Napak Tilas Seorang Wartawan

December 21, 2009 · Filed Under pribadi 

Roda pesawat baru menyentuh landasan yang licin. Bandara Simpang Tiga yang kini bernama Sultan Syarim Kasim II. Dari udara, beberapa kawasan kota bertuah itu tergenang air. Kalau tak banjir, kota ini sering dikepung asap kebakaran hutan. Disinilah saya memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1996.

Meski sudah mulai menulis artikel di beberapa surat kabar sejak 1989, saya baru melamar ke Riau Pos setamat kuliah. Saya ingin menjadi dosen di Universitas Riau, sambil terus menulis. Surat lamaran saya kirimkan kepada adik ibu saya Suasti Chadra, yang tinggal di Pekanbaru.
Saya dipanggil tes di saat ibu saya terbaring di rumah sakit dan menghabiskan belasan botol infus di Payakumbuh. Paman saya menguatkan hati saya berangkat ke Pekanbaru. ‘’Pergilah, kan kami ada disini menjaga mama,’’ katanya. Dengan hati galau saya berangkat.
Tes jadi wartawan tak seperti yang saya bayangkan. Ada dua orang yang menanyai saya. Pak Amril Noor mantan polisi itu berkata,’’ Aku piker badan kau tinggi besar karena namamu Socrates,’’katanya. Satu lagi almarhum Busra Algerie, yang menyuruh saya membaca buku-buku jurnalistik, karena saya memang belum pernah jadi wartawan.
Sejak bulan Maret 1996, saya jadi wartawan. Saya tinggal menumpang dengan adik ibu saya di Kampung Bukit, Rumbai. Saat saya mulai bekerja, ternyata ada dua orang wartawan baru. Namanya Abu Bakar Sidik, mantan wartawan Gatra dan Noorham Wahab yang dikenal sebagai penulis budaya. Selain itu, ada dua setter baru Ekot dan Nasrul.
Saya tidak pernah kursus computer. Satu-satunya yang saya tulis pakai computer saat menulis skripsi dengan program Chi-Writer. Itupun menumpang di rental computer teman dekat kosan saya. Biasanya, saya menulis artikel dengan mesin ketik tua bekas dari kantor polisi pemberian tante saya. Tangkai penggulung kertasnya sudah patah dan saya las. Bunyinya, brttt..tak.tak..
Saya bingung. Seorang wartawati menyangkan saya setter. Ia menyuruh saya mengetik beritanya. Saya mau saja, sambil belajar mengetik computer. Kadang saya catat di telapak tangan, bagaimana menyimpan, membuka file computer. Hari ketiga, barulah saya membuat berita pertama. Saya dapat informasi dari tante saya bahwa di rumah sakit banyak keluarga pasien yang kecopetan.
Saya pergi ke rumah sakit. Ternyata, cukup banyak keluarga pasien yang terpaksa tidur di emperan dan bangku-bangku rumah sakit. Saya lalu menjumpai seorang wanita yang menjabat humas rumah sakit itu. Saat saya tanyakan soal keluarga pasien yang sering kehilangan di rumah sakit, ia menolak menjawab. ‘’Saya tidak mau menjawab pertanyaan itu,’’katanya, ketus. Entah ide darimana saya berkata,’’ bagi saya, ibu tidak menjawab pun sudah sebuah jawaban.’’ Buru-buru ia menukas,’’Eh, jangan begitulah. Saya mau memberi informasi, tapi jangan tulis nama saya,’’ katanya. Ia mengakui, banyak kejadian kehilangan yang dialami keluarga pasien.
Sudah hampir seminggu, berita saya cuma satu. Ternyata, susah sekali jadi wartawan. Saya cemas ketika Koordinator Liputan yang terkenal galak, sambil menaiki tangga kantor Riau Pos di Jalan Kuantan Raya, berkata sambil berjalan.’’ Kalau nilai kau C berturut-turut, keluar kau,’’ katanya.
Berita kedua saya kisah seorang mahasiswa yang sehari sebelum wisuda, tewas disengat listrik di rumahnya. Saya pergi melayat ke rumah duka dan terpaksa berbohong kepada orangtuanya bahwa saya kenal dekat dengan almarhum. Ini membantu saya mendapatkan berita. Begitulah. Sebagai wartawan baru, saya memang tidak produktif.
Baru bekerja dua minggu, saya dipanggil Korlip. Ia menawarkan saya pindah ke Dumai. Kabarnya, ada wartawan yang bermasalah disana. Saat saya sudah mengepak buku-buku dan barang saya dalam kardus kecil dan sebuah tas, keputusannya berubah. Saya sendiri seumur-umur belum pernah ke Dumai. ‘’Tak usahlah kau ke Dumai, kau ke Perawang saja,’’ katanya.
Sehari sebelum bertugas di sana, saya pergi ke Perawang. Desa Tualang Perawang ternyata ramai sekali.Sebab, di desa itulah lokasi PT Indah Kiat Pulp & Paper. Jaraknya 60 kilometer dari kota Pekanbaru. Jalannya separuh aspal dan separuh tanah liat. Saya naik angkutan liar plat hitam. Tiap hari, tiga kali ganti angkot dari Rumbai ke Pasar Bawah lalu ke Perawang.
Saya berangkat pagi-pagi, sampai di kantor menjelang magrig barulah mengetik berita. Saya pulang ke rumah jam 9 malam dan sering jalan kaki dari Pasar Rumbai ke Kampung Bukit jalan kaki, sambil bersiul-siul karena takut dan gelap. Tidak banyak berita yang bisa saya tulis tentang Perawang. Saya tambahi dengan tulisan dan foto.
Saya senang ketika tak sengaja mendengar Pak Rida yang sedang melihat koran yang akan dicetak di ruang lay-out berkata,’’ Socrates ini dibikinnya Perawang seperti kota besar saja.’’ Ia tidak tahu, tiap hari saya ke sana seperti Ninja, yang harus menutup hidung dengan sapu tangan karena debu saat naik angkutan liar. Kalau hujan, jalannya jadi becek sekali.
Hampir empat saya di Perawang. Oplahnya perlahan mulai bertambah. Yang saya wawancarai, hanya Pembantu Camat, Kepala Desa dan Ketua LKMD. Saat itu, Perawang belum menjadi kecamatan. Tapi penduduknya lebih 10.000 orang yakni pekerja pabrik kertas. Beberapa kilometer sebelum sampai, bau bahan kimia sudah menusuk hidung. Truk balak berseliweran mengangkut kayu besar-besar untuk bahan kertas. Saya mulai didekati oleh humas perusahaan itu dan ditraktir makan. Beberapa kali bertemu, ia memaksa saya amplop. Saya bingung. Oh, ternyata jadi wartawan kayak begini.
Dua amplop yang diberikannya, tidak saya buka. Saya simpan di bawah lipatan baju di lemari plastik. Suatu hari, saya nekad menjumpai pak Rida, lalu saya katakan soal amplop itu. Saya bilang, ‘’kenapa orang lain yang memperhatikan saya, bukan Riau Pos?’’ kata saya.
Maksud saya, naikkan gaji saya. Saat itu, saya menerima Rp150 ribu sebulan. Ongkos Rp5.000 sehari. Lalu saya makan apa? Untunglah, tante saya memaksa saya makan pagi sebelum pergi kerja sehingga sampai siang perut saya masih tahan. Kalau tanggal tua, ia memberi saya uang Rp20 ribu, buat beli rokok.
Suatu hari, saya disuruh Korlip menjumpai orang Indah Kiat. Saya tidak Tanya siapa. Saya datang saja sesuai perintah dan temui di Hotel Mutiara Merdeka. Disana, dua orang yang sudah agak tua menunggu saya. Kami ngobrol ngalor ngidul. Yang tua, mengaku pernah jadi wartawan di Star Weekly. Ia berkata,’’ Oh, jadi Anda baru tamat kuliah, ya. Pantas masih fresh,’’ katanya. Saya tidak paham maksudnya.
Saya sempat berdebat dengannya. Ia bilang, Indah Kiat sudah membantu masyarakat setempat seperti tong sampah dan pompa air. Saya kakatan, bantuan itu tidak efektif karena tong sampah dijadikan tong air, lalu pompa air tidak ada gunanya karena tekanan air rendah. Mukanya memerah.
Saat makan malam, saya diajak ke restoran. Ada udang, berbagai jenis ikan, lobster dan makanan yang aneh-aneh di mata saya. Saya bingung saat ditawari, lalu saya bilang,’’ saya mau nasi goring saja.’’ Mereka menatap saya keheranan. Setelah itu, pertemuan usai. Saya berganti kartu nama dengan mereka. Dalam hati, saya heran siapa sebenarnya mereka berdua? Saya menduga orang humas Indah Kiat.
Lalu motor milik om saya hentikan di atas jembatan Elekton di atas Sungai Siak. Disitu ada lampu jalan. Saya keluarkan kartu namanya. Ternyata, yang tua adalah Direktur Utama Indah Kiat Njau Kwiet Mien dan satunya wakil direktur utama. Saya tertawa sendiri .
Entah mengapa, saya tiba-tiba ditarik lagi ke Pekanbaru. Kota ini jalannya juga tidak terlalu hapal. Karena kemalaman, saya menginap di rumah Mafirion, Koordinator liputan. Rumahnya dekat dengan kantor. Paginya, meski kemeja saya kusut, saya disuruh bertemu Rusli Zainal, yang saat itu Ketua Gapensi Riau dan kini menjadi Gubernur Riau di hotel Bumi Asih.
Mungkin karena tampang saya lusuh, Rusli menatap saya dari atas sampai ke bawah, lalu berkata,’’ Ayo, mau tanya apa, silakan,’’ katanya, menantang. Saya mulai wawancara, hal-hal yang ringan dan makin lama menjurus pada Gapensi yang selalu menguasai Kadin, organisasinya pengusaha. Tak lama kemudian, dengan memegang keningnya, Rusli Zainal berkata,’’ Tajam juga pertanyaan kau ya?,’’ katanya. Saya diam saja. Ketika mau pulang, ia memaksa saya menerima amplop yang isinya Rp15.000 untuk ongkos saya, katanya.
Tak lama kemudian, saya dipindahkan ke Bukittinggi, merintis berdirinya kantor Riau Pos Perwakilan Sumbar. Setahun di sana, saya dipindahtugaskan ke Batam sejak bulan Juni 1997 sampai saat tulisan ini saya buat.
Saat rapat Riau Pos Grup 17 Desember 2009 lalu, saya pergi ke Kampung Bukit di Rumbai. Kamar ukuran 2 x 2 meter yang saya tempati dulu tak ada lagi. Rumah tante saya yang wafat pada Idul Adha dua tahun lalu, sudah dipisah dengan Musala Nurul Yakin yang kini menjadi mesjid yang masih terus dibangun. Jalannya masih aspal yang berlobang-lobang seperti dulu.
Tak terasa, 13 tahun berlalu. Saya bersyukur, saat pertama jadi wartawan, jangankan jadi direktur, jadi redaktur pun tak terbayangkan. Saya malah terkagum-kagum pada teman-teman wartawan yang setiap hari wawancara gubernur atau wali kota. Juga pada teman yang bisa membuat berita kriminal setiap hari. Mereka hebat sekali dan kadang mentraktir saya makan nasi goreng.
Pekanbaru sudah banyak berubah. Bangunan makin padat. Jalan-jalannya tambah bersih. Ada beberapa gedung baru yang sepertinya dibuat agar ada, tapi belum digunakan. Mungkin karena propinsi ini salah satu yang terkaya di negeri ini. Menjejakkan kaki di kota bertuah ini, selalu membuat saya seperti melihat spion, menatap ke belakang perjalanan sebagai seorang wartawan. ***

Comments

Leave a Reply