Helikopter ala Alexis

August 31, 2008 · Filed Under pribadi, weblog 

Hotel bintang empat itu kini ganti nama dari Grand Ancol menjadi Alexis. Hotel itu kini terkenal dengan bisnis esek-esek yang digemari orang dari berbagai daerah di Jakarta. Inilah praktik bisnis prostitusi terang-terangan dan terkenal dengan gaya helikopter dan melibatkan pelacur antar bangsa.

Letaknya di pinggir jalan raya menuju Ancol,  Jakarta.Nama Alexis kesohor hingga ke Papua sana. Hotel yang memanjang itu tekesan mewah. Lobbynya tidak terlalu luas. Lift terletak di belakang resepsionis. Malam itu, tak banyak tamu yang check-in. Tapi, sejumlah lelaki keluar masuk ke hotel itu.

Dengan ramah, seorang lekaki kebanci-bancian memegang handy talki, menyambut tamu dan membawanya ke lantai lima. Tamu itu dibawa ke salah satu kamar. ‘’Ini kamar peragaan.’’katanya. Bagi yang baru pertama kali ke sana, tentu penasaran dan bertanya-tanya.

Kamar itu kosong. Kasurnya digeletakkan di lantai. Tak ada meja dan kursi, kecuali sebuah bangku yang melengkung terbuat dari kayu dan dilapisi kulit empuk. Di atas plafon, ada besi stainless berukuran satu meter seperti gantungan. ‘’Kalau cewek-cewek di lantai lima ini, harganya Rp1,9 juta tapi di lantai tujuh hanya Rp1,7 juta. Bedanya sedikit, tapi pelayanannya beda,’’kata lelaki memakai jas itu.

Menurut marketing Alexis, pelayanan ditempatnya something different. Jika tamunya oke, ia bias memilih perempuan yang dimauinya. Ada yang dari Uzbekistan, Vietnam, Thailand, Filipina dan bule. Ini hanya di lantai lima. Di lantai tujuh, ada juga cewek local. ‘’Cewek yang mau kerja di Alexis harus menjalani test body dulu,’’kata seorang sales promotion girl yang temannya pernah kerja di sana.

Selain menjual sensasi, Alexis tahu benar memanjakan tamu. Saat melihat jarak plafon ke kasur, tentu yang terbayang adalah wanita bertubuh tinggi. Ternyata, kaki cewek itu digantung pakai kain, lalu diputar. Nah, saat tubuhnya berputar mengikuti kakinya yang dipelintir kain itulah, wanita itu melakukan oral seks! Inilah yang mereka sebut gaya helicopter.

Di lantai tujuh, pemandangannya sungguh mengejutkan. Puluhan bahkan ratusan wanita antar bangsa, berkumpul dan duduk berkelompok. Wanita Thailand di sudut ruangan yang menyerupai hall itu, lalu ada wanita-wanita bule, dari China atau biasa disebut cewek Cungkok, Uzbekistan pecahan Rusia, Vietnam dan cewek local di sudut lain mengenakan baju super ketat dan seksi berwarna merah jambu.

Berkedok massage dan spa, beberapa lelaki juga hilir mudik dan keluar masuk. Ada yang berpakaian sopan, ada pula yang hanya mengenakan baju handuk, bercengkrama dengan beberapa wanita. Inilah pelacuran internasional dan kelas atas yang tidak saja digemari lelaki Jakarta, tapi juga kesohor ke berbagai daerah.

Praktik prostitusi kelas atas itu buka sampai pukul 02.00 dinihari. Setelah berganti baju, wanita-wanita itu tampak seperti perempuan baik-baik. Namun, diskotek di lantai satu buka sampai pukul 05.00 pagi. Beberapa wanita yang sebelumnya mejeng di lantai tujuh, juga turun ke diskotek mencari mangsa.

Apakah aparat kepolisian tidak tahu adanya prostitusi kelas atas di Alexis? ‘’Sejak buka, Alexis tak pernah tersentuh. Bosnya kuat sekali sehingga tak pernah di razia,’’ kata seorang supir taksi yang sering mendrop tamu ke sana. Alexis seolah membenarkan cerita di buku Jakarta Undercover. ***

Comments

Leave a Reply