<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 10:57:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sisi Lain Ismeth Abdullah (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 10:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[ 
Meski kenal baik cukup lama, hanya dua kali saya ikut meliput acara Ismeth Abdullah. Selain ke Singapura, saya ikut rombongan wartawan saat kunjungan ke tiga negara di Timur Tengah studi banding kawasan berikat. Berikut catatan sisi lain Ismeth Abdullah bagian terakhir.Akses ke dunia internasional Ismeth Abdullah cukup baik. Apalagi, penampilannya yang flamboyan sehingga ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-308" title="0000" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/07/0000.jpg" alt="0000" width="260" height="161" />Meski kenal baik cukup lama, hanya dua kali saya ikut meliput acara Ismeth Abdullah. Selain ke Singapura, saya ikut rombongan wartawan saat kunjungan ke tiga negara di Timur Tengah studi banding kawasan berikat. Berikut catatan sisi lain Ismeth Abdullah bagian terakhir.<span id="more-307"></span>Akses ke dunia internasional Ismeth Abdullah cukup baik. Apalagi, penampilannya yang flamboyan sehingga ia diterima dengan baik oleh duta besar di Lebanon, pemimpin kawasan berikat di Yordania. Meski sebagian stafnya berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, Ismeth memilih tetap fokus pada pekerjaannya.</p>
<p>Menurut orang-orang dekatnya, Ismeth memang pekerja keras. Sejak masih menjabat Ketua OB hingga menjadi Gubernur Kepri, Ismeth sering pulang larut malam. Akibatnya, stafnya terpaksa harus menunggu sampai ia pulang.</p>
<p>Sejak Ismeth menjabat sebagai Plt Gubernur dan ber-kantor di Sekupang, saya mulai jarang bertemu, kecuali sesekali ada acara seremonial dan saat melepas kontingen PWI Kepri mengikuti Porwanas di Pekanbaru.</p>
<p>Pada suatu hari, Ismeth Abdullah menelepon saya. ‘’Socrates, boleh saya berkunjung ke kantor Anda?’’ katanya. Saat itu, kami baru pindah ke Gedung Graha Pena, di Batam Centre. ‘’Oh, silakan, Pak,’’ jawab saya. Saya menduga, Ismeth datang gara-gara berita <em>head-line</em> Posmetro Batam hari itu. Judulnya, Otorita Batam Babat 16 Lokasi Hutan Lindung.</p>
<p>Ismeth datang ke lantai delapan. Ia berkeliling dan menyalami karyawan. ‘’Hebat, ya. Dulu pernah didemo, kantornya dilempari batu sekarang kantornya bagus,’’ komentar Ismeth, sambil melihat-lihat. Hebatnya, tak sedikitpun ia menyinggung soal berita hutan lindung itu. Padahal, saya yakin ia datang gara-gara berita itu.</p>
<p>Setelah menjadi Pelaksana Tugas Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah bersiap maju sebagai calon Gubernur Kepri. Ia seperti mengikuti napak tilas sejarah. Mertua-nya SM Amin adalah  Gubernur Riau yang pertama ber-kedudukan di Tanjungpinang.</p>
<p>Suatu sore, Ismeth mengundang saya bertemu. Saya datang ke kantor Otorita Batam di lantai delapan pukul 17.00 sore. Setelah berbasa-basi sejenak, Ismeth Ab-dullah meminta saya membantunya dalam proses pemi-lihan Gubernur Kepri. ‘’Dari lubuk hati yang paling da-lam, saya minta Anda membantu saya,’’ katanya.</p>
<p>Saya terkejut. Lalu saya sampaikan bahwa bukannya saya tidak mau, tapi saya Ketua PWI Kepri sehingga sulit bagi saya terlibat dalam politik praktis. Sebab, saya akan menjatuhkan martabat organisasi wartawan tertua itu. ‘’Saya doakan Bapak jadi gubernur, tapi saya tidak bisa menjadi tim sukses. Pertama, saya belum pernah jadi tim sukses, kedua saya ketua PWI yang harus inde-penden,’’ kata saya. Saya lihat, Ismeth mengangguk-angguk dan diam saja.</p>
<p>Saya tidak tahu, apakah Ismeth kecewa atau tidak. Sebab, sebagai orang yang jam terbangnya di berbagai organisasi sangat tinggi, mestinya ia paham alasan saya. Namun, entah mengapa, sejak itu hubungan saya dengannya agak renggang.</p>
<p>Apalagi, karena adanya berita tentang dugaan korupsi alat x-ray di pelabuhan Batuampar yang menyebut-nyebut nama Ismeth. Berita itu saya baca di situs berita Detik.com. Saya minta wartawan mengkonfirmasi hal itu langsung ke Ismeth Abdullah. Sampai sore, kami tak berhasil dihubungi.</p>
<p>‘’Bapak ke Jakarta, kalau mau bisa menghubungi ajudan beliau di Jakarta. Saat ini sedang di pesawat,’’ kata ajudannya Junaidi kepada saya dan memberi nomor ajudan di Jakarta. ‘’Wah, penerbangan Ba-tam-Jakarta 1 jam 20 menit. Jadi, selama itu pula kami harus menunda deadline, agar bisa mewawancarai Ismeth,’’ pikir saya.</p>
<p>Saya putuskan menunda deadline. Begitu ia mendarat di Jakarta, saya menelepon dan langsung mewawan-carainya soal berita di situs itu. ‘’Tidak benar itu, So-cates,’’ katanya membantah. Berita itu terbit malam itu juga, dan beredar jam 8.30 malam.</p>
<p>Sekitar pukul 10.00 malam, tiba-tiba Ismeth menelepon saya. Ia marah-marah. ‘’Kenapa Anda beritakan itu, kan saya sudah bilang jangan. Ternyata, benarlah kata orang-orang, Anda tidak suka dengan saya,’’ katanya, dengan nada tinggi.</p>
<p>Saya berusaha menjelaskan, saya kan sudah konfirmasi soal berita itu. Malah, saya berniat baik agar berita yang dirilis detik.com itu berimbang dengan adanya jawaban dari Ismeth. Saya diam saja, karena saya tahu Ismeth lagi emosi. Hanya sebentar, sambungan telepon putus.</p>
<p>Kira-kira pukul 23.30, saya ditelepon Ketua PWI Pusat Tarman Azzam. Ia bertanya, ada apa antara saya dengan Pak Ismeth. ‘’Pak Ismeth mengadu pada saya, dengan sedih sekali, ada apa? Tanya Tarman. Saya jelaskan kronologis berita itu, dan terbit setelah saya mewawan-carai Ismeth agar berita cover both side.</p>
<p>‘’Ya sudah, kalau begitu. Kenapa tak boleh diberitakan, sedangkan pre-siden saja kita beritakan,’’ kata Tarman. Saya menduga, Ismeth mene-rima bisikan keliru tentang saya dari orang-orang di sekelilingnya. Sejak itu, hubungan kami terputus. Tak pernah lagi ada hubungan telepon antara saya dengan Pak Ismeth.</p>
<p>Setelah saya menolak menjadi tim sukses, ternyata ada juga wartawan yang jadi tim suksesnya. Sebab, saya lihat rumahnya ditempeli stiker calon gubernur dan wakil gubernur Kepri banyak sekali. Saya memang tidak pernah jadi tim sukses bagi siapapun.</p>
<p>Akhirnya, seperti dugaan banyak orang, termasuk saya, Ismeth Abdullah dan HM Sani terpilih sebagai gubernur Kepri yang pertama. Ismeth seolah sedang menapak tilas sejarah keluarganya. Mertuanya, SM Amin adalah gubernur Riau pertama dan berkedudukan di Tanjung-pinang.</p>
<p>Tak lama setelah Ismeth dilantik, kebetulan PWI Cabang Kepri yang masih baru dan saya menjadi ketuanya yang pertama, dipercaya PWI Pusat untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Training of Trainers. Pesertanya para wartawan senior dari berbagai daerah, dari Aceh hingga Papua.</p>
<p>Sebagai Gubernur, Ismeth yang membuka acara itu. Dalam pidatonya, ia mengatakan,’’ Kita akan bangun gedung PWI,’’ disambut tepuk tangan hadirin. Saya menghela nafas panjang. Sampai saya berhenti menjadi ketua PWI kantor itu tak pernah dibangun. Malah, pada periode saat ini, kantor PWI kembali menyewa ruko di Tanjungpinang, sama seperti PWI Perwakilan Batam dulu.</p>
<p>Sejak itu, saya jarang sekali berkomunikasi dengan Ismeth Abdullah. Dulu, saya bisa meneleponnya langsung. Tapi kemudian, harus melalui ajudannya. Saya hanya mengamati, betapa setelah menjadi gubernur yang dipilih langsung, Ismeth tetap kerepotan menghadapi lawan-lawan politiknya.</p>
<p>Suatu hari, saya lupa tanggalnya, seorang agen koran di Tanjungpinang membisikkan kepada saya, bahwa tabloid yang baru terbit dan dikirim kepadanya, habis diborong orang. Ia menyebutkan, isi tabloid yang belakangan saya tahu bernama Investigasi itu, menulis tentang sepak terjang Ismeth Abdullah dan dugaan korupsinya saat ia masih Ketua Otorita Batam.</p>
<p>Tabloid itu segera menyita perhatian orang. Ismeth pun kalang kabut. Ia menggugat tabloid itu ke pengadilan dan memakai pengacara terkenal Adnan Buyung Nasution. Namun, belakangan gugatan Ismeth ditolak. Namun, masalah tidak pernah selesai. Ismeth belakangan diperiksa sebagai saksi dalam kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran saat ia menjabat Ketua Otorita Batam.</p>
<p>Pada penghujung 2009, saya sempat dua kali bertemu Ismeth Abdullah di Gedung Graha Kepri Batam Centre. Kami hanya ngobrol ringan. Saya juga menjelaskan posisi saya, bahwa selama ini saya tidak pernah menjadi tim sukses siapa-siapa. Tampaknya, Ismeth paham apa yang saya sampaikan. Saya berharap, ia keliru menilai saya telah menjadi tim sukses atau berpolitik praktis.</p>
<p>Kami ngobrol sekitar 15 menit. Kepada saya, Ismeth mengaku capek. Tapi ia tidak menjelaskan kenapa. Saat saya katakan bahwa belaka-ngan saya kesulitan meneleponnya, dia menyarankan agar saya mengi-rim pesan melalui SMS saja. Kali kedua, saya bertemu mengantarkan seorang teman yang ingin bicara padanya. Sejak itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Ismeth Abdullah.</p>
<p>Ismeth Abdullah memang sudah beberapa kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta seperti diberitakan media. Saat saya ada urusan ke Tanjungpinang, saya terkejut membaca running text di sebuah televisi swasta. Bunyinya: Gubernur Riau Ismeth A jadi tersangka kasus Damkar. Saya terkejut. Saya pikir, berita ini keliru. Mungkin yang dimaksud Ismeth gubernur Kepri. Saya lalu menelepon Kepala Biro Humas Pemprov yang juga mengatakan terkejut dengan running text itu.</p>
<p>Menurut wartawan Batam Pos di Jakarta, berita itu benar. Artinya, yang keliru menulis adalah televisi swasta itu. Ismeth memang sudah ditetapkan menjadi tersangka, berdasarkan wawancara dengan pejabat KPK dan dengar pendapat Komisi III DPR dengan KPK.</p>
<p>Untuk memastikan kebenaran berita itu, saya menelepon Ismeth Ab-dullah melalui ajudannya. ‘’Saya juga tidak tahu kebenarannya, saya ba-ru saja sampai di Jakarta,’’ kata Ismeth kepada saya. ‘’Tolong kabari saya apa yang terjadi, Pak,’’ kata saya. Berita itu makin santer. Bebe-rapa orang menelepon saya mengecek kebenarannya.</p>
<p>Satu jam kemudian, saya kembali menelepon Ismeth. Jawabannya ma-sih sama. ‘’Saya tidak tahu. Kabarnya masih simpang siur. Kepada masyarakat Kepri, saya berpesan agar tidak resah,’’ katanya di ujung telepon. Tak lama kemudian, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD juga menyebut Ismeth sebagai tersangka saat wawancara dengan sebuah stasiun televisi.</p>
<p>Berita itu kemudian menjadi headline Batam Pos. Koran-koran lain, juga memuat berita yang sama, tapi tidak menjadi berita utama. Malam itu juga, puluhan LSM datang ke redaksi Batam Pos mempertanyakan berita itu dan dijelaskan kenapa berita itu menjadi headline.</p>
<p>Saya merasa, berita itu dipolitisir oleh orang-orang tertentu, seolah-olah ada maksud tertentu. Padahal, berita itu murni fakta yang diperoleh di lapangan. Apalagi, secara jurnalistik sudah menempuh prosedur yang benar dengan mengonfirmasi kepada Ismeth Abdullah sebagai sumber berita.</p>
<p>Saya tak mau terjebak arus politik. Meski secara pribadi hubungan saya dengan Ismeth baik, saya tetap seorang wartawan yang independen. Apalagi, Ismeth Abdullah hanya salah satu dari tersangka kasus Damkar. Akhirnya, Ismeth Abdullah benar-benar ditahan di penjara Cipinang. Yang jadi pertanyaan banyak orang, apakah Batam Pos mendahului keterangan resmi KPK karena berita itu sempat dibantah oleh juru bicara KPK Johan Budi? Benarkah Batam Pos ‘menzalimi’ Ismeth Abdullah seperti dugaan orang-orang dekatnya? Jawabannya saya temukan dari orang dekat Ismeth sendiri.</p>
<p>‘’Sebenarnya, Pak Ismeth sudah menerima surat penetapannya sebagai tersangka, tapi beliau bilang, gimana sih, nanti berubah lagi. Dan, beliau juga sudah dicekal pada saat mau berangkat ke Johor di Imigrasi Batam Centre,’’ kata orang dekatnya itu, suatu malam di Tanjungpinang. Saya lega, bukan berarti senang Ismeth masuk penjara. Tapi bahwa Batam Pos secara jurnalistik sudah benar dan adil.</p>
<p>Saat istrinya maju dalam Pilkada Gubernur Kepri berpasangan dengan Eddy Wijaya yang sebelumnya Sekda Provinsi Kepri, Ismeth menyempatkan datang ke Tanjungpinang setelah mendapat izin dari hakim pengadilan Tipikor. Sayang, Aida Zulaikha Nasution yang juga putri Gubernur Riau pertama itu, kalah dari pesaingnya.</p>
<p>Beberapa wartawan pernah mengunjungi Ismeth di penjara Cipinang, namun saya tidak ikut. Saya prihatin melihat foto-foto Ismeth dalam persidangan. Wajahnya semakin tirus dan kelihatan tua. Saya hanya bisa berharap, Ismeth Abdullah tetap tegar menghadapi segala cobaan ini. Sebagai sahabat, saya berharap Ismeth tetap optimis seperti sikapnya selama ini. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisi Lain Ismeth Abdullah (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 06:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[ 
Menyaksikan Ismeth Abdullah duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ada perasaan miris dan prihatin. Mestinya, lelaki bertubuh jangkung dan berhidung mancung berusia 63 tahun 7 bulan itu, bersiap menikmati hari tuanya. Atau bersiap maju lagi dalam Pemilu Kepala Daerah Kepri yang akan digelar 26 Mei 2010. Pria kelahiran Cirebon, 29 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="2- ismeth" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/05/2-ismeth1.jpg" alt="2- ismeth" width="260" height="347" />Menyaksikan Ismeth Abdullah duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ada perasaan miris dan prihatin. Mestinya, lelaki bertubuh jangkung dan berhidung mancung berusia 63 tahun 7 bulan itu, bersiap menikmati hari tuanya. Atau bersiap maju lagi dalam Pemilu Kepala Daerah Kepri yang akan digelar 26 Mei 2010. Pria kelahiran Cirebon, 29 September 1946 itu malah terancam hukuman penjara seumur hidup. Inilah sisi lain Ismeth Abdullah.<span id="more-301"></span></p>
<p>Saya mengenal Ismeth Abdullah 12 tahun lalu, Juli 1998 saat ia usai dilantik menjadi Ketua Otorita Batam, mengganti-kan Junus Effendi Habibie, yang mundur setelah abangnya BJ Habibie dilantik jadi Presiden Republik Indonesia.</p>
<p>Kalau tidak salah, saya wartawan yang pertama di Batam me-wawancarai panjang Ismeth Abdullah dan dimuat di rubrik Cakap edisi Minggu. Sejak itu, saya dekat dengannya, dan se-ring bertemu sekedar diskusi, wawancara dan ngobrol. Biasa-nya, sebelum bertemu, saya menghubungi sekertarisnya Rudy Alfonso.</p>
<p>Sering saya bertemu Ismeth sore-sore sehabis jam kantor  atau selepas magrib. Sejak dulu, Ismeth memang pekerja keras dan sering pulang larut malam. Awalnya, pertemuan kami lebih ba-nyak basa-basi. Kalau wawancara, Ismeth menjaga betul kata-kata dan ucapannya. Meski dilontarkan pertanyaan tajam, Is-meth Abdullah tetap tenang, kalem dan mengontrol emosinya dengan sangat baik.</p>
<p>Saya mengamati, pada saat Ismeth Abdullah baru menjabat Ketua Otorita Batam, ia diserang kiri kanan, baik oleh pejabat, LSM, politisi dan kalangan akademisi. Apalagi, saat itu perlawanan terhadap apa saja yang berbau pusat, ditentang. Yang paling sering disorot adalah soal keberadaan Otorita Ba-tam yang dinilai sebagai negara dalam negara.</p>
<p>Pernyataan-pernyataan politik yang mengemuka saat itu : Audit Otorita Batam, bubarkan Otorita Batam dan soal masalah so-sial seperti perjudian, prostitusi, rumah liar dan sebagainya. Namun, Ismeth Abdullah yang kenyang pengalaman sebagai aktivis kampus, pernah bekerja di Bank Danamon, Asia Deve-lopment Bank dan 9 tahun di Badan Pegembangan Ekspor me-lontarkan gagasan social development.</p>
<p>Kepiawaiannya menjalin hubungan dan relasi sosial dengan berbagai pihak, sangat membantu eksistensi Otorita Batam. Jika sebelumnya Ketua OB sangat powerfull karena di bawah presiden dan hubungannya dengan Jakarta seperti jalan tol, Is-meth memilih menjalin hubungan baik dengan Gubernur dan tokoh-tokoh politik Riau. Ia juga membangun komunikasi dengan kalangan universitas dan siapa saja.</p>
<p>Malah, tidak jarang Ismeth menerima karyawan yang punya hu-bungan dengan lawan-lawan politiknya. Intinya, ia ingin meru-bah imej Otorita Batam yang arogan, kaku, berbau pusat dan <em>untouchable.</em></p>
<p>Lama-lama, Ismeth makin terbuka kepada saya. Ia kadang menceritakan masalah-masalah yang dihadapinya, dengan ca-tatan off the record. Ia termasuk yang sensitif terhadap berba-gai pemberitaan miring terhadap dirinya. Sejak awal, Ismeth termasuk dekat dengan wartawan dari berbagai media. Ia men-dukung Batam Journalist Club yang mengundang Sri Mulyani dan Menperindag Rahardi Ramelan dalam suatu diskusi.</p>
<p>Ismeth menawarkan LPEM-UI pimpinan Sri Mulyani untuk me-ngadakan penelitian berjudul Potensi Sosial Ekonomi Barelang sampai 2005. Kabarnya, gara-gara biaya penelitian tersebut Rp750 juta baru dibayar separuh, lembaga penelitian itu merilis berita potensial loss Batam karena tidak membayar Ppn sebesar Rp4 Triliun.</p>
<p>Saya mendapat informasi ini dari Rudy Alfonso. Pernah saya menelepon ke lembaga itu. Saat saya sebutkan dari Batam, pe-nerima telepon menyambungkan saya dengan bagian keu-angan. Mungkin dikiranya saya akan menyelesaikan masalah tersebut.</p>
<p>Sejak itu, rencana penerapan Ppn ditentang habis. Demo ter-jadi dimana-mana. Dari pengusaha hingga tukang ojek, meno-lak Ppn. Yang saya amati, bermacam motif bermunculan terkait demo penolakan Ppn tersebut. Mulai dari yang memang kha-watir berpengaruh terhadap ekonomi Batam hingga yang aji-mumpung dan memanfaatkan kesempatan tersebut mengem-bangkan bisnisnya sendiri.</p>
<p>Suatu ketika, karena resah dengan pemberitaan miring di be-berapa media, saya pernah mengusulkan, agar Ismeth me-ngundang para pimpinan media di Batam seperti Editor Club atau Forum Pimred.</p>
<p>Ia bisa memberi masukan atau menerima saran dari para pim-red. Namun yang terjadi, Ismeth malah mengundang banyak wartawan lalu memberikan kado berupa kamera, jam tangan dan handphone. Kegiatan itu akhirnya hanya menjadi seremo-nial dan tidak mencapai sasarannya.</p>
<p><strong>Social Development</strong></p>
<p>Konsep pembangunan sosial (social development) yang dilon-tarkan Ismeth Abdullah, mendapat sambutan baik. Sebab, ia menilai, selama ini pembangunan sosial kemasyarakatan di Batam terabaikan. Namun, konsep ini dalam prakteknya, ber-biaya tinggi. Sebab, mestinya konsep ini sudah diterapkan se-jak awal membangun Batam.</p>
<p>Masalah-masalah sosial, dalam era kepemimpinan Ismeth se-bagai Ketua Otorita Batam, memang menonjol. Lambat laun, Ismeth yang ternyata menggunakan pendekatan yang sangat berbeda dengan ketua OB sebelumnya, bisa diterima di tengah masyarakat, baik para pengusaha maupun politisi.</p>
<p>Gayanya yang low profile, postur tubuh di atas rata-rata serta hidung yang mancung, menjadi ciri khas Ismeth Abdullah. Na-da bicaranya pelan dan datar. Ia makin sering terlibat dalam berbagai kegiatan di Batam.</p>
<p>Meski Otorita Batam tak pernah sepi dari aksi demo, baik dari para buruh, warga rumah liar yang tergusur, posisi Ismeth makin kokoh. Dari pengalaman beberapa kali wawancara de-ngannya, Ismeth sangat piawai menghadapi wartawan. Meski dicecar dengan pertanyaan keras, jawaban dan emosinya tetap terkontrol.</p>
<p>Bagaimana penilaian orang lain terhadap Ismeth Abdullah? Pada sebuah seminar tentang investasi di Singapura, saya ber-tanya pada Presiden Indonesia Marketing Association Herma-wan Kertajaya, bagaimana penilaiannya tentang Ismeth. Jawa-bannya mengejutkan saya: Ini orang terlalu baik, katanya.</p>
<p>Secara pribadi, saya pernah mengatakan begini. ‘’Pak Ismeth, di mata masyarakat Batam, Anda dinilai orang yang baik. Tapi menurut saya, Bapak orangnya tidak tegas.’’ Apa jawaban Is-meth? ‘’Gaya setiap orang kan berbeda-beda,’’ katanya, santai.</p>
<p>Saat terpilih menjadi ketua PWI Perwakilan Batam, Ismeth memberikan dukungannya.Otorita Batam membantu biaya se-wa kantor berupa ruko tiga lantai di Jodoh. Lantai satu buat kantor, dan dua lantai lainnya menjadi kos-kosan wartawan. Ismeth datang saat peresmian kantor tersebut.</p>
<p>Karena saya mengenal Ismeth sejak lajang, setelah saya meni-kah dan punya anak, Ismeth Abdullah sering menanyakan ka-bar anak saya Axel Ariel Muhammad. Sungguh, tidak banyak pejabat yang saya kenal dengan gaya pendekatan dan human relation seperti Ismeth Abdullah. (<em>bersambung)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet : Pisau Bermata Dua</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/internet-pisau-bermata-dua/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/internet-pisau-bermata-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 13:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Interconnected Network (internet) adalah sebuah sistem komunikasi global yang meng-hubungkan komputer  dan jaringan jaringan komputer di seluruh dunia, yang berisi ber-bagai informasi, baik statis, dinamis dan interaktif.
Riset Militer
Kemunculan internet diawali riset  Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Ad-vanced Research Projects Agency(DARPA)  tahun 1962 bagaimana agar computer ter-hubung satu sama lain. Riset ini dikenal dengan nama Arpanet.  Delapan tahun kemu-dian, lebih 10 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Interconnected Network (internet) adalah sebuah sistem komunikasi global yang meng-hubungkan komputer  dan jaringan jaringan komputer di seluruh dunia, yang berisi ber-bagai informasi, baik statis, dinamis dan interaktif.<span id="more-298"></span><img class="alignnone size-full wp-image-299" title="Axel (10) dan Sonya (5) menjelajah dunia maya" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/02/Picture1.jpg" alt="Axel (10) dan Sonya (5) menjelajah dunia maya" width="502" height="377" /></p>
<p><strong>Riset Militer</strong></p>
<p>Kemunculan internet diawali riset  Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Ad-vanced Research Projects Agency(DARPA)  tahun 1962 bagaimana agar computer ter-hubung satu sama lain. Riset ini dikenal dengan nama Arpanet.  Delapan tahun kemu-dian, lebih 10 komputer terhubung dan berkomunikasi membentuk jaringan (network).  Tahun 1972 dikembangkan program e-mail dan icon @ dan setahun kemudian, Arpanet dikembangkan ke luar Amerika Serikat.</p>
<p><strong>Email Pertama</strong></p>
<p>Sejak itu, gagasan pengembangan internet terus bergulir.  Tahun 1976 Ratu Inggris berhasil mengirim email.  Lebih 100 komputer menjadi network dan diciptakan news-group pertama.  Jaringan computer makin banyak, muncul Internet Protocol tahun 1982 dan system alamat  computer dikenal dengan nama DNS atau domain name system.  Sejak itu, jaringan computer melonjak berpuluh kali lipat sejak adanya internet relay chat.</p>
<p><strong>Worl Wide Web</strong></p>
<p>Sejak 1990 ditemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antar com-puter yang disebut World Wide Web (www) dan istilah surfing antara jutaan computer.  Muncul situs internet, virtual shopping. Yahoo didirikan dan lahirlah netscape navigator. Dunia langsung berubah!</p>
<p><strong>Paguyuban Network</strong></p>
<p>Di Indonesia, jaringan internet diawali tahun 1990-an dengan komunikasi beberapa ahli IT dan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang dikenal dengan paguyuban network. Perkembangan internet dunia dibahas melalui mailing list. Lambat laun, komunitas internet terbentuk.</p>
<p><strong>Pesatnya Internet</strong></p>
<p>Layanan internet komersial dimulai pada tahun 1994 dengan beroperasinya IndoNet. Bisnis internet marak dengan kehadiran puluhan Internet Service Provider. Lalu, ber-kembang e-commerce dan warung internet atau yang kita kenal warnet. Kini, internet seperti mewabah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia yang menempati rangking keli-ma di Asia. Pengguna internet di Indonesia terus meningkat  dengan pesat  dan men-capai 30 juta penguna. Pengguna internet di dunia tahun lalu mencapai 1,7 miliar lebih atau 25,6 persen dari total populasi penduduk dunia. Di Indonesia jumlah pengguna internet diperkirakan mencapai 30 juta orang, naik sebesar 1.150 persen dibandingkan tahun 2000.  Namun, penetrasi in-ternet di Indonesia hanya 12,5 persen.  Di Malaysia angka penetrasi 65,7 persen, Singapura 72,4 persen, dan Thailand r 24,4 persen</p>
<p><strong>Kecanduan Internet?</strong></p>
<p>Di China sekitar 10% dari remaja yang disurvei  kecanduan internet. Yang mengejut-kan, remaja yang kecanduan online ini 2,4 kali suka menyakiti diri sendiri, memiliki gejala psikiatrik dan depresi,  gugup dan hilang mood saat tidak online. (<em>Reuter, 2009</em>)</p>
<p><strong>Jejaring Sosial</strong></p>
<p>Hasil survey LP3ES dan SPS di 15 kota besar di Indonesia, termasuk Batam, situs in-ternet yang paling sering di akses adalah jejaring sosial. Apa saja jejaring sosial itu? Ternyata, warung internet adalah tempat paling banyak yang digunakan untuk meng-akses internet sebanyak 67,1 persen, dirumah 19,3 persen, di kantor 7,9 persen dan di kafe 1,6 persen.</p>
<p>Internet ibarat dua sisi mata uang dan pisau bermata dua. Internet banyak manfaatnya. Konvergensi teknologi informasi dan ko-munikasi ini menjadikan dunia semakin global. Pengem-bangan ilmu pengetahuan, bisnis online, kecepatan informasi,  mengakes data melalui mesin pencari (<em>search engine</em>) dsb</p>
<p>Makin murahnya tarif internet dari berbagai operator, Rp0,5 hingga Rp5 per kilobyte, kecanggihan teknologi sehingga pelajar SD, SMP dan SMU kini sudah biasa memakai handphone dan punya email dan account di situs jejaring sosial.</p>
<p><strong>Fenomena Facebook</strong></p>
<p>Di Indonesia, pengguna Facebook lebih dari 17 juta dan Twitter lebih 2,4 juta orang. Facebook diluncurkan 4 Februari 2004 oleh Mark Zucker-berg, mahasiswa Harvard merupakan situs jejaring pertemanan. Twitter adalah layanan micro blogging yang bisa mengirim pembaruan status dan tulisan diluncurkan Maret 2006. Myspace situs jejaring antar teman, profil pri-badi, blog, grup, foto, musik dan video. Linkedin jejaring sosial berorientasi bisnis..</p>
<p>Dalam tempo 6 tahun, pengguna Facebook menembus 400 juta. Di Indonesia sendiri, Facebooker tumbuh begitu cepat. Bahkan, hingga saat ini faceboker Indonesia me-nempati urutan pertumbuhan tercepat kedua di dunia Indonesia hanya kalah dari AS. Survei Inside Facebook yang dilakukan e-marketer, jumlah pengguna Facebook di Indonesia naik 1.431.160 juta pengguna dalam sebulan terakhir.</p>
<p>Blog kini 30 kali lebih banyak dari tiga tahun lalu. Setiap hari tercipta 70.000 blog baru di seluruh dunia.  Diperkirakan, kini alebih 100 juta blog di seluruh dunia.  Awalnya,  weblog atau blog lebih sebagai catatan harian elektronik. Namun, kini berkembang menjadi online berita, citizen journalist  yakni warga biasa yang menjadi wartawan. Koran elektronik Ohmy News di Korea Selatan dibaca 700.000 pengunjung setiap hari dan mengguncang negeri Gingseng itu.</p>
<p><strong>Kasus di Internet, Salah Siapa?</strong></p>
<p>Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) , Seto Mulyadi mengatakan pihaknya menerima setidak-tidaknya 100 laporan pengaduan tentang dampak dari penggunaan situs jejaring sosial, Facebook. Anak-anak terutama remaja,  selalu mencari tempat untuk memperoleh perhatian. Kalau dulu mereka memakai surat menyurat atau radio, saat ini ada media lain yang lebih canggih yaitu Facebook ataupun Twitter. Situs jejaring sosial ini dijadikan sebagai tempat curhat, karena merasa kurang diperhatikan di sekolah dan di rumah.</p>
<p>Inilah beberapa kasus yang sempat mencuat ke permukaan:</p>
<ol>
<li>Farah      (18) ABG kelahiran      Dumai, Riau divonis 2,5 bulan dengan masa perco-baan 5 bulan oleh Pengadilan Negeri Bogor  karena menghina orang lain melalui      Facebook. Terdakwa dijerat pasar 310 dan 331 KUHP      tentang perbuatan pence-maran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.</li>
<li>Anthony Stancl      (18) menipu teman-temannya dengan mengaku sebagai seorang wanita dan      meminta mengirimkan foto telanjangnya. Remaja asal AS itu ditahan dan      membayar uang jaminan 25 ribu USD. Ia terlibat kasus pelecehan seksual dan      pornografi. Ia dikeluarkan dari sekolahnya.</li>
<li>Seorang pria      Inggris membunuh istrinya karena mengubah status di profilnya menjadi single.      Edward Richarson, akhirnya divonis penjara seumur hidup.</li>
<li>Kasus email      Prita Mulyasari yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit Omni Internasional,      bergulir ke pengadilan dan ia didenda Rp204 juta yang menimbul-kan simpati publik dengan cara mengumpulkan koin.      Kasus ini menjadi masalah nasional.</li>
<li>Febriari      Irianto (18) dituduh melarikan Marrieta Nova Triani (14) dan mencabuli      gadis di bawah umur. Ari terancam pidana bui 9 tahun. Mereka berdua mulai      ber-kenalan melalui situs jejaring sosial Facebook.      Bahkan, Ari dalam informasi profil Facebook menulis telah menikah dengan      Nova.</li>
<li>Gara-gara      Facebook,. Achmad Idris (16), siswa kelas 1 SMA di Gresik gant-ung diri di kandang kambing milik keluarganya.      Menurut polisi, korban diduga kecewa berat karena dibelikan telepon      genggam (HP) tidak sesuai dengan harapannya. Sebelum gantung diri, korban      minta dibelikan HP kepada ibunya.  Namun, HP merek Nokia seharga      Rp800 ribu itu ditolak karena tidak memiliki fitur jejaring sosial <em>facebook</em>.      Dia meminta HP itu dikembali-kan, namun ibunya menolak. Ia nekad bunuh      diri.</li>
<li>Virona Berta      (50), warga Bandar Lampung, melaporkan Muhammad Iqbal (27), warga Way      Halim Bandar Lampung ke polisi karena menulis kata-kata kasar pada      facebook. Pesan itu berisi kata-kata penghinaan sekaligus menyudutkan      dirinya. sebanyak tiga kali melalui Facebook.</li>
<li>Empat orang      siswa SMU Negeri 4 Tanjungpinang dikeluarkan dari sekolah ka-rena mengancam dan menghina gurunya di facebook.      Keempat siswa itu menulis: sebaiknya guru itu dibuang kelaut aja,      dimutilasi saja. Mereka juga menghina gurunya sebagai perawan tua.</li>
<li>Sylvia      Russiana, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang,      yang dikabarkan hilang dibawa kabur oleh kenalannya di facebook,      dikabarkan telah ditemukan di daerah Jambi, Jumat (12/2) 2010</li>
</ol>
<p>.</p>
<ol>
<li> Seorang siswi SMK di Jakarta Timur,      menghilang sejak Selasa 16 Februari 2010. Aecha Nazara (15), warga Jalan      Matraman Dalam, Jakarta Pusat, ini diduga menjadi korban temannya di      jejaring sosial Facebook. Menurut Bernadus, ayah korban, putrinya tersebut      beberapa hari belakangan aktif mengakses Facebook melalui handphone.  ABG ini akhirnya pulang ke rumah setelah      menghilang tiga hari.</li>
<li>Foto perselingkuhan Bupati Pekalongan      dan wakil bupatinya disebar secara sengaja di Facebook. Entah siapa yang      menyebar, foto tersebut cukup menarik perhatian pengguna Facebook. Akun yang menampilkan foto profil Bupati Pekalongan      Qomariyah dan Wakil Bupati Pekalongan Ponco Nugroho sedang berpelukan      dalam kondisi bertelanjang dada ini dilengkapi dengan tulisan      &#8220;Kemesraan modal awal membangun komitmen bersama untuk menjadi Bupati      dan Wakil&#8230; Berikut hobi menyalurkan birahi di hari Valentine&#8221;.</li>
</ol>
<p><strong>Lalu, Apa yang harus Dilakukan? </strong></p>
<p>Internet memang bagaikan dua sisi mata uang dan pisau bermata dua. Ada sisi positif dan negatif. Kasus-kasus yang terjadi seperti, penghinaan, perselingkuhan, pencemaran nama baik, penipuan, pelecehan seksual, pornografi hingga penculikan dan bunuh diri.</p>
<p>Kasus-kasus ini, membuka mata kita agar menimalisir dampak negatif internet terhadap kehidupan kita, terutama anak-anak dan remaja. Inilah beberapa saran :</p>
<ol>
<li>Harus disadari      bahwa internet memiliki dualisme, sisi baik dan buruk, negatif dan      positif.</li>
<li>Apa yang Anda      tulis di internet dan jejaring sosial, akan menjadi ‘’milik publik’’      karena terekspos ke ranah publik.</li>
</ol>
<ol>
<li>Waspadai      narsisisme, yakni kepribadian jatuh cinta       dengan dirinya. Gejala nar-sis, selalu berusaha menarik perhatian orang lain,      menganggap dirinya terbaik, serta selalu terobsesi dengan fantasi mengenai      kesuksesan dan ketenaran.</li>
<li>Jangan      salahkan teknologi yang terus berkembang, penyedia jasa internet dan      warnet. Kalau anak, remaja dan pelajar menyukai internet, sebagai orang      tua dan guru, kita tidak boleh gaptek dan memahami kemajuan teknologi agar      bisa memberikan pengarahan, mana yang baik dan mana yang buruk.</li>
<li> Menulis informasi data-data,      gambar-gambar pribadi secara berlebihan, akan      mengundang kejahatan. Misalnya, jika Anda tiap hari menulis status dengan      lugu dan polos, misalnya hari ini dimana dan kapan dan sedang ngapain,      Anda sebenarnya mengundang suatu kejahatan pada diri Anda sendiri.</li>
<li>Jika Anda      tidak gaptek, dampingi putra-putri Anda mengakses internet, baik di      ponsel, personal computer maupun di warnet. Anak Anda yang menghabiskan      waktu berlama-lama di warnet patut diwaspadai.</li>
<li>Kalau Anda sering login facebook dari      warnet maka jangan lupa logout facebook anda jika telah selesai. Ini juga      berlaku untuk login facebook dari komputer lainnya. Sebab, ini akan memudahkan orang lain yang      iseng masuk ke acoount dan menulis hal-hal negatif di wall facebook Anda.</li>
<li>Orangtua dan      guru perlu belajar tentang internet dan facebook. Artinya, ikut      berpartisipasi dalam kemajuan teknologi yang digandrungi anak dan remaja.      Tidak perlu malu belajar. Tidak juga harus menjadi ahli komputer.      Setidaknya, orang tua dan guru tahu hal-hal negatif, seperti memasang      foto orang lain pada statusnya, memalsukan data pribadi untuk memikat      pembaca, menjual produk      berbahaya, pornografi dan sebagainya.</li>
<li>Orang tua dan      perlu memberi perhatian dan membentengi anak dari dampak negatif internet.      Memberi pengarahan, pendidikan      dan berdialog dengan mereka saat mengakses      teknologi informasi .</li>
<li>Internet tidak      hanya berdampak negatif, tapi juga bermanfaat. Antara lain, ter-sedia      informasi untuk kehidupan pribadi :kesehatan, rekreasi, hobby,      pengem-bangan pribadi, rohani, sosial. Informasi untuk kehidupan      profesional/pekerja :sains, teknologi, perdagangan, saham, komoditas,      berita bisnis, asosiasi pro-fesi, asosiasi bisnis, berbagai forum      komunikasi. Selain informasinya cepat, internet tidak mengenal batas      negara, ras dan ideologi yang tidak terikat ruang dan waktu. Mengakses      internet harus bersiap menjadi anggota komunitas dunia.</li>
<li>Sebaiknya orangtua dan guru yang mengenalkan internet      pada anak, bukan orang lain.      Artinya, orangtua dan guru harus lebih dulu melek internet dan tidak      gaptek. Jika anak terlalu canggih, sementara orangtua dan guru tidak tahu      soal internet dan games, mereka akan memenuhi rasa ingin tahu dan akhirnya      terjebak pada informasi dan gambar yang menyesatkan.</li>
<li>Jika anak      sudah kecanduan internet, gunakan software yang dirancang      khusus untuk memproteksi.      Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi      anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan .  ****</li>
</ol>
<p>Socrates: Deputy Chief Operating Officer Riau Pos Grup Divre Batam</p>
<p>Wakil Direktur Utama Batam Pos</p>
<p>(Disampaikan pada Diklat Informasi &amp; Teknologi Guru SMPN 28 Batam, 20 Februari 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/internet-pisau-bermata-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Sahabat Pers</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/menjadi-sahabat-pers/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/menjadi-sahabat-pers/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 06:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana berhubungan dengan media? Apa yang harus dilakukan ketika Anda berseberangan dengan media? Bagaimana menembus media melalui siaran pers? Bagaimana caranya menggunakan hak jawab? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap menjadi pekerjaan rumah bagi perorangan, humas dan organisasi sosial. Inilah pointers yang disampaikan pada work shop Media Relation yang ditaja Batam Pos Entrepreneur School, 30 Januari 2010 di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-296" title="kartun-1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/02/kartun-1-300x150.jpg" alt="kartun-1" width="300" height="150" />Bagaimana berhubungan dengan media? Apa yang harus dilakukan ketika Anda berseberangan dengan media? Bagaimana menembus media melalui siaran pers? Bagaimana caranya menggunakan hak jawab? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap menjadi pekerjaan rumah bagi perorangan, humas dan organisasi sosial. Inilah pointers yang disampaikan pada work shop Media Relation yang ditaja Batam Pos Entrepreneur School, 30 Januari 2010 di Hotel Novotel Batam. <span id="more-295"></span></p>
<p>Landasan Penyelenggaraan Pers<br />
Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa.<br />
Mewujudkan kemerdekaan pers, Wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.</p>
<p>Hak  dan Kewajiban Pers<br />
1. Mentaati UU Pers No 40/1999<br />
Hak (pasal 4)<br />
a. Kemerdekaan pers adalah hak asasi warga negara.<br />
b. Terhadap pers tidak dikenakan penyensoran, pembreidelan dan pelarangan  penyiaran.<br />
c. Hak mencari, memperoleh, menyebarluaskan gagasan dan   informasi.<br />
d. Mempunyai hak tolak.<br />
Kewajiban (pasal 5)<br />
Menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan  masyarakat  serta asas praduga tak bersalah.<br />
b. Pers wajib melayani hak jawab<br />
c. Pers wajib melayani hak koreksi.<br />
Pers menghormati hak asasi setiap orang.<br />
Pers  harus profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.<br />
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik.</p>
<p>Era Orde Baru<br />
Pemerintah mengontrol dan mengendalikan pers, Menerap-kan UU Pokok Pers No 11/1966 dan bisa men-cabut SIUPP dan Dewan Pers tidak inde-penden.</p>
<p>Era Reformasi<br />
Pers mengontrol peme-rintah dan pemerintah ti-dak berwenang mengin-tervensi pers. Penerbitan pers tidak memerlukan izin, dan Dewan Pers in-dependen. Kemerdekaan pers dikukuhkan dalam UU Pers No 40/1999.<br />
Peran Pers<br />
Melaksanakan kegiatan jurnalistik secara teratur. Mencari, mengolah, menyimpan dan menyampaikan informasi serta melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran.<br />
Hanya informasi yang mempunyai nilai bagi peri kehidupan manusia yang dicari, diperoleh, dimiliki, disimpan, diolah dan disampaikan secara etis, yang pantas, yang patut dan layak diberitakan<br />
Media massa mendorong well informed society<br />
Peran universal pers:<br />
watchdog yang memberi peringatan dini pada penyelenggara negara yang melanggar prinsip clean and good governance, Wadah dialog, pasar gagasan terbuka. Pilar keempat demokrasi yang menegakkan kedaulatan rakyat.</p>
<p>Wartawan Profesional<br />
1.Paham pekerjaan wartawan dan berita seperti straight news, investigative repor-ting, indept news, reportase, human interest news, artikel, foto berita, dan grafis yang bernilai berita.  Mengerti standar berita dan memenuhi syarat jurnalistik dan rumus 5 W + H.<br />
2.Tahu cara mengumpulkan data dan fakta, wawancara, reporta-se, riset dan inves-tigasi. Menjunjung tinggi fakta, membela kebenaran, melawan ketidakadilan, kepen-tingan umum tidak mencampuradukkan fakta dan opini<br />
3.Berita berdasarkan fakta publik, bukan fakta pribadi. Fakta publik men-cakup fakta empirik dan fakta psikologis seperti peristiwa dan kejadian nyata. Tahu kapan dan dimana mencari berita, siapa yang diwawancarai dan memverifikasi hasilnya.<br />
4.Paham syarat sebuah berita, yakni akurat, berimbang, tidak melanggar norma dan rasa kesusilaan masyarakat. Mewakili kepentingan publik.<br />
5.Paham UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik, sebagai rambu-rambu dan aturan yang ha-rus dipatuhinya ter-masuk penafsirannya. UU dan KEJ harus menjadi buku saku wartawan kemanapun dia pergi.<br />
6.Prinsip balancing dan cover both side dipegang teguh. Tahu hukum dan pencema-ran nama baik, peng-hinaan persidangan, hak-hak parlementer dan ketentraman publik.<br />
7.Tiga syarat berita: akurasi, akurasi, akurasi. Check and recheck, mengedit ulang apakah sudah memenuhi standar jurnalistik. Kesalahan penulisan adalah kemalasan dan kecerobohan dan bisa mencelakakan narasumber, orang lain dan wartawan itu sendiri.<br />
8.Mencintai profesi, idealisme tinggi dan solidaritas terhadap profesi. Ia tidak silau oleh godaan uang dan menjadi alat kekuasaan. Prinsip menghalal-kan segala cara tak ada dalam kamus reportasenya.<br />
9.Dihargai karena karya jurnalistiknya, bukan karena jabatannya. Bukan pula karena pintar melobi, dekat dengan pejabat dan pintar cari muka. Ia menyadari benar sebagai seorang intelektual dengan standar moral yang tinggi.<br />
10.Menyajikan berita kaya informasi, datanya lengkap, kaya analisis, mampu memberi motivasi dan inspirasi bahkan empati pembacanya. Kewajiban paling dasar: meng-gali dan memverifikasi fakta dari lapangan</p>
<p>PERKEMBANGAN PERS NASIONAL</p>
<p>TAHUN 					   MEDIA CETAK<br />
1997 		     			     	  289<br />
1999 					   	 1.687<br />
2006                  				 829<br />
2008		      			     	         816</p>
<p>(surat kabar harian, tabloid, mingguan, majalah, buletin).<br />
Hanya 30 % SEHAT!</p>
<p>TAHUN               			RADIO          		 TELEVISI<br />
1997 					  741			             6<br />
1999 	             			  1.111			    11<br />
2005 	           			  2.000                  	     65</p>
<p>PERKEMBANGAN ORGANISASI WARTAWAN<br />
Sebelum reformasi hanya ada wadah tunggal organisasi wartawan yakni PWI<br />
Pada tahun 2004 muncul 50 organisasi wartawan<br />
Pada tahun 2006, tinggal 27 organisasi wartawan.<br />
Hasil verifikasi Dewan Pers 14 Maret 2006 ternyata hanya tiga organisasi wartawan yang memenuhi standar, yakni PWI (14.000 anggota) AJI (500 anggota) dan IJTI (600 anggota).</p>
<p>MEDIA LOKAL<br />
Era koran lokal di Kepri terbit Sijori Pos 10 Agustus 1998. Setelah itu terbit Batam Pos, Lantang, Sijori Mandiri, Posmetro Batam, Batam News, Tribun Batam dan Media Kepri. Belasan koran mingguan dan majalah juga terbit di Batam, Tanjungpinang dan Natuna.</p>
<p>FAKTA PERS LOKAL<br />
Masuk kelompok usaha penerbitan (JP, RPG, KKG dsb)<br />
Tantangan cukup berat seperti,  tiras atau oplahnya kecil, lambat beradaptasi dengan tren pasar, bingung membidik segmen pasar, SDM dan teknologi lemah<br />
Iklan sangat tergantung dari belanja pemerintah daerah. Baik iklan ucapan selamat maupun advertorial dari dinas dan instansi pemerintah.<br />
Kebanyakan sulit menggarap iklan kolom dan dis-play dari dunia usaha lokal. Akibatnya, lebih banyak pers lokal yang mati dan ber-henti terbit daripada yang bertahan hidup.</p>
<p>PERAN PERS<br />
Kalau saya harus memutuskan, apakah kita harus memiliki pemerintah tanpa surat kabar, atau memiliki surat kabar tanpa pemerintah, saya tidak ragu akan memilih yang kedua (Thomas Jefferson)<br />
Pemerintah dibentuk sebagai produk demokrasi untuk mensejah-terakan rakyat, yang dapat saja menyalahgu-nakan kekuasaannya dan karena itu harus dikontrol produk demokrasi lain, yakni parlemen. Namun, keduanya bisa saja tidak harmonis dan dapat merugikan rakyat, karena itu keduanya harus dikontrol oleh alat demokrasi lain yang bernama: Pers.  (Walter Lipman)<br />
Pers mendorong pemerintah menjalankan kekuasaannya dengan benar, menjadi partner pemerintah daerah, memberdayakan masyarakat, membuka wawasan berpikir publik dan menghargai prestasi pemerintah dan masyarakat.<br />
Pers juga secara kritis mengkritik kinerja pemerintah yang buruk dan masyarakat yang melanggar hukum. Pers menjalankan fungsi informasi, pendidikan, kontrol sosial, hiburan dan sebagai lembaga ekonomi.</p>
<p>KODE ETIK JURNALISTIK<br />
1.  Independen, akurat, berimbang, tidak beritikad buruk.<br />
2.  Menempuh cara-cara yang profesional<br />
3.  Menguji informasi, berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini  yang menghakimi, asas praduga tak bersalah.<br />
4. Tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul.<br />
5.  Tidak menyiarkan indentitas korban kejahatan susila dan tidak  menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.<br />
6.  Tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.<br />
7.  Memiliki hak tolak<br />
8.  Tidak menyiarkan berita prasangka atau diskriminasi.<br />
9.   Menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan umum.<br />
10. Segera mencabut, meralat dan memperbaiki berita yang keliru dan  tidak akurat disertai permohonan maaf.<br />
11. Melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional</p>
<p>KOMPETENSI WARTAWAN PROFESIONAL<br />
1.  Melakukan kegiatan jurnalistik secara teratur.<br />
2.  Kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan mengolah dan menyampaikan informasi.<br />
3. Sumber berita yang kredibel, berita cover both side.<br />
4. Menguji dan memverifikasi informasi, cek dan ricek.<br />
5. Imparsial dan independen.<br />
6. Untuk kepentingan umum<br />
7. Wartawannya digaji tidak di bawah UMR.</p>
<p>KONTROL TERHADAP PERS<br />
Pers nasional wajib memberitakan perisitiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.<br />
Pers wajib melayani hak jawab<br />
(Pasal 5 UU Pers ayat 1 &amp; 2)<br />
Perusahaan pers yang melanggar pasal 5 serta pasal 13 dipidana dengan denda paling banyak Rp 500 juta.</p>
<p>KONTROL INTERNAL<br />
Hati nurani wartawan<br />
Redaktur, Korlip dst<br />
Ombudsman</p>
<p>EKSTERNAL<br />
Masyarakat<br />
Media Watch<br />
Organisasi Pers<br />
Dewan Pers<br />
Jalur Hukum</p>
<p>Ketika Berseberangan dengan Media<br />
Saat narasumber atau pembaca tidak puas terhadap media, sering disebabkan oleh tiga hal:<br />
1. Akurasi (kesesuaian judul, isi berita, waktu, data pendukung dan faktualitas berita).<br />
2. Netralitas (sumber berita seimbang atau tidak seimbang).<br />
3.  Validitas (sumber berita jelas atau tidak jelas atau anonim dan kompetensi).</p>
<p>Apa yang Harus Dilakukan?<br />
1. Gunakan Hak Jawab Anda<br />
Pers profesional antara lain adalah pers yang yang secara jujur melayani hak jawab serta melakukan hak koreksi pembacanya dan mengakui kesalahan serta meminta maaf secara ksatria.<br />
Hak Jawab adalah hak seseorang, sekelompok orang, organisasi atau badan hukum untuk me-nanggapi dan menyanggah pemberitaan atau karya jurnalistik yang melanggar Kode Etik Jur-nalistik, terutama kekeliruan dan ketidakakurat-an fakta, yang merugikan nama baiknya kepada pers yang memublikasikan.<br />
Hak Jawab berasaskan keadilan, kepentingan umum, proporsionalitas, dan profesionalitas. Pers wajib melayani setiap Hak Jawab.<br />
2. Hak Koreksi<br />
Adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberita-kan oleh pers, baik tentang dirinya maupun ten-tang orang lain.<br />
3. Kewajiban Koreksi<br />
Adalah keharusan melakukan koreksi atau ralat terhadap suatu informasi, data, fakta, opini, atau gambar yang tidak benar yang telah diberitakan oleh pers yang bersangkutan.</p>
<p>OMBUDSMAN<br />
Pers sebagai wacana publik sehingga lenbaga ombudsman diperlukan agar pers tidak menjadi tirani dengan sikap arogansi. Ombudsman diharapkan menjembatani ketidakpuasan masyarakat, baik pembaca maupun narasumber sehingga kesalahan-kesalahan pers bisa diperbaiki. Namun, tidak semua media memiliki lembaga ombudsman.</p>
<p>Tugas Ombudsman<br />
Tugas ombudsmen adalah sebagai jembatan antara media dengan masyarakat agar setiap keluhan masyarakat tidak berakhir dengan gugatan di pengadilan, serta sebagai ’’jaksa internal’’ ke redaksi agar bekerja sesuai Undang-Undang Pers Nomor 40/1999 serta Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI).</p>
<p>FUNGSI DEWAN PERS<br />
Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain<br />
Melakukan pengkajian untuk pengemba-ngan kehidupan pers<br />
Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;<br />
Memberikan pertimbangan dan mengupa-yakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers<br />
Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah<br />
Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan.<br />
Mendata perusahaan pers<br />
Bersahabat dengan Pers<br />
Kebebasan pers ’beribu’ demokrasi  ‘berbapak’ kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat lisan maupun tulisan. Untuk memenuhi hak masyarakat mendapatkan informasi yang benar.<br />
Ketika pers menjadi industri, profesionalisme wartawan adalah harga mati.  Pers harus memiliki SDM yang berkualitas dan menjunjung etika<br />
Komunitas pers harus bersedia melakukan otokritik, karena wartawan juga manusia<br />
Wartawan harus terus-menerus berburu kebe-naran tanpa kenal lelah.<br />
Wartawan menunjukkan bahwa kesetiaannya pertama-tama adalah kepada publik<br />
Menjaga independensinya dari subyek yang te-ngah mereka liput<br />
Wartawan harus mengawasi jalannya kekuasa-an, dan memberikan suara kepada mereka yang tak mampu bersuara lantang<br />
Wartawan harus menyediakan forum bagi munculnya kritik dari publik dan forum bagi penyelesaian masalah.<br />
Wartawan harus membuat berita yang proporsional dan relevan</p>
<p>INTERAKSI DAN SINERGI DENGAN PERS<br />
Pejabat publik diharapkan agar sesering mungkin berbicara kepada publik melalui media dan mengadakan temu pers secara berkala.<br />
Humas harus meningkatkan profesionalis-menya dalam menjalin hubungan dengan pers.<br />
Jangan alergi terhadap pers.<br />
Jangan memberi amplop kepada warta-wan, karena yang memberi dan menerima sama-sama salah dan meracuni idealisme pers.<br />
Bangun dialog dua arah dengan pers melalui organisasi wartawan, yakni hubungan sehat, terhormat dan bermartabat.<br />
Ketahui seluk-beluk dunia wartawan, irama kerja, nilai berita, deadline, peta media massa, Kode Etik Jurnalistik, Kode Etik (Pedoman Perilaku) Penyiaran, Undang-undang No. 40/1999 tentang Pers, Undang-undang No. 32/2002 tentang penyiaran, kekuatan media massa, visi dan misi dan sebagainya.<br />
Kenali dunia pers dengan belajar membuat press release, magang di media massa atau mengikuti program redaktur tamu.<br />
Jangan berlaku diskriminatif terhadap wartawan. Layani wartawan ’’asli’’ dengan memberikan fakta-fakta dan informasi.</p>
<p>CARA MEMBUAT SIARAN PERS<br />
Ada Tulisan : SIARAN PERS atau PRESS RELEASE<br />
CONTACT PERSON di bagian akhir<br />
HEADLINE (Judul) sangat menentukan<br />
TANGGAL harus jelas<br />
PARAGRAF UTAMA penting dan relevan<br />
TEKS atau ISI berupa informasi tambahan<br />
Pastikan informasinya bernilai<br />
Pastikan datanya lengkap<br />
Deskripsikan secara ringkas<br />
Siaran Pers = Informasi awal, jika menarik akan dihubungi media<br />
Cantumkan kemana media mencari informasi lanjutan <!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/menjadi-sahabat-pers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In memoriam Gus Dur</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 15:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengagumi KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, sebelum ia jadi presiden RI ke 4. Itu pun hanya melalui wawancara dan pikiran-pikiran bernasnya di media massa. Lalu, saya membaca buku Tabbayun Gus Dur, hasil wawancaranya tentang negara, demokrasi dan pluralisme. Saya gembira ketika diberitahu ikut dalam rombongan wartawan Riau Pos Grup yang akan diterima wawancara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengagumi KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, sebelum ia jadi presiden RI ke 4. Itu pun hanya melalui wawancara dan pikiran-pikiran bernasnya di media massa. Lalu, saya membaca buku Tabbayun Gus Dur, hasil wawancaranya tentang negara, demokrasi dan pluralisme. Saya gembira ketika diberitahu ikut dalam rombongan wartawan Riau Pos Grup yang akan diterima wawancara khusus di istana negara, Jakarta. pada awal tahun 1999.<span id="more-293"></span></p>
<p>Wartawan yang berangkat menjumpai Gus Dur antara lain, Kazzaini, Abubakar Siddik, Muchid Al Bintani (dari Riau Pos Pekanbaru) Erisman Yahya (Jakarta) dan saya sendiri dari Sijori Pos, Batam. Kami menginap di Wisma Pemda Riau di Jakarta. Saya sibuk memikirkan apa yang akan saya tanyakan kepada Gus Dur. Sementara, Kazzaini sebagai yang paling senior, menyiapkan tiga lembar daftar pertanyaan. </p>
<p>Kami sempat berdiskusi soal wawancara khusus itu. Saya nyeletuk, saya akan menanyakan soal Batam yang sejak lama jadi kota judi dan soal pembagian keuangan pusat dan daerah yang saat itu sedang menjadi isu hangat secara nasional. Tiba-tiba, Abubakar berkata,&#8221; Ah, kau jangan tanya yang macam-macam pula,&#8221; katanya. Saya heran, kok wartawan tak boleh tanya apa saja?</p>
<p>Pagi-pagi karena takut macet, kami meluncur ke istana negara. Begitu melapor, ke sekretariat presiden, kami disuruh menunggu. Tapi, berjam-jam menunggu, tak ada tanda-tanda kami disuruh masuk menjumpai Gus Dur. Saya sempat ikut konferrensi pers dengan Yenni Wahid bersama puluhan wartawan istana. Sampai jam 14.00 WIB siang, kami belum juga bisa wawancara Gus Dur. </p>
<p>Tak lama kemudian, Ratih Harjono Sekretaris Presiden mantan wartawan yang cantik itu, datang menemui kami. Ia berkata,&#8221; Mohon maaf, wawancara dengan Presiden batal karena ada rapat kabinet mendadak. Semua biaya Anda ke Jakarta, akan diganti,&#8221; katanya, tegas. Kami melongo. Lho, kok bisa? Abubakar langsung menyodorkan tape recorder soal pembatalan itu dan berkata, apa alasannya dan pertanyaan itu on the record. </p>
<p>Ratih Harjono sempat menawarkan, meski wawancara batal, besok Gus Dur mau terbang ke Batam dan satu orang bisa ikut pesawat kepresidenan. Semua mata teman-teman tertuju kepada saya. Sebab, hanya saya sendiri yang dari Batam. Saya sudah membayangkan, alangkah hebatnya wawancara khusus dengan Gus Dur di atas pesawat. Namun, rencana itu batal. Ratih melapor lagi ke Gus Dur dan akhirnya, kami diberi waktu 15 menit saja. Setelah menunggu 8 jam! Kabarnya, Gus Dur kurang disiplin dengan waktu dan protokoler istana sehingga kalau ada tamu yang sudah duluan, bisa molor sehingga tamu berikutnya terpaksa diluar jadwal yang semestinya. </p>
<p>Kami masuk beriringan. Di depan saya, Erisman Yahya menyalami Gus Dur. Saat Erisman mau mencium tangannya, sontak Gus Dur menolak dan menarik tangannya. Saya hanya menyalami sambil menyebutkan nama saya, diikuti Muchid. Foto saya bersalaman itulah yang sampai saat ini dipajang di dinding rumah saya. </p>
<p>Kazaini memulai wawancara, setelah berbasa-basi sejenak. Jawaban Gus Dur juga datar-datar saja. Saya tak sabar karena waktunya terbatas. Meski kawan-kawan kurang suka, saya lalu nyelonong bertanya.&#8221; Gus Dur, saya mau tanya dua hal. Apakah pemerintah sedang kesulitan finansial sehingga pembagian keuangan pusat dan daerah itu belum juga direalisasikan? Kedua, ada pendapat Batam itu dijadikan kota judi saja. Bagaimana menurut Anda? </p>
<p>Gus Dur memutar duduknya dan langsung menjawab. &#8221;Anda ini gimana. Kalau kesulitan finansial, semua kita sedang kesulitan. Soal Batam jadi kota judi, ah pendapat kayak gitu aja kok dianggap. Gitu aja kok repot,&#8221; katanya. Saya kecewa tak dapat jawaban memuaskan. Padahal, kalau soal Batam jadi kota judi itu, saya ingin mendengar jawaban seorang presiden yang sekaligus ulama terkemuka. Berita wawancara bersama teman-teman RPG itu, lalu menjadi headline di koran kami masing-masing. Kalau melihat foto saya bersalaman yang dikirimkan Muchid ke saya itu, saya teringat pertemuan dengan Gus Dur.</p>
<p>Pertemuan kedua, saat Gus Dur berada di Kedutaan RI di Beirut, Lebanon tahun 2002. Saya dan rombongan dari Batam, mampir ke kedutaan saat melawat ke Timur Tengah. Saat itu, Gus Dur hanya pakai batik lengan pendek dan tanpa kopiah. Tapi, tak ada yang saya tanyakan ke Gus Dur karena saat itu ia sedang berbincang-bincang dengan duta besar. Saya mendapat kabar, Gus Dur terbilang sering ke Lebanon. </p>
<p>Lebanon yang terkoyak-koyak perang saudara karena agama memang unik. Gaya hidup sebagian warganya mengacu ala Paris. Sebagian penduduknya beragama Islam dan sebagian lagi Kristen sehingga masalah agama tabu dibicarakan. Saya hanya menduga, toleransi antar umat beragama yang ditularkan Gus Dur, bisa jadi karena pemahamannya yang mendalam tentang konflik antar umat beragama seperti yang terjadi di Lebanon. Itulah terakhir kali bertemu langsung dengan Gus Dur. </p>
<p>Saya kadang terheran-heran dengan pikiran-pikirannya, gaya nyelenehnya dan leluconnya. Ia menjadikan istana milik rakyat. Membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan, membela kaum minoritas, membentuk kementerian HAM dan sebagainya. Jabatan presiden yang sangat formal, bagi seorang Gus Dur bisa jadi lelucon. Siapa calon presiden tahun 2014 Gus Dur? tanya wartawan. Dengan santainya Gus Dur menjawab dirinya. Caranya gimana Gus? &#8221;Ketik Reg Gus Dur Ciganjur,&#8221; katanya, enteng. </p>
<p>Meski matanya sejak lama tak melihat, berbagai penyakit yang menderanya, Gus Dur tidak hanya sebagai bapak bangsa, ia layak menjadi pahlawan dengan pikiran-pikiran besarnya. Selamat jalan KH Abdurahman Wahid&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Napak Tilas Seorang Wartawan</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/napak-tilas-seorang-wartawan/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/napak-tilas-seorang-wartawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 22:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Roda pesawat baru menyentuh landasan yang licin. Bandara Simpang Tiga yang kini bernama Sultan Syarim Kasim II. Dari udara, beberapa kawasan kota bertuah itu tergenang air.  Kalau tak banjir, kota ini sering dikepung asap kebakaran hutan. Disinilah saya memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1996. 
Meski sudah mulai menulis artikel di beberapa surat kabar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Roda pesawat baru menyentuh landasan yang licin. Bandara Simpang Tiga yang kini bernama Sultan Syarim Kasim II. Dari udara, beberapa kawasan kota bertuah itu tergenang air.  Kalau tak banjir, kota ini sering dikepung asap kebakaran hutan. Disinilah saya memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1996. <span id="more-286"></span></p>
<p>Meski sudah mulai menulis artikel di beberapa surat kabar sejak 1989, saya baru melamar ke Riau Pos setamat kuliah. Saya ingin menjadi dosen di Universitas Riau, sambil terus menulis. Surat lamaran saya kirimkan kepada adik ibu saya Suasti Chadra, yang tinggal di Pekanbaru.<br />
Saya dipanggil tes di saat ibu saya terbaring di rumah sakit dan menghabiskan belasan botol infus di Payakumbuh. Paman saya menguatkan hati saya berangkat ke Pekanbaru. ‘’Pergilah, kan kami ada disini menjaga mama,’’ katanya. Dengan hati galau saya berangkat.<br />
Tes jadi wartawan tak seperti yang saya bayangkan. Ada dua orang yang menanyai saya. Pak Amril Noor mantan polisi itu berkata,’’ Aku piker badan kau tinggi besar karena namamu Socrates,’’katanya. Satu lagi almarhum Busra Algerie, yang menyuruh saya membaca buku-buku jurnalistik, karena saya memang belum pernah jadi wartawan.<br />
Sejak bulan Maret 1996, saya jadi wartawan. Saya tinggal menumpang dengan adik ibu saya di Kampung Bukit, Rumbai. Saat saya mulai bekerja, ternyata ada dua orang wartawan baru. Namanya Abu Bakar Sidik, mantan wartawan Gatra dan Noorham Wahab yang dikenal sebagai penulis budaya. Selain itu, ada dua setter baru Ekot dan Nasrul.<br />
Saya tidak pernah kursus computer. Satu-satunya yang saya tulis pakai computer saat menulis skripsi dengan program Chi-Writer. Itupun menumpang di rental computer teman dekat kosan saya. Biasanya, saya menulis artikel dengan mesin ketik tua bekas dari kantor polisi pemberian tante saya. Tangkai penggulung kertasnya sudah patah dan saya las. Bunyinya, brttt..tak.tak..<br />
Saya bingung. Seorang wartawati menyangkan saya setter. Ia menyuruh saya mengetik beritanya. Saya mau saja, sambil belajar mengetik computer. Kadang saya catat di telapak tangan, bagaimana menyimpan, membuka file computer. Hari ketiga, barulah saya membuat berita pertama. Saya dapat informasi dari tante saya bahwa di rumah sakit banyak keluarga pasien yang kecopetan.<br />
Saya pergi ke rumah sakit. Ternyata, cukup banyak keluarga pasien yang terpaksa tidur di emperan dan bangku-bangku rumah sakit. Saya lalu menjumpai seorang wanita yang menjabat humas rumah sakit itu. Saat saya tanyakan soal keluarga pasien yang sering kehilangan di rumah sakit, ia menolak menjawab. ‘’Saya tidak mau menjawab pertanyaan itu,’’katanya, ketus. Entah ide darimana saya berkata,’’ bagi saya, ibu tidak menjawab pun sudah sebuah jawaban.’’ Buru-buru ia menukas,’’Eh, jangan begitulah. Saya mau memberi informasi, tapi jangan tulis nama saya,’’ katanya. Ia mengakui, banyak kejadian kehilangan yang dialami keluarga pasien.<br />
Sudah hampir seminggu, berita saya cuma satu. Ternyata, susah sekali jadi wartawan. Saya cemas ketika Koordinator Liputan yang terkenal galak, sambil menaiki tangga kantor Riau Pos di Jalan Kuantan Raya, berkata sambil berjalan.’’ Kalau nilai kau C berturut-turut, keluar kau,’’ katanya.<br />
Berita kedua saya kisah seorang mahasiswa yang sehari sebelum wisuda, tewas disengat listrik di rumahnya. Saya pergi melayat ke rumah duka dan terpaksa berbohong kepada orangtuanya bahwa saya kenal dekat dengan almarhum. Ini membantu saya mendapatkan berita. Begitulah. Sebagai wartawan baru, saya memang tidak produktif.<br />
Baru bekerja dua minggu, saya dipanggil Korlip. Ia menawarkan saya pindah ke Dumai. Kabarnya, ada wartawan yang bermasalah disana. Saat saya sudah mengepak buku-buku dan barang saya dalam kardus kecil dan sebuah tas, keputusannya berubah. Saya sendiri seumur-umur belum pernah ke Dumai. ‘’Tak usahlah kau ke Dumai, kau ke Perawang saja,’’ katanya.<br />
Sehari sebelum bertugas di sana, saya pergi ke Perawang. Desa Tualang Perawang ternyata ramai sekali.Sebab, di desa itulah lokasi PT Indah Kiat Pulp &#038; Paper. Jaraknya 60 kilometer dari kota Pekanbaru. Jalannya separuh aspal dan separuh tanah liat. Saya naik angkutan liar plat hitam. Tiap hari, tiga kali ganti angkot dari Rumbai ke Pasar Bawah lalu ke Perawang.<br />
Saya berangkat pagi-pagi, sampai di kantor menjelang magrig barulah mengetik berita. Saya pulang ke rumah jam 9 malam dan sering jalan kaki dari Pasar Rumbai ke Kampung Bukit jalan kaki, sambil bersiul-siul karena takut dan gelap. Tidak banyak berita yang bisa saya tulis tentang Perawang. Saya tambahi dengan tulisan dan foto.<br />
Saya senang ketika tak sengaja mendengar Pak Rida yang sedang melihat koran yang akan dicetak di ruang lay-out berkata,’’ Socrates ini dibikinnya Perawang seperti kota besar saja.’’ Ia tidak tahu, tiap hari saya ke sana seperti Ninja, yang harus menutup hidung dengan sapu tangan karena debu saat naik angkutan liar. Kalau hujan, jalannya jadi becek sekali.<br />
Hampir empat  saya di Perawang. Oplahnya perlahan mulai bertambah. Yang saya wawancarai, hanya Pembantu Camat, Kepala Desa dan Ketua LKMD. Saat itu, Perawang belum menjadi kecamatan. Tapi penduduknya lebih 10.000 orang yakni pekerja pabrik kertas. Beberapa kilometer sebelum sampai, bau bahan kimia sudah menusuk hidung. Truk balak berseliweran mengangkut kayu besar-besar untuk bahan kertas. Saya mulai didekati oleh humas perusahaan itu dan ditraktir makan. Beberapa kali bertemu, ia memaksa saya amplop. Saya bingung. Oh, ternyata jadi wartawan kayak begini.<br />
Dua amplop yang diberikannya, tidak saya buka. Saya simpan di bawah lipatan baju di lemari plastik. Suatu hari, saya nekad menjumpai pak Rida, lalu saya katakan soal amplop itu. Saya bilang, ‘’kenapa orang lain yang memperhatikan saya, bukan Riau Pos?’’ kata saya.<br />
Maksud saya, naikkan gaji saya. Saat itu, saya menerima Rp150 ribu sebulan. Ongkos Rp5.000 sehari. Lalu saya makan apa? Untunglah, tante saya memaksa saya makan pagi sebelum pergi kerja sehingga sampai siang perut saya masih tahan. Kalau tanggal tua, ia memberi saya uang Rp20 ribu, buat beli rokok.<br />
Suatu hari, saya disuruh Korlip menjumpai orang Indah Kiat. Saya tidak Tanya siapa. Saya datang saja sesuai perintah dan temui di Hotel Mutiara Merdeka. Disana, dua orang yang sudah agak tua menunggu saya. Kami ngobrol ngalor ngidul. Yang tua, mengaku pernah jadi wartawan di Star Weekly. Ia berkata,’’ Oh, jadi Anda baru tamat kuliah, ya. Pantas masih fresh,’’ katanya. Saya tidak paham maksudnya.<br />
Saya sempat berdebat dengannya. Ia bilang, Indah Kiat sudah membantu masyarakat setempat seperti tong sampah dan pompa air. Saya kakatan, bantuan itu tidak efektif karena tong sampah dijadikan tong air, lalu pompa air tidak ada gunanya karena tekanan air rendah. Mukanya memerah.<br />
Saat makan malam, saya diajak ke restoran. Ada udang, berbagai jenis ikan, lobster dan makanan yang aneh-aneh di mata saya. Saya bingung saat ditawari, lalu saya bilang,’’ saya mau nasi goring saja.’’ Mereka menatap saya keheranan. Setelah itu, pertemuan usai. Saya berganti kartu nama dengan mereka. Dalam hati, saya heran siapa sebenarnya mereka berdua? Saya menduga orang humas Indah Kiat.<br />
Lalu motor milik om saya hentikan di atas jembatan Elekton di atas Sungai Siak. Disitu ada lampu jalan. Saya keluarkan kartu namanya. Ternyata, yang tua adalah Direktur Utama Indah Kiat Njau Kwiet Mien dan satunya wakil direktur utama. Saya tertawa sendiri .<br />
Entah mengapa, saya tiba-tiba ditarik lagi ke Pekanbaru. Kota ini jalannya juga tidak terlalu hapal. Karena kemalaman, saya menginap di rumah Mafirion, Koordinator liputan. Rumahnya dekat dengan kantor. Paginya, meski kemeja saya kusut, saya disuruh bertemu Rusli Zainal, yang saat itu Ketua Gapensi Riau dan kini menjadi Gubernur Riau di hotel Bumi Asih.<br />
Mungkin karena tampang saya lusuh, Rusli menatap saya dari atas sampai ke bawah, lalu berkata,’’ Ayo, mau tanya apa, silakan,’’ katanya, menantang. Saya mulai wawancara, hal-hal yang ringan dan makin lama menjurus pada Gapensi yang selalu menguasai Kadin, organisasinya pengusaha. Tak lama kemudian, dengan memegang keningnya, Rusli Zainal berkata,’’ Tajam juga pertanyaan kau ya?,’’ katanya. Saya diam saja. Ketika mau pulang, ia memaksa saya menerima amplop yang isinya Rp15.000 untuk ongkos saya, katanya.<br />
Tak lama kemudian, saya dipindahkan ke Bukittinggi, merintis berdirinya kantor Riau Pos Perwakilan Sumbar. Setahun di sana, saya dipindahtugaskan ke Batam sejak bulan Juni 1997 sampai saat tulisan ini saya buat.<br />
Saat rapat Riau Pos Grup 17 Desember 2009 lalu, saya pergi ke Kampung Bukit di Rumbai. Kamar ukuran 2 x 2 meter yang saya tempati dulu tak ada lagi. Rumah tante saya yang wafat pada Idul Adha dua tahun lalu, sudah dipisah dengan Musala Nurul Yakin yang kini menjadi mesjid yang masih terus dibangun. Jalannya masih aspal yang berlobang-lobang seperti dulu.<br />
Tak terasa, 13 tahun berlalu. Saya bersyukur, saat pertama jadi wartawan, jangankan jadi direktur, jadi redaktur pun tak terbayangkan. Saya malah terkagum-kagum pada teman-teman wartawan yang setiap hari wawancara gubernur atau wali kota. Juga pada teman yang bisa membuat berita kriminal setiap hari. Mereka hebat sekali dan kadang mentraktir saya makan nasi goreng.<br />
Pekanbaru sudah banyak berubah. Bangunan makin padat. Jalan-jalannya tambah bersih. Ada beberapa gedung baru yang sepertinya dibuat agar ada, tapi belum digunakan. Mungkin karena propinsi ini salah satu yang terkaya di negeri ini. Menjejakkan kaki di kota bertuah ini, selalu membuat saya seperti melihat spion, menatap ke belakang perjalanan sebagai seorang wartawan. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/napak-tilas-seorang-wartawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Well Come to Casino Singapore</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 07:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dua tahun lalu, Singapura menggesa pembangunan dua kasino. Setelah perjudian ilegal dan kasino di Batam ditutup, diperkirakan kasino tersebut bakal banjir pengunjung dan bersaing ketat dengan Genting Highland, Malaysia. Bagaimana peluangnya dan seperti apa pengaruhnya terhadap pelaku bisnis di Batam?
Saat ini, Pemerintah Singapura tengah sibuk merampungkan pembangunan The Marina Bay Sands dan Sentosa World [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Sejak dua tahun lalu, Singapura menggesa pembangunan dua kasino. Setelah perjudian ilegal dan kasino di Batam ditutup, diperkirakan kasino tersebut bakal banjir pengunjung dan bersaing ketat dengan Genting Highland, Malaysia. Bagaimana peluangnya dan seperti apa pengaruhnya terhadap pelaku bisnis di Batam?<span id="more-276"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini, Pemerintah Singapura tengah sibuk merampungkan pembangunan The Marina Bay Sands dan Sentosa World Resorts, dua proyek raksasa yang sempat diperdebatkan di parlemen negeri Singa itu. <span> Di dua kawasan itu terpadu itu, disediakan berbagai jenis pertunjukan wisata dan kasino serta berbagai aneka perjudian yang bakal menjadi daya tarik utama. Meski belum rampung, diprediksi dua kawasan ini bakal menyedot wisatawan lebih besar lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kawasan wisata terpadu dan perjudian Genting Highland saja, yang dikenal sebagai Las Vegas-nya Malaysia berkembang pesat dan beranak pinak menjadi perusahaan kertas, pembangkit listrik, kapal pesiar, perusahaan minyak, perkebunan dan perumahan di bawah bendera Genting Bhd. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kawasan wisata itu memiliki enam hotel yang saling berdempetan di puncak bukit Titiwangsa dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Hotel First World memiliki 6.118 kamar dan merupakan hotel terbesar kedua di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika dua kasino di Singapura rampung, diperkirakan orang akan memilih Singapura karena mudah dijangkau. Sementara, Genting Highland yang terletak di perbatasan Pahang dan Selangor, lebih jauh dan bisa dicapai dengan mobil dengan jalan berkelok-kelok dan curam, serta naik kereta gantung (sky way) sepanjang 3,5 kilometer. Sky Way ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara dan tercepat di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebelum Singapura memutuskan membangun kasino, pada akhir pekan, kapal pesiar Star Virgo, Star Cruise yang nota bene milik Genting Group, membawa ribuan pelancong belanja ke Singapura. Dengan dua kasino ini, bakal menjadikan ekonomi Singapura makin perkasa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Konon kabarnya, dua kasino ini akan memiliki jenis perjudian yang berbeda. Di Sentosa World Resort akan bergaya Timur seperti Makau dan di Marina Bay Sand akan bergaya Barat seperti Las Vegas. Yang pertama dibangun<span> </span>Genting International,<span> </span>Malaysia dan yang kedua dibangun Las Vegas Sand. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dari pantauan <em>Batam Pos</em> di Singapura pekan lalu, ribuan pekerja kontruksi bekerja siang malam menggarap proyek raksasa dan prestisius ini. Ratusan kendaraan dan alat berat seperti eskavator, kren, buldozer hilir mudik mengangkut bahan bangunan dan tak henti-hentinya meraung. Diperkirakan, dalam tempo enam bulan, kasino ini siap beroperasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Di Sentosa World Resorts (SWR), bangunan utama berbentuk kubah sudah mulai menampakkan wujud aslinya. Dibangun di kawasan wisata Pulau Sentosa, SWR nyaris membutuhkan seperempat lahan pulau tersebut. Integrasi antara sarana transportasi dan kawasan judi dibuat sedemikian rupa hingga akan memudahkan orang berkunjung ke sana. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Monorel yang menghubungkan Pelabuhan Harbour front dengan Pulau Sentosa, nantinya bakal menembus masuk dalam bangunan SWR . <em>Cable car</em> pun dirancang ulang sebagai alat transportasi baru. Bagi yang bermobil, sudah disiapkan berhektar-hektar lahan parkir proyek senilai S$6.59 miliar yang dikerjakan oleh perusahaan judi Malaysia, Genting International. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Nantinya, orang Batam atau Indonesia yang ingin berjudi, tinggal mengeluarkan uang tak lebih dari S$ 8 untuk bisa masuk ke SWR. Tapi untuk bertaruh, tentu saja tak cukup dengan bekal uang sekecil itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>The Marina Bay Sands (MBS) jauh lebih <span>masif</span>. Dibangun oleh perusahaan judi terbesar dunia Las Vegas Sands, daerah wisata MBS nantinya akan berpadu dengan Marina Barrage, dam yang indah dan mengesankan itu. MBS akan dikelilingi taman yang luar biasa besar dan indah. Bahkan disebut-sebut akan menjadi taman bunga terbesar di Asia. Sepekan lalu, ribuan bunga dan pohon aneka jenis teronggak di lokasi pembangunan taman, siap ditanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Selain berjudi, pengunjung MBS nantinya akan bisa berbelanja, menikmati hotel bintang lima, sekaligus mengasah otak di museum Lotus yang akan dibangun searea dengan MBS. Proyek senilai S$226 juta itu direncanakan bakal dibuka tahun depan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Singapura, dengan proyek dua kasino <span> </span>mereka yang luar biasa, tampaknya sudah berhitung betul sisi buruk dan manfaat yang bakal didapatkan. Dalam pembangunannya saja, ribuan pekerja dan jutaan dolar uang berputar. Ketika tahun ini Singapura dihantam krisis hingga menyebabkan ribuan warga menganggur, MBS dan SWR memberi lowongan kerja sekitar 4000 warganya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Antrian panjang terlihat ketika pihak manajemen MBS dan SWR membuka bursa lowongan pekerjaan di mal-mal seantero Singapura. Beberapa bulan lalu ketika dua kasino tersebut membuka sekitar 450 karyawan, ada sekitar 5.000 pencari kerja Singapura antri mendapatkan formulir lamaran. Mengutip <em>The Straits Times</em>, antrian tersebut dianggap sebagai antrian terbanyak pencari kerja sepanjang sepuluh tahun terakhir. Jika sudah jadi nanti, Pemerintah Singapura memprediksi bisa mempekerjakan 10.000 orang hanya untuk Sentosa Worlds Resort.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Hotel-hotel dipastikan bakal penuh jika dua rumah judi nanti akan dibuka. Pelaku judi yang disyaratkan harus berpaspor asing, tentu saja datang ke Singapura dengan segepok uang yang tak hanya dihabiskan di meja judi.Tentu saja mereka butuh makan, tempat tinggal, pakaian, dan tak akan segan mengeluarkan uang untuk keperluan ini. Bukan hanya pemerintah yang menangguk untung dari pajak kunjungan mereka, tapi pelaku usaha di Singapura dipastikan kecipratan untung dengan pembukaan dua kasino tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagi sebagian warga Singapura, juga menunggu dua kasino ini rampung. Misalnya, Raaj seorang lelaki keturunan India warga Malaysia namun bekerja di Singapura ini. Ia menyewa kamar di Hougang Avenue dan bekerja di perusahaan elektronik. Hobinya: bertelepon dan main judi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Jika sudah menelepon ke kampungnya di Perak, Malaysia, Raaj bisa menghabiskan setengah malam yang ia punya untuk bercengkerama dengan ibu, dan tentu saja calon istri pilihan ibunya. Untuk berjudi 4D atau yang biasa kita sebut <em>toggle</em> (baca togel), Raaj dengan mudah meloloskan 25 hingga 50 dolar sekali bukaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setiap akhir pekan, taruhan <em>on-line</em> tentang tebak skor sepakbola, tak pernah ia lewatkan. Taruhan sepakbola dilakukannya<span> </span>melalui internet. Penjudi kelas teri dan kecil-kecilan seperti Raaj, memang amat populer di Singapura, negara yang memang melegalkan perjudian. Kesenangan, adrenalin yang melonjak saat dada dag-dig-dug menanti skor akhir, adalah faktor utama Raaj untuk menggemari taruhan 4D atau judi <em>on-line. </em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selain mal, <em>foodcourt</em>, dan alat-alat transportasi massal yang selalu disesaki masyarakat Singapura, konter 4D selalu menghadirkan antrian panjang petaruh setiap hari. Di pinggir jalan yang disesaki pelancong, kupon-kupon judi pacuan kuda, dengan mudah bisa didapat. Tinggal menunggu keberuntungan. Ini bukti betapa gairah warga Singapura terhadap perjudian.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika kasino itu beroperasi, tak menutup kemungkinan tahun depan Raaj bakal menaikkan “kelas” judinya. Berada di meja judi sebenarnya. Ada roullet, black jack, baccarat dan berbagai jenis perjudian. Kasino di Sentosa dan Marina akan membuat Raaj menahan nafas, mengadu nasibnya, berjudi yang sebenar-benarnya.<span> </span><span> </span>“Saya pasti akan mencobanya,” katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Tampaknya, Singapura<span> </span>tahu betul, ketimbang uang penggemar judi seperti Raaj disetorkan ke rumah judi <em>on-line </em>di Eropa sana, mendingan “diputar” di Singapura. Raaj yang berpaspor Malaysia, tentu saja dengan senang hati dipersilahkan menikmati bertaruh di meja judi sebenarnya: MBS dan SWR. Tapi untuk warga Singapura, cukup bermain judi lewat <em>toggle</em> saja. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagaimana peluangnya bagi pelaku bisnis di Batam jika dua kasino itu dibuka? Ternyata, sebagian pengusaha Batam sudah mengintip peluang sejak pembangunan dua kasino ini digulirkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>’’Pasti anginnya akan berdampak ke Batam. Kabarnya, tahun lalu mereka mau buka, tapi ditunda karena krisis global. Kabarnya, Desember tahun ini mereka akan buka. Jika dibuka, tentu akan berpengaruh terhadap bisnis di Batam,’’ kata Cahya, yang baru saja dilantik menjadi Ketua Apindo itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut Cahya, pembangunan dua kasino dan kawasan wisata terpadu di Singapura itu, merupakan angin segar bagi pelaku bisnis di Batam. Diperkirakan, tamu hotel akan meningkat, bisnis properti menggeliat, kunjungan wisatawan bertambah. ‘’Para pekerjanya tentu akan mencari rumah sewa yang lebih murah di Batam. Kita perlu persiapan untuk tahun depan,’’ ujar Cahya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Program pariwisata Batam yang mengapungkan slogan Visit Batam 2010 menurut Cahya, juga perlu berbenah. ‘’Infrastruktur harus dibenahi sehingga segala sesuatunya oke. Pemko Batam wajib promosi ke Singapura dan luar negeri. Wisatawan di Singapura kan tinggal selangkah lagi ke Batam. Kalau tidak mau berpromosi, visit Batam 2010 itu sama saja bohong,’’ kata Cahya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk menangkap peluang bisnis tersebut, kata Cahya, perlu berbagai kebijakan dan kemudahan mengingat status Batam free trade zone (FTZ) yang memiliki kekhususan. ‘’Mestinya kewenangannya ada pada gubernur sebagai ketua Dewan Kawasan sehingga tidak menunggu pusat melulu,’’ tukasnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Cahya mengakui, pembangunan perumahan prestisius Coastarina dan kawasan wisata modern Ocarina, juga disiapkan untuk menangkap peluang dibangunnya dua kasino di Singapura. Coastarina dan Ocarina sendiri dibangun di atas lahan seluas 126 hektar. ‘’Saya akan kebut membangun water park dan mudah-mudahan Desember tahun ini juga rampung,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sementara itu, pengusaha lain seperti Abi yang terkenal dengan restoran Golden Prawn di kawasan Bengkong, juga menyiapkan diri. Restoran yang dibangun sejak tahun 1992 itu, kini terus mengembangkan sayap bisnisnya dengan mendirikan hotel Golden View yang beroperasi sejak 1996 lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini, Abi terus ngebut dengan membangun kawasan wisata terpadu Golden City di atas lahan seluas 100 hektar. ‘’Selain berbagai permainan dan wisata alam, kami juga membuat miniatur kapal Ceng Ho,’’ kata Abi. Bagaimana dengan pengusaha lain melihat peluang ini? <strong>(Socrates &amp; Sultan Yohana)</strong> ***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prilaku Konsumen Media</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/prilaku-konsumen-media/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/prilaku-konsumen-media/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 06:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[
Krisis ekonomi global tidak hanya melanda sektor keuangan dan properti. Tapi juga menerpa industri media massa. Buktinya, beberapa surat kabar di Amerika Serikat, tutup. Atau beralih ke koran digital. Akibatnya, industri media massa di Indonesia, juga ketar-ketir. Indikatornya adalah, makin menurunnya pembaca dan pemasang iklan yang selama ini menjadi nyawa surat kabar. Bagaimana di Batam?
Survei [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Krisis ekonomi global tidak hanya melanda sektor keuangan dan properti. Tapi juga menerpa industri media massa. Buktinya, beberapa surat kabar di Amerika Serikat, tutup. Atau beralih ke koran digital. Akibatnya, industri media massa di Indonesia, juga ketar-ketir. Indikatornya adalah, makin menurunnya pembaca dan pemasang iklan yang selama ini menjadi nyawa surat kabar. Bagaimana di Batam?<span id="more-275"></span></p>
<p class="MsoNormal">Survei tentang prilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media massa yang dilakukan LP3ES bekerja sama dengan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) menarik dicermati. Dari 15 kota yang disurvei, Batam termasuk salah satunya, selain Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Padang, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, Manado dan Denpasar. Ke-15 kota ini ditentukan secara purposive sampling dan dianggap media cetak relatif dinamis.</p>
<p class="MsoNormal">Survei tersebut dilakukan untuk merepresentasikan pendapat pembaca suratkabar, mewakili kelompok<span> </span>pembaca remaja dan dewasa. Jumlah responden 2.971 orang dengan tingkat keperca-yaan 95%.<span> </span>Selain itu, juga dilakukan wawancara mendalam dengan pengelola media serta <em>focus grup discussion</em> (FGD)<span> </span>mewakili pembaca media dari unsur profesional, pelajar, ibu rumah tangga, akademisi, aktivis LSM.</p>
<p class="MsoNormal">Pertumbuhan media cetak, meski tidak lagi seperti pada awal era reformasi, namun terus bertambah. Jumlah surat kabar tahun 2008 sebanyak 290 buah, naik dibanding tahun 2007 yang berjumlah 269. Namun, surat kabar mingguan turun dari 247 tahun 2007 menjadi 224 pada tahun 2008.<span> </span>Pertumbuhan yang paling tinggi terjadi pada majalah.</p>
<p class="MsoNormal">Ada beberapa hal yang menarik dicermati dari hasil survei ini. Pertama, masih ada pengelola media yang tidak percaya survei. Mereka beranggapan, hasil survei bisa dipesan dan meragukan validitas, metode maupun hasilnya. Padahal, secara ilmiah hasil survei bisa dibantah melalui survei. Rasa tak percaya ini terutama yang hasilnya tidak ’menguntungkan’ bagi media tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Kedua, selain televisi sebagai media yang menjadi saingan suratkabar (misalnya dalam perebutan kue iklan) penetrasi internet mulai menguat. Sumber informasi selain media cetak adalah televisi 95,9 % dan internet 34,1%. Artinya, kedua media inilah yang akan menjadi kompetitor surat kabar di masa depan. Waktu membaca media cetak pun makin berkurang, hanya 3,2 jam sampai 4 jam seminggu. Berarti, hanya sekitar 40 menit sehari.</p>
<p class="MsoNormal">Ketiga, fenomena surat kabar lokal yang kini mampu menjadi raja di daerahnya. Sebanyak 69 % responden menyebutkan, lebih mengandalkan surat kabar lokal. Jika sebelumnya koran daerah dipandang sebelah mata dan masyarakat lebih mengutamakan koran-koran dari Jakarta sebagai sumber informasi, kini kondisinya terbalik. Koran dari Jakarta hanya menjadi pilihan warga Jakarta. Tidak ada lagi dikotomi koran daerah dan koran nasional. Sebab, koran daerah menjelma menjadi koran nasional yang berbasis di daerah. Otonomi daerah diperkirakan mempengaruhi hal ini.</p>
<p class="MsoNormal">Keempat, <span> </span>informasi yang mendapat perhatian pembaca dan rubrik yang mendapat perhatian adalah kecelakaan, musibah atau bencana (67,9%) berita kriminal (60,6%) pendidikan (56,6%) olahraga (53,4%) dan gaya hidup (51,2%). Artinya, pembaca membutuhkan informasi yang hanya mereka inginkan dan dibutuhkan kecepatan untuk penyampaian informasi tersebut. Namun, pembaca majalah dan tabloid lebih dominan membaca berita tentang gaya hidup. Mungkin karena survei ini dilakukan di perkotaan sehingga mencerminkan selera kaum urban dan metropolis.</p>
<p class="MsoNormal">Kelima, makin tingginya penetrasi internet tidak serta merta suratkabar ditinggalkan, seperti yang belakangan dikhawatirkan pengelola media. Sebab, survei menunjukkan, lokasi yang biasa digunakan untuk mengakses internet sebanyak 67,1 % di warung internet. Artinya, pengguna internet perlu datang ke warnet untuk menjelajahi dunia maya. Situs yang paling banyak diakses adalah jejaring sosial seperti facebook, twiter dan friendster. Waktu yang digunakan mengakses internet rata-rata 1 sampai 2 jam sehari.</p>
<p class="MsoNormal">Keenam, meski sekitar 60 % kue iklan diraup media elektronik seperti televisi, surat kabar tak perlu berkecil hati. Sebab, iklan yang ditayangkan di surat kabar, juga menjadi perhatian pembacanya. Sebanyak 84,2% responden memperhatikan iklan di televisi dan 67,3% memperhatikan iklan di surat kabar. Yang menarik, sebanyak 11,8% responden memperhatikan iklan di internet. Surat kabar yang kebanyakan iklan, ternyata lebih separuh atau 59,4 % tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli media tersebut. Namun, 33.3% memang menjadi pertimbangan apakah ia akan membeli media tersebut atau tidak.</p>
<p class="MsoNormal">Jenis iklan yang mendorong pembaca membeli surat kabar antara lain, produk fashion dan kosmetik, otomotif, produk kebutuhan rumah tangga dan makanan, handphone dan aksesorisnya, elektronik, iklan lowongan kerja, properti dan komputer. Hal ini dapat dipahami lantaran survei yang dilakukan LP3ES dan SPS ini dilakukan di 15 kota besar di Indonesia dengan pertimbangan pertumbuhan media cetak relatif dinamis dan menggambarkan gaya hidup kaum urban dan masyarakat perkotaan.</p>
<p class="MsoNormal">Selain data kuantitatif, survei ini juga menyertakan temuan kualitatif melalui wawancara dengan pengelola media dan focus grup discussion dengan berbagai kalangan.<span> </span>Survei tersebut menyatakan, kelangsungan hidup media cetak khususnya surat kabar, masih tetap dipandang secara optimis. Selain animo membaca koran masih tinggi, m<span lang="EN-US">edia cetak masih tetap bisa diharapkan kelangsungan hidup</span><span>n</span><span lang="EN-US">ya,</span><span lang="EN-US"> asal mampu </span>meningkatkan <span lang="EN-US">isi/kualitas berita </span>untuk <span lang="EN-US">menandingi keunggulan media online dan media televis</span>i<span lang="EN-US">.<span> </span></span>Syaratnya adalah, menyajikan berita-berita mendalam (indepth news) berita di balik berita dan investigasi.</p>
<p class="MsoNormal">Berikut ini, beberapa rekomendasi dari LP3ES dan SPS terkait penelitian tersebut. Antara lain, keunggulan media cetak tak tergantikan. <span>M</span><span lang="EN-US">edia cetak </span><span>lokal </span><span lang="EN-US">bisa menjadi “psiko-grafis” masyarakat</span><span>. </span>S<span lang="EN-US">urat kabar mengidentifikasi diri</span>nya<span lang="EN-US"> dengan warga masyar</span>a<span lang="EN-US">kat kota atau daerah tersebut. <span>Media cetak masih tetap berpotensi untuk meyajikan berita-berita yang lebih luas, mendalam dan lengkap</span></span> sebagai keunggulan <span lang="EN-US">media online dan media televisi.<span>Media cetak masih menjadi sarana untuk mengkomunikasikan jati diri si pembaca.</span> <em>”Who you are, it depends on what you read.</em></span><em><span lang="EN-US"> </span></em><span lang="EN-US">Apa yang kau baca itulah dirimu.” <span>Media cetak bisa menjadi sarana lingkungan pergaulan sosial,</span> k</span>arena <em>“</em><em><span lang="EN-US">media is the extention of yourself.</span>”</em><span> </span>A<span lang="EN-US">da dorongan untuk tidak mau lepas dari media cetak</span> sebagai <span lang="EN-US">instrumen untuk mengkomunikasikan siapa sebenarnya dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Soal urgensi kebutuhan kedalaman dan keluasan informasi. <span lang="FI">Tidak semua kebutuhan informasi terpenuhi melalui televisi dan </span><span>media </span><span lang="FI">online.</span><span lang="FI"> Meskipun telah melihat televisi dan mengakses internet, pada saat yang sama </span>orang <span lang="FI">masih terdorong mem</span>baca<span> </span>media cetak <span lang="FI">dengan harapan dapat menggali informasi lebih mendalam.</span><span lang="FI"> </span><span>B</span><span lang="FI">etapapun cepat informasi diwartakan oleh </span><span>televisi ataup</span><span lang="FI">un media on</span><span>-</span><span lang="FI">line, sajian informasinya bersifat instan</span><span>. </span>S<span lang="FI">ehingga tidak berhasil menggambarkan inti informasi</span><span lang="FI"> </span><span lang="FI">apa</span>-<span lang="FI">lagi kejadian yang ada di balik berita atau informasi tersebut</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Respon Media Cetak terhadap Perkembangan Media Online</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Meski pelaku media </span>cetak <span lang="FI">optimi</span>stik<span lang="FI"> bahwa media online belum menjadi ancaman serius dalam waktu dekat, namun <span>kebijakan </span></span><span>bisnis media cetak tak urung di</span><span lang="FI">bayang-bayang ke</span><span>khawatiran </span><span lang="FI">tren penurunan pembaca media cetak</span><span>. </span><span lang="FI">Media cetak melakukan antisipasi dengan kebijakan penerbitan dua versi</span><span>:</span> <span lang="FI"><span> </span>media cetak dan online</span>.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Penerbitan media online umumnya </span><span lang="FI">lebih </span><span>bersifat reaktif, </span><span lang="FI">untuk menyaingi kecepatan pemberitaan berbagai media online yang memang secara sadar menjadikan dirinya sebagai situs berita. </span>K<span lang="FI">ebijakan menebitkan dua versi media,<span> media-online </span></span><span>masih </span><span lang="FI">sekadar sebagai pelengkap saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Strategi Mengintegrasikan Media Cetak dan Online Secara Konseptual</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>S</span><span lang="FI">udah mulai ada strategi untuk mengintegrasikan media cetak dan media online.</span><span lang="FI"> </span><span>Terdapat pula </span><span lang="FI">ta</span><span>-</span><span lang="FI">hap yang lebih maju</span> dengan<span lang="FI"> mengintegrasikan media cetak, online, radio, dan <em>mobile </em></span><em>media</em> <span lang="FI">dalam satu <em>news room operation.</em></span><em><span lang="FI"> </span></em>I<span lang="FI">ntegrasi berbagai jenis media dalam </span>K<span lang="FI">onsep ”Tiga I”</span><span lang="FI"> </span>yakni <em><span lang="FI">Immediate</span></em><em><span lang="FI">, breaking news </span><span lang="FI"><span> </span></span></em><em><span lang="FI">menggunakan saluran radio dan mobile</span> media</em><em><span lang="FI">.<span> </span><span>Interaktif,</span> mengundang partisipasi publik dengan </span>melalui </em><em><span lang="FI">radio dan </span>media </em><em><span lang="FI">online <span>Indepth,</span> </span>m</em><em><span lang="FI">emaksimalkan porsi media cetak. </span>Sejumlah media telah </em><em><span lang="FI">mengembangkan konsep ”Majalah Harian</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><strong>Strategi Memelihara Pembaca Tradisional untuk Sajian Pemberitaan Mendalam</strong></p>
<p class="MsoNormal">Tingginya p<span lang="EN-US">rosentase pembaca </span>yang <span lang="EN-US">memilih surat kabar lokal dibanding nasional</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">mengisyaratkan besarnya pembaca tradisional </span>(pembaca fanatik).<span> <span lang="EN-US">Media cetak perlu ”berurusan” dengan budaya daerah atau lokal,</span></span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">lebih dari sekedar melibatkan aspek kebahasaan semata; </span>tetapi <span lang="EN-US">juga aspek geo</span>-<span lang="EN-US">grafis, psiko-grafis masyarakatnya</span>.<span> </span><span lang="EN-US">T</span>erjadi paradoks: S<span lang="EN-US">urat kabar lokal semakin menjauh dari prio</span>-<span lang="EN-US">ritas untuk mendekatkan diri dengan komunitas lokal yang merupakan pembaca tradisional/fanatik surat kabar</span>. S<span lang="IT">urat kabar lokal ternyata dari sisi isi berita sejatinya merupakan surat kabar </span>“<span lang="IT">nasional</span>”<span lang="IT"> yang berbasis di daerah</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Mempertanyakan Kesungguhan Pemilik Media untuk Menghadapi Persaingan Antar-grup Media secara Benar</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Potensi </span><span>ke</span><span lang="FI">bangkrut</span><span>an</span><span lang="FI"> media lokal bukan akibat maraknya media online sebagai pesaing, </span><span lang="FI">melai</span>n<span lang="FI">kan persaingan tajam di kalangan grup media besar di daerah. </span><span>Pengelola media terjebak pada imagologi</span> untuk membuat media bagus tanpa didukung kesadaran membuat sajian berita mendalam &amp; leng-kap melalui<span lang="EN-US"> jurnalisme riset</span>. <span>K</span><span lang="EN-US">ualitas media profesional </span><span>tidak bisa terjadi jika </span><span lang="EN-US">kesejahteraan</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">wartawan </span><span><span> </span>rendah;</span> <span lang="EN-US">setidaknya pada tingkat standar yang secara paralel mencerminkan kompetensi dan kemampuan profesional wartawan</span>. <span>P</span><span lang="EN-US">engelola kurang memberi prioritas anggaran untuk rekrutmen wartawan yang handal dan profesional.</span><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Begitulah. Dengan presentasi survei ini, setidaknya bisa menjadi cermin bagi pengelola media dan kemana arahnya keinginan pembaca mengarah. ***</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/prilaku-konsumen-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batam Pos yang Terbaik,  Koran Nomor 1  di Kepri</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-yang-terbaik-koran-nomor-1-di-kepri/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-yang-terbaik-koran-nomor-1-di-kepri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 04:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[batampos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[JAKARTA, BP&#8211;Lagi, surat kabar Harian Pagi Batam Pos dinobatkan menjadi koran nomor satu dan paling sering dibaca di Provinsi Kepulauan Riau. Kesimpulan itu diperoleh dari hasil survei Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang dirilis 19 Agustus 2009 di Jakarta.
Studi tentang prilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media massa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">JAKARTA, BP&#8211;Lagi, surat kabar Harian Pagi <em>Batam Pos</em> dinobatkan menjadi koran nomor satu dan paling sering dibaca di Provinsi Kepulauan Riau. Kesimpulan itu diperoleh dari hasil survei Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) yang dirilis 19 Agustus 2009 di Jakarta.<span id="more-274"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Studi tentang prilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media massa tersebut dipaparkan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) SPS. Survei tersebut dilakukan dari tanggal 23 Juni sampai tanggal 29 Juni 2009 dengan jumlah sampel 2.971 responden. Komposisinya, 49,9 persen wanita dan 50,1 persen laki-laki serta 49,5 persen pembaca dewasa dan 50,5 persen pembaca remaja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Direktur Eksekutif Serikat Penerbit Suratkabar, <span> </span>Asmono Wikan menga-takan, dalam survei tersebut, responden dipilih secara acak, distratifikasi tidak proporsional pada masing-masing kota <em>(unproportional stratified random sampling), </em>seimbang secara gender dan kategoris (remaja dan dewasa).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dan kuisioner dengan tingkat kepercayaan 95%, wawancara mendalam serta melalui <em>focus group discussion</em> (FGD). Survei tersebut dilakukan di 15 kota besar di Indonesia yakni di Jakarta, Medan, Pekanbaru, Batam,  Palembang,  Padang, Bandung,  Semarang,  Yogyakarta, Surabaya, Denpasar,  Banjar-masin, Pontianak, Makassar dan Manado. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">’’Survei ini merilis tentang suratkabar paling sering dibaca di masing-masing kota. Di Batam, yang paling sering dibaca adalah <em>Batam Pos</em>,’’ kata Asmono Wikan kepada wartawan koran ini, tadi malam seraya menyebutkan, survei ini menegaskan bahwa media lokal memiliki <em>positioning</em> yang sangat kuat dan menjadi raja di daerahnya,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Dikatakannya, pertanyaan utama kepada responden tentang koran apa yang paling sering Anda baca? Jawabnya adalah <em>Batam Pos</em>. Menurut As-mono, selain menegaskan posisi koran lokal di daerahnya, kegamangan media cetak menghadapi penetrasi internet belum signifikan. Sebab, ternyata sebanyak 67,1% responden mengakses internet di warnet, 19,3 % di rumah dan 7,9% di kantor. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Survei ini juga membuktikan, kendati belanja iklan lebih banyak diraih media elektronik seperti televisi,<span> </span>ternyata surat kabar masih merupakan media yang efektif untuk memasang iklan. Iklan yang diperhatikan responden di televisi 84,2 % sementara di suratkabar mencapai 67,3%. ‘’Artinya, media cetak masih efektif untuk beriklan. Sebab, iklan yang terbit di surat kabar juga dibaca oleh pembaca media cetak,’’ papar Asmono Wikan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Iklan yang menarik perhatian pembaca surat kabar, ternyata adalah iklan produk yang berhubungan dengan gaya hidup masyarakat urban dan perkotaan seperti iklan<span> </span>fashion dan kosmetik (16,1%) iklan otomotif (15,5%) kebutuhan rumah tangga dan makanan (15,3%) handphone dan asesoris (15,1%) elektronik (10,8%), lowongan kerja (6,3%) properti (3,3%)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> Sementara itu, hasil survei Nielsen Media Research yang dirilis pada tahun 2006, <em>Batam Pos</em> merupakan koran dengan pembaca terbanyak atau oplah terbesar di Kepulauan Riau yakni sebanyak 141.000 pembaca. Meleng-kapi survei pembaca ini, survei Nielsen Media Research pada tahun 2007 menyebutkan, <em>Batam Pos</em> merupakan peringkat keempat koran dengan tayangan iklan terbanyak di seluruh Indonesia. Saat itu, Batam Pos menggungguli <em>Riau Pos</em> Pekanbaru dan <em>Analisa</em> Medan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Pemimpin Umum Batam Pos, Socrates mengatakan, dari tiga hasil survei yang dilakukan lembaga yang kompeten menyebutkan, <em>Batam Pos</em> dengan oplah terbesar, tayangan iklan nomor 4 secara nasional dan kali ini merupakan koran yang paling sering dibaca,<span> </span>ini menunjukkan, Batam Pos memiliki kelas tersendiri di mata pembaca dan pemasang iklan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">Seperti diketahui, Nielsen Media Research adalah lembaga survei bertaraf internasional. Sedangkan Lembaga Penelitian, Pendidikan, Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) sebuah lembaga swadaya masyarakat nirlaba dan otonom yang didirikan sekelompok cendekiawan dan aktivis mahasiswa sejak tahun 1971. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN">‘’Kami berterima kasih pada seluruh masyarakat Kepulauan Riau. Kami besar karena pembaca dan pemasang iklan dan selalu ingin menjadi yang terbaik. Teman-teman di seluruh divisi telah bekerja dengan baik. Mereka adalah tim yang luar biasa,’’kata Socrates, senang. <strong>(ara)</strong></span><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-yang-terbaik-koran-nomor-1-di-kepri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukittinggi setelah 12 Tahun</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas tahun?<span id="more-271"></span></p>
<p class="MsoNormal">Saat menjejakkan kaki di Bukittinggi 12 tahun lalu, saya dan beberapa teman ditugaskan merintis perwakilan Riau Pos di Sumatera Barat. Ada Riki di bagian pemasaran, Nila sebagai kapoltir iklan, Aning, Arman dan Santi di pemasaran koran, Junaidi pengantar koran serta Afrimen dan kawan-kawan di beberapa daerah sebagai wartawan. Ada satu karyawan administrasi bernama Eva.</p>
<p class="MsoNormal">Kami menempati sebuah rumah tua –konon dulu pernah jadi rumah sakit—di kawasan Mandiangin. Dua kamar tidur, satu ruangan tengah, dan satu kamar di belakang dan dapur. Dua bulan kemudian, Ade Adran Syahlan bergabung ke Bukittinggi. Kami menjadikan kantor itu sekaligus sebagai tempat tinggal.</p>
<p class="MsoNormal">Rumah tua itu berdebu. Saya dan Riki gotong royong membersihkannya. Semua serba terbatas. Saya tidur di kamar depan menggunakan velbed alias tempat tidur lipat. Dari Pekanbaru yang panas lalu pindah tugas ke Bukittinggi yang dingin, memang bukan perkara gampang. Yang jelas, jadilan saya tidur meringkuk di tempat tidur lipat, lalu paginya memburu berita.</p>
<p class="MsoNormal">Saat itu, sungguh sulit menjelaskan ke narasumber, apa dan bagaimana koran Riau Pos. Sebab, selain koran-koran di Sumatera Barat sudah eksis seperti Haluan dan Singgalang, nama Riau Pos tidak populer dan familiar di telinga orang Minang. Malah, ada yang mengira saya pegawai kantor pos, ha..ha..ha..!</p>
<p class="MsoNormal">Namun, bekerja di Bukittinggi cukup menyenangkan. Meski gaji saya saat itu relatif kecil, tapi cukup karena tak biaya hidup terjangkau. Apalagi, tak perlu bayar kos. Kota ini gudang kuliner dan makan enak. Selain nasi kapau yang terkenal itu, di sebelah kantor kami, ada warga yang berjualan nasi dengan sambal lado teri yang enak dan gurih.</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, hubungan dengan kawan-kawan sekerja akrab dan hangat. Kadang-kadang, kami patungan beli sayur dan lauk, lalu cewek-ceweknya masak-masak dan kami makan beramai-ramai. Dengan wartawan dari media lain, kami juga akrab dan diterima sebagai teman seprofesi. Meski medianya bersaing, hubungan antar wartawan cukup dekat.</p>
<p class="MsoNormal">Ada beberapa kisah yang saya kenang di Bukittinggi. Sekitar empat bulan di Bukittinggi, tiba-tiba saya menerima perintah pindah tugas ke Batam. Namun, saya datang ke kantor Riau Pos di Pekanbaru yang saat itu masih di Jl Kuantan Raya, saya dipanggil bos saya Pak Rida, ke ruangan dekat percetakan. Saya ditanya,’’ kau mau kemana?,’’ tanya Pak Rida. Saya heran, lalu menjawab,’’ Kan katanya mau pindah ke Batam, Pak,’’ jawab saya.</p>
<p class="MsoNormal">Tanpa saya duga, Pak Rida berkata,’’Nggak usahlah kau ke Batam. Kau balik saja ke Bukittinggi dan menjadi Kepala Perwakilan di sana,’’ katanya. Saya tercengang. Padahal, baru sekitar delapan bulan saya menjadi wartawan. Spontan saya berkata,’’ Apa nggak buru-buru mengambil keputusannya, Pak?,’’ kata saya. ‘’Kau coba sajalah. Aku dulu juga nggak tahu soal bisnis surat kabar,’’ katanya. Jadilah saya kembali ke Bukittinggi menjabat sebagai Kepala Perwakilan. Saya jadi malu, karena sebelumnya sempat pamitan dengan kawan-kawan dan kenalan di Bukittinggi.</p>
<p class="MsoNormal">Tidak gampang memasarkan Riau Pos di Sumbar. Selain cetaknya di Pekanbaru, perlu waktu lima jam mengirimnya ke Bukittinggi menggunakan mobil ekspedisi. Supir dan pemilik mobil ekspedisi itu kami panggil Uwo, orang Bangkinang. Tubuhnya tinggi dan gempal, memakai kacamata minus. Kalau koran siap cetak, ia ngebut ke Bukittinggi seperti kesetanan. Padahal, jalan ke Pekanbaru sempit dan penuh tikungan tajam.</p>
<p class="MsoNormal">Suatu hari, saya heran melihat Uwo. Matanya merah dan jalannya limbung. Dia bilang, minta maaf karena sudah tidak tahan lagi. Saya makin heran, maksudnya apa. Uwo lalu pergi ke belakang kantor. Ketika saya ke belakang, saya melihat Uwo duduk di kursi dan tangannya di dengkul. Kepalanya menggeleng-geleng dengan kuat. Matanya terpejam. Di kupingnya, terpasang earphone dari sebuah walk man.</p>
<p class="MsoNormal">Ada apa dengan Uwo? Oalah! Ternyata ia lagi ‘’on’’ setelah menelan pil ekstasi. Jadi, selama di perjalanan, ia menggeleng-geleng sambil menyetel musik keras-keras. Saya lalu menagmbil kamera dan memotretnya. Saya berpikir, kalau saya tulis ulahnya, dia pasti marah. Dan kalau saya biarkan, ia pasti ketagihan. Nah, kalau terus-terusan begitu, bisa-bisa mobilnya masuk jurang dan koran tidak sampai ke pelanggan. Lalu, bagaimana?</p>
<p class="MsoNormal">Saya putuskan tetap menulis. Nama Uwo saya samarkan. Begitu tulisan itu terbit keesokan harinya, si Uwo marah besar. Ia hampir memukul saya. <span> </span>Saya diam saja. Saya bilang, tujuannya baik agar ia tak celaka di jalan.<span> </span>Perkiraan saya benar.<span> </span>Saya mendengar kabar, Uwo pernah menabrak kerbau yang melintasi jalan, menabrak beberapa taksi yang parkir di pinggir jalan,<span> </span>dan pernah masuk jurang. Sekarang, saya tidak pernah bertemu lagi, setelah saya pindah ke Batam.</p>
<p class="MsoNormal">Meski setahun jadi Kepala Perwakilan Riau Pos di Sumbar, kami sempat menjadi tuan rumah rapat Jawa Pos Grup wilayah Barat. Saya bertemu dan ngobrol dengan Pimred Jawa Pos Dimam Abror. Saya juga pernah dikejar-kejar tentara, gara-gara menulis kisah seorang pramuria di kafe bernama Pondok Bambu. Tulisan itu salah kode sehingga senior saya M Siebert juga kena getahnya. Saya salut, ia bertahan tidak memberitahukan identitas saya kepada tentara yang datang menjemputnya jam tiga dinihari.</p>
<p class="MsoNormal">Tak terasa, dua belas tahun sudah saya meninggalkan Bukittinggi. Tak banyak yang berubah, kecuali sudah cukup bersih. Hanya saja, hawanya tidak sedingin dulu. Mungkin karena makin padat dan hutannya berkurang. Jalan-jalan masih saja sempit. Billboard dan papan merek makin bertaburan tak teratur. Saya menginap di hotel Novotel yang sejak dua tahun lalu berganti nama menjadi hotel The Hills.</p>
<p class="MsoNormal">Bagi saya, Bukittinggi masih tetap kota yang saya sukai. Makanannya tetap enak. Mulai dari nasi kapau, emping dadiah, hingga lontong sayur dan serabi. Saat melintasi Jalan A Rivai, saya teringat seseorang. Jalan ini adalah alamat yang selalu jadi tujuan surat-surat yang saya kirimkan kepadanya. Juga seseorang yang tak sanggup melawan kehendak ayahnya ketika ada yang mendekatinya.</p>
<p class="MsoNormal">Jam Gadang, Ngarai Sianok, Nasi kapau, panorama, pasar atas, bawah dan pasar lereng, bendi-bendi yang ditarik kuda, benteng Fort de Kock, jembatan Limpapeh. Jalannya yang berliku dan menurun mendaki serta hawanya yang sejuk. Ah, Bukittinggi memang kota yang menawan&#8230;.</p>
<p class="MsoNormal">Bukittinggi, 24 Juli 2009</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
