Merasa Bisa, Bisa Merasa
Belajar tidak selalu dari orang pintar. Bisa jadi, pengetahuan baru kita dapatkan dari orang yang baru kenal, orang-orang sederhana dan biasa-biasa saja. Tapi, dari mereka banyak mutiara kehidupan yang bisa diperoleh. Saya mencatat beberapa pelajaran dari orang-orang biasa, yang ternyata relevan dengan kondisi kekinian. Sementara, bagi sebagian orang, ini dianggap tidak keren, kuno dan djadoel alias jaman dulu.
Namanya Katidjan. lelaki separo baya itu senang dipanggil mbah. Saya mengenalnya saat lengan saya sakit bukan kepalang. Sudah enam tukang urut yang dimintai bantuan. Sampai akhirnya, saya dibawa teman ke rumah mbah Katidjan. Ia mengaku tukang pijat syaraf dengan pengobatan yang lain daripada yang lain. Saya dipijat dari kaki hingga kepala. Lalu, sebelah kaki diangkat, dan kaki Mbah itu mendarat di tubuh saya. Krakk..krak, tulang belulang saya bunyi semua. Setelah itu, penat hilang dan terasa lega.
Lama-lama, saya jadi akrab dengan mbah Katidjan. karena sama-sama perokok, ia menyarankan agar saya minum jamu Anik. Saya baru dengar, jamu apa itu? Oalah…ternyata jamu Anti Nikotin, produksi Djago. Saat ngobrol-ngobrol itulah, mbah Katidjan mengatakan, sekarang banyak orang yang rumongso biso, biso rumangsani. Saya nggak ngerti artinya. Melihat saya bengong, Mbah Katidjan menjelaskan, itu artinya banyak orang yang merasa bisa, tapi tidak banyak yang bisa merasa. Saya makin bingung.
Orang yang merasa bisa selalu merasa dirinya hebat, punya kemampuan lebih, merasa bisa jadi pemimpin seperti orang lain. Rasa percaya diri berlebihan dan cenderung sombong. Kadang-kadang, mereka merasa bisa sekedar menutupi kelemahannya. Ada yang merasa bisa jadi pemimpin, jadi manajer, jadi wali kota, wakil rakyat dan bahkan presiden.
Merasa bisa jadi anggota parlemen, misalnya. Entah berapa banyak calon legislatif yang merasa bisa dan merasa akan terpilih saat pemilu nanti. Merasa dikenal oleh calon pemilihnya, merasa bisa mewakili suara rakyat. Orang-orang yang merasa bisa ini, bahkan tidak segan-segan membicarakan kemampuannya jika ia menduduki posisi yang diinginkannya di antara sesamanya. Tentu sesama yang merasa bisa juga.
Sebaliknya, orang yang bisa merasa, akan menunjukkan sikap empati dan bisa merasakan, tidak mudah menjadi pemimpin, menjadi manajer, menjadi wali kota dan presiden. Sebab, semua jabatan itu memiliki tingkat kesulitan sendiri-sendiri, tantangan yang berbeda dan sebagainya. Orang yang bisa merasa, akan lebih rendah hati (bukan rendah diri) tidak selalu melihat ke atas, tetapi juga ke samping dan ke bawah.
Orang yang merasa bisa, kadang terjebak dengan pikirannya sendiri dan memandang orang lain secara streotype. Bisa dari bentuk tubuh sampai ke suku bangsa. Sedangkan orang yang bisa merasa, mampu menempatkan diri dalam perspektif orang lain dan memiliki empati terhadap orang lain. Selalu ada pertanyaan dan dialog dengan dirinya sendiri,” kalaulah saya jadi dia, apakah saya sanggup memikul beban seperti dia? dan sebagainya.
Selain Mbah Katidjan, saya sering medapat masukan, nasehat, dan kata-kata yang memberi motivasi. Seorang lelaki tua yang saya tidak kenal namanya, pernah bercerita tentang kisah orang yang mencari sesuatu dalam hidupnya, ibarat mencari air sebagai sumber kehidupan. Ia mengisahkan, ada orang yang mencari air, lalu menggali tanah berharap mendapatkan air.
”Ia menggali tanah dengan bersemangat dan sekuat tenaga. Namun, setelah menggali sedalam satu meter, air yang dicari tak ditemukan juga sehingga ia pindah dan menggali lubang yang lain. Satu meter digali, air tak ada, begitu seterusnya. Ia pindah-pindah dari satu lubang ke lubang yang lain. Tapi, air yang dicarinya tidak kunjung ditemukan, dan sudah banyak lobang yang digali,” kata pak tua itu.
”Kalau ibaratnya kamu mencari air, cobalah pakai apa yang diajarkan orang-orang tua dulu. Yakin, tekun, dan sabar. Cukup satu lobang saja yang digali, cepat atau lambat, air yang dicari akan ditemukan. Nah, seperti itu juga hal-hal lain dalam kehidupan ini,” katanya. Lama saya mencerna kata-katanya. Sampai akhirnya saya temukan satu kata mengartikan perumpamaan itu. Yakni: fokus.
Saya mengibaratkan seperti kamera. Sehebat apapun obyek fotonya, secanggih apapun kameranya, tapi kalau tangan sang fotografer bergoyang-goyang, fotonya akan kabur dan hasilnya tidak menarik dipandang mata. Banyak orang karena tidak fokus, merasa semua bisa, akhirnya tak satupun upayanya berhasil dan mendulang sukses.
Soal kesabaran, Dahlan Iskan juga punya perumpamaan yang menarik. ”Orang yang sabar itu, seperti sekolah dan ada tahapannya. Kelas satu, kelas dua, kelas tiga dan seterusnya. Tapi, kalau orang yang tidak sabar, dari kelas satu maunya loncat ke kelas tiga. Tapi, kalau Anda kelas satu terus, keterlaluan sabarnya,” katanya.
Pak Dahlan juga pernah berkata, dalam perusahaan, ada tiga orang yang tidak boleh dilawan. Pertama, atasan. Kedua, orang kaya. Dan ketiga, orang gila. ”Yang lebih celaka lagi, kalau atasan Anda, sudahlah kaya, gila pula,” katanya.
banyak sekali mutiara kehidupan di sekitar kita. Tidak hanya dari buku teks, tapi ada dimana-mana. Seperti kata pepatah, alam terkembang menjadi guru. Sayang, kita tak lagi banyak belajar kepada alam. Apa yang saya sampaikan ini, hanya sekedar berbagi. Saya yakin, Anda punya banyak kisah inspiratif dan mutiara kehidupan.
Saya hanya bisa berkata, saya tidak punya uang untuk dibagikan-bagikan secara cuma-cuma kepada Anda. Jadi, saya beri nasehat saja. Mudah-mudahan berguna. Jangan sampai seperti teman saya ini. Teman saya yang sudah bekerja sambil kuliah ini, malah pernah berkata lebih kasar lagi, meski disampaikan secara bergurau. ”Daripada kamu aku beri uang dan akhirnya jadi berak, lebih baik aku beri berak, siapa tahu bisa jadi uang setelah diolah jadi pupuk,” katanya tertawa ngakak. ***
Comments
2 Responses to “Merasa Bisa, Bisa Merasa”
Leave a Reply



artikel bapak,sangat memotivasi,intinya,kita perlu akan kesadaran diri.terimakasih bapak,salam sukses selalu,gbu-love depok.
wah bagus nih beritanya