Suksesi Ketua PWI (1)
Kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) ke XXII di Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam baru saja berakhir. Margiono, yang juga CEO Rakyat Merdeka Group, menang mutlak dan terpilih menjadi Ketua Umum PWI, menggantikan Tarman Azzam yang menjabat selama dua periode. Bagaimana lika-liku pemilihan itu dan wartawan menjalankan organisasi dan berdemokrasi?
Sebagai organisasi wartawan tertua dan terbesar di tanah air, PWI telah menunjukkan eksistensinya. Sampai tahun ini, anggotanya sekitar 14.000 orang wartawan. Sebelum reformasi, PWI adalah wadah tunggal wartawan. Namun, sejak 1998 tumbuh lebih 40 organisasi wartawan. Verifikasi yang dilakukan Dewan Pers tahun 2006 ternyata hanya tiga organisasi wartawan yang layak, yakni PWI, AJI dan IJTI.
Saya mulai aktif menjadi anggota PWI Riau sejak tahun 1996. Menjadi Ketua PWI Perwakilan Batam sejak 2001 hingga 2003, lalu menjadi Ketua PWI Cabang Kepulauan Riau sejak 2004 hingga 2008 ini. Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, hanya PWI yang secara rutin mengadakan Hari Pers Nasional setiap tanggal 9 Februari, Konvensi Media Massa Nasional, Pekan Olahraga Wartawan Nasional dan berbagai aktivitas kewartawanan lainnya.
Hasil Konferensi Kerja Nasional tahun 2007 di Papua dan Kongres PWI ke XXI di Palangkaraya, sudah mempersiapkan Kongres di Aceh ini. Jadi, PWI mengadakan kegiatan nasional dari ujung ke ujung, Aceh hingga Papua. Dari PWI Kepri, yang mengikuti kegiatan di Papua dan Aceh ini adalah Depan Maju Sihite, wartawan senior dari Batam.
Sejak beberapa bulan sebelum kongres, sejumlah pentolan PWI Pusat sudah mencoba mencari figur, siapa pengganti Tarman Azzam. Selain orator ulung, Tarman sangat dekat dengan pengurus cabang. Bayangkan, ia sudah datang ke lebih 300 kota daerah tingkat II, berbicara di depan para pejabat tentang kemerdekaan pers, semangat kebangsaan dan sebagainya.
Kepada saya, Tarman mengatakan, ia sebenarnya mengkader Wina Armada Sukardi, Sekretaris Jenderal PWI. Namun, ia kecewa dengan Wina dan diungkapkan saat memberikan laporan pertanggungjawabannya di depan kongres, menjawab pertanyaan Ketua PWI Jaya, kenapa Piagam Penghargaan PWI tidak diteken Wina sebagai Sekjen.
Menurut Tarman, ia kecewa lantaran Wina tidak aktif sebagai pengurus. ”Dua kali kantornya pindah, selama ini surat-surat yang mengejar Wina. Terus terang, saya kecewa. Dibayar satu miliar pun tidak bisa membayar kekecewaan saya,” katanya. Suasana kongres sempat tegang.
Namun, Wina tidak membalas hujatan Tarman. Saat ia diberi kesempatan klarifikasi, ia mengatakan, tidak semua yang dikatakan Tarman Azzam benar. ”Saya tidak akan meladeni tudingan itu dan hanya sebagian yang benar. Hanya Allah yang tahu kebenarannya,”kata Wina yang menimbulkan simpati peserta kongres kepadanya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika Wina juga emosi.
Saya tidak tahu persis apa yang terjadi sesungguhnya antara Tarman dan Wina. Kalau PWI Kepri menggelar acara, keduanya tampak biasa saja. Misalnya saat acara pembentukan PWI Perwakilan Natuna tahun 2006 dan terakhir acara Safari Jurnalistik seri ke tujuh di Batam, Mei 2008. Namun, secara tersirat, Tarman tidak menjagokan Wina sebagai calon Ketua Umum PWI berikutnya.
Tarman pernah mencalonkan Ilham Bintang, bos tabloid Cek & Ricek, atau Asro Kamal Rokan. Tapi, keduanya menolak. Nama terakhir yang diusungnya adalah Kamsul, Ketua PWI Jaya. Saya pernah mengatakan, kenapa calon Ketua Umum PWI tidak mengusung Ketua PWI Cabang seperti saya? Tarman hanya tersenyum.
Wina Armada sesungguhnya layak jadi Ketua PWI Pusat. Selain jabatan Sekjen, mantan pemimpin redaksi Merdeka ini, seorang sarjana hukum. Kini Wina juga duduk sebagai anggota Dewan Pers mewakili PWI. Wina juga tampan dan penampilannya menarik. Belakangan, ia menjadi redaktur eksekutif di Harian Neraca. Sejak awal, saya tahu ia akan mencalonkan diri. Apalagi, ia makin sering mengirim SMS kepada saya soal dukungan kepadanya.
Calon kedua yang menghubungi saya adalah Dimam Abror Djurait. Saya mengenalnya pertama kali saat ia menjabat Redaktur Pelaksana Jawa Pos tahun 1997 dan kemudian ia menjadi Pemimpin Redaksi Jawa Pos. Dimam orang yang pintar dan saya menghormatinya. Kami pernah bertemu saat acara pelatihan wartawan di Surabaya. Makalahnya tentang seorang redaktur sama dengan manajer masih saya simpan.
Dimam juga pernah mengirim SMS minta dukungan saya sebagai calon ketua umum. Sambil bercanda, balasan SMS saya mengatakan bahwa saya juga akan mencalonkan diri jadi Ketua Umum PWI. Saat saya tanya apa programnya untuk cabang serta bagaimana ia mengatasi masalah pendanaan, SMS saya tak dibalas.
Beberapa hari menjelang Kongres, seseorang menelepon saya. Pria yang tidak sempat saya catat namanya itu, mengatakan bahwa ia tim sukses Parni Hadi, mantan pemimpin redaksi Republika dan kini memimpin Radio Republik Indonesia (RRI) itu. Isinya, visi misi Parni Hardi dan beberapa program yang akan dijalankannya jika ia terpilih menjadi Ketua Umum PWI. Dalam beberapa kali Kongres, Parni yang pernah menjabat Sekjen PWI Pusat itu, kalah dalam pemilihan.
Sudah tiga calon Ketua Umum PWI. Ternyata, begitu sampai di Hermes Palace Banda Aceh, ada satu calon lagi yang sudah memasang standing banner bergambar dirinya dan menyatakan siap menjadi Ketua Umum PWI. Yakni, Muchyan AA, Ketua PWI Cabang Sumatera Utara. Di Kongres, Kamsul dari PWI Jaya juga mencalonkan diri.
Namun, Margiono diam-diam juga siap maju ke bursa pemilihan Ketua Umum PWI Pusat. Margiono yang sebelumnya tidak diperhitungkan sama sekali, tampil secara mengejutkan dan menang telak dengan mengantongi 58 suara dari total 95 suara dari seluruh cabang. Hak suara masing-masing cabang, tergantung jumlah anggotanya. PWI Cabang dengan anggota lebih 100 dan di bawah 200 orang punya 2 hak suara. Yang punya anggota lebih 1.000 orang punya 7 hak suara.
Namun, Kamsul mengundurkan diri setelah pemilihan pendahuluan mengumpulkan nama calon dan Muchyan mundur setelah membacakan visi dan misinya sebagai calon ketua PWI. Jadi, akhirnya tinggal empat calon yakni, Parni Hadi, Dimam Abror, Wina Armada dan Margiono. Kepada saya Margiono mengatakan, ada calon lain yang menyebutkan, paling-paling ia hanya memperoleh 10 persen dukungan dari peserta kongres. Bagaimana kisah kemenangan Margiono? Tunggu postingan
berikutnya.
Comments
One Response to “Suksesi Ketua PWI (1)”
Leave a Reply



Wah, harus ditunggu nih tulisan berikutnya