Prilaku Konsumen Media

November 12, 2009 · Filed Under jurnalisme 

Krisis ekonomi global tidak hanya melanda sektor keuangan dan properti. Tapi juga menerpa industri media massa. Buktinya, beberapa surat kabar di Amerika Serikat, tutup. Atau beralih ke koran digital. Akibatnya, industri media massa di Indonesia, juga ketar-ketir. Indikatornya adalah, makin menurunnya pembaca dan pemasang iklan yang selama ini menjadi nyawa surat kabar. Bagaimana di Batam?

Survei tentang prilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media massa yang dilakukan LP3ES bekerja sama dengan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) menarik dicermati. Dari 15 kota yang disurvei, Batam termasuk salah satunya, selain Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Padang, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, Manado dan Denpasar. Ke-15 kota ini ditentukan secara purposive sampling dan dianggap media cetak relatif dinamis.

Survei tersebut dilakukan untuk merepresentasikan pendapat pembaca suratkabar, mewakili kelompok pembaca remaja dan dewasa. Jumlah responden 2.971 orang dengan tingkat keperca-yaan 95%. Selain itu, juga dilakukan wawancara mendalam dengan pengelola media serta focus grup discussion (FGD) mewakili pembaca media dari unsur profesional, pelajar, ibu rumah tangga, akademisi, aktivis LSM.

Pertumbuhan media cetak, meski tidak lagi seperti pada awal era reformasi, namun terus bertambah. Jumlah surat kabar tahun 2008 sebanyak 290 buah, naik dibanding tahun 2007 yang berjumlah 269. Namun, surat kabar mingguan turun dari 247 tahun 2007 menjadi 224 pada tahun 2008. Pertumbuhan yang paling tinggi terjadi pada majalah.

Ada beberapa hal yang menarik dicermati dari hasil survei ini. Pertama, masih ada pengelola media yang tidak percaya survei. Mereka beranggapan, hasil survei bisa dipesan dan meragukan validitas, metode maupun hasilnya. Padahal, secara ilmiah hasil survei bisa dibantah melalui survei. Rasa tak percaya ini terutama yang hasilnya tidak ’menguntungkan’ bagi media tersebut.

Kedua, selain televisi sebagai media yang menjadi saingan suratkabar (misalnya dalam perebutan kue iklan) penetrasi internet mulai menguat. Sumber informasi selain media cetak adalah televisi 95,9 % dan internet 34,1%. Artinya, kedua media inilah yang akan menjadi kompetitor surat kabar di masa depan. Waktu membaca media cetak pun makin berkurang, hanya 3,2 jam sampai 4 jam seminggu. Berarti, hanya sekitar 40 menit sehari.

Ketiga, fenomena surat kabar lokal yang kini mampu menjadi raja di daerahnya. Sebanyak 69 % responden menyebutkan, lebih mengandalkan surat kabar lokal. Jika sebelumnya koran daerah dipandang sebelah mata dan masyarakat lebih mengutamakan koran-koran dari Jakarta sebagai sumber informasi, kini kondisinya terbalik. Koran dari Jakarta hanya menjadi pilihan warga Jakarta. Tidak ada lagi dikotomi koran daerah dan koran nasional. Sebab, koran daerah menjelma menjadi koran nasional yang berbasis di daerah. Otonomi daerah diperkirakan mempengaruhi hal ini.

Keempat, informasi yang mendapat perhatian pembaca dan rubrik yang mendapat perhatian adalah kecelakaan, musibah atau bencana (67,9%) berita kriminal (60,6%) pendidikan (56,6%) olahraga (53,4%) dan gaya hidup (51,2%). Artinya, pembaca membutuhkan informasi yang hanya mereka inginkan dan dibutuhkan kecepatan untuk penyampaian informasi tersebut. Namun, pembaca majalah dan tabloid lebih dominan membaca berita tentang gaya hidup. Mungkin karena survei ini dilakukan di perkotaan sehingga mencerminkan selera kaum urban dan metropolis.

Kelima, makin tingginya penetrasi internet tidak serta merta suratkabar ditinggalkan, seperti yang belakangan dikhawatirkan pengelola media. Sebab, survei menunjukkan, lokasi yang biasa digunakan untuk mengakses internet sebanyak 67,1 % di warung internet. Artinya, pengguna internet perlu datang ke warnet untuk menjelajahi dunia maya. Situs yang paling banyak diakses adalah jejaring sosial seperti facebook, twiter dan friendster. Waktu yang digunakan mengakses internet rata-rata 1 sampai 2 jam sehari.

Keenam, meski sekitar 60 % kue iklan diraup media elektronik seperti televisi, surat kabar tak perlu berkecil hati. Sebab, iklan yang ditayangkan di surat kabar, juga menjadi perhatian pembacanya. Sebanyak 84,2% responden memperhatikan iklan di televisi dan 67,3% memperhatikan iklan di surat kabar. Yang menarik, sebanyak 11,8% responden memperhatikan iklan di internet. Surat kabar yang kebanyakan iklan, ternyata lebih separuh atau 59,4 % tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli media tersebut. Namun, 33.3% memang menjadi pertimbangan apakah ia akan membeli media tersebut atau tidak.

Jenis iklan yang mendorong pembaca membeli surat kabar antara lain, produk fashion dan kosmetik, otomotif, produk kebutuhan rumah tangga dan makanan, handphone dan aksesorisnya, elektronik, iklan lowongan kerja, properti dan komputer. Hal ini dapat dipahami lantaran survei yang dilakukan LP3ES dan SPS ini dilakukan di 15 kota besar di Indonesia dengan pertimbangan pertumbuhan media cetak relatif dinamis dan menggambarkan gaya hidup kaum urban dan masyarakat perkotaan.

Selain data kuantitatif, survei ini juga menyertakan temuan kualitatif melalui wawancara dengan pengelola media dan focus grup discussion dengan berbagai kalangan. Survei tersebut menyatakan, kelangsungan hidup media cetak khususnya surat kabar, masih tetap dipandang secara optimis. Selain animo membaca koran masih tinggi, media cetak masih tetap bisa diharapkan kelangsungan hidupnya, asal mampu meningkatkan isi/kualitas berita untuk menandingi keunggulan media online dan media televisi. Syaratnya adalah, menyajikan berita-berita mendalam (indepth news) berita di balik berita dan investigasi.

Berikut ini, beberapa rekomendasi dari LP3ES dan SPS terkait penelitian tersebut. Antara lain, keunggulan media cetak tak tergantikan. Media cetak lokal bisa menjadi “psiko-grafis” masyarakat. Surat kabar mengidentifikasi dirinya dengan warga masyarakat kota atau daerah tersebut. Media cetak masih tetap berpotensi untuk meyajikan berita-berita yang lebih luas, mendalam dan lengkap sebagai keunggulan media online dan media televisi.Media cetak masih menjadi sarana untuk mengkomunikasikan jati diri si pembaca. ”Who you are, it depends on what you read. Apa yang kau baca itulah dirimu.” Media cetak bisa menjadi sarana lingkungan pergaulan sosial, karena media is the extention of yourself. Ada dorongan untuk tidak mau lepas dari media cetak sebagai instrumen untuk mengkomunikasikan siapa sebenarnya dirinya.

Soal urgensi kebutuhan kedalaman dan keluasan informasi. Tidak semua kebutuhan informasi terpenuhi melalui televisi dan media online. Meskipun telah melihat televisi dan mengakses internet, pada saat yang sama orang masih terdorong membaca media cetak dengan harapan dapat menggali informasi lebih mendalam. Betapapun cepat informasi diwartakan oleh televisi ataupun media on-line, sajian informasinya bersifat instan. Sehingga tidak berhasil menggambarkan inti informasi apa-lagi kejadian yang ada di balik berita atau informasi tersebut

Respon Media Cetak terhadap Perkembangan Media Online

Meski pelaku media cetak optimistik bahwa media online belum menjadi ancaman serius dalam waktu dekat, namun kebijakan bisnis media cetak tak urung dibayang-bayang kekhawatiran tren penurunan pembaca media cetak. Media cetak melakukan antisipasi dengan kebijakan penerbitan dua versi: media cetak dan online.

Penerbitan media online umumnya lebih bersifat reaktif, untuk menyaingi kecepatan pemberitaan berbagai media online yang memang secara sadar menjadikan dirinya sebagai situs berita. Kebijakan menebitkan dua versi media, media-online masih sekadar sebagai pelengkap saja.

Strategi Mengintegrasikan Media Cetak dan Online Secara Konseptual

Sudah mulai ada strategi untuk mengintegrasikan media cetak dan media online. Terdapat pula ta-hap yang lebih maju dengan mengintegrasikan media cetak, online, radio, dan mobile media dalam satu news room operation. Integrasi berbagai jenis media dalam Konsep ”Tiga I” yakni Immediate, breaking news menggunakan saluran radio dan mobile media. Interaktif, mengundang partisipasi publik dengan melalui radio dan media online Indepth, memaksimalkan porsi media cetak. Sejumlah media telah mengembangkan konsep ”Majalah Harian

Strategi Memelihara Pembaca Tradisional untuk Sajian Pemberitaan Mendalam

Tingginya prosentase pembaca yang memilih surat kabar lokal dibanding nasional mengisyaratkan besarnya pembaca tradisional (pembaca fanatik). Media cetak perlu ”berurusan” dengan budaya daerah atau lokal, lebih dari sekedar melibatkan aspek kebahasaan semata; tetapi juga aspek geo-grafis, psiko-grafis masyarakatnya. Terjadi paradoks: Surat kabar lokal semakin menjauh dari prio-ritas untuk mendekatkan diri dengan komunitas lokal yang merupakan pembaca tradisional/fanatik surat kabar. Surat kabar lokal ternyata dari sisi isi berita sejatinya merupakan surat kabar nasional yang berbasis di daerah

Mempertanyakan Kesungguhan Pemilik Media untuk Menghadapi Persaingan Antar-grup Media secara Benar

Potensi kebangkrutan media lokal bukan akibat maraknya media online sebagai pesaing, melainkan persaingan tajam di kalangan grup media besar di daerah. Pengelola media terjebak pada imagologi untuk membuat media bagus tanpa didukung kesadaran membuat sajian berita mendalam & leng-kap melalui jurnalisme riset. Kualitas media profesional tidak bisa terjadi jika kesejahteraan wartawan rendah; setidaknya pada tingkat standar yang secara paralel mencerminkan kompetensi dan kemampuan profesional wartawan. Pengelola kurang memberi prioritas anggaran untuk rekrutmen wartawan yang handal dan profesional.

Begitulah. Dengan presentasi survei ini, setidaknya bisa menjadi cermin bagi pengelola media dan kemana arahnya keinginan pembaca mengarah. ***

Comments

Leave a Reply