<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; Add new tag</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/tag/add-new-tag/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 10:57:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Axel dan Sonya</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 17:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan&#8230;
Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan&#8230;</p>
<p>Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam Bintang Kejora.<span id="more-262"></span></p>
<p>Sungguh, saya berbahagia dikarunia sepasang buah hati yang sehat, cerdas, lincah dan rupawan. Si sulung Axel yang biasa disapa Ari, menyandang nama yang saya artikan orang yan gagah perkasa dan penyayang seperti Nabi Muhammad. Sementara Sonya artinya wanita yang berakhlak mulai, bijaksana dan penyayang. Beda usia keduanya empat tahun. </p>
<p>Sejak awal, saya ingin mendidik Axel menjadi anak yang mandiri. Sebab, sejak ia mulai bisa berjalan, tampaknya ia sangat tergantung pada ibunya. Ia anak yang lasak dan tak suka diam. Meloncat, berlarian dan membuat suasana rumahjadi gaduh. Saat saya bawa ia menghadiri acara yang dihadiri gubernur, ia malah bergulingan di dekat panggung. </p>
<p>Saat adiknya lahir, sebagai anak sulung, ia agak cemburu. Malah, kadang tak segan-segan ia mengungkapkan kecemburuan itu pada istri saya yang mereka panggil Bunda. Saya mulai mengajarinya mengambil keputusan saat mau masuk sekolah dasar. Seharian saya tak masuk kantor dan mengajaknya mengunjungi beberapa sekolah yang dinilai favorit.</p>
<p>Kami berkeliling. Mulai dari SD Islam Terpadu di Tiban, SD unggulan di Sei Panas, Sekolah Nabila dan terakhir ke SD Kalista, afiliasi sekolah internasional Global Indoasia. Setelah itu, saya tanya, ia mau sekolah dimana. Namun, pertanyaan saya dijawabnya dengan ucapan tidak tahu, sambil memalingkan muka. Tak lama kemudian, saya mendengar ia meminta kepada ibunya agar sekolah di Kalista saja.</p>
<p>&#8221;Kan sekolahnya pakai bahasa Inggris?&#8221; kata istri saya. Anak saya menjawab enteng. &#8221;Ya, nggak apa-apa. kan kalau kita ke Singapura bisa ngomong,&#8221; katanya. Ketika saya mengajuknya masuk sekolah itu mahal, lagi-lagi ia menjawab,&#8221; Kan tabungan Ai (sebutan sayangnya) ada,&#8221; katanya. Sejak bayi, kami memang menabung untuk biaya sekolahnya.</p>
<p>Meski masih kelas 2, anak saya kini terbiasa bicara memakai bahasa Inggris di sekolahnya. Tapi, ia menolak bila di rumah diajak berbahasa Inggris. Capek, katanya. Nilai rapornya bagus. Ia juga keranjingan komputer dan internet. Laptop milik omnya di rumah jadi sasarannya untuk membuka games cartoonnetwork. Saya juga melihatnya mencatat beberapa alamat situs internet. </p>
<p>Yang jadi pikiran saya, saya bapaknya tidak pernah kursus komputer dan baru paham setelah bekerja. Itupun dengan mencatat di tangan bagaimana mengoperasikan komputer. Sesekali, kalau ia libur, saya ajak Axel meliput dan melihat bagaimana realitas kehidupan. </p>
<p>Berbeda dengan abangnya yang agak serius dan pendiam, terutama sejak sekolah yang dari jam 07.30 WIB hingga pukul 15.00 sore, adiknya Sonya sifatnya bertolak belakang. Selalu ceria dan suka tertawa. Umur dua tahun dan saat pandai berjalan, ia susah bicara. Tapi sekarang, cerewetnya minta ampun. Saya tercengang ketika saat mulai bisa ngomong ia berkata,&#8221; Batu, jembatan, ai juuun&#8230;&#8221; celotehnya. Saya heran. Oala, ternyata ia menirukan ucapan Dora, dalam film Dora Explorer. </p>
<p>Sonya memang generasi televisi. Kini, ia sering menirukan iklan kartu selular murah seperti: jojing-jojing,cakep-cakep, mau, mau, mau?&#8230;Atau iklan coca cola yang setelah diminum langsung berucap brrrrrr&#8230;Ia juga senang menyanyi dan mewarnai. Satu kegemarannya terhadap boneka berbie dan princess membuat saya dan istri kadang kewalahan. Tidak saja boneka dan tas, apa saja yang bergambar putri itu ia mau. kalau tak dipenuhi, ia langsung berdiri tegak dengan muka manyun!</p>
<p>Apapun, saya bersyukur punya buah hati yang membanggakan hati. Saya hanya makin terkaget-kaget ketika Sonya bilang ia mau nonton sinetron Cinta Fitri. Meski saya sibuk dan kadang harus pulang larut malam, sesekali saya berusaha mendongeng dan membacakan buku cerita. Untunglah kedua buah hati saya ini suka buku. Sehingga ia tidak kehilangan daya imajinasi. ***</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahakam di Tengah Malam</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 09:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan panjang ke Kilometer 26 Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, cukup melelahkan. Namun, rasa kebersamaan, keperdulian saat krisis ekonomi global, terasa mengental. Ini jadi modal menghadapi krisis yang tak tahu kapan akan berakhirnya.  

  
Melintasi udara dari Batam ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Balikpapan, menempuh jalan darat ke Samarinda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Perjalanan panjang ke Kilometer 26 Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, cukup melelahkan. Namun, rasa kebersamaan, keperdulian saat krisis ekonomi global, terasa mengental. Ini jadi modal menghadapi krisis yang tak tahu kapan akan berakhirnya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-230"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Melintasi udara dari Batam ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Balikpapan, menempuh jalan darat ke Samarinda dan melintasi Bukit Soeharto, terus menuju desa Tanjungjati, menyeberangi Sungai Mahakam naik perahu klotok di waktu malam, lalu tibalah kami di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cahaya Fajar Kaltim. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Lokasinya di tengah hutan. Perjalanan yang sungguh melelahkan.<span> </span>Dua jam naik pesawat dari Jakarta ke Balikpapan, lalu naik bus ke Samarinda, terus ke pinggir Sungai Mahakam, menyeberang pakai perahu, langsung rapat hingga dinihari. Badan rasanya penat alang kepalang.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Namun, saya terhenyak menyaksikan potret kemiskinan daerah terkaya di republik ini. Rumah-rumah kayu, jalan tanpa aspal dan berlubang, krisis listrik di berbagai wilayah, penataan kota yang semrawut lantaran keterbatasan di lokasi pinggir sungai. Berbanding terbalik dengan kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Kalimantan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Gundukan batubara yang siap diekspor, hasil hutan yang melimpah hingga minyaknya yang disedot dari dalam tanah. ‘’Seluruh Kalimantan ini sudah tersambung pipa minyak karena tanahnya berpasir, mungkin di bawah tanah sudah bolong semua,’’ kata Netty, warga Balikpapan keturunan Dayak dan Banjar.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali baliho dan poster dukungan buat caleg dan kepala daerah. Saya bertanya-tanya, apakah mereka perduli dengan nasib warga Kalimantan yang ibarat ayam mati di lumbung padi? Wajah mereka calon kepala daerah dan calon legislative itu ganteng-ganteng dan kelihatannya kaya-kaya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sementara, krisis terus menghantui berbagai belahan dunia. Bursa ditutup. Investor panik dan butuh likuiditas segera. Sebab, Amerika Serikat yang dikenal sebagai imperium kapitalisme itu, sedang limbung dihajar krisis. Nilainya tak tanggung-tanggung. 540 Triliun Dolar AS. Meski pemerintah Bush sudah mengguyurkan dana bailout, tidak mampu mengatasi krisis yang melanda.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam perjalanan dari Samarinda ke Balikpapan, seorang pengusaha terkenal Batam menelepon saya. ‘’Krisis ini lebih buruk tiga kali lipat dibandingkan krisis yang pernah terjadi tahun 1930. Saya bukan tak mau bicara soal krisis keuangan ini, dampaknya tidak baik buat saham-saham saya. Perusahaan di kawasan industri di Batam bisa berkurang separuh dan dampaknya pada tenaga kerja,’’katanya, serius.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di tengah gejolak krisis, saya menyaksikan Kalimantan yang kaya minyak, kayu dan batubara itu, masih tetap miskin. Samarinda sulit berkembang menjadi ibukota propinsi, dan kemajuannya dikejar Balikpapan. Jalan-jalan yang curam dan mendaki lantaran kontur tanahnya berbukit-bukit di pinggir sungai itu, penuh lubang dan sempit.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Rumah-rumah panggung, diselingi rumah beton yang megah pertanda disparitas pendapatan penduduk yang timpang. Kemegahan Samarinda hanya tersisa dari pembangunan stadion setelah sukses melaksanakan hajatan Pekan Olahraga Nasional. Gundukan batubara dalam kapal tongkang, silih berganti menyusuri Sungai Mahakam. Kapal-kapal kayu dan sampan, menjadikan sungai itu sebagai jalur pelayarannya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Seorang pengusaha yang perduli dengan bumi Kalimantan, berupaya menyediakan energi listrik malah terancam kelangsungan bisnisnya. Ia memproduksi listrik dan menjual ke PLN dengan harga Rp475/kwh. Sementara, biaya produksi PLN Samarinda Rp2000/kwh. Celakanya, harga batubara yang disepakati dalam kontrak Rp20.000 kini melonjak dua kali lipat.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>‘’Saya tidak mau berbisnis dengan cara injak kaki atau nyogok. Ternyata, percuma saja kita baik sama Bupati, Wapres atau presiden sekalipun. PLN tetap bersikeras tidak mau merubah kontrak. Kini, seluruh kekayaan saya sudah tersedot proyek ini,’’katanya, menyesali keputusannya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Memang, tak selamanya berbuat baik dan lurus-lurus saja, akan mulus hasilnya. Sedangkan yang bengkok-bengkok dan melanggar aturan bisa sukses dan meraup untung banyak. Ada istilah cost of doing business. Begitulah yang terjadi di negara yang korupsi, kolusi dan injak kaki sudah dianggap biasa dan wajar-wajar saja.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kalau begini caranya, kapan provinsi kaya ini akan menikmati hasil kekayaannya sendiri, dalam bentuk listrik yang akan membuat Samarinda terang benderang? Tapi, mungkin PLN kualat. Saat tower listrik di Balikpapan roboh, kota itu gelap gulita dan listrik padam bergilir selama tiga hari. Agaknya, Mahakam akan tetap gelap di waktu malam. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suksesi Ketua PWI (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/suksesi-ketua-pwi-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/suksesi-ketua-pwi-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 13:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=215</guid>
		<description><![CDATA[Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke XXII di Banda Aceh, Nanggroe  Aceh Darussalam baru saja berakhir. Margiono, yang juga CEO Rakyat Merdeka Group, menang mutlak dan terpilih menjadi Ketua Umum PWI, menggantikan Tarman Azzam yang menjabat selama dua periode. Bagaimana lika-liku pemilihan itu dan wartawan menjalankan organisasi dan berdemokrasi?

Sebagai organisasi wartawan tertua dan terbesar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke XXII di Banda Aceh, Nanggroe  Aceh Darussalam baru saja berakhir. Margiono, yang juga CEO Rakyat Merdeka Group, menang mutlak dan terpilih menjadi Ketua Umum PWI, menggantikan Tarman Azzam yang menjabat selama dua periode. Bagaimana lika-liku pemilihan itu dan wartawan menjalankan organisasi dan berdemokrasi?</p>
<p><span id="more-215"></span></p>
<p>Sebagai organisasi wartawan tertua dan terbesar di tanah air, PWI telah menunjukkan eksistensinya. Sampai tahun ini, anggotanya sekitar 14.000 orang wartawan. Sebelum reformasi, PWI adalah wadah tunggal wartawan. Namun, sejak 1998 tumbuh lebih 40 organisasi wartawan. Verifikasi yang dilakukan Dewan Pers tahun 2006 ternyata hanya tiga organisasi wartawan yang layak, yakni PWI, AJI dan IJTI.<br />
Saya mulai aktif menjadi anggota PWI Riau sejak tahun 1996. Menjadi Ketua PWI Perwakilan Batam sejak 2001 hingga 2003, lalu menjadi Ketua PWI Cabang Kepulauan Riau sejak 2004 hingga 2008 ini. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, hanya PWI yang secara rutin mengadakan Hari Pers Nasional setiap tanggal 9 Februari, Konvensi Media Massa Nasional, Pekan Olahraga Wartawan Nasional dan berbagai aktivitas kewartawanan lainnya.<br />
Hasil Konferensi Kerja Nasional tahun 2007 di Papua dan Kongres PWI ke XXI di Palangkaraya, sudah mempersiapkan Kongres di Aceh ini. Jadi, PWI mengadakan kegiatan nasional dari ujung ke ujung, Aceh hingga Papua. Dari PWI Kepri, yang mengikuti kegiatan di Papua dan Aceh ini adalah Depan Maju Sihite, wartawan senior dari Batam.<br />
Sejak beberapa bulan sebelum kongres, sejumlah pentolan PWI Pusat sudah mencoba mencari figur, siapa pengganti Tarman Azzam. Selain orator ulung, Tarman sangat dekat dengan pengurus cabang. Bayangkan, ia sudah datang ke lebih 300 kota daerah tingkat II, berbicara di depan para pejabat tentang kemerdekaan pers, semangat kebangsaan dan sebagainya.<br />
Kepada saya, Tarman mengatakan, ia sebenarnya mengkader Wina Armada Sukardi, Sekretaris Jenderal PWI. Namun, ia kecewa dengan Wina dan diungkapkan saat memberikan laporan pertanggungjawabannya di depan kongres, menjawab pertanyaan Ketua PWI Jaya, kenapa Piagam Penghargaan PWI tidak diteken Wina sebagai Sekjen.<br />
Menurut Tarman, ia kecewa lantaran Wina tidak aktif sebagai pengurus. &#8221;Dua kali kantornya pindah, selama ini surat-surat yang mengejar Wina. Terus terang, saya kecewa. Dibayar satu miliar pun tidak bisa membayar kekecewaan saya,&#8221; katanya. Suasana kongres sempat tegang.<br />
Namun, Wina tidak membalas hujatan Tarman. Saat ia diberi kesempatan klarifikasi, ia mengatakan, tidak semua yang dikatakan Tarman Azzam benar. &#8221;Saya tidak akan meladeni tudingan itu dan hanya sebagian yang benar. Hanya Allah yang tahu kebenarannya,&#8221;kata Wina yang menimbulkan simpati peserta kongres kepadanya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Wina juga emosi.<br />
Saya tidak tahu persis apa yang terjadi sesungguhnya antara Tarman dan Wina. Kalau PWI Kepri menggelar acara, keduanya tampak biasa saja. Misalnya saat acara pembentukan PWI Perwakilan Natuna tahun 2006 dan terakhir acara Safari Jurnalistik seri ke tujuh di Batam, Mei 2008. Namun, secara tersirat, Tarman tidak menjagokan Wina sebagai calon Ketua Umum PWI berikutnya.<br />
Tarman pernah mencalonkan Ilham Bintang, bos tabloid Cek &amp; Ricek, atau Asro Kamal Rokan. Tapi, keduanya menolak. Nama terakhir yang diusungnya adalah Kamsul, Ketua PWI Jaya. Saya pernah mengatakan, kenapa calon Ketua Umum PWI tidak mengusung Ketua PWI Cabang seperti saya? Tarman hanya tersenyum.<br />
Wina Armada sesungguhnya layak jadi Ketua PWI Pusat. Selain jabatan Sekjen, mantan pemimpin redaksi Merdeka ini, seorang sarjana hukum. Kini Wina juga duduk sebagai anggota Dewan Pers mewakili PWI. Wina juga tampan dan penampilannya menarik. Belakangan, ia menjadi redaktur eksekutif di Harian Neraca. Sejak awal, saya tahu ia akan mencalonkan diri. Apalagi, ia makin sering mengirim SMS kepada saya soal dukungan kepadanya.<br />
Calon kedua yang menghubungi saya adalah Dimam Abror Djurait. Saya mengenalnya  pertama kali saat ia menjabat Redaktur Pelaksana Jawa Pos tahun 1997 dan kemudian ia menjadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Dimam orang yang pintar dan saya menghormatinya. Kami pernah bertemu saat acara pelatihan wartawan di Surabaya. Makalahnya tentang seorang redaktur sama dengan manajer masih saya simpan.<br />
Dimam juga pernah mengirim SMS minta dukungan saya sebagai calon ketua umum. Sambil bercanda, balasan SMS saya mengatakan bahwa saya juga akan mencalonkan diri jadi Ketua Umum PWI. Saat saya tanya apa programnya untuk cabang serta bagaimana ia mengatasi masalah pendanaan, SMS saya tak dibalas.<br />
Beberapa hari menjelang Kongres, seseorang menelepon saya. Pria yang tidak sempat saya catat namanya itu, mengatakan bahwa ia tim sukses Parni Hadi, mantan pemimpin redaksi Republika dan kini memimpin Radio Republik Indonesia (RRI) itu. Isinya, visi misi Parni Hardi dan beberapa program yang akan dijalankannya jika ia terpilih menjadi Ketua Umum PWI. Dalam beberapa kali Kongres, Parni yang pernah menjabat Sekjen PWI Pusat itu, kalah dalam pemilihan.<br />
Sudah tiga calon Ketua Umum PWI. Ternyata, begitu sampai di Hermes Palace Banda Aceh, ada satu calon lagi yang sudah memasang standing banner bergambar dirinya dan menyatakan siap menjadi Ketua Umum PWI. Yakni, Muchyan AA, Ketua PWI Cabang Sumatera Utara. Di Kongres, Kamsul dari PWI Jaya juga mencalonkan diri.<br />
Namun, Margiono diam-diam juga siap maju ke bursa pemilihan Ketua Umum PWI Pusat. Margiono yang sebelumnya tidak diperhitungkan sama sekali, tampil secara mengejutkan dan menang telak dengan  mengantongi 58 suara dari total 95 suara dari seluruh cabang. Hak suara masing-masing cabang, tergantung jumlah anggotanya. PWI Cabang dengan anggota lebih 100 dan di bawah 200 orang punya 2 hak suara. Yang punya anggota lebih 1.000 orang punya 7 hak suara.<br />
Namun, Kamsul mengundurkan diri setelah pemilihan pendahuluan mengumpulkan nama calon dan Muchyan mundur setelah membacakan visi dan misinya sebagai calon ketua PWI. Jadi, akhirnya tinggal empat calon yakni, Parni Hadi, Dimam Abror, Wina Armada dan Margiono. Kepada saya Margiono mengatakan, ada calon lain yang menyebutkan, paling-paling ia hanya memperoleh 10 persen dukungan dari peserta kongres. Bagaimana kisah kemenangan Margiono? Tunggu postingan</p>
<p>berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/suksesi-ketua-pwi-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adipura Singapura</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/adipura-singapura/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/adipura-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jul 2008 09:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[
Melihat Singapura, saya sering teringat Batam. Kota yang bersih dan tertata apik ini, bisa jadi inspirasi
menata Batam. Karena menjaga kebersihannya secara konsisten, siapa yang menganugerahkan Piala
Adipura untuk Singapura?

Warga kelas menengah ke atas, pengusaha, para pejabat Batam, pasti pernah ke Singapura. Mulai dari pelabuhan, bandara, jalan-jalan, pusat pertokoan hingga ke perumahan di Singapura tampak bersih.
Singapura tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/07/kios-bugis.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-213" title="kios-bugis" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/07/kios-bugis.jpg" alt="" width="500" height="459" /></a></p>
<p>Melihat Singapura, saya sering teringat Batam. Kota yang bersih dan tertata apik ini, bisa jadi inspirasi<br />
menata Batam. Karena menjaga kebersihannya secara konsisten, siapa yang menganugerahkan Piala<br />
Adipura untuk Singapura?<br />
<span id="more-212"></span><br />
Warga kelas menengah ke atas, pengusaha, para pejabat Batam, pasti pernah ke Singapura. Mulai dari pelabuhan, bandara, jalan-jalan, pusat pertokoan hingga ke perumahan di Singapura tampak bersih.<br />
Singapura tidak hanya bersih di atas (jalan-jalan, taman, perumahan) juga di bawah (rute Mass Rapid Transpor di bawah tanah yang menghubungkan seluruh Singapura).</p>
<p>Piala adipura merupakan lambang  kebersihan sebuah kota di Indonesia. Kota yang layak dapat<br />
adipura adalah yang bebas dari sampah dan bersih, rindang, teduh dan hijau serta drainase yang bebas dari gulma dan sedimentasi. Warga Batam dan pejabatnya pantas gembira. Sebab, sebelumnya Batam malah dapat julukan kota terkotor.<br />
Ketika piala adipura sudah di tangan, lalu apa? Tidak mungkin jumlah petugas kebersihan yang sedikit itu, bisa melayani semua warga Batam agar kota pulau ini bersih. Lihatlah prilaku warga yang masih suka membuang sampah sembarangan. Alangkah capeknya melihat seorang petugas kebersihan,<br />
berseragam hijau kuning dengan kantong plastik besar di tangannya memungut sampah dari pinggir jalan. Sementara, orang seenaknya membuang sampah dari kendaraan.<br />
Penilaian adipura meliputi kebersihan perumahan, jalan, pasar, pertokoan, perkantoran, sekolah,<br />
rumah sakit, hutan dan taman kota, terminal, pelabuhan, perairan terbuka, pantai wisata, pemanfaatan sampah dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.<br />
Kebersihan perumahan, perkantoran, pertokoan tentu saja juga menjadi tanggungjawab warga di<br />
lokasi itu. Namun, jalan, pasar dan terminal serta TPA sebagai sarana publik, mendapat bobot yang<br />
cukup besar dalam penilaian tersebut. Celakanya, swastanisasi sampah yang sudah sampai pada proses tender, tak jelas juntrungannya.<br />
Begitulah kalau sebelum tender, sudah ada nama pemenangnya dan tinggal dicarikan alasannya,<br />
kenapa dia harus menang. Kuat dugaan, proyek sampah ini menjadi piutang politik yang harus dibayar<br />
pejabat yang mengandalkan tim sukses meraih kemenangannya. Bagi warga, tak jadi soal benar, siapa<br />
yang menang. Yang jelas, mereka berharap sampah diangkut dan lingkungan mereka bersih.<br />
Tapi ya sudahlah. Selama 34 tahun, baru kali ini Batam meraih piala Adipura yang lalu<br />
dipertontonkan kepada warga. Jadi, pantaslah untuk bergembira. Lalu, setelah itu apa? Saya menduga,<br />
Singapura yang begitu bersih diawali oleh penegakan hukum yang tegas dan konsisten. Istilah kerennya: law enforcement. Penegakan hukum ini yang memaksa warganya dan siapa saja, tidak boleh membuang sampah sembarangan.<br />
Buktinya, mesti saban hari ada orang Batam yang bolak-balik ke Singapura, tidak ada yang berani<br />
melanggar aturan di negara yang dijuluki Habibie noktah di peta itu seperti meludah sembarangan,<br />
merokok seenaknya atau membuang sampah sesuka hati. Mereka takut kena denda dan tegasnya<br />
peraturan di Singapura.<br />
Saya pernah bertemu seorang warga Singapura yang memilih tinggal di rumah liar di kawasan<br />
Bengkong. Kabarnya,  ia orang kaya pengusaha kapal tanker. Tahu apa alasannya tinggal di Batam? &#8221;Di<br />
Batam enak. Bisa buang sampah sembarangan, buka baju sesuka hati. Di Singapura, mana boleh?&#8221;katanya terkekeh. Sayang, ia menolak diwawancarai.<br />
Melihat kebersihan Singapura, saya atas nama pribadi menganugerahkan kota itu Piala Adipura. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/adipura-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
