Mahakam di Tengah Malam
Perjalanan panjang ke Kilometer 26 Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, cukup melelahkan. Namun, rasa kebersamaan, keperdulian saat krisis ekonomi global, terasa mengental. Ini jadi modal menghadapi krisis yang tak tahu kapan akan berakhirnya.
Melintasi udara dari Batam ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Balikpapan, menempuh jalan darat ke Samarinda dan melintasi Bukit Soeharto, terus menuju desa Tanjungjati, menyeberangi Sungai Mahakam naik perahu klotok di waktu malam, lalu tibalah kami di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cahaya Fajar Kaltim.
Lokasinya di tengah hutan. Perjalanan yang sungguh melelahkan. Dua jam naik pesawat dari Jakarta ke Balikpapan, lalu naik bus ke Samarinda, terus ke pinggir Sungai Mahakam, menyeberang pakai perahu, langsung rapat hingga dinihari. Badan rasanya penat alang kepalang.
Namun, saya terhenyak menyaksikan potret kemiskinan daerah terkaya di republik ini. Rumah-rumah kayu, jalan tanpa aspal dan berlubang, krisis listrik di berbagai wilayah, penataan kota yang semrawut lantaran keterbatasan di lokasi pinggir sungai. Berbanding terbalik dengan kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Kalimantan.
Gundukan batubara yang siap diekspor, hasil hutan yang melimpah hingga minyaknya yang disedot dari dalam tanah. ‘’Seluruh Kalimantan ini sudah tersambung pipa minyak karena tanahnya berpasir, mungkin di bawah tanah sudah bolong semua,’’ kata Netty, warga Balikpapan keturunan Dayak dan Banjar.
Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali baliho dan poster dukungan buat caleg dan kepala daerah. Saya bertanya-tanya, apakah mereka perduli dengan nasib warga Kalimantan yang ibarat ayam mati di lumbung padi? Wajah mereka calon kepala daerah dan calon legislative itu ganteng-ganteng dan kelihatannya kaya-kaya.
Sementara, krisis terus menghantui berbagai belahan dunia. Bursa ditutup. Investor panik dan butuh likuiditas segera. Sebab, Amerika Serikat yang dikenal sebagai imperium kapitalisme itu, sedang limbung dihajar krisis. Nilainya tak tanggung-tanggung. 540 Triliun Dolar AS. Meski pemerintah Bush sudah mengguyurkan dana bailout, tidak mampu mengatasi krisis yang melanda.
Dalam perjalanan dari Samarinda ke Balikpapan, seorang pengusaha terkenal Batam menelepon saya. ‘’Krisis ini lebih buruk tiga kali lipat dibandingkan krisis yang pernah terjadi tahun 1930. Saya bukan tak mau bicara soal krisis keuangan ini, dampaknya tidak baik buat saham-saham saya. Perusahaan di kawasan industri di Batam bisa berkurang separuh dan dampaknya pada tenaga kerja,’’katanya, serius.
Di tengah gejolak krisis, saya menyaksikan Kalimantan yang kaya minyak, kayu dan batubara itu, masih tetap miskin. Samarinda sulit berkembang menjadi ibukota propinsi, dan kemajuannya dikejar Balikpapan. Jalan-jalan yang curam dan mendaki lantaran kontur tanahnya berbukit-bukit di pinggir sungai itu, penuh lubang dan sempit.
Rumah-rumah panggung, diselingi rumah beton yang megah pertanda disparitas pendapatan penduduk yang timpang. Kemegahan Samarinda hanya tersisa dari pembangunan stadion setelah sukses melaksanakan hajatan Pekan Olahraga Nasional. Gundukan batubara dalam kapal tongkang, silih berganti menyusuri Sungai Mahakam. Kapal-kapal kayu dan sampan, menjadikan sungai itu sebagai jalur pelayarannya.
Seorang pengusaha yang perduli dengan bumi Kalimantan, berupaya menyediakan energi listrik malah terancam kelangsungan bisnisnya. Ia memproduksi listrik dan menjual ke PLN dengan harga Rp475/kwh. Sementara, biaya produksi PLN Samarinda Rp2000/kwh. Celakanya, harga batubara yang disepakati dalam kontrak Rp20.000 kini melonjak dua kali lipat.
‘’Saya tidak mau berbisnis dengan cara injak kaki atau nyogok. Ternyata, percuma saja kita baik sama Bupati, Wapres atau presiden sekalipun. PLN tetap bersikeras tidak mau merubah kontrak. Kini, seluruh kekayaan saya sudah tersedot proyek ini,’’katanya, menyesali keputusannya.
Memang, tak selamanya berbuat baik dan lurus-lurus saja, akan mulus hasilnya. Sedangkan yang bengkok-bengkok dan melanggar aturan bisa sukses dan meraup untung banyak. Ada istilah cost of doing business. Begitulah yang terjadi di negara yang korupsi, kolusi dan injak kaki sudah dianggap biasa dan wajar-wajar saja.
Kalau begini caranya, kapan provinsi kaya ini akan menikmati hasil kekayaannya sendiri, dalam bentuk listrik yang akan membuat Samarinda terang benderang? Tapi, mungkin PLN kualat. Saat tower listrik di Balikpapan roboh, kota itu gelap gulita dan listrik padam bergilir selama tiga hari. Agaknya, Mahakam akan tetap gelap di waktu malam. ***
Comments
One Response to “Mahakam di Tengah Malam”
Leave a Reply



Artikelnya menarik…..
Saya tunggu artikel berikutnya…