Kisah PWI Kepri (1)
Tanggal 20 Desember 2008, berakhir sudah masa bakti dan jabatan saya sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kepulauan Riau. Tak terasa, sudah tujuh tahun saya menjabat ketua organisasi wartawan ini. Sejak tahun 2001 saat saya masih menjadi Redaktur Pelaksana. Inilah catatan saya tentang PWI.
Saya mulai menjadi wartawan sejak Maret 1996 di Harian Pagi Riau Pos, Pekanbaru. Hanya dua minggu bertugas, saya ditempatkan di Desa Perawang, 60 kilometer dari Pekanbaru. Praktis, 120 kilometer saya tempuh setiap hari. Tidak ada tanda pengenal dari kantor. Saat itu, Ketua PWI Riau adalah bapak Rida K Liamsi. Saya disuruh melapor ke kantor PWI Riau, lalu mendapat selembar surat tugas, yang ditandatangani pak Rida.
Itulah identitas pertama saya sebagai wartawan. Surat tugas yang menerangkan sebagai calon anggota PWI. Surat itu saya lipat, lalu saya simpan di dompet. Sebelum menjadi menjadi anggota PWI, rasanya gagah benar menjadi anggota organisasi wartawan itu. Surat keterangan itu berlaku tiga bulan. Sehingga, setiap tiga bulan, saya datang ke kantor PWI Riau memper-panjang surat itu.
Sekitar empat bulan di Riau, saya dipindahkan ke Bukittinggi. Setelah tiga kali memperpanjang surat keterangan itu, saya diberitahu, ada testing pene-rimaan anggota PWI di Tanjungpinang. Maka, saya berangkat ke Tanjungpinang via Pekanbaru, lalu naik kapal ke Tanjungpinang, dan singgah sebentar di Selatpanjang. Saya bersama Lisya Anggraini dan Luna Agustin.
Sejak itulah saya menjadi anggota PWI. Setahun tugas di Bukittinggi, pada Juni 1997, saya dipindahtugaskan lagi ke Batam. Saat itu, Kepulauan Riau masih bergabung dengan Provinsi Riau, sehingga saya masih tetap anggota PWI Riau. Namun, saat itu baru ada PWI Perwakilan Tanjungpinang. Sejak reformasi, jumlah media dan wartawan bertambah. Sehingga kehadiran PWI Perwakilan Batam, terasa mendesak.
Namun, karena satu dan lain hal, keberadaan PWI Perwakilan Batam belum terlaksana. Akhirnya, beberapa wartawan menggagas berdirinya Batam Jurnalis Club (BJC) sebagai sebuah paguyuban wartawan. BJC menggelar seminar dan menghadirkan Sri Mulyani Indrawati yang sekarang Menteri Keuangan serta mantan Menperindag Rahardi Ramelan.
Paguyuban wartawan yang semula dimaksudkan untuk mengisi kekoso-ngan organisasi wartawan di Batam itu, diresmikan dan memilih pengurusnya. BJC berkantor di sebuah ruko di dekat komplek Maritim Square, Jodoh dan berdiri pada tahun 1998. Saya dipercaya menjadi salah satu ketua bidangnya. Namun, entah mengapa, tak lama kemudian organisasi ini pecah.
Tak lama kemudian, saya mendapat surat teguran dari PWI Riau karena bergabung dengan BJC. Sebab, anggota PWI tidak boleh merangkap menjadi anggota organisasi lain. Saya pun mundur dari BJC yang ternyata, memiliki ang-garan dasar dan anggaran rumah tangga sendiri. Padahal, awalnya saya mau bergabung karena direncanakan akan menjadi cikal bakal PWI Perwakilan Batam.
Pada tahun 1999, seiring terbitnya Harian Sijori Pos, beberapa wartawan sepakat membentuk PWI Perwakilan Batam. Terpilih menjadi ketua Mafirion dan beberapa wartawan senior menjadi pengurusnya. Antara lain, Taufik Muntasir, Rumbadi Dale dan AT Sinaga. Namun, tak lama kemudian, Mafirion pindah tugas ke Medan. Saya sendiri saat itu menjadi Wakil Sekretaris.
Setelah itu, Taufik Muntasir yang sebelumnya menjadi Wakil Ketua I, menggantikan Mafirion, dan saya menjadi Sekretaris. Sekitar setahun, Taufik Muntasir mengundurkan diri, sehingga saya dipercaya menjadi Ketua, dalam rapat pleno yang dihadiri Ketua PWI Riau saat itu Helmi Burman. Saya menjabat sebagai ketua pada tahun 2001.
Sejak awal, PWI Perwakilan Batam tidak punya kantor, dan menyewa sebuah ruangan di Hotel Nagoya Plasa. Uniknya, dua kali ketuanya berganti, sama-sama meninggalkan utang masing-masing Rp7 juta untuk sewa kantor. Saya yang ditugaskan mencari dana bantuan untuk membayar utang-utang tersebut.
Saat saya menjadi ketua, tugas pertama saya adalah mencari kantor untuk sekretariat PWI Perwakilan Batam. Dengan beberapa pengurus, kami mulai menjajaki lokasi kantor. Saya tertarik pada sebuah ruko di komplek Penuin yang sangat strategis. Selain untuk kantor, sekaligus untuk kongkow wartawan, pikir saya. Apalagi, selama ini citra wartawan di Batam agak negatif dan suka nongkrong di bawah pohon kayu samping Lucky Plaza yang mereka sebut DPR (Di bawah Pohon Rindang).
Namun, sewa ruko di Batam mahal dan sebagian dihitung dengan dolar Singapura. Apalagi, sejak dilanda krisis, satu dolar Sing yang sebelumnya setara dengan Rp1.800 per dolar, melonjak menjadi Rp4.800 lalu naik dan terus naik menjadi Rp5.600. Krisis jilid dua malah menembus angka Rp8.300 dan kini menjadi Rp7.600.
Beruntung, saya menemukan ruko kosong tiga lantai di Kompleks Orchid Point nomor 6, bersebelahan dengan kantor Sijori Pos yang belakangan ganti nama menjadi Batam Pos. Ruko itu sewanya Rp30 juta per tahun, dan dibayar dari bantuan Otorita Batam. Ruko itu kosong, tak ada inventaris kantor yang ditinggalkan dua pengurus PWI Perwakilan sebelumnya.
Saya tidak tahu siapa pemilik ruko itu sebenarnya. Namun, yang menge-lolanya seorang lelaki bernama Mulyadi, yang tinggal di Sei Panas. Jadilah saya menyewa ruko itu, yang dulu pernah menjadi mess pekerja. Lantai satu kosong melompong, lantai dua dan tiga ada kamar-kamar yang masih layak pakai. Darimana biaya membayar listrik, air bersih dan gaji pegawai sekretariat?
Ruko itu lalu disulap jadi kantor dan dipasang sekat untuk ruangan ketua dan sekretaris. Lalu, PWI Perwakilan mendapat bantuan sebuah meja bundar yang cocok untuk rapat, dua buah meja kerja dan satu buah meja kantor. Lalu, saya melengkapi dengan sebuah lemari arsip dan lemari etalase. Saya mene-rima seorang gadis yang baru tamat SMA bekerja sebagai tenaga sekretariat bernama Ami.
Hanya beberapa bulan, Ami berhenti dan mendapat pekerjaan lain. Gantinya, seorang wanita berkerudung yang abangnya bekerja sebagai wartawan. Tak lama kemudian, ia juga berhenti. Lalu, yang ketika, Marlina yang adiknya seorang wartawati. Kepadanya saya katakan, tidak ada karir bekerja di PWI. Kalau dapat pekerjaan yang lebih baik, silakan saja.
Delapan kamar di lantai dua dan tiga, saya sewakan kepada wartawan yang masih lajang. Meski sewa kamar di Nagoya Rp250 ribu hingga Rp350 ribu, kamar di kantor PWI saya sewakan Rp100 ribu hingga Rp150 ribu saja. Alhasil, bisalah membayar air, listrik yang rata-rata Rp600 ribu per bulan serta gaji pegawai Rp750 ribu sebulan. Arifuddin Djalil yang juga tinggal di ruko itu, saya tugaskan mengutip uang kos setiap bulan.
Pernah pula terlintas ide, sekretariat PWI bisa menjual minuman untuk wartawan yang datang ke kantor. Saya belikan kompor dan alat-alat untuk minum kopi. Namun, tak sampai sebulan, bangkrut karena banyak yang minum tak bayar. Yang jelas, kantor PWI Perwakilan Batam itu, diresmikan oleh Ismeth Abdullah yang menarik selubung plang namanya dan dihadiri beberapa pejabat dan pengusaha Batam. Selama empat tahun, kami berkantor disana. (bersambung)
Comments
2 Responses to “Kisah PWI Kepri (1)”
Leave a Reply



Sangat menarik. Saya bayangkan, Abang tambahkan detil-detil, jadi cerita yang penting…..
tak sabar nunggu bagian yang kedua.. jangan2 nak dibuatkan bukunya nih