In memoriam Gus Dur
Saya mengagumi KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, sebelum ia jadi presiden RI ke 4. Itu pun hanya melalui wawancara dan pikiran-pikiran bernasnya di media massa. Lalu, saya membaca buku Tabbayun Gus Dur, hasil wawancaranya tentang negara, demokrasi dan pluralisme. Saya gembira ketika diberitahu ikut dalam rombongan wartawan Riau Pos Grup yang akan diterima wawancara khusus di istana negara, Jakarta. pada awal tahun 1999.
Wartawan yang berangkat menjumpai Gus Dur antara lain, Kazzaini, Abubakar Siddik, Muchid Al Bintani (dari Riau Pos Pekanbaru) Erisman Yahya (Jakarta) dan saya sendiri dari Sijori Pos, Batam. Kami menginap di Wisma Pemda Riau di Jakarta. Saya sibuk memikirkan apa yang akan saya tanyakan kepada Gus Dur. Sementara, Kazzaini sebagai yang paling senior, menyiapkan tiga lembar daftar pertanyaan.
Kami sempat berdiskusi soal wawancara khusus itu. Saya nyeletuk, saya akan menanyakan soal Batam yang sejak lama jadi kota judi dan soal pembagian keuangan pusat dan daerah yang saat itu sedang menjadi isu hangat secara nasional. Tiba-tiba, Abubakar berkata,” Ah, kau jangan tanya yang macam-macam pula,” katanya. Saya heran, kok wartawan tak boleh tanya apa saja?
Pagi-pagi karena takut macet, kami meluncur ke istana negara. Begitu melapor, ke sekretariat presiden, kami disuruh menunggu. Tapi, berjam-jam menunggu, tak ada tanda-tanda kami disuruh masuk menjumpai Gus Dur. Saya sempat ikut konferrensi pers dengan Yenni Wahid bersama puluhan wartawan istana. Sampai jam 14.00 WIB siang, kami belum juga bisa wawancara Gus Dur.
Tak lama kemudian, Ratih Harjono Sekretaris Presiden mantan wartawan yang cantik itu, datang menemui kami. Ia berkata,” Mohon maaf, wawancara dengan Presiden batal karena ada rapat kabinet mendadak. Semua biaya Anda ke Jakarta, akan diganti,” katanya, tegas. Kami melongo. Lho, kok bisa? Abubakar langsung menyodorkan tape recorder soal pembatalan itu dan berkata, apa alasannya dan pertanyaan itu on the record.
Ratih Harjono sempat menawarkan, meski wawancara batal, besok Gus Dur mau terbang ke Batam dan satu orang bisa ikut pesawat kepresidenan. Semua mata teman-teman tertuju kepada saya. Sebab, hanya saya sendiri yang dari Batam. Saya sudah membayangkan, alangkah hebatnya wawancara khusus dengan Gus Dur di atas pesawat. Namun, rencana itu batal. Ratih melapor lagi ke Gus Dur dan akhirnya, kami diberi waktu 15 menit saja. Setelah menunggu 8 jam! Kabarnya, Gus Dur kurang disiplin dengan waktu dan protokoler istana sehingga kalau ada tamu yang sudah duluan, bisa molor sehingga tamu berikutnya terpaksa diluar jadwal yang semestinya.
Kami masuk beriringan. Di depan saya, Erisman Yahya menyalami Gus Dur. Saat Erisman mau mencium tangannya, sontak Gus Dur menolak dan menarik tangannya. Saya hanya menyalami sambil menyebutkan nama saya, diikuti Muchid. Foto saya bersalaman itulah yang sampai saat ini dipajang di dinding rumah saya.
Kazaini memulai wawancara, setelah berbasa-basi sejenak. Jawaban Gus Dur juga datar-datar saja. Saya tak sabar karena waktunya terbatas. Meski kawan-kawan kurang suka, saya lalu nyelonong bertanya.” Gus Dur, saya mau tanya dua hal. Apakah pemerintah sedang kesulitan finansial sehingga pembagian keuangan pusat dan daerah itu belum juga direalisasikan? Kedua, ada pendapat Batam itu dijadikan kota judi saja. Bagaimana menurut Anda?
Gus Dur memutar duduknya dan langsung menjawab. ”Anda ini gimana. Kalau kesulitan finansial, semua kita sedang kesulitan. Soal Batam jadi kota judi, ah pendapat kayak gitu aja kok dianggap. Gitu aja kok repot,” katanya. Saya kecewa tak dapat jawaban memuaskan. Padahal, kalau soal Batam jadi kota judi itu, saya ingin mendengar jawaban seorang presiden yang sekaligus ulama terkemuka. Berita wawancara bersama teman-teman RPG itu, lalu menjadi headline di koran kami masing-masing. Kalau melihat foto saya bersalaman yang dikirimkan Muchid ke saya itu, saya teringat pertemuan dengan Gus Dur.
Pertemuan kedua, saat Gus Dur berada di Kedutaan RI di Beirut, Lebanon tahun 2002. Saya dan rombongan dari Batam, mampir ke kedutaan saat melawat ke Timur Tengah. Saat itu, Gus Dur hanya pakai batik lengan pendek dan tanpa kopiah. Tapi, tak ada yang saya tanyakan ke Gus Dur karena saat itu ia sedang berbincang-bincang dengan duta besar. Saya mendapat kabar, Gus Dur terbilang sering ke Lebanon.
Lebanon yang terkoyak-koyak perang saudara karena agama memang unik. Gaya hidup sebagian warganya mengacu ala Paris. Sebagian penduduknya beragama Islam dan sebagian lagi Kristen sehingga masalah agama tabu dibicarakan. Saya hanya menduga, toleransi antar umat beragama yang ditularkan Gus Dur, bisa jadi karena pemahamannya yang mendalam tentang konflik antar umat beragama seperti yang terjadi di Lebanon. Itulah terakhir kali bertemu langsung dengan Gus Dur.
Saya kadang terheran-heran dengan pikiran-pikirannya, gaya nyelenehnya dan leluconnya. Ia menjadikan istana milik rakyat. Membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan, membela kaum minoritas, membentuk kementerian HAM dan sebagainya. Jabatan presiden yang sangat formal, bagi seorang Gus Dur bisa jadi lelucon. Siapa calon presiden tahun 2014 Gus Dur? tanya wartawan. Dengan santainya Gus Dur menjawab dirinya. Caranya gimana Gus? ”Ketik Reg Gus Dur Ciganjur,” katanya, enteng.
Meski matanya sejak lama tak melihat, berbagai penyakit yang menderanya, Gus Dur tidak hanya sebagai bapak bangsa, ia layak menjadi pahlawan dengan pikiran-pikiran besarnya. Selamat jalan KH Abdurahman Wahid…
Comments
Leave a Reply


