Suksesi Ketua PWI (2)
Kendati sering dihujat terutama awal reformasi dan dianggap berbau Orde Baru, hanya PWI yang mampu menggelar Hari Pers Nasional, Porwanas, Konkernas serta Kongres secara konsisten. Padahal,untuk pergi ke Aceh atau Papua, bukan sesuatu yang mudah.
Kongres di Banda Aceh, dihadiri oleh lebih 1.000 orang wartawan. Begitu pula saat HPN dan Porwanas, lebih 2.000 wartawan berkumpul. Apakah gampang bagi anggota PWI menghadiri acara tersebut? Tidak juga. Misalnya PWI Kepri. Karena kehabisan tiket, terpaksa berangkat dari Batam, Jakarta, Medan dan baru mendarat malam hari di Banda Aceh. Dari PWI Kepri yang pergi 10 orang dan tiga di antaranya dari Perwakilan Natuna yang harus naik pesawat Hercules milik TNI-AU.
Begitu pula wartawan dari Indonesia Timur, naik pesawat ke Surabaya, Jakarta, Medan dan Banda Aceh. Yang lebih hebat lagi, ada seorang wartawan yang naik sepeda motor lima hari dari Padang! Jadi, ia berangkat jauh hari sebelum kongres berlangsung dan tidur di kantor polisi kalau bermalam di perjalanan.
Sebelum kongres, pengurus PWI Kepri juga membahas, siapa calon ketua umum. Tarman Azzam menurut Peraturan Rumah Tangga PWI dan hasil Konkernas di Papua, tidak boleh lagi menjabat karena sudah menjadi ketua dua kali berturut-turut. Lalu, siapa?
Setelah kongres dibuka Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dilanjutkan dengan dialog percepatan pembangunan Aceh, kongres diawali dengan laporan pertanggungjawaban Tarman Azzam. Semua cabang menerima dengan baik dan memuji kepemimpinan Tarman. Sampai akhirnya pengurus PWI Pusat periode 2003-2008 demisioner.
Setelah pemilihan pimpinan sidang, malam itu wartawan senior Tribuana Said menjumpai saya dan berkata,” Saya meminta Anda menjadi salah satu pimpinan sidang mewakili Sumatera,”katanya. Tengah malam itu, saya dipanggil teman-teman PWI Cabang se SUmatera untuk bertemu di salah satu ruangan di lantai dua.
Ternyata, semua pengurus PWI se Sumatera sudah ada di situ. Ternyata, mereka membahas soal dukungan terhadap Muchyan, Ketua PWI Sumut. Saya diam saja dan menjadi pendengar yang baik. Rata-rata, semua mendukung Muchyan. Di Sumatera, ada sepuluh PWI Cabang. Tiba giliran saya. ”Saya punya calon lain. Jadi, yang akan kami usung, Pak Margiono dan kedua Bang Muchyan. Peserta rapat terdiam. Alasan saya, meski saya tidak pernah bertemu, saya dengan Margiono orang yang perhatian terhadap anak buah, rendah hati dan berani.
Perhatian pun terpecah. Nama Margiono mulai mengemuka. Setelah kekuatan suara dipetakan, PWI se Sumatera yang punya 24 suara menyadari, kalau mendukung salah seorang, pasti kalah suara. Tapi kalau dukungan itu diberikan pada orang lain, bisa memenangkan pemilihan Ketua PWI.
Rapat bubar sekitar jam 03.30 dinihari. Kami sepakat menyebut kebersamaan pengurus PWI tersebut sebagai kaukus Sumatera. Jam 04.15 subuh, saya diberitahu karyawan Margiono bahwa bosnya mau maju pemilihan. Sehingga akhirnya nama Margiono muncul sebagai salah satu calon keesokan harinya.
Sekilas, tampak Margiono tidak serius mencalonkan diri. Apalagi, Ketua Bidang Pembinaan Daerah itu, sebelumnya kurang aktif. Selain itu, namanya tidak disebut-sebut sebelumnya seperti calon lainnya. Ternyata, pada pemilihan pendahuluan, Margiono mengantongi 19 dukungan dari cabang. Kini, tinggal mendengar visi dan misi lima calon tersebut. Kasak-kusuk dan berbagai strategi calon-calon memenangkan pemilihan, terdengar di berbagi sudut ruangan hotel.
Ketika saatnya tiba, suasana makin tak menentu dan seluruh peserta kongres, terutama para calon yang sudah duduk di depan, berdebar-debar. Tarman Azzm yang tidak lagi Ketua PWI, saya lihat duduk di sudut dekat pintu, tak jauh dari meja pengurus PWI Kepri. Peserta Kongres hanya Ketua, Sekretaris dan Ketua Dewan Kehormatan Daerah. Jadi, hanya saya, Amri dan Marganas. Sedangkan para wakil ketua dan pengurus lain, duduk di kursi peninjau. Bagaimana visi misi mereka?
Comments
Leave a Reply


