<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kisah PWI Kepri (5-Habis)</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/kisah-pwi-kepri-5-habis/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com/kisah-pwi-kepri-5-habis/</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Dec 2011 05:00:23 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: eko sumardi</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/kisah-pwi-kepri-5-habis/comment-page-1/#comment-153</link>
		<dc:creator>eko sumardi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 08:57:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=251#comment-153</guid>
		<description>Bang Socrates salam kenal,
Secara pribadi saya bangga dan salut membaca tulisan Abang ttg kisah PWI Kepri dan suka duka memimpin para jurnalis itu.

Saya memang belum kenal Abang, tapi saya bisa menangkap kegundahan hati melihat kondisi jurnalis di Batam. Barangkali itu potret kecil dari persoalan para jurnalis negeri ini. Semuanya berdalih: karena kesejahteraan.

padahal, tak ada yang bisa dibanggakan dr seorang jurnalis, selain karya yang bagus dan mental/moral yang bersih.

Memang sih,    jurnalis bukan malaikat. Ia juga bisa tersandung pada ekonomi yang membuatnya  jadi sulit membedakan mana haknya dan mana yg bukan. Kalau sudah demikian, karya yg dihasilkan pun berpotensi dipertanyakan. Tapi itulah realita kehidupan jurnalis negeri ini.

Sorry Bang, barangkali saya agak ngelantur. Tapi ada kalimat bijak yang memaksa saya harus  mengirim komentar ini: meski media mereka kadang terbit kadang tidak, tapi jangan persoalkan hal itu karena akan membuat mereka tersinggung.

Btw, saya di 08176467363, email: mardisaka@yahoo.com, tinggal di jakarta, juga seorang jurnalis. Kalau tidak keberatan saya bisa minta nomor Abang.

Tks sebelumnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Socrates salam kenal,<br />
Secara pribadi saya bangga dan salut membaca tulisan Abang ttg kisah PWI Kepri dan suka duka memimpin para jurnalis itu.</p>
<p>Saya memang belum kenal Abang, tapi saya bisa menangkap kegundahan hati melihat kondisi jurnalis di Batam. Barangkali itu potret kecil dari persoalan para jurnalis negeri ini. Semuanya berdalih: karena kesejahteraan.</p>
<p>padahal, tak ada yang bisa dibanggakan dr seorang jurnalis, selain karya yang bagus dan mental/moral yang bersih.</p>
<p>Memang sih,    jurnalis bukan malaikat. Ia juga bisa tersandung pada ekonomi yang membuatnya  jadi sulit membedakan mana haknya dan mana yg bukan. Kalau sudah demikian, karya yg dihasilkan pun berpotensi dipertanyakan. Tapi itulah realita kehidupan jurnalis negeri ini.</p>
<p>Sorry Bang, barangkali saya agak ngelantur. Tapi ada kalimat bijak yang memaksa saya harus  mengirim komentar ini: meski media mereka kadang terbit kadang tidak, tapi jangan persoalkan hal itu karena akan membuat mereka tersinggung.</p>
<p>Btw, saya di 08176467363, email: <a href="mailto:mardisaka@yahoo.com">mardisaka@yahoo.com</a>, tinggal di jakarta, juga seorang jurnalis. Kalau tidak keberatan saya bisa minta nomor Abang.</p>
<p>Tks sebelumnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

