<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gelper: Judi Gaya Baru Ala Batam</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[WAJAH lelaki itu mengeras. Matanya nanar menatap mesin poker itu. Ia mengaku sudah kalah lebih satu juta.Tangannya memukul tombol mesin judi itu keras-keras, ketika mengadu angka besar atau kecil, meleset. Lelaki supir taksi gelap ini, salah satu di antara  penjudi yang ketagihan  mengadu nasib di meja judi yang bernama gelanggang permainan alias gelper yang belakangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-357" title="RAZIA TEMPAT JUDI" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/12/Judi-300x186.jpg" alt="RAZIA TEMPAT JUDI" width="300" height="186" />WAJAH lelaki itu mengeras. Matanya nanar menatap mesin poker itu. Ia mengaku sudah kalah lebih satu juta.Tangannya memukul tombol mesin judi itu keras-keras, ketika mengadu angka besar atau kecil, meleset. Lelaki supir taksi gelap ini, salah satu di antara  penjudi yang ketagihan  mengadu nasib di meja judi yang bernama gelanggang permainan alias gelper yang belakangan marak di Batam.<span id="more-356"></span></p>
<p>Di tempat lain, seorang wanita muda dengan penampilan seksi, juga asyik menekan tombol mesin judi di sebuahmal terkenal. Yang membuat miris, putrinya yang berusia sekitar 2 tahun, juga ikut menemani ibunya main judi. Sesekali, bocah itu merengek dan minta disuapi ibunya, sambil terus bermain poker.  Bocah itu terheran-heran, melihat ibunya memelototi layar bergambar aneka buah-buahan itu.</p>
<p>Memang, puluhan arena Gelper yang tersebar di mal, hotel hingga ruko di Batam, menyediakan berbagai jenis permainan. Antara lain, poker yakni mesin yang menyediakan angka satu hingga tiga belas dan bisa diadu dengan pilihan besar atau kecil. Pemain membeli koin yang bernilai Rp20 satu koin. Dengan uang Rp100 ribu, pemain mendapat 5.000 koin.</p>
<p>Rata-rata, pemain menghabiskan Rp200 ribu hingga Rp500 ribu mengadu nasib di mesin poker. Bagi yang beruntung, bisa mendapatkan 25.000 koin atau hadiah tertinggi 5 joker yang mendapat 1.200 koin. Nah, koin ini ditukarkan berupa tiket yang bisa ditukarkan dengan uang. Yang menukar 25 ribu koin mendapat Rp500 ribu dan yang menang 5 joker mendapat Rp 2,4 juta.  Tapi, sangat jarang pemain mendapatkan hadiah tertinggi ini, sehingga mereka rata-rata, ya kalah.</p>
<p>Permainan lainnya adalah Doraemon. Bola sebesar kelereng yang diputar dan masuk ke lubang yang berisi angka satu hingga dua belas dan dua angka tiga belas atau bintang. Pemain yang memasang 100 koin, akan mendapat 12 kali lipat atau menjadi 1.200 koin. Permainan Doraemon bisa menyedot uang pemain hingga jutaan. Batas kemenangan pemain jika kreditnya yang ditukar tiket itu mencapai nilai Rp10 juta. Namun, jarang pemain bisa menang dan lebih banyak menelan kekalahan.</p>
<p>Jenis permainan lain misalnya tebakan angka di mesin jackpot berupa bola yang berputar dan masuk ke lubang berisi angka-angka dari satu hingga dua belas. Yang juga cukup banyak adalah mesin jackpot berupa gambar binatang atau buah-buahan. Dengan membeli koin seharga Rp100 ribu, mendapat kredit 5.000 koin, lalu tombol mesin jackpot itu dijepit dengan sedotan plastic sehingga jalan sendiri. Jika sembilan kotak di mesin itu gambarnya belalang semua, pemain dapat Rp500 ribu, kalau kupu-kupu dapat Rp1,4 juta. Hadiah dan bonus tertinggi jika gambarnya bunga mawar merah atau biru yang mendapat hingga Rp4 juta.</p>
<p>Kalaupun ada pemain yang menang,  dari mesin-mesin itu, keluarlah tiket seperti di tempat permainan anak-anak Time Zone, lalu dihitung wasit jumlahnya dan digiling dengan mesin penghancur tiket. Kepada pemain diberikan secarik kertas yang disebut cek, bertuliskan berapa jumlah tiketnya dan ditandatangani, Nah, cek itulah yang ditukarkan dengan uang, di tempat-tempat tertentu. Pokoknya, agak jauh dari lokasi permainan untuk menghindari razia. Penukaran uang itu dilakukan sembunyi-sembunyi di tempat parker atau di sudut lokasi Gelper yang sepi. Ada pula pemain mendapat hadiah berupa barang seperti handphone, blackberry atau handycam, lalu ada seseorang yang menampung dan membeli di sekitar lokasi kepada pemain.</p>
<p>Setiap permainan, dibawah pengawasan seorang koordinator dan  pemain dilayani beberapa orang yang disebut ‘wasit’ yang bertugas memberikan koin yang dibeli, memasukkan koin ke mesin dan melayani permintaan minuman dan makanan serta rokok. Untuk menghindari yang bukan pemain meminta rokok atau minuman, setiap pembelian koin, pemain mendapat kupon yang dalam jumlah tertentu bisa ditukarkan dengan rokok, makanan atau minuman keras.  Di setiap Gelper, karyawannya ada yang bertugas sebagai kasir, koordinator, keamanan, wasit, dan cleaning service.</p>
<p>‘’Wasit-wasit ini dibayar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu perhari. Kalau libur atau tak masuk kerja karena sakit, ya tidak dapat apa-apa,’’ cerita seorang wasit. Untuk mendapat tambahan pendapatan, para wasit ini menunggu kalau ada pemain yang berbaik hati memberi sejumlah uang sebagai tips jika menang. Karena wasit dilarang ikut main, tidak heran, kadang ada ‘’kerjasama’’ antara wasit dan pemain. Caranya, wasit memberi tahu pemain tertentu mana mesin yang pemainnya sudah kalah banyak dan berhenti. Biasanya, mesin yang sudah menyedot koin banyak, bakal ‘’muntah’’ sehingga pemain baru lebih besar kemungkinan menang.</p>
<p>Pemain yang kalah, meninggalkan gelanggang permainan dengan wajah merah padam, menggerutu dan satu dua orang marah-marah. Yang menang, biasanya mendapatkan teriakan hose. Entah apa artinya hose, mungkin dari istilah full house atau kombinasi kartu tertentu dalam permainan judi jenis poker. Ketika pemain menang dan mendapatkan koin dalam jumlah tertentu, teriakan hose akan membahana ke segala sudut ruangan gelper.</p>
<p>Kalau ada pemain yang menang, maka dari mesin-mesin itu, keluar berlembar-lembar tiket, sesuai dengan jumlah koin yang didapat. Tiket tersebut dilipat lalu dihitung wasit dan diserahkan ke karyawan yang bertugas menghitung ulang dan menghancurkan tiket tersebut di mesin penghancur kertas. Istilahnya, tiketnya ‘’digiling’’ alias dipotong-potong mesin. Lalu, petugas di ruang kasir itu lalu memberikan selembar kertas bertuliskan jumlah tiket dan ditandatangani. Kertas kecil itu disebut cek, yang bisa ditukarkan dengan uang. Agar tidak terkesan tiket bisa diuangkan, maka pemain harus mencari seseorang yang bertindak sebagai juru bayar sesuai jumlah kemenangan.</p>
<p>Tapi, harus sembunyi-sembunyi. Sang kasir atau juru bayar tersebut, biasanya menunggu di suatu tempat tertentu, seperti areal parker atau sudut-sudut ruangan yang gelap, baru membayarkan sejumlah uang, sesuai hasil perhitungan tiket pemain yang menang dan sudah dihancurkan. Kenapa harus sembunyi-sembunyi? ‘’Ah, biasalah bang. Kalau tidak kita bisa kena razia,’’ kata juru bayar itu, beralasan.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p>Begitulah. Sejak dua tahun terakhir, gelanggang permainan atau Gelper, marak di Batam, sejak Peraturan Daerah (Perda) soal gelper ini diketok anggota dewan Kota Batam. Pejabat-pejabat di Batam, seperti Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Kepala Dinas Pariwisata Yusfa Hendri, mati-matian menolak anggapan bahwa Gelper itu judi.  Lalu, kalau bukan judi, kenapa digerebek dan disegel polisi?</p>
<p>Gelper mulai beroperasi saat Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam dijabat Guntur Sakti. ‘’Secara konsep, Gelper bukan judi, tetapi secara praktek, iya,’’ kata Guntur. Ia meneken  14 izin Gelper dari 16 izin yang sudah ada sehingga menjadi 40 izin Gelper. Namun, izin Gelper terus bertambah menjadi 62 lebih saat Guntur Sakti digantikan Yusfa Hendri sebagai Kadis Pariwisata. Kenyataannya, Gelper terus merambah ke berbagai sudut kota dan yang beroperasi mencapai 74 Gelanggang Permainan.  Menurut Guntur Sakti, jumlah tenaga kerja yang tertampung di gelanggang permainan ini mencapai 480 orang Jumlah ini terus bertambah seiring makin maraknya Gelper.  Berbeda dengan Guntur,Yusfa malah ngotot menyebutkan Gelper bukan judi.</p>
<p>Aturan main yang mengatur soal Gelper memang terkesan abu-abu alias samar-samar dan tak jelas. Yang jadi dasarnya adalah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2003 perubahan atas Perda nomor 17 tahun 2001 tentang kepariwisataan. Perda ini dikenal dengan sebutan Perda Kawasan Wisata Terpadu Ekslusif (KWTE) yang diterbitkan tahun 2002 silam.</p>
<p>Ide membangun kawasan khusus yang dinamakan Kawasan Wisata Terpadu Eksklusif (KWTE),  bertujuan melokalisasi berbagai jenis hiburan dalam sebuah wilayah yang jauh dari hunian penduduk. Gagasan ini muncul karena di kota Batam sejak 1990 jenis hiburan seperti karaoke, diskotek, mandi uap, dan panti pijat mulai marak, termasuk perjudian. Pemko Batam lalu menyodorkan draf Peraturan Daerah (Perda) tentang Kepariwisataan dan disetujui DPRD Batam tanggal 8 Oktober 2001. Dalam Bab XV perda itu disebutkan, KWTE hanya ditujukan untuk wisatawan mancanegara dan ditempatkan di kawasan khusus dan jauh dari permukiman.</p>
<p>KWTE baru dapat dilaksanakan jika pemkot telah menertibkan segala jenis hiburan dan perjudian yang tidak berizin di Batam. Prakteknya,perda belum disahkan, dan belum pula digelar penertiban bisnis judi, Pemkot Batam sudah menunjuk perusahaan pengelola perjudian itu, setelah  mengantongi izin prinsip dan izin lokasi KWTE sementara. Dalam Nota kesepakatan (<em>memorandum of agreement</em> &#8211;MoA), yang diteken Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam, Tering Bay Resort, Nongsa Point, ditetapkan sebagai lokasi sementara KWTE. Dalam Pasal 3 ayat 2 MoA itu disebutkanlah jenis-jenis permainan eksklusif untuk kawasan terpadu itu, seperti <em>roullete, baccarat, craps, ji si kie, pay kyu, black jack</em>, dan <em>poker</em>, yang tidak lain adalah jenis perjudian.</p>
<p>Perda kontroversial itulah yang diubah dan diutak-atik kembali. Namun, dalam Perda nomor 3 tahun 2003 KWTE tidak lagi disebutkan diperuntukkan khusus bagi wisatawan mancanegara, tidak seperti dalam Perda nomor 17 tahun 2001 yang telah direvisi. Disebutkan, Gelper atau gelanggang permainan mekanik/elektronik adalah suatu usaha yang menyediakan tempat, peralatan/mesin bola dan fasilitas untuk bermain ketangkasan yang bersifat hiburan bagi anak-anak dan orang dewasa serta dapat menyediakan restoran / rumah makan. Juga diatur dalam Perda tersebut  mencegah setiap orang untuk melakukan perjudian dan perbuatan yang melanggar kesusilaan serta tidak bertentangan dengan norma-norma keagamaan.</p>
<p>Dari Gelper, Pemko Batam berharap mendapat pemasukan berupa retribusi. Untuk mengurus Izin Prinsip Usaha Pariwisata (IPUP) dan Izin Tetap Usaha Pariwisata (ITUP), pengusaha Gelper membayar Rp50.000 per mesin. Begitu juga saat mendaftar ulang. Dinas Pariwisata dan Budaya sebagai pelaksana pemungut retribusi diberikan uang perangsang sebesar 5 % (lima persen) dari realisasi penerimaan retribusi yang disetorkan ke Kas Daerah, yang pengaturannya ditetapkan dengan Keputusan Walikota.</p>
<p>Sejak tahun 2009, Pemko Batam menggagas Visit Batam 2010 untuk menggenjot pendapatan dari sektor pariwisata.  Harap dicatat, kunjungan wisatawan ke Batam nomor tiga terbanyak di Indonesia. Itu pun jumlahnya hanya sekitar 1,3 juta orang per tahun. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 27 juta pertahun. Anehnya, dalam Perda yang sudah direvisi tiga kali itu, belakangan wisatawan mancanegara tidak lagi menjadi prioritas.</p>
<p>Nah, Gelper dinilai sebagai salah satu upaya mendongkrak kunjungan wisatawan itu untuk menambah pundi-pundi Pemko bernama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Agar legal, aturannya pun dibuat. Maka muncullah Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam Nomor 17 Tahun 2001 yang direvisi dengan Perda Nomor 3 Tahun 2003. Di seluruh Kepulauan Riau, total jumlah Gelper sebanyak 81 lokasi. Sebanyak 74 di Batam, 5 di Tanjungpinang dan 2 di Karimun.</p>
<p>Syarat lain,  tidak diperbolehkan penukaran hadiah berupa uang di arena Gelper dan arenanya harus berlokasi di tempat terbuka seperti mal, plaza dan hotel atau kawasan tertentu yang telah ditetapkan Pemko Batam.   Jika ada yang berjudi? ‘’Itu kewenangan polisi sebagai penyidik,’’ kata pejabat Pemko Batam, enteng.  Jam operasi Gelper diatur dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 malam. Hal lainnya adalah semua mesin gelper yang berada di arena gelper harus diverifikasi dan diregistrasi oleh Disparbud Kota Batam sebagai pemberi izin usaha.</p>
<p>Dari penelusuran di lapangan, dalam tempo singkat izin Gelper terus bertambah. Jika semula hanya ada 14 pemegang izin semasa Kadis Pariwisata dijabat Guntur Sakti, begitu ia digantikan Yusfa Hendri, izin Gelper seperti diobral, melejit menjadi 40 Gelper dan terakhir menjadi 74 Gelper. ‘’Sebelumnya, izin Gelper cukup ketat, dan harus menemui pejabat kepolisian dulu. Eh, belakangan main kasih saja. Satu tanda tangan izin Gelper membayar Rp30 juta hingga Rp 40 juta, sehingga jumlah Gelper tidak terkendali,’’ beber seorang pengusaha Gelper.</p>
<p>Meski di sejumlah Gelper dipasang tulisan hitam dengan kertas putih dilarang berjudi, polisi tetap menganggap bahwa Gelper adalah perjudian dengan modus operandi Gelanggang Permainan. Kombes Pos Napoleon Bonaparte dari Mabes Polri setelah menggerebek Gelper di Hotel Formosa Batam menyebutkan,’’Mabes Polri tidak hanya menggerebek Sky Zone, tapi semua Gelper. Kami menyita mesin dan uang Rp37 juta lebih, serta beberapa orang saksi,’’ katanya kepada wartawan.</p>
<p>Pajak Gelper juga jauh dari harapan. Dari puluhan Gelper hanya tiga saja yang membayar pajak.  Sebanyak 15 pengusaha tidak pernah membayar pajak.  Gelper yang mengoperasikan 100 hingga 300 mesin, omsetnya mencapai ratusan juta. Pengusaha Gelper wajib menyetor 20 persen dari total omsetnya ke kas Pemko Batam. Konon, pengusaha Gelper ‘’bekerja sama’’ dengan oknum Dinas Pariwisata, mengatur pemberian upeti terhadap oknum aparat dan oknum wartawan, agar tidak rebut-ribut dan mengusik keberadaan Gelper di setiap sudut kota.</p>
<p>Menurut seorang pejabat teras Pemko Batam, Perda yang mengatur soal Gelper ini, sebenarnya mengadopsi dan merevisi Perda Kawasan Wisata Terpadu Ekslusif (KWTE) yang pernah dibuat sebelumnya. Namun,  Perda tersebut yang mengatur soal kawasan wisata terpadu itu, gagal sebelum diterapkan. ‘’Menurut saya, Singapura menerapkan dan mengadopsi kawasanwisata terpadu ekslusif yang mau kita terapkan. Kawasan Marina Bay Sand dan Sentosa World Resort adalah buktinya,’’ katapejabat tersebut.  Tapi, pejabat itu lupa. Batam bukan Singapura.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Pengusaha muda itu nelangsa. Usaha Gelper yang digelutinya baru lima bulan, mendadak harus tutup. Istilahnya, disegel sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Lokasi Gelpernya di mal dan  lokasi perhotelan di Nagoya, diberi garis polisi. Padahal, untuk membuka empat lokasi Gelper itu, masing-masing ia menanam modal sekitar Rp500 jutaan. Artinya, Rp 2 Miliar duitnya terbenam disitu.  ‘’Saya buka Gelper sudah terlambat. Ini karena ada pengelola Gelper yang ditangkap polisi, lalu disidang dan bebas. Artinya, secara hukum kan tidak bermasalah. Itu sebab saya berani terjun ke bisnis Gelper,’’ katanya. Setidaknya, sudah tiga kali kasus Gelper ini ditangani aparat hukum. Pemain ditangkap, diperiksa polisi dan diadili. Ternyata, pada tersangka yang dijerat pasal perjudian itu, belakangan malah bebas.</p>
<p>Ternyata, dari sebanyak 74 izin Gelper yang dikeluarkan, pemilik izin hanya berkisar 20 orang saja. Satu  pengusaha, bisa punya 3 hingga 6 lokasi Gelper.  Caranya, mereka memakai nama orang lain untuk menambah izin baru. Selain pengusaha-pengusaha beken dan dulu pernah terjun ke bisnis judi dan muka-muka lama, ada juga mantan pejabat kepolisian, mantan anggota dewan yang mengantongi izin tersebut.</p>
<p>Menurut seorang mantan pegawai Disparbud yang mengurusi izin-izin Gelper tersrebut, sejak awal pengusaha-pengusaha Gelper ini, sulit dikoordinir. Sebab, selain skala usaha mereka berbeda, masing-masing merasa punya channel dan koneksi ke kepolisian, baik di Polresta Barelang, Polda Kepri maupun Mabes Polri. ‘’Kalau diundang, banyak yang tak mau datang. Begitu pula untuk sumbangan ke pihak-pihak tertentu, agar usaha Gelper berjalan lancar,’’ kata mantan pegawai itu.</p>
<p>Setelah tutup beberapa bulan belakangan ini, diam-diam dua pegawai Dinas Pariwisata Pemko Batam, datang ke Mabes Polri, mencoba melobi dan mengirim surat ke Mabes Polri, agar Gelper dibuka kembali.  Tanggal 3 November lalu, Mabes Polri mengirim surat bernomor B/4184/XI/2011/Bareskrim tentang persetujuan permohonan membuka status quo jasa usaha Gelanggang Permainan (Gelper) di Batam.</p>
<p>Padahal, pada tanggal 21 September 2011, ada laporan polisi bernomor LP/594/2011/Bareskrim tentang tindak pidana perjudian di Kota Batam serta surat Irwasum Polri tentang hasil penyelidikan dan monitor perkembangan kegiatan Gelper yang berindikasi perjudian di wilayah Kepri. Tanggal 13 Oktober 2011 Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Yusfa Hendri mengirim surat permohonan untuk membuka status quo jasa usaha gelanggang permainan mekanik/elektronikdi Batam.</p>
<p>Inti surat yang diteken Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Polisi Agung Santoso tersebut adalah, demi tercapainya kepastian hukum dan berjalannya usaha di bidang jasa rekreasi dan hiburan khususnya Gelanggang Permainan di Kota Batam, Bareskrim Polri tidak keberatan membuka status quo di setiap lokasi Gelper dan selanjutnya terhadap lokasi tersebut akan dilakukan penyegelan oleh Satpol PP Pemko Batam dengan catatan, pembukaan status quo bersama Bareskrim Polri dan Kepolisian Daerah Riau, Satpol PP Pemko Batam untuk menindaklanjuti pengecekan mesin.</p>
<p>Selain itu, melakukan pengecekan ulang (standarisasi) terhadap seluruh mesin, dan tidak menerbitkanb ijin operasional terhadap mesin-mesin yang melanggar aturan permainan atau melanggar hukum. Masalahnya, tertulis di surat itu Polda Riau, bukan Polda Kepri. ‘’Kami sudah bahas surat ini, katanya salah ketik,’’ kata seorang pengusaha Gelper yang masih menunggu diperbolehkannya kembali Gelper beroperasi.</p>
<p>Sampai saat ini, tulisan berlogo Mabes Polri berdasarkan Surat Perintah Sprint/2011/XI/2011/Bareskrim masih terpasang di seluruh arena Gelper berikut garis polisi (police line) tanggal 21 September 2011. Bunyinya: Diberitahukan bahwa mesin-mesin gelper diruangan ini telah disita oleh penyidik Bareskrim Polri terkait perjudian. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, juga menyatakan, seluruh Gelper yang beroperasi di Batam adalah perjudian. Hal ini berdasarkan unsur jenis permainan yang jelas-jelas mengandung unsur adu nasib alias untung-untungan. Meski pejabat Pemko Batam berkali-kali mengatakan Gelper bukan judi, namun hukum positif Indonesia masih memandang berjudi sebagai perbuatan pidana. Masihkah para pejabat bersikeras bahwa Gelper bukan judi? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Euy&#8230;</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 06:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua kota di Pulau Jawa, sudah pernah saya kunjungi. Baik saat jadi mahasiswa, maupun setelah bekerja. Tapi Bandung, belum sama sekali. Jadi penasaran juga dengan kota berjuluk Paris Van Java ini. Kali ini, saya berlebaran dan jalan-jalan bersama keluarga ke Bandung, sekaligus menuntaskan penasaran.Apalagi, beberapa tahun lalu, sebagai Ketua PWI Kepri, saya diundang ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-353" title="jalan2" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/10/jalan22.jpg" alt="jalan2" width="350" height="227" />Hampir semua kota di Pulau Jawa, sudah pernah saya kunjungi. Baik saat jadi mahasiswa, maupun setelah bekerja. Tapi Bandung, belum sama sekali. Jadi penasaran juga dengan kota berjuluk Paris Van Java ini. Kali ini, saya berlebaran dan jalan-jalan bersama keluarga ke Bandung, sekaligus menuntaskan penasaran.<span id="more-348"></span>Apalagi, beberapa tahun lalu, sebagai Ketua PWI Kepri, saya diundang ke Bandung menghadiri peringatan hari pers nasional. Hotel sudah disediakan di Savoy Homan, persis di depan kantor surat kabar Pikiran Rakyat. Namun, karena kesibukan kerja, saya batal hadir. Bersama kedua buah hati dan istri, saya seminggu berlebaran di Bandung.</p>
<p>Meski dari Batam ada penerbangan langsung ke Bandung dengan Merpati Airlines, saya memilih naik Garuda via Jakarta. Sebab, selain jadwal yang tidak jelas, sudah lama Merpati kesulitan mengoperasikan pesawatnya. Dari Jakarta, kami naik Alphard sewaan menuju Bandung.</p>
<p>Tiga hari menjelang lebaran, sungguh enak melintasi jalan-jalan Jakarta yang sepi. Kota yang terkenal macet itu ditinggal penghuninya mudik lebaran. Begitu pula saat melintasi jalan tol Cipularang, yang juga sering macet. ‘’Heran, kok lancar ya? ‘’ kata supir kami. Saya menduga, karena pada hari itu Minggu, mungkin banyak orang berpikiran Cipularang macet sehingga memilih tidak jalan.</p>
<p>Udara sejuk Bandung mulai terasa. Saya menginap di Panghegar Hotel, di Jalan Merdeka. Malamnya, kami menyantap masakan Sunda tak jauh dari hotel. Esoknya, mulailah kami menjelajahi Bandung. Seorang anak muda bernama Jai, menemani keluargaku selama di Bandung.</p>
<p>Kedua anakku, Axel dan Sonya sejak awal berencana mengunjungi Trans Studio, yang iklannya gencar di televisi.Meski sehari sebelum lebaran, pusat rekreasi itu luar biasa ramainya. Loketnya antri sejak pag dan tiketnya satu orang Rp200 ribu. Ternyata, konsepnya meniru model Universal Studio Singapore. Bagi warga Jawa Barat dan sekitarnya, memang punya daya tarik luar biasa.</p>
<p>Tiga hari menjelang lebaran, kami tiba di Jakarta. Lalu naik Alphard melewati tol Cipularang menuju Bandung. Alphard? Sesekali naik mobil sewaan bagus ya boleh juga. Lagi pula, hanya sehari kok, hehehe.. Namun, terasa jauh bedanya kalau kita melintasi jalan-jalan di Malaysia, dari Johor, Melaka menuju Kuala Lumpur. Selain bersih, rest area-nya nyaman dan ramai disinggahi pelancong. Kami menginap di Grand Panghegar Hotel di Jalan Merdeka di pusat kota dan dekat kemana-mana.</p>
<p>Bandung memang kota yang kaya kuliner. Makan di restoran, tidak terlalu mahal. Tapi, kadang malah lebih enak makan di kawasan Punclut, di perbukitan sambil memandang kota Bandung di ketinggian. Atau makan di kaki lima di berbagai sudut kota kembang ini.  Puluhan rumah makan, mulai dari nasi timbel sampai makanan khas Sunda berjejer di Punclut. Umumnya, rumah makan tersebut berbentuk rumah panggung. Hawa yang dingin membuat makan makin sedap.</p>
<p>Kami jalan ke Cibaduyut, yang terkenal dengan produksi tas, aneka sandal dan sepatu itu. Lalu keesokan harinya jalan-jalan ke Lembang, mampir ke peternakan sapi yang membuat berbagai jenis makanan ringan dari susu, dan mandi air panas di Ciater yang terkenal itu.  Kawasan itu kini tidak hanya menyediakan mandi air panas, juga bebragai permainan untuk anak-anak dan keluarga. Mulai dari naik kuda, ATV hingga gokart.</p>
<p>Bandung memang kota yang unik. Selain wisata alam seperti Gunung Tangkuban Perahu, juga banyak sekali gedung-gedung bersejarah seperti Gedung Sate, Gedung Merdeka, dan museum Konferensi Asia Afrika yang terkenal itu. Namun Masjid Raya yang menjadi salah satu ikon Bandung itu, kondisinya kurang terawat dan kumuh. Pengemis dan pedagang kaki lima memenuhi areal alun-alun masjid itu.</p>
<p>Supir kami, Jay yang asli Sunda itu,  hapal jalan-jalan Jawa Barat. Kami diajak ke kampungnya di Ciwidey. Kawasan yang terletak di ketinggian ini, memang mengasyikan. Angin bertiup sepo-sepoi dan udara sejuk. Sejauh mata memandang hanya sawah dan kebun sayur milik warga. Kami disuguhi rengginang dan renggining, penganan khas Sunda. Di rumah Jay, bawaannya lapar dan ngantuk.</p>
<p>Saya dan anak saya Ariel, salat Jumat di kampong Ciwidey. Kami hanya terbengong-bengong saat mendengar khatibnya ceramah pakai bahasa Sunda. Hehehehe… Sepulang dari masjid, saat ditegur beberapa orang tua, saya terpaksa diam saja karena tidak mengerti apa yang dikatakannya. Yang jelas, kalau berpapasan, selalu berkata: punteen…nuhun…hehehehe.</p>
<p>Meski sempat mengunjungi Asep Strawberry yang terkenal itu, namun tempat peristirahatan, bungalow dan tempat memetik buah strawberry dari pohonnya itu tutup lantaran masih dalam suasana lebaran. Saya sempat makan mie dan ngopi serta melihat-lihat tempat itu. Pulangnya, kami terjebak macet di kawasan Nagrek dan baru malam hari sampai kembali ke hotel.</p>
<p>Agar bisa cepat mengenal kota, hamper tiap pagi saya keliling naik sepeda yang disewakan hotel. Jalan-jalan utama di kota Bandung yang satu arah, memudahkan untuk mengenal kota dengan cepat. Namun, meski jaraknya pendek, terpaksa harus jalan memutar. Tak terasa, seminggu di Bandung cukup menuntaskan penasaran menjelajahi sebagian Jawa Barat. Apalagi, pulangnya kami memilih melewati Cianjur dan Bogor. Sebab, kedua anak saya ingin mengunjungi Taman Safari di Bogor. Meski sempat macet selama tiga jam di kawasan Puncak lantaran jalan buka-tutup, kami menikmati perjalanan itu. Malamnya, tiba di Jakarta dan menginap di Santika Hotel, di Jalan KS Tubun.</p>
<p>Masih ada agenda liburan. Yakni ke Kidzania, kotanya anak-anak. Sebelumnya, kedua anak saya pernah ke sana, bersama rombongan Sekolah Kallista. Tapi, mereka belum puas, lantaran masih banyak permainan yang belum dicoba.  Setelah itu, kami mengunjungi Masjid Istiqlal yang terbesar di Asia Tenggara dan meninjau pesantren Darunnajjah di Jakarta Selatan. Pulang ke Batam, meski capek, liburan bersama keluarga kali ini sungguh mengayikkan…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In Memoriam Akmal Atatrik</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Menulis Sampai Akhir Hayatnya
 Ia layak mendapat julukan wartawan senior, bukan wartawan tua. Sebab, sampai akhirnya hayatnya, ia tetap menulis dan menulis. Sakit yang menderanya, tak mampu menahan Akmal Atatrik, tetap menulis. Kolom dari redaksi di Radar Kepri edisi ke 138 pekan lalu, adalah tulisan terakhirnya.
Kami, para wartawan yang mengenal Bang Akmal—begitu ia biasa disapa—sejak lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis Sampai Akhir Hayatnya</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-345" title="radar kepri" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/10/radar-kepri1.jpg" alt="radar kepri" width="350" height="234" /> Ia layak mendapat julukan wartawan senior, bukan wartawan tua. Sebab, sampai akhirnya hayatnya, ia tetap menulis dan menulis. Sakit yang menderanya, tak mampu menahan Akmal Atatrik, tetap menulis. Kolom dari redaksi di Radar Kepri edisi ke 138 pekan lalu, adalah tulisan terakhirnya.<span id="more-343"></span></p>
<p>Kami, para wartawan yang mengenal Bang Akmal—begitu ia biasa disapa—sejak lama mendengar kabar soal kesehatannya yang terus menurun. Kepada putranya Irfan, ia masih memikirkan kelangsungan surat kabar mingguan Radar Kepri, yang berkantor di rumahnya di Sei jang, Tanjungpinang. Motonya, dengan membaca kita tau.</p>
<p>Akmal Atatrik malang melintang di dunia jurnalistik sejak 1968 dua tahun setelah ia menetap di Tanjungpinang. Lelaki kelahiran Payakumbuh, 15 Februari 1946 itu, sudah menjadi wartawan pada usia 22 tahun. Mulai dari harian <em>Api Pancasila</em>, lalu menjadi penulis lepas majalah <em>Varia</em>, koresponden majalah <em>Selecta</em>. Tahun 1977, Akmal menjadi wartawan majalah <em>Detik</em> hingga dibreidel pemerintah Orde Baru dan bergabung dengan Mingguan <em>Genta</em> tahun 1986.</p>
<p>Jejaknya di dunia pers Kepri makin lengkap. Akmal bergabung dengan <em>Riau Pos Grup</em> dan menjadi Kepala Perwakilan serta mengurus percetakan Sistem Cetak Jarak Jauh pertama, yang kemudian menerbitkan <em>Sijori Pos</em> dan <em>Batam Pos</em>. Tahun 2000 hingga 2003, ia menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid <em>Sempadan</em> dan tahun 2007 menerbitkan surat kabar mingguan <em>Radar Kepri</em>.</p>
<p>Tidak hanya menjadi wartawan, Akmal memiliki andil cukup besar terhadap organisasi Persatuan Wartawan Indonesia. Ia didapuk menjadi Ketua PWI Perwakilan Kabupaten Kepri yang pertama. Saya malah ikut tes sebagai anggota PWI di Tanjungpinang, menempuh perjalanan dari Bukittinggi, Pekanbaru menuju Tanjungpinang.</p>
<p>Rida K Liamsi, tokoh pers di Sumatera dan kini memimpin <em>Jawa Pos National Network</em>, jaringan media terbesar di Indonesia, memiliki kesan khusus terhadap Akmal. ‘’Bagi saya, Akmal adalah contoh wartawan yang rajin, ulet dan gigih. Ia otodidak dan punya cita-cita menjadi seorang penerbit yang sukses dan jatuh bangun mengelola surat kabarnya,’’ kata Rida kepada saya melalui pesan pendek dari Wina, Austria. Ia sedang mengikuti konferensi asosiasi Koran sedunia WAN-IFRA .</p>
<p>Di mata Rida, Akmal adalah seorang pengurus PWI yang gigih memperjuangkan organisasi dan nasib anggotanya. ‘’Bicara soal perkembangan pers di Kepri, Akmal adalah bagian sejarah naik turunnya kehidupan pers di kepri. Ia membina dan mendidik para wartawan serta ikut berjuang melahirkan propinsi Kepri,’’ kata Rida K Liamsi.</p>
<p>Banyak kenangan yang tersisa semasa hidupnya. ‘’Bang Akmal mampu menjembatani komunikasi antara wartawan senior dan wartawan junior. Ia mempersatukan wartawan yang datang ke Kepri, baik yang tergabung dalam PWI maupun bukan. Ia turut menegakkan eksistensi PWI di Kepri,’’ kata Marganas Nainggolan, COO Riau Pos Grup Divre Batam.</p>
<p>Hal senada diungkapkan Taufik Muntasir, yang pernah bekerja bersama-sama Akmal di Tanjungpinang. ‘’Sebagai wartawan, Bang Akmal punya semangat kerja yang tinggi, meski kondisinya tidak memungkinkan karena sakit. Ketika kebanyakan orang seletingnya ‘’pensiun’’ dalam berbagai aktivitas kewartawanan, tidak demikian halnya dengan Bang Akmal. Ia terus menulis dan menulis,’’ papar Taufik Muntasir.</p>
<p>Dalam bidang politik, Akmal juga berperan penting dalam perjuangan menjadikan Kota Tanjungpinang sebagai kota otonom dan pembentukan Provinsi kepri. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Kepri hingga tahun 1972, salah seorang penandatangan fusi partai politik Murba, IPKI, PNI dan Perkindo yang menjadi Partai Demokrasi Indonesia. Bersama Rida K Liamsi, Imam Sudrajat, Arief Rasahan dan Zulkarnain Zainudin, Akmal aktif menggagas lahirnya Provinsi Kepulauan Riau yang membentuk Komite Pemekaran Kepulauan Riau yang kemudian menyelenggarakan Musyawarah Besar Rakyat Kepulauan Riau tanggal 15 Mei 1999.</p>
<p>Sejarah dan perjuangan pembentukan kota otonom Tanjungpinang, berdirinya Provinsi Kepri, hingga terpilihnya Suryatati A Manan sebagai wali kota pertama dan prestasinya, dirangkumnya dalam sebuah buku berjudul: Batu Tajam Menuju Kota Otonom Tanjungpinang, terbitan 1 Januari 2009. ‘’Akmal  adalah tokoh politik yang loyal pada partainya. Sejak zaman PNI, PDI hingga PDIP tidak pernah jadi kutu loncat meski dia kerap dikhianati,’’ kata Rida K Liamsi.</p>
<p>Kepergiannya, tidak hanya menyisakan duka di kalangan wartawan, juga bagi para politisi, dan pejabat teras di Kepri.  &#8221;Kita kehilangan tokoh wartawan senior yang ilmu dan pergaulannya luas sekali. Beliau merupakan contoh jurnalis yang konsisten dari muda hingga akhir hayatnya dan patut diteladani jurnalis lainnya. Dari partai kita juga sangat kehilangan,&#8221; kata Wakil Gubernur Kepri HM Soerya Resationo, di rumah duka, kemarin.</p>
<p>Walikota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan, mengenangnya sebagai jurnalis yang lugas dan tanpa basa basi. Almarhum juga diingatnya sebagai orang yang sangat peduli dengan kemajuan dan perkembangan daerahnya. Termasuk, memperjuangkan terbentuknya Kota Otonom Tanjungpinang serta Provinsi Kepri. &#8221;Kepergian beliau membuat kita kehilangan tokoh yang berani bicara apa adanya,&#8221; ucap Tatik.</p>
<p>Tidak hanya soal berita, Akmal juga paham soal mesin cetak. Sebab, mesin cetak jarak jauh diawali di Tanjungpinang tahun 1994. Mengirim mesin cetak ke Tanjungpinang juga bukan pekerjaan gampang. Saat itu, tidak ada fasilitas bongkar muat alat berat di pelabuhan. Padahal, mesin cetak itu beratnya antara 3-5 ton. Mesin-mesin itu lalu dibawa dengan truk, lalu naik kapal dan langsung menuju lokasi percetakan agar tak perlu dibongkar di pelabuhan.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya menurunkan dari truk mesin dengan berat belasan ton?  Karena tak ada forklif, mesin itu diturunkan dengan titian kayu yang landai, lalu ditarik satu demi satu! Mesin itu ditarik pakai mobil lain, atau diikatkan ke pohon dan truknya bergerak men-jauh.  Pemasangan mesin juga tak kalah sulitnya. Tidak ada crane,  katrol pun jadi. Mesin cetak itu dipasang satu demi satu dengan cara diderek pelan-pelan. Akhirnya, dengan kerja keras tak kenal lelah, mesin cetak itu berhasil diset-up. Akmal ikut membangun Riau Pos Grup di Kepri.</p>
<p>Di percetakan, Akmal juga dikenang anak buahnya sebagai pekerja keras, mendidik karyawannya hingga jadi orang dan memiliki kepedulian yang tinggi. ‘’Karena beliau saya bisa bekerja, mulai dari satpam, lalu mengurus perawatan mesin cetak. Kalau mesin rusak, Pak Akmal ikut turun tangan bersama karyawannya,’’ kata La Umpa, yang kini menjadi manajer maintenance percetakan Bintana, yang mencetak harian <em>Batam Pos, Posmetro Batam</em> dan <em>Tanjungpinang Pos</em> serta belasan koran mingguan di Kepri.</p>
<p>Meski usianya tak muda lagi, Bang Akmal orang yang energik dan bersemangat.Ia pekerja keras dan bangga dengan profesinya sebagai wartawan.Saya ingat betul, ketika ada peristiwa pembunuhan yang menggegerkan Tanjungpinang, Bang Akmal turun ke lapangan meliput.</p>
<p>Sampai tiga kali ia mengirimkan beritanya ke Batam karena ada informasi terbaru yang diperolehnya. Saya sampai mengultimatum karena dikejar deadline.Tapi, Bang Akmal tak balik marah kepada saya yang masih junior.Berita itu menjadi headline.</p>
<p>Pergaulannya yang luas sehingga tidak heran, banyak tokoh-tokoh Kepri yang melayat ke rumah duka. Mulai dari Wagub Kepri HM Soerya Respationo yang juga Ketua PDIP Kepri, dan Wali Kota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan. Ketua DPRD Kepri, HM Nur Syafriadi dan Ketua DPRD Tanjungpinang, Suparno ikut hadir.Juga tokoh masyarakat, anggota DPRD Kepri, DPRD Tanjungpinang dan wartawan di Kepri.</p>
<p>Ribut Suryadi  rekan Akmal menyebutkan almarhum adalah pejuang sejati. Bukan hanya pejuang untuk pers dan jurnalistik, tapi juga tonggak awal perjuangan Kepri bersama H Imam Sudrajat dan Arif Rasahan.  &#8221;Dia guru saya. Seorang yang idealis dan keras berprinsip. Walau keras tapi dia suka menolong teman yang susah dan tanpa pamrih. Kita semua sangat kehilangan,&#8221; kata rekan almarhum yang juga wartawan, Sofyan Tanjung sambil terisak di rumah duka. Imam Sudrajat juga mengenangnya sebagai seorang yang keras dalam berprinsip, gigih dan berjuang yang tanpa pamrih.</p>
<p>Bang Akmal juga saya kenal sebagai wartawan yang tidak menjaga jarak dengan wartawan yang jauh lebih muda atau sebaya anaknya. Kedai Kopi Sukaramai di jalan Merdeka Tanjungpinang, atau kedai kopi Ria di Jalan Bintan. Kedai kopi itu disebutnya sebagai ‘’kantor’’nya.</p>
<p>Akmal meninggalkan seorang istri, lima anak dan tujuh cucu. Dua di antara anaknya, mengikuti jejaknya sebagai wartawan. Kabar duka itu terasa menyentak. Bang Akmal berpulang, Kamis 13 Oktober 2011 dinihari. Yang tersisa adalah semangat dan kebanggaannya terhadap profesi wartawan, sampai akhir hayatnya. Selamat jalan Bang Akmal…***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (3)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 23:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayangkan, saya akan menjejakkan kaki di benua kangguru Australia dan negeri kiwi New Zealand. Sebab, kota terjauh di Indonesia Timur yang saya kunjungi hanya Makassar. Kesempatan pergi ke Papua saya tolak dan digantikan teman saya. Kali ini, saya mengalami jet lag setelah terbang hampir 10 jam.
Terbang dari Jakarta malam hari naik pesawat Qantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-341" title="news" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/06/news.jpg" alt="news" width="400" height="336" /></strong>Tak pernah terbayangkan, saya akan menjejakkan kaki di benua kangguru Australia dan negeri kiwi New Zealand. Sebab, kota terjauh di Indonesia Timur yang saya kunjungi hanya Makassar. Kesempatan pergi ke Papua saya tolak dan digantikan teman saya. Kali ini, saya mengalami jet lag setelah terbang hampir 10 jam.<span id="more-340"></span></p>
<p>Terbang dari Jakarta malam hari naik pesawat Qantas buat saya tak selalu nyaman. Sebab, entah mengapa, dalam setiap penerbangan saya tak bisa tidur dan lebih suka memandang keluar jendela pesawat. Jadilah saya main game, nonton dan bengong. Sampai akhirnya roda pesawat menyentuh landasan Sidney.</p>
<p>Namun, kami harus segera terbang lagi, menuju Auckland, New Zealand. Perbedaan waktu empat jam dengan Australia sehingga saat saya tiba sudah pukul 07.30 pagi. Dengan New Zealand beda waktu lagi dua jam dan kami sampai siang hari. Namun, rasa capek terbang terobati melihat dimana-mana rumput dan pepohonan menghijau.</p>
<p>Begitu mendarat di Auckland, bumi terasa bergoyang. Ternyata, beberapa jam sebelumnya Christchurch, kota di Selatan New Zealand dilanda gempa dahsyat. Ratusan orang tewas tertimbun. Saya dan rombongan menuju kota Turanga, menempuh jalan darat sepanjang 200 kilometer lebih.</p>
<p>Tengah malam, telepon bordering. Ternyata sanak saudara di Indonesia bertanya keadaan kami yang khawatir terkena gempa. Kami menduga, telepon tengah malam itu tidak mempertimbangkan kami sudah tidur pulas karena perbedaan waktu enam jam. Yang membuat saya terkesan, cara televisi setempat memberitakan bencana itu. Semua diarahkan pada proses evakuasi dan menjadi pusat informasi tentang gempa itu sendiri bagi keluarga korban di wilayah lain.</p>
<p>Jalan dan lingkungan sangat bersih. Sejauh mata memandang, semua rumput hijau seperti lapangan golf. Sesekali, tampak ribuan sapi merumput. New Zealand memang terkenal penghasil susu dan tentu saja buah kiwi itu. Yang menarik, sepanjang jalan, ada tulisan yang terasa lucu di lidah Indonesia. Ada daerah yang namanya mata-mata, kurukora dan sebagainya. Ternyata itu bahasa asli suku Maori di New Zealand.</p>
<p>Setelah menempuh perjalanan jauh, habis makan malam, saya langsung tergeletak tidur pulas. Paginya mengunjungi pabrik rekondisi mesin cetak koran DGM dan setelah itu balik lagi ke Auckland. Saya sempat menjajal casino di Hotel Sky Tower, yang tertinggi ke 13 di dunia. Lalu menikmati kota wisata Auckland. Karena capek, saya menemukan tempat pijit Thai Massage di sudut kota. Saat masuk, oalah, ternyata pemijitnya gadis asal Batam yang pernah tinggal di Malaysia. Ia memutar lagu pop yang mendayu-dayu Nafa Urbach, ketika tahu saya dari Indonesia. Sebelum jadi pemijat, ia bekerja di kebun kiwi yang membuatnya bosan karena gajinya kecil.</p>
<p>Malam menjelang terbang ke Sidney, entah mengapa saya tak bisa tidur. Saat menyingkap tirai jendela, tiang beton raksasa Sky Tower tepat di depan kamar saya. Saya jadi teringat gempa yang baru saja terjadi. Lalu, saya berjalan sendiri keluar, dan masuk ke kasino. Saya coba main, meski tak begitu mengerti di mesin yang sekali telan uang kertas 5 dolar NZ itu.</p>
<p>Sejam kemudian, saya mendapat free game. Saya lihat saja mesin itu bermain sendiri. Tiba-tiba, keluar tulisan disertai bunyi: <em>your winner maximum</em>, dan gambarnya maju mundur. Saya terkejut. Seorang pria Argentina yang berdiri dekat saya berkata,’’ <em>You’re lucky man, please your change the ticket</em>,’’ katanya. Ternyata, saya menang sebanyak 2.600 NZ Dollar atau setara Rp23 juta.</p>
<p>Kalau di luar negeri, kadang sedih jadi orang Indonesia. Nilai tukar rupiah rendah sekali. Malah, kadang tak ada penukaran  di money change, sementara negara lain ada. Bagi saya yang dari Batam, sudah biasa rupiah kalah perkasa dengan Dolar Singapura. Dan nilai tukar NZ Dollar sedikit di atas Singapura. Nah, ketika di Sidney, alamak satu dolar Ausie setara dengan Rp11.000 lebih. Jadilah saya hanya beli sebuah boneka kangguru dan sebuah boomerang buat anak saya.</p>
<p>Saat terbang kembali ke Jakarta, terasa lebih cepat karena mundur lagi ke waktu Indonesia Barat. Terbang jam 8 pagi dari Auckland, tiba di Jakarta jam 07.00 malam. Mata terasa berat. Body capek berat. Sampai di Batam, badan terasa limbung dan aneh. Jam 6 sore, mata mengantuk dan tengah malam sudah terbangun. Oalah! Saya terkena jet lag!</p>
<p>Satu hal yang sulit diatasi kalau ke luar negeri adalah soal makanan. Apalagi, lidah saya lidah Padang, salah satu pusat kuliner hebat di dunia, hehehe. Begitu pulang dari China, saya langsung makan lahap di rumah makan Ajo Pass di Yos Sudarso Batam. Meski perut menerima, lidah rasanya berontak kalau makan fast food, kebab Turki atau makanan aneh seperti nasi dicampur yogurt dan kari kambing.</p>
<p>Kota-kota yang saya kunjungi di Indonesia pun, saya paling suka Surabaya karena makanannya terasa pas di lidah saya yang suka pedas. Untunglah kalau ke kota-kota lain masih tetap ada rumah makan Padang! Seolah-olah orang Padang paham bangsanya suka merantau atau jalan-jalan seperti saya. Tapi di Semarang? Sudahlah capek mencari rumah makan Padang, begitu ketemu sambalnya terasa manis. Ternyata, mereknya saja rumah makan Padang, yang masak dan pemiliknya orang Jawa, hahaha…Thailand juga tak enak soal makanan. Saya pernah hampir muntah ketika makan Tom Yam yang terkenal itu lantaran serainya terlalu banyak.</p>
<p>Entah kenapa, saya kurang suka datang ke kota yang sama dua kali. Ketika teman-teman jalan-jalan ke Hongkong dan Macao, saya menolak ikut. Sebab, saya sudah pernah ke Hongkong dan Macao hanyalah kota ruko dengan kasino yang terkenal itu. Yang saya bayangkan, paling isinya ya mesin-mesin judi itu lagi, Saya sudah pernah menjajal kasino di Genting Highland, Malaysia , di Sentosa Island Singapura serta terakhir di Auckland New Zealand.</p>
<p>Kalau ke luar negeri rombongan, saya lebih suka jalan sendiri. Kalaupun nyasar, itu pengalaman yang membuat saya makin ingat jalan dan kawasan itu. Yang jelas, saya ingin sekarang pergi ke India, Afrika dan tentu saja Amerika. Sebab, saya sudah pernah mengunjungi pusat peradaban di China dan Timur Tengah. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 16:47:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Batam kota yang enak buat melanglang buana dan pergi ke mana-mana. Sebab, kota pulau ini memiliki penerbangan langsung ke kota lain. Sayang, meski bandara internasional, tak satu pun penerbangan internasional langsung dari Hang Nadim, kecuali penerbangan haji. Tapi, kita bisa menyeberang ke Singapura dan terbang kemana saja dari bandara Changi.
Berbeda dengan Padang atau Pekanbaru, misalnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13.2px;"><img class="alignleft size-full wp-image-338" title="blog ft" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/05/blog-ft.jpg" alt="blog ft" width="481" height="480" />Batam kota yang enak buat melanglang buana dan pergi ke mana-mana. Sebab, kota pulau ini memiliki penerbangan langsung ke kota lain. Sayang, meski bandara internasional, tak satu pun penerbangan internasional langsung dari Hang Nadim, kecuali penerbangan haji. Tapi, kita bisa menyeberang ke Singapura dan terbang kemana saja dari bandara Changi.<span id="more-337"></span></span></p>
<p>Berbeda dengan Padang atau Pekanbaru, misalnya. Dari Batam ada penerbangan langsung ke Surabaya, Pontianak dan Jambi. Maksudnya, di kota lain harus transit dulu di Jakarta. Perjalanan saya yang cukup berkesan adalah saat mengunjungi beberapa negara di Timur Tengah seperti Lebanon dan Yordania.  Saya menyusuri jalan berkelok-kelok hingga ke perbatasan Irak dan melihat Israel dari kejauhan.</p>
<p>Saat mendarat di Lebanon, yang membuat saya heran adalah bangunan yang  tampak seperti kubus dan berwarna kusam dan pucat. Konon, warna ini menyesuaikan dengan kondisi alam dan gurun di sana.  Ibukota Lebanon Beirut, memang indah dan terletak dibibir pantai Mediterania.  Di beberapa sudut kota, masih terlihat tembok yang bolong diterjang peluru, saat konflik internal di Lebanon.</p>
<p>Jalannya mulus. Semua mobil stirnya di kanan, sehingga saya yang tak terbiasa naik mobil begini, rasanya mau ditabrak saja. Satu hal yang membuat saya terkesan : perempuan Lebanon cantik-cantik. Sampai-sampai dubes Indonesia untuk Lebanon bilang, dari 10 wanita Lebanon, 15 yang cantik. Lho, kok bisa?. ‘’Karena bayangannya pun ikut cantik,’’ katanya, tertawa.</p>
<p>Di Beirut, saya bertemu Gusdur di kedutaan Indonesia. Ia tidak mengenakan peci, tampil dengan kemeja batik lengan pendek. Ini kali kedua saya bertemu dengan mantan presiden itu. Saat jadi presiden, saya mewawancarainya di istana negara. Saya senang ke kedutaan, karena bisa makan nasi. Selama di Lebanon, hanya dua kali dapat menu nasi. Itupun nasinya besar-besar, diberi kuah kari dan lalapan ala Timur Tengah plus buah zaitun.</p>
<p>Dari Lebanon, saya bersama rombongan sempat berkunjung ke Mount Nebo Siyagha, Memorial of Moses di perbatasan Yordania. Sejauh mata memandang, tampak pemandangan yang fantastis seperti Laut Mati (Dead Sea), Tepi Barat, Sungai Yordan, dan jika cuaca cerah, Betlehem dan Yerusalem tampak jelas.</p>
<p>Selain menyaksikan dari dekat salib Serpentine yang mengisahkan tongkat nabi musa yang berubah menjadi ular,  yang mengesankan adalah saat saya mencoba berenang di Laut Mati. Tubuh mengapung dengan sendirinya, lantaran berat jenis air laut tersebut lebih besar dari tubuh manusia.</p>
<p>Yang membuat saya heran, air yang sangat asin itu, membuat kulit terasa halus. Ternyata, lumpurnya diolah menjadi sabun. Saya menyesal membeli sabun itu hanya beberapa biji sebagai cendera mata. Pantas saja wanita di Lebanon dan Yordania cantik dan kulitnya mulus, pikir saya.</p>
<p>Selain ke kedutaan Indonesia di Beirut dan Amman, saya juga berkunjung ke Gua Kahfi atau Cave of the Seven Sleeper seperti yang dikisahkan dalam surah Al-Kahfi dalam Al-Qur’an. Perjalanan ke Timur Tengah sungguh mengesankan. Saya melihat kota-kota yang menjadi saksi sejarah dan peradaban umat manusia.</p>
<p>Meski dalam perjalanan ke Timur Tengah ada beberapa wartawan, antara lain dari Bisnis Indonesia, Republika dan Tempo, saya yang pertama menulis perjalanan ke sana di Posmetro Batam, yang nota bene koran lokal dan koran kriminal.</p>
<p>Perjalanan lainnya yang juga mengesankan adalah menjelajahi beberapa kota di China. Transit di Hongkong, lalu terbang ke Sanghai, dan menempuh jalan darat ke Suchow, Guangzhou dan Beijing. China Negara dengan penduduk terbanyak di dunia, mengejar ketinggalannya sejak masuk ke era pasar bebas. Jalan-jalan tol, kota baru yang terus dibangun tanpa meninggalkan kota lama, pusat peradaban dari Timur ini memang mencengangkan.</p>
<p>Saya bersama rombongan mengunjungi istana-istana kuno, tembok China yang terkenal itu, istana terlarang dan lapangan Tiananmen yang jadi saksi bisu tragedi berdarah di negeri tirai bambu itu.</p>
<p>Yang jadi masalah adalah soal bahasa. Meski hotel bintang lima, resepsionisnya tetap berbahasa Mandarin, sementara saya tidak mengerti sama sekali. Diajak bahasa Inggris, malah dia yang tidak paham. Kalau menelepon, jawabannya selalu : mihau, mihau. Saya balas dengan bahasa Minang, agar sama-sama tak mengerti, ha..ha..ha.</p>
<p>Di Beijing, kebetulan ada pertandingan final bulutangkis Piala Sudirman. Saya dengan beberapa teman, ikut menonton di stadion. Memang, kalau di luar negeri, baru terasa nasionalisme dan cinta Indonesia. Saat kami yang hanya puluhan orang berada di tengah ribuan orang China mengibarkan merah putih, tiba-tiba ada yang melempar kami dengan sebotol air mineral!</p>
<p>Pengalaman aneh lainnya, ketika saya berempat mencoba spa ala China. Kami buka baju dan tinggal celana dalam. Begitu masuk ke kolam air panas, alamak! Ternyata, semua kecuali kami berempat telanjang bulat. Rasanya aneh, melihat ‘senjata’ tak disunat dan berkulit putih di depan mata. Sejak itu, lama sekali saya mau mandi sauna dan masuk spa.</p>
<p>Satu hal yang membuat saya kapok, sejak pulang dari China, kolesterol saya naik dan sampai sekarang harus jaga makan. Pasalnya, setiap makan selalu khawatir ada babinya sehingga kami berebut makan telor dadar. Selain itu, makanan teman lain meja yang tersisa, kami sikat. Sampai saat ini, kalau mengecek kolesterol, saya sering ingat China dan tak ingin dating untuk kedua kalinya. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 12:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Kata pepatah, banyak berjalan banyak dilihat. Sejak kecil, saya sering mengimpikan jalan-jalan kemana-mana. Sebab, saya suka sesuatu yang baru, aneh, unik dan mengesankan.Perjalanan saya yang pertama saat berusia tujuh tahun ke Jakarta naik kapal laut. Namanya kapal Berau dengan rute Teluk Bayur, Padang ke Tanjungpriok Jakarta.Saya senang bukan main. Saya berdiri dipinggir dek dan melemparkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12.96px;"><img class="alignleft size-full wp-image-333" title="cina blog" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/04/cina-blog.jpg" alt="cina blog" width="300" height="225" />Kata pepatah, banyak berjalan banyak dilihat. Sejak kecil, saya sering mengimpikan jalan-jalan kemana-mana. Sebab, saya suka sesuatu yang baru, aneh, unik dan mengesankan.</span><span style="font-size: 13.2px;">Perjalanan saya yang pertama saat berusia tujuh tahun ke Jakarta naik kapal laut. Namanya kapal Berau dengan rute Teluk Bayur, Padang ke Tanjungpriok Jakarta.<span id="more-332"></span></span><span style="font-size: 13.2px;">Saya senang bukan main. Saya berdiri dipinggir dek dan melemparkan kertas yang dibuat menjadi kapal terbang mainan. Kertas itu melayang ditiup angin, lalu mencebur ke laut.  Saya hanya berdua ibu saya. Padahal, ke Jakarta untuk mengecek kesehatan saya. Senang sekali melihat ikan terbang dan ombak yang  memutih dan pecah diterpa lambung kapal.</span></p>
<p>Setelah itu, menjelang remaja beberapa kali saya pergi ke Peranap, kota kecil di Indragiri Hulu, Riau. Di sana, ada paman saya yang suka mengajak saya keliling, ikut dia berjualan dari pasar ke pasar. Kami naik pompong, kapal kayu yang bunyinya pong, pong, pong menarik tongkang berisi barang dagangan.</p>
<p>Para pedagang yang dijuluki anak belok atau pedagang berbelok itu,  tidur di los-los pasar, paginya berjualan, dan sore kembali melayari Sungai Indragiri menuju pasar berikutnya. Penduduk setempat bersama para transmigran, selalu menunggu kedatangan pedagang setiap hari pekan. Saya mengamati paman saya berjualan, mengepak barang dan diajak makan ikan patin yang sedap itu. Sepanjang sungai, saya sering melihat monyet berkeliaran.</p>
<p>Saat kelas I SMA, saya lagi-lagi pergi ke negeri orang, pindah sekolah ke INS Kayutanam, sekitar 90 kilometer dari rumah saya di Payakumbuh. Saya tinggal di asrama, bersama puluhan anak-anak dari berbagai daerah, seperti Jawa, Medan, Aceh dan Sumbar sendiri.  Jadi, sejak remaja saya sudah terbiasa bergaul dengan anak dari berbagai daerah.  Seperti nasionalisme begitu. Masalah bahasa bisa jadi masalah antar anak asrama.</p>
<p>Selama tiga tahun di asrama, saya jadi tahu daerah orang. Selain di sekitar sekolah, saya sering diajak ke Padang, Padangpanjang dan Pariaman saat teman seasrama pulang kampung.  Kami naik kereta api batubara, di sela-sela sambungan gerbongnya! Memang berbahaya, tapi gratis.  Sampai di stasiun tujuan, cari dulu tempat cuci muka karena kena debu batubara dan karatan gerbongnya.</p>
<p>Selama kuliah, lagi-lagi saya jalan-jalan. Dua tahun lebih saya jadi ketua unit kegiatan olahraga mahasiswa di tingkat universitas. Jadi, setiap cabang olahraga yang bertanding ke kota lain pada kejuaraan nasional mahasiswa, saya selalu ikut sebagai tim manager.  Padahal, saya tak paham olahraga. Saya hanya senang mengorganisir teman-teman saja. Jadilah saya ke Jakarta, Semarang dan kota-kota lain mengikuti kejuaraanantar mahasiswa .</p>
<p>Hobi jalan-jalan, makin tersalurkan setelah saya jadi wartawan. Pertama kali menjadi wartawan di Pekanbaru, baru dua bulan, saya ditugaskan ke Perawang, sekitar 60 kilometer dari Pekanbaru. Disinilah PT Indah Kiat Pulp and Paper pabrik bubur kertas terbesar kedua di Indonesia  itu berlokasi.  Beberapa kilometer saja sebelum tiba, bau bahan kimia sudah menusuk hidung. Desa kecil itu penduduknya  15.000 lebih,  dan sarat dengan beragam masalah sosial.</p>
<p>Tiaphari, saya bolak-balik menempuh 120 kilometerdengan angkot plat hitam. Kalau hujan, jalan yang belum diaspal becek , kalau panas berdebu. Kadang, saya memakai penutup hidung dengan sapu tangan seperti ninja. Empat bulan kemudian, saya ditarik lagi ke Pekanbaru.</p>
<p>Enam bulan jadi wartawan, saya dipindahtugaskan ke Bukittinggi. Dari kota yang panas dan lembab seperti Pekanbaru, pindah ke kota yang sejuk dan menawan. Jadilah saya tidur di kantor merangkap tempat tinggal meringkuk kedinginan setiap malam. Nama daerahnya saja Mandiangin.  Saya kembali  menjelajahi kota-kota di Sumbar. Saya bertugas setahun di Bukittinggi.</p>
<p>Inilah buat pertama kalinya saya ke luar negeri, yakni ke beberapa kota di Malaysia. Saya ikut dalam rombongan wartawan Bukittinggi dalam program kota kembar Bukittinggi-Seremban. Kami berangkat melalui Dumai, terus ke Johor, Port Dickson, Seremban dan Selangor.  Sampai akhirnya, saya dipindahtugas lagi ke Batam.</p>
<p>Batam  ternyata menjadi pintu gerbang saya menjelajahi negara-negara lain. Dua kali ke Thailand, dan lima kali ke Malaysia serta puluhan kali ke Singapura.  Sehingga saya jadi hapal rute jalan dan kota-kota negara bagian Malaysia atau sudut-sudut wilayah Singapura.  Beberapa negara, dan kota-kota besar Indonesia, saya kunjungi sejak bertugas di Batam 14 tahun lalu. Kemana saja? (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mesin Cetak Canggih, Koran Tak Kalah dengan Ipad</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/mesin-cetak-canggih-koran-tak-kalah-dengan-ipad/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/mesin-cetak-canggih-koran-tak-kalah-dengan-ipad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 23:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Mesin cetak ibarat jantung bisnis surat kabar. Kendati berbagai negara terus mempro-duksi mesin cetak koran, kualitas dan kemampuannya tidak sama. Webco New Zealand  merekondisi mesin cetak merek Dauphin Graphic Machinary (DGM) buatan Amerika Serikat dan memasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Inilah catatannya:
Perusahaan yang memproduksi mesin cetak koran DGM berbasis di Pennsylvania Amerika Serikat, yang kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12.96px;"><img class="alignleft size-full wp-image-329" title="webco1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/03/webco1.jpg" alt="webco1" width="400" height="405" />Mesin cetak ibarat jantung bisnis surat kabar. Kendati berbagai negara terus mempro-duksi mesin cetak koran, kualitas dan kemampuannya tidak sama. Webco New Zealand  merekondisi mesin cetak merek Dauphin Graphic Machinary (DGM) buatan Amerika Serikat dan memasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Inilah catatannya:<span id="more-328"></span></span></p>
<p><span style="font-size: 12.96px;">Perusahaan yang memproduksi mesin cetak koran DGM berbasis di Pennsylvania Amerika Serikat, yang kemudian menjadi kekuatan global dalam industri surat kabar. Webco Ltd melayani industri surat kabar dalam bentuk penjualan <em>spare part</em>, rekondisi mesin agar menghasilkan kualitas cetak terbaik, hingga pelayanan purna jual selama dua puluh empat jam.</span></p>
<p>Webco Ltd New Zeland berlokasi di Birch Avenue, Tauranga sekitar 200 kilometer dari Auckland. Tauranga merupakan salah satu kota pelabuhan tersibuk di New Zealand.</p>
<p>‘’Jika mesin cetak koran rusak atau bermasalah, tidak mungkin koran berhenti terbit, sehingga kami melayani penerbit koran selama 24 jam, baik untuk <em>spare part</em> maupun servis mesin,’’ kata Managing Director Webco New Zealand, Brendon Whitley.</p>
<p>CEO Riau Pos Grup Makmur, Dirut Percetakan Graindo Pekanbaru Ngatenang, Dirut Webco Indonesia Kusnadi dan Direktur Hatin Wahyu Nugroho serta dua manajer percetakan dari Pekanbaru dan Palembang serta saya, menempuh perjalanan selama 10 jam penerbangan ke Tauranga, New Zealand.</p>
<p>Webco memilih hanya mereparasi dan merekondisi mesin cetak merek DGM. Sebab, bahan baku mesin percetakan merek ini, memiliki daya tahan dan kualitas tinggi. ‘’Mutu mesin DGM lebih baik dari mesin merek lain. Setelah direkondisi, mesin ini mampu mencetak koran lebih bagus dan memiliki daya tahan hingga 25 tahun,’’ papar Brendon Whitley.</p>
<p>Mesin cetak DGM awalnya lebih banyak digunakan di Amerika Serikat.  Mesin cetak yang pertama kali diproduksi dengan merek Goss tahun 1973 itu, makin diminati oleh negara-negara lain. Webco memiliki spesialisasi mesin DGM dalam merekayasa teknik dan meningkatkan kemampuannya, baik soal konfigurasi halaman, tingkat presisi hasil cetak, serta kemampuan cetak halaman berwarna.</p>
<p>Menurut Brendon Whitley,  selain melayani rekondisi dan perlengkapan mesin cetak DGM, tim Webco memiliki kemampuan yang handal menangani mesin cetak merek DGM. ‘’Ini pekerjaan yang kompleks dan memerlukan tingkat akurasi yang tinggi. Kami percaya, mesin cetak DGM tetap yang terbaik dalam industri surat kabar,’’ katanya seraya mencontohkan, rekondisi mesin merek lain hanya mampu bertahan 4 tahun, sementara DGM bisa beroperasi hingga 25 tahun.</p>
<p>Mesin-mesin DGM tersebut didatangkan dari Amerika Serikat atau Kanada, lalu dire-kondisi dan suku cadang yang tidak layak diganti dengan yang asli. Tauranga yang terletak di tepi pantai Laut pasifik, sehingga menjadi kawasan strategis untuk menerima dan mengirim mesin-mesin tersebut ke berbagai negara di Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Asia.</p>
<p>Mesin-mesin cetak koran yang pernah direkondisi melalui rekayasa teknik di Webco New Zealand antara lain, <em>Solomon Star, The Phnom Penh Pos, Le Gratuit, Fiji Times, Advertiser, Fiji Sun</em> dan <em>Padang Ekpres</em>, salah satu koran Riau Pos Grup. Dalam waktu dekat, akan segera menyusul <em>Riau Pos</em>, <em>Batam Pos</em>, <em>Rakyat Bengkulu</em> dan <em>Sumatera Ekspres. </em></p>
<p>Webco tidak hanya memasarkan mesin cetak merek DGM ke berbagai Negara Asia Pasifik, Kanada, Australia dan Amerika Serikat. Juga melayani pertanyaan operator mesin cetak melalui <em>chatting</em>, email dan telepon setiap saat. Perbedaan waktu Indonesia dan New Zealand enam jam, memungkinkan untuk itu, karena saat koran naik cetak, di New Zealand sudah pagi.</p>
<p>Selain itu, Webco mau melakukan transfer teknologi mesin cetak dengan memberikan pelatihan untuk operator mesin cetak DGM. Saat ini, dua menajer percetakan, Alek dari Riau Pos Pekanbaru dan Nanang dari Sumatera Ekspres Palembang, sedang belajar tentang seluk beluk mesin cetak tersebut.</p>
<p>Menurut Brendon Whitley, meski penetrasi internet semakin meluas, namun ia optimis surat kabar tidak akan tergantikan dan kalah dengan media online dan ipad. ‘’Perkembangan internet memang pesat, tapi tidak akan mematikan karena membaca di internet dan Ipad, merepotkan. Anda harus <em>scroll-scroll</em> terus untuk membaca,’’ ujar Brendon sambil memainkan ibu jarinya.</p>
<p>Jauh sebelum era internet mewabah seperti saat ini, kemunculan industri televisi tahun 1950-an, dinilai akan mengancam dominasi media cetak. Namun, sampai saat ini, koran masih terus bertahan. Sebab, koran memiliki karakter khusus yang membe-dakannya dengan televisi dan radio.</p>
<p>‘’Saat krisis melanda Amerika Serikat, memang berpengaruh pada sirkulasi dan oplah surat kabar. Namun, setelah krisis dan ekonomi mereka bangkit, bisnis surat kabar tumbuh lagi. Buktinya, pesanan mesin DGM dari kami makin meningkat,’’ kata Brendon, tersenyum.</p>
<p>Mesin yang sudah direkondisi dan suku cadangnya diganti, selain mampu mencetak lebih cepat dalam jumlah lebih banyak, juga menghasilkan kualitas cetak yang lebih baik. Selain itu, konfigurasi halaman dengan menambah empat tower, mampu menghasilkan halaman berwarna yang lebih banyak. ‘’Kita ingin memberikan pelayanan lebih baik lagi kepada pembaca dan pemasang iklan,’’ kata CEO Riau Pos Grup, Makmur, setelah menekan kesepakatan kerjasama dan kontrak dengan Brendon Whitley, bos Webco New Zealand.</p>
<p>Selain menyuguhkan berita-berita terbaru, surat kabar juga memberikan informasi produk, promosi dalam bentuk iklan. Dengan penyempurnaan dan mempercanggih mesin cetak, merupakan komitmen Riau Pos Grup yang menjadi bagian Jawa Pos Grup meningkatkan pelayanan dan kepuasan konsumen.</p>
<p>Jaringan surat kabar dan televisi lokal serta percetakan Jawa Pos National Network, kini merupakan jaringan media terbesar di Indonesia yang membentang dari Aceh hingga Papua. Riau Pos Grup sendiri, merupakan grup media terbesar di Sumatera di lima provinsi yang meliputi Nanggroe Aceh Darusalam, Sumut, Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau.</p>
<p>Divisi Regional Batam saja, kini terdapat delapan perusahaan seperti Harian Pagi Batam Pos, Posmetro Batam, Tanjungpinang Pos, Percetakan Bintana, Batam Televisi, Graha Pena, Media Link dan Batam Pos Entrepreneur School. Pencapaian selama ini, tidak lain tidak bukan karena kepercayaan masyarakat Kepulauan Riau, sehingga grup media ini, harus terus meningkatkan kemampuan dan profesionalismenya, termasuk kemampuan mesin cetak percetakan Bintana.</p>
<p>Saat reformasi, media cetak di Indonesia tumbuh luar biasa. Data Dewan Pers menyebutkan, tahun 1997 hanya ada 289 media cetak. Namun tahun 1999 tercatat sebanyak 1.687 media cetak. Sepuluh tahun kemudian, tahun 2009 hanya tinggal 951 media cetak. Dari jumlah sebanyak itu, hanya 30 persen yang sehat secara bisnis. Artinya, hampir separuh berhenti terbit.</p>
<p>Salah satu kendalanya, selain tidak diterima pasar, adalah ketiadaan mesin cetak. Inilah salah satu bukti bahwa percetakan merupakan jantungnya bisnis surat kabar. Ketika jantungnya tak berdegup lagi, bisa ditebak apa yang akan terjadi***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/mesin-cetak-canggih-koran-tak-kalah-dengan-ipad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percetakan Terbaik Riau Pos Grup (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/percetakan-terbaik-riau-pos-grup-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/percetakan-terbaik-riau-pos-grup-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 16:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Dampak perkembangan teknologi mesin cetak, memang luar biasa. Majalah Life menganggap, mesin cetak adalah penemuan yang paling luar biasa dalam 1.000 tahun terakhir. Hampir sama dengan penemuan abjad dan perkembangan internet dewasa ini. Jika sebelumnya Percetakan Bintana berkonsentrasi pada cetak koran grup, kini mengembangkan bisnis cetak komersial.
Percetakan Bintana, sejak mulai beroperasi di Tanjungpinang, lalu pindah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12.96px;"><img class="alignleft size-full wp-image-326" title="mesin-3" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/01/mesin-31.jpg" alt="mesin-3" width="300" height="225" />Dampak perkembangan teknologi mesin cetak, memang luar biasa. Majalah Life menganggap, mesin cetak adalah penemuan yang paling luar biasa dalam 1.000 tahun terakhir. Hampir sama dengan penemuan abjad dan perkembangan internet dewasa ini. Jika sebelumnya Percetakan Bintana berkonsentrasi pada cetak koran grup, kini mengembangkan bisnis cetak komersial.<span id="more-325"></span></span></p>
<p>Percetakan Bintana, sejak mulai beroperasi di Tanjungpinang, lalu pindah ke Sagulung dan kini di kompleks Graha Pena Batam Centre, menjadi saksi jatuh bangun dan maju mundurnya penerbitan koran di Kepulauan Riau.  Selain mencetak Batam Pos, Posmetro Batam, Tanjungpinang Pos, puluhan koran-koran mingguan dan tabloid juga pernah dicetak di Ripos Bintana Press. Malah, percetakan ini pernah mencetak koran terbitan Singapura.</p>
<p>Mesin yang digunakan mencetak koran, juga terus diperbaharui, baik kemampuan maupun teknologinya. Koran-koran yang diterbitkan Riau Pos Grup yang semula dicetak pada mesin merek Heidelbergh, Haris V dan terus diperbaharui dengan mesin SSC Goss Community, lalu ditambah satu tower (two hight) DGM dan kini menjadi dua tower (four hight) merek DGM.</p>
<p>Mesin-mesin cetak tersebut, dengan kreativitas dan rekayasa teknik para teknisi percetakan, bisa saja merupakan kawin silang mesin berbagai merek. Misalnya, mesin Gemini buatan India dikawinkan dengan Cromoman buatan Jerman. Hasilnya adalah mesin merek Giman. Mesin Gemini dikawinkan dengan Goss Universal buatan Perancis menjadi Ginem. Kini, beberapa percetakan juga menggunakan mesin cetak canggih seperti Cromoman, Unises dan Universal.</p>
<p>Kemampuan bongkar pasang mesin dan rekayasa teknik karyawan Bintana, seperti Saryadi, La Umpa, Jhoni Simanjuntak, Junaidi, Tobing, Eko Hadi, Slamet Riyadi, Saryaza dan Ahsani terlatih karena diikutsertakan pada pemasangan mesin-mesin grup percetakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka, ketika pergantian empat  tower 11 Januari lalu, karyawan Bintana bisa melakukannya hanya dalam waktu tiga hari.</p>
<p>Padahal, mesin-mesin tersebut beratnya 5 ton dan diturunkan dengan bantuan crane dan forklift, lalu dipasang dengan memperhatikan tingkat presisi yang tinggi. ‘’Ini menjadi rekor pemasangan mesin baru, biasanya butuh waktu seminggu,’’ kata Hendrik, teknisi dari Riau Pos Pekanbaru dan Kholik yang mengurus soal elektrik mesin tersebut.</p>
<p>Sejak setahun lalu, Percetakan Bintana mulai mengembangkan bisnis cetak komersial. Seluruh kebutuhan barang cetakan grup, seperti Batam Pos, Posmetro, Tanjungpinang Pos, Batam TV, mulai dari amplop, notes, kuitansi hingga berbagai kebutuhan event organizer seperti sablon kaos, spanduk, baliho dan barang cetakan lainnya. Souvenir untuk pelanggan seperti payung, jam dan kaos cantik kini juga diproduksi di Bintana.</p>
<p>Tidak hanya Batam Pos grup, beberapa perusahaan di Mukakuning, PT Sun Precision, PT Buana Jaya Technindo, PTM Great Dynamic Indonesia, PT Multi Transfer,  Angkatan Udara Tanjungpinang, Sekolah Dasar Kartini, Bea Cukai Batam, Easy Speak hingga Yayasan Al Fateh Batam, di antara yang menjadi costumer percetakan PT Ripos Bintana Press. Sebab, selain mesin cetak koran dan tabloid, Bintana juga memiliki mesin offset, digital printing  dan perangkat pendukung lainnya.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/percetakan-terbaik-riau-pos-grup-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percetakan Bintana, Pencetak Sejarah Pers Kepri (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-pencetak-sejarah-pers-kepri-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-pencetak-sejarah-pers-kepri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 15:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Percetakan Ripos Bintana Press seperti menapak tilas sejarah pers di Kepulauan Riau. Perusahaan percetakan pertama di Kepri ini, menjadi yang pertama menerapkan sistim cetak jarak jauh (SCJJ) dan yang pertama pula menggunakan Computer to Plate dan memasuki era percetakan modern.  Bagaimana lika-liku perusahaan percetakan pertama di Kepulauan Riau ini?
Jauh sebelum era pers bebas di republik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13.2px;"><img class="alignleft size-full wp-image-323" title="mesin-4" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/01/mesin-4.jpg" alt="mesin-4" width="300" height="205" />Percetakan Ripos Bintana Press seperti menapak tilas sejarah pers di Kepulauan Riau. Perusahaan percetakan pertama di Kepri ini, menjadi yang pertama menerapkan sistim cetak jarak jauh (SCJJ) dan yang pertama pula menggunakan Computer to Plate dan memasuki era percetakan modern.  Bagaimana lika-liku perusahaan percetakan pertama di Kepulauan Riau ini?<span id="more-321"></span></span></p>
<p><span style="font-size: 12.96px;">Jauh sebelum era pers bebas di republik ini, Kepulauan Riau sudah tampil di panggung jurnalistik nasional.  Budaya dan sastra Melayu berkembang pesat yang ditandai dengan tradisi tulis menulis, penerbitan buku dan majalah.  Tahun 1857 Raja Ali Haji menulis buku Kitab Pengetahuan Bahasa.  Jurnal perjalanan Raja Ali Kelana ke Natuna ‘’Pohon Perhimpunan’’ yang terbit tahun 1889 menjadi awal sejarah jurnalistik di kawasan ini.   Majalah Al Imam yang terbit 1906 melaporkan tentang Pulau Tujuh dan beredar di seluruh semenanjung hingga ke Singapura. Majalah Peringatan terbit tahun 1939 dengan pemimpin redaksi Raja Haji Muhamad Yunus Ahmad di Penyengat. Juga kehadiran Rusdiyah Klab sebagai wadah para inteklektual dan budayawan bertukar  pikiran dan perpustakaan dengan koleksi ribuan buku dan karya tulis.</span></p>
<p>Kejayaan jurnalisme di bumi Melayu itu, didukung oleh dua percetakan tahun 1890 yakni Mathaatul Al Riauwiyah dan Mathbaatul Al Ahmadi yang dibangun di Pulau Penyengat.  Sejarah seperti berulang. Tahun 1994 merupakan tonggak sejarah dengan dimulainya sistem cetak jarak jauh (SCJJ) di Tanjungpinang yang dilakukan Ripos Bintana Press, perusahaan percetakan koran pertama di Kepulauan Riau.</p>
<p>Chairman Riau Pos Grup Rida K Liamsi, memimpikan Kepulauan Riau memiliki percetakan sendiri. Sebab, sebelumnya koran dikirim dari Pekanbaru dengan pesawat ke Batam dan Tanjungpinang,  baru beredar siang atau sore hari. Sistim Cetak Jarak Jauh (SCJJ)  adalah sebuah mimpi dan kenekatan Rida, putra Melayu yang berasal dari Dabosingkep ini. Ia dikenal bertangan dingin dan meruntuhkan mitos tak ada koran harian yang bisa hidup di Riau. Kini, ia dikenal sebagai raja media di Sumatera.</p>
<p>Ketika koran-koran lain mengklaim menerapkan SCJJ pertama di Indonesia di saat teknologi internet berkembang pesat,  percetakan Bintana sudah melakukannya sejak 17 tahun lalu.  Tiga unit mesin cetak merek Gross Community dipasang di Sungai Jang, Tanjungpinang.  Padahal, halaman demi halaman koran, dikerjakan dan dilay-out di Pekanbaru.  Bagaimana caranya?</p>
<p>Kondisi geografis, kendala alam,  teknologi komputer yang masih sederhana, sulitnya mengirim data via satelit , tingkat gradasi dan transmisi data antara lain merupakan tantangan yang tidak mudah ditaklukkan dalam menerapkan sistem cetak jarak jauh ini.  Namun, tekad untuk selalu menjadi pelopor,   kerja keras yang tak kenal lelah akhirnya menjadikan Riau Pos sebagai surat kabar pertama yang menerapkansistim cetak jarak jauh itu.</p>
<p>Mengirim mesin cetak ke Tanjungpinang juga bukan pekerjaan gampang. Saat itu, tidak ada fasilitas bongkar muat alat berat di pelabuhan. Padahal, mesin cetak itu beratnya antara 3-5 ton. Mesin-mesin itu lalu dibawa dengan truk, lalu naik kapal dan langsung menuju lokasi percetakan agar tak perlu dibongkar di pelabuhan.  Lalu, bagaimana caranya menurunkan dari truk mesin dengan berat belasan ton?  Karena tak ada forklif, mesin itu diturunkan dengan titian kayu yang landai, lalu ditarik satu demi satu! Mesin itu ditarik pakai mobil lain, atau diikatkan ke pohon dan truknya bergerak menjauh.  Pemasangan mesin juga tak kalah sulitnya. Tidak ada crane,  katrol pun jadi. Mesin cetak itu dipasang satu demi satu dengan cara diderek pelan-pelan. Akhirnya, dengan kerja keras tak kenal lelah, mesin cetak itu berhasil diset-up.</p>
<p>Sistim Cetak Jarak Jauh (SCJJ) itu menjadi sejarah.  Tidak hanya pembaca yang terheran-heran, kok ada koran yang terbit pagi di Tanjungpinang dan Batam.  Harmoko, Menteri Penerangan saat itu dan tokoh-tokoh pers nasional yang kebetulan ada di Batam saatitu, juga kaget.  Secara bisnis, dampaknya juga luar biasa. Tiras  dan iklannya meningkat berkali lipat. Namun,  Batam ternyata jauh lebih berkembang secara bisnis dibanding Tanjungpinang.</p>
<p>Setahun kemudian, tepatnya di penghujung 1997, mesin cetak tersebut dipindahkan ke Sagulung, Tanjunguncang, Batam. Beberapa karyawan percetakan, juga ikut hijrah mengikuti kepindahan mesin ke Batam.  Pemidahan mesin cetak tersebut, juga mencatat sejarah sebagai muatan pertama kapal roll-on, roll-off (roro) dari Bintan ke Batam.  Pemindahan mesin dari Tanjungpinang ke Batam juga bukan pekerjaan gampang.  Tapi begitulah. Semangat kerja yang menyala, bisa mengatasi berbagai kendala.</p>
<p>Namun, era SCJJ yang bersejarah itu pun berakhir dengan terbitnya Sijori Pos pada 10 Agustus 1998, bertepatan dengan peresmian jembatan Barelang yang merupakan jembatan cable stay pertama di Indonesia. Sijori Pos pantas menyebut dirinya sebagai koran nasional terbesar dari Batam. Tahun 2003 nama Sijori Pos ditinggalkan dan berubah nama menjadi Batam Pos sampai sekarang.</p>
<p>Percetakan di Sagulung, lagi-lagi pindah setelah Batam Pos grup terus tumbuh dan berkembang. Setelah pembangunan gedung Graha Pena rampung, mesin cetak di Sagulung juga dipindahkan ke gedung baru di Batam Centre pada tahun 2005.  Jika sebelumnya antara kantor redaksi dengan percetakan terpisah  karena jarak Sagulung-Jodoh sekitar 30 kilometer, akhirnya bersatu di Graha Pena. Begitu juga dengan Posmetro Batam dan Batam TV.</p>
<p>Tidak hanya soal mesin, teknik percetakan koran pun makin maju. Dulu, proses percetakan masih sederhana dan teknologi lama. Mulai dari setting halaman, monting, bikin film, dijadikan plat lalu dicetak.  Namun, berkat temuan dan kreasi Armawi KH salah satu perintis Riau Pos Grup dan rela meninggalkan statusnya sebagai PNS, dicoba teknik kalkir (tracing paper) sehingga bisa mempercepat proses pracetak hingga tiga hingga empat jam!</p>
<p>Bahan koran di komputer, diprint dengan kertas kalkir,  lalu ditembakkan ke plat tanpa melalui proses film seperti sebelumnya.  Sistem kalkir ini, mirip dengan proses sablon.  Hasil coba-coba itu, ternyata bisa mempercepat proses percetakan koran. Selain cepat dan murah, teknologi komputer dan printer, juga berkembang pesat.</p>
<p><span style="font-size: 12.96px;">Percetakan Bintana terus berbenah menuju percetakan modern dengan teknologi canggih.  Setelah SCJJ, Bintana menjadi percetakan pertama di Kepri yang menerapkan teknologi Computer to Plate (CTP). Sejak beberapa tahun lalu, percetakan Bintana mulai menerapkan sistem CTP sehingga proses film mulai ditinggalkan. Bahan koran yang sudah dilay-out, langsung diprint dalam bentuk plat dan bisa segera dicetak. Satu lagi proses lebih maju dengan tingkat presisi yang tinggi karena tidak lagi menggunakan film dan image setter. Setelah era SCJJ, cetak kalkir dan CTP dilalui, bukan tidak mungkin Percetakan Bintana akan menerapkan  sistem Computer to Machine. *** (bersambung)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-pencetak-sejarah-pers-kepri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percetakan Bintana (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 14:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis percetakan adalah jantung bisnis surat kabar. Selama mengurus percetakan, saya belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana mesin cetak itu beroperasi, keterkaitan dengan pemasok kertas, tinta, plat dan bahan kimia, hingga distribusi kertas dari pabriknya. Yang paling utama adalah, bagaimana orang-orang di bisnis percetakan itu bekerja dan menjalankan tugasnya.
Dalam bisnis percetakan, biasanya yang lebih menonjol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-317" title="mesin 1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/10/mesin-11.jpg" alt="mesin 1" width="300" height="195" />Bisnis percetakan adalah jantung bisnis surat kabar. Selama mengurus percetakan, saya belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana mesin cetak itu beroperasi, keterkaitan dengan pemasok kertas, tinta, plat dan bahan kimia, hingga distribusi kertas dari pabriknya. Yang paling utama adalah, bagaimana orang-orang di bisnis percetakan itu bekerja dan menjalankan tugasnya.<span id="more-315"></span></p>
<p>Dalam bisnis percetakan, biasanya yang lebih menonjol adalah medianya. Sementara, mesin percetakan hanya sebagai sarana pendukung. Maka, tidak heran, orang-orang media seperti wartawan, iklan dan pemasaran jauh lehib menonjol dalam kehidupan sosial dimana koran itu berada. Sementara, orang percetakan umumnya berada di belakang layar.</p>
<p>Orang percetakan sering diindentikkan dengan pekerja malam, berlepotan oli dan tinta,  kerja shift , dan gedung percetakan kadang mirip gudang.  Barang-barang sisa seperti pembungkus kertas, plat bekas, ember tinta, koran retur, bertumpuk jadi satu.  Biasanya, gedung percetakan pun letaknya di belakang gedung koran yang megah dan mentereng.</p>
<p>Dengan kondisi seperti itu, jangan heran kalau orang-orang percetakan merasa minder dengan rekan kerjanya yang kerja sebagai wartawan. Sebab, wartawan dengan mudah masuk ke dalam pergaulan dengan para pejabat, pengusaha dan tokoh-tokoh masyarakat. Sedangan orang percetakan hanya berkomunikasi dengan karyawan bagian lay-out, pemasok bahan baku percetakan dan karyawan bagian distribusi, agen serta loper.</p>
<p>Di sisi lain, percetakan meski menjadi jantung penerbitan surat kabar, namanya hanya ditulis di boks redaksi di bagian akhir dan diembeli dengan tulisan: isi di luar tanggungjawab percetakan. Meski kantor percetakan Bintana hanya berjarak 50 meter saja dari gedung Graha Pena Batam yang sembilan lantai itu, sejak dibangun mereknya tidak ada. Saya memutuskan membuat merek perusahaan, dengan warna tulisan putih berlatar belakang biru cerah.</p>
<p>Karena tidak ada merek perusahaan, tidak jarang pegawai kantor pos atau jasa pengiriman, kesulitan mencari alamat kantor Bintana. Apalagi, di depan percetakan ada bangunan untuk genset yang cukup besar. ‘’Dulu, sebelum ada merek Bintana, yang dikira orang kantor Bintana ya gedung genset itu,’’ cerita seorang karyawan, sambil tersenyum masam.</p>
<p>Saya yakin, jika semangat , tim yang solid, komunikasi yang intens antar sesama karyawan, Bintana akan semakin hebat. Selain mesin web, peralatan canggih Computer to Plate (CtP), pasokan kertas secara kontiniu, kawan-kawan di Bintana juga mampu membuat alat pemutar kertas, alat sablon putar dan penomoran serta mengoperasikan mesin offset.</p>
<p>Ternyata, beberapa karyawan Bintana berlatar belakang teknik grafika, yang mempelajari manajemen dan seluk beluk bisnis percetakan. Sejak awal 2010, kami sudah memulai mengembangkan bisnis cetak komersial. Hasilnya cukup menggembirakan. Paling tidak, Bintana memasok semua kebutuhan barang cetakan di grup sendiri.</p>
<p>Mulai dari kebutuhan kertas buram yang ternyata selain lebih efisien, juga tidak membuat mata cepat lelah. Itu sebabnya, belakangan banyak novel dan buku dicetak dengan kertas buram. Lalu percetakan offset, buku tulis, rapor dan map mulai diproduksi.  Tidak hanya itu saja. Sablon kaos dan stiker, aneka gift seperti payung dan jam hingga mencetak koran sekolah dan majalah.  Bisnis cetak komersial pun dimulai.</p>
<p>Meski tidak terlalu gegap gempita, ternyata selama enam bulan Bintana mampu membukukan omset yang cukup besar. Hasilnya, pada evaluasi semester I di Jakarta, Bintana merupakan percetakan dengan pertumbuhan cetak komersial tertinggi se Jawa Pos Grup. Pada evaluasi triwulan tiga di Jambi bulan Oktober 2010, Bintana juga masuk sepuluh besar percetakan terbaik.</p>
<p>Yang paling penting, semangat kebersamaan, kepedulian dan kerjasama tim mulai bergerak. Rapat umum, rapat head departemen, dan berbagai upaya meraih kemajuan, kini menjadi keseharian di perusahaan. Mulai dari staf, hingga para manajer. Ruangan mesin mulai bersih dan rapi.</p>
<p>Seorang wartawan mengirim SMS seperti ini: Dulu saya berjanji tak akan masuk ke toilet Bintana yang kotor dan bau. Kini pernyataan itu saya cabut. Kini, toilet Bintana bersih dan harum, ada pula sabun pencuci tangan seperti di hotel. Saya hanya tersenyum, senang.</p>
<p>Orang tidaklagi hanya sekedar datang, cetak koran, lalu pulang. Di sela jam istirahat, ada yang menonton televisi satelit, membaca buku, menjelajah internet hingga sekedar nongkrong di depan taman kantor. Kini, Bintana sedang bersiap menambah tower mesin sehingga kemampuan cetak warna bertambah, menambah investasi digital printing dan siap melayani kebutuhan cetak grup maupun masyarakat umum.</p>
<p>Saat sarapan pagi di sebuah hotel di Jambi, seorang teman yang juga mengurusi percetakan, berdiskusi dengan saya. Ia mengeluhkan susahnya mengembangkan cetak komersil di daerahnya lantaran begitu banyak bisnis sejenis. Padahal, sepuluh bulan sebelumya, saya belajar banyak kepadanya soal percetakan.</p>
<p>Saya bangga, menyaksikan karyawan Bintana mulai bangga bekerja sebagai karyawan Bintana&#8230;****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

