Jurnalisme dan Bisnis

January 13, 2009 · Filed Under jurnalisme 

 

Dalam manajemen media, kepentingan perusahaan sebagai entitas bisnis kerap dipertentangkan dengan kepentingan wartawan. Artinya,  visi idealisme media  dan tugas mulianya mencerdaskan bangsa, kontrol sosial, menjalankan fungsi hiburan, fungsi pendidikan, bertabrakan dengan visi pragmatisme perusahaan yang mengejar target laba.  Singkatnya, jurnalisme dan bisnis harus satu bahasa.

     Tidak selalu kepentingan bisnis dan redaksional bertabrakan; dan meski se-nantiasa ada dalam ketegangan, kedua sisi ini bukannya tidak bisa saling men-dukung. Tidak semestinya wartawan/redaksi mengabaikan sama sekali aspek bisnis, yang juga akan berpengaruh pada kinerja redaksi dan mutu profesional wartawan.

Jika bisnis media buruk, tak ada uangnya misalnya, wartawan takkan mendapat kamera bagus untuk menghasilkan foto jurnalistik berkualitas. Itu contoh yang paling gampang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan redaksi dalam mendukung kesehatan bisnis, tanpa melanggar etiknya.

1.      Memperbaiki mutu tulisan/berita yang disajikan. Tulisan yang menarik, mengilhami publik, dan mudah dicerna akan potensial menangguk pem-baca/audiens, yang pada akhirnya akan mem-perlancar perolehan iklan. (Banyak wartawan menyalahkan kurangnya minat baca pada kecilnya oplah koran, padahal si war-tawan sendiri menulis amburadul dan tidak mudah dicerna pembaca.)

2. Memperluas rubrikasi atau variasi rubrik, yang artinya akan memperluas peluang bagian bisnis menangguk iklan; atau sebaliknya memperkuat fokus pada kekuatan sebuah rubrik, yang menjadi competitive advantage media bersangkutan.

3. Selalu sadar akan kepentingan pembaca dan siapa mereka. Untuk tema se-sulit apapun (yang penting bagi publik) ada kiat untuk menya-jikannya dengan menarik dan populer.

4. Efisien dalam bekerja: memakai sumber daya (dana dan waktu) seminimal mungkin untuk menghasilkan tulisan/liputan berkualitas. Menghemat pengeluaran perusahaan.

5. Pahami proses produksi dan pemasaran media secara menyeluruh, bukan egois dan berpikiran sempit. Meski tugasnya hanya sebagai wartawan tulis, misalnya, kita perlu mendalami aspek visual (foto, tipografi dan layout), membantu desainer menyajikan koran lebih menarik. Bukannya egois, dengan menulis sangat panjang, tidak memberi peluang bagi foto dan desain, sehingga tampilan koran tidak menarik.

Sebaiknya Anda para wartawan,  melihat mesin cetak bekerja. Atau ikut naik mobil sirkulasi ke percetakan, melihat koran/majalah selesai dicetak dan dibawa ke lapak-lapak.

[Banyak wartawan tak pernah melihat mesin percetakan!] Mereka menganggap, itu bukan bagian dari pekerjaan mereka. Jangankan jadi pimred, pimpinan umum, jadi redaktur saja kadang sudah merasa seperti bos, he..he..

Dengan cara itu, kita memiliki empati kepada karyawan bagian lain dari bisnis media, bahkan jika mereka hanya loper.  Sesekali, boleh juga tidur di kantor, ngobrol dengan orang percetakan atau bagian ekspedisi sambil menunggu dan melihat koran kita dicetak.  Meski hanya sebagai wartawan, kita perlu memahami seluruh proses bisnis. Punya empati kepada karyawan bagian lain, tanpa harus kehilangan martabat sebagai wartawan, yang salah satu tugasnya menjaga
independensi redaksional.

Ayo, kita berubah menjadi lebih baik!

 

Comments

2 Responses to “Jurnalisme dan Bisnis”

  1. milani on February 4th, 2009 2:49 pm

    saya adalah seorang pelajar yang sedang membuat makalah tentang penyalahgunaan kebebasan pers.
    Saya ingin bertanya, Apabila pers melanggar kode etik jurnalistik dan membuat dampak yang serius di keh. masyarakat lalu apa/siapa yang akan menegurnya untuk berubah?

  2. tegrex on February 22nd, 2009 11:42 pm

    dua hal yang berbeda, namun mesti kudu bersatu dalam satu target / tujuan. dan mungkinkah antara idealis dan realis juga tidak ada jarak :D

Leave a Reply