Minuman Kaleng

October 6, 2008 · Filed Under humaniora 

Entah sejak kapan tradisi berlebaran dengan minuman kaleng di Batam di mulai. Yang jelas, menjelang lebaran, sebagian warga Batam berburu minuman kaleng. Agaknya, kalau tak ada minuman kaleng di rumah, terasa ada yang kurang. Selain lebih praktis, tidak banyak yang menyadari bahaya minuman kaleng berbagai merek ini.

Saya sudah menjadi warga Batam sebelas tahun. Setiap lebaran datang, berbagai merek minuman kaleng dicari dan dibagikan. Mulai dari pejabat kelas atas hingga masyarakat kelas bawah, gandrung dengan minuman kaleng. Maklum, saat itu banyak sekali tempat hiburan yang memberi hadiah lebaran berupa minuman kaleng.

Biasanya, para supir taksi mendapat hadiah dua atau tiga kes minuman kaleng dari tempat hiburan dimana ia mangkal. Sementara, para pejabat mendapat puluhan bahkan ratusan kes minuman kaleng. Saking banyaknya, tumpukan minuman itu dikirim pakai lori atau truk. Tak jarang pula, ada warga yang antri menunggu jatah pemberian minuman kaleng itu.

Saat itu, minuman kaleng yang dibagikan masih minuman yang bermerek pula seperti Coca-cola, Sprite, Fanta, dan kadang-kadang minuman kaleng yang mengandung alcohol seperti Stouth, bir Heineken dan sebagainya. Soalnya, harganya masih relative murah. ‘’Dulu, sekaleng Heineken hanya Rp500 saja. Pada saat lebaran, ada juga warga yang menyuguhkan bir,’’ kata seorang warga Bengkong.

Harga minuman kaleng makin lama juga makin mahal. Namun, tradisi memberi minuman kaleng tetap berjalan. Hanya saja, mereknya pun berubah. Jarang yang memberi minuman merek terkenal lagi, tapi diganti merek Sarsi, ABC Yeo’s dan sebagainya buatan Malaysia yang jauh lebih murah. Kalau yang memberi minuman tidak mau repot, maka yang dibagikan dalam bentuk kupon. Tinggal menjemput minuman ke toko grosir minuman tersebut.

Wartawan juga sering mendapat minuman kaleng setiap lebaran. Menjelang lebaran, bertahun-tahun saya membagikan minuman kaleng untuk puluhan wartawan yang diberikan sebuah perusahaan. Jumlahnya mencapai 90 kes. Ruang tamu rumah kontrakan saya, sampai penuh minuman kaleng. Minuman itulah yang saya bagikan.

Seorang wartawan tua pernah berkata kepada saya. ‘’Setiap lebaran, saya mendapat paling tidak 50 kes minuman kaleng, sampai keluarga saya sakit perut,’’katanya, tertawa. Saya tercengang.

Kalau perayaan lebaran dekat dengan Natal, saya jadi repot. Soalnya, puluhan kes minuman itu sudah dibagikan. Lalu, ada yang menelepon saya. ‘’Ketua, mana jatah aku?,’’katanya. Ops! Terpaksa saya belikan minuman kaleng yang sama mereknya dengan pemberian orang itu, lalu saya antar ke rumahnya. Makin lama, pemberian minuman kaleng makin sedikit, lalu lebaran kali ini tidak ada sama sekali.

Lebaran ini, tak satupun saya menerima minuman kaleng, apalagi untuk dibagikan. Istri saya membeli tiga kes minuman Cincau dan hari lebaran pertama tinggal beberapa kaleng saja. Permintaan minuman kaleng dari beberapa teman, terpaksa saya diamkan saja. Sebab, saya dan keluarga sebenarnya tak terlalu suka minuman kalengan ini. Selain rasanya makin tak enak, kami khawatir dampak minuman bersoda itu. Hanya jenis tertentu yang kami suka seperti Soya Bean, Cincau atau Sprite yang bisa bikin sendawa itu.

Informasi dari internet menyebutkan, ternyata minuman kaleng mengandung virus yang disebut Leptospirosis, yang berasal dari air kencing tikus yang mengering dan bereaksi membentuk zat tersebut. Virus tersebut menempel pada kaleng minuman itu dan berbahaya jika meminum minuman tersebut tanpa gelas atau sedotan. Pasalnya, kaleng-kaleng tersebut disimpan digudang dan sangat mungkin tercemar bakteri dan virus. Bagaimana menurut Anda? ***

Comments

2 Responses to “Minuman Kaleng”

  1. Farhan on October 6th, 2008 8:29 am

    Seberbahaya itu yah Pak Sokr? Dampaknya apa Pak?.

    Btw. dah lama banget ga posting… akhirnya ditunggu2 nih :D

    Salam

  2. Herman Tondang on October 9th, 2008 10:33 pm

    Tidak salah lagi, wajah ini begitu akrab dalam memori saya, teman diskusi dan berbagi cerita suka dan duka dalam berbagai hal, SOCRATES (at)nama yang agak terasa aneh (socarates) namun untuk panggilan yang sangat sederhana (at), moga moga saya tidak salah….. temanmu Herman Tondang

Leave a Reply