Cerita tentang Petrus
Namanya Petrus Setet. Asal Flores, Nusa Tenggara Timur. Ia merantau ke Batam, setelah sempat bekerja di Malaysia. Saya mengenalnya ketika ia menjadi sekuriti di kompleks perumahan kami. Badannya kecil dan berkulit gelap, tapi lincah. Saban malam ia bertemu saya ketika tugas jaga.
Kadang saya belikan kopi dan rokok karena harus jaga malam. Apalagi, pos keamanan hanya beberapa meter di depan rumah saya, persis di jalan mendaki pintu masuk ke kompleks perumahan Taman BePeDe Indah. Lantaran sering ngobrol, kadang ia mengeluh lantaran gajinya kecil, saya berpikir, bagaimana bisa membantunya?
Kebetulan, di depan rumah saya, ada tanah kosong berupa lereng bukit yang kosong dan ditumbuhi ilalang. Panjangnya sekitar 110 meter, dan sudah ditata bertingkat, hingga ke pinggir jalan yang dibatasi parit selebar dua meter. Saya ingin berkebun disitu, menanam apa saja agar menjadi teduh dan rindang.
‘’Kau mau berkebun?,’’ kata saya kepada Petrus. Ternyata, dia mau. Maksud saya, kalau dia bantu saya berkebun, dan bunga serta tanamannya bisa dijual, mungkin bisa membantu Petrus. Jadi, setiap bulan ia menerima gaji sebagai sekuritim dan dapat tambahan sebagai tukang kebun.
Sejak tahun 2007, jadilah Petrus tukang kebun saya. Kami mulai menata taman, menanam pohon, bunga serta rumput. Yang penting jadi hijau. Tapi, sulitnya minta ampun. Sebab, selalin banyak sekali ilalang dan rumput liar, tanahnya pun berbatu dan mengandung bauksit sehingga sulit tanaman jadi subur.
Pelan-pelan, kebun itu mulai terbentuk. Telapak tangan saya jadi kasar dan keras. Kulitpun makin menghitam. Ini lantaran saya suka bercelana pendek dan berkaos oblong. Saya membuat jembata kayu dan gazebo. Kalau keluar kota, saya mulai berburu bunga. Beli bibirnya, masukkan kardus dan bawa ke Batam.
Petrus saya belikan buku-buku tentang penataan taman, teknik membonsai serta pemupukan dan perawatan tanaman. Kadang saya ajak mengintip taman-taman yang indah di berbagai penjuru dunia melalui internet. Ia terkagum-kagum, kok bisa semua ada di internet. Hehehehe…
Pelan tapi pasti, mulai ada yang membeli bunga. Apalagi, saya membuat green house untuk tanaman yang tidak tahan panas matahari. Petrus orang yang tekun, dan mau bekerja keras. Ia juga mau belajar. Apalagi, ia tamat SMA. Cuma, entah kenapa, banyak warga Flores yang memilih jadi sekuriti. Dari bergaji Rp300 ribu, tiap tahun saya naikkan gajinya, hingga di atas Upah Minimum Kota (UMK). Kadang saya ngobrol sambil ngopi dengan Petrus. Beberapa kali, saya mampir ke rumahnya, di rumah liar di atas tebing yang hampir longsor.
Saat mulai bekerja, Petrus punya anak satu. Kini, anaknya tiga orang. Satu cowok dan dua cewek. Istrinya orang Medan kelahiran Aceh. Ia memilih tidak kawin dengan orang sekampungnya. ‘’Susah, bos. Kalau kawin di Flores, mas kawinnya gading gajah dan harganya Rp 25 juta,’’ katanya kepada saya.
Permah suatu hari, Petrus sakit. Saya menduga, ia kecapean karena harus jaga malam dan berkebun siang harinya. Petrus lalu saya berhentikan karena mengganggu tugasnya sebagai sekuriti. Lalu, setelah itu ia datang kepada saya, meminta agar bekerja penuh sebagai tukang kebun lantaran ia tak sanggup lagi jaga malam.
Petrus cepat belajar soal tanaman. Mulai dari harga, pembibitan dan sebagainya. Tapi, yang bikin jengkel, ia sering ragu-ragu mengerjakan sesuatu, menunggu diperintah dulu. Yang jelas, ia jadi lebih sehat dan badannya kekar karena berkebun serta jarang sakit. Pada tahun 2009, pendapatan kebun cukup lumayan. Selain bisa membayar gajinya yang tiap tahun saya naikkan, juga bisa membeli peralatan berkebun, pot dan pupuk. Tapi, dua tahun terakhir, pendapatan menurun drastis dan saya nombok bayar gajinya tiap bulan.
Sebagai orang pertama yang ikut saya mengelola kebun itu, Petrus tiga kali saya carikan anak buah. Pertama, Viktor yang juga asal Flores. Namun, lama-lama ia seperti iri lantaran gaji Petrus jauh lebih besar. Viktor merangkap sekuriti dan hanya bertahan sekitar 3 bulan bekerja di kebun. Setelah itu, ada Johanes yang jauh lebih tangkas. Ia juga berhenti lantaran diterima bekerja sebagai sekuriti di sebuah resort. Dan yang terakhir Khairul, ustad yang membantu-bantu berkebun setengah hari.
Setelah tiga tahun bekerja, suatu hari Petrus bilang, ia mau cuti. Lamanya sebulan. Saya kaget, kok selama itu? ‘’Kampung saya jauh, bos. Kalau naik kapal, delapan hari baru sampai,’’ katanya. Alamak! Kalau naik kapal, ia harus menyeberang ke Tanjungpinang, naik kapal dari pelabuhan Kijang. Kapal akan melewati rute Tanjungpriok, Jakarta terus ke Semarang, lalu ke Batulicin Kalimantan, terus ke Sulawesi dan terus ke Nusa Tenggara Timur.
Saya coba cari tiket di internet. Memang agak lebih mahal, tapi rasanya sama saja kalau naik kapal selama delapan hari. Meski tampak segan, akhirnya Petrus setuju naik pesawat. Pada hari keberangkatan, saya antar ia ke bandara. Bagasinya banyak sekali. Oleh-oleh buat sanak saudaranya di kampung. Saya mengantar sampai ke dalam bandara, karena saya punya pas masuk bandara.
Ternyata, bagasinya kelebihan. Saya harus membayar Rp300 ribu untuk biaya tambahan, lalu saya temani ia masuk ke ruang tunggu keberangkatan. ‘’Kalau kau bingung, sampai di Jakarta, telepon aku sebelum transit,’’ pesan saya. Petrus naik Batavia Air. Ternyata, ia harus dua kali transit. Di Jakarta dan Surabaya, baru sorenya terbang ke Kupang.
Selesai? Belum. Dari Kupang Petrus sebenarnya harus terbang lagi. Namun karena pesawat hanya tiga kali seminggu, ia harus menyeberang lagi seharian naik ferry. Lalu disambung naik bus hingga ke desanya. Praktis, meski naik pesawat, Petrus berangkat Senin pagi tiba di kampungnya Rabu siang!
Lebih sebulan ia di kampung. Ia mebuatkan toilet buat mamanya yang sudah tua. Saya tidak tahu persis apa saja kegiatannya di kampung. Karena sangat sulit menghubunginya via handphone karena kesulitan jaringan. Ia kembali ke Batam naik kapal, membawa saudaranya dan menempuh perjalanan delapan hari itu. ‘’Saya tak enak minta bantu bos lagi naik pesawat,’’ katanya. Lantaran l;ama di kapal, Petrus sakit sepulang dari Flores. Tapi ia senang bisa bertemu mamanya dan keluarganya.
Setelah itu, Petrus kembali bekerja seperti biasa. Sudah lebih dua tahun saya menombok membayar gajinya, lantaran pendapatan kebun bunga terus merosot. Namun, Petrus termasuk karyawan yang disiplin. Pada Desember 2011, setelah sekitar lima tahun bekerja dengan saya, Petrus minta berhenti. Untunglah, selama bekerja, ia saya paksa menabung dengan cara tidak menerima gaji secara penuh. Uang tabungan dan gaji terakhirnya saya berikan.
‘’Kalau bos memerlukan saya, saya bersedia dipanggil,’’ katanya. Mungkin ia bosan mengurus kebun bunga selama itu. Saya bilang, kalau mau cari kerja, jangan menjadi security lagi, karena fisiknya kurang kuat. Saya dengar, belakangan Petrus bekerja sebagai buruh bangunan. Setiap kali melihat kebun bunga di depan rumah saya, saya sering teringat Petrus, karena ia ikut melestarikan lingkungan dan hijaunya kebun bunga yang saya beri nama Sonya Garden itu. ***
Comments
Leave a Reply


