Kampung Pekasih Pulau Terong

November 10, 2008 · Filed Under feature 

Ratusan pulau-pulau di Batam punya daya tarik dan pesona alami. Ingin sesekali melepaskan diri dari hiruk pikuk kota dan rutinitas kerja? Pergilah ke pulau. Menikmati alam, bercakap-cakap dengan nelayan,  ikannya yang gurih, dan menginap semalam memberikan nuansa berbeda. Salah satunya di Kam-pung Pekasih, Desa Pulau Terong Kecamatan Belakang Padang. Inilah ceritanya.

 

Semburat cahaya matahari sore menerpa air laut, saat pancung melaju. Pancung yang sudah penuh penumpang, berangkat dari Sekupang ke Belakang-padang. Namun, pancung yang kami tumpangi, menuju Pulau Terung, pulau pa-ling ujung di gugusan pulau Kota Batam. Saat pancung melesat di riak ge-lombang, bau laut yang khas, kapal-kapal yang lego jangkar, pikiran terasa lepas sejauh mata memandang.

            Jalur Sekupang ke Pulau Terung bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Rutenya begini. Melewati Pulau Sekilak, terus melintasi Pulau Sarang, Pulau Lengkang, Pulau Mecan, Pulau Nirop, Pulau Pemping, Pulau Labun dan me-lintasi Pulau Kasu. Dari sana terus melewati Pulau Siali, Pulau Panjang, Pulau Bontong, Pulau Kepala Jeri, Pulau Pecong, Pulau Jaloh, Pulau Tumbar, Pulau Sayak, Pulau Geranting dan Pulau Terong.

            Pulau Terong sendiri, merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Be-lakangpadang dan terdiri dari beberapa kampung seperti Pulau Teluk Bakau, Pulau Sunti, Teluk Kangkung dan Pulau Pekasih. Puluhan pulau-pulau yang kami lintasi itu, hanya yang berpenghuni. Belum lagi puluhan pulau-pulau kosong dan sebagian belum punya nama.

            Penduduk Pulau Terong sekitar 250 Kepala Keluarga atau sekitar 3.000 jiwa. Warga Pulau Terong umumnya nelayan dan pengumpul rumput laut secara tradisional. Uniknya, sejak dulu transaksi di Pulau Terong menggunakan dolar Singapura. Saat mata uang negeri jiran itu perkasa, warga juga mendapat keun-tungan dari selisih nilai tukar dengan rupiah. ’’Dulu, nelayan sini bisa langsung jual ikan ke Singapura,’’ kata Amin.

            Saya, Iman Wahyudi, Ahmadi dan Herianton, beruntung bisa berkunjung ke Pulau Terong. Sebab, Hasan pemilik pancung yang mengangkut Batam Pos setiap dinihari dari Batam ke Tanjungbalai Karimun, putra asli Pulau Terong.  Se-panjang perjalanan,  Iman menjepret panorama alam, menjelang matahari terbenam.

           Pulau-pulau yang berjejer tak beraturan, kampung nelayan, kapal-kapal yang melintas dan betapa jauh bedanya dengan Batam yang gemerlapan bermandikan cahaya lampu. Satu jam kemudian, pancung merapat di Kampung Pekasih, Pulau Terong.

            Suasana malam di kampung nelayan itu sepi. Jauh dari hiruk pikuk kota. Beberapa warga duduk-duduk di beranda rumah, menunggu mata mengantuk. Sunyi senyapnya Kampung Pekasih lantaran tidak ada satu pun mobil. Yang punya sepeda motorpun hanya satu orang, yakni pegawai PLN. ’’Motor satu-satunya di pulau ini untuk mengatasi kalau ada masalah listrik,’’ kata Hasan.

            Listrik di Kampung Pekasih dilayani PLN Tanjungpinang. Dua mesin diesel di ujung pulau dengan kapasitas 200 kilowatt, menerangi desa nelayan itu dari pukul 17.00 sore hingga jam 07.00 pagi.  ’’Selama ini, listrik tak ada masalah dan jarang mati,’’ kata Ibrahim, warga Pekasih. Padahal, hanya satu orang yang menjaga mesin diesel itu sepanjang malam.

            Malam itu, kami berkeliling. Dari Pekasih, Teluk Bakau hingga ke Pulau Sunti berjalan kaki. Menyaksikan pelantar yang sudah rusak dan bolong-bolong dan melihat warga menangkap udang yang diterangi lampu petromak. ’’Warga sini menangkap udang pakai serampang. Kalau tak biasa, udangnya lari dan air keruh,’’ kata Amin, pemuda di Pekasih kepada kami. Serampang adalah kayu untuk menombak udang dan diujungnya dipasangi empat besi runcing dari besi tangkai payung. Udang akan terjepit di tengah ujung besi dan tak bisa meloloskan diri lagi.

            Makan malam yang disajikan istri Hasan, sedap sekali. Ikan lebam bakar yang gurih, masak tumis tenggiri dan udang asam pedas. Selain ikannya segar, bumbunya sangat terasa dan pas di lidah. Yang juga istimewa, otak-otak buatan sendiri. ’’Selama ini aku makan otak-otak, tak ada yang seenak ini,’’ kata Iman Wahyudi. Selain isinya lebih banyak ikannya, kebanyakan otak-otak yang dijual lebih banyak tepungnya.

            Saat malam tiba, kampung nelayan itu sunyi senyap. Tak ada suara knalpot yang meraung-raung di tengah malam. Warga lebih suka tinggal di rumah dan bercengkrama dengan keluarga. Warung yang bisa dihitung jari, jam 20.00 malam sudah tutup. Kalau udara panas, warga memilih duduk bahkan tidur di pelantar di antara sepoi angin laut. 

            Kendati warga Batam jarang yang pelesir ke Kampung Pekasih Pulau Terong, ternyata beberapa kali ada warga Singapura yang suka ke sana. Menikmati kesunyian dan keasrian alamnya dan tentu saja makanannya. Namun, sebagian besar warga Pekasih, merantau dan bekerja di Malaysia. ’’Kampung ini ramai kalau lebaran. Semua warga yang merantau pulang,’’ kata Hasan.

            Kehidupan warga Pekasih bernuansa religius. Umumnya, setiap kampung punya masjid yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja.  Air bersih yang dialirkan dengan selang ke rumah-rumah penduduk, dikelola oleh masjid. Yang menagih pembayaran rekening adalah pengurus masjid. Satu-satunya SMA di sana, berlokasi di Teluk Bakau. Pelajar datang berjalan kaki, melewati jalan setapak. Namun, yang sering dikeluhkan warga, jalan menuju SD yang sudah bertahun-tahun tidak juga disemen.

            Jembatan yang menghubungkan Teluk Bakau dan Teluk Sunti, baru selesai dibangun. Namun, sebuah pelantar yang menjadi andalan untuk trans-portasi warga menggunakan pancung dan speed boat, sudah lama rusak dan kayunya nyaris hancur. Seorang bidan desa bernama Ami, sudah dua tahun bertugas di Poliklinik Desa, melayani pengobatan warga. ’’Warga di sini lebih suka obat luar daripada obat generik,’’ katanya.

            Pulau yang letaknya paling ujung di Batam itu, sampai saat ini masih menghadapi kendala soal telekomunikasi. Sinyal handphone hilang timbul. Beberapa warga, terpaksa pergi ke ujung pelantar untuk menelepon. Atau memasang antena khusus di rumah agar bisa menangkap sinyal operator  selular. Dalam perjalanan ke Pulau Terong, yang muncul malah sinyal Sing Tel Mobile Singapura. ’’Tak satu pun tower operator seluler berdiri di pulau ini,’’ kata Hasan.

            Selain menangkap ikan, sektor perkebunan dan pariwisata, bisa dikembangkan di pulau ini. Apalagi, pasar Singapura yang sudah dimasuki warga bertahun-tahun sebelumnya, bisa dikembangkan lagi secara lebih baik sehingga mampu mendongkrak perekonomian warga setempat.

Yang diperlukan warga Pulau Terong adalah, perhatian dan kesungguhan hati pemerintah Kota Batam mengembangkan potensi yang ada. Bukan sekedar kunjungan seremonial beberapa jam, mengumbar janji-janji kepada warga, lalu pergi dan tak pernah kembali lagi. Dengan begitu, warga Pulau Terong tak perlu mengeluarkan pernyataan, memilih bergabung ke Kabupaten Karimun.

 Kalau Stres, Pergilah ke Pulau…

 KALIMAT itu terlontar secara spontan dari mulut Hasan. Sebelum ia mengundang saya ke Kampung Pekasih Pulau Terong, sudah beberapa kali rombongan warga Singapura, datang dan menginap di sana. Wisata alam dan wisata kuliner berpontensi dikembangkan.

Batam memang kota pulau.  Ratusan pulau-pulau mengelilingi kota perbatasan ini. Di Kecamatan Belakangpadang terdapat 55 pulau, Kecamatan Sekupang 7 pulau, Kecamatan Bulang 68 pulau, Kecamatan Nongsa 18 pulau dan di Kecamatan Galang 83 pulau.

Berkunjung ke pulau-pulau itu, selain melepaskan ketegangan dan menghilangkan stres, juga bisa memantau perkembangan warga hinterland yang tersebar di pulau-pulau tersebut. Alamnya yang menawan, makanan khas laut yang menggiurkan, serta pengalaman tinggal di pulau akan menjadi sesuatu yang menyenangkan.

Caranya, Pemko Batam melalui Dinas Pariwisata, bisa mendata mana pulau-pulau yang layak kunjung dan menginformasikan potensi wisatanya. Termasuk wisata kuliner, wisata sejarah dan wisata religius di pulau tersebut. Jika sudah ada pulau yang masuk daftar layak kunjung, lalu diinformasikan kepada warga pulau untuk bersiap menerima wisatawan. Mungkin wisatawan lokal dulu.

Kapal-kapal nelayan, seperti pancung, speed boat bisa dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, saat mereka tidak melaut. Tak perlu bangun hotel, rumah-rumah penduduk, bisa disulap menjadi home stay, lalu menyediakan kebutuhan makanan dan minuman sesuai jumlah wisatawan yang bakal datang. Misalnya, ikan segar, otak-otak yang siap dibakar, minuman dan sebagainya.

Lalu, apa yang menarik minat wisatawan? Selain menjual suasana kampung nelayan, juga menjual pengalaman menangkap ketam, menjala atau memancing ikan, atau menombak ikan dan udang dengan serampang atau tempuling. Wisatawan bisa menjajal kemampuannya seolah-olah menjadi nelayan. Pemandu wisatanya tentu saja nelayan asli.

Interaksi dengan warga pulau, juga bisa dilakukan dengan pertandingan olahraga persahabatan semisal sepakbola dan voli ball, atau menggelar pertunjukan kesenian. Bagi penggemar hiking, bisa menjelajahi pulau. Yang suka fotografi, bisa berburu foto menarik tentang laut dan kehidupan nelayan. Pengalaman menginap di pulau, akan menjadi seru dan mengasyikkan. Jika Pemko Batam berkampanye Visit Batam 2010, hari ini kita bisa lakukan: Visit Pulau Terong, sekarang!*** 

 

Comments

4 Responses to “Kampung Pekasih Pulau Terong”

  1. Farhan on November 10th, 2008 10:51 pm

    wehe2.. Visit Pulau Terong yeS!!!!

  2. iselsariandi on November 11th, 2008 10:17 pm

    Mantap bang…. Kalau bulio, ajaklah adiok abang ko ka Pulau Jalan-Jalan….

  3. love on November 13th, 2008 3:03 am

    artikelnyanya sungguh menarik bapak,terimakasih utk info kulinernya,jadi kepingin makan ikan bakarnya.sukses utk bapak socrates.gbu

  4. Penggemar sepakbola on March 3rd, 2009 4:30 pm

    Hai. Nice to know you. Saya hanya ingin tahu cara meningkatkan pengunjung situs kami? Anda akan memberikan sedikit informasi tentang itu? terima kasih untuk semua.

Leave a Reply