Sisi Lain Ismeth Abdullah (2)
Meski kenal baik cukup lama, hanya dua kali saya ikut meliput acara Ismeth Abdullah. Selain ke Singapura, saya ikut rombongan wartawan saat kunjungan ke tiga negara di Timur Tengah studi banding kawasan berikat. Berikut catatan sisi lain Ismeth Abdullah bagian terakhir.Akses ke dunia internasional Ismeth Abdullah cukup baik. Apalagi, penampilannya yang flamboyan sehingga ia diterima dengan baik oleh duta besar di Lebanon, pemimpin kawasan berikat di Yordania. Meski sebagian stafnya berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, Ismeth memilih tetap fokus pada pekerjaannya.
Menurut orang-orang dekatnya, Ismeth memang pekerja keras. Sejak masih menjabat Ketua OB hingga menjadi Gubernur Kepri, Ismeth sering pulang larut malam. Akibatnya, stafnya terpaksa harus menunggu sampai ia pulang.
Sejak Ismeth menjabat sebagai Plt Gubernur dan ber-kantor di Sekupang, saya mulai jarang bertemu, kecuali sesekali ada acara seremonial dan saat melepas kontingen PWI Kepri mengikuti Porwanas di Pekanbaru.
Pada suatu hari, Ismeth Abdullah menelepon saya. ‘’Socrates, boleh saya berkunjung ke kantor Anda?’’ katanya. Saat itu, kami baru pindah ke Gedung Graha Pena, di Batam Centre. ‘’Oh, silakan, Pak,’’ jawab saya. Saya menduga, Ismeth datang gara-gara berita head-line Posmetro Batam hari itu. Judulnya, Otorita Batam Babat 16 Lokasi Hutan Lindung.
Ismeth datang ke lantai delapan. Ia berkeliling dan menyalami karyawan. ‘’Hebat, ya. Dulu pernah didemo, kantornya dilempari batu sekarang kantornya bagus,’’ komentar Ismeth, sambil melihat-lihat. Hebatnya, tak sedikitpun ia menyinggung soal berita hutan lindung itu. Padahal, saya yakin ia datang gara-gara berita itu.
Setelah menjadi Pelaksana Tugas Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah bersiap maju sebagai calon Gubernur Kepri. Ia seperti mengikuti napak tilas sejarah. Mertua-nya SM Amin adalah Gubernur Riau yang pertama ber-kedudukan di Tanjungpinang.
Suatu sore, Ismeth mengundang saya bertemu. Saya datang ke kantor Otorita Batam di lantai delapan pukul 17.00 sore. Setelah berbasa-basi sejenak, Ismeth Ab-dullah meminta saya membantunya dalam proses pemi-lihan Gubernur Kepri. ‘’Dari lubuk hati yang paling da-lam, saya minta Anda membantu saya,’’ katanya.
Saya terkejut. Lalu saya sampaikan bahwa bukannya saya tidak mau, tapi saya Ketua PWI Kepri sehingga sulit bagi saya terlibat dalam politik praktis. Sebab, saya akan menjatuhkan martabat organisasi wartawan tertua itu. ‘’Saya doakan Bapak jadi gubernur, tapi saya tidak bisa menjadi tim sukses. Pertama, saya belum pernah jadi tim sukses, kedua saya ketua PWI yang harus inde-penden,’’ kata saya. Saya lihat, Ismeth mengangguk-angguk dan diam saja.
Saya tidak tahu, apakah Ismeth kecewa atau tidak. Sebab, sebagai orang yang jam terbangnya di berbagai organisasi sangat tinggi, mestinya ia paham alasan saya. Namun, entah mengapa, sejak itu hubungan saya dengannya agak renggang.
Apalagi, karena adanya berita tentang dugaan korupsi alat x-ray di pelabuhan Batuampar yang menyebut-nyebut nama Ismeth. Berita itu saya baca di situs berita Detik.com. Saya minta wartawan mengkonfirmasi hal itu langsung ke Ismeth Abdullah. Sampai sore, kami tak berhasil dihubungi.
‘’Bapak ke Jakarta, kalau mau bisa menghubungi ajudan beliau di Jakarta. Saat ini sedang di pesawat,’’ kata ajudannya Junaidi kepada saya dan memberi nomor ajudan di Jakarta. ‘’Wah, penerbangan Ba-tam-Jakarta 1 jam 20 menit. Jadi, selama itu pula kami harus menunda deadline, agar bisa mewawancarai Ismeth,’’ pikir saya.
Saya putuskan menunda deadline. Begitu ia mendarat di Jakarta, saya menelepon dan langsung mewawan-carainya soal berita di situs itu. ‘’Tidak benar itu, So-cates,’’ katanya membantah. Berita itu terbit malam itu juga, dan beredar jam 8.30 malam.
Sekitar pukul 10.00 malam, tiba-tiba Ismeth menelepon saya. Ia marah-marah. ‘’Kenapa Anda beritakan itu, kan saya sudah bilang jangan. Ternyata, benarlah kata orang-orang, Anda tidak suka dengan saya,’’ katanya, dengan nada tinggi.
Saya berusaha menjelaskan, saya kan sudah konfirmasi soal berita itu. Malah, saya berniat baik agar berita yang dirilis detik.com itu berimbang dengan adanya jawaban dari Ismeth. Saya diam saja, karena saya tahu Ismeth lagi emosi. Hanya sebentar, sambungan telepon putus.
Kira-kira pukul 23.30, saya ditelepon Ketua PWI Pusat Tarman Azzam. Ia bertanya, ada apa antara saya dengan Pak Ismeth. ‘’Pak Ismeth mengadu pada saya, dengan sedih sekali, ada apa? Tanya Tarman. Saya jelaskan kronologis berita itu, dan terbit setelah saya mewawan-carai Ismeth agar berita cover both side.
‘’Ya sudah, kalau begitu. Kenapa tak boleh diberitakan, sedangkan pre-siden saja kita beritakan,’’ kata Tarman. Saya menduga, Ismeth mene-rima bisikan keliru tentang saya dari orang-orang di sekelilingnya. Sejak itu, hubungan kami terputus. Tak pernah lagi ada hubungan telepon antara saya dengan Pak Ismeth.
Setelah saya menolak menjadi tim sukses, ternyata ada juga wartawan yang jadi tim suksesnya. Sebab, saya lihat rumahnya ditempeli stiker calon gubernur dan wakil gubernur Kepri banyak sekali. Saya memang tidak pernah jadi tim sukses bagi siapapun.
Akhirnya, seperti dugaan banyak orang, termasuk saya, Ismeth Abdullah dan HM Sani terpilih sebagai gubernur Kepri yang pertama. Ismeth seolah sedang menapak tilas sejarah keluarganya. Mertuanya, SM Amin adalah gubernur Riau pertama dan berkedudukan di Tanjung-pinang.
Tak lama setelah Ismeth dilantik, kebetulan PWI Cabang Kepri yang masih baru dan saya menjadi ketuanya yang pertama, dipercaya PWI Pusat untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Training of Trainers. Pesertanya para wartawan senior dari berbagai daerah, dari Aceh hingga Papua.
Sebagai Gubernur, Ismeth yang membuka acara itu. Dalam pidatonya, ia mengatakan,’’ Kita akan bangun gedung PWI,’’ disambut tepuk tangan hadirin. Saya menghela nafas panjang. Sampai saya berhenti menjadi ketua PWI kantor itu tak pernah dibangun. Malah, pada periode saat ini, kantor PWI kembali menyewa ruko di Tanjungpinang, sama seperti PWI Perwakilan Batam dulu.
Sejak itu, saya jarang sekali berkomunikasi dengan Ismeth Abdullah. Dulu, saya bisa meneleponnya langsung. Tapi kemudian, harus melalui ajudannya. Saya hanya mengamati, betapa setelah menjadi gubernur yang dipilih langsung, Ismeth tetap kerepotan menghadapi lawan-lawan politiknya.
Suatu hari, saya lupa tanggalnya, seorang agen koran di Tanjungpinang membisikkan kepada saya, bahwa tabloid yang baru terbit dan dikirim kepadanya, habis diborong orang. Ia menyebutkan, isi tabloid yang belakangan saya tahu bernama Investigasi itu, menulis tentang sepak terjang Ismeth Abdullah dan dugaan korupsinya saat ia masih Ketua Otorita Batam.
Tabloid itu segera menyita perhatian orang. Ismeth pun kalang kabut. Ia menggugat tabloid itu ke pengadilan dan memakai pengacara terkenal Adnan Buyung Nasution. Namun, belakangan gugatan Ismeth ditolak. Namun, masalah tidak pernah selesai. Ismeth belakangan diperiksa sebagai saksi dalam kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran saat ia menjabat Ketua Otorita Batam.
Pada penghujung 2009, saya sempat dua kali bertemu Ismeth Abdullah di Gedung Graha Kepri Batam Centre. Kami hanya ngobrol ringan. Saya juga menjelaskan posisi saya, bahwa selama ini saya tidak pernah menjadi tim sukses siapa-siapa. Tampaknya, Ismeth paham apa yang saya sampaikan. Saya berharap, ia keliru menilai saya telah menjadi tim sukses atau berpolitik praktis.
Kami ngobrol sekitar 15 menit. Kepada saya, Ismeth mengaku capek. Tapi ia tidak menjelaskan kenapa. Saat saya katakan bahwa belaka-ngan saya kesulitan meneleponnya, dia menyarankan agar saya mengi-rim pesan melalui SMS saja. Kali kedua, saya bertemu mengantarkan seorang teman yang ingin bicara padanya. Sejak itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Ismeth Abdullah.
Ismeth Abdullah memang sudah beberapa kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta seperti diberitakan media. Saat saya ada urusan ke Tanjungpinang, saya terkejut membaca running text di sebuah televisi swasta. Bunyinya: Gubernur Riau Ismeth A jadi tersangka kasus Damkar. Saya terkejut. Saya pikir, berita ini keliru. Mungkin yang dimaksud Ismeth gubernur Kepri. Saya lalu menelepon Kepala Biro Humas Pemprov yang juga mengatakan terkejut dengan running text itu.
Menurut wartawan Batam Pos di Jakarta, berita itu benar. Artinya, yang keliru menulis adalah televisi swasta itu. Ismeth memang sudah ditetapkan menjadi tersangka, berdasarkan wawancara dengan pejabat KPK dan dengar pendapat Komisi III DPR dengan KPK.
Untuk memastikan kebenaran berita itu, saya menelepon Ismeth Ab-dullah melalui ajudannya. ‘’Saya juga tidak tahu kebenarannya, saya ba-ru saja sampai di Jakarta,’’ kata Ismeth kepada saya. ‘’Tolong kabari saya apa yang terjadi, Pak,’’ kata saya. Berita itu makin santer. Bebe-rapa orang menelepon saya mengecek kebenarannya.
Satu jam kemudian, saya kembali menelepon Ismeth. Jawabannya ma-sih sama. ‘’Saya tidak tahu. Kabarnya masih simpang siur. Kepada masyarakat Kepri, saya berpesan agar tidak resah,’’ katanya di ujung telepon. Tak lama kemudian, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD juga menyebut Ismeth sebagai tersangka saat wawancara dengan sebuah stasiun televisi.
Berita itu kemudian menjadi headline Batam Pos. Koran-koran lain, juga memuat berita yang sama, tapi tidak menjadi berita utama. Malam itu juga, puluhan LSM datang ke redaksi Batam Pos mempertanyakan berita itu dan dijelaskan kenapa berita itu menjadi headline.
Saya merasa, berita itu dipolitisir oleh orang-orang tertentu, seolah-olah ada maksud tertentu. Padahal, berita itu murni fakta yang diperoleh di lapangan. Apalagi, secara jurnalistik sudah menempuh prosedur yang benar dengan mengonfirmasi kepada Ismeth Abdullah sebagai sumber berita.
Saya tak mau terjebak arus politik. Meski secara pribadi hubungan saya dengan Ismeth baik, saya tetap seorang wartawan yang independen. Apalagi, Ismeth Abdullah hanya salah satu dari tersangka kasus Damkar. Akhirnya, Ismeth Abdullah benar-benar ditahan di penjara Cipinang. Yang jadi pertanyaan banyak orang, apakah Batam Pos mendahului keterangan resmi KPK karena berita itu sempat dibantah oleh juru bicara KPK Johan Budi? Benarkah Batam Pos ‘menzalimi’ Ismeth Abdullah seperti dugaan orang-orang dekatnya? Jawabannya saya temukan dari orang dekat Ismeth sendiri.
‘’Sebenarnya, Pak Ismeth sudah menerima surat penetapannya sebagai tersangka, tapi beliau bilang, gimana sih, nanti berubah lagi. Dan, beliau juga sudah dicekal pada saat mau berangkat ke Johor di Imigrasi Batam Centre,’’ kata orang dekatnya itu, suatu malam di Tanjungpinang. Saya lega, bukan berarti senang Ismeth masuk penjara. Tapi bahwa Batam Pos secara jurnalistik sudah benar dan adil.
Saat istrinya maju dalam Pilkada Gubernur Kepri berpasangan dengan Eddy Wijaya yang sebelumnya Sekda Provinsi Kepri, Ismeth menyempatkan datang ke Tanjungpinang setelah mendapat izin dari hakim pengadilan Tipikor. Sayang, Aida Zulaikha Nasution yang juga putri Gubernur Riau pertama itu, kalah dari pesaingnya.
Beberapa wartawan pernah mengunjungi Ismeth di penjara Cipinang, namun saya tidak ikut. Saya prihatin melihat foto-foto Ismeth dalam persidangan. Wajahnya semakin tirus dan kelihatan tua. Saya hanya bisa berharap, Ismeth Abdullah tetap tegar menghadapi segala cobaan ini. Sebagai sahabat, saya berharap Ismeth tetap optimis seperti sikapnya selama ini. ***
Comments
One Response to “Sisi Lain Ismeth Abdullah (2)”
Leave a Reply



kisah yang mengalir, menggugah dan menyentuh keutuhan seorang Ismet dan independensi Bung Sokrates. Selamat.