Menyeberang Batam-Bintan

October 28, 2008 · Filed Under feature 

Bosan berputar-putar keliling pulau Batam? Anda bisa menyeberang ke Pulau Bintan. Naikkan mobil Anda dan keluarga ke kapal roro dari Telagapunggur menuju Tanjunguban. Tak sampai satu jam, Anda sudah bisa menyetir sendiri, menjelajahi Pulau Bintan. Seru dan mengasyikkan. 

 Pagi-pagi, saya sudah tiba di pelabuhan kapal roll on-roll off atau biasa disebut roro, di Telagapunggur. Dibandingkan pelabuhan ferry di sebelahnya, pelabuhan roro lebih sepi. Padahal, sejak dua tahun lalu, pelabuhan itu dikelola ASDP Ferry Indonesia. Ada tiga kapal roro yang dioperasikan. Yang paling besar, Kapal Mo-tor Penyeberangan (KMP) Kuala Batee II, yang mampu membawa 21 mobil dan puluhan sepeda motor.

    Selain warga Tanjunguban dan Lobam, kapal yang berlayar dua kali dari Ba-tam jam 10.00 pagi dan jam 16.00 sore, dan dari Tanjunguban jam 08.00 pagi dan jam 13.00 siang, cukup ramai. ‘’Pegawai Pemprov yang bawa mobil dari Batam ke Tanjungpinang, sering naik roro. Tapi, belum banyak warga Batam yang tahu, kini bisa menyeberang ke Bintan bawa mobil sendiri,’’ kata seorang warga Batam.

   Ingin menjajal jalan-jalan di Pulau Bintan, saya mencoba naik kapal roro ini. Syaratnya, mobilnya bukan seri X, mengurus surat jalan dan dilengkapi fotocopy BPKB, STNK, SIM dan KTP serta membayar tiket kapal roro. Hanya lima menit, surat jalan dari polisi yang diteken Kapolpos Pelabuhan Penyeberangan ASDP Aiptu Ramli itu, selesai. Surat jalan itu berlaku tiga bulan, khusus penyeberangan roro Telagapunggur-Tanjunguban.

  Harga tiket angkutan mobil bervariasi. Jenis sedan Rp178.400 sekali jalan. Penumpang dewasa Rp14.800 dan anak-anak Rp11.700. Saat jam kebe-rangkatan tiba, mobil yang akan menyeberang, mulai masuk ke kapal Kuala Ba-tee, dan disusun rapi dari haluan hingga ke buritan. Penumpang bisa duduk di lantai dua. Meski sudah agak tua, kapal roro Kuala Batee cukup nyaman dan lapang. Jika penumpang ramai, ASDP mengoperasikan dua kapal lainnya yang lebih kecil kapasitasnya.

     Beberapa saat setelah berangkat, dua awak kapal bernama Amiruddin dan Basri, memperagakan cara mengenakan life jaket atau pelampung keselamatan penumpang. Jika di pesawat terbang yang terdengar suara pramugari dan diperagakan awak kabin, di kapal roro pakai pengeras suara yang biasa dipakai demonstrasi.

     ’Assalamualaikum. Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, kami memperagakan cara menggunakan life jacket untuk keadaan darurat. Caranya, sama dengan memakai baju biasa, lalu kancingkan talinya dan tiup peluitnya untuk meminta bantuan. Semoga bapak ibu senang dengan pelayanan kami, dan selamat sam-pai di tujuan,’’kata Amiruddin, lalu mengatakan hal sama di ruangan tengah kapal. Kata-katanya, terdengar lagi oleh penumpang di depan. Beberapa pe-numpang yang baru pertama kali naik roro, tersenyum-senyum. ‘’Mirip naik pesawat,’’katanya, tertawa.

    Perjalanan dari Telagapunggur ke Tanjunguban ditempuh selama 55 menit. Satu persatu, penumpang dan mobil keluar dari perut kapal. Saya yang sudah lama tak pergi ke Tanjunguban,  melihat ibukota kecamatan binut ini sudah ber-kembang pesat. Jalan-jalan, meskipun masih kurang lebar dan dua arah, makin mulus. Yang paling terasa, adalah sejak diperbaikinya jalan di sepanjang pantai Sekera yang melintasi Kelurahan Tanjunguban Utara, Sebong Pereh dan Se-bong Lagoi dan Sungai Kecil. Kalau menggunakan jalan satunya, berkelok-kelok dan banyak tikungan tajam, jalan di pantai Sekera lebih lurus sehingga kita bisa memacu kendaraan lebih cepat hingga ke simpang Lagoi.  ‘’Jalan lama berkelok-kelok yang dibangun Jepang sehingga warga bilang, jalan itu dibikin Jepang mabuk,’’kata seorang warga, bergurau.

   Tanjunguban makin maju belakangan ini. Kota kecamatan itu makin ramai dan ruko-ruko baru dibangun, meski listrik masih jadi masalah. Bank-bank terus bermunculan seperti BCA, Bank Mandiri, BII, BNI dan BPR Bintan.  Rencananya, bulan depan juga akan diresmikan Bank Riau cabang pembantu Tanjunguban.

  Jarak tempuh Tanjunguban ke Tanjungpinang jauhnya 90 kilometer. Jika jalan di Busung dibangun, maka jarak tempuhnya makin singkat menjadi 60 kilometer saja. Dari Tanjunguban, saya meluncur menuju Tanjungpinang. Jalannya lumayan mulus, tapi sempit dan banyak tikungan tajam dan naik turun bukit. Seke-liling jalan, masih banyak hutan dan baru ada rumah penduduk kalau melintasi desa.

  Tak sampai setengah jam, saya melewati Simpang Lagoi, kawasan wisata ter-padu yang terkenal itu, lalu terus ke Sribintan, Toapaya, Busung, melewati jalan lintas Barat dan tembus ke Bintan Centre, Tanjungpinang. Mengemudi dengan kecepatan rata-rata 60 hingga 70 km/jam, saya menempuh Tanjunguban-Tan-jungpinang dalam waktu 1,5 jam. Di sepanjang jalan, bendera partai terpasang. Entah siapa sasaran kampanye partai-partai itu lantaran dipasang di tempat sepi begitu.

  Jangan khawatir tersesat di jalan. Sebab, selain itu jalan satu-satunya, kita bisa bertanya kepada warga setempat, arah yang benar. Sebaiknya, Anda mengemudi siang hari karena tak satupun lampu jalan terpasang dan kondisi jalan yang rawan kecelakaan. Setelah beristirahat sejank di Tanjungpinang, saya kembali menempuh rute yang sama menuju Lagoi. Saya heran ketika Sigit Rahmat, Kepala Perwakilan Batam Pos di Tanjungpinang mengatakan, sayalah orang Batam Pos pertama yang menempuh rute Tanjunguban-Tanjungpinang naik mobil dari Batam.  Yang jelas, jika di Batam Anda mengemudi paling jauh hanya 54 kilometer sampai ke Galang melewati jembatan Barelang, kini ada pilihan lain, berlibur ke Pulau Bintan bisa menjadi pilihan naik kapal roro. Seperti semboyan ASDP: Menjadi jembatan bangsa. Biarlah proyek jembatan Batam-Bintan menjadi janji politik saja. ***

 

 

Comments

2 Responses to “Menyeberang Batam-Bintan”

  1. love on October 31st, 2008 10:37 am

    bapak socrates,artikel bagus,utk membantu turis ke batam,dan pulau yang lainnya,klo boleh kasih info tentang kulinernya sekalian ya pak.salam sukses selalu.GBU-Love depok

  2. Prazt on November 1st, 2008 3:28 am

    Wahh liputan perjalannya oke loh… memberi gambaran bahwa batam tidak seluas barelang aja kalo bosan keliling batam kita bisa ke bintan!!

    next time kalo ada liputan sambil berkendara bawa mobil boleh nieh ikutan :-) (semisal kapal roro dari tanjung uban ke kuala tungkal sudah terwujud or dll-dll)…

    cheers!

Leave a Reply