Kisah PWI Kepri (4)
Kita lahir, hidup dan mati dalam organisasi. Mulai dari mendapat akte kelahiran, hidup dalam organisasi bernama keluarga dan negara, lalu mendapat surat keterangan kematian dari kantor lurah atau RT/RW. Orang yang tak paham berorganisasi, ibarat berada dalam hutan rimba yang menyesatkan.
Banyak orang suka menjadi ketua, atau jabatan tertentu dalam organisasi. Namun, soal kerja dan tangungjawab, nomor sekian. Malah, banyak pula yang namanya tercatat di beberapa organisasi sekaligus. Selain merasa penting, mungkin untuk menambah catatan pada daftar riwayat hidupnya. Pernah menjadi ini, itu dan sebagainya. Beberapa pengurus PWI Kepri, juga begitu. Tidak aktif meski namanya tercatat sebagai pengurus.
Kantor PWI pindah, tenaga sekretariat satu-satunya, Marlina yang bekerja empat tahun di PWI ikut pindah. Sayangnya, sampai sewanya habis selama setahun, tak satupun pengurus yang datang ke kantor itu. Tinggallah Lina bengong sendirian, menunggui kantor. Saya melarangnya keluar saat jam kantor, khawatir ada anggota yang datang dan tidak terlayani.
Sejak kenaikan UMK, gaji Lina saya naikkan. Namun, kas PWI kosong dan tidak ada pendapatan dari kos-kosan lagi seperti di kantor lama. Gaji Lina saya bayar dari uang saya sendiri. Setiap awal bulan, ia selalu datang ke kantor saya, meminta gai. Selama empat tahun bekerja di PWI tidak pernah gajinya tidak dibayar. Namun, beberapa bulan sebelum Lina menikah dan berhenti, gajinya sering terlambat.
Tanggal 14 Maret 2005 teman-teman di Karimun menggelar Konferensi Perwakilan Karimun. Acara ini punya kenangan tersendiri buat saya. Mengajak ketua PWI Pusat Tarman Azzam, naik boat pancung ke Karimun. Jika naik ferry hanya 1 jam 20 menit, kami menempuh perjalanan lebih 4 jam! Tarman datang ke Batam dengan istrinya, ketua IKWI Pusat Ny Aas Sudiasih. Ia tidak pergi ke Karimun dan ditemani istri saya di Batam.
Saat kami ke pelabuhan Sekupang, ternyata kapal terakhir jam 04.00 sore tak ada lagi dan sudah berangkat. Lalu, saya menawari Tarman naik boat pancung. Ia setuju, sambil terus memencet handphone-nya mengirim SMS. Saya berusaha mencari pancung dengan dua mesin, tapi tidak ada. Saya jadi tenang ketika tekong pancung bilang, ia biasa melayari Batam-Karimun. Kami pun berangkat. Saya, Tarman, pengemudi pancung dan tekong di depan.
Kami melewati Pulau Sekanak. Namun, begitu memasuki perairan selat Malaka, ombak mulai besar. Makin lama, gelombang makin memutih, pecah di atas gelombang. Perjalanan terasa lama. Begitu memasuki Selat Durian, ombak sudah 2,5 meter. Percikan air mulai masuk ke boat yang tidak dilengkapi pelampung itu. Saat itu menjelang magrib.
Saya mulai khawatir ketika melihat sebuah kapal ikan yang cukup besar, terombang-ambing dialun gelombang. Apatah lagi boat pancung yang kami tumpangi, jauh lebih kecil. Hujan pun turun disertai angin kencang. Tarman bertanya pada saya, apakah saya bisa berenang, sambil melirik dua keping papan yang dijadikan bangku. Kadang-kadang, mesin boat mati lantaran tak kuat menerjang gelombang yang makin menggila.
Saat menegangkan itu, Tarman Azzam masih sempat SMS ke Pak Rida, yang menyebutkan kami sedang berada di pancung menuju Karimun. Jawaban Pak Rida adalah, hati-hati makin ke Karimun. Ternyata, yang dimaksud adalah Selat Durian yang ombaknya terkenal ganas. Dengan pakaian basah kuyup, akhirnya pelabuhan kelihatan juga. Kami tiba pukul 08.00 WIB malam. Ucapan syukur selamat sampai tujuan, bergumam dalam hati.
Untuk menenangkan debaran jantung, saya dan Tarman Azzam, minum teh hangat di samping hotel Holiday. Kepada teman-teman wartawan di Karimun saya bertanya, apakah pernah naik pancung ke Batam. ’’Mana pernah dan kami tak berani,’’ jawab mereka. Kami nekad karena tidak tahu ganasnya lautan. Pengemudi pancung saya tawari menginap di Karimun saja, apalagi sudah malam. Ia menolak. Tak sampai 10 menit mereka kembali lagi karena pancungnya terbalik dan akhirnya mereka menginap di Karimun.
Kisah perjalanan ke Karimun ini, diceritakan Tarman Azzam kemana-mana, saat ia berkunjung ke berbagai daerah. Akibatnya, PWI Cabang Kepri makin dikenal dimana-mana. Saat acara di Jakarta, seorang pengurus PWI Pusat berkata, kenapa saya nekad mengajak ketua umum naik pancung. Saya bilang, kalau bisa boatnya tenggelam, tapi saya dan Tarman Azzam ditemukan selamat. Pasti akan jadi berita besar. Mereka hanya tertawa.
Setelah pengurus PWI Perwakilan Karimun terbentuk, awalnya sebuah moment yang baik. Sebab, selama ini PWI dinilai kurang berpengaruh. Namun, belakangan saya sedih karena organisasi vakum dan ada ketidakcocokan antara pengurusnya. Padahal, begitu pengurusnya dilantik, saya kira tak akan ada masalah karena komposisinya antara yang yunior dan senior. Mestinya, tahun lalu PWI Perwakilan Karimun sudah mengadakan Konfercab ketiga. Namun, sampai kepengurusan PWI Cabang Kepri yang pertama selesai, mereka masih belum mematuhi aturan organisasi itu.
Kisah perjalanan menengangkan saya dan Tarman ke Karimun, didengar oleh pengurus cabang lain di Indonesia. Sebab, Tarman Azzam memang paling sering berkunjung ke daerah, menghadiri acara PWI seperti Konfercab. Ia selalu mengirim SMS kepada seluruh ketua PWI Cabang siapa yang terpilih jadi ketua baru. Kadang dari Papua, Maluku, Palopo, Jambi, Yogya dan kota-kota yang didatanginya.
Meski kesulitan dana operasional, PWI Cabang Kepri hampir selalu ikut kegiatan di tingkat nasional. Namun, saya sendiri, sejak 2006 dipindahtugaskan dari Posmetro Batam ke Batam Pos. Kepada para wakil ketua saya meminta, agar mereka lebih berperan karena saya harus konsentrasi penuh ke pekerjaan. Maka, setelah sukses menggelar Training of Trainer (TOT) yang mendapat penghargaan pelaksanan TOT terbaik secara nasional, saya nyaris tidak pernah ikut kegiatan PWI.
Misalnya, dialog energi dan kelistrikan di Medan, Rakornas advokasi wartawan di Jambi, Hari Pers Nasional di Bandung, Konkernas di Papua, saya absen dan mengirim pengurus lain menghadiri acara tersebut. Bagi saya, meski anggota seolah kurang mendapat perhatian, paling tidak para pengurus punya pengalaman hadir di acara-acara tersebut. Selain menimba pengetahuan, juga melihat bagaimana PWI cabang lain menggelar kegiatan. Barulah setelah absen selama dua tahun, saya hadir pada acara HPN di Semarang, bersama pengurus lain.
Dua even lain menjelang berakhirnya kepengurusan PWI Kepri periode 2004-2008 adalah menjadi tuan rumah Safari Jurnalistik seri terakhir dan mengikuti Kongres PWI ke XXII di Banda Aceh. Kini, tinggal pekerjaan terakhir: mempersiapkan Konfercab kedua dan memilih pengurus baru. Meski pada kongres di Aceh PD/PRT direvisi sehingga masa bakti pengurus ditambah setahun, dari empat tahun menjadi lima tahun, saya pikir sudah saatnya regenerasi dilakukan. Lalu, siapa yang akan memimpin PWI Cabang Kepri berikutnya? (bersambung)
Comments
Leave a Reply


