<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; Uncategorized</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/category/uncategorized/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Mon, 26 Jul 2010 10:57:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Jadi Caleg, Euy!</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/jadi-caleg-euy/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/jadi-caleg-euy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Aug 2008 21:44:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[politika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/jadi-caleg-euy/</guid>
		<description><![CDATA[Istilah caleg alias calon legislatif, merebak ke seantero negeri. Saat nama-nama caleg didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, siapa yang perduli, seperti apa ya kira-kira gaya caleg kita nanti? Betapa enaknyajadi caleg menurut kacamata seorang lelaki Sunda yang sudah empat bulan di Batam. Jadi caleg, euy!
&#8221;Bapak nggak nyalon? kan bisa dapat sampingan,&#8221; kata Nanang, tukang kebun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Istilah caleg alias calon legislatif, merebak ke seantero negeri. Saat nama-nama caleg didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, siapa yang perduli, seperti apa ya kira-kira gaya caleg kita nanti? Betapa enaknyajadi caleg menurut kacamata seorang lelaki Sunda yang sudah empat bulan di Batam. Jadi caleg, euy!<span id="more-222"></span></p>
<p>&#8221;Bapak nggak nyalon? kan bisa dapat sampingan,&#8221; kata Nanang, tukang kebun di Batam Centre. Ia mengaku belum pernah ikut nyoblos pemilu. Kalau nyoblos, ia mau milih yang jujur. &#8221;Soalnya, banyak yang suka curang,&#8221; katanya.<br />
Begitulah politik diartikan bermacam-macam. Sudahkah Anda melirik siapa-siapa caleg yang kini masuk bursa? Yang jelas, siap-siaplah dimintai dukungan, lalu Anda dilupakan selama lima tahun.<br />
Hebatnya, begitu jadi caleg, langsung kampanye selama sembilan bulan ke depan. Sementara, masih ada partai sebagai mesin politik yang harus melakukan konsolidasi internal, sampai ke kelompok masyarakat lapis bawah seperti RT dan RW.<br />
&#8221;Saya belum pernah nyoblos. Buat apa? Nggak ada perubahan,&#8221; kata Petrus Setet,seorang satpam kepada saya sambil makan martabak. &#8221;Katanya ada KTP gratis,tapi saat saya mengurus KTP dipersulit. Semua urusan surat harus bayar uang administrasilah, uang rokoklah,&#8221;katanya.<br />
Satu lagi, katanya, terlalu banyak partai dan ini bikin bingung. &#8221;Masak ada 37 partai,&#8221;katanya. Siapapun yang naik,tidak ada perubahan sama sekali. Jangan tipu-tipu rakyat terus, celetuknya serius. Nah, siapa bilang Satpam yang tinggal di Kabil ini tidak mengerti politik?<br />
Saat mengurus KTP, Petrus berharap gratis. Tapi, pegawai di kecamatan juga pintar berdiplomasi. Kelar suratnya, Petrus bertanya seperti biasa. &#8221;Berapa, Pak?&#8221; Seikhlasnya sajalah,&#8221;kata pegawai camat Batam Kota itu. Petrus pun membayar Rp10 ribu.<br />
Lho, katanya ikhlas? tanya saya. &#8221;Ya, gimana, kita kan maunya gratis. Mestinya dia bilang, pengurusan surat-surat untuk KTP ini tidak bayar,&#8221;katanya, tertawa. Inilah politik versi warga kelas bawah. Lalu, bagaimana dengan para caleg kita ini?<br />
Saya tidak tahu, apa yang mereka pikirkan dan maui. Di kantin kantor, di warung kopi, di loby hotel, beberapa orang yang saya kira mencalonkan diri, sibuk membicarakan partai dan dirinya sendiri. Atau soal nomor urut dan suara terbanyak.<br />
Ada juga ajakan bertemu dan makan siang dari seorang caleg. SMS undangan dikirim tiap hari. Tapi saya belum sempat memenuhinya. Caleg lain membahas soal peluangnya merebut kursi DPR. Ada pula yang bicara soal berapa banyak uang yang disiapkannya untuk bertarung dalam pemilu nanti.<br />
&#8221;Yang jelas, kita siap,&#8221; katanya dengan nada ragu. Kalau bertemu beberapa orang, paling tidak saya yang bayar makanan dan ngopinya. Masak caleg nggak punya duit, ha..ha..ha,&#8221; katanya terbahak.<br />
Telepon genggam saya berdering. Nomornya tak saya kenal. Ternyata, ia seorang pengusaha yang kini jadi petinggi partai politik di Jakarta. Ia bertanya, apa isu hangat di Batam saat ini. Saya bicara soal tarif listrik sekenanya. Dalam hati, masak caleg dan bos partai tak punya akses informasi terkini?<br />
Kata orang bijak, ada dua hal yang harus diwaspadai. Orang yang tak pernah berubah, atau orang yang selalu berubah. Yang pertama bisa diartikan bebal dan kedua anggap saja tak konsisten. Jangan-jangan caleg kita termasuk golongan orang keduanya. Hmm&#8230;***<!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/jadi-caleg-euy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batam Pos Sepuluh Tahun (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-sepuluh-tahun-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-sepuluh-tahun-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 07:15:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=219</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak kisah dibalik nama Batam Pos, yang selama tiga tahun, tepatnya dari 14 Februari 2000 sampai 17 Januari 2003 hingga berganti menjadi koran umum. Tentu tidak mudah juga bagi kawan-kawan di Sijori Pos berubah nama menjadi Batam Pos.
 Rapat perdana Batam Pos dipimpin Pak Rida. Ade Adran Syahlan ditunjuk menjadi pemimpin redaksi, saya dipercaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada banyak kisah dibalik nama Batam Pos, yang selama tiga tahun, tepatnya dari 14 Februari 2000 sampai 17 Januari 2003 hingga berganti menjadi koran umum. Tentu tidak mudah juga bagi kawan-kawan di Sijori Pos berubah nama menjadi Batam Pos.</p>
<p><span id="more-219"></span> Rapat perdana Batam Pos dipimpin Pak Rida. Ade Adran Syahlan ditunjuk menjadi pemimpin redaksi, saya dipercaya menjadi redaktur pelaksana dan Andra S Kelana menjadi koordinator liputannya. Beberapa nama lain, ada Yunus Suchari, Johan Howan, Fredy, Buyung dan Reza Pahlevi. Ada delapan orang.<br />
Ada juga yang menolak bergabung dan menganggap, seolah-olah pindah ke Batam Pos &#8221;dibuang.&#8221;  Tapi, kami jalan terus. Halaman satu dirancang dan menunggu ada berita besar yang &#8221;diledakkan.&#8221; untuk menarik perhatian pembaca. Ternyata, ada kasus pembunuhan warga Singapura di Batam yang lalu menjadi headline-nya. Koran yang direncanakan promosi gratis seminggu, hanya dua hari sudah dijual di pasaran. Batam Pos dengan warna utama merah itu, berhasil menembus pasar Batam dalam tempo singkat.<br />
Oplahnya terus meningkat. Batam Pos tampil beda dan berani. Beritanya hangat, cepat dan akurat. Saat terjadi bentrokan massal, Batam Pos menempatkan foto kerusuhan itu di halaman satu. Padahal, saat itu Ade dan saya sedang rapat di luar kota. Hanya ada Andra yang jaga gawang. Oplahnya menembus 15.000 eksemplar.<br />
Begitulah. Batam Pos menjadi bacaan utama kedua setelah Sijori Pos. Terutama bagi warga kota yang dilanda ketidakpastian, tingginya angka kriminalitas sehingga orang ingin tahu, apalagi yang terjadi di Batam. Kami juga menempatkan beberapa wartawan yang disebut buser (buru sergap) sama dengan istilah yang dipakai polisi.<br />
Setahun kemudian, Batam Pos merah ini pernah mau digugat seorang pejabat karena memuat berita dugaan perselingkuhannya terkait kasus penculikan. Tahun 2001 saya dipercaya menjadi pimpinan redaksi. Kemajuan pesat yang dicapai Batam Pos sehingga kami bisa pindah ke kantor sendiri di Baloi Point, berpisah dengan koran induk Sijori Pos di Jodoh.<br />
Saya banyak belajar di Batam Pos. Termasuk meredakan kemarahan orang terhadap berita. Kantor kami pernah mau didatangi 40 orang pengacara yang mau menggugat karena ada berita tentang oknum pengacara. Sebelum mereka datang, saya datang menemui mereka di hotel dan menjelaskan masalahnya.<br />
Didemo massa, orang marah-marah karena berita, seperti menjadi sarapan pagi. Yang membuat saya sedih, kaca kantor kami pernah dihancurkan beberapa lelaki tak dikenal karena ada berita dari salah seorang keluarganya yang mengaku kepada polisi menanam ganja di rumahnya. Meski koran kriminal, beberapa kali Batam Pos membuat event seperti Gelar Heboh Paranormal dari Gunung Lawu, seminar remaja dan seks yang menampilkan pakar seks Naek L Tobing serta dialog Batam Forum dengan pembicara Kapoltabes Barelang.<br />
Tahun 2003, tanpa kami duga, tiba-tiba ada keputusan berganti nama. Nama Sijori Pos diganti dengan Batam Pos dan Batam Pos memakai nama baru Posmetro Batam. Masa sosialisasi nama baru ini hanya sebulan. Seorang wartawan berkata kepada saya, bahwa ia kecewa kenapa nama koran diganti. Saya mencoba memberinya semangat. &#8221;Percayalah, orang sudah kenal koran kita karena berwarna-warni, beritanya cepat dan berani,&#8221; kata saya.<br />
Saya pikir, ini kasus marketing yang unik. Dua koran satu grup berganti nama di satu kota dengan pembaca yang sama? Rasanya, jarang terjadi. Tapi begitulah. Ade Adran Syahlan yang saya tahu orang yang kaya ide, lalu membuat membuat gebrakan, menerbitkan tiga koran di tiga pulau berbeda sekaligus. Isinya, tinggal saling melengkapi. Maka, jadilah Batam Pos merah menjadi Posmetro Batam, Posmetro Bintan dan Posmetro Karimun.<br />
Tak lama kemudian, bertambah menjadi empat. Namanya Batam News dan awalnya diterbitkan dan beredar di Mukakuning. Mau tahu dijual dimana? Di Masjid Nurul Islam dan bandrolnya disebutkan, infak Rp1000,- Namun belakangan, Batam News juga menjadi koran perkotaan dan semi kriminal. Maka, kami punya empat koran yang terbit pagi, siang dan malam hari. Koran ini juga berkembang di Tanjungpinang dan Karimun. Malah, Posmetro Bintan pernah mencapai oplah tertinggi di Tanjungpinang.<br />
Tahun 2005 saya naik pangkat menjadi pemimpin umum Posmetro Batam, Posmetro Bintan, Posmetro Karimun dan Batam News. Begitulah. Awal tahun 2006 saya ditugaskan kembali ke markas besar. Harian Pagi Batam Pos. Nama yang sangat lekat dan akrab buat saya. Lima tahun di Posmetro membuat saya agak kikuk bergabung kembali ke Batam Pos. Apalagi, teman-teman di Posmetro sudah seperti keluarga.<br />
Namun, dengan cepat saya bisa menyesuaikan diri. Toh, sebagian wajah lama. Saya kan wajah baru stok lama, he..he. Saya punya tim yang hebat. Ada Usep yang jagoan marketing iklan. Herman yang piawai di pemasaran koran bertahun-tahun, juga diuji kemampuannya di event organizer. Ternyata, ia hebat. Saya dengar, lelaki bertubuh gempal ini sampai latihan di depan kaca menjadi host. Dan ia pernah menjadi bintang iklan, walau sekali.<br />
Redaksi dipimpin Candra Ibrahim, yang berpengalaman dua kali menjadi pemimpin redaksi di Pekanbaru. Ia asli Natuna dan mertuanya di Penyengat dan paham persoalan di Kepulauan Riau. Tahun 2008 Candra dipromosikan menjadi Pimpinan Umum Batam News dan menjadi wakil saya dan posisinya digantikan Hasan Aspahani, seniman dan puisiwan yang sudah lama berduet dengan saya di Posmetro sebelumnya.<br />
Di Keuangan ada Meta, wanita tangguh yang teliti dan cermat. Ia berani memberi masukan kepada atasannya jika dalam kalkulasi keuangan tidak menguntungkan. Di Bagian Umum dan SDM ada Nelda Murti, orang lama yang juga teliti dan ferfeksionis. Ia mau mengubah surat berkali-kali kalau ada salah ketik dan tanda baca.<br />
Oh, ya. Ada juga anak muda yang punya kemampuan statistik dan sempat memimpin departemen pemasaran. Kini ia menjadi manager Research and Development dan sedang menyiapkan lembaga survey di Kepulauan Riau. Masih ada Depan Maju Sihite manager Informasi dan Teknologi yang membangun portal Batamcyber Zone.<br />
Secara bisnis, Batam Pos berkembang pesat, tumbuh dan mencapai target. Kendati dikepung para pesaingnya, menurut saya ini malah memacu semangat dan memperbesar pasar Batam Pos di masa depan. Selama sepuluh tahun membangun pasar, membuka jalur distribusi sampai ke pelosok pulau lantaran Kepuluan Riau 95 persen wilayahnya adalah laut, tidak gampang bagi orang lain mengikutinya begitu saja.<br />
Kami juga punya tim lapis kedua dan ketiga, kaderisasi berbasis kinerja yang dinilai setiap bulan. Jadi, saya yakin, Batam Pos akan terus menjadi koran pemimpin pasar di Kepri. Saya percaya dengan kekuatan tim. Di pasar kelas atas, Batam sangat kukuh. Di lapis tengah ada Batam News dan di lapis bawah ada Posmetro Batam ditambah dengan Batam Televisi yang makin berkibar.<br />
Pesan bos saya Rida K Liamsi jadi acuan saya. &#8221;Koran ini tidak akan pernah kalah bersaing di pasar, kecuali pecah di dalam,&#8221; katanya. Artinya, tim yang tangguh dan solid akan membuat kami berjaya. Atasan saya Bang Marganas Nainggolan juga memberi kepercayaan besar kepada kami, di tengah kesibukannya yang juga menjadi Penanggungjawab Operasional Divisi Regional Batam dan Medan.<br />
Akhirnya, saya ucapkan terima kasih ya Allah. Terima kasih pembaca dan pelanggan serta mitra bisnis kami. Prestasi yang kami raih berkat kepercayaan Anda yang akan terus kami jaga. Pada usia ke sepuluh ini, saya ingin berkampanye dua kalimat saja. Saya pilih Batam Pos saja! dan Batam Pos, a part of my life&#8230;.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-sepuluh-tahun-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Batam Pos 10 Tahun (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-10-tahun-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-10-tahun-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Aug 2008 14:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[batam pos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[TANGGAL 10 Agustus 2008. Harian Pagi Batam Pos berusia sepuluh tahun. Perjalanan surat kabar nasional pertama dari Batam ini, penuh dinamika dan berhasil menempatkan dirinya sebagai media berpengaruh di Kepulauan Riau. Banyak nama yang memberi warna eksistensi surat kabar ini. Saya ingin mencatatnya sebagai kaca pantul dan menatap ke masa depan.

Batam Pos tidak bisa dilepaskan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TANGGAL 10 Agustus 2008. Harian Pagi Batam Pos berusia sepuluh tahun. Perjalanan surat kabar nasional pertama dari Batam ini, penuh dinamika dan berhasil menempatkan dirinya sebagai media berpengaruh di Kepulauan Riau. Banyak nama yang memberi warna eksistensi surat kabar ini. Saya ingin mencatatnya sebagai kaca pantul dan menatap ke masa depan.</p>
<p><span id="more-218"></span></p>
<p>Batam Pos tidak bisa dilepaskan dari Harian Pagi Riau Pos yang berawal dari koran kecil di Pekanbaru yang diterbitkan PT Riau Pos Intermedia di bawah bendera Jawa Pos Grup yang terbit pertama kali 17 Januari 1991. Koran ini juga beredar di Kepulauan Riau yang saat ini masih satu propinsi dengan Riau.<br />
Saat saya mulai bergabung ke Riau Pos bulan Maret 1996, saat itu ada empat kantor perwakilan Riau Pos. Yakni, Dumai, Tanjungpinang, Batam dan Sumatera Barat. Kemajuan yang diraih Riau Pos, tiga perwakilan  belakangan malah punya koran sendiri, yakni Dumai Pos, Batam Pos dan Padang Ekspres.<br />
Empat Kepala Perwakilan itu antara lain, Bang Marganas Nainggolan di Batam, Suseto di Dumai, Akmal Atatrick di Tanjungpinang. Saya sendiri sempat menjadi Kepala Perwakilan Sumbar selama setahun dan kemudian hijrah ke Batam Juni 1997.<br />
Saat saya pindah tugas ke Batam menjadi redaktur, teman-teman di Perwakilan Sumbar yang berkantor di Bukittinggi, juga pindah ke Padang. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 10 Agustus 1998, terbitlah koran Sijori Pos, yang merupakan pengembangan sayap Riau Pos di Batam.<br />
Nama Sijori Pos dipilih terkait dengan pengembangan kawasan segitiga Singapura, Johor dan Riau. Dengan cepat, Sijori Pos melesat dan menjadi koran nasional pertama dari Batam. Pada malam menjelang terbit perdana, tinggal Bang Mafirion, Bang Ace, Mega orang pra cetak dan saya di kantor Orchid Point, Jodoh. Kami bekerja dengan segala kemampuan untuk menyelesaikan edisi perdana itu. Halaman demi halaman. Tak sadar, target deadline molor. Saya menyingkap gorden jendela. &#8221;Wah, sudah pagi, Bang,&#8221; kata saya kepada Mafirion. Menjelang subuh, akhirnya koran itu naik cetak dan siap beredar.<br />
Tak ada persiapan khusus untuk peluncuran koran edisi perdana itu. Namun, pada tanggal 10 Agustus 1998, mantan presiden Habibie akan meresmikan jembatan Barelang. Kami berharap, edisi perdana Sijori Pos akan ditandatangani Habibie. Bang Marganas dan Depan Maju Sihite serta saya, hadir pada saat peresmian jembatan tersebut. Sayang, acara Habibie padat sekali sehingga tidak sempat menandatangani koran perdana itu.<br />
Beberapa nama, selain Pak Rida, pantas disebut dengan kehadiran koran lokal pertama dari Batam ini. Pertama, Bang Marganas yang sejak awal bekerja sangat keras mengembangkan koran ini masuk ke Batam. Ia sangat piawai soal bisnis, menguasai masalah manajemen keuangan serta seorang wartawan yang jago menulis feature.<br />
Kedua adalah Bang Akmal Atatrick di Tanjungpinang, yang mengurus percetakan dan distribusi koran sebelum akhirnya dipindahkan ke Batam. Meski ia jauh lebih senior dari saya, bang Akmal masih mau saya &#8221;tugaskan&#8221; saat saya menjadi koordinator liputan.<br />
Nama Bang Mafirion, saya letakkan yang ketiga. Sebab, ia adalah pimpinan redaksi Sijori Pos yang pertama. Saat ia, ia menjadi staf ahli Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Mafirion dikenal bekerja lugas dan cepat. Namun, ia perlu didukung tim yang tangguh pula.<br />
Keempat adalah Bang Taufik Muntasir yang akrab disapa Bang Ace. Setelah sempat bertugas di Tanjungpinang, ia ditarik ke Batam, mengikuti kepindahan mesin cetak. Saya mengenal Bang Ace orang dengan etos kerja tinggi.<br />
Di bagian iklan, ada Usep yang memiliki jaringan dan relasi yang luas. Pria asal Sunda ini dikenal supel dan pergaulannya luas. Ia juga sangat berpengalaman di divisi iklan, jauh sebelum Sijori Pos terbit, saat masih di Riau Pos. Usep termasuk karyawan terlama.<br />
Di bagian pemasaran, ada Herman Mangundap, lelaki asal Menado yang sejak awal sudah terbiasa dan bertahun-tahun bergelut di bagian distribusi dan sirkulasi. Sampai Batam Pos berusia sepuluh tahun, Herman tetap menjadi andalan di pemasaran dan event organizer.<br />
Di bagian administrasi dan keuangan ada Syarifah Harani atau Nani, yang termasuk karyawan terlama, sejak masih berkantor di Windsor. Saat ini, ia dipercaya menjadi wakil manajer di percetakan dan tugasnya diteruskan kadernya Meta Sidabutar sebagai manajer keuangan.<br />
Tentu saja masih banyak lapis kedua yang bekerja keras mengembangkan Sijori Pos. Sebut saja di redaksi ada Depan Sihite, Tariden Turnip, Lilis Lishatini, Lisya Anggraini, Umi Kalsum, Johan Howan dan sebagainya. Sebagian lainnya, memilih pindah ke media lain seperti Erwan Buntaro, Subari, Pramono, Emerson Tahihoran, Parlindungan dan sebagainya.<br />
Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 14 Februari 2000 Sijori Pos menerbitkan &#8221;anak&#8221;nya Batam Pos, yakni koran kriminal pertama di Batam. Dengan cepat, Batam Pos menerobos pasar Batam. Koran ini dikenal berani dan blak-blakan.<br />
Januari 2003 ada keputusan manajemen yang unik, sekalgis menjadi kasus marketing yang jarang terjadi. Nama Sijori Pos dikuburkan dan dianggap sebagai masa lalu dan diganti jadi Batam Pos, dan Batam Pos yang sebelumnya koran kriminal, diganti menjadi Posmetro Batam.<br />
Saat itu, beberapa wartawan kecewa. Sebab, nama Batam Pos yang dibangun selama tiga tahun, tiba-tiba harus diganti. Buat saya, nama Batam Pos sesuatu yang mendatangkan semangat juang, kegairahan dan keinginan menyuguhkan berita terbaik dan paling cepat.<br />
Kepada wartawan itu saya bilang, Batam Pos yang berganti nama menjadi Posmetro itu, tetap akan eksis. Sebab, ciri khas koran itu berani dan tampilannya warna-warni. Ternyata saya benar. Batam Pos dan Posmetro sama-sama eksis. Buktinya, riset AC Nielsen menyebutkan, koran pembaca<br />
terbanyak adalah Batam Pos dan kedua Posmetro!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/batam-pos-10-tahun-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wajah Wali Kota</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/wajah-wali-kota/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/wajah-wali-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 11:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panggilakubos.wordpress.com/2008/04/21/wajah-wali-kota/</guid>
		<description><![CDATA[Tulis Ringkasan Postingan AndaTulis Akhir Postingan Anda
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp1.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SAx2tJWrX6I/AAAAAAAAABw/QV3M_IwJ4iU/s1600-h/azis+edit.jpg"><img style="cursor:hand;" src="http://bp1.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SAx2tJWrX6I/AAAAAAAAABw/QV3M_IwJ4iU/s200/azis+edit.jpg" border="0" /></a><br /><a href="http://bp2.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SAx2tZWrX7I/AAAAAAAAAB4/qHsSEVNO-6A/s1600-h/nyat+edit.jpg"><img style="cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SAx2tZWrX7I/AAAAAAAAAB4/qHsSEVNO-6A/s200/nyat+edit.jpg" border="0" /></a><br /><a href="http://bp3.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SAx2tpWrX8I/AAAAAAAAACA/VU7X_a3PcZ8/s1600-h/dahlan+edit.jpg"><img style="cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SAx2tpWrX8I/AAAAAAAAACA/VU7X_a3PcZ8/s200/dahlan+edit.jpg" border="0" /></a><br />Tulis Ringkasan Postingan Anda<br /><span class="fullpost"><br />Tulis Akhir Postingan Anda<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/wajah-wali-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Doa Wartawan Tua</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/doa-wartawan-tua/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/doa-wartawan-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 08:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panggilakubos.wordpress.com/2008/04/15/doa-wartawan-tua/</guid>
		<description><![CDATA[Inilah salam dan doa dari seorang Rosihan Anwar, wartawan tua yang masih tetap energik, aktif dan tetap menulis. Saya mengutip tulisannya agar menjadi bahan renungan bagi wartawan-wartawan muda, seperti Anda. Selamat membaca.BERKAITAN dengan telah tiba saatnya kita memasuki Tahun Baru 2008,terimalah salam hormat dari seorang wartawan tua beserta doa. Saya doakan wartawan Indonesia, baik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah salam dan doa dari seorang Rosihan Anwar, wartawan tua yang masih tetap energik, aktif dan tetap menulis. Saya mengutip tulisannya agar menjadi bahan renungan bagi wartawan-wartawan muda, seperti Anda. Selamat membaca.<br /><span class="fullpost"><br />BERKAITAN dengan telah tiba saatnya kita memasuki Tahun Baru 2008,terimalah salam hormat dari seorang wartawan tua beserta doa. Saya doakan wartawan Indonesia, baik yang sudah memenuhi standardisasi profesional dan kompetensi, maupun yang belum memperolehnya, baik yang sudah mantap maupun yang masih susah agar tetap bekerja sesuai dengan tradisi pers pergerakan nasional pada awal abad ke-20 yaitu melindungi golongan yang lemah dan terjajah, membela rakyat yang dizalimi oleh penguasa, atau dalam bahasa kaum muda sosdem (sosial demokrasi) sekarang agar memihak kaum miskin atau pro-poor. <br />  Dengan begitu, wartawan Indonesia tetap jujur pada dirinya, berbuat benar menaati jati diri dan idealismenya. Kepada sesama anak bangsa, saya sampaikan salam silaturahmi disertai doa semoga kita semua mampu menjaga agar Indonesia tetap jujur terhadap dirinya, mampu menegakkan martabat dan harga dirinya, tidak terombang-ambing di tengah pergolakan globalisasi dunia dan tersihir oleh pengaruh neokapitalisme dan neoliberalisme yang tidak berperikemanusiaan.<br />     Betapa pun sulitnya dirasakan beban tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, betapa pun suramnya masa depan, betapa besarnya  kekecewaan akibat ketertingggalan Indonesia dari negeri-negeri lain di kawasan Asia Tenggara, namun janganlah lupa berterima kasih tiap hari kepada Tuhan Yang Maha Esa.<br />     Jika di negara lain di benua lain terdapat peperangan, pengeboman,<br />pembunuhan, kita di Indonesia relatif masih aman. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur tiap kali bangun pagi kepada Tuhan Yang Maha Pelindung.<br />Banyak generasi muda, kendati telah menyelesaikan studi dan meraih<br />gelar kesarjanaan, amat sulit memperoleh pekerjaan. Banyak rakyat kita mengalami pengangguran, menghadapi kesukaran di bidang pendidikan, kesehatan dan mereka tidak bisa keluar dari keterpurukan karena pemimpin yang tanpa visi dan tanpa peduli, karena elite dan oligarki politik dan bisnis lebih sibuk dengan kepentingan dan kekuasaannya sendiri ketimbang menolong rakyat yang mayoritas.<br />   Dalam keadaan sulit demikian, kita makin terdorong mendoakan dan  mengharapkan supaya anak bangsa mengubah kehidupannya,  mentransformasi sikap dan wataknya. Mereka yang terimpit dalam kesakitan agar berusaha bangkit berdiri menjadi insan yang kreatif dan bekerja walaupun di bidang terbatas dan sekecil-kecilnya. Namun, mereka yang di atas memegang kekuasaan berubah menjadi insan yang menaruh welas-asih dan memberikan perhatian kepada keadilan dan kesejahteraan sosial bagi rakyat ini yang telah begitu lama menderita.<br />  Saya doakan agar kita semua punya sikap membantu orang-orang lain.  Jangan lupa memuliakan kaum ibu kita, usahakan memberdayakan kaum perempuan supaya mereka lebih tangguh berfungsi sebagai pendidik anak bangsa. Ingat selalu ibu-ibu kita yang selama sembilan bulan mengandung anak mereka, kemudian membesarkan dan mengasuh anak dengan kasih sayang. Kita berutang budi  pada mereka. Bantulah mereka.<br />   Saya doakan agar dalam keadaan bagaimanapun juga kita tetap bersikap<br />positif. Tidak terus mengomel dan mengkritik. Berusaha mengurangi kesenjangan sosial dan melenyapkan kecemburuan sosial. Berusaha bersama-sama mencari cahaya terang di ujung terowongan gelap. Berusaha memperbaiki lingkungan hidup.<br />  Tidak ada yang orisinal, tidak ada yang luar biasa dalam salam dan  doa di atas tadi. Saya hanya mengutip filsafat Oprah Winfrey, tokoh media  televisi ternama di Amerika, seorang Afro-America, talkshow hostess yang berpengaruh dan berwibawa. Filsafat Oprah dirumuskan dalam kata-katanya sendiri adalah (1) Be true yourself, (2) Be grateful every day, (3) Transform your  life, (4) Help others, (5) Stay positive.<br />   Mungkin biasa-biasa saja kedengarannya, tetapi bagi saya cukup  mengesankan  justru karena biasa-biasa itu, namun mengandung suatu kebenaran yang mendalam. Dengan pengharapan agar bangsa Indonesia dalam tahun 2008 akan lebih baik keadaannya, sekali lagi bersama ini terimalah salam dan doa akhir tahun dari seorang wartawan tua. Semoga Tuhan memberkati kita semua.***</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/doa-wartawan-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Keliling Batam dengan Boat Pancung</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/keliling-batam-dengan-boat-pancung/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/keliling-batam-dengan-boat-pancung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Apr 2008 14:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panggilakubos.wordpress.com/2008/04/07/keliling-batam-dengan-boat-pancung/</guid>
		<description><![CDATA[   Keliling Batam melalui jalan darat naik mobil, atau menyaksikan pulau ini dari pesawat terbang, mungkin sudah biasa. Tapi, mengelilingi dan menjelajah Batam naik boat pancung? Ini mungkin tidak biasa. Itulah yang dilakukan fotografer Batam Pos dan anggota klub fotografi Batam Photo Club. Bagaimana kisahnya? Seperti apa melihat Batam dari laut dan mengelilingi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp1.blogger.com/_nid0XmFBDBc/R_orM9a2TmI/AAAAAAAAAAw/9XJSWva443Y/s1600-h/pancung.jpg"><img style="display:block;text-align:center;cursor:hand;margin:0 auto 10px;" src="http://bp1.blogger.com/_nid0XmFBDBc/R_orM9a2TmI/AAAAAAAAAAw/9XJSWva443Y/s320/pancung.jpg" border="0" /></a><br />   Keliling Batam melalui jalan darat naik mobil, atau menyaksikan pulau ini dari pesawat terbang, mungkin sudah biasa. Tapi, mengelilingi dan menjelajah Batam naik boat pancung? Ini mungkin tidak biasa. Itulah yang dilakukan fotografer Batam Pos dan anggota klub fotografi Batam Photo Club. Bagaimana kisahnya? <br /><span class="fullpost"><br />Seperti apa melihat Batam dari laut dan mengelilingi pulau ini, bagaimana kondisi pantai, hutan bakau dan sebagainya? Pertanyaan itu sudah menggoda saya sejak beberapa tahun lalu. Bak gayung bersambut, ketika Hasan yang biasa membawa koran Batam Pos ke Karimun setiap dinihari,<br />siap berkeliling Batam dengan boat pancung. Keliling Batam itu dilakukan Sabtu, (5/4) pekan lalu dengan pancung berukuran 7&#215;2 meter.<br />    Beberapa fotografer ikut. Yang lain terpaksa harus jaga gawang di Batam. Ide keliling Batam ini, segera disambut anggota BPC. Tapi, kapasitas boat pancung terbatas. Dari Batam Pos ada Imanuel, Socrates, Yusuf dan Iman Wahyudi. Dari BPC ada Ida Bagus G Mardawa, Ivan Siregar, Norman, Didit, Kim Sun, Melani, Dewi dan Eva serta Khairul dari Kediri. Dua lagi, Hasan pemilik boat dan ABK-nya Ibrahim. Total, 15 orang. <br />    Pukul 07.45 pancung mulai membelah lautan dari pelabuhan Sekupang. Penasaran bercampur rasa ingin tahu, campur aduk. Tak seorangpun tahu, berapa lama perjalanan itu. Kamera disiapkan. Sesekali, pancung bergoyang diterpa gelombang. Kadang memercik dan membasahi penumpang. <br />   Beberapa pengemudi pancung tampak heran menyaksikan rombongan ini. Barangkali dikira turis atau kelompok ekspedisi dari luar negeri. Maklum, semua menenteng kamera dan mengenakan topi lebar. Pancung dengan dua mesin masing-masing 40 PK itu, melewati Tanjungpinggir, Pulau Dongas dan Bakur. Di sebelah kiri, gedung-gedung di Singapura tampak berjejer. Pemandangan alam dan resort, tertata apik di atas bukit di antara rimbunan pepohonan dan hutan bakau. <br />     Satu jam kemudian, pancung berhenti di restoran kosong di Batumerah karena ada tangga dari laut. Peta pun dibuka. Ternyata, tidak satu pun dari kami yang pernah mengelilingi Batam naik boat pancung. Termasuk Hasan dan Ibrahim, meski sudah belasan tahun mengemudi pancung. <br />    Pantas saja, sebelum berangkat, Hasan yang berasal dari Pulau Terong itu minta agar bawa peta. Ia juga menganjurkan bawa jeruk agar tak mabuk laut. Kami juga tidak tahu, berapa lama waktu tempuh mengelilingi Batam. <br />Dari peta berskala 1:72.000 itu, diperkirakan baru sore hari pulau ini bisa dikelilingi. Garis karvak dibentuk, lalu dikalikan dengan waktu yang sudah dilalui. &#8221;Wah, tampaknya tak cukup satu hari keliling Batam,&#8221; kata seorang fotografer. <br />   Sebuah kapal kecil sandar dekat lampu suar kapal tampak sedang mengevakuasi kapal.  &#8221;Di tengah kita ini lokasi kapal tenggelam. Ukurannya cukup besar. Lihat saja luas garis tambang yang melintang memagari lokasi,&#8221; ujar Hasan, pengemudi pancung.  Di perairan Tanjungsengkuang, tampak kerusakan pesisir pantai. Pohon bakau tumbuh enggan di antara pemukiman nelayan. Air laut keruh dan berlumpur. Dua alat berat berada di ujung timbunan tanah yang menjorok ke laut. <br />     Terik matahari mulai terasa menyengat. Tiba-tiba, sebuah perahu beratap dikayuh seorang wanita, melintas. &#8221;Suku Laut,&#8221; cetus seorang fotografer. Pancung kami minta berputar, agar bisa memotret. Suaminya keluar dari balik atap dan tampak kurang senang. &#8221;Hei, mana boleh sembarangan?&#8221;katanya. Pancung pun segera pergi. <br />     Namun, tak lama kemudian, di sebuah pulau karang, kami melihat ada beberapa perahu suku Laut yang sedang berlabuh. Dari balik pohon, beberapa fotografer membidikkan kamera. Mereka sekeluarga dan berasal dari Pulau Karas.<br />  Pakaian dijemur di atap perahu. Anak-anak mereka bermain dalam perahu, sementara kepala keluarga, pergi ke pulau terdekat mengambil air bersih. Di lambung perahu, tempuling atau tombak ikan terikat kuat. Perahu ini biasanya diikat berantai dengan perahu lainnya. Menandakan suatu kelompok atau keluarga. Beberapa perahu ada juga yang dilengkapi motor tempel. <br />  Motor ini digunakan dalam situasi tertentu, cuaca buruk atau menarik ikan berukuran besar. Konon, suku laut ini paling mahir berburu ikan hiu dan penyu raksasa. &#8221;Kami cuma mau foto-foto,&#8221; kata Hasan kepada kepala keluarga Suku Laut yang datang membawa air. &#8221;Begini pak, kalau mau foto harus bayar asuransi dulu,&#8221;katanya. Kami tercengang. Ternyata, asuransi yang dimaksudnya adalah, harus bayar sejumlah uang dulu, baru boleh memotret mereka. <br />     Saat ditanya mereka memasak dan tidur dimana, salah seorang menjawab,&#8221;Tidur di perahu,kan tidak mungkin kami tidur di atas air,&#8221;katanya. Kami tergelak. Puas memotret, kami pun bergerak. <br />    Menelusuri sepanjang pantai Nongsa, selain sejumlah resort, airnya jernih dan dasar laut tampak jelas. Kawasan ini memang cocok untuk snorkling dan scuba diving. Dua jetski berputar-putar di tengah laut.<br />  Dari Teluk Mata Ikan, pancung terus melewati Batu Besar. Pancung kami minta berlayar 500 meter dari pantai, agar memudahkan memotret kondisi Pulau Batam. Selain nyiur di sepanjang pantai, kami menemukan aktivitas reklamasi yang menjorok ke tengah laut. <br />    Ibrahim yang berada di haluan pancung, memberi tanda dengan lambaian tangan kepada Hasan sebagai tekong, agar mesin pancung tidak menyentuh batu di perairan dangkal. Kami menyaksikan aktivitas PT Citra Tubindo dari laut, melewati Kabil dan masuk ke pelabuhan Telagapunggur.  <br />  Rombongan berhenti makan siang di restoran Riverside, Telagapunggur. Ternyata, restoran seafood itu ada dalam peta. Tak terasa, kami sudah mengelilingi separuh Pulau Batam. Semangat yang sempat kendor bangkit lagi. Sudah empat jam kami di laut. <br />     Meski kulit mulai memerah, pancung terus menuju Bagan dan terus ke Tanjungpiayu. Melewati perkampungan nelayan. &#8221;Inilah wajah Batam sesungguhnya,&#8221; kata Ivan Siregar. Air laut yang tenang, kadang-kadang berputar dekat batu karang sehingga pengemudi pancung harus waspada. <br />    Hampir satu jam kemudian, dari kejauhan tampak Jembatan Barelang berdiri kokoh. Beberapa fotografer berdiri sehingga pancung agak oleng. Kalau selama ini memotret jembatan kebanggaan warga Batam itu dari atas, kini kami bisa merekamnya dengan kamera dari bawah. <br />    Kami terus melewati Pulau Akar, Tanjung Gundap dan Dapur Duabelas. Mendekati wilayah Sagulung, pemandangan terasa berbeda lantaran bisa melihat pembuatan kapal tongkang dan perusahaan shipyar. &#8221;Oh, ternyata begini perusahaan perkapalan dilihat dari laut. Selama ini, saya tidak tahu seperti apa di dalamnya,&#8221; kata Dewi, yang bekerja di kawasan industri Tanjunguncang. <br />  Beberapa pekerja perkapalan, melambaikan tangan. Dari Tanjunguncang, pancung terus melaju dengan kekuatan dua mesin menuju Tanjungriau. Kami memang tidak mengitari rangkaian pulau-pulau di Pulau Janda Berhias. Tak terasa, pancung tiba kembali di pelabuhan Sekupang. Enam jam lamanya kami di laut dan merapat pukul 02.00 siang. <br />    Akhirnya, kami berhasil mengelilingi Pulau Batam yang berbentuk kalajengking itu. Ada enam tanjung dan empat teluk yang sudah dilewati. &#8221;Kita berhasil keliling Batam,&#8221;cetus Mardawa, senang. Selain mendapatkan berbagai obyek foto, ada kepuasan tersendiri kembali ke titik pemberangkatan dengan selamat.<br />   Rasa senang dan bangga membuncah dalam dada. Bagi sebagian orang mungkin perjalanan ini tampak mudah dan sederhana. Tapi bagi pekerja kantoran yang hobi memotret dan wartawan yang ingin tahu, perjalanan ini sungguh berkesan. Jangan-jangan, kami yang pertama keliling Batam naik boat pancung. <br />    Ada yang mengusulkan, perjalanan berikutnya, selain mengelilingi pulau, juga kemping dan bermalam di sana. Petualangan keliling pulau ini, bisa saja dijadikan obyek wisata seperti Batam explorer atau Batam adventure. Sel<br />
ain memberdayakan obyek wisata pulau, melihat perkampungan nelayan, restoran dan kelong di pinggir laut, Batam akan mendapat pengunjung baru dari wisatawan yang tertarik dengan petualangan tersebut. ***<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/keliling-batam-dengan-boat-pancung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
