Suksesi Ketua PWI (3)

August 2, 2008 · Filed Under jurnalisme 

Penyampaian visi dan misi calon Ketua Umum PWI tentu sangat menentukan, apakah seorang calon layak memimpin organisasi wartawan tertua dan terbesar di tanah air ini.  Margiono akhirnya menang mutlak dan jauh meninggalkan pesaingnya. Inilah bagian terakhir suksesi ketua umum PWI Pusat.

Tampil pertama kali sesuai abjad adalah Dimam Abror. Ia bicara soal kemerdekaan pers yang dipengaruhi oleh liberalisasi media. Bagaimana media memperlakukan karyawan dengan semena-mena, lantas setelah tenaga dan pikirannya tak diperlukan lagi, dengan mudah ia akan didepak.
Maklum, Dimam sebelumnya pernah menjadi pimred Jawa Pos dan kemudian menerbitkan koran sendiri Suara Indonesia dan kini menjadi pimred Surya, milik Kompas Grup. Menurut Dimam, dengan kebesaran organisasi seperti PWI yang mampu melindungi wartawan.
Ketua PWI Cabang Sumut Muchyan tak dinyana juga tampil menarik. Ia menyampaikan berbagai kritikan terhadap PWI Pusat seperti kelemahan sekretariat, pendataan serta pembelaan wartawan. Sumut merupakan daerah yang perkembangan pers daerahnya paling dinamis.
Namun, di akhir pidatonya, Muchyan menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan Ketua Umum PWI. Saat ia menyampaikan visi misinya, puluhan wartawan dari Medan seperti menjadi suporter Muchyan. Apalagi, Kaukus Sumatera yang merupakan gabungan PWI Cabang se Sumatera seperti Aceh, Sumut, Lampung, Bangka Belitung, Jambi, Riau, Sumbar, Bengkulu, Kepulauan Riau untuk pertama kalinya, sepakat bersatu.
Calon ketiga adalah Margiono. Lelaki bertubuh gempak ini tampil mengejutkan. Dengan nada datar dan intonasi yang baik, Margiono menyampaikan visi dan misinya yang lebih banyak menekankan pada program-program kerja PWI. Yang menarik, Margiono punya gagasan sederhana dan realistis. Misalnya, membentuk new brand PWI dan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk mencari dana secara sah dan tidak bertentangan dengan martabat PWI.
Saat ia ”diserang” peserta kongres soal visi dan misinya, Margiono juga tampak tenang dan menjawab dengan cerdas. Misalnya, ditanya soal kemana saja ia lima tahun terakhir lantaran tidak aktif sebagai pengurus PWI? Dengan tangkas Margiono mengatakan, selama ini ia mengeluh kepada Tarman Azzam yang terlalu aktif sehingga ia tak sempat menjalankan tugasnya. Aplaus panjang diberikan peserta kongres kepada Margiono.
Selanjutnya, Wina Armada sebagai salah satu calon kuat, tampil. Namun, Wina ternyata tampil tak menarik. Ia bercerita bahwa dalam darahnya, mengalir darah wartawan karena kakeknya dan ayahnya seorang wartawan.
Wina juga menyatakan keheranannya soal mundurnya Muchyan dari pencalonan. Ketidak aktifan Wina disorot tajam peserta kongres dari Papua. Ia mengatakan, selama ini belum pernah berjumpa dengan Wina sebagai sekjen. Sayang, Wina menanggapinya dengan tidak simpatik.
Parni Hadi yang mengaku mencalokan diri karena diminta, tampil berapi-api. Ia mengemukakan gagasannya soal PWI yang harus tampil di dunia internasional. Dengan suara menggelegar, Parni yang pernah menjadi Sekjen PWI ini, memaparkan visi dan misinya dengan in-fokus.
Saat ditanya peserta kongres soal isu ia ikut mendirikan organisasi wartawan lain, Parni membantah. Ia tetap di PWI hanya selama ini selalu kalah bersaing dalam pemilihan ketua umum.
Wartawan memilih. Akhirnya, Margiono yang didukung Kaukus Sumatera dan Indonesia Timur serta beberapa cabang yang memiliki suara signifikan seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat, memenangkan persaingan itu dan mengantongi 58 suara.

Comments

Leave a Reply