Sisi Lain Ismeth Abdullah (1)
Menyaksikan Ismeth Abdullah duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ada perasaan miris dan prihatin. Mestinya, lelaki bertubuh jangkung dan berhidung mancung berusia 63 tahun 7 bulan itu, bersiap menikmati hari tuanya. Atau bersiap maju lagi dalam Pemilu Kepala Daerah Kepri yang akan digelar 26 Mei 2010. Pria kelahiran Cirebon, 29 September 1946 itu malah terancam hukuman penjara seumur hidup. Inilah sisi lain Ismeth Abdullah.
Saya mengenal Ismeth Abdullah 12 tahun lalu, Juli 1998 saat ia usai dilantik menjadi Ketua Otorita Batam, mengganti-kan Junus Effendi Habibie, yang mundur setelah abangnya BJ Habibie dilantik jadi Presiden Republik Indonesia.
Kalau tidak salah, saya wartawan yang pertama di Batam me-wawancarai panjang Ismeth Abdullah dan dimuat di rubrik Cakap edisi Minggu. Sejak itu, saya dekat dengannya, dan se-ring bertemu sekedar diskusi, wawancara dan ngobrol. Biasa-nya, sebelum bertemu, saya menghubungi sekertarisnya Rudy Alfonso.
Sering saya bertemu Ismeth sore-sore sehabis jam kantor atau selepas magrib. Sejak dulu, Ismeth memang pekerja keras dan sering pulang larut malam. Awalnya, pertemuan kami lebih ba-nyak basa-basi. Kalau wawancara, Ismeth menjaga betul kata-kata dan ucapannya. Meski dilontarkan pertanyaan tajam, Is-meth Abdullah tetap tenang, kalem dan mengontrol emosinya dengan sangat baik.
Saya mengamati, pada saat Ismeth Abdullah baru menjabat Ketua Otorita Batam, ia diserang kiri kanan, baik oleh pejabat, LSM, politisi dan kalangan akademisi. Apalagi, saat itu perlawanan terhadap apa saja yang berbau pusat, ditentang. Yang paling sering disorot adalah soal keberadaan Otorita Ba-tam yang dinilai sebagai negara dalam negara.
Pernyataan-pernyataan politik yang mengemuka saat itu : Audit Otorita Batam, bubarkan Otorita Batam dan soal masalah so-sial seperti perjudian, prostitusi, rumah liar dan sebagainya. Namun, Ismeth Abdullah yang kenyang pengalaman sebagai aktivis kampus, pernah bekerja di Bank Danamon, Asia Deve-lopment Bank dan 9 tahun di Badan Pegembangan Ekspor me-lontarkan gagasan social development.
Kepiawaiannya menjalin hubungan dan relasi sosial dengan berbagai pihak, sangat membantu eksistensi Otorita Batam. Jika sebelumnya Ketua OB sangat powerfull karena di bawah presiden dan hubungannya dengan Jakarta seperti jalan tol, Is-meth memilih menjalin hubungan baik dengan Gubernur dan tokoh-tokoh politik Riau. Ia juga membangun komunikasi dengan kalangan universitas dan siapa saja.
Malah, tidak jarang Ismeth menerima karyawan yang punya hu-bungan dengan lawan-lawan politiknya. Intinya, ia ingin meru-bah imej Otorita Batam yang arogan, kaku, berbau pusat dan untouchable.
Lama-lama, Ismeth makin terbuka kepada saya. Ia kadang menceritakan masalah-masalah yang dihadapinya, dengan ca-tatan off the record. Ia termasuk yang sensitif terhadap berba-gai pemberitaan miring terhadap dirinya. Sejak awal, Ismeth termasuk dekat dengan wartawan dari berbagai media. Ia men-dukung Batam Journalist Club yang mengundang Sri Mulyani dan Menperindag Rahardi Ramelan dalam suatu diskusi.
Ismeth menawarkan LPEM-UI pimpinan Sri Mulyani untuk me-ngadakan penelitian berjudul Potensi Sosial Ekonomi Barelang sampai 2005. Kabarnya, gara-gara biaya penelitian tersebut Rp750 juta baru dibayar separuh, lembaga penelitian itu merilis berita potensial loss Batam karena tidak membayar Ppn sebesar Rp4 Triliun.
Saya mendapat informasi ini dari Rudy Alfonso. Pernah saya menelepon ke lembaga itu. Saat saya sebutkan dari Batam, pe-nerima telepon menyambungkan saya dengan bagian keu-angan. Mungkin dikiranya saya akan menyelesaikan masalah tersebut.
Sejak itu, rencana penerapan Ppn ditentang habis. Demo ter-jadi dimana-mana. Dari pengusaha hingga tukang ojek, meno-lak Ppn. Yang saya amati, bermacam motif bermunculan terkait demo penolakan Ppn tersebut. Mulai dari yang memang kha-watir berpengaruh terhadap ekonomi Batam hingga yang aji-mumpung dan memanfaatkan kesempatan tersebut mengem-bangkan bisnisnya sendiri.
Suatu ketika, karena resah dengan pemberitaan miring di be-berapa media, saya pernah mengusulkan, agar Ismeth me-ngundang para pimpinan media di Batam seperti Editor Club atau Forum Pimred.
Ia bisa memberi masukan atau menerima saran dari para pim-red. Namun yang terjadi, Ismeth malah mengundang banyak wartawan lalu memberikan kado berupa kamera, jam tangan dan handphone. Kegiatan itu akhirnya hanya menjadi seremo-nial dan tidak mencapai sasarannya.
Social Development
Konsep pembangunan sosial (social development) yang dilon-tarkan Ismeth Abdullah, mendapat sambutan baik. Sebab, ia menilai, selama ini pembangunan sosial kemasyarakatan di Batam terabaikan. Namun, konsep ini dalam prakteknya, ber-biaya tinggi. Sebab, mestinya konsep ini sudah diterapkan se-jak awal membangun Batam.
Masalah-masalah sosial, dalam era kepemimpinan Ismeth se-bagai Ketua Otorita Batam, memang menonjol. Lambat laun, Ismeth yang ternyata menggunakan pendekatan yang sangat berbeda dengan ketua OB sebelumnya, bisa diterima di tengah masyarakat, baik para pengusaha maupun politisi.
Gayanya yang low profile, postur tubuh di atas rata-rata serta hidung yang mancung, menjadi ciri khas Ismeth Abdullah. Na-da bicaranya pelan dan datar. Ia makin sering terlibat dalam berbagai kegiatan di Batam.
Meski Otorita Batam tak pernah sepi dari aksi demo, baik dari para buruh, warga rumah liar yang tergusur, posisi Ismeth makin kokoh. Dari pengalaman beberapa kali wawancara de-ngannya, Ismeth sangat piawai menghadapi wartawan. Meski dicecar dengan pertanyaan keras, jawaban dan emosinya tetap terkontrol.
Bagaimana penilaian orang lain terhadap Ismeth Abdullah? Pada sebuah seminar tentang investasi di Singapura, saya ber-tanya pada Presiden Indonesia Marketing Association Herma-wan Kertajaya, bagaimana penilaiannya tentang Ismeth. Jawa-bannya mengejutkan saya: Ini orang terlalu baik, katanya.
Secara pribadi, saya pernah mengatakan begini. ‘’Pak Ismeth, di mata masyarakat Batam, Anda dinilai orang yang baik. Tapi menurut saya, Bapak orangnya tidak tegas.’’ Apa jawaban Is-meth? ‘’Gaya setiap orang kan berbeda-beda,’’ katanya, santai.
Saat terpilih menjadi ketua PWI Perwakilan Batam, Ismeth memberikan dukungannya.Otorita Batam membantu biaya se-wa kantor berupa ruko tiga lantai di Jodoh. Lantai satu buat kantor, dan dua lantai lainnya menjadi kos-kosan wartawan. Ismeth datang saat peresmian kantor tersebut.
Karena saya mengenal Ismeth sejak lajang, setelah saya meni-kah dan punya anak, Ismeth Abdullah sering menanyakan ka-bar anak saya Axel Ariel Muhammad. Sungguh, tidak banyak pejabat yang saya kenal dengan gaya pendekatan dan human relation seperti Ismeth Abdullah. (bersambung)
Comments
Leave a Reply


