Lansia Batam dan Husnul Khatimah
Setiap anak, pasti punya orang tua. Tetapi, belum tentu setiap orang tua punya anak. Ketika memasuki usia senja, pada orang tua yang menjadi lanjut usia (lansia) membutuhkan perhatian, kepedulian dan penghargaan yang tidak sebatas lips service belaka.
TANGGAl 29 Mei kemarin, tepat 13 tahun peringatan Hari Lansia. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, Lansia adalah orang yang sudah berumur 60 tahun ke atas. Meski pemerintah sudah membentuk Komisi Nasional Perlindungan Penduduk Lanjut Usia atau Komnas Lansia, sebanyak 1,5 juta Lansia di republik ini, hidup terlantar.
Barangkali, tak banyak yang mengingat, apalagi memperingati Hari Lansia Nasional itu. Sebab, selain kurang punya nilai jual, hari penting tersebut kalah populer dengan misalnya Valentine Days atau hari besar lainnya. Padahal, tanpa orang tua, kita tak akan ada di dunia ini.
Jumlah orang lanjut usia di Indonesia saat ini sekitar 16,5 juta jiwa dari total penduduk yang mencapai lebih 220 juta jiwa. Jumlah tersebut, terus bertambah seiring meningkatnya angka harapan hidup penduduk Indonesia, termasuk meningkatnya pelayanan kesehatan.
Pada tahun 1980, angka harapan hidup warga Indonesia adalah 54 tahun (perempuan) dan 50,9 tahun (laki-laki) . Sepuluh tahun kemudian, tahun 1990 meningkat menjadi 64,7 tahun (perempuan) dan 61 tahun (laki-laki). Pada tahun 2000 meningkat lagi menjadi 70 tahun (perempuan) dan 65 tahun (laki-laki). Sehingga, tidak berlebihan jika pada abad ke 21disebut sebagai abad lansia (era of population ageing).
Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, sebagian besar lansia di Indonesia (61,73%) tinggal di pedesaan. Lansia perempuan jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. Lalu, seperti bagaimana data dan jumlah lansia di Batam?
Sebagai kota urban, pertumbuhan penduduk Batam terbilang pesat. Pada periode tahun 1990 sampai 2000, laju pertumbuhan kota pulau ini mencapai 12,87 persen. Namun, sejak dibatasi melalui Perdaduk, pertumbuhannya bisa ditekan menjadi 6,36 persen pada tahun 2001 hingga 2006.
Sampai Agustus 2007 penduduk Batam berjumlah 727.878 jiwa yang tersebar di 12 kecamatan dan 64 kelurahan. Menurut Kepala Dinas Kependudukan Kota Batam Sadri Khairuddin, hingga Desember 2008 total penduduk Batam 899.944 jiwa. Jumlah lansia mencapai 13.981 jiwa.
Perinciannya, usia 60 sampai 64 tahun 6.363 jiwa, usia 65 sampai 69 tahun 3.866 jiwa, usia 70 sampai 74 tahun 1.852 dan usia 75 tahun ke atas 1.900 jiwa. ‘’Kebanyakan berdomisili di pulau-pulau dan kawasan hinterland,’’ kata Sadri Khairuddin.
Mengapa kita harus peduli dengan para lansia? Lanjut usia sering diidentikan dengan kepikunan, ketergantungan pada orang lain (baca: keluarga), tidak produktif, menurunnya kemampuan baik secara fisik, ekonomi dan sosial. Sehingga, tidak jarang muncul perasaan tak berdaya dan hanya menunggu datangnya kematian.
Meski kita sering mengumandangkan bahwa para lansia dihormati karena memiliki kearifan dan pengalaman lebih banyak, faktanya berbicara lain. Tidak sedikit keluarga yang menitipkan para lansia ke panti jompo, atau ‘’dipaksa’’ mengasuh cucu, disediakan baby sitter dan sebagainya.
Psikolog Sartono Mukadis, yang pada usia senja tetap produktif meski kakinya diamputasi itu mengatakan, ia selalu memberi semangat pada dirinya untuk menikmati hari tua. Sebab, ia tak ingin mengalami kematian psikologis berupa kemarahan terhadap diri sendiri karena merasa tak berguna, serta kematian sosial berupa perasaan tak dibutuhkan dan menjadi beban bagi orang lain.
Kendati di Batam pada umumnya penduduk berusia produktif, dengan jumlah lansia yang mencapai 13.981 jiwa itu, merupakan generasi yang perlu mendapat perhatian dan meningkatkan partisipasi mereka dalam kegiatan sosial, ekonomi, kesehatan, kerohanian dan sebagainya. Budaya kita tentu berbeda dengan Singapura yang mengabaikan para lansia sementara anak-anaknya sibuk bekerja.
Sering orang mengadakan hajatan pada saat anaknya lahir, berulang tahun, menikah dan seterusnya. Namun, jarang orang merayakan pada saat ia memasuki usia pensiun dan menjadi lansia. Paling tidak, perlu dikampanyekan semangat menikmati hari tua. Bukan menghadapinya dengan ketakutan dan menimbulkan apa yang disebut post power syndrom.
Salah satu kegiatan para lansia yang cukup positif adalah majlis taklim Husnul Khatimah, yang dikelola dan dibina oleh Masjid Raya Batam. ‘’Awalnya, kami mengadakan pesantren kilat khusus lansia. Ternyata, sambutannya luar biasa. ‘’Kini, setiap minggu lebih 250 orang lansia adalah anggota aktif,’’ kata Teten Nasrudin, salah seorang pengurus Masjid Raya yang sejak awal ikut membidani kelahiran majlis taklim ini.
Menurut Teten, ia menyaksikan betapa para lansia anggota majlis taklim Husnul Khatimah menemukan kegembiraan, kebersamaan, teman berbagi suka dan duka dan bersama-sama menimba ilmu agama. ‘’Yang diperlukan mereka adalah mengisi batinnya,’’ kata Teten, sambil menunjuk dadanya.
Selain pengajian mingguan secara rutin, sejak berdiri pada 5 April 2008 lalu, anggota majlis taklim Husnul Khatimah terus bertambah. Melihat animo para lansia itu, Teten menggagas mendirikan villa pesantren Husnul Khatimah. ‘’ Misinya, sebagai pembinaan dan pemberdayaan orang tua dan meningkatkan kualitas hidupnya secara terpadu. Makanya namanya bukan pondok, tapi villa pesantren,’’ ujar Teten.
Apa yang akan dipelajari para lansia di pesantren itu? Antara lain, membaca Al-Quran, memahami hukum Islam, tauhid dan akhlak. Juga pemberdayaan di bidang ekonomi dan sosial kemasyaratan. Teten sudah menyiapkan proposal pembangunan villa pesantren tersebut. Ia berharap, para lansia di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, ikut tertarik bergabung dengan para lansia di Batam.
Ketidak berdayaan para lansia, tidak hanya karena keterbatasan fisik karena makin menua, tapi juga oleh sikap dan label yang dilekatkan kepada mereka. Antara lain, pembatasan dan isolasi secara sosial. Misalnya, agar orang tua alias lansia di rumah saja. Akibatnya, mereka kehilangan kepercayaan diri, frustrasi dan akhirnya sakit-sakitan.
Gagasan mendirikan vila pesantren Husnul Khatimah untuk para lansia, patut didukung. Sebab, selain jumlah lansia di Batam terus bertambah, misalnya anak yang merantau ke Batam dan kehidupan sosial ekonominya mulai meningkat, membawa orangtuanya yang sudah lansia ke kota ini.
Setahun usia majelis taklim Husnul Khatimah, selain mengadakan pengajian rutin sekali seminggu, mereka juga mengadakan wisata dakwah ke Pulau Setokok. Malah, baru-baru ini berkunjung ke Masjid Sultan di Singapura.
Selain itu, pesantren lansia ini bisa menjadi contoh dan model di kota-kota lain. Sehingga, para lansia menikmati hidup dan hari tuanya dengan penuh kegembiraan.
Batam, 29 Mei 2009
Tulisan ini dimuat di Harian Batam Pos edisi 29 Mei dan saya dedika-sikan buat mama saya yang pada 22 Agustus nanti berusia 67 tahun.
Comments
2 Responses to “Lansia Batam dan Husnul Khatimah”
Leave a Reply



Assalamualaikum bang… saya karyawan POSMETRO MEDAN (sodara lah berarti kita… hehehe)… mau minta izin ma abang buka2 blog ama baca tulisan abang… ketagihan ni gara2 nyari foto Pak Rida (bos kita) trus pas di klik rupanya link ke blog abang inilah… sekalian aja kubaca kisah perjalanan abang sama Pak Rida ke kampung yang habis manis sepah dibuang… salam kenal ya bang…
pak bisa kirimkan data lansia tahun 2007-2008 thanks ya pak saya sangat butuh data tersebut demi kelancaran kti saya pak……….