Kisah PWI Kepri (5-Habis)
Ada saatnya untuk menjadi pemimpin, ada pula saatnya harus menjadi pengikut. Jauh sebelum Konfercab dimulai, saya sudah memutuskan, tidak mau maju lagi dalam pemilihan ketua PWI Cabang Kepri. Meski masih ada kesem-patan satu periode lagi, saya merasa cukup sudah. Toh, saya sudah tujuh tahun memimpin organisasi wartawan ini. Tiga tahun di perwakilan, empat tahun di cabang.
Itu sebabnya, saya lebih berkonsentrasi membuat laporan pertanggung-jawaban yang akan akan disampaikan pada Konfercab. Saya menghargai ha-rapan beberapa teman, yang meminta saya maju lagi dalam pencalonan. Tapi, saya minta maaf tidak bisa memenuhi harapan itu. Namun, saya juga bingung, ketika ditanya, siapa calonnya?
Saya berpendapat, setiap pengurus punya peluang menjadi ketua. Me-reka bukan tak mampu, tapi belum mendapat kesempatan. Ada beberapa nama yang menurut saya, pantas menjadi ketua. Masalahnya, ada yang aktif, setengah aktif dan tidak aktif sebagai pengurus selama ini. Dari sekian nama itu, hanya Ramon Damora yang pernah mengatakan kepada saya, dia akan maju dalam pemilihan ketua PWI Cabang Kepri.
Saya senang, karena ada yang mau maju memikul tanggungjawab ini. Selain itu, ada beberapa nama lain, yang juga pengurus. Saya malah membuat berita pertama kali soal nama-nama calon ini, agar suasananya jadi hangat dan bursa calon ketua PWI Kepri ini menarik perhatian publik. Apalagi, kami semua wartawan yang selalu suka membesarkan organisasi lain, tapi bukan organisasi wartawan itu sendiri.
Setelah membuat surat keputusan terakhir, tentang panitia Konfercab, tugas saya hanya memantau perkembangan dan kerja panitia. Kali ini, saya ingin teman-teman yang lebih muda yang bergerak, seperti Arifuddin Jalil, Haryanto, Said Sirajuddin dan Amri. Waktu terus berjalan. Namun, saya melihat panitia ber-jalan lamban. Masalahnya, saat rapat yang datang hanya empat lima orang, dan rapat berikutnya jumlahnya segitu juga tapi orangnya sudah lain.
Begitulah. Saya sempat kecewa melihat ini. Sama saja seperti rapat-rapat pengurus dulu. Sampai akhirnya, dua wartawan tua yang duduk menjadi pena-sehat dalam kepanitian, datang ke Batam. Mereka menantang wartawan muda, apa yang tak bisa dilakukan PWI. Ternyata, yang dilakukan mereka adalah ngo-tot minta surat mandat untuk mengambil dana bantuan! Saya melarang panitia memberikan mandat itu. Sebab, dalam ketentuan keuangan, yang boleh me-ngambil dana tersebut hanya ketua dan sekretaris.
Kekhawatiran saya terbukti. Ternyata, hampir separuh dana bantuan, me-reka bagi-bagi dan sebagiannya baru diserahkan kepada panitia. Padahal. Mes-tinya wartawan tua itu memberi contoh kepada yang muda, baik dalam kata maupun perbuatan. Tapi begitulah. Tidak banyak orang yang mau menghidup-kan organisasi, tapi jauh lebih banyak orang yang mau hidup memanfaatkan organisasi.
Jauh-jauh hari sebelum Konfercab, beberapa anggota dan pengurus ber-tanya kepada saya. Siapa yang saya dukung? Jujur saja, saya tak biasa dukung mendukung ini. Lagipula, saya haqul yakin, mereka yang terpilih adalah orang yang terbaik di antara yang baik. Bukankah wartawan itu seorang intelektual, memiliki moral tinggi dan idealisme? Jadi, saya serahkan kepada anggota.
Karena terus ditanya, saya lalu mengeluarkan beberapa kriteria. Pertama, punya komitmen moral. Ini sangat erat kaitannya dengan kode etik jurnalistik. Apalah jadinya kalau ketuanya ’’menanduk’’ sana-sini, menggertak orang dan sebagainya? Kedua, pengurus aktif. Ini diatur dalam PD/PRT dan selama calon tersebut jadi pengurus (tentu saja yang aktif) ia telah mulai belajar memahami persoalan kewartawanan.
Ketiga, paham hukum dan politik. Sebab, media massa bisa saja menjadi alat penguasa dan bukannya menjalankan fungsinya sebagai watchdog dan kontrol sosial. Ranah hukum harus dipahami dengan baik lantaran banyak sekali wartawan yang terjerat hukum karena perbuatan mencemarkan nama baik. Keempat, punya kemampuan manajerial. Artinya, ia mampu memenej organisasi dan orang-orang di dalamnya, tampil ke dalam maupun keluar mewakili organi-sasi. Inilah salah satu fungsi Ketua PWI Cabang.
Kelima, punya pengalaman di bidang ekonomi dalam artian, ia mampu membawa organisasi tidak sebagai organisasi peminta-minta. Apalagi, tak satu-pun anggota PWI mau membayar iyuran. Malah, membayar kartu anggota saja yang sebagian besar dananya harus disetor ke PWI Pusat, lebih banyak yang tak bayar daripada bayar. Nah, saya kira PWI harus punya usaha yang legal dan membentuk sebuah koperasi yang kuat.
Keenam, punya istri. Kenapa begitu? Karena ada organisasi pendamping yang dibina oleh PWI dan berbeda anggaran dasarnya dengan PWI. Namanya Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI). Gunanya adalah menghimpun istri-istri dan keluarga wartawan dalam satu wadah sehingga silaturahmi akan men-jadi semakin baik.
Ketujuh, menghormati senior. Pasalnya, umumnya wartawan sering dihinggapi sikap arogan dan mental megalomania sehingga kesannya sombong dan suka meremehkan orang lain. Nah, apalagi kalau wartawan itu sudah senior. Tentu saja ada wartawan tua (umurnya) dan wartawan senior, yang meskipun sudah tua tetap produktif menulis. Anggota PWI menyatukan yang yunior dan senior ini.
Kedelapan, mau belajar dan rajin menulis. Ini akan menjadi acuan warta-wan-wartawan muda sehingga sang wartawan tidak hanya pandai berorasi karena ia memang bukan orator, pandai menjilat dan melobi kanan-kiri, tapi ia membuktikan bahwa ia memang seorang penulis tangguh. Wartawan dinilai dari hasil karyanya, ya berita, tulisan atau foto itu tadi.
Seorang teman, Hasan Aspahani, menambahkan kriteria yang saya sebutkan tadi dua lagi, yakni punya blog dan mampu meningkatkan kesejahte-raan anggota. Saya pikir, ini hanya kriteria umum. Dari kriteria tersebut, ada salah satu pengurus yang menurut saya paling mendekati. Tapi, ia tak terpilih.
Saat Konfercab dilaksanakan, lagi-lagi saya tertawa dalam hati men-dengar janji gubernur soal pembangunan kantor PWI Cabang Kepri. Sebab, tiga tahun sebelumnya, di ruangan ballroom Hotel Godway itu juga, ia juga berjanji di depan ratusan pengurus PWI Cabang se Indonesia. ’’Kita akan bangun gedung PWI,’’ katanya. Hadirin tepuk tangan. Saat janji kedua, lagi-lagi wartawan tepuk tangan. Ha..ha..ha..
Saya menunggu giliran membacakan laporan pertanggungjawaban. Mes-tinya, setiap pengurus dari setiap bidang, membuat laporan lalu saya ba-cakan. Sampai saatnya tiba, tak satupun pengurus yang membuat laporan. Akhirnya, saya buat sendiri. Padahal, itu adalah laporan pertanggungjawaban pengurus, bukan ketua.
Laporan pertanggungjawabab saya diterima. Rasanya lega sekali. Na-mun, pada saat pemilihan ketua, saya merasa aneh dan risih. Sebab, selama ini saya merasa, PWI tidak akan pernah kuat apabila anggotanya yang berasal dari berbagai media dan bersaing itu, tidak kompak dan solid. Saya selama ini tidak pernah menonjolkan media tempat saya bekerja, tapi di organisasi tentu saja lebih baik kita bicara soal profesi dan teman senasib dan sepenanggungan.
Yang terjadi adalah, kasak-kusuk soal dukungan dan menggunakan cara-cara seperti partai politik. PWI organisasi profesi, bukan parpol. Rapat-rapat tertutup, lobi-lobi, bisik-bisik dan saling mengukur kekuatan. Wah, apa-apaan ini? pikir saya. Sambil bercanda saya berkata,’’ wah, suasana di ruangan ini tak ubahnya seperti di Senayan,’’ kata saya. Ya, karena aroma politiknya sangat kental seperti yang dilakukan para politisi kita.
Akhirnya, pemilihan dilakukan. Dan Ramon Damora yang masih berusia 30 tahun terpilih menjadi ketua. Saya kira, Ramon akan memecahkan rekor sebagai ketua PWI Cabang termuda di Indonesia. Saya bersyukur, telah melak-sanakan tugas saya. Saya sadar, saya tidak berhasil meningkatkan kese-jahteraan anggota PWI Kepri dan kami tidak punya kantor. Paling tidak, saya mencoba meletakkan dasar organisasi dan tinggal teman-teman melanjutkan perjuangan itu. Hidup wartawan Indonesia! Hidup PWI Kepri! ***
Comments
One Response to “Kisah PWI Kepri (5-Habis)”
Leave a Reply



Bang Socrates salam kenal,
Secara pribadi saya bangga dan salut membaca tulisan Abang ttg kisah PWI Kepri dan suka duka memimpin para jurnalis itu.
Saya memang belum kenal Abang, tapi saya bisa menangkap kegundahan hati melihat kondisi jurnalis di Batam. Barangkali itu potret kecil dari persoalan para jurnalis negeri ini. Semuanya berdalih: karena kesejahteraan.
padahal, tak ada yang bisa dibanggakan dr seorang jurnalis, selain karya yang bagus dan mental/moral yang bersih.
Memang sih, jurnalis bukan malaikat. Ia juga bisa tersandung pada ekonomi yang membuatnya jadi sulit membedakan mana haknya dan mana yg bukan. Kalau sudah demikian, karya yg dihasilkan pun berpotensi dipertanyakan. Tapi itulah realita kehidupan jurnalis negeri ini.
Sorry Bang, barangkali saya agak ngelantur. Tapi ada kalimat bijak yang memaksa saya harus mengirim komentar ini: meski media mereka kadang terbit kadang tidak, tapi jangan persoalkan hal itu karena akan membuat mereka tersinggung.
Btw, saya di 08176467363, email: mardisaka@yahoo.com, tinggal di jakarta, juga seorang jurnalis. Kalau tidak keberatan saya bisa minta nomor Abang.
Tks sebelumnya