Pulau Penawar Rindu
Menatap Belakangpadang, seperti gambar kontras dengan Batam. Padahal, dulu Batam adalah bagian dari Kecamatan Belakangpadang. Pelantar, pancung yang berjejer, menjadi pemandangan khas dan tak berubah dari tahun ke tahun. Mengapa pulau yang berjuluk Penawar Rindu itu lambat sekali maju?
SUDAH lebih tiga tahun saya tidak ke Belakangpadang. Meski terkesan lambat, kecamatan tertua di Batam ini mulai maju. Begitu boat pancung merapat ke pelantar yang sesak dengan motor yang diparkir itu, di bibir pantai tertulis: Selamat Datang di Belakangpadang, Pulau Penawar Rindu.
Saat menuju Belakangpadang, laut tampak makin kotor dan penuh sampah. Ganggang yang mati, potongan kayu mengapung dan mengganggu jalannya boat pancung, karena bisa nyangkut di mesin Yamaha berbekuatan 40 PK itu. Sama seperti dulu, boat pancung itu tak dilengkapi pelampung pengaman yang memadai.
Belakangpadang makin ramai. Terutama oleh sepeda motor. ’’Mobil di Belakangpadang hanya dua. Mobil ambulan dan mobil jenazah,’’cetus seorang warga Belakangpadang. Becak juga masih jadi angkutan andalan di Belakang-padang. Namun, jarang pengemudi motor yang menggunakan helm. Padahal, jalan-jalan di pulau ini tidak mulus dan berlubang-lubang di sana-sini.
Pasarnya juga makin luas. Tapi tetap sepi. Sebagian besar toko-toko ma-lah tutup. ’’Pasar Belakangpadang ya begini inilah setiap hari,’’ kata tukang beca yang membawa saya berkeliling. Toko-toko pun makin ramai dibanding tiga tahun lalu. Namun Belakangpadang masih tetap menjadi andalan perdagangan pulau-pulau di sekitarnya seperti Pulau Terong, Kasu, Geranting dan sebagainya. Maklum, kecamatan Belakangpadang terdiri dari 55 buah pulau.
Belakangpadang, seperti julukannya, memang menjadi pulau penawar rindu, bagi warganya yang bermukim di Singapura dan Malaysia, atau pulau-pulau lain seperti Batam, Bintan dan Karimun. Suasana kampung sangat terasa dan tenang. Belakangpadang jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan kota besar. Namun, suara knalpot sepeda motor, makin ramai saja.
Kalau dulu warga Belakangpadang selalu kesulitan air bersih, sejak adanya dam sehingga air bersih kini tak masalah lagi. Sebelumnya, warga terpaksa membeli air bersih yang diangkut dengan boat pancung dari pulau-pulau lain. Selain itu, Belakangpadang kerap menjadi tumpahan limbah dan minyak yang berasal dari kapal-kapal tanker yang melayari Selat Malaka.
Saat saya berkeliling, ternyata Sekolah Dasar Negeri 001 Belakang-padang, sejak tiga pekan lalu pekarangannya longsor. Akibatnya, plang nama SD yang terbuat dari semen itu, patah. Longsor tersebut berbahaya bagi murid-murid SD yang tetap bersekolah. ”Longsor terjadi sudah tiga minggu, sejak hujan sering turun. Murid-murid tetap sekolah. Mau belajar dimana lagi?,” kata seorang warga di depan sekolah yang berlokasi di Kampung Bugis, Belakangpadang.
Di depan jalan, dipasang papan pengumuman dari triplek. Dilarang mendekat di lokasi longsor, berbahaya.
Agar tidak mengancam keselamatan murid-murid, guru SDN 001 Belakangpadang memasang pembatas di pekarangan sekolah agar murid tidak menjadi korban. Lokasi sekolah yang berbukit-bukit, sementara dam pengaman su-dah retak dan tua, sehingga sekolah itu rawan longsor. Namun, meski longsor terjadi tiga pekan lalu, belum ada upaya memperbaiki pekarangan sekolah yang longsor tersebut.
Sementara itu, jembatan Melawa di Belakangpadang, juga rusak dan ber-lubang di sana-sini. Jembatan kayu yang cukup panjang itu, dilewati pejalan kaki, sepeda motor, becak dan sepeda. Kayu jembatan yang sudah lapuk, sebagian ditambal-tambal. Namun, karena banyaknya kayu yang lapuk, sebagian jem-batan itu dihiasi lubang yang menganga.
”Sudah banyak yang jatuh dan terjungkal ke laut. Entah mengapa jem-batan ini tak pernah diperbaiki,” kata seorang warga yang melintasi jembatan tersebut. Apalagi, di kiri dan kanan jembatan, tidak ada pagar pembatas sehingga rawan kecelakaan.
Anehnya, pihak Dinas Pendidikan mengaku belum tahu soal ini, saat ditanya wartawan. Begitulah. Belakangpadang masih tetap berkutat dengan segala problematikanya. Perlu keperdulian dan terobosan, semisal membangun hotel, agar pulau ini tidak tertinggal dan dikebelakangkan. ***
Comments
Leave a Reply


