Kisah PWI Kepri (3)

December 28, 2008 · Filed Under jurnalisme 

 

Setelah Provinsi Kepulauan Riau berpisah dengan Riau, muncul wacana untuk membentuk PWI Cabang Kepri. Tak pernah terbersit dalam pikiran saya, dipercaya memimpin organisasi wartawan ini. Saya dipercaya menjadi Ketua Panitia Konferensi Cabang yang pertama. Inilah catatan yang tersisa selama empat tahun menjadi ketua PWI Cabang Kepri.

Jangan bandingkan PWI Kepri dengan PWI Riau. Selain jumlah anggotanya 433 orang, perhatian dan kucuran dana untuk ’saudara tua’ itu sungguh fantastis. Pada Porwanas tahun 2005 saja, mereka menghabiskan Rp6 Miliar. Namun, beberapa pengurus, sempat diperiksa polisi. Lalu, ada mobil operasional baru, koperasi dan kantor yang permanen.

Pada tahun 2009 saja, menurut Ketua PWI Riau Deny Kurnia kepada saya, dari Rp3 Miliar dana yang diajukan untuk PWI Riau, sudah disetujui Rp2,1 Miliar. Tahun lalu, kas IKWI Riau mencapai Rp200 juta.

Saat mempersiapkan Konfercab I tanggal 11 Oktober 2004 di Hotel Nagoya Plasa, saya hanya memikirkan satu hal. Bagaimana Konfercab sukses.  Jumlah peserta saat itu 86 orang dari Batam, 16 dari Tanjungpinang dan 14 dari Karimun.

Konferensi Cabang PWI Kepulauan Riau pertama dibuka oleh Kepala Biro Organisasi dan Hukum Provinsi Kepri dan Walikota Batam, dihadiri Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam, Sekjen PWI Pusat Wina Armada Sukardi, Ketua Bidang Organisasi Ilham Bintang, Ketua Bidang Pembelaan Wartawan Bambang Sadono dan Penasehat PWI Pusat Nasruddin Hars serta tokoh-tokoh pers di Kepulauan Riau.

Saya tak terpikir mencalonkan diri. Saya tersentak, ketika Ketua Umum PWI Pusat bertanya, bagaimana dukungan kawan-kawan terhadap saya. Saya balik bertanya, dukungan apa? Sebab, memang tak satupun saya minta dukungan. Bukan apa-apa. Yang terbayang adalah, kerja berat di depan mata. Saya sudah mengalaminya tiga tahun, saat di PWI Perwakilan Batam. Konfercab pun dimulai, dengan agenda sidang-sidang komisi dan pemilihan ketua.

Seorang peserta bertanya kepada saya, saat saya memimpin sidang komisi. ’’Mau maju, bang?’’ katanya. Saya diam saja. Sebab, kalau saya bilang ya, ia akan mengaku sebagai tim sukses saya. Saya baru memutuskan maju dalam pemilihan hanya 10 menit menjelang pemilihan. Calonnya saat itu, Ahlan Wasahlan, Ketua PWI Perwakilan Tanjungpinang, Abdul Hamid, Depan Maju Sihite dan saya.

Akhirnya, saya terpilih dan mengantongi 10 suara, Abdul Hamid 5 suara, Alan Wasahlan 3 suara dan Depan Sihite 1 suara. Pada saat tim formatur terbentuk, seorang anggota malah nyelonong masuk ke ruangan rapat. Saat ditanya Sekjen PWI, tanpa malu-malu ia bilang, ia mencari jabatan. Saya berusaha mengakomodir semua peserta, agar PWI ke depan tetap solid. Masalahnya, bagaimana mengatur agar wartawan di Batam, Tanjungpinang dan Karimun bisa disatukan dalam satu kepengurusan?

Satu lagi, dalam PD/PRT jelas disebutkan, PWI Cabang berkedudukan di ibukota propinsi, kecuali Surakarta, kota kelahiran PWI. Saat itu, pemerintah sudah menetapkan, ibukota Kepri adalah Tanjungpinang. Namun, kebijakan Ketua Umum PWI Pusat, untuk sementara, kantor PWI Kepri di Batam. Toh, saat itu caretaker gubernur Kepri berdomisili di Batam. Karena PWI Perwakilan Batam dan Tanjungpinang dilebur jadi satu, maka kantor PWI Perwakilan Batam dijadikan kantor PWI Kepri.

 Kerepotan pertama mulai muncul. Anggota PWI Kepri otomatis bertambah. Beberapa anggota yang sudah terlanjur mengirim berkas perpanjangan atau pembuatan kartu anggota ke PWI Riau di Pekanbaru, janjinya akan diteruskan mereka, meski Kepri sudah menjadi cabang sendiri. Ternyata,setumpuk berkas itu dikembalikan lagi ke PWI Kepri. Mau tak mau, berkas tersebut diurus dan dikirim lagi ke Pekanbaru.

Untuk mengakomodir para anggota yang tersebar di beberapa pulau, maka ketua dari Batam, sekretaris dari Pinang. Dua wakil ketua di Batam dan dua lagi di Pinang. Masalah timbul lantaran Sekretaris PWI Kepri Alan Wasahlan, tak sekalipun hadir pada rapat pengurus di Batam. Jangan-jangan ia keberatan harus datang ke Batam, sehingga saya pernah menawarkan agar ongkosnya diganti. Tapi, Alan tetap tak pernah datang, sampai setahun kemudian. Bagaimana organisasi bisa jalan kalau sekretarisnya tak aktif? Sampai akhirnya, Alan Washalan digantikan Amri dalam resufle pengurus pada rapat pleno.

Alan tak pernah bertemu dengan saya sejak pengukuhan pengurus PWI Kepri. Kantor bersama organisasi wartawan yang mestinya dilaporkan dan diserahterimakan ke PWI Kepri, sampai saat ini tak jelas statusnya. Saat saya mengecek ke Tanjungpinang, kantor yang berlokasi di samping Stisipol Raja Ali Haji itu ditempati kerabat Alan sekeluarga. Tak mungkin kantor itu diambil alih karena sudah disekat-sekat untuk ditempati beberapa organisasi wartawan.

Kegiatan pertama yang diikuti oleh PWI Kepri adalah orientasi pers ke Jakarta yang diikuti 15 orang wartawan dari berbagai media, medio Desember 2004. Saya sengaja mengajak sebagian yang bukan anggota PWI tapi medianya terbit secara teratur. Kegiatan ini, menurut Kabag Humas Pemko saat itu Guntur Sakti sudah tiga kali ganti Kabag Humas tapi selalu batal. Sebabnya, mereka khawatir karena tidak semua wartawan bisa ikut. Saya meminta Guntur mengirim surat ke PWI dan PWI yang mengundang wartawan. Artinya, PWI siap jadi bumper, kalau diprotes wartawan.

Ternyata benar. Baru saja kami mendarat di bandara Soekarno Hatta, ada wartawan mingguan yang menelepon saya. Ia bilang, kenapa tak diajak dan PWI pilih kasih. Saya jelaskan, bahwa dananya terbatas dan mungkin yang lain bisa ikut dalam kegiatan berikutnya. Lalu, saya diberondong pertanyaan soal pendanaan kegiatan itu. Saya balik bertanya,’’ Anda ini mau wawancara atau menginterogasi saya? Kau punya mingguan, saya punya empat koran harian. Kau pikir saya tak berani berahadapan dengan kalian?’’ saya mulai marah.

Ia melunak. ‘’Kami kan ingin berlindung dibalik nama besar PWI,’’ katanya. Padahal, saya tidak memegang uang sepeserpun dari kegiatan itu. Saya hanya berpikiran, pejabat boleh takut sama wartawan. Saya tidak, karena saya juga wartawan.  Belakangan, saya dengar beberapa wartawan tetap ngotot dan minta jatah ke humas karena tidak diajak dalam kegiatan itu.

Pada Februari 2005, sebanyak 40 orang anggota PWI Kepri berangkat ke Pekanbaru, mengikuti Porwanas, yang sangat meriah. Saat itu, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Jika selama ini wartawan terkotak-kotak antar media, harian dan mingguan, saat itu kami merasa sama-sama anggota PWI Kepri, yang baru pertama kali ikut acara berskala nasional. Meski tak satupun medali yang dibawa pulang, kami bangga ikut berdefile bersama PWI cabang lainnya. Apalagi, kami cabang yang paling muda. Saya juga ketua cabang termuda. Saat itu usia saya 36 tahun.

Namun, kegiatan itu membuat hubungan saya dengan Rumbadi Dale, yang saya anggap abang sendiri, retak. Pasalnya, ia pergi ke Malaysia ikut rombongan Otorita Batam dan tak ada kabar kapan kembali. Namanya saya coret dari daftar kontingen dan itu membuatnya marah. Ia mengadu kepada Ketua Umum PWI Pusat. Saya berjanji, akan menyelesaikan masalah itu, sekembali ke Batam. Sebagai yang lebih muda, saya minta maaf kalau masalah itu membuatnya tersinggung. Lalu, ia mengirim SMS ke Ketua Umum: Terima kasih ketua.  Socrates sudah meminta maaf kepada saya. Saya hanya tersenyum ketika SMS itu di forward kepada saya.

Sejak itu, masalah dana operasional dan dana kegiatan PWI Kepri, selalu menjadi masalah. Apalagi, PWI Kepri tidak sanggup lagi membayar sewa kantor di Jodoh yang Rp30 juta setahun. Kamar-kamar kos mulai kosong dan bocor disana-sini. Terpaksa, sebelum dapat kantor baru, kami membayar sewa perbulan. Belum lagi tagihan rekening listrik dan air bersih. Karena jenisnya ruko, tagihan listrik dan air ini cukup besar. Ditambah pemilik ruko sedang kesulitan keuangan sehingga ia mendesak saya membayar tagihan.

Pada bulan Mei 2005, kantor saya pindah ke Gedung Graha Pena di Batam Centre. Saya mencoba mencari ruko lain untuk kantor PWI. Tapi, sewanya mahal sekali. Paling murah di Batam Centre 12.000 Dolar Singapura. Saya lalu melirik bekas kantor Posmetro Batam yang kosong. Tapi, rasanya juga risih. Jangan-jangan, pengurus lain beranggapan saya memanfaatkan bekas kantor saya yang kosong itu. Sebab, PWI bukan milik satu media, tapi wartawan semua media. Namun, pengurus inti setuju. Lalu kami pindah ke kantor itu di Jalan Yos Sudarso Baloi Blok B2 Nomor 20. Sebab, sewanya Rp15 juta setahun dan itu separuh dari sewa kantor lama. (bersambung)

 

Comments

One Response to “Kisah PWI Kepri (3)”

  1. eko sumardi on January 21st, 2009 3:34 am

    bang socrates, bisa sms nomor abang tdk ke
    hp saya 08176467263. kami ada rencana bikin pelatihan jurnalistik di Batam.
    tks

    mardi

Leave a Reply