Jadi Korban Kejahatan (1)
Siapapun, bisa jadi korban kejahatan. Termasuk saya. Mobil Grand Vitara BP 2 MN yang saya pakai, dibobol alap-alap maling pemecah kaca mobil. Kejadiannya cepat sekali, dan siang hari. Sebagai wartawan, saya selalu stand by dengan kamera dan laptop di mobil. Siapa tahu, ada kejadian bernilai berita saat saya di jalan. Biasanya, perlengkapan tersebut saya bawa ke rumah. Tapi, malam itu karena pulang larut malam, tas kamera dan laptop saya tinggal di mobil.
Saya ingat benar, kejadiannya hari Kamis, 21 Januari 2009. Sekitar jam 10.00 WIB saya mandi dan bersiap ke kantor. Lamat-lamat, saya mendengar seperti butiran kerikil ditumpahkan di depan rumah. Saya kira, ada tukang yang sedang bekerja. Begitu saya mau berangkat, saya heran, kok kaca belakang sebelah kanan mobil terbuka. Alangkah kagetnya saya ternyata, tas di dalam mobil lenyap. Kacanya berhamburan di jok mobil.
Saya bertanya pada sekuriti, tapi tak ada yang melihat pelakunya. Siang itu juga, saya melapor ke kantor polisi di Polsek Batam Kota. Saya pikir, saya lagi sial. Kenapa tas kamera dan laptop itu saya tinggal di mobil? Saya uring-uringan. Laptop Toshiba seri terbaru milik kantor, lensa kamera, enam data traveler, modem internet lenyap tak berbekas. Saya hanya bisa pasrah dan mengantongi surat laporan ke polisi. Kecil kemungkinan barang-barang itu bisa ditemukan. Sebab, pelakunya sepertinya sangat lihai.
Jalan masuk ke komplek saya hanya satu. Selain dipasangi portal, jarak dua rumah dari rumah saya, ada pos keamanan. Pos itu saya yang membangun saat saya menjadi Ketua RW XIV Taman BPD Indah. Dua tahun lalu, saya mundur sebagai ketua RW. Sayangnya, sekuriti yang bertugas siang itu, tak punya kepekaan terhadap aksi kejahatan yang terjadi. Ia hanya menjawab tidak tahu apa yang sudah terjadi.
Namun, dua bulan kemudian, saya dihubungi polisi dari Poltabes Barelang. Ia mengabarkan bahwa pelaku pembobolan mobil saya ditangkap. Ia minta saya datang memastikan apakah benar laptop yang disita polisi milik saya. Saat bertemu polisi, saya sempat ragu. Merek dan serinya sama. Tapi, datanya sudah dihapus semua dan diformat ulang. Ternyata, kasus pembobolan mobil itu terjadi secara beruntun. Pelakunya diduga sama.
Polisi mengatakan kepada saya, modus kejahatan pembobolan mobil itu. Caranya, setelah pelaku mengintip ada barang atau tas dalam mobil, seorang stand by di motor dan seorang lagi memecahkan kaca mobil dengan menggunakan busi bekas. Busi itu dipecahkan keramik putihnya, lalu dikulum di mulut. Lho, untuk apa? Ternyata, air ludah dianggap bisa meredam suara pecahan kaca saat busi tersebut dilempar sekuat tenaga ke kaca mobil.
Kaca akan segera retak dan dengan mudah didorong pakai tangan. Setelah itu, barulah mereka menyambar benda berharga apa saja dalam mobil. Saya baru yakin, mereka pelakunya setelah polisi memperlihatkan barang bukti lain tas kamera dan data-data saya di USB. Setelah kasus saya terungkap, polisi mengembangkannya dan berhasil mengungkap beberapa kasus lainnya dengan pelaku yang sama.
Kendati banyak juga warga yang enggan melapor ke polisi jika menjadi korban kejahatan pencurian yang nilainya relatif kecil, saya tetap melapor ke polisi. Jujur saja, memang makan waktu berjam-jam dan merepotkan. Tapi, kepada siapa lagi kita melaporkan kejadian naas yang menimpa kita? Saya dengan tulus mengucapkan, terima kasih pak polisi. (bersambung)
Comments
Leave a Reply


