, serta pengalaman tinggal di pulau akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Caranya, Pemko Batam melalui Dinas Pariwisata, bisa mendata mana pulau-pulau yang layak kunjung dan menginformasikan potensi wisatanya. </span><span>Termasuk wisata kuliner, wisata sejarah dan wisata religius di pulau tersebut. Jika sudah ada pulau yang masuk daftar layak kunjung, lalu diinformasikan kepada warga pulau untuk bersiap menerima wisatawan. Mungkin wisatawan lokal dulu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kapal-kapal nelayan, seperti pancung, speed boat bisa dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, saat mereka tidak melaut. Tak perlu bangun hotel, rumah-rumah penduduk, bisa disulap menjadi home stay, lalu menyediakan kebutuhan makanan dan minuman sesuai jumlah wisatawan yang bakal datang. Misalnya, ikan segar, otak-otak yang siap dibakar, minuman dan sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lalu, apa yang menarik minat wisatawan? Selain menjual suasana kampung nelayan, juga menjual pengalaman menangkap ketam, menjala atau memancing ikan, atau menombak ikan dan udang dengan serampang atau tempuling. Wisatawan bisa menjajal kemampuannya seolah-olah menjadi nelayan. Pemandu wisatanya tentu saja nelayan asli. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Interaksi dengan warga pulau, juga bisa dilakukan dengan pertandingan olahraga persahabatan semisal sepakbola dan voli ball, atau menggelar pertunjukan kesenian. Bagi penggemar hiking, bisa menjelajahi pulau. Yang suka fotografi, bisa berburu foto menarik tentang laut dan kehidupan nelayan. Pengalaman menginap di pulau, akan menjadi seru dan mengasyikkan. Jika Pemko Batam berkampanye Visit Batam 2010, hari ini kita bisa lakukan: Visit Pulau Terong, sekarang!*** </span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/kampung-pekasih-pulau-terong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyeberang Batam-Bintan</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/menyeberang-batam-bintan/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/menyeberang-batam-bintan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:22:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Bosan berputar-putar keliling pulau Batam? Anda bisa menyeberang ke Pulau Bintan. Naikkan mobil Anda dan keluarga ke kapal roro dari Telagapunggur menuju Tanjunguban. Tak sampai satu jam, Anda sudah bisa menyetir sendiri, menjelajahi Pulau Bintan. Seru dan mengasyikkan. 

 Pagi-pagi, saya sudah tiba di pelabuhan kapal roll on-roll off atau biasa disebut roro, di Telagapunggur. Dibandingkan pelabuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/roro.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-241" title="roro" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/roro-300x253.jpg" alt="" width="300" height="253" /></a>Bosan berputar-putar keliling pulau Batam? Anda bisa menyeberang ke Pulau Bintan. Naikkan mobil Anda dan keluarga ke kapal roro dari Telagapunggur menuju Tanjunguban. Tak sampai satu jam, Anda sudah bisa menyetir sendiri, menjelajahi Pulau Bintan. Seru dan mengasyikkan.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-232"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Pagi-pagi, saya sudah tiba di pelabuhan kapal <em>roll on-roll off</em> atau biasa disebut roro, di Telagapunggur. Dibandingkan pelabuhan ferry di sebelahnya, pelabuhan roro lebih sepi. Padahal, sejak dua tahun lalu, pelabuhan itu dikelola ASDP Ferry Indonesia. Ada tiga kapal roro yang dioperasikan. Yang paling besar, Kapal Mo-tor Penyeberangan (KMP) Kuala Batee II, yang mampu membawa 21 mobil dan puluhan sepeda motor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>    </span>Selain warga Tanjunguban dan Lobam, kapal yang berlayar dua kali dari Ba-tam jam 10.00 pagi dan jam 16.00 sore, dan dari Tanjunguban jam 08.00 pagi dan jam 13.00 siang, cukup ramai. ‘’Pegawai Pemprov yang bawa mobil dari Batam ke Tanjungpinang, sering naik roro. Tapi, belum banyak warga Batam yang tahu, kini bisa menyeberang ke Bintan bawa mobil sendiri,’’ kata seorang warga Batam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>   </span>Ingin menjajal jalan-jalan di Pulau Bintan, saya mencoba naik kapal roro ini. Syaratnya, mobilnya bukan seri X, mengurus surat jalan dan dilengkapi fotocopy BPKB, STNK, SIM dan KTP serta membayar tiket kapal roro. Hanya lima menit, surat jalan dari polisi yang diteken Kapolpos Pelabuhan Penyeberangan ASDP Aiptu Ramli itu, selesai. Surat jalan itu berlaku tiga bulan, khusus penyeberangan roro Telagapunggur-Tanjunguban.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">  Harga tiket angkutan mobil bervariasi. Jenis sedan Rp178.400 sekali jalan. Penumpang dewasa Rp14.800 dan anak-anak Rp11.700. Saat jam kebe-rangkatan tiba, mobil yang akan menyeberang, mulai masuk ke kapal Kuala Ba-tee, dan disusun rapi dari haluan hingga ke buritan. Penumpang bisa duduk di lantai dua. Meski sudah agak tua, kapal roro Kuala Batee cukup nyaman dan lapang. Jika penumpang ramai, ASDP mengoperasikan dua kapal lainnya yang lebih kecil kapasitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span>Beberapa saat setelah berangkat, dua awak kapal bernama Amiruddin dan Basri, memperagakan cara mengenakan life jaket atau pelampung keselamatan penumpang. Jika di pesawat terbang yang terdengar suara pramugari dan diperagakan awak kabin, di kapal roro pakai pengeras suara yang biasa dipakai demonstrasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span>‘<em>’Assalamualaikum.</em> Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, kami memperagakan cara menggunakan <em>life jacket</em> untuk keadaan darurat. Caranya, sama dengan memakai baju biasa, lalu kancingkan talinya dan tiup peluitnya untuk meminta bantuan. Semoga bapak ibu senang dengan pelayanan kami, dan selamat sam-pai di tujuan,’’kata Amiruddin, lalu mengatakan hal sama di ruangan tengah kapal. Kata-katanya, terdengar lagi oleh penumpang di depan. Beberapa pe-numpang yang baru pertama kali naik roro, tersenyum-senyum. ‘’Mirip naik pesawat,’’katanya, tertawa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>    </span>Perjalanan dari Telagapunggur ke Tanjunguban ditempuh selama 55 menit. Satu persatu, penumpang dan mobil keluar dari perut kapal. Saya yang sudah lama tak pergi ke Tanjunguban,<span>  </span>melihat ibukota kecamatan binut ini sudah ber-kembang pesat. Jalan-jalan, meskipun masih kurang lebar dan dua arah, makin mulus. Yang paling terasa, adalah sejak diperbaikinya jalan di sepanjang pantai Sekera yang melintasi Kelurahan Tanjunguban Utara, Sebong Pereh dan Se-bong Lagoi dan Sungai Kecil. Kalau menggunakan jalan satunya, berkelok-kelok dan banyak tikungan tajam, jalan di pantai Sekera lebih lurus sehingga kita bisa memacu kendaraan lebih cepat hingga ke simpang Lagoi.<span>  </span>‘’Jalan lama berkelok-kelok yang dibangun Jepang sehingga warga bilang, jalan itu dibikin Jepang mabuk,’’kata seorang warga, bergurau. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>   </span>Tanjunguban makin maju belakangan ini. Kota kecamatan itu makin ramai dan ruko-ruko baru dibangun, meski listrik masih jadi masalah. Bank-bank terus bermunculan seperti BCA, Bank Mandiri, BII, BNI dan BPR Bintan.<span>  </span>Rencananya, bulan depan juga akan diresmikan Bank Riau cabang pembantu Tanjunguban. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span>Jarak tempuh Tanjunguban ke Tanjungpinang jauhnya 90 kilometer. Jika jalan di Busung dibangun, maka jarak tempuhnya makin singkat menjadi 60 kilometer saja. Dari Tanjunguban, saya meluncur menuju Tanjungpinang. Jalannya lumayan mulus, tapi sempit dan banyak tikungan tajam dan naik turun bukit. Seke-liling jalan, masih banyak hutan dan baru ada rumah penduduk kalau melintasi desa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span>Tak sampai setengah jam, saya melewati Simpang Lagoi, kawasan wisata ter-padu yang terkenal itu, lalu terus ke Sribintan, Toapaya, Busung, melewati jalan lintas Barat dan tembus ke Bintan Centre, Tanjungpinang. Mengemudi dengan kecepatan rata-rata 60 hingga 70 km/jam, saya menempuh Tanjunguban-Tan-jungpinang dalam waktu 1,5 jam. Di sepanjang jalan, bendera partai terpasang. Entah siapa sasaran kampanye partai-partai itu lantaran dipasang di tempat sepi begitu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span>Jangan khawatir tersesat di jalan. Sebab, selain itu jalan satu-satunya, kita bisa bertanya kepada warga setempat, arah yang benar. Sebaiknya, Anda mengemudi siang hari karena tak satupun lampu jalan terpasang dan kondisi jalan yang rawan kecelakaan. Setelah beristirahat sejank di Tanjungpinang, saya kembali menempuh rute yang sama menuju Lagoi. Saya heran ketika Sigit Rahmat, Kepala Perwakilan <em>Batam Pos</em> di Tanjungpinang mengatakan, sayalah orang Batam Pos pertama yang menempuh rute Tanjunguban-Tanjungpinang naik mobil dari Batam.<span>  </span>Yang jelas, jika di Batam Anda mengemudi paling jauh hanya 54 kilometer sampai ke Galang melewati jembatan Barelang, kini ada pilihan lain, berlibur ke Pulau Bintan bisa menjadi pilihan naik kapal roro. Seperti semboyan ASDP: Menjadi jembatan bangsa. Biarlah proyek jembatan Batam-Bintan menjadi janji politik saja. ***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/menyeberang-batam-bintan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahakam di Tengah Malam</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 09:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan panjang ke Kilometer 26 Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, cukup melelahkan. Namun, rasa kebersamaan, keperdulian saat krisis ekonomi global, terasa mengental. Ini jadi modal menghadapi krisis yang tak tahu kapan akan berakhirnya.  

  
Melintasi udara dari Batam ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Balikpapan, menempuh jalan darat ke Samarinda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Perjalanan panjang ke Kilometer 26 Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, cukup melelahkan. Namun, rasa kebersamaan, keperdulian saat krisis ekonomi global, terasa mengental. Ini jadi modal menghadapi krisis yang tak tahu kapan akan berakhirnya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-230"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Melintasi udara dari Batam ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Balikpapan, menempuh jalan darat ke Samarinda dan melintasi Bukit Soeharto, terus menuju desa Tanjungjati, menyeberangi Sungai Mahakam naik perahu klotok di waktu malam, lalu tibalah kami di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cahaya Fajar Kaltim. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Lokasinya di tengah hutan. Perjalanan yang sungguh melelahkan.<span> </span>Dua jam naik pesawat dari Jakarta ke Balikpapan, lalu naik bus ke Samarinda, terus ke pinggir Sungai Mahakam, menyeberang pakai perahu, langsung rapat hingga dinihari. Badan rasanya penat alang kepalang.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Namun, saya terhenyak menyaksikan potret kemiskinan daerah terkaya di republik ini. Rumah-rumah kayu, jalan tanpa aspal dan berlubang, krisis listrik di berbagai wilayah, penataan kota yang semrawut lantaran keterbatasan di lokasi pinggir sungai. Berbanding terbalik dengan kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Kalimantan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Gundukan batubara yang siap diekspor, hasil hutan yang melimpah hingga minyaknya yang disedot dari dalam tanah. ‘’Seluruh Kalimantan ini sudah tersambung pipa minyak karena tanahnya berpasir, mungkin di bawah tanah sudah bolong semua,’’ kata Netty, warga Balikpapan keturunan Dayak dan Banjar.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali baliho dan poster dukungan buat caleg dan kepala daerah. Saya bertanya-tanya, apakah mereka perduli dengan nasib warga Kalimantan yang ibarat ayam mati di lumbung padi? Wajah mereka calon kepala daerah dan calon legislative itu ganteng-ganteng dan kelihatannya kaya-kaya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sementara, krisis terus menghantui berbagai belahan dunia. Bursa ditutup. Investor panik dan butuh likuiditas segera. Sebab, Amerika Serikat yang dikenal sebagai imperium kapitalisme itu, sedang limbung dihajar krisis. Nilainya tak tanggung-tanggung. 540 Triliun Dolar AS. Meski pemerintah Bush sudah mengguyurkan dana bailout, tidak mampu mengatasi krisis yang melanda.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam perjalanan dari Samarinda ke Balikpapan, seorang pengusaha terkenal Batam menelepon saya. ‘’Krisis ini lebih buruk tiga kali lipat dibandingkan krisis yang pernah terjadi tahun 1930. Saya bukan tak mau bicara soal krisis keuangan ini, dampaknya tidak baik buat saham-saham saya. Perusahaan di kawasan industri di Batam bisa berkurang separuh dan dampaknya pada tenaga kerja,’’katanya, serius.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di tengah gejolak krisis, saya menyaksikan Kalimantan yang kaya minyak, kayu dan batubara itu, masih tetap miskin. Samarinda sulit berkembang menjadi ibukota propinsi, dan kemajuannya dikejar Balikpapan. Jalan-jalan yang curam dan mendaki lantaran kontur tanahnya berbukit-bukit di pinggir sungai itu, penuh lubang dan sempit.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Rumah-rumah panggung, diselingi rumah beton yang megah pertanda disparitas pendapatan penduduk yang timpang. Kemegahan Samarinda hanya tersisa dari pembangunan stadion setelah sukses melaksanakan hajatan Pekan Olahraga Nasional. Gundukan batubara dalam kapal tongkang, silih berganti menyusuri Sungai Mahakam. Kapal-kapal kayu dan sampan, menjadikan sungai itu sebagai jalur pelayarannya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Seorang pengusaha yang perduli dengan bumi Kalimantan, berupaya menyediakan energi listrik malah terancam kelangsungan bisnisnya. Ia memproduksi listrik dan menjual ke PLN dengan harga Rp475/kwh. Sementara, biaya produksi PLN Samarinda Rp2000/kwh. Celakanya, harga batubara yang disepakati dalam kontrak Rp20.000 kini melonjak dua kali lipat.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>‘’Saya tidak mau berbisnis dengan cara injak kaki atau nyogok. Ternyata, percuma saja kita baik sama Bupati, Wapres atau presiden sekalipun. PLN tetap bersikeras tidak mau merubah kontrak. Kini, seluruh kekayaan saya sudah tersedot proyek ini,’’katanya, menyesali keputusannya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Memang, tak selamanya berbuat baik dan lurus-lurus saja, akan mulus hasilnya. Sedangkan yang bengkok-bengkok dan melanggar aturan bisa sukses dan meraup untung banyak. Ada istilah cost of doing business. Begitulah yang terjadi di negara yang korupsi, kolusi dan injak kaki sudah dianggap biasa dan wajar-wajar saja.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kalau begini caranya, kapan provinsi kaya ini akan menikmati hasil kekayaannya sendiri, dalam bentuk listrik yang akan membuat Samarinda terang benderang? Tapi, mungkin PLN kualat. Saat tower listrik di Balikpapan roboh, kota itu gelap gulita dan listrik padam bergilir selama tiga hari. Agaknya, Mahakam akan tetap gelap di waktu malam. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Helikopter ala Alexis</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/helikopter-ala-alexis/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/helikopter-ala-alexis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 15:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[weblog]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[
Hotel bintang empat itu kini ganti nama dari Grand Ancol menjadi Alexis. Hotel itu kini terkenal dengan bisnis esek-esek yang digemari orang dari berbagai daerah di Jakarta. Inilah praktik bisnis prostitusi terang-terangan dan terkenal dengan gaya helikopter dan melibatkan pelacur antar bangsa.

 Letaknya di pinggir jalan raya menuju Ancol,  Jakarta.Nama Alexis kesohor hingga ke Papua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p> <![endif]--><!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Hotel bintang empat itu kini ganti nama dari Grand Ancol menjadi Alexis. Hotel itu kini terkenal dengan bisnis esek-esek yang digemari orang dari berbagai daerah di Jakarta. Inilah praktik bisnis prostitusi terang-terangan dan terkenal dengan gaya helikopter dan melibatkan pelacur antar bangsa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span id="more-224"></span> Letaknya di pinggir jalan raya menuju Ancol,  Jakarta.Nama Alexis kesohor hingga ke Papua sana. Hotel yang memanjang itu tekesan mewah. Lobbynya tidak terlalu luas. Lift terletak di belakang resepsionis. Malam itu, tak banyak tamu yang check-in. Tapi, sejumlah lelaki keluar masuk ke hotel itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dengan ramah, seorang lekaki kebanci-bancian memegang handy talki, menyambut tamu dan membawanya ke lantai lima. Tamu itu dibawa ke salah satu kamar. ‘’Ini kamar peragaan.’’katanya. Bagi yang baru pertama kali ke sana, tentu penasaran dan bertanya-tanya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kamar itu kosong. Kasurnya digeletakkan di lantai. Tak ada meja dan kursi, kecuali sebuah bangku yang melengkung terbuat dari kayu dan dilapisi kulit empuk. Di atas plafon, ada besi stainless berukuran satu meter seperti gantungan. ‘’Kalau cewek-cewek di lantai lima ini, harganya Rp1,9 juta tapi di lantai tujuh hanya Rp1,7 juta. Bedanya sedikit, tapi pelayanannya beda,’’kata lelaki memakai jas itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Menurut marketing Alexis, pelayanan ditempatnya something different. Jika tamunya oke, ia bias memilih perempuan yang dimauinya. Ada yang dari Uzbekistan, Vietnam, Thailand, Filipina dan bule. Ini hanya di lantai lima. Di lantai tujuh, ada juga cewek local. ‘’Cewek yang mau kerja di Alexis harus menjalani test body dulu,’’kata seorang sales promotion girl yang temannya pernah kerja di sana.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Selain menjual sensasi, Alexis tahu benar memanjakan tamu. Saat melihat jarak plafon ke kasur, tentu yang terbayang adalah wanita bertubuh tinggi. Ternyata, kaki cewek itu digantung pakai kain, lalu diputar. Nah, saat tubuhnya berputar mengikuti kakinya yang dipelintir kain itulah, wanita itu melakukan oral seks! Inilah yang mereka sebut gaya helicopter.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di lantai tujuh, pemandangannya sungguh mengejutkan. Puluhan bahkan ratusan wanita antar bangsa, berkumpul dan duduk berkelompok. Wanita Thailand di sudut ruangan yang menyerupai hall itu, lalu ada wanita-wanita bule, dari China atau biasa disebut cewek Cungkok, Uzbekistan pecahan Rusia, Vietnam dan cewek local di sudut lain mengenakan baju super ketat dan seksi berwarna merah jambu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Berkedok massage dan spa, beberapa lelaki juga hilir mudik dan keluar masuk. Ada yang berpakaian sopan, ada pula yang hanya mengenakan baju handuk, bercengkrama dengan beberapa wanita. Inilah pelacuran internasional dan kelas atas yang tidak saja digemari lelaki Jakarta, tapi juga kesohor ke berbagai daerah.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Praktik prostitusi kelas atas itu buka sampai pukul 02.00 dinihari. Setelah berganti baju, wanita-wanita itu tampak seperti perempuan baik-baik. Namun, diskotek di lantai satu buka sampai pukul 05.00 pagi. Beberapa wanita yang sebelumnya mejeng di lantai tujuh, juga turun ke diskotek mencari mangsa.</p>
<p class="MsoNormal">Apakah aparat kepolisian tidak tahu adanya prostitusi kelas atas di Alexis? ‘’Sejak buka, Alexis tak pernah tersentuh. Bosnya kuat sekali sehingga tak pernah di razia,’’ kata seorang supir taksi yang sering mendrop tamu ke sana. Alexis seolah membenarkan cerita di buku Jakarta Undercover. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/helikopter-ala-alexis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adipura Singapura</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/adipura-singapura/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/adipura-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 09:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[
Melihat Singapura, saya sering teringat Batam. Kota yang bersih dan tertata apik ini, bisa jadi inspirasi
menata Batam. Karena menjaga kebersihannya secara konsisten, siapa yang menganugerahkan Piala
Adipura untuk Singapura?

Warga kelas menengah ke atas, pengusaha, para pejabat Batam, pasti pernah ke Singapura. Mulai dari pelabuhan, bandara, jalan-jalan, pusat pertokoan hingga ke perumahan di Singapura tampak bersih.
Singapura tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/07/kios-bugis.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" title="kios-bugis" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/07/kios-bugis.jpg" alt="" width="500" height="459" /></a></p>
<p>Melihat Singapura, saya sering teringat Batam. Kota yang bersih dan tertata apik ini, bisa jadi inspirasi<br />
menata Batam. Karena menjaga kebersihannya secara konsisten, siapa yang menganugerahkan Piala<br />
Adipura untuk Singapura?<br />
<span id="more-212"></span><br />
Warga kelas menengah ke atas, pengusaha, para pejabat Batam, pasti pernah ke Singapura. Mulai dari pelabuhan, bandara, jalan-jalan, pusat pertokoan hingga ke perumahan di Singapura tampak bersih.<br />
Singapura tidak hanya bersih di atas (jalan-jalan, taman, perumahan) juga di bawah (rute Mass Rapid Transpor di bawah tanah yang menghubungkan seluruh Singapura).</p>
<p>Piala adipura merupakan lambang  kebersihan sebuah kota di Indonesia. Kota yang layak dapat<br />
adipura adalah yang bebas dari sampah dan bersih, rindang, teduh dan hijau serta drainase yang bebas dari gulma dan sedimentasi. Warga Batam dan pejabatnya pantas gembira. Sebab, sebelumnya Batam malah dapat julukan kota terkotor.<br />
Ketika piala adipura sudah di tangan, lalu apa? Tidak mungkin jumlah petugas kebersihan yang sedikit itu, bisa melayani semua warga Batam agar kota pulau ini bersih. Lihatlah prilaku warga yang masih suka membuang sampah sembarangan. Alangkah capeknya melihat seorang petugas kebersihan,<br />
berseragam hijau kuning dengan kantong plastik besar di tangannya memungut sampah dari pinggir jalan. Sementara, orang seenaknya membuang sampah dari kendaraan.<br />
Penilaian adipura meliputi kebersihan perumahan, jalan, pasar, pertokoan, perkantoran, sekolah,<br />
rumah sakit, hutan dan taman kota, terminal, pelabuhan, perairan terbuka, pantai wisata, pemanfaatan sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.<br />
Kebersihan perumahan, perkantoran, pertokoan tentu saja juga menjadi tanggungjawab warga di<br />
lokasi itu. Namun, jalan, pasar dan terminal serta TPA sebagai sarana publik, mendapat bobot yang<br />
cukup besar dalam penilaian tersebut. Celakanya, swastanisasi sampah yang sudah sampai pada proses tender, tak jelas juntrungannya.<br />
Begitulah kalau sebelum tender, sudah ada nama pemenangnya dan tinggal dicarikan alasannya,<br />
kenapa dia harus menang. Kuat dugaan, proyek sampah ini menjadi piutang politik yang harus dibayar<br />
pejabat yang mengandalkan tim sukses meraih kemenangannya. Bagi warga, tak jadi soal benar, siapa<br />
yang menang. Yang jelas, mereka berharap sampah diangkut dan lingkungan mereka bersih.<br />
Tapi ya sudahlah. Selama 34 tahun, baru kali ini Batam meraih piala Adipura yang lalu<br />
dipertontonkan kepada warga. Jadi, pantaslah untuk bergembira. Lalu, setelah itu apa? Saya menduga,<br />
Singapura yang begitu bersih diawali oleh penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Istilah kerennya: law enforcement. Penegakan hukum ini yang memaksa warganya dan siapa saja, tidak boleh membuang sampah sembarangan.<br />
Buktinya, mesti saban hari ada orang Batam yang bolak-balik ke Singapura, tidak ada yang berani<br />
melanggar aturan di negara yang dijuluki Habibie noktah di peta itu seperti meludah sembarangan,<br />
merokok seenaknya atau membuang sampah sesuka hati. Mereka takut kena denda dan tegasnya<br />
peraturan di Singapura.<br />
Saya pernah bertemu seorang warga Singapura yang memilih tinggal di rumah liar di kawasan<br />
Bengkong. Kabarnya,  ia orang kaya pengusaha kapal tanker. Tahu apa alasannya tinggal di Batam? &#8221;Di<br />
Batam enak. Bisa buang sampah sembarangan, buka baju sesuka hati. Di Singapura, mana boleh?&#8221;katanya terkekeh. Sayang, ia menolak diwawancarai.<br />
Melihat kebersihan Singapura, saya atas nama pribadi menganugerahkan kota itu Piala Adipura. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/adipura-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
