Dari Rida Award, Dahlan Iskan Award ke Adinegoro
Sungguh, saya bangga dengan prestasi kawan-kawan di Batam Pos. Dan itu terjadi saat saya menjadi pemimpin di surat kabar tersebut. Paling tidak, saya bisa mendorong mereka menuai prestasi sehingga seluruh karyawan kecipratan bangganya.
Tiga tahun lalu, tak terbayang kawan-kawan bisa sehebat ini. Namun, Imanuel Sebayang dan Iman Wahyudi dua fotografer Batam Pos, ternyata sudah masuk nominasi di Salon Foto Indonesia 2005. Untuk karya foto jurnalistik, juaranya dua dari Batam Pos dan dua dari Jawa Pos.
Saya senang ketika Imanuel senang sekali ketika prestasinya itu saya pasangkan iklan di koran. Tidak apa, agar mereka lebih termotivasi meraih prestasi, pikir saya. Harapan saya terkabul. Satu demi satu prestasi bergengsi diraih dan menaikkan citra Batam Pos sebagai media kelas satu.
Beberapa prestasi di tingkat lokal pun diterima pada tahun 2007. Antara lain, juara satu lomba foto dan tulisan yang diadakan PLN Batam yang direbut Iman Wahyudi dan Imanuel mendapat penghargaan Lomba Foto Konstruksi Indonesia dengan obyek jembatan Barelang. Dan juara satu lomba foto Rida Award 2007.
Pada tahun 2008, prestasi kawan-kawan makin mencorong. Yusuf yang sebelumnya juara Rida Award yang diikuti belasan media di Riau Pos Grup, digeser Iman Wahyudi menjadi juara satu. Namun, Yusuf juara satu pada lomba foto Telkomsel. Lomba tulisan, secara mengejutkan dimenangkan Robby Patria, juga dari Batam Pos.
Menang lomba Rida Award saja (saya pernah jadi nominator tahun 2007) Ssaja sudah hebat. Sebab, lomba ini diikuti teman-teman dari 13 surat kabar di lima provinsi, Riau, Sumbar, Aceh, Sumut dan Kepri. Lomba yang digelar Telkomsel juga tingkat regional.
Pada tahun 2008, Muhammad Iqbal untuk pertama kali memenangkan Dahlan Iskan Award. Bayangkan, lomba ini diikuti oleh lebih 80 media di Jawa Pos Grup. Dan Iqbal, wartawan berkaca minus yang matanya harus dekat sekali ke komputer agar bisa membaca itu, memenangkannya.
Saya senang membaca tulisan Iqbal. Ia menulis mengalir dan runtun. Mungkin ia terpengaruh dengan majalah Tempo yang mengusung slogan, enak dibaca dan perlu. Tulisannya tentang pernikahan beda bangsa yang sering terjadi di Batam keluar sebagai juara.
Namun, kemenangan itu, meski kawan-kawan sudah merebut yang terbaik di Riau Pos Grup dan Jawa Pos Grup, mungkin bagi orang luar dianggap biasa-biasa saja. Sebab, ini kan perlombaan dalam satu grup. Nah, ketika Muhammad Nur merebut juara Adinegoro, saya mengatakan, ini bukti bahwa teman-teman di Batam Pos memang pantas jadi yang terbaik.
Saya menerima surat pemberitahuan lomba Adinegoro dari PWI Pusat karena saat itu saya masih menjabat ketua PWI Cabang Kepri. Surat itu dicopy, lalu saya serahkan kepada Amri Sekretaris PWI agar disebarluaskan kepada kawan-kawan di media lain. Untuk Batam Pos, saya langsung memberikan kepada Iqbal karena ia adalah koordinator liputan.
Ternyata, Nur mengukir sejarah. Untuk pertama kalinya, tidak hanya Batam Pos, juga seluruh wartawan dari Kepulauan Riau, menggondol supremasi tertinggi dari organisasi wartawan terbesar di Indonesia: Adinegoro 2008. Kabar ini saya terima dari Pimpinan Redaksi Batam Pos Hasan Aspahani yang menyampaikan dengan riang.
Orang yang pertama saya kabari adalah Pak Rida K Liamsi. Oh, ya? Hebat. Sampaikan ucapan selamat dari saya ya. Begitu SMS-nya. Lalu disusul pesan agar tulisan tersebut dikirim ke seluruh anak perusahaan dan grup Jawa Pos sebagai acuan penulisan. Lalu, SMS dari Pak Zainal Muttaqin, Wadirut Jawa Pos. Alhamdulillah, semoga disusul prestasi hebat lainnya oleh saudara-saudara kita di Batam Pos.
Ucapan selamat melalui SMS berkiriman. Dari mantan Ketua Umum PWI Pusat Tarman Azzam juga menulis. Wah, Batam Pos hebat. Juga Guntur Sakti, mantan humas Pemko yang memuji. Ketua Otorita Batam Mustafa Wijaya malah langsung menelepon saya. ’’Wah, selamat ya. Ini penghargaan tertinggi untuk wartawan secara nasional. Saya menyampaikan apresiasi untuk Nur dan Batam Pos,’’ katanya. Hebatnya pula, Pak Mustafa langsung order pasang iklan, ha..ha…
Prestasi yang diraih Batam Pos tidak hanya itu. Pada tahun 2007, pertumbuhan usahanya nomor satu. Pada tahun 2008 juga mendapat penghargaan perusahaan dengan kinerja terbaik. Juga nomor satu sebagai perusahaan yang menerapkan Coorporate Social Responsibility (CSR) yang membagikan 17 kursi roda untuk anak lumpuh layu bersama Yayasan Maria Monique, pada ulang tahun Batam Pos ke sepuluh tanggal 10 Agustus 2008 lalu.
Ya, lengkap sudah. Tapi, semoga ini tidak membuat kami jumawa dan besar kepala. Apalagi cepat puas. Ketika Hendri Anak Rahman, ketua KPU Batam yang juga mantan wartawan itu menyalami saya memberi selamat, saya berkata,’’ Ya, setelah ini mudah-mudahan kami dapat Pulitzer,’’ kata saya. Ia tertawa. Tapi, siapa tahu dan mengapa tidak? ****
Comments
2 Responses to “Dari Rida Award, Dahlan Iskan Award ke Adinegoro”
Leave a Reply



Thank you!
okey bang