Musala Al-Jihad
Bulan Ramadan mengingatkan saya Musala Al-Jihad, di komplek perumahan kami, Taman BPD Indah Batam Centre. Sebab, musala tersebut dibangun bersama-sama warga pada bulan Ramadan, empat tahun silam. Kami gotong royong pada malam hari. Hari pertama salat di musala, azan tanpa pengeras suara. Muazin melantunkan panggilan salat dari jendela. Kini, musala itu bersiap-siap naik status menjadi masjid.
Awalnya, tak ada rumah ibadah di komplek kami. Tanah kosong di bagian tengah, direncanakan untuk taman. Namun, sampai beberapa rumah terisi (hanya 58 rumah saja) tanah itu ditumbuhi rumput liar. Kami sepakat membangun musala. Ketuanya pembangunan musala itu namanya Mujahidin. Kami memanggilnya Pak Muja. Ia pegawai Bank BPD yang kini berganti nama menjadi Bank Riau.
Warga setuju nama musala itu Al-Jihad. Artinya, berjuang di jalan Allah yang diusulkan Pak Muja. Pelan tapi pasti, pembangunan musala itu akhirnya rampung juga. Berbagai kegiatan warga, kami lakukan di musala itu. Mulai dari rapat RT, peringatan hari besar Islam, pemotongan hewan kurban dan sejak tahun lalu, warga bisa melaksanakan salat Idul Fitri di musala kebanggan warga Taman BPD itu.
Namun, sejak dua tahun lalu, Pak Muja pindah tugas ke Pekanbaru. Kami harus mencari penggantinya. Saya dan warga meminta Pak Jaffar, yang juga bekerja di Bank Riau, sebagai pengganti Pak Muja. Apalagi, beliau selalu menjadi imam saat salat Magrib dan Isya di musala itu. Pak Jaffar meneruskan pembangunan musala seperti memasang keramik di beranda musala, membuat pagar. Salah seorang pengurus, Ansyari membangun tempat berwuduk.
Musala Al Jihad makin bagus. Sesekali, warga gotong royong membersihkan musala. Bagi umat Islam yang sesekali salat di musala kami menyebutkan, musala Al Jihad dilihat dari fisiknya, pantas dijadikan masjid. Sejak beberapa bulan lalu, saya terpilih menjadi ketua pembangunan musa itu. Padahall, saya baru saja mengundurkan diri menjadi ketua RW setelah menjabat selama hampir tiga tahun.
Alasan saya menolak saat itu, karena saya jarang di rumah, pulang kerja larut malam. Dan yang paling berat, jujur saja salat saya masih bolong-bolong. Alasan itu saya sampaikan kepada warga. Namun, tiga kali saya menolak, warga masih terus meminta saya. Akhirnya, saya bismillah saja. Toh, ada pengurus lain yang ilmu agamanya lebih tinggi dari saya. Ada Pak Iswandi sebagai ketua harian, ada Badaruddin sebagai ketua bidang dakwah, ada Ansyari, Pak Yamin, Pak Ardiansyah dan Pak Wawan sebagai sekretaris serta Ismail sebagai bendahara.
Tak lama setelah pengurus baru terbentuk, kami melaksanakan pemotongan hewan kurban. Alhamdullilah, dibanding tahun lalu, jumlah hewan kurban bertambah. Pengajian ibu-ibu majlis taklim juga makin aktif dibawah binaan ibu Hajjah Nurhayati. Dan yang patut kami syukuri, menjelang Ramadan 1429 ini, seorang ustad bernama Ahmad Bulkin yang biasa disapa AA Bulkin, bersedia menjadi imam tetap di musala kami. Sehingga salat lima waktu kini bisa dilaksanakan di musala Al Jihad.
Meski saya tak berpengalaman menjadi ketua musala, saya berharap musala ini bisa ditingkatkan statusnya menjadi masjid. Saya ingin membangun taman di depan musala agar lebih indah. Apalagi, di sekitar komplek kami saat ini makin ramai dengan dibangunnya beberbapa perumahan seperti Kapital Raya, Maitri Garden, Alam Raya Tahap II dan menyusul Bukit Airis.
Bagi saya pribadi, mudah-mudahan amanah warga makin mendekatkan diri saya kepada Allah SWT dan musala ini bisa menjadi rumah ibadah yang makmur. Insya Allah. ***
Comments
Leave a Reply


