<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 13:18:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Goss Colorliner Mesin Cetak Koran Canggih</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/goss-colorliner-mesin-cetak-koran-canggih/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/goss-colorliner-mesin-cetak-koran-canggih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 13:18:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=376</guid>
		<description><![CDATA[ Industri media berkaitan dengan teknologi yang  terus berubah. Drupa sejak lama menjadi pusat  perhatian pelaku bisnis media di tanah air. Jawa  Pos Grup dan Riau Pos Grup, secara rutin  mengirim para pimpinan media dan percetakan  ke pameran ini, baik ke China maupun Jerman.  Mengapa pameran bertajuk Drupa 2012 The  World&#8217;s Leading Exhibition for Print [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-377" title="blog-2" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/05/blog-2-300x232.jpg" alt="blog-2" width="300" height="232" /> </strong>Industri media berkaitan dengan teknologi yang  terus berubah. Drupa sejak lama menjadi pusat  perhatian pelaku bisnis media di tanah air. <em>Jawa  Pos Grup</em> dan <em>Riau Pos Grup</em>, secara rutin  mengirim para pimpinan media dan percetakan  ke pameran ini, baik ke China maupun Jerman.  Mengapa pameran bertajuk Drupa 2012 The  World&#8217;s Leading Exhibition for Print Media  Industry ini penting?<span id="more-376"></span></p>
<p>Percetakan adalah jantung bisnis surat kabar. Saat reformasi bergulir, ribuan surat kabar dan tabloid terbit. Namun, dalam tempo singkat, sebagian besar berguguran dan mati. Salah satunya adalah karena tidak memiliki mesin cetak. Perkembangan teknologi mesin cetak, memang luar biasa. Ada yang menyamakan dengan penemuan abjad dan internet dewasa ini.</p>
<p>Tak terbayangkan saat ini hidup tanpa media dan hasil cetak, seperti buku, surat kabar, kemasan, poster, prospektus, kartu nama dan tiket. Pameran  empat tahunan Drupa atau dalam bahasa Jerman Druck und Papier  sudah berjalan 14 kali, sejak tahun 1951 atau 63 tahun lalu.</p>
<p>‘’Munculnya media digital belum mampu menggantikan media cetak, melainkan memperkayanya. Drupa 2012 membuka peluang baru dengan cara yang lebih cerdas. Meski di negara-negara Barat seperti Amerika dan Eropa percetakan dan media mengalami perubahan besar, namun pasar di Asia dan Amerika Latin terus berkembang secara dinamis,’’ kata Bernhard Schreier, president Drupa 2012.</p>
<p>Werner Matthias Dornscheidt, Presiden dan CEO Messe Düsseldorf menyebutkan, Drupa 2012 adalah pameran percetakan terbesar di dunia, yang diikuti oleh 1.850 peserta dari 50 negara yang akan menunjukkan kekuatan inovasi industri mereka, baik surat kabar, kemasan, percetakan komersial dan sebagainya.</p>
<p>Messe Dusseldorf bukan hanya menggelar pameran media dan percetakan. Mereka mengorganisir lebih dari 40 pameran dan 120 acara di negara lain. Pameran yang mereka gelar antara lain, mesin dan peralatan, perdagangan, kesehatan, fashion dan gaya hidup serta pariwisata. Pada Oktober 2012 mendatang, Messe Dusseldorf menggelar pameran plastik dan karet internasional. Mereka memiliki 68 perwakilan di berbagai negara.</p>
<p>Pameran  industri media Drupa di Dusseldorf Jerman ini, termasuk salah satu  pameran dagang terbesar di dunia, dilihat dari jumlah peserta dan pengunjungnya.  Drupa 2004 dihadiri 393.654 pengunjung dan diikuti 127 negara.  Pada Drupa 2008 jumlah pengunjung 391.000 dari 138 negara. Sedangkan Drupa 2012 ini, pada empat hari pertama, jumlah pengunjung lebih 95.000 orang yang berasal dari 87 negara. Begitu juga dengan peserta. Peserta yang mengambil bagian dalam bidang percetakan mencapai 639 peserta dengan 1.368 produk, paling banyak di antara jenis lainnya.<br />
Kendati krisis ekonomi melanda Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa, industri media dan percetakan terus menggeliat. Buktinya, Goss International merilis mesin cetak terbaru dan canggih. Perusahaan yang bermarkas di New Hampshire Amerika Serikat ini, mengembangkan mesin cetak Colorliner Compact Printing System (CPS) dan Flexibel Printing System (FPS) yang dipamerkan di Drupa 2012. Pabriknya ada di Amerika Utara, Asia dan Eropa</p>
<p>Pabrikan mesin cetak koran ini yang berdiri sejak 170 tahun lalu itu, memproduksi berbagai mesin cetak seperti Mercury, Newsliner, Magnum, Universal, Uniliner, Universal, Community SSC, Colorliner dan yang paling gres Colorliner FPS dan CPS. Kelebihan mesin terbaru ini, antara lain, kualitas cetak tinggi, kecepatan cetak, serba otomatis dan bisa mencetak dalam format besar dan beroperasi nonstop.</p>
<p>Goss International memiliki tiga fokus utama yakni , mesin cetak koran, offset dan packaging. Mesin cetak Goss seri sebelumnya, digunakan oleh surat kabar ternama seperti  International Herald Tribune, Asahi Shimbun Jepang dan The Straits Times Singapura.</p>
<p>Kelebihan mesin cetak Colorliner CPS adalah, mampu mencetak 90.000 eksemplar per jam, cepat dan stabilitas mesin terjamin. Desainnya ergonomis dan serba otomatis sehingga gampang dioperasikan. Pengontrolan hasil cetak dilakukan melalui komputer layar sentuh. Selain itu, bisa mencetak 80 halaman berwarna sekaligus karena ada dua plat dalam satu silinder. Bandingkan dengan mesin cetak KBA Comannder yang hanya bisa mencetak 32 halaman berwarna sekaligus atau Uniset 64 halaman berwarna sekaligus.</p>
<p>Jika sebelumnya mesin Goos hanya punya satu motor listrik sehingga harus banyak kabel sehingga menyusun konfigurasi mesin lebih sulit. Kini setiap unit mesin ada motor listrik sehingga lebih sederhana dan jika tidak digunakan listriknya bisa dimatikan.  Tinggi satu unit mesin hanya 2,7 meter dan tidak memerlukan konfigurasi yang rumit seperti harus disusun menjadi empat tower.</p>
<p>Lorong antar mesin dirancang sedemikian rupa untuk memasang plat secara otomatis. Sistem sirkulasi udara yang diadaptasi dari Colorliner  FPS memungkinkan untuk mempertahankan suhu yang diperlukan tanpa memerlukan pendingin udara.</p>
<p>‘’Kami menawarkan model mesin cetak terdepan agar percetakan surat kabar lebih otomatis sehingga bisnis surat kabar tetap kompetitif dan menciptakan peluang baru,’’ kata CEO Goss International, Jochen Meissner. Colorliner CPS menggabungkan teknologi percetakan koran yang gampang dioperasikan dengan operator lebih sedikit. Model baru ini tersedia dalam konfigurasi 4&#215;2, 5&#215;2 dan 6&#215;2</p>
<p>Perusahaan koran terkemuka di Skotlandia DC Thomson Company, akan menjadi surat kabar pertama yang akan menggunakan mesin cetak Goss Colorliner CPS. Mesin delapan tower ini, bisa mencetak sampai 90.000 eksemplar  per jam. Pemasangan mesin cetak canggih ini akan dimulai pertengahan tahun 2012  ini.</p>
<p>Mesin Offset produksi Goss juga canggih. Mulai dari tipe Sunday 2000 yang bisa mencetak 16 hingga 29 halaman hingga yang terbaru Sunday 5000 yang bisa mencetak 64 hingga 96 halaman sekaligus dengan ukuran plat 2,8 meter atau 112 inci.  Pabrikan mesin cetak Offset juga dikuasai Jerman seperti merek Heidelberg, AB Dick dan MAN Roland, lalu Amerika Serikat seperti Miller, Multilith Eagle, Harris Aurelia serta Jepang seperti Fuji Shinohara, Hashimoto, Sakurai dan Xerox.</p>
<p>Selama ini, industri media dan percetakan dirajai Amerika Serikat dan Jerman. Namun, belakangan China mulai memproduksi mesin web atau mesin cetak koran yang lebih murah dan menggarap pasar negara berkembang. India juga mulai memproduksi mesin cetak koran merek Orienex X-cel.</p>
<p>Belakangan, China juga rajin menggelar pameran mesin cetak, seperti di Guang Zhou, pada April 2011 tahun lalu. <em>Batam Pos Grup</em> mengirim Suhairi, General Manajer Ripos Bintana Press ke China. Pameran Drupa 2012 diikuti Marganas Nainggolan, Suhairi, Hasan Aspahani dan saya. Jumlah peserta dari Jawa Pos Grup sebanyak 60 orang yang berangkat dalam tiga kelompok.</p>
<p>Perjalanan ke Dusseldorf Jerman merupakan kunjungan ketiga bagi saya meyaksikan pameran mesin percetakan, setelah sebelumnya ke China dan melihat pabrik rekondisi mesin cetak koran merek Dauphin Graphic Machinery (DGM) di Turangga, Auckland Selandia Baru.</p>
<p>Paling tidak, ini menimbulkan optimisme bahwa surat kabar, berkaitan dengan teknologi tinggi yang terus berubah. Jika sebelumnya ada kekhawatiran bisnis surat kabar akan meredup seiring maraknya televisi lokal dan internet, setidaknya kini bisa hidup berdampingan untuk membangun peradaban di muka bumi ini. Mungkin sama dengan optimisme penyelenggara pameran Drupa 2012 yang akan berakhir besok 16 Mei 2012. Di semua pintu keluar, terpampang spanduk besar dengan tulisan: See You, 2-15 June 2016. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/goss-colorliner-mesin-cetak-koran-canggih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Revolusi Percetakan: Live dan Close Up!</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/revolusi-percetakan-live-dan-close-up/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/revolusi-percetakan-live-dan-close-up/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 13:16:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[ Mata gambar dalam poster itu  bergerak, ke kiri  dan ke kanan. Seolah mengikuti sudut pandang  orang yang melihatnya. Atau gambar orang  turun  dari tangga darurat dan lambang pria dan  wanita di pintu toilet, bergerak turun. Ada pula  gambar wanita yang mengenakan perhiasan, saat  diraba muncul ke permukaan kertas, hanya  dengan sekali cetak. Ini dimungkinkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-374" title="blog" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/05/blog-300x184.jpg" alt="blog" width="300" height="184" /></strong> Mata gambar dalam poster itu  bergerak, ke kiri  dan ke kanan. Seolah mengikuti sudut pandang  orang yang melihatnya. Atau gambar orang  turun  dari tangga darurat dan lambang pria dan  wanita di pintu toilet, bergerak turun. Ada pula  gambar wanita yang mengenakan perhiasan, saat  diraba muncul ke permukaan kertas, hanya  dengan sekali cetak. Ini dimungkinkan dengan  teknologi percetakan digital. Era cetak digital  sudah di depan mata?<span id="more-373"></span></p>
<p>Ruangan pameran digital printing membetot perhatian pengunjung dari berbagai negara, pada pameran industri media Drupa 2012 di Dusseldorf, Jerman. Hal ini seolah menguatkan hasil studi bahwa percetakan offset diperkirakan hanya tumbuh 3 persen, sementara cetak digital meningkat sebesar 18 persen per tahun.</p>
<p>Poster yang seolah matanya bergerak itu, adalah hasil kreasi dan inovasi yang dilakukan Grapac Japan Inc, perusahaan asal Jepang menampilkan teknologi percetakan yang menggunakan teknik grafis dan lensa mikro sehingga hasil cetak yang ditampilkan seolah bergerak berdasarkan sudut pandang mata yang melihatnya.</p>
<p>Mereka menyebutnya Wedys atau <em>Which Ever Direction You See</em> atau tergantung ke arah mana mata Anda melihat.  Di situs Wedys, beberapa produk yang diciptakan sudah laku terjual dan dipesan. Cetakan jenis ini bisa digunakan untuk poster sehingga seolah-olah mata dalam gambar tersebut bergerak-gerak.</p>
<p>Hasil cetak Wedys sangat ekspresif, menggunakan teknik tiga dimensi dan pencitraan. Nah, bayangkan jika poster-poster tokoh politik yang maju dalam Pemilihan kepala daerah atau anggota dewan,  mata, tangan atau gambarnya bergerak-gerak, tentu akan lebih menarik. Wedys baru diluncurkan September 2011 dan dipamerkan di Drupa 2012.</p>
<p>Inovasi yang cukup mengejutkan dilakukan Leonhard Kurzt yang menciptakan<br />
Mesin Hot Stamping Foils. Mesin tersebut mampu mencetak tidak hanya sekedar gambar atau foto, tapi sekaligus perhiasan seperti kalung, cincin, anting atau jam tangan yang timbul dari permukaan gambar, seolah itu perhiasan asli dan tampak nyata.</p>
<p>Perhiasan atau pernik-pernik itu bukan ditempelkan, tapi langsung dicetak sekaligus gambarnya.  Mesin Hot Stamping Foil ini disebut Laser Select, yang mampu menam-pilkan komposisi warna bak pelangi. Mesin ini bisa diaplikasikan pada berbagai macam produk seperti kartu, poster, plastik dan peralatan rumah tangga.  Perusahaan Leonhard Kurz Stifung sendiri berdiri sejak 1892 dan bergerak dalam bidang industri grafis.</p>
<p>Jika sebelumnya mesin hot stamping  masih sederhana dan manual, ukurannya pun terbatas. Biasanya, dipakai untuk mencetak undangan, ijazah, sertifikat dan cover buku sehingga tampil beda, berkilat dan terkesan mewah. Mesin Hot Stamping Kurz, mampu mencetak dengan kualitas tinggi dan ukuran lebih besar. Hasil cetakannya memberikan inspirasi bagi bagian pemasaran dan industri  grafis. Maka, tidak heran, salah satu semboyan yang digaungkan dalam Drupa 2012 adalah hasil cetakan live dan close up. Kuncinya pada kualitas cetak,  langsung, cepat dan segera bisa dilihat hasilnya.</p>
<p>Cetak foto, merupakan cetak digital yang paling cepat berkembang  belakangan ini mengikuti perkembangan fotografi secara digital.  Laporan Futuresource Consulting Ltd  menyebutkan, pasar foto digital di Eropa Barat mencapai 611 Miliar Euro, tumbuh 20 % dibanding tahun lalu. Diperkirakan, pasar foto digital ini akan tetap tumbuh hingga 2014.</p>
<p>Masih banyak mesin dan peralatan canggih yang dipamerkan. Ada mesin sablon Tex Jet Plus buatan Perancis  yang mampu mencetak gambar sangat detil, halus dan diprint langsung  pada bahan kaos. Apapun bentuk  file yang dimasukkan melalui komputer, bisa  dicetak dengan cepat.  Juga ada bahan plastik tiga dimensi dari perusahaan Jepang yang membuat hasil cetakan lebih hidup.  Cetakan ini bisa digunakan untuk membuat kartu nama, undangan, brosur dan poster.</p>
<p>Percetakan digital memang tengah memasuki era baru. Apalagi sejak internet merambah ke semua aspek kehidupan. Selain televisi, hasil cetak digital cukup efektif menyampaikan pesan kepada khalayak ramai. Berpikir digital, menjadi salah satu laporan khusus Drupa 2012. Apalagi, perusahaan seperti Canon Group  sudah bermain di bisnis cetak komersial, termasuk Kodak, Mapro AG dari Swiss, Adfomedia asal Belanda, RheinMail Jerman dan sebagainya.</p>
<p>Pesatnya perkembangan cetak digital, dipengaruhi oleh tiga faktor. Biaya percetakan yang makin murah, kualitas cetak yang makin baik serta makin terbatasnya stok kertas. Pada pameran Drupa 2008 temanya adalah Green Printing, maka pada Drupa 2012 lebih fokus pada  inovasi percetakan khususnya  cetak digital,  pra cetak dan pra media, offset, digital dan hybrid printing, proses percetakan, cetak kemasan dan pemasok berbagai peralatan cetak.</p>
<p>Selain berbagai inovasi mesin cetak, baik mesin web untuk mencetak koran, mesin offset dan cetak digital, berbagai peralatan pendukung percetakan, multimedia, spare part, aneka jenis kertas, plastik,  tinta, manajemen dokumen, grafis, komputer,  kemasan, marketing, iklan dan penerbitan, semua ditampilkan dalam pameran kelas dunia tersebut. Cetak digital bakal menjadi revolusi dalam bidang teknologi dan industri media yang melibatkan banyak sektor dan berbeda dengan proses percetakan sebelumnya.</p>
<p>Bagi Manfred Seen dari Mapro AG Swiss, cetak digital lebih <em>eye catching</em> alias menggoda mata dan memenuhi selera pribadi, apalagi banyak sekali isi media online yang bagus untuk dicetak.  ‘’Ada yang mengatakan bahwa digital printing industri dan teknologi  yang sudah &#8216;matang&#8217; . Jika anggapan ini benar, harus ada upaya untuk menciptakan keajaiban dan perkembangan yang melambat 20 tahun belakangan ini,&#8221; kata Andreas Nielen Haberl, Product Manager Graphic Communication Group Kodak.</p>
<p>Mengapa cetak digital disukai? Nielen punya jawabannya. Antara lain karena disukai konsumen, bisa mencetak dalam jumlah sedikit dan biaya lebih hemat, target pasar yang memenuhi selera konsumen, bisa dibuat dalam banyak versi, bahan baku gampang didapat serta mengatasi kelebihan produksi dan limbah kertas.</p>
<p>Bagi saya, yang menarik adalah perubahan skala bisnis yang terjadi dan bisa dilihat pada pameran industri media di Drupa, Dusseldorf Jerman ini.. Stand pameran digital printing, jauh lebih semarak dan menarik perhatian pelaku bisnis dari berbagai belahan dunia. Misalnya, apa yang dilakukan perusahaan Jerman Koenig &amp; Bauer AG (KBA) yang dulu terkenal memproduksi mesin web untuk mencetak koran.</p>
<p>Pada pameran Drupa 2012, meski tidak menciptakan mesin web terbaru, mereka mengandalkan mesin offset yang mampu mencetak dengan plat ukuran besar dan tenaga robot. Misalnya mesin offset Varius 80 yang mampu mencetak di bahan plastik berkualitas tinggi, mesin Genius 52 UV yang bisa mencetak lima warna sekaligus dan dioperasikan secara otomatis serta mesin Premius yang bisa mencetak CD atau DVD dan optik 7200 buah per jam.</p>
<p>Selain itu, produsen mesin offset terkemuka asal Jepang Komori, mulai menggabung-kan teknologi offset dengan digital printing. Komori menjalin kerjasama dengan Landa dan Konica Minolta. ‘’Teknologi selalu berubah dengan cepat. Trend kunci di Drupa 2012 adalah kesempatan bagi pelaku bisnis industri media untuk menunjukkan teknologi terbaru mereka. Namun, kini situasi berubah. Percetakan offset mulai menggabungkan diri dengan cetak digital,’’ kata Yoshiharu Komori, president dan CEO Komori.</p>
<p>Bos Afromedia, perusahaan asal Belanda yang bergerak dalam bidang pemasaran, komunikasi, desain kreatif, iklan, offset dan digital printing menegaskan,’’ Masa depan adalah era digital. Jika Anda tidak masuk ke dunia digital, maka Anda akan tertinggal,’’ tukasnya.</p>
<p>Bagaimana dengan Indonesia, khususnya Batam? Yang jelas, dengan jumlah penduduk termasuk lima besar dunia, pesta demokrasi bernama Pilkada di seluruh daerah, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan. Betapa tidak. Hampir di semua kota, baliho, billboard, X-banner dan roll banner, menjamur. Belum lagi saat musim Pilkada tiba, kebutuhan poster, kartu nama, kaos dan semua kebutuhan pencitraan diri, laku keras. Ditambah  lagi partai politik dan organisasi sosial kemasyarakatan yang banyak itu, membutuhkan produk cetakan untuk sosialisasi dan komunikasi dengan konstituen dan anggotanya.</p>
<p>Selain Pilkada, meningkatnya anggaran sektor pendidikan, menjamurnya iklan outdoor sehingga tahun 2009 saja, pertumbuhan cetak digital mencapai 70 persen per tahun. Idealnya, Indonesia memiliki 100 ribu perusahaan grafika melihat peluang di bisnis cetak digital. Namun, saat ini baru 100 ribu perusahaan cetak digital dan sebagian besar masih tergolong usaha kecil menengah. Apalagi, mesin-mesin cetak digital umumnya buatan luar negeri yang relatif  mahal. Meski ada mesin cetak digital buatan China, Taiwan dan Korea yang murah, hasilnya tidak maksimal dan tidak tahan lama.</p>
<p>Satu lagi, kecendrungan orang untuk narsis yang menyalurkan lewat facebook atau media online dan jejaring sosial, membuka peluang untuk cetak digital yang cepat, murah, dan berkualitas. Toh, kita hanya kalah dari Amerika Serikat dalam soal jumlah pengguna facebook. <strong>(bersambung)</strong><strong><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/revolusi-percetakan-live-dan-close-up/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bintana Tanjungpinang (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/bintana-tanjungpinang-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/bintana-tanjungpinang-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2012 15:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=369</guid>
		<description><![CDATA[ Sejarah  membangun percetakan jarak jauh di  Tanjungpinang tahun 1994 memang tak  sebanding dengan pembangunan percetakan  Bintana unit II. Namun, tetap saja perlu waktu  berbulan-bulan merealisasikannya. Tahap demi  tahap sudah dilakukan. Tinggal menunggu mesin  cetak ini beroperasi, menapaktilas sejarah media di Kepulauan Riau.Rencana membuat percetakan sudah bergulir sejak akhir tahun 2011. Saya lalu mencoba mencari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-medium wp-image-370" title="bintana foto" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/04/bintana-foto-300x120.jpg" alt="bintana foto" width="300" height="120" /> </strong>Sejarah  membangun percetakan jarak jauh di  Tanjungpinang tahun 1994 memang tak  sebanding dengan pembangunan percetakan  Bintana unit II. Namun, tetap saja perlu waktu  berbulan-bulan merealisasikannya. Tahap demi  tahap sudah dilakukan. Tinggal menunggu mesin  cetak ini beroperasi, menapaktilas sejarah media di Kepulauan Riau.<span id="more-369"></span>Rencana membuat percetakan sudah bergulir sejak akhir tahun 2011. Saya lalu mencoba mencari lokasi berkeliling naik sepeda motor, bersama Sigit Rahmat wartawan Tanjungpinang Pos.  Kami meninjau lokasi gedung lama di Jalan Kamboja, dan melihat-lihat kemungkinan dimana lokasi lahan percetakan baru itu.</p>
<p>Saat melintas di Jalan Rawa Sari, ada sebuah gudang yang lumayan besar. Di depannya dipasang spanduk mau dijual. Saya mampir dan meninggalkan kartu nama dan meminta informasi soal gudang berisi keramik itu. Gedung itu cukup kokoh. Terletak di pertigaan Kampung Bulang, Batu 5 Bawah.</p>
<p>Ternyata, bos saya Rida K Liamsi, juga tertarik melihat lahan dan bangunan itu. Klop. Saya tinggal mencari waktu bertemu dengan pemiliknya yang ternyata juga sering bolak-balik ke Batam. Setelah tertunda cukup lama, saya bertemu pemilik gedung di Batam, sambil makan malam di Hotel Nagoya Plasa. Pembicaraan soal jual beli itu pun terus bergulir.</p>
<p>Maka, pada akhir Desember 2011 kesepakatan jual beli terlaksana. Kini, tinggal tahapan renovasi gedung, pemasangan tapak mesin,  pembuatan septic tank chemical, pembenahan gedung , pemindahan mesin , penambahan daya listrik dan terakhir test print sebelum percetakan itu beroperasi.</p>
<p>Pada  Januari 2012, pengerjaan tapak mesin dimulai. Sebelumnya, saya bersama General Manager Bintana Suhairi, dua manajer senior Saryadi dan La Umpa, menyeberang ke Bintan, naik kapal roro dari Punggur, melewati  Tanjunguban menuju  Tanjungpinang. Uniknya, Fauzi tukang yang mengerjakan tapak mesin sepanjang 18 x 2 meter ini, dulu juga yang mengerjakan tapak mesin Bintana saat cetak jarak jauh di Sei Jang, 18 tahun yang lalu!</p>
<p>Ruangan gedung percetakan itu, dulunya gudang keramik. Jadi, di sisi kiri dan kanan, sudah dikeramik oleh pemilik lama. Semula, tukang berencana dikeruk secara manual, tapi tiga hari kemudian dia menyerah. Cara yang paling memungkinkan adalah menggunakan alat berat alias Belko. Tapi, bagaimana caranya?</p>
<p>Pagi-pagi, sebelum pengerukan tapak mesin, kami mengundang ustad dan berdoa bersama memohon keselamatan kepada Allah SWT agar pekerjaan berjalan lancar. Dengan makanan roti prata khas Tanjungpinang dan kopi,  teman-teman dari Batam Pos, Percetakan Bintana, Tanjungpinang Pos, Posmetro Batam dan Tanjungpinang TV berkumpul dan berdoa bersama. Begitu acara selamatan selesai, alat berat sudah tiba di lokasi.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-371" title="beko pinang" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/04/beko-pinang-300x200.jpg" alt="beko pinang" width="300" height="200" /> Saya terkejut ketika Belko sewaan datang.  Ternyata, bukan yang kecil tapi Belko yang biasa  dipakai memotong bukit. Dengan perhitungan  yang matang, supir Belko itu melipat tangan besi  alat berat, dan seolah menunduk masuk ke dalam  ruangan percetakan. Kesulitan lain, di dalam  gedung ada beberapa tiang beton penyangga.  Terpaksa, salah satu tiang dibengkokkan agar pantat Belko bisa masuk dan sejajar dengan lokasi tapak mesin itu. Untungnya, tiang beton tersebut cukup kokoh dan terbuat dari besi beton ukuran 16 inchi. Ternyata, dulu pemilik gedung lama pedagang besi sehingga bahan bangunan tersebut bahan pilihan.</p>
<p>Pelan tapi pasti, tanah berkeramik itu dibongkar dan tanahnya dikeruk. Ruangan gedung belepotan tanah dan lumpur. Beberapa kali, tangan besi Belko menyentuh tiang dan bergetar. Saya khawatir gedung itu roboh. Tapi supirnya sangat mahir. Ia bisa beringsut atau menunggingkan alat berat itu. Akhirnya, setengah hari pengerukan itu selesai. Tahap berikutnya adalah membuang tanah dan lumpur itu, lalu memasang tapak mesin yang dimulai tanggal 11 Januari 2012.</p>
<p>Tapak mesin selebar 2 meter dan sepanjang 18 meter itu, tergenang air. Sebab, dulu lokasi gedung itu memang rawa. Pilihannya, memasang cincin beton atau cerocok, yakni menancapkan kayu yang kuat secara merata di dasar galian. Pilihannya memasang cerocok sedalam enam meter, baru dicor dan setelah dipasangi besi beton. Tapak mesin dari cor beton itu selesai dalam tempo enam minggu.</p>
<p>Selama proses renovasi gedung percetakan Bintana di Tanjungpinang, sebagian besar karyawan Bintana di Batam sudah ikut datang kesana. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/bintana-tanjungpinang-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asian Media Award WAN IFRA  2012</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/asian-media-award-wan-ifra-2012/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/asian-media-award-wan-ifra-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 13:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=366</guid>
		<description><![CDATA[ Setelah sebelas tahun terbentuk, organisasi Surar  kabar Se Dunia atau WAN IFRA mengadakan  pertemuan di Nusa Dua, Bali tanggal 10 hingga 12  April 2012 yang diikuti oleh  ratusan surat kabar  dari Asia Pasifik.  Yang membanggakan, Jawa Pos  dari Indonesa berhasil meraih dua penghargaan  bergengsi The Best Design se Asia Pasifik,  mengalahkan 650 suratkabar.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-367" title="aat-2" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/04/aat-2-290x300.jpg" alt="aat-2" width="290" height="300" /> Setelah sebelas tahun terbentuk, organisasi Surar  kabar Se Dunia atau WAN IFRA mengadakan  pertemuan di Nusa Dua, Bali tanggal 10 hingga 12  April 2012 yang diikuti oleh  ratusan surat kabar  dari Asia Pasifik.  Yang membanggakan, Jawa Pos  dari Indonesa berhasil meraih dua penghargaan  bergengsi The Best Design se Asia Pasifik,  mengalahkan 650 suratkabar. <span id="more-366"></span> Tuan rumah acara Kongres persatuan surat kabar Se dunia ini,  dua kelompok media terbesar di Indonesia, yakni Jawa Pos Grup dan Kelompok Kompas Gramedia. Ruangan Conventional Centre bertaraf internasional itu penuh.  Namun, acara seremonial yang dibuka oleh Wakil Presiden Budiono itu mengecewakan, lantaran terlalu ketat dan kaku.</p>
<p>Pasukan pengamanan wakil Presiden bersenjata lengkap, berseliweran di sekitar lokasi acara. Termasuk menyiapkan pasukan TNI dan Panser Anoa buatan Pindad di belakang gedung pertemuan.  Sangat formal serta terkesan militeristik.</p>
<p>Pertemuan para pemimpin surat kabar dunia itu, baru pertama kali digelar di Indonesia. Tahun lalu, diadakan di Wina dan saat itu, Jawa Pos mengukir prestasi sebagai koran dengan pembaca muda terbesar di dunia.</p>
<p>Acara dibagi atas beberapa kelompok. Ada konferensi para CEO dan eksekutif senior yang menampilkan  pembicara dari berbagai negara, membahas masalah bisnis media masa depan dan pengembangannya.  Begitu juga soal redaksi (newsroom) dan tantangannya di masa depan.</p>
<p>Lalu, pembahasan soal iklan yang menjadi urat nadi surat kabar yang tengah mengalami perubahan radikal. Pertemuan soal iklan ini membahas bagaimana media memanfaatkan peluang dalam perubahan tersebut. Juga dibahas soal perkembangan teknologi percetakan dan informasi teknologi terkait dengan percetakan digital dan Internet.</p>
<p>beberapa vendor juga ikut dalam pameran yang menampilkan peralatan industri media teknologi mutakhir di area Conventional Centre.  Berbagai topik dibahas dalam seminar dan lokakarya. Misalnya, implementasi ISO standar percetakan surat kabar, iklan lintas media seperti koran, Internet dan televisi, penerbitan di IPad dan video online atau web TV.</p>
<p>Pada acara makan malam, diumumkan media dari berbagai negara yang menerima penghargaan dalam kategori cetak, desain, konten editorial, info grafis, foto jurnalistik, pemasaran dan layanan masyarakat. Jawa Pos meraih penghargaan Best Desain yang tahun lalu menerima penghargaan sebagai koran dengan pembaca muda terbesar di dunia di Wina Austria.</p>
<p>Bagi saya, konferensi tingkat tinggi persatuan surat kabar se dunia ini, banyak hal yang bisa dipelajari. Kekhawatiran banyak pihak terhadap pesatnya perkembangan teknologi digital dan internet akan mematikan surat kabar, ternyata berlebihan dan tidak beralasan. Sebab, ternyata banyak surat kabar tetap menjadi pilihan pembaca dan mengembangkan bisnis multimedia seperti televisi, radio, majalah, buku, internet, website dan bahkan makanan.</p>
<p>Dari surat kabar, berkembang ke bisnis lainnya. Kuncinya adalah, kreativitas dan inovasi. Surat kabar bisa menjadi agen perubahan sosial di tengah masyarakat dunia yang terus berubah. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/asian-media-award-wan-ifra-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengitari  Bali Naik Motor</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/mengitari-bali-naik-motor/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/mengitari-bali-naik-motor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Apr 2012 13:22:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[ Bali selalu menawan hati. Saya kembali datang ke  Bali, untuk urusan tugas jurnalistik. Setahun  setelah Bali dikoyak bom, saya datang mengikuti  Peringatan Hari Pers Nasional yang dipusatkan di  Kuta. kali ini, saya datang mengikuti pertemuan  Persatuan Surat Kabar se Dunia, khususnya Asia,  WAN IFRA di Nusa Dua, Bali. 
Meski enam hari di Bali, tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-364" title="bali-1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/04/bali-1-300x207.jpg" alt="bali-1" width="300" height="207" /> Bali selalu menawan hati. Saya kembali datang ke  Bali, untuk urusan tugas jurnalistik. Setahun  setelah Bali dikoyak bom, saya datang mengikuti  Peringatan Hari Pers Nasional yang dipusatkan di  Kuta. kali ini, saya datang mengikuti pertemuan  Persatuan Surat Kabar se Dunia, khususnya Asia,  WAN IFRA di Nusa Dua, Bali. <span id="more-363"></span></p>
<p>Meski enam hari di Bali, tak ada waktu khusus  menikmati pulau Dewata yang eksotik ini. sebab, rapat dan konferensi yang saya ikuti, berlangsung dari pagi hingga malam hari.  setelah konferensi surat kabar sedunia, dilanjutkan rapat evaluasi Jawapos Grup. Untunglah, rapat selesai Jumat tengah malam. Praktis, Sabtu 14 April 2012 kosong. Hari itulah saya  manfaatkan keliling Bali. Naik mobil mahal, maka pilihan lain naik sepeda motor.</p>
<p>Di depan Pecatu Condotel milik Tommy Soeharto itu, ada penyewaan beberapa motor besar. Mereknya Hyongsun, buatan Korea. Ban belakangnya besar. Kalau ditunggangi, pernya enak dan tidak bikinsakit pinggang. Tapi, motor ini tak bertenaga dan sulit dibawa ngebut.  Maka, saya berdua Syaiful Ishak, menyewa dua sepeda motor.<br />
Kami mulai menyusuri jalan raya dari Pecatu ke Denpasar, menyusuri jalan- jalan protokol hingga masuk gang ke luar gang ke rumah sepupunya. Dari pusat kota, terus ke Denpasar Barat dan tembus ke Utara. Di sebuah lokasi pekuburan, kami sempat melihat persiapan acara pembakaran mayat atau Ngaben. tapi karena jenazahnya belum datang, kami memutuskan pergi dari sana.</p>
<p>Kaum kerabat orang yang meninggal, sudah berkumpul. Tumpukan batang pisang dan dialas seng serta tabung gas sudah disiapkan. Tampak beberapa ornamen adat Bali disiapkan di dekat pembakaran mayat itu. Ada juga tenda orang berjualan makanan ringan dan minuman. Suasana mistis sangat kentara.<br />
Belakangan,  saya menyesal tak ikut menyaksikan upacara pembakaran mayat itu. Sebab, tak selalu orang Bali yang meninggal dunia mayatnya diaben. Apalagi, mayat yang akan diaben itu, baru saja meninggal dunia. “Jarang-jarang orang yang baru meninggal mayatnya diaben. Biasanya, dilakukan sekaligus dengan orang yang sudah lama meninggal dengan cara membongkar kuburannya dan tulang-tulangnya dibakar bersamaan,” kata Nyoman Sujana, warga Bali kepada saya.</p>
<p>Sebab, biaya Ngaben termasuk mahal, dari puluhan juta hingga ratusan juta. setelah mayat dibakar sampai jadi abu, lalu dilarung ke laut dan sebagian disimpan di pura, lalu diberi sesajen pada saat hari Galungan atau Kuningan.  Upacara Ngaben ditiadakan bagi mayat korban pembunuhan.</p>
<p>Dari Denpasar, kami terus ke Ubud di Kabupaten Gianyar, menyaksikan kehidupan warga Bali yang masih penuh tradisi,  melintasi jalan di Tabanan menuju Sangeh,  tapi hanya sampai Monkey Forrest, di kawasan Ubud.  Khawatir waktunya tak cukup, ke Bedugul dan Kintamani dibatalkan, lalu kami memutar kembali menuju Denpasar.</p>
<p>Motor sewaan Syaiful, bos Koran Rakyat Aceh yang plontos itu, sempat bermasalah di perempatan Lod Tunduh, dekat Semar Kuning Puri Saren Kelod. tali kopling motornya putus.  Untunglah ada bengkel tak jauh  dari situ. Perjalanan kami lanjutkan dengan meraba-raba kemana arah yang mau dituju. Di sepanjang jalan menuju Ubud, saya melihat cukup banyak pengumuman yang dipasang orang mau menjual tanah, termasuk sawah yang berlokasi di pinggir jalan raya.</p>
<p>Lantaran baru pertama kali keliling Bali naik motor, jalan-jalan terlihat tampak sama. Modalnya papan petunjuk jalan atau bertanya pada siapa saja di pinggir jalan. Untungnya, di berbagai perempatan selalu ada papan petunjuk arah dan warga Bali dengan senang hati memberi tahu arah yang kami tanya.</p>
<p>Jalan-jalan Kota Denpasar yang padat, kami telusuri dengan sepeda motor, dari Pusat kota, Denpasar Barat hingga ke Utara dan memutar ke Padang Bulan.  Selain saya berdua, banyak bule keliling Bali dengan sepeda motor dan mobil sewaan.  &#8216; Lebih enak naik motor karena jalan di Bali mulai macet,&#8217; kata Nyoman Agus, pegawai hotel kepada saya.</p>
<p>Penduduk Bali saat ini 3 juta jiwa.  Cuaca bulan April cerah dan sedikit berawan. Namun, semburan sinar matahari yang disenangi turis bule buat berjemur agar kulitnya lebih cokelat itu, terasa menyengat.  Kendaraan makin banyak menyebabkan polisi dan kemacetan.</p>
<p>Bali, seperti hal Batam, sejak lama diserbu pendatang. Pedagang kaki lima, restoran, agen perjalanan, penjual souvenir, pelatih surfing hingga tukang pijat  dan investor hotel dan sarana wisata lainnya, dikuasai pendatang. &#8216; Anak-anak Bali paling banyak bekerja di hotel dan jadi supir, “kata Nyoman Sujana, ketua koperasi karyawan Pecatu Condotel,  Uluwatu saat mengantar saya ke bandara.</p>
<p>Bali bagaikan pulau toko souvenir. Ubud misalnya, di sepanjang jalan berjejer toko-toko souvenir berbagai jenis. dari ukiran kayu, batu,  lukisan,  kaus, layangan, aneka cenderamata mata hingga makanan ringan. Dua toko oleh oleh yang cukup luas dan ramai dikunjungi wisatawan, baik lokal maupun asing adalah toko Khrisna.</p>
<p>Selama di Bali, dua kali saya mampir ke Pantai Kuta, berharap menyaksikan sunset yang indah.  Tapi batal lantaran matahari tertutup awan.  sepanjang jalan menuju Kuta, penuh dengan toko-toko souvenir, losmen,  pembuat tato, hotel, penjual makanan,  dan apa saja yang dibutuhkan turis, semua ada. Toko-toko kecil itu tersusun rapi hingga ke gang jalan menuju pantai.</p>
<p>Pantai Kuta yang terkenal itu, masih dipenuhi oleh pelatih surfing alias berselancar di laut, penjual minuman ringan dan asongan, serta ibu ibu tukang pijat dan pedikur menikur ala Kuta.  turis asing bercampur dengan wisatawan lokal, berharap menyaksikan sunset di pantai itu.</p>
<p>Saat hari mulai gelap, kembali kami menggeber motor, melintasi jalan yang sempit dan padat, melewati beberapa bangunan yang dalam proses pembangunan jadi hotel. keliling kota kembali ke arah Nusa Dua.  lalu mampir di tempat hiburan menyaksikan kehidupan malam di Bali.</p>
<p>Ada tempat karaoke sederhana menyuguhkan bir lokal,  membaca daftar lagu sebelum menyanyi, mirip tempat hiburan tahun 70-an.  Tamunya rata-rata orang lokal.  Ada juga tempat hiburan kelas menengah campuran tamu bule dan lokal seperti Pelangi Bali.</p>
<p>Ada pula yang kelas atas dengan menyajikan paket paket hiburan lengkap dengan wanita penghibur kelas reguler dan premium Seperti di Boshe,  yang menyediakan ruang VIP karaoke, live musik dan entertainment. Setelah seharian naik motor, dengan rasa capek luar biasa, kami kembali ke hotel pukul 03.00 WITA. Tapi puas bisa lebih banyak melihat Bali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/mengitari-bali-naik-motor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita tentang Petrus</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/cerita-tentang-petrus/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/cerita-tentang-petrus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 04:10:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=359</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Petrus Setet. Asal  Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia merantau ke Batam, setelah sempat bekerja di Malaysia. Saya mengenalnya ketika ia menjadi sekuriti di kompleks perumahan kami. Badannya kecil dan berkulit gelap, tapi lincah. Saban malam ia bertemu saya ketika tugas jaga.
Kadang saya belikan kopi dan rokok karena harus jaga malam. Apalagi, pos keamanan hanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-360" title="petrus-1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/02/petrus-1-300x212.jpg" alt="petrus-1" width="300" height="212" />Namanya Petrus Setet. Asal  Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia merantau ke Batam, setelah sempat bekerja di Malaysia. Saya mengenalnya ketika ia menjadi sekuriti di kompleks perumahan kami. Badannya kecil dan berkulit gelap, tapi lincah. Saban malam ia bertemu saya ketika tugas jaga.<span id="more-359"></span></p>
<p>Kadang saya belikan kopi dan rokok karena harus jaga malam. Apalagi, pos keamanan hanya beberapa meter di depan rumah saya, persis di jalan mendaki pintu masuk ke kompleks perumahan Taman BePeDe Indah. Lantaran sering ngobrol, kadang ia mengeluh lantaran gajinya kecil, saya berpikir, bagaimana bisa membantunya?</p>
<p>Kebetulan, di depan rumah saya, ada tanah kosong berupa lereng bukit yang kosong dan ditumbuhi ilalang. Panjangnya sekitar 110 meter, dan sudah ditata bertingkat, hingga ke pinggir jalan yang dibatasi parit selebar dua meter. Saya ingin berkebun disitu, menanam apa saja agar menjadi teduh dan rindang.</p>
<p>‘’Kau mau berkebun?,’’ kata saya kepada Petrus. Ternyata, dia mau. Maksud saya, kalau dia bantu saya berkebun, dan bunga serta tanamannya bisa dijual, mungkin bisa membantu Petrus. Jadi, setiap bulan ia menerima gaji sebagai sekuritim dan dapat tambahan sebagai tukang kebun.</p>
<p>Sejak tahun 2007, jadilah Petrus tukang kebun saya. Kami mulai menata taman, menanam pohon, bunga serta rumput. Yang penting jadi hijau. Tapi, sulitnya minta ampun. Sebab, selalin banyak sekali ilalang dan rumput liar, tanahnya pun berbatu dan mengandung bauksit sehingga sulit tanaman jadi subur.</p>
<p>Pelan-pelan, kebun itu mulai terbentuk. Telapak tangan saya jadi kasar dan keras. Kulitpun makin menghitam. Ini lantaran saya suka bercelana pendek dan berkaos oblong. Saya membuat jembata kayu dan gazebo. Kalau keluar kota, saya mulai berburu bunga. Beli bibirnya, masukkan kardus dan bawa ke Batam.</p>
<p>Petrus saya belikan buku-buku tentang penataan taman, teknik membonsai serta pemupukan dan perawatan tanaman. Kadang saya ajak mengintip taman-taman yang indah di berbagai penjuru dunia melalui internet. Ia terkagum-kagum, kok bisa semua ada di internet. Hehehehe…</p>
<p>Pelan tapi pasti, mulai ada yang membeli bunga. Apalagi, saya membuat green house untuk tanaman yang tidak tahan panas matahari. Petrus orang yang tekun, dan mau bekerja keras. Ia juga mau belajar. Apalagi, ia tamat SMA. Cuma, entah kenapa, banyak warga Flores yang memilih jadi sekuriti. Dari bergaji Rp300 ribu, tiap tahun saya naikkan gajinya, hingga di atas Upah Minimum Kota (UMK). Kadang saya ngobrol sambil ngopi dengan Petrus. Beberapa kali, saya mampir ke rumahnya, di rumah liar di atas tebing yang hampir longsor.</p>
<p>Saat mulai bekerja, Petrus punya anak satu. Kini, anaknya tiga orang. Satu cowok dan dua cewek. Istrinya orang Medan kelahiran Aceh. Ia memilih tidak kawin dengan orang sekampungnya. ‘’Susah, bos. Kalau kawin di Flores, mas kawinnya gading gajah dan harganya Rp 25 juta,’’ katanya kepada saya.</p>
<p>Permah suatu hari, Petrus sakit. Saya menduga, ia kecapean karena harus jaga malam dan berkebun siang harinya. Petrus lalu saya berhentikan karena mengganggu tugasnya sebagai sekuriti. Lalu, setelah itu ia datang kepada saya, meminta agar bekerja penuh sebagai tukang kebun lantaran ia tak sanggup lagi jaga malam.</p>
<p>Petrus cepat belajar soal tanaman. Mulai dari harga, pembibitan dan sebagainya. Tapi, yang bikin jengkel, ia sering ragu-ragu mengerjakan sesuatu, menunggu diperintah dulu. Yang jelas, ia jadi lebih sehat dan badannya kekar karena berkebun serta jarang sakit. Pada tahun 2009, pendapatan kebun cukup lumayan. Selain bisa membayar gajinya yang tiap tahun saya naikkan, juga bisa membeli peralatan berkebun, pot dan pupuk. Tapi, dua tahun terakhir, pendapatan menurun drastis dan saya nombok bayar gajinya tiap bulan.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-361" title="petrus-2" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2012/02/petrus-2-300x210.jpg" alt="petrus-2" width="300" height="210" />Sebagai orang pertama yang ikut saya mengelola kebun itu, Petrus tiga kali saya carikan anak buah. Pertama, Viktor yang juga asal Flores. Namun, lama-lama ia seperti iri lantaran gaji Petrus jauh lebih besar. Viktor merangkap sekuriti dan hanya bertahan sekitar 3 bulan bekerja di kebun. Setelah itu, ada Johanes yang jauh lebih tangkas. Ia juga berhenti lantaran diterima bekerja sebagai sekuriti di sebuah resort. Dan yang terakhir Khairul, ustad yang membantu-bantu berkebun setengah hari.</p>
<p>Setelah tiga tahun bekerja, suatu hari Petrus bilang, ia mau cuti. Lamanya sebulan. Saya kaget, kok selama itu? ‘’Kampung saya jauh, bos. Kalau naik kapal, delapan hari baru sampai,’’ katanya. Alamak! Kalau naik kapal, ia harus menyeberang ke Tanjungpinang, naik kapal dari pelabuhan Kijang. Kapal akan melewati rute Tanjungpriok, Jakarta terus ke Semarang, lalu ke Batulicin Kalimantan, terus ke Sulawesi dan terus ke Nusa Tenggara Timur.</p>
<p>Saya coba cari tiket di internet. Memang agak lebih mahal, tapi rasanya sama saja kalau naik kapal selama delapan hari. Meski tampak segan, akhirnya Petrus setuju naik pesawat. Pada hari keberangkatan, saya antar ia ke bandara. Bagasinya banyak sekali. Oleh-oleh buat sanak saudaranya di kampung. Saya mengantar sampai ke dalam bandara, karena saya punya pas masuk bandara.</p>
<p>Ternyata, bagasinya kelebihan. Saya harus membayar Rp300 ribu untuk biaya tambahan, lalu saya temani ia masuk ke ruang tunggu keberangkatan. ‘’Kalau kau bingung, sampai di Jakarta, telepon aku sebelum transit,’’ pesan saya. Petrus naik Batavia Air. Ternyata, ia harus dua kali transit. Di Jakarta dan Surabaya, baru sorenya terbang ke Kupang.</p>
<p>Selesai? Belum. Dari Kupang Petrus sebenarnya harus terbang lagi. Namun karena pesawat hanya tiga kali seminggu, ia harus menyeberang lagi seharian naik ferry. Lalu disambung naik bus hingga ke desanya. Praktis, meski naik pesawat, Petrus berangkat Senin pagi tiba di kampungnya Rabu siang!</p>
<p>Lebih sebulan ia di kampung. Ia mebuatkan toilet buat mamanya yang sudah tua. Saya tidak tahu persis apa saja kegiatannya di kampung. Karena sangat sulit menghubunginya via handphone karena kesulitan jaringan. Ia kembali ke Batam naik kapal, membawa saudaranya dan menempuh perjalanan delapan hari itu. ‘’Saya tak enak minta bantu bos lagi naik pesawat,’’ katanya. Lantaran l;ama di kapal, Petrus sakit sepulang dari Flores. Tapi ia senang bisa bertemu mamanya dan keluarganya.</p>
<p>Setelah itu, Petrus kembali bekerja seperti biasa. Sudah lebih dua tahun saya menombok membayar gajinya, lantaran pendapatan kebun bunga terus merosot. Namun, Petrus termasuk karyawan yang disiplin. Pada Desember 2011, setelah sekitar lima tahun bekerja dengan saya, Petrus minta berhenti. Untunglah, selama bekerja, ia saya paksa menabung dengan cara tidak menerima gaji secara penuh. Uang tabungan dan gaji terakhirnya saya berikan.</p>
<p>‘’Kalau bos memerlukan saya, saya bersedia dipanggil,’’ katanya. Mungkin ia bosan mengurus kebun bunga selama itu. Saya bilang, kalau mau cari kerja, jangan menjadi security lagi, karena fisiknya kurang kuat. Saya dengar, belakangan Petrus bekerja sebagai buruh bangunan. Setiap kali melihat kebun bunga di depan rumah saya, saya sering teringat Petrus, karena ia ikut melestarikan lingkungan dan hijaunya kebun bunga yang saya beri nama Sonya Garden itu. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/cerita-tentang-petrus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gelper: Judi Gaya Baru Ala Batam</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[WAJAH lelaki itu mengeras. Matanya nanar menatap mesin poker itu. Ia mengaku sudah kalah lebih satu juta.Tangannya memukul tombol mesin judi itu keras-keras, ketika mengadu angka besar atau kecil, meleset. Lelaki supir taksi gelap ini, salah satu di antara  penjudi yang ketagihan  mengadu nasib di meja judi yang bernama gelanggang permainan alias gelper yang belakangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-357" title="RAZIA TEMPAT JUDI" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/12/Judi-300x186.jpg" alt="RAZIA TEMPAT JUDI" width="300" height="186" />WAJAH lelaki itu mengeras. Matanya nanar menatap mesin poker itu. Ia mengaku sudah kalah lebih satu juta.Tangannya memukul tombol mesin judi itu keras-keras, ketika mengadu angka besar atau kecil, meleset. Lelaki supir taksi gelap ini, salah satu di antara  penjudi yang ketagihan  mengadu nasib di meja judi yang bernama gelanggang permainan alias gelper yang belakangan marak di Batam.<span id="more-356"></span></p>
<p>Di tempat lain, seorang wanita muda dengan penampilan seksi, juga asyik menekan tombol mesin judi di sebuahmal terkenal. Yang membuat miris, putrinya yang berusia sekitar 2 tahun, juga ikut menemani ibunya main judi. Sesekali, bocah itu merengek dan minta disuapi ibunya, sambil terus bermain poker.  Bocah itu terheran-heran, melihat ibunya memelototi layar bergambar aneka buah-buahan itu.</p>
<p>Memang, puluhan arena Gelper yang tersebar di mal, hotel hingga ruko di Batam, menyediakan berbagai jenis permainan. Antara lain, poker yakni mesin yang menyediakan angka satu hingga tiga belas dan bisa diadu dengan pilihan besar atau kecil. Pemain membeli koin yang bernilai Rp20 satu koin. Dengan uang Rp100 ribu, pemain mendapat 5.000 koin.</p>
<p>Rata-rata, pemain menghabiskan Rp200 ribu hingga Rp500 ribu mengadu nasib di mesin poker. Bagi yang beruntung, bisa mendapatkan 25.000 koin atau hadiah tertinggi 5 joker yang mendapat 1.200 koin. Nah, koin ini ditukarkan berupa tiket yang bisa ditukarkan dengan uang. Yang menukar 25 ribu koin mendapat Rp500 ribu dan yang menang 5 joker mendapat Rp 2,4 juta.  Tapi, sangat jarang pemain mendapatkan hadiah tertinggi ini, sehingga mereka rata-rata, ya kalah.</p>
<p>Permainan lainnya adalah Doraemon. Bola sebesar kelereng yang diputar dan masuk ke lubang yang berisi angka satu hingga dua belas dan dua angka tiga belas atau bintang. Pemain yang memasang 100 koin, akan mendapat 12 kali lipat atau menjadi 1.200 koin. Permainan Doraemon bisa menyedot uang pemain hingga jutaan. Batas kemenangan pemain jika kreditnya yang ditukar tiket itu mencapai nilai Rp10 juta. Namun, jarang pemain bisa menang dan lebih banyak menelan kekalahan.</p>
<p>Jenis permainan lain misalnya tebakan angka di mesin jackpot berupa bola yang berputar dan masuk ke lubang berisi angka-angka dari satu hingga dua belas. Yang juga cukup banyak adalah mesin jackpot berupa gambar binatang atau buah-buahan. Dengan membeli koin seharga Rp100 ribu, mendapat kredit 5.000 koin, lalu tombol mesin jackpot itu dijepit dengan sedotan plastic sehingga jalan sendiri. Jika sembilan kotak di mesin itu gambarnya belalang semua, pemain dapat Rp500 ribu, kalau kupu-kupu dapat Rp1,4 juta. Hadiah dan bonus tertinggi jika gambarnya bunga mawar merah atau biru yang mendapat hingga Rp4 juta.</p>
<p>Kalaupun ada pemain yang menang,  dari mesin-mesin itu, keluarlah tiket seperti di tempat permainan anak-anak Time Zone, lalu dihitung wasit jumlahnya dan digiling dengan mesin penghancur tiket. Kepada pemain diberikan secarik kertas yang disebut cek, bertuliskan berapa jumlah tiketnya dan ditandatangani, Nah, cek itulah yang ditukarkan dengan uang, di tempat-tempat tertentu. Pokoknya, agak jauh dari lokasi permainan untuk menghindari razia. Penukaran uang itu dilakukan sembunyi-sembunyi di tempat parker atau di sudut lokasi Gelper yang sepi. Ada pula pemain mendapat hadiah berupa barang seperti handphone, blackberry atau handycam, lalu ada seseorang yang menampung dan membeli di sekitar lokasi kepada pemain.</p>
<p>Setiap permainan, dibawah pengawasan seorang koordinator dan  pemain dilayani beberapa orang yang disebut ‘wasit’ yang bertugas memberikan koin yang dibeli, memasukkan koin ke mesin dan melayani permintaan minuman dan makanan serta rokok. Untuk menghindari yang bukan pemain meminta rokok atau minuman, setiap pembelian koin, pemain mendapat kupon yang dalam jumlah tertentu bisa ditukarkan dengan rokok, makanan atau minuman keras.  Di setiap Gelper, karyawannya ada yang bertugas sebagai kasir, koordinator, keamanan, wasit, dan cleaning service.</p>
<p>‘’Wasit-wasit ini dibayar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu perhari. Kalau libur atau tak masuk kerja karena sakit, ya tidak dapat apa-apa,’’ cerita seorang wasit. Untuk mendapat tambahan pendapatan, para wasit ini menunggu kalau ada pemain yang berbaik hati memberi sejumlah uang sebagai tips jika menang. Karena wasit dilarang ikut main, tidak heran, kadang ada ‘’kerjasama’’ antara wasit dan pemain. Caranya, wasit memberi tahu pemain tertentu mana mesin yang pemainnya sudah kalah banyak dan berhenti. Biasanya, mesin yang sudah menyedot koin banyak, bakal ‘’muntah’’ sehingga pemain baru lebih besar kemungkinan menang.</p>
<p>Pemain yang kalah, meninggalkan gelanggang permainan dengan wajah merah padam, menggerutu dan satu dua orang marah-marah. Yang menang, biasanya mendapatkan teriakan hose. Entah apa artinya hose, mungkin dari istilah full house atau kombinasi kartu tertentu dalam permainan judi jenis poker. Ketika pemain menang dan mendapatkan koin dalam jumlah tertentu, teriakan hose akan membahana ke segala sudut ruangan gelper.</p>
<p>Kalau ada pemain yang menang, maka dari mesin-mesin itu, keluar berlembar-lembar tiket, sesuai dengan jumlah koin yang didapat. Tiket tersebut dilipat lalu dihitung wasit dan diserahkan ke karyawan yang bertugas menghitung ulang dan menghancurkan tiket tersebut di mesin penghancur kertas. Istilahnya, tiketnya ‘’digiling’’ alias dipotong-potong mesin. Lalu, petugas di ruang kasir itu lalu memberikan selembar kertas bertuliskan jumlah tiket dan ditandatangani. Kertas kecil itu disebut cek, yang bisa ditukarkan dengan uang. Agar tidak terkesan tiket bisa diuangkan, maka pemain harus mencari seseorang yang bertindak sebagai juru bayar sesuai jumlah kemenangan.</p>
<p>Tapi, harus sembunyi-sembunyi. Sang kasir atau juru bayar tersebut, biasanya menunggu di suatu tempat tertentu, seperti areal parker atau sudut-sudut ruangan yang gelap, baru membayarkan sejumlah uang, sesuai hasil perhitungan tiket pemain yang menang dan sudah dihancurkan. Kenapa harus sembunyi-sembunyi? ‘’Ah, biasalah bang. Kalau tidak kita bisa kena razia,’’ kata juru bayar itu, beralasan.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p>Begitulah. Sejak dua tahun terakhir, gelanggang permainan atau Gelper, marak di Batam, sejak Peraturan Daerah (Perda) soal gelper ini diketok anggota dewan Kota Batam. Pejabat-pejabat di Batam, seperti Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Kepala Dinas Pariwisata Yusfa Hendri, mati-matian menolak anggapan bahwa Gelper itu judi.  Lalu, kalau bukan judi, kenapa digerebek dan disegel polisi?</p>
<p>Gelper mulai beroperasi saat Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam dijabat Guntur Sakti. ‘’Secara konsep, Gelper bukan judi, tetapi secara praktek, iya,’’ kata Guntur. Ia meneken  14 izin Gelper dari 16 izin yang sudah ada sehingga menjadi 40 izin Gelper. Namun, izin Gelper terus bertambah menjadi 62 lebih saat Guntur Sakti digantikan Yusfa Hendri sebagai Kadis Pariwisata. Kenyataannya, Gelper terus merambah ke berbagai sudut kota dan yang beroperasi mencapai 74 Gelanggang Permainan.  Menurut Guntur Sakti, jumlah tenaga kerja yang tertampung di gelanggang permainan ini mencapai 480 orang Jumlah ini terus bertambah seiring makin maraknya Gelper.  Berbeda dengan Guntur,Yusfa malah ngotot menyebutkan Gelper bukan judi.</p>
<p>Aturan main yang mengatur soal Gelper memang terkesan abu-abu alias samar-samar dan tak jelas. Yang jadi dasarnya adalah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2003 perubahan atas Perda nomor 17 tahun 2001 tentang kepariwisataan. Perda ini dikenal dengan sebutan Perda Kawasan Wisata Terpadu Ekslusif (KWTE) yang diterbitkan tahun 2002 silam.</p>
<p>Ide membangun kawasan khusus yang dinamakan Kawasan Wisata Terpadu Eksklusif (KWTE),  bertujuan melokalisasi berbagai jenis hiburan dalam sebuah wilayah yang jauh dari hunian penduduk. Gagasan ini muncul karena di kota Batam sejak 1990 jenis hiburan seperti karaoke, diskotek, mandi uap, dan panti pijat mulai marak, termasuk perjudian. Pemko Batam lalu menyodorkan draf Peraturan Daerah (Perda) tentang Kepariwisataan dan disetujui DPRD Batam tanggal 8 Oktober 2001. Dalam Bab XV perda itu disebutkan, KWTE hanya ditujukan untuk wisatawan mancanegara dan ditempatkan di kawasan khusus dan jauh dari permukiman.</p>
<p>KWTE baru dapat dilaksanakan jika pemkot telah menertibkan segala jenis hiburan dan perjudian yang tidak berizin di Batam. Prakteknya,perda belum disahkan, dan belum pula digelar penertiban bisnis judi, Pemkot Batam sudah menunjuk perusahaan pengelola perjudian itu, setelah  mengantongi izin prinsip dan izin lokasi KWTE sementara. Dalam Nota kesepakatan (<em>memorandum of agreement</em> &#8211;MoA), yang diteken Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam, Tering Bay Resort, Nongsa Point, ditetapkan sebagai lokasi sementara KWTE. Dalam Pasal 3 ayat 2 MoA itu disebutkanlah jenis-jenis permainan eksklusif untuk kawasan terpadu itu, seperti <em>roullete, baccarat, craps, ji si kie, pay kyu, black jack</em>, dan <em>poker</em>, yang tidak lain adalah jenis perjudian.</p>
<p>Perda kontroversial itulah yang diubah dan diutak-atik kembali. Namun, dalam Perda nomor 3 tahun 2003 KWTE tidak lagi disebutkan diperuntukkan khusus bagi wisatawan mancanegara, tidak seperti dalam Perda nomor 17 tahun 2001 yang telah direvisi. Disebutkan, Gelper atau gelanggang permainan mekanik/elektronik adalah suatu usaha yang menyediakan tempat, peralatan/mesin bola dan fasilitas untuk bermain ketangkasan yang bersifat hiburan bagi anak-anak dan orang dewasa serta dapat menyediakan restoran / rumah makan. Juga diatur dalam Perda tersebut  mencegah setiap orang untuk melakukan perjudian dan perbuatan yang melanggar kesusilaan serta tidak bertentangan dengan norma-norma keagamaan.</p>
<p>Dari Gelper, Pemko Batam berharap mendapat pemasukan berupa retribusi. Untuk mengurus Izin Prinsip Usaha Pariwisata (IPUP) dan Izin Tetap Usaha Pariwisata (ITUP), pengusaha Gelper membayar Rp50.000 per mesin. Begitu juga saat mendaftar ulang. Dinas Pariwisata dan Budaya sebagai pelaksana pemungut retribusi diberikan uang perangsang sebesar 5 % (lima persen) dari realisasi penerimaan retribusi yang disetorkan ke Kas Daerah, yang pengaturannya ditetapkan dengan Keputusan Walikota.</p>
<p>Sejak tahun 2009, Pemko Batam menggagas Visit Batam 2010 untuk menggenjot pendapatan dari sektor pariwisata.  Harap dicatat, kunjungan wisatawan ke Batam nomor tiga terbanyak di Indonesia. Itu pun jumlahnya hanya sekitar 1,3 juta orang per tahun. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 27 juta pertahun. Anehnya, dalam Perda yang sudah direvisi tiga kali itu, belakangan wisatawan mancanegara tidak lagi menjadi prioritas.</p>
<p>Nah, Gelper dinilai sebagai salah satu upaya mendongkrak kunjungan wisatawan itu untuk menambah pundi-pundi Pemko bernama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Agar legal, aturannya pun dibuat. Maka muncullah Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam Nomor 17 Tahun 2001 yang direvisi dengan Perda Nomor 3 Tahun 2003. Di seluruh Kepulauan Riau, total jumlah Gelper sebanyak 81 lokasi. Sebanyak 74 di Batam, 5 di Tanjungpinang dan 2 di Karimun.</p>
<p>Syarat lain,  tidak diperbolehkan penukaran hadiah berupa uang di arena Gelper dan arenanya harus berlokasi di tempat terbuka seperti mal, plaza dan hotel atau kawasan tertentu yang telah ditetapkan Pemko Batam.   Jika ada yang berjudi? ‘’Itu kewenangan polisi sebagai penyidik,’’ kata pejabat Pemko Batam, enteng.  Jam operasi Gelper diatur dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 malam. Hal lainnya adalah semua mesin gelper yang berada di arena gelper harus diverifikasi dan diregistrasi oleh Disparbud Kota Batam sebagai pemberi izin usaha.</p>
<p>Dari penelusuran di lapangan, dalam tempo singkat izin Gelper terus bertambah. Jika semula hanya ada 14 pemegang izin semasa Kadis Pariwisata dijabat Guntur Sakti, begitu ia digantikan Yusfa Hendri, izin Gelper seperti diobral, melejit menjadi 40 Gelper dan terakhir menjadi 74 Gelper. ‘’Sebelumnya, izin Gelper cukup ketat, dan harus menemui pejabat kepolisian dulu. Eh, belakangan main kasih saja. Satu tanda tangan izin Gelper membayar Rp30 juta hingga Rp 40 juta, sehingga jumlah Gelper tidak terkendali,’’ beber seorang pengusaha Gelper.</p>
<p>Meski di sejumlah Gelper dipasang tulisan hitam dengan kertas putih dilarang berjudi, polisi tetap menganggap bahwa Gelper adalah perjudian dengan modus operandi Gelanggang Permainan. Kombes Pos Napoleon Bonaparte dari Mabes Polri setelah menggerebek Gelper di Hotel Formosa Batam menyebutkan,’’Mabes Polri tidak hanya menggerebek Sky Zone, tapi semua Gelper. Kami menyita mesin dan uang Rp37 juta lebih, serta beberapa orang saksi,’’ katanya kepada wartawan.</p>
<p>Pajak Gelper juga jauh dari harapan. Dari puluhan Gelper hanya tiga saja yang membayar pajak.  Sebanyak 15 pengusaha tidak pernah membayar pajak.  Gelper yang mengoperasikan 100 hingga 300 mesin, omsetnya mencapai ratusan juta. Pengusaha Gelper wajib menyetor 20 persen dari total omsetnya ke kas Pemko Batam. Konon, pengusaha Gelper ‘’bekerja sama’’ dengan oknum Dinas Pariwisata, mengatur pemberian upeti terhadap oknum aparat dan oknum wartawan, agar tidak rebut-ribut dan mengusik keberadaan Gelper di setiap sudut kota.</p>
<p>Menurut seorang pejabat teras Pemko Batam, Perda yang mengatur soal Gelper ini, sebenarnya mengadopsi dan merevisi Perda Kawasan Wisata Terpadu Ekslusif (KWTE) yang pernah dibuat sebelumnya. Namun,  Perda tersebut yang mengatur soal kawasan wisata terpadu itu, gagal sebelum diterapkan. ‘’Menurut saya, Singapura menerapkan dan mengadopsi kawasanwisata terpadu ekslusif yang mau kita terapkan. Kawasan Marina Bay Sand dan Sentosa World Resort adalah buktinya,’’ katapejabat tersebut.  Tapi, pejabat itu lupa. Batam bukan Singapura.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Pengusaha muda itu nelangsa. Usaha Gelper yang digelutinya baru lima bulan, mendadak harus tutup. Istilahnya, disegel sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Lokasi Gelpernya di mal dan  lokasi perhotelan di Nagoya, diberi garis polisi. Padahal, untuk membuka empat lokasi Gelper itu, masing-masing ia menanam modal sekitar Rp500 jutaan. Artinya, Rp 2 Miliar duitnya terbenam disitu.  ‘’Saya buka Gelper sudah terlambat. Ini karena ada pengelola Gelper yang ditangkap polisi, lalu disidang dan bebas. Artinya, secara hukum kan tidak bermasalah. Itu sebab saya berani terjun ke bisnis Gelper,’’ katanya. Setidaknya, sudah tiga kali kasus Gelper ini ditangani aparat hukum. Pemain ditangkap, diperiksa polisi dan diadili. Ternyata, pada tersangka yang dijerat pasal perjudian itu, belakangan malah bebas.</p>
<p>Ternyata, dari sebanyak 74 izin Gelper yang dikeluarkan, pemilik izin hanya berkisar 20 orang saja. Satu  pengusaha, bisa punya 3 hingga 6 lokasi Gelper.  Caranya, mereka memakai nama orang lain untuk menambah izin baru. Selain pengusaha-pengusaha beken dan dulu pernah terjun ke bisnis judi dan muka-muka lama, ada juga mantan pejabat kepolisian, mantan anggota dewan yang mengantongi izin tersebut.</p>
<p>Menurut seorang mantan pegawai Disparbud yang mengurusi izin-izin Gelper tersrebut, sejak awal pengusaha-pengusaha Gelper ini, sulit dikoordinir. Sebab, selain skala usaha mereka berbeda, masing-masing merasa punya channel dan koneksi ke kepolisian, baik di Polresta Barelang, Polda Kepri maupun Mabes Polri. ‘’Kalau diundang, banyak yang tak mau datang. Begitu pula untuk sumbangan ke pihak-pihak tertentu, agar usaha Gelper berjalan lancar,’’ kata mantan pegawai itu.</p>
<p>Setelah tutup beberapa bulan belakangan ini, diam-diam dua pegawai Dinas Pariwisata Pemko Batam, datang ke Mabes Polri, mencoba melobi dan mengirim surat ke Mabes Polri, agar Gelper dibuka kembali.  Tanggal 3 November lalu, Mabes Polri mengirim surat bernomor B/4184/XI/2011/Bareskrim tentang persetujuan permohonan membuka status quo jasa usaha Gelanggang Permainan (Gelper) di Batam.</p>
<p>Padahal, pada tanggal 21 September 2011, ada laporan polisi bernomor LP/594/2011/Bareskrim tentang tindak pidana perjudian di Kota Batam serta surat Irwasum Polri tentang hasil penyelidikan dan monitor perkembangan kegiatan Gelper yang berindikasi perjudian di wilayah Kepri. Tanggal 13 Oktober 2011 Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Yusfa Hendri mengirim surat permohonan untuk membuka status quo jasa usaha gelanggang permainan mekanik/elektronikdi Batam.</p>
<p>Inti surat yang diteken Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Polisi Agung Santoso tersebut adalah, demi tercapainya kepastian hukum dan berjalannya usaha di bidang jasa rekreasi dan hiburan khususnya Gelanggang Permainan di Kota Batam, Bareskrim Polri tidak keberatan membuka status quo di setiap lokasi Gelper dan selanjutnya terhadap lokasi tersebut akan dilakukan penyegelan oleh Satpol PP Pemko Batam dengan catatan, pembukaan status quo bersama Bareskrim Polri dan Kepolisian Daerah Riau, Satpol PP Pemko Batam untuk menindaklanjuti pengecekan mesin.</p>
<p>Selain itu, melakukan pengecekan ulang (standarisasi) terhadap seluruh mesin, dan tidak menerbitkanb ijin operasional terhadap mesin-mesin yang melanggar aturan permainan atau melanggar hukum. Masalahnya, tertulis di surat itu Polda Riau, bukan Polda Kepri. ‘’Kami sudah bahas surat ini, katanya salah ketik,’’ kata seorang pengusaha Gelper yang masih menunggu diperbolehkannya kembali Gelper beroperasi.</p>
<p>Sampai saat ini, tulisan berlogo Mabes Polri berdasarkan Surat Perintah Sprint/2011/XI/2011/Bareskrim masih terpasang di seluruh arena Gelper berikut garis polisi (police line) tanggal 21 September 2011. Bunyinya: Diberitahukan bahwa mesin-mesin gelper diruangan ini telah disita oleh penyidik Bareskrim Polri terkait perjudian. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, juga menyatakan, seluruh Gelper yang beroperasi di Batam adalah perjudian. Hal ini berdasarkan unsur jenis permainan yang jelas-jelas mengandung unsur adu nasib alias untung-untungan. Meski pejabat Pemko Batam berkali-kali mengatakan Gelper bukan judi, namun hukum positif Indonesia masih memandang berjudi sebagai perbuatan pidana. Masihkah para pejabat bersikeras bahwa Gelper bukan judi? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Euy&#8230;</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 06:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua kota di Pulau Jawa, sudah pernah saya kunjungi. Baik saat jadi mahasiswa, maupun setelah bekerja. Tapi Bandung, belum sama sekali. Jadi penasaran juga dengan kota berjuluk Paris Van Java ini. Kali ini, saya berlebaran dan jalan-jalan bersama keluarga ke Bandung, sekaligus menuntaskan penasaran.Apalagi, beberapa tahun lalu, sebagai Ketua PWI Kepri, saya diundang ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-353" title="jalan2" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/10/jalan22.jpg" alt="jalan2" width="350" height="227" />Hampir semua kota di Pulau Jawa, sudah pernah saya kunjungi. Baik saat jadi mahasiswa, maupun setelah bekerja. Tapi Bandung, belum sama sekali. Jadi penasaran juga dengan kota berjuluk Paris Van Java ini. Kali ini, saya berlebaran dan jalan-jalan bersama keluarga ke Bandung, sekaligus menuntaskan penasaran.<span id="more-348"></span>Apalagi, beberapa tahun lalu, sebagai Ketua PWI Kepri, saya diundang ke Bandung menghadiri peringatan hari pers nasional. Hotel sudah disediakan di Savoy Homan, persis di depan kantor surat kabar Pikiran Rakyat. Namun, karena kesibukan kerja, saya batal hadir. Bersama kedua buah hati dan istri, saya seminggu berlebaran di Bandung.</p>
<p>Meski dari Batam ada penerbangan langsung ke Bandung dengan Merpati Airlines, saya memilih naik Garuda via Jakarta. Sebab, selain jadwal yang tidak jelas, sudah lama Merpati kesulitan mengoperasikan pesawatnya. Dari Jakarta, kami naik Alphard sewaan menuju Bandung.</p>
<p>Tiga hari menjelang lebaran, sungguh enak melintasi jalan-jalan Jakarta yang sepi. Kota yang terkenal macet itu ditinggal penghuninya mudik lebaran. Begitu pula saat melintasi jalan tol Cipularang, yang juga sering macet. ‘’Heran, kok lancar ya? ‘’ kata supir kami. Saya menduga, karena pada hari itu Minggu, mungkin banyak orang berpikiran Cipularang macet sehingga memilih tidak jalan.</p>
<p>Udara sejuk Bandung mulai terasa. Saya menginap di Panghegar Hotel, di Jalan Merdeka. Malamnya, kami menyantap masakan Sunda tak jauh dari hotel. Esoknya, mulailah kami menjelajahi Bandung. Seorang anak muda bernama Jai, menemani keluargaku selama di Bandung.</p>
<p>Kedua anakku, Axel dan Sonya sejak awal berencana mengunjungi Trans Studio, yang iklannya gencar di televisi.Meski sehari sebelum lebaran, pusat rekreasi itu luar biasa ramainya. Loketnya antri sejak pag dan tiketnya satu orang Rp200 ribu. Ternyata, konsepnya meniru model Universal Studio Singapore. Bagi warga Jawa Barat dan sekitarnya, memang punya daya tarik luar biasa.</p>
<p>Tiga hari menjelang lebaran, kami tiba di Jakarta. Lalu naik Alphard melewati tol Cipularang menuju Bandung. Alphard? Sesekali naik mobil sewaan bagus ya boleh juga. Lagi pula, hanya sehari kok, hehehe.. Namun, terasa jauh bedanya kalau kita melintasi jalan-jalan di Malaysia, dari Johor, Melaka menuju Kuala Lumpur. Selain bersih, rest area-nya nyaman dan ramai disinggahi pelancong. Kami menginap di Grand Panghegar Hotel di Jalan Merdeka di pusat kota dan dekat kemana-mana.</p>
<p>Bandung memang kota yang kaya kuliner. Makan di restoran, tidak terlalu mahal. Tapi, kadang malah lebih enak makan di kawasan Punclut, di perbukitan sambil memandang kota Bandung di ketinggian. Atau makan di kaki lima di berbagai sudut kota kembang ini.  Puluhan rumah makan, mulai dari nasi timbel sampai makanan khas Sunda berjejer di Punclut. Umumnya, rumah makan tersebut berbentuk rumah panggung. Hawa yang dingin membuat makan makin sedap.</p>
<p>Kami jalan ke Cibaduyut, yang terkenal dengan produksi tas, aneka sandal dan sepatu itu. Lalu keesokan harinya jalan-jalan ke Lembang, mampir ke peternakan sapi yang membuat berbagai jenis makanan ringan dari susu, dan mandi air panas di Ciater yang terkenal itu.  Kawasan itu kini tidak hanya menyediakan mandi air panas, juga bebragai permainan untuk anak-anak dan keluarga. Mulai dari naik kuda, ATV hingga gokart.</p>
<p>Bandung memang kota yang unik. Selain wisata alam seperti Gunung Tangkuban Perahu, juga banyak sekali gedung-gedung bersejarah seperti Gedung Sate, Gedung Merdeka, dan museum Konferensi Asia Afrika yang terkenal itu. Namun Masjid Raya yang menjadi salah satu ikon Bandung itu, kondisinya kurang terawat dan kumuh. Pengemis dan pedagang kaki lima memenuhi areal alun-alun masjid itu.</p>
<p>Supir kami, Jay yang asli Sunda itu,  hapal jalan-jalan Jawa Barat. Kami diajak ke kampungnya di Ciwidey. Kawasan yang terletak di ketinggian ini, memang mengasyikan. Angin bertiup sepo-sepoi dan udara sejuk. Sejauh mata memandang hanya sawah dan kebun sayur milik warga. Kami disuguhi rengginang dan renggining, penganan khas Sunda. Di rumah Jay, bawaannya lapar dan ngantuk.</p>
<p>Saya dan anak saya Ariel, salat Jumat di kampong Ciwidey. Kami hanya terbengong-bengong saat mendengar khatibnya ceramah pakai bahasa Sunda. Hehehehe… Sepulang dari masjid, saat ditegur beberapa orang tua, saya terpaksa diam saja karena tidak mengerti apa yang dikatakannya. Yang jelas, kalau berpapasan, selalu berkata: punteen…nuhun…hehehehe.</p>
<p>Meski sempat mengunjungi Asep Strawberry yang terkenal itu, namun tempat peristirahatan, bungalow dan tempat memetik buah strawberry dari pohonnya itu tutup lantaran masih dalam suasana lebaran. Saya sempat makan mie dan ngopi serta melihat-lihat tempat itu. Pulangnya, kami terjebak macet di kawasan Nagrek dan baru malam hari sampai kembali ke hotel.</p>
<p>Agar bisa cepat mengenal kota, hamper tiap pagi saya keliling naik sepeda yang disewakan hotel. Jalan-jalan utama di kota Bandung yang satu arah, memudahkan untuk mengenal kota dengan cepat. Namun, meski jaraknya pendek, terpaksa harus jalan memutar. Tak terasa, seminggu di Bandung cukup menuntaskan penasaran menjelajahi sebagian Jawa Barat. Apalagi, pulangnya kami memilih melewati Cianjur dan Bogor. Sebab, kedua anak saya ingin mengunjungi Taman Safari di Bogor. Meski sempat macet selama tiga jam di kawasan Puncak lantaran jalan buka-tutup, kami menikmati perjalanan itu. Malamnya, tiba di Jakarta dan menginap di Santika Hotel, di Jalan KS Tubun.</p>
<p>Masih ada agenda liburan. Yakni ke Kidzania, kotanya anak-anak. Sebelumnya, kedua anak saya pernah ke sana, bersama rombongan Sekolah Kallista. Tapi, mereka belum puas, lantaran masih banyak permainan yang belum dicoba.  Setelah itu, kami mengunjungi Masjid Istiqlal yang terbesar di Asia Tenggara dan meninjau pesantren Darunnajjah di Jakarta Selatan. Pulang ke Batam, meski capek, liburan bersama keluarga kali ini sungguh mengayikkan…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In Memoriam Akmal Atatrik</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Menulis Sampai Akhir Hayatnya
 Ia layak mendapat julukan wartawan senior, bukan wartawan tua. Sebab, sampai akhirnya hayatnya, ia tetap menulis dan menulis. Sakit yang menderanya, tak mampu menahan Akmal Atatrik, tetap menulis. Kolom dari redaksi di Radar Kepri edisi ke 138 pekan lalu, adalah tulisan terakhirnya.
Kami, para wartawan yang mengenal Bang Akmal—begitu ia biasa disapa—sejak lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis Sampai Akhir Hayatnya</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-345" title="radar kepri" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/10/radar-kepri1.jpg" alt="radar kepri" width="350" height="234" /> Ia layak mendapat julukan wartawan senior, bukan wartawan tua. Sebab, sampai akhirnya hayatnya, ia tetap menulis dan menulis. Sakit yang menderanya, tak mampu menahan Akmal Atatrik, tetap menulis. Kolom dari redaksi di Radar Kepri edisi ke 138 pekan lalu, adalah tulisan terakhirnya.<span id="more-343"></span></p>
<p>Kami, para wartawan yang mengenal Bang Akmal—begitu ia biasa disapa—sejak lama mendengar kabar soal kesehatannya yang terus menurun. Kepada putranya Irfan, ia masih memikirkan kelangsungan surat kabar mingguan Radar Kepri, yang berkantor di rumahnya di Sei jang, Tanjungpinang. Motonya, dengan membaca kita tau.</p>
<p>Akmal Atatrik malang melintang di dunia jurnalistik sejak 1968 dua tahun setelah ia menetap di Tanjungpinang. Lelaki kelahiran Payakumbuh, 15 Februari 1946 itu, sudah menjadi wartawan pada usia 22 tahun. Mulai dari harian <em>Api Pancasila</em>, lalu menjadi penulis lepas majalah <em>Varia</em>, koresponden majalah <em>Selecta</em>. Tahun 1977, Akmal menjadi wartawan majalah <em>Detik</em> hingga dibreidel pemerintah Orde Baru dan bergabung dengan Mingguan <em>Genta</em> tahun 1986.</p>
<p>Jejaknya di dunia pers Kepri makin lengkap. Akmal bergabung dengan <em>Riau Pos Grup</em> dan menjadi Kepala Perwakilan serta mengurus percetakan Sistem Cetak Jarak Jauh pertama, yang kemudian menerbitkan <em>Sijori Pos</em> dan <em>Batam Pos</em>. Tahun 2000 hingga 2003, ia menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid <em>Sempadan</em> dan tahun 2007 menerbitkan surat kabar mingguan <em>Radar Kepri</em>.</p>
<p>Tidak hanya menjadi wartawan, Akmal memiliki andil cukup besar terhadap organisasi Persatuan Wartawan Indonesia. Ia didapuk menjadi Ketua PWI Perwakilan Kabupaten Kepri yang pertama. Saya malah ikut tes sebagai anggota PWI di Tanjungpinang, menempuh perjalanan dari Bukittinggi, Pekanbaru menuju Tanjungpinang.</p>
<p>Rida K Liamsi, tokoh pers di Sumatera dan kini memimpin <em>Jawa Pos National Network</em>, jaringan media terbesar di Indonesia, memiliki kesan khusus terhadap Akmal. ‘’Bagi saya, Akmal adalah contoh wartawan yang rajin, ulet dan gigih. Ia otodidak dan punya cita-cita menjadi seorang penerbit yang sukses dan jatuh bangun mengelola surat kabarnya,’’ kata Rida kepada saya melalui pesan pendek dari Wina, Austria. Ia sedang mengikuti konferensi asosiasi Koran sedunia WAN-IFRA .</p>
<p>Di mata Rida, Akmal adalah seorang pengurus PWI yang gigih memperjuangkan organisasi dan nasib anggotanya. ‘’Bicara soal perkembangan pers di Kepri, Akmal adalah bagian sejarah naik turunnya kehidupan pers di kepri. Ia membina dan mendidik para wartawan serta ikut berjuang melahirkan propinsi Kepri,’’ kata Rida K Liamsi.</p>
<p>Banyak kenangan yang tersisa semasa hidupnya. ‘’Bang Akmal mampu menjembatani komunikasi antara wartawan senior dan wartawan junior. Ia mempersatukan wartawan yang datang ke Kepri, baik yang tergabung dalam PWI maupun bukan. Ia turut menegakkan eksistensi PWI di Kepri,’’ kata Marganas Nainggolan, COO Riau Pos Grup Divre Batam.</p>
<p>Hal senada diungkapkan Taufik Muntasir, yang pernah bekerja bersama-sama Akmal di Tanjungpinang. ‘’Sebagai wartawan, Bang Akmal punya semangat kerja yang tinggi, meski kondisinya tidak memungkinkan karena sakit. Ketika kebanyakan orang seletingnya ‘’pensiun’’ dalam berbagai aktivitas kewartawanan, tidak demikian halnya dengan Bang Akmal. Ia terus menulis dan menulis,’’ papar Taufik Muntasir.</p>
<p>Dalam bidang politik, Akmal juga berperan penting dalam perjuangan menjadikan Kota Tanjungpinang sebagai kota otonom dan pembentukan Provinsi kepri. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Kepri hingga tahun 1972, salah seorang penandatangan fusi partai politik Murba, IPKI, PNI dan Perkindo yang menjadi Partai Demokrasi Indonesia. Bersama Rida K Liamsi, Imam Sudrajat, Arief Rasahan dan Zulkarnain Zainudin, Akmal aktif menggagas lahirnya Provinsi Kepulauan Riau yang membentuk Komite Pemekaran Kepulauan Riau yang kemudian menyelenggarakan Musyawarah Besar Rakyat Kepulauan Riau tanggal 15 Mei 1999.</p>
<p>Sejarah dan perjuangan pembentukan kota otonom Tanjungpinang, berdirinya Provinsi Kepri, hingga terpilihnya Suryatati A Manan sebagai wali kota pertama dan prestasinya, dirangkumnya dalam sebuah buku berjudul: Batu Tajam Menuju Kota Otonom Tanjungpinang, terbitan 1 Januari 2009. ‘’Akmal  adalah tokoh politik yang loyal pada partainya. Sejak zaman PNI, PDI hingga PDIP tidak pernah jadi kutu loncat meski dia kerap dikhianati,’’ kata Rida K Liamsi.</p>
<p>Kepergiannya, tidak hanya menyisakan duka di kalangan wartawan, juga bagi para politisi, dan pejabat teras di Kepri.  &#8221;Kita kehilangan tokoh wartawan senior yang ilmu dan pergaulannya luas sekali. Beliau merupakan contoh jurnalis yang konsisten dari muda hingga akhir hayatnya dan patut diteladani jurnalis lainnya. Dari partai kita juga sangat kehilangan,&#8221; kata Wakil Gubernur Kepri HM Soerya Resationo, di rumah duka, kemarin.</p>
<p>Walikota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan, mengenangnya sebagai jurnalis yang lugas dan tanpa basa basi. Almarhum juga diingatnya sebagai orang yang sangat peduli dengan kemajuan dan perkembangan daerahnya. Termasuk, memperjuangkan terbentuknya Kota Otonom Tanjungpinang serta Provinsi Kepri. &#8221;Kepergian beliau membuat kita kehilangan tokoh yang berani bicara apa adanya,&#8221; ucap Tatik.</p>
<p>Tidak hanya soal berita, Akmal juga paham soal mesin cetak. Sebab, mesin cetak jarak jauh diawali di Tanjungpinang tahun 1994. Mengirim mesin cetak ke Tanjungpinang juga bukan pekerjaan gampang. Saat itu, tidak ada fasilitas bongkar muat alat berat di pelabuhan. Padahal, mesin cetak itu beratnya antara 3-5 ton. Mesin-mesin itu lalu dibawa dengan truk, lalu naik kapal dan langsung menuju lokasi percetakan agar tak perlu dibongkar di pelabuhan.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya menurunkan dari truk mesin dengan berat belasan ton?  Karena tak ada forklif, mesin itu diturunkan dengan titian kayu yang landai, lalu ditarik satu demi satu! Mesin itu ditarik pakai mobil lain, atau diikatkan ke pohon dan truknya bergerak men-jauh.  Pemasangan mesin juga tak kalah sulitnya. Tidak ada crane,  katrol pun jadi. Mesin cetak itu dipasang satu demi satu dengan cara diderek pelan-pelan. Akhirnya, dengan kerja keras tak kenal lelah, mesin cetak itu berhasil diset-up. Akmal ikut membangun Riau Pos Grup di Kepri.</p>
<p>Di percetakan, Akmal juga dikenang anak buahnya sebagai pekerja keras, mendidik karyawannya hingga jadi orang dan memiliki kepedulian yang tinggi. ‘’Karena beliau saya bisa bekerja, mulai dari satpam, lalu mengurus perawatan mesin cetak. Kalau mesin rusak, Pak Akmal ikut turun tangan bersama karyawannya,’’ kata La Umpa, yang kini menjadi manajer maintenance percetakan Bintana, yang mencetak harian <em>Batam Pos, Posmetro Batam</em> dan <em>Tanjungpinang Pos</em> serta belasan koran mingguan di Kepri.</p>
<p>Meski usianya tak muda lagi, Bang Akmal orang yang energik dan bersemangat.Ia pekerja keras dan bangga dengan profesinya sebagai wartawan.Saya ingat betul, ketika ada peristiwa pembunuhan yang menggegerkan Tanjungpinang, Bang Akmal turun ke lapangan meliput.</p>
<p>Sampai tiga kali ia mengirimkan beritanya ke Batam karena ada informasi terbaru yang diperolehnya. Saya sampai mengultimatum karena dikejar deadline.Tapi, Bang Akmal tak balik marah kepada saya yang masih junior.Berita itu menjadi headline.</p>
<p>Pergaulannya yang luas sehingga tidak heran, banyak tokoh-tokoh Kepri yang melayat ke rumah duka. Mulai dari Wagub Kepri HM Soerya Respationo yang juga Ketua PDIP Kepri, dan Wali Kota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan. Ketua DPRD Kepri, HM Nur Syafriadi dan Ketua DPRD Tanjungpinang, Suparno ikut hadir.Juga tokoh masyarakat, anggota DPRD Kepri, DPRD Tanjungpinang dan wartawan di Kepri.</p>
<p>Ribut Suryadi  rekan Akmal menyebutkan almarhum adalah pejuang sejati. Bukan hanya pejuang untuk pers dan jurnalistik, tapi juga tonggak awal perjuangan Kepri bersama H Imam Sudrajat dan Arif Rasahan.  &#8221;Dia guru saya. Seorang yang idealis dan keras berprinsip. Walau keras tapi dia suka menolong teman yang susah dan tanpa pamrih. Kita semua sangat kehilangan,&#8221; kata rekan almarhum yang juga wartawan, Sofyan Tanjung sambil terisak di rumah duka. Imam Sudrajat juga mengenangnya sebagai seorang yang keras dalam berprinsip, gigih dan berjuang yang tanpa pamrih.</p>
<p>Bang Akmal juga saya kenal sebagai wartawan yang tidak menjaga jarak dengan wartawan yang jauh lebih muda atau sebaya anaknya. Kedai Kopi Sukaramai di jalan Merdeka Tanjungpinang, atau kedai kopi Ria di Jalan Bintan. Kedai kopi itu disebutnya sebagai ‘’kantor’’nya.</p>
<p>Akmal meninggalkan seorang istri, lima anak dan tujuh cucu. Dua di antara anaknya, mengikuti jejaknya sebagai wartawan. Kabar duka itu terasa menyentak. Bang Akmal berpulang, Kamis 13 Oktober 2011 dinihari. Yang tersisa adalah semangat dan kebanggaannya terhadap profesi wartawan, sampai akhir hayatnya. Selamat jalan Bang Akmal…***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (3)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 23:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayangkan, saya akan menjejakkan kaki di benua kangguru Australia dan negeri kiwi New Zealand. Sebab, kota terjauh di Indonesia Timur yang saya kunjungi hanya Makassar. Kesempatan pergi ke Papua saya tolak dan digantikan teman saya. Kali ini, saya mengalami jet lag setelah terbang hampir 10 jam.
Terbang dari Jakarta malam hari naik pesawat Qantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-341" title="news" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/06/news.jpg" alt="news" width="400" height="336" /></strong>Tak pernah terbayangkan, saya akan menjejakkan kaki di benua kangguru Australia dan negeri kiwi New Zealand. Sebab, kota terjauh di Indonesia Timur yang saya kunjungi hanya Makassar. Kesempatan pergi ke Papua saya tolak dan digantikan teman saya. Kali ini, saya mengalami jet lag setelah terbang hampir 10 jam.<span id="more-340"></span></p>
<p>Terbang dari Jakarta malam hari naik pesawat Qantas buat saya tak selalu nyaman. Sebab, entah mengapa, dalam setiap penerbangan saya tak bisa tidur dan lebih suka memandang keluar jendela pesawat. Jadilah saya main game, nonton dan bengong. Sampai akhirnya roda pesawat menyentuh landasan Sidney.</p>
<p>Namun, kami harus segera terbang lagi, menuju Auckland, New Zealand. Perbedaan waktu empat jam dengan Australia sehingga saat saya tiba sudah pukul 07.30 pagi. Dengan New Zealand beda waktu lagi dua jam dan kami sampai siang hari. Namun, rasa capek terbang terobati melihat dimana-mana rumput dan pepohonan menghijau.</p>
<p>Begitu mendarat di Auckland, bumi terasa bergoyang. Ternyata, beberapa jam sebelumnya Christchurch, kota di Selatan New Zealand dilanda gempa dahsyat. Ratusan orang tewas tertimbun. Saya dan rombongan menuju kota Turanga, menempuh jalan darat sepanjang 200 kilometer lebih.</p>
<p>Tengah malam, telepon bordering. Ternyata sanak saudara di Indonesia bertanya keadaan kami yang khawatir terkena gempa. Kami menduga, telepon tengah malam itu tidak mempertimbangkan kami sudah tidur pulas karena perbedaan waktu enam jam. Yang membuat saya terkesan, cara televisi setempat memberitakan bencana itu. Semua diarahkan pada proses evakuasi dan menjadi pusat informasi tentang gempa itu sendiri bagi keluarga korban di wilayah lain.</p>
<p>Jalan dan lingkungan sangat bersih. Sejauh mata memandang, semua rumput hijau seperti lapangan golf. Sesekali, tampak ribuan sapi merumput. New Zealand memang terkenal penghasil susu dan tentu saja buah kiwi itu. Yang menarik, sepanjang jalan, ada tulisan yang terasa lucu di lidah Indonesia. Ada daerah yang namanya mata-mata, kurukora dan sebagainya. Ternyata itu bahasa asli suku Maori di New Zealand.</p>
<p>Setelah menempuh perjalanan jauh, habis makan malam, saya langsung tergeletak tidur pulas. Paginya mengunjungi pabrik rekondisi mesin cetak koran DGM dan setelah itu balik lagi ke Auckland. Saya sempat menjajal casino di Hotel Sky Tower, yang tertinggi ke 13 di dunia. Lalu menikmati kota wisata Auckland. Karena capek, saya menemukan tempat pijit Thai Massage di sudut kota. Saat masuk, oalah, ternyata pemijitnya gadis asal Batam yang pernah tinggal di Malaysia. Ia memutar lagu pop yang mendayu-dayu Nafa Urbach, ketika tahu saya dari Indonesia. Sebelum jadi pemijat, ia bekerja di kebun kiwi yang membuatnya bosan karena gajinya kecil.</p>
<p>Malam menjelang terbang ke Sidney, entah mengapa saya tak bisa tidur. Saat menyingkap tirai jendela, tiang beton raksasa Sky Tower tepat di depan kamar saya. Saya jadi teringat gempa yang baru saja terjadi. Lalu, saya berjalan sendiri keluar, dan masuk ke kasino. Saya coba main, meski tak begitu mengerti di mesin yang sekali telan uang kertas 5 dolar NZ itu.</p>
<p>Sejam kemudian, saya mendapat free game. Saya lihat saja mesin itu bermain sendiri. Tiba-tiba, keluar tulisan disertai bunyi: <em>your winner maximum</em>, dan gambarnya maju mundur. Saya terkejut. Seorang pria Argentina yang berdiri dekat saya berkata,’’ <em>You’re lucky man, please your change the ticket</em>,’’ katanya. Ternyata, saya menang sebanyak 2.600 NZ Dollar atau setara Rp23 juta.</p>
<p>Kalau di luar negeri, kadang sedih jadi orang Indonesia. Nilai tukar rupiah rendah sekali. Malah, kadang tak ada penukaran  di money change, sementara negara lain ada. Bagi saya yang dari Batam, sudah biasa rupiah kalah perkasa dengan Dolar Singapura. Dan nilai tukar NZ Dollar sedikit di atas Singapura. Nah, ketika di Sidney, alamak satu dolar Ausie setara dengan Rp11.000 lebih. Jadilah saya hanya beli sebuah boneka kangguru dan sebuah boomerang buat anak saya.</p>
<p>Saat terbang kembali ke Jakarta, terasa lebih cepat karena mundur lagi ke waktu Indonesia Barat. Terbang jam 8 pagi dari Auckland, tiba di Jakarta jam 07.00 malam. Mata terasa berat. Body capek berat. Sampai di Batam, badan terasa limbung dan aneh. Jam 6 sore, mata mengantuk dan tengah malam sudah terbangun. Oalah! Saya terkena jet lag!</p>
<p>Satu hal yang sulit diatasi kalau ke luar negeri adalah soal makanan. Apalagi, lidah saya lidah Padang, salah satu pusat kuliner hebat di dunia, hehehe. Begitu pulang dari China, saya langsung makan lahap di rumah makan Ajo Pass di Yos Sudarso Batam. Meski perut menerima, lidah rasanya berontak kalau makan fast food, kebab Turki atau makanan aneh seperti nasi dicampur yogurt dan kari kambing.</p>
<p>Kota-kota yang saya kunjungi di Indonesia pun, saya paling suka Surabaya karena makanannya terasa pas di lidah saya yang suka pedas. Untunglah kalau ke kota-kota lain masih tetap ada rumah makan Padang! Seolah-olah orang Padang paham bangsanya suka merantau atau jalan-jalan seperti saya. Tapi di Semarang? Sudahlah capek mencari rumah makan Padang, begitu ketemu sambalnya terasa manis. Ternyata, mereknya saja rumah makan Padang, yang masak dan pemiliknya orang Jawa, hahaha…Thailand juga tak enak soal makanan. Saya pernah hampir muntah ketika makan Tom Yam yang terkenal itu lantaran serainya terlalu banyak.</p>
<p>Entah kenapa, saya kurang suka datang ke kota yang sama dua kali. Ketika teman-teman jalan-jalan ke Hongkong dan Macao, saya menolak ikut. Sebab, saya sudah pernah ke Hongkong dan Macao hanyalah kota ruko dengan kasino yang terkenal itu. Yang saya bayangkan, paling isinya ya mesin-mesin judi itu lagi, Saya sudah pernah menjajal kasino di Genting Highland, Malaysia , di Sentosa Island Singapura serta terakhir di Auckland New Zealand.</p>
<p>Kalau ke luar negeri rombongan, saya lebih suka jalan sendiri. Kalaupun nyasar, itu pengalaman yang membuat saya makin ingat jalan dan kawasan itu. Yang jelas, saya ingin sekarang pergi ke India, Afrika dan tentu saja Amerika. Sebab, saya sudah pernah mengunjungi pusat peradaban di China dan Timur Tengah. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

