Empat Caleg di Satu Komplek
Inilah pekerjaan yang menantang dan menggairahkan: menjadi calon legislatif atau caleg. Namun, gejala pesimis bahkan apatis makin menguat pada masyarakat yang mempunyai hak pilih dan menentukan nasib para caleg itu. Buktinya, mereka yang tidak menggunakan hak pilih alias golput makin besar. Ketika daftar calon sementara diumumkan, publik terkesan biasa-biasa saja.
Kesan biasa-biasa saja, juga tampak di komplek tempat saya tinggal di Taman BPD Indah Batam Centre. Hebatnya, di komplek yang hanya 68 rumah dan enam di antaranya kosong itu, ada empat caleg dari empat partai berbeda. Uniknya lagi, keempat caleg itu berasal dari blok A, B, C dan D. Warga komplek kami, patut bangga.
Dari blok A seorang ibu rumah tangga, yang selama ini aktivitas politiknya kurang kami ketahui selama ini. Dari blok B seorang mantan karyawan bank juga mencalonkan diri. Sedangkan dari blok C seorang dokter kecantikan dan dar blok D seorang wartawan sama-sama menjadi caleg. Jika keempat caleg itu membutuhkan dukungan suara, maka tinggal mendekati warga dari masing-masing blok, he..he..
Begitulah. Saat nama dan foto para caleg diumumkan di koran, warga hanya sekedar ingin tahu, siapa-siapa yang maju jadi caleg. Saya sendiri yang sudah sebelas tahun menjadi warga Batam, sebagian besar tidak saya kenal. Malah, koran yang mengumumkan nama dan foto para caleg itu, terbit sangat terlambat jam tiga sore, karena harus menambah 20 halaman dari biasanya, harus hati-hati jangan sampai nama dan partainya salah dan seterusnya.
Sikap apatis dan cuek warga terhadap para caleg cukup beralasan. Mereka yang katanya mewakili rakyat, asyik dengan dirinya sendiri. Seperti orang autis, yang tidak perduli dengan orang lain, dan memiliki dunia sendiri. Berbagai kritikan, kecaman dan sikap sinis dari orang yang sudah memilih mereka, dianggap angin lalu. Wakil rakyat seperti tuli dan menganggap sepi keluhan publik.
Lihatlah, mereka tetap pergi pelesiran dengan dalih studi banding dan menghamburkan uang negara. Paling tidak alasan kunjungan kerja sehingga bisa menggarap SPPD dan dapat uang jalan. Namun, ketika tarif air naik, tarif listrik naik, wakil rakyat langsung mengangguk setuju. Kebusukan itu mulai tercium saat ada yang mengaku menerima suap. Tak mungkin yang menerima satu orang.
Alih-alih memberi warna pada perpolitikan di daerah ini dan parlemen, mereka malah terjerambab pada status sosial yang lebih tinggi dan sulit melihat dari kaca mata masyarakat yang diwakilinya, dan terjebak pada arus utama yang berpusat pada satu poros: kekuasaan dan uang.
Ada anggota legislatif yang meminta ruko sampai tiga kali. Saat ketahuan, ia dengan mudah bilang, keseleo lidah. Ada pula yang hobi dugem, nyeleneh dan saat bertemu di diskotik, ia mengatakan, inilah konstituen saya, sambil tertawa-tawa. Ada pula yang menjadikan perusahaan publik yang harus berurusan dengan mereka saat menaikkan tarif, sementara karyawannya dipenjara karena korupsi miliaran, sebagai ATM-nya.
Belum lagi kasus korupsi yang melibatkan anggota legislatif, makin membuka mata publik terhadap ulah dan prilaku mereka yang disapa yang terhormat ini. Dagelan politik yang mereka mainkan, hanya keserakahan, kerakusan dan ketamakan akan uang dan fasilitas. Inilah yang menjadi magnet menjadi caleg. Tempat yang basah untuk menggerogoti uang negara, jalan pintas memperkaya diri. Pantaslah menjadi anggota dewan menjadi incaran petualang politik dan politisi busuk.
Mereka maju menjadi caleg bukan tanpa modal. Maksudnya modal uang. Seorang caleg yang maju di daerah pemilihan gemuk dengan nomor urut satu kepada saya mengatakan, ia sudah setor Rp50 juta. Belum lagi biaya yang dibutuhkan untuk kampanye yang sudah jalan beberapa bulan ini. Tentu saja, hukum ekonomi berlaku. Kalau modalnya Rp50 juta, berapa lama akan balik modal, berapa kali lipat keuntungan yang akan didapat?
Sikap apatis masyarakat harus disadarkan dengan fakta, kalau mereka tidak memilih, para petualang politik itu akan dengan mudah melenggang meraih kursi anggota dewan. Memang, menjadi golput adalah, mereka memilih untuk tidak memilih. Tapi, harus siap-siap merana sampai mereka turun dari gelanggang politik. Membiarkan hak pilih kita hilang, berarti memberi kesempatan pada mereka yang nama dan fotonya sudah terpampang di daftar calon sementara, untuk menjadi wakil kita. Padahal, sebagai wakil, kitalah ketuanya. ***
Comments
4 Responses to “Empat Caleg di Satu Komplek”
Leave a Reply



Salam,
Pertama-tama sy ucapkan terimakasih bisa masuk ke ‘Site’ anda, karena sy cukup mengenal anda dari tulisan2 & berita2 anda di kota Batam.
Sy adalah warga batam biasa yg sesungguhnya sangat banyak tahu (hm…atau “sok tahu”) ttg apa yg terjadi di kota tercinta kita Batam ini.
Sy sangat setuju dgn ulasan anda ttg sikap apatis dan cuek warga dgn para caleg yg bermunculan…. apalagi anda memisalkan bak seorang autis yg asyik sendiri memikirkan diri sendiri padahal notabene ia menamakan wakil rakyat… sy sngat merasa geli dan tergelitik memikirkan permisalan anda “autis” tsb, tapi lama kelamaan sy menangkap permisalan tsb dan… nyatanya memang demikian adanya… walau mungkin tidak semua demikian, tapi mungkin hampir semuanya ya….??!!
Sy salut dgn adanya para caleg di lingkungan perumahan anda, yg bila dilihat dr jumlah rumah, termasuk perumahan yg cukup kecil (4 caleg dari 62rumah huni). Tp menunjukkan bhw perumahan itu dihuni oleh org-org intelektual dan kaya (krn utk jadi caleg perlu dana cukup besar (utk ukuran masyarakat biasa)).
Kembali ke masalah para caleg yg membuat para warga menjadi ‘autis’, kebetulan sy pribadi mengenal/tahu betul dgn salah seorang dari ke-4 caleg yg sdh anda sebutkan.
Dia adalah seorang dr wanita eeh…. perempuan, yg sepintas lalu layaknya seperti seorang aktivis diberbagai bidang yg juga seorang pebisnis handal, yg kelak akan menjadi seorang legislatip yg pantas dan handal….
Nah….. sekarang anda sy ajak utk berfikir dan sedikit menghitung-hitung, ….maaf, mdh2an anda bisa meluangkan waktu terus membaca tulisan sy ini, krn sy tahu anda org sibuk…. tapi, sy percaya akan peribahasa ‘hanya org sibuk yg memiliki waktu, krn hanya org sibuklah yg pandai memanage waktu’. Betul khan?
Skrang, dkter perempuan itu, kita sebut saja dr.V. Adalah dr umum, tidak spesialis dan bukan dokter kecantikan yg seperti anda istilahkan. Karena bila kualifikasi dokter kecantikan haruslah ia melalui jenjang spesialisasi kedokteran yg memungkinkan, seperti: spesialis kulit.
dr.V melakukan kegiatan bidang kecantikan hanya berlaku sebagai referal dari beberapa produk skin-care dari batam, jakarta dan bandung, dengan modal mengikuti simposium komersial dari produk referal tsb. Siapapun bisa selain seorang dokter.
Melihat dari finansial dr.V sampai bisa mempunyai rumah megah, banyak mobil dan so pasti… akses dan uang untuk ke jenjang caleg…. dari mana ya?
1)
dari hasil praktek kedokterannya?
dr.V tidak memiliki2 tempat praktek mandiri yg ramai pasiennya, dr.V hanya berpraktek dgn berbagi-hasil di salah satu apotik di nagoya.
jawabnya: tidak mungkin!
2)
Klinik kesehatan?
jawabnya: meragukan! krn kliniknya baru dgn angka kunjungan sedikit
3)
dari gaji wajib Depkes, tunjangan dan bonus2 ?
jawabnya: Tak mungkin!
4)
dari back-up suami atau keluarga?
jawabnya: Imposible, justru dia tulang punggung keluarga dan rumah tangganya (krn suaminya hanya karyawan sebuah pers.asuransi)
5)
dari bussines (yg tampak)?
- klinik skin-care baloi? jawabnya: sangat tidak mungkin, malah ini bisnis ‘besar pasak drpd tiang’. Investasi tempat, alat2, bahan2, obat. tidak sesuai dgn kunjungan custemer. Mnurut hitungan saya entah kapan break event-nya…
6)
- bussines lainnya? yang tampak, tak ada yg berarti. Jawabnya: tidak mungkin juga.
Jadi, dari mana gerangan?
Inilah persoalannya yg memungkinkan bisa menjawab! dengan asumsi secara proporsional seorang caleg, dgn latar belakang kepribadian & cara yg tidak terpuji dan kotor.
Inilah ceritanya sang caleg dr.V (yg lebih parah lagi partai yg diusung berbasis Agama Islam… yg konon menjunjung tinggi ahlak tinggi!)
=)
Selama 4 thn, ia telah menyalahgunakan kewenangan dokter untuk kepentingan pribadi/uang.
Dengan menyalurkan/memberikan obat tidak pada semestinya. Salah satunya adalah Subutex*)
Sejak negara tetangga Singapore dan Malaysia melarang penggunaan obat jenis ini, harga pasaran disini melambung. Harga pasaran mulai dari Rp.100rb – 175rb Untuk konsumen junkies lokal cukup terjangkau, begitu juga untuk demand negara tetangga.
Bisa anda bayangkan, selama itu bisa memasarkan dengan harga itu, sedangkan harga loconya sekitar 20-30 ribuan saja! Dalam seminggu bisa melepas sampai 2.000an butir mungkin lebih!!!
Bisa anda bayangkan benefit yg diperoleh? Tentu saja dia masih harus berbagi dengan kawan clan lainnya, pemilik modal, aparat2 terkait, LSM, ormas & back-up.
Ttg back-up/backing ada baiknya juga sy ceritakan: seorang polisi lulusan akpol (inisial Berlnd) saat itu berpangkat strip-tiga (mungkin skarang sudah bunga-satu)yg konon antara dr.V dgn Berlnd terjadi cinlok alias cinta-lokasi (hahahaaaa…. sperti artis saja ya….) yg mana mrk sering ke jkrta, bndung, s’pore dll berduaan…. sampe-sampe katanya sich ini berdampak pada rumah tangga masing2, dan entah bgmn ahir episoda cintanya ini….
Sesungguhnya bisnisnya ini tidak secantik dan semulus yg nampak, 2 thn lalu pernah terjadi kributan sampai tindak kekerasan pemukulan dr para tukang pukul dr.V pada seseorang yg hampir bisa mencuat, tapi, saat itu muncul disebut dr.v terlibat di berita tv lokal, tapi tidak berlanjut… karena ceritanya keributan itu hanya masalah sepeda motor pembantu….. hmmmm, klise!
Yaaaah….. sementara ini yg bisa sy ceritakan, sebetulnya masih ada beberapa item yg bisa disampaikan, tapi inipun sdh sngat melelahkan….
Sy menulis ini sesungguhnya tidak memberi suatu advantage sedikitpun bg sy, hanya sekedar simply–chat yg entah ada gunanya atau tak ada gunanya. Minimal bisa memberi manfaat tentang opini tentang warga kota & bahkan bangsa ini selalu saja dipenuhi hal-hal yg sumbang semacam ini.
oh ya….. sesungguhnya sy secara pribadi mengapa begitu energize menceritakan dr.V ini memang pernah merasa sedikit kecewa. Bermula, Sy adalah seorang pasien yg menjalani rehabilitasi adiksi dengan menggunakan Subutex, rekomendasi sy sbg pasien lengkap serta rujukannya, yg ber-sungguh2 ingin sembuh. Pada awalnya progres saya baik, tapi setelah dr.V tergoda jalan ilegal itu, sy dan bbrp rekan2 lain yg sungguh2 mulai tidak ter-care dengan benar, pemberian obat diwakilkan ke karyawannya malah kadang barang untuk kami kosong, terpaksa sy harus beli ke pengedar yg tentu lebih mahal,padahan sy tahu untuk ke para pengedar dan untuk ke para courier s’pore & malay tak pernah berhenti.
Tapi sy bersyukur, sy bisa cukup berhasil menyelesaikan rehab tsb, sehingga sy menginginkan pola hidup seperti orang lain pada umumnya….. kadang-kadang sih masih suka mengulangi, karena sejujurnya utk meghentikan scra total masih sanagat sulit. itupun sekali-kali dengan barang yg tidak mengakibatkan sakaw & adict permanen.
Demikian tulisan saya.
Terima kasih
Mar2.
________________________________________
*)Subutex adalah merek dagang yg sah yg hanya dipergunakan untuk rehabilitasi para addicsi/kecanduan akut narkotika, yg diberikan secara disiplin (seharusnya) kpd seorang pasien yg telah direkomendasi dokter atau BNN (Badan Narkotika) maksimal 1 butir perhari diminum di muka pemberinya/dr, sampai kurun waktu tertentu (bisa berbulan-bulan tergantung case) sampai pasian ada kemajuan hingga tuntas non-adict.
Sesuai perkembangannya, obat atau ‘barang’ ini oleh para junkies/pecandu justru dipergunakan bukan untuk berobat non-adict, tapi dengan meramu dgn barang/bahan lainnya dengan perbandingan tertentu bisa jadi barang yg sama efeknya/in trance dgn ‘barang’ lainnya, seperti putaw dan shabu. Malah Subutex ini ‘barang’ yg aman, malah dalam keadaan in-trance pun, efek ini tidak terdeteksi dengan test-urine.
Salam,
Pertama-tama sy ucapkan terimakasih bisa masuk ke ‘Site’ anda, karena sy cukup mengenal anda dari tulisan2 & berita2 anda di kota Batam.
Sy adalah warga batam biasa yg sesungguhnya sangat banyak tahu (hm…atau “sok tahu”) ttg apa yg terjadi di kota tercinta kita Batam ini.
Sy sangat setuju dgn ulasan anda ttg sikap apatis dan cuek warga dgn para caleg yg bermunculan…. apalagi anda memisalkan bak seorang autis yg asyik sendiri memikirkan diri sendiri padahal notabene ia menamakan wakil rakyat… sy sngat merasa geli dan tergelitik memikirkan permisalan anda “autis” tsb, tapi lama kelamaan sy menangkap permisalan tsb dan… nyatanya memang demikian adanya… walau mungkin tidak semua demikian, tapi mungkin hampir semuanya ya….??!!
Sy salut dgn adanya para caleg di lingkungan perumahan anda, yg bila dilihat dr jumlah rumah, termasuk perumahan yg cukup kecil (4 caleg dari 62rumah huni). Tp menunjukkan bhw perumahan itu dihuni oleh org-org intelektual dan kaya (krn utk jadi caleg perlu dana cukup besar (utk ukuran masyarakat biasa)).
Kembali ke masalah para caleg yg membuat para warga menjadi ‘autis’, kebetulan sy pribadi mengenal/tahu betul dgn salah seorang dari ke-4 caleg yg sdh anda sebutkan.
Dia adalah seorang dr wanita eeh…. perempuan, yg sepintas lalu layaknya seperti seorang aktivis diberbagai bidang yg juga seorang pebisnis handal, yg kelak akan menjadi seorang legislatip yg pantas dan handal….
Nah….. sekarang anda sy ajak utk berfikir dan sedikit menghitung-hitung, ….maaf, mdh2an anda bisa meluangkan waktu terus membaca tulisan sy ini, krn sy tahu anda org sibuk…. tapi, sy percaya akan peribahasa ‘hanya org sibuk yg memiliki waktu, krn hanya org sibuklah yg pandai memanage waktu’. Betul khan?
Skrang, dkter perempuan itu, kita sebut saja dr.V. Adalah dr umum, tidak spesialis dan bukan dokter kecantikan yg seperti anda istilahkan. Karena bila kualifikasi dokter kecantikan haruslah ia melalui jenjang spesialisasi kedokteran yg memungkinkan, seperti: spesialis kulit.
dr.V melakukan kegiatan bidang kecantikan hanya berlaku sebagai referal dari beberapa produk skin-care dari batam, jakarta dan bandung, dengan modal mengikuti simposium komersial dari produk referal tsb. Siapapun bisa selain seorang dokter.
Melihat dari finansial dr.V sampai bisa mempunyai rumah megah, banyak mobil dan so pasti… akses dan uang untuk ke jenjang caleg…. dari mana ya?
1)
dari hasil praktek kedokterannya?
dr.V tidak memiliki2 tempat praktek mandiri yg ramai pasiennya, dr.V hanya berpraktek dgn berbagi-hasil di salah satu apotik di nagoya.
jawabnya: tidak mungkin!
2)
Klinik kesehatan?
jawabnya: meragukan! krn kliniknya baru dgn angka kunjungan sedikit
3)
dari gaji wajib Depkes, tunjangan dan bonus2 ?
jawabnya: Tak mungkin!
4)
dari back-up suami atau keluarga?
jawabnya: Imposible, justru dia tulang punggung keluarga dan rumah tangganya (krn suaminya hanya karyawan sebuah pers.asuransi)
5)
dari bussines (yg tampak)?
- klinik skin-care baloi? jawabnya: sangat tidak mungkin, malah ini bisnis ‘besar pasak drpd tiang’. Investasi tempat, alat2, bahan2, obat. tidak sesuai dgn kunjungan custemer. Mnurut hitungan saya entah kapan break event-nya…
6)
- bussines lainnya? yang tampak, tak ada yg berarti. Jawabnya: tidak mungkin juga.
Jadi, dari mana gerangan?
Inilah persoalannya yg memungkinkan bisa menjawab! dengan asumsi secara proporsional seorang caleg, dgn latar belakang kepribadian & cara yg tidak terpuji dan kotor.
Inilah ceritanya sang caleg dr.V (yg lebih parah lagi partai yg diusung berbasis Agama Islam… yg konon menjunjung tinggi ahlak tinggi!)
=)
Selama 4 thn, ia telah menyalahgunakan kewenangan dokter untuk kepentingan pribadi/uang.
Dengan menyalurkan/memberikan obat tidak pada semestinya. Salah satunya adalah Subutex*)
Sejak negara tetangga Singapore dan Malaysia melarang penggunaan obat jenis ini, harga pasaran disini melambung. Harga pasaran mulai dari Rp.100rb – 175rb Untuk konsumen junkies lokal cukup terjangkau, begitu juga untuk demand negara tetangga.
Bisa anda bayangkan, selama itu bisa memasarkan dengan harga itu, sedangkan harga loconya sekitar 20-30 ribuan saja! Dalam seminggu bisa melepas sampai 2.000an butir mungkin lebih!!!
Bisa anda bayangkan benefit yg diperoleh? Tentu saja dia masih harus berbagi dengan kawan clan lainnya, pemilik modal, aparat2 terkait, LSM, ormas & back-up.
Ttg back-up/backing ada baiknya juga sy ceritakan: seorang polisi lulusan akpol (inisial Berlnd) saat itu berpangkat strip-tiga (mungkin skarang sudah bunga-satu)yg konon antara dr.V dgn Berlnd terjadi cinlok alias cinta-lokasi (hahahaaaa…. sperti artis saja ya….) yg mana mrk sering ke jkrta, bndung, s’pore dll berduaan…. sampe-sampe katanya sich ini berdampak pada rumah tangga masing2, dan entah bgmn ahir episoda cintanya ini….
Sesungguhnya bisnisnya ini tidak secantik dan semulus yg nampak, 2 thn lalu pernah terjadi kributan sampai tindak kekerasan pemukulan dr para tukang pukul dr.V pada seseorang yg hampir bisa mencuat, tapi, saat itu muncul disebut dr.v terlibat di berita tv lokal, tapi tidak berlanjut… karena ceritanya keributan itu hanya masalah sepeda motor pembantu….. hmmmm, klise!
Yaaaah….. sementara ini yg bisa sy ceritakan, sebetulnya masih ada beberapa item yg bisa disampaikan, tapi inipun sdh sngat melelahkan….
Sy menulis ini sesungguhnya tidak memberi suatu advantage sedikitpun bg sy, hanya sekedar simply–chat yg entah ada gunanya atau tak ada gunanya. Minimal bisa memberi manfaat tentang opini tentang warga kota & bahkan bangsa ini selalu saja dipenuhi hal-hal yg sumbang semacam ini.
oh ya….. sesungguhnya sy secara pribadi mengapa begitu energize menceritakan dr.V ini memang pernah merasa sedikit kecewa. Bermula, Sy adalah seorang pasien yg menjalani rehabilitasi adiksi dengan menggunakan Subutex, rekomendasi sy sbg pasien lengkap serta rujukannya, yg ber-sungguh2 ingin sembuh. Pada awalnya progres saya baik, tapi setelah dr.V tergoda jalan ilegal itu, sy dan bbrp rekan2 lain yg sungguh2 mulai tidak ter-care dengan benar, pemberian obat diwakilkan ke karyawannya malah kadang barang untuk kami kosong, terpaksa sy harus beli ke pengedar yg tentu lebih mahal,padahan sy tahu untuk ke para pengedar dan untuk ke para courier s’pore & malay tak pernah berhenti.
Tapi sy bersyukur, sy bisa cukup berhasil menyelesaikan rehab tsb, sehingga sy menginginkan pola hidup seperti orang lain pada umumnya….. kadang-kadang sih masih suka mengulangi, karena sejujurnya utk meghentikan scra total masih sanagat sulit. itupun sekali-kali dengan barang yg tidak mengakibatkan sakaw & adict permanen.
Demikian tulisan saya.
Terima kasih
Mar2.
________________________________________
*)Subutex adalah merek dagang yg sah yg hanya dipergunakan untuk rehabilitasi para addicsi/kecanduan akut narkotika, yg diberikan secara disiplin (seharusnya) kpd seorang pasien yg telah direkomendasi dokter atau BNN (Badan Narkotika) maksimal 1 butir perhari diminum di muka pemberinya/dr, sampai kurun waktu tertentu (bisa berbulan-bulan tergantung case) sampai pasian ada kemajuan hingga tuntas non-adict.
Sesuai perkembangannya, obat atau ‘barang’ ini oleh para junkies/pecandu justru dipergunakan bukan untuk berobat non-adict, tapi dengan meramu dgn barang/bahan lainnya dengan perbandingan tertentu bisa jadi barang yg sama efeknya/in trance dgn ‘barang’ lainnya, seperti putaw dan shabu. Malah Subutex ini ‘barang’ yg aman, malah dalam keadaan in-trance pun, efek ini tidak terdeteksi dengan test-urine.
bapak socrates,demokrasi kita sekarang hanya utk mementingkan diri sendiri,yang kaya makin kaya saja,kepentingan masyarakat kecil tidak ada,di perhatikan.makasih utk artikelnya,salam sukses.
5 MUSUH RAKYAT :
1. penjajahan modal asing
2. pemerintahan boneka penjajah(pemerintahan seperti zaman soeharto sampai zaman SBY)
3. sisa orde baru (cth : golkar dan turunanny)
4. tentara (anjing penjaga modal,mreka antek birokrat,mereka dididik/didoktrin untuk mnjalankan perintah pemerintahan yg berkuasa dgn kata lain memusuhi rakyat,karena pemerintahan sekarang tdak ada yg berpihak pada rakyat)
5. reformis gadungan(para caleg,,para capres baik tingkat nasional dan daerah,,contoh,,prabowo,,amien rais,,surya paloh,,dsb)
5 KEKUATAN RAKYAT :
1.organisasi radikal revolusioer dan penyatuan perjuangan rakyat
2. keterlibatan langsung rakyat dalam demokrasi
3. pemerintahan rakyat miskin
4. Ilmu pengetahuan,teknologi,dan SDA berkelanjutan
5. manusia yang sehat,produktif,merdeka,melawan,dan bersolidaritas
buat masyarakat,,jangan pernah percaya pada parpol busuk,elit politik busuk,,mereka hanyalah semu,,PERCAYALAH!!!
JANGAN mencoblos,,lebih baik golput,,dan jalankan 5 kekuatan rakyat!!