Gerakan Hemat Batam (1)
Menurut hemat saya, yang harus kita lakukan adalah berhemat. Hemat dalam apa saja. Hemat listrik, hemat air bersih, hemat belanja dan apa saja yang bisa dihemat. Sedari kecil, kita sering mendengar pepatah, hemat pangkal kaya. Masihkan pepatah lama ini relevan dan berguna?
Warga Batam ’terbiasa’ hidup dengan biaya mahal. Sebab, mata uang kedua di kota pulau ini adalah Dolar Singapura. Sepuluh tahun lalu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Singapura hanya Rp1.800 . Kini, saat krisis tiba menjadi Rp7.800. atau naik 4,3 kali lipat. Bisa dibayangkan, bagaimana harus membayar sewa ruko atau transaksi bisnis dengan mata uang negara tetangga itu.
Sejak krisis moneter tahun 1997, pedagang dan pramuniaga terbiasa mengambil kalkulator dan menghitung harga barang berdasarkan kurs yang setiap saat berubah alias kurs jalan. Beberapa pengusaha lainnya—tidak hanya pedagang valuta asing—punya teletext, untuk memonitor pergerakan mata uang dunia.
Sadar atau tidak, warga Batam memang cenderung konsumtif. Selain godaan barang-barang impor dan bermerek, sebagian terbiasa belanja ke Singapura. Padahal, di Orchard Road masih juga suka memilih barang-barang diskon dan cuci gudang. Lalu, bertemu pakaian made in Indonesia. Selain itu, mal-mal terus bertambah. Tak cukup uang beli yang baru? Bisa berburu barang-barang seken. Biar bekas tapi bermerek punya.
Tak percaya? Perhatikan saja kalau ada orang yang baru pindah ke Batam. Kalau sebelumnya dandanannya terkesan kuno dan kampungan, tak lama kemudian, bisa berganti gaya. Pakaian kinclong, jam tangan dan sepatu berkilat, dan tentu saja kalau balik kampung, tampak makin gaya dan keren. Kalau saya? Ya, sama saja. Belanja ke Singapura, beli baju diskon merek Montagut, buatan Paris dengan harga miring. He..he..Soalnya, harga biasa tak terjangkau.
Celakanya, sanak saudara, handai tolan di kampung beranggapan (mungkin karena penampilan berubah) mereka yang bekerja di Batam hidupnya sudah enak dan jadi orang kaya. Maka, mengalunlah lagu permintaan. Minta barang elektroniklah, barang imporlah, sampai bantuan uang. Padahal, taruhlah gajinya tinggi, namun biaya hidup di Batam juga tinggi.
Ketika warga Batam pulang kampung, biasanya harga barang-barang di kota asalnya, terasa lebih murah. Akibatnya, ya main borong sehingga kesan orang Batam banyak uang, beredar dari mulut ke mulut. Ditambah lagi kalau orang tersebut sesumbar di kampungnya bahwa Batam dekat dengan Singapura, barang impor murah dan gampang cari kerja. Inilah yang antara lain menjadi promosi ampuh sehingga orang datang berbondong-bondong ke Batam.
Tidak sedikit pula, warga yang jauh-jauh datang ke Batam, harus mengirim uang ke kampung halaman. Membantu orang tua, saudara dan keluarga. Padahal, pada saat ia baru bekerja, tentulah penghasilannya pas-pasan dengan ukuran Upah Minimum Regional yang besarnya Rp960 ribu per bulan. Nah, hitung saja kalau biaya kos Rp250 ribu, transportasi Rp200 ribu, makan Rp450 ribu, maka gajinya habis untuk biaya satu orang.
Bagi pekerja di Mukakuning, selain gaji mereka berharap dapat overtime alias kerja lembur. ’’Sejak krisis global ini, semua pekerja di Mukakuning tak ada OT tapi masih bekerja meneruskan order tahun ini,’’ kata seorang pekerja kepada saya. Kalau dihitung-hitung, jauh lebih bisa berhemat dan menyimpan uang seorang pembantu rumah tangga di Batam dibandingkan mereka yang bekerja di kawasan industri.
Tak percaya? Gaji seorang pekerja taruhlah Rp1 juta sebulan. Sementara, biaya harian yang harus dikeluarkannya, terutama yang tidak tinggal di dormitori, sehingga susah untuk menabung. Sedangkan seorang pembantu rumah tangga, begitu dia diambil majikan dari yayasan penyalur, dibayar Rp1,2 juta sebagai ganti ongkos, lalu gajinya berkisar Rp450 ribu hingga Rp600 ribu.
Makan dan minum, tempat tinggal jelas sudah ditanggung majikan. Malah, kalau beruntung dapat majikan baik, segala kebutuhan tetek bengek seperti sabun, sampo, pembalut hingga pakaian, dibelikan sang majikan. Kalau pembantu tersebut bisa berhemat, dengan gaji Rp500 ribu ia bisa menyimpan paling tidak Rp5 juta setahun.
Kita tidak tahu sedalam apa krisis global ini, dan sejauh mana dampaknya. Seorang pengusaha mengatakan kepada saya, krisis ini bakal lebih parah tiga kali dibandingkan resesi dunia yang pernah terjadi 50 tahun lalu. Memang, bagi orang awam tak terlalu terasa pada awalnya. Karena krisis ini adalah krisis orang kaya yang bermain saham di lantai bursa.
Yang bisa kita lakukan adalah berhemat. Ya, sekali lagi berhemat dan hidup lebih efisien. Setidaknya, ketika dampak krisis itu sudah sampai di depan pintu rumah kita, kita jauh lebih siap. Bagaimana caranya? Ikuti tulisan selanjutnya. ***
Comments
Leave a Reply


