Percetakan Bintana

August 26, 2010 · Filed Under jurnalisme 

foto bintana oke

Tak terasa, sudah delapan bulan saya ditugaskan ke PT Ripos Bintana Press, sejak Januari 2010 perusahaan percetakan yang mencetak Harian Batam Pos, Posmetro Batam dan Tanjungpinang Pos serta belasan koran mingguan di Kepulauan Riau. Saya bangga ketika Bintana dalam evaluasi semester di Jakarta, menjadi percetakan dengan pertumbuhan tertinggi di Jawa Pos Grup.

Saat mendengar nama saya disebut sebagai pimpinan percetakan itu, saya pikir inilah saatnya saya belajar tentang mesin, dan seluk beluk percetakan. Jujur saja, ini sesuatu yang baru dan asing bagi saya. Memang, sesekali saya melihat bagaimana koran dicetak, dihitung dan didistribusikan ke pelanggan. Tapi harus tahu secara detil? Aha, inilah saatnya.

Sengaja saya datang sore hari saat karyawan percetakan belum masuk. Sebab, cetak pertama dimulai pukul 17.00 sore dan berlangsung sampai dinihari pukul 03.00 WIB. Saya berdiri di depan mesin cetak yang besar itu sendirian. ‘’Apa ini? Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana caranya saya tahu benda-benda yang bergerak dan mencetak koran?,’’ batin saya. Jangankan mesin cetak, mesin motor dan mesin jahit saja saya tak tahu.

Saya coba cari di internet. Yang saya temukan hanya binsis percetakan dan offset. Mau bertanya pada karyawan, wah kelihatan sekali bodohnya saya, ha..ha..ha. Saya bertekad harus mempelajarinya. Ada dua teman orang yang berkomentar negatif saat tahu saya mengurus percetakan. Intinya, mereka menyesalkan mengapa saya di percetakan. Salah satunya berkata,’’ Ah, sayang ya, kok Anda di percetakan?,’’ katanya, mematahkan semangat.

Saya balik bertanya,’’ Memangnya kenapa?’’. ‘’Ya, kau kan wartawan, karir kau akan mati kalau di percetakan,’’ katanya, serius. Saya diam saja. Yang terpikir hanya ini. Bagaimana menjadikan perusahaan percetakan ini bersih, rapi, hasil cetaknya bagus dan yang paling penting, orang-orangnya para karyawan yang menjalankan dan merawat mesin percetakan ini.

Saya sempat gamang. Sebab, gedung percetakan kotor. Mesin belepotan dengan oli, lantai menghitam karena tinta, ruangan mesin panas dan pengap bercampur dengan tumpukan kertas, forklift dan cat kusam dan berdebu. Celakanya, hanya ada dua petugas cleaning service. Bagaimana mungkin membersihkan gedung sebesar ini berdua? Baru beberapa hari, saya melihat seorang lay-outer dengan santai merokok. Padahal, di sekelilingnya banyak bahan kimia. Saya membentaknya,’’ Sekali lagi kau merokok di ruangan ini, aku pecat kau!’’ gertak saya. Ia gemetar.

Yang lebih memprihatinkan, dalam rapat grup ada yang mengatakan bahwa gedung percetakan menyeramkan dan mirip kantor polisi. Mungkin pandangan seperti itu benar. Sebab, di depan gedung yang kumuh itu, dijaga seorang sambil merokok dan tatapan mata tak bersemangat. Saya putuskan, saya akan mulai mengepel, mengecat dinding dan membersihkan gedung Bintana.

Dengan mengepel, membersihkan taman dan mengecat bagi saya itu olahraga. Apalagi, dalam ruang percetakan yang panasnya minta ampun itu, gampang mandi keringat, seperti steam atau spa. Mulailah saya dibantu dua petugas kebersihan mengepel. Awalnya, mereka bilang tak bisa membersihkan lantai yang mengitam itu. Harus pakai cairan khusus atau minyak tanah. Begitu dipel, bekas tinta itu melekat lagi. Ternyata, setelah digosok, harus segera dilap agar bekas tinta tidak kering. Lama-lama, warna lantai yang hijau itu, mulai kelihatan.

Saya mulai mengecat. Ruangan kantor dulu, pelan-pelan yang lainnya, pikir saya. Hasilnya mulai kelihatan. Ternyata, lebih enak melihatnya. Seorang manajer berkata kepada saya,’’ Wah, aku malu. Masak bos mengepel dan mengecat?’’ katanya, menggaruk-garuk kepalanya. ‘’Oh, ternyata masih punya malu? Ayo kita bersihkan,’’ kata saya. Ia menceritakan bahwa Bintana pernah mendapat penghargaan sebagai percetakan terbersih se Jawa Pos.

Kerja bersih-bersih itu, mulai mendapat respon. Mesin yang sudah lama tidak dibersihkan, dicuci lagi. Tiap unit memerlukan waktu seminggu lebih. Secara bertahap, kualitas cetak mulai membaik. Bagian depan kantor, dicat ulang. Sebab, cat yang lama ternyata untuk interior. Pantas gampang lusuh dan kusam. Saya pasang merek perusahaan. ‘’Selama ini, banyak orang kesulitan mencari kantor Bintana. Mereka menduga, kantor kita bangunan ini,’’ kata seorang karyawan sambil menunjuk ruangan genset tepat di depan kantor percetakan Bintana.

Satu hal yang membuat saya risau, karyawan bekerja apa adanya. Komunikasi sering macet. Maklum, sebagian masuk siang, sebagian masuk sore sampai subuh. Ada yang suka berkeluh kesah, kerja monoton dan kurang gairah. Ada pula yang menceritakan masa lalu yang kurang indah. Sebagian besar diam saja, melihat dan menunggu kemana arus membawa. Mengapa mereka tidak bangga menjadi karyawan Bintana?

Saya harus mengajak mereka bicara. Saya bicara soal betapa pentingnya tim. Lalu soal rencana masa depan Bintana. Kami akan mengembangkan bisnis cetak komersial. Kalau selama ini Bintana hanya mencetak koran dan tabloid, Bintana akan menjajaki bisnis cetak offset, sablon, kantong kertas, buku dan barang cetakan lainnya. Toh, pasarnya sudah ada. Yakni tujuh perusahaan lain yang ada di kelompok Batam Pos Grup.

Masalahnya, yang ada hanya karyawan bagian operator dan maintenance. Saya butuh tenaga desain dan marketing. Saya baru tahu, ternyata sebagian karyawan latar belakangnya grafika. Malah, ada yang sebelumnya pernah kerja di percetakan offset dan sablon. Saya amati supir di Bintana. Badannya gempal, kulitnya bersih dan pakaiannya rapi. ‘’Kau terlalu ganteng jadi supir, pindah saja jadi marketing,’’ kata saya. Ia mau dan dalam tempo beberapa bulan, omset cetak komersial naik secara drastis.

Saya senang, para pimpinan dan manajer di Bintana mulai berbenah. Mereka rapat secara rutin setiap minggu, membahas masalah-masalah yang terjadi dan mencari solusinya. Saat motor utama mesin percetakan rusak, saya melihat kerjasama yang cepat dan kompak, bisa mengatasi masalah dengan tepat. Jadi, apa yang diraih Bintana pada rapat evaluasi di Mercure, Ancol Jakarta, bukan karena saya, tapi karena perubahan yang dilakukan seluruh karyawan di Bintana. (bersambung)

Comments

6 Responses to “Percetakan Bintana”

  1. staff biasa on September 13th, 2010 7:14 am

    Satu kata untuk Bapak.. Maju Terus dan Semoga Cita Cita Bapak Selalu Mendapat Ridho Dari Allah SWT…

    Semangat Bapak menjadi bagian dari contoh yang kami harus tiru..

    Salam hangat dan semoga Bapak Sehat Selalu…

  2. SUKARDI on March 5th, 2011 2:58 am

    Yth,
    Pimpinan Manager
    Percetakan Bintana Di Kepulauan Riau

    UP Manager Percetakan,
    Nama Saya Sukardi,Umur 30 Tahun Saya Ada Pengalaman Sebagai Operator Cetak Koran Kurang lebih 5 Tahun,apabila di Tempat bapak masih Memerlukan Tenaga untuk Operator Cetak Saya mau Bergabung dengan Percetakan Bintana Riau,…Saat ini saya ada di Balikpapan,
    bila Bpk/Ibu Berkenan saya siap Untuk Memenuhi Panggilan Bpk.Tks

    Hormat saya,
    Sukardi
    HP : 0813-46205322

  3. socrates on April 29th, 2011 7:52 am

    Terima kasih buat staf biasa. Saya menduga Anda salah satu karyawan Bintana. Jangan berharap banyak kepada saya. Bangun team work yang kuat dan handal, jalin komunikasi sehingga tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan.

  4. socrates on April 29th, 2011 7:53 am

    Bung Sukardi,
    Jika Anda berminat, silakan kirim CV Anda ke Percetakan Ripos Bintana Press, Gedung Graha Pena Batam Centre- Batam.

  5. Sukardi on May 11th, 2011 7:19 pm

    Dh,
    Mohon Almat Lengkapnya Pak,Untuk Percetakan Ripos Bintana Press…

    Tks

  6. socrates on May 12th, 2011 7:54 am

    Ripos Bintana Press
    Gedung Graha Pena Batam – Batam Centre

Leave a Reply