Jadi Caleg, Euy!
Istilah caleg alias calon legislatif, merebak ke seantero negeri. Saat nama-nama caleg didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, siapa yang perduli, seperti apa ya kira-kira gaya caleg kita nanti? Betapa enaknyajadi caleg menurut kacamata seorang lelaki Sunda yang sudah empat bulan di Batam. Jadi caleg, euy!
”Bapak nggak nyalon? kan bisa dapat sampingan,” kata Nanang, tukang kebun di Batam Centre. Ia mengaku belum pernah ikut nyoblos pemilu. Kalau nyoblos, ia mau milih yang jujur. ”Soalnya, banyak yang suka curang,” katanya.
Begitulah politik diartikan bermacam-macam. Sudahkah Anda melirik siapa-siapa caleg yang kini masuk bursa? Yang jelas, siap-siaplah dimintai dukungan, lalu Anda dilupakan selama lima tahun.
Hebatnya, begitu jadi caleg, langsung kampanye selama sembilan bulan ke depan. Sementara, masih ada partai sebagai mesin politik yang harus melakukan konsolidasi internal, sampai ke kelompok masyarakat lapis bawah seperti RT dan RW.
”Saya belum pernah nyoblos. Buat apa? Nggak ada perubahan,” kata Petrus Setet,seorang satpam kepada saya sambil makan martabak. ”Katanya ada KTP gratis,tapi saat saya mengurus KTP dipersulit. Semua urusan surat harus bayar uang administrasilah, uang rokoklah,”katanya.
Satu lagi, katanya, terlalu banyak partai dan ini bikin bingung. ”Masak ada 37 partai,”katanya. Siapapun yang naik,tidak ada perubahan sama sekali. Jangan tipu-tipu rakyat terus, celetuknya serius. Nah, siapa bilang Satpam yang tinggal di Kabil ini tidak mengerti politik?
Saat mengurus KTP, Petrus berharap gratis. Tapi, pegawai di kecamatan juga pintar berdiplomasi. Kelar suratnya, Petrus bertanya seperti biasa. ”Berapa, Pak?” Seikhlasnya sajalah,”kata pegawai camat Batam Kota itu. Petrus pun membayar Rp10 ribu.
Lho, katanya ikhlas? tanya saya. ”Ya, gimana, kita kan maunya gratis. Mestinya dia bilang, pengurusan surat-surat untuk KTP ini tidak bayar,”katanya, tertawa. Inilah politik versi warga kelas bawah. Lalu, bagaimana dengan para caleg kita ini?
Saya tidak tahu, apa yang mereka pikirkan dan maui. Di kantin kantor, di warung kopi, di loby hotel, beberapa orang yang saya kira mencalonkan diri, sibuk membicarakan partai dan dirinya sendiri. Atau soal nomor urut dan suara terbanyak.
Ada juga ajakan bertemu dan makan siang dari seorang caleg. SMS undangan dikirim tiap hari. Tapi saya belum sempat memenuhinya. Caleg lain membahas soal peluangnya merebut kursi DPR. Ada pula yang bicara soal berapa banyak uang yang disiapkannya untuk bertarung dalam pemilu nanti.
”Yang jelas, kita siap,” katanya dengan nada ragu. Kalau bertemu beberapa orang, paling tidak saya yang bayar makanan dan ngopinya. Masak caleg nggak punya duit, ha..ha..ha,” katanya terbahak.
Telepon genggam saya berdering. Nomornya tak saya kenal. Ternyata, ia seorang pengusaha yang kini jadi petinggi partai politik di Jakarta. Ia bertanya, apa isu hangat di Batam saat ini. Saya bicara soal tarif listrik sekenanya. Dalam hati, masak caleg dan bos partai tak punya akses informasi terkini?
Kata orang bijak, ada dua hal yang harus diwaspadai. Orang yang tak pernah berubah, atau orang yang selalu berubah. Yang pertama bisa diartikan bebal dan kedua anggap saja tak konsisten. Jangan-jangan caleg kita termasuk golongan orang keduanya. Hmm…***
Comments
Leave a Reply


