Jadi Caleg, Euy!
Istilah caleg alias calon legislatif, merebak ke seantero negeri. Saat nama-nama caleg didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, siapa yang perduli, seperti apa ya kira-kira gaya caleg kita nanti? Betapa enaknyajadi caleg menurut kacamata seorang lelaki Sunda yang sudah empat bulan di Batam. Jadi caleg, euy! Read more
Batam Pos Sepuluh Tahun (2)
Ada banyak kisah dibalik nama Batam Pos, yang selama tiga tahun, tepatnya dari 14 Februari 2000 sampai 17 Januari 2003 hingga berganti menjadi koran umum. Tentu tidak mudah juga bagi kawan-kawan di Sijori Pos berubah nama menjadi Batam Pos.
Batam Pos 10 Tahun (1)
TANGGAL 10 Agustus 2008. Harian Pagi Batam Pos berusia sepuluh tahun. Perjalanan surat kabar nasional pertama dari Batam ini, penuh dinamika dan berhasil menempatkan dirinya sebagai media berpengaruh di Kepulauan Riau. Banyak nama yang memberi warna eksistensi surat kabar ini. Saya ingin mencatatnya sebagai kaca pantul dan menatap ke masa depan.
Wajah Wali Kota



Tulis Ringkasan Postingan Anda
Tulis Akhir Postingan Anda
Doa Wartawan Tua
Inilah salam dan doa dari seorang Rosihan Anwar, wartawan tua yang masih tetap energik, aktif dan tetap menulis. Saya mengutip tulisannya agar menjadi bahan renungan bagi wartawan-wartawan muda, seperti Anda. Selamat membaca.
BERKAITAN dengan telah tiba saatnya kita memasuki Tahun Baru 2008,terimalah salam hormat dari seorang wartawan tua beserta doa. Saya doakan wartawan Indonesia, baik yang sudah memenuhi standardisasi profesional dan kompetensi, maupun yang belum memperolehnya, baik yang sudah mantap maupun yang masih susah agar tetap bekerja sesuai dengan tradisi pers pergerakan nasional pada awal abad ke-20 yaitu melindungi golongan yang lemah dan terjajah, membela rakyat yang dizalimi oleh penguasa, atau dalam bahasa kaum muda sosdem (sosial demokrasi) sekarang agar memihak kaum miskin atau pro-poor.
Dengan begitu, wartawan Indonesia tetap jujur pada dirinya, berbuat benar menaati jati diri dan idealismenya. Kepada sesama anak bangsa, saya sampaikan salam silaturahmi disertai doa semoga kita semua mampu menjaga agar Indonesia tetap jujur terhadap dirinya, mampu menegakkan martabat dan harga dirinya, tidak terombang-ambing di tengah pergolakan globalisasi dunia dan tersihir oleh pengaruh neokapitalisme dan neoliberalisme yang tidak berperikemanusiaan.
Betapa pun sulitnya dirasakan beban tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, betapa pun suramnya masa depan, betapa besarnya kekecewaan akibat ketertingggalan Indonesia dari negeri-negeri lain di kawasan Asia Tenggara, namun janganlah lupa berterima kasih tiap hari kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jika di negara lain di benua lain terdapat peperangan, pengeboman,
pembunuhan, kita di Indonesia relatif masih aman. Oleh karena itu, marilah kita bersyukur tiap kali bangun pagi kepada Tuhan Yang Maha Pelindung.
Banyak generasi muda, kendati telah menyelesaikan studi dan meraih
gelar kesarjanaan, amat sulit memperoleh pekerjaan. Banyak rakyat kita mengalami pengangguran, menghadapi kesukaran di bidang pendidikan, kesehatan dan mereka tidak bisa keluar dari keterpurukan karena pemimpin yang tanpa visi dan tanpa peduli, karena elite dan oligarki politik dan bisnis lebih sibuk dengan kepentingan dan kekuasaannya sendiri ketimbang menolong rakyat yang mayoritas.
Dalam keadaan sulit demikian, kita makin terdorong mendoakan dan mengharapkan supaya anak bangsa mengubah kehidupannya, mentransformasi sikap dan wataknya. Mereka yang terimpit dalam kesakitan agar berusaha bangkit berdiri menjadi insan yang kreatif dan bekerja walaupun di bidang terbatas dan sekecil-kecilnya. Namun, mereka yang di atas memegang kekuasaan berubah menjadi insan yang menaruh welas-asih dan memberikan perhatian kepada keadilan dan kesejahteraan sosial bagi rakyat ini yang telah begitu lama menderita.
Saya doakan agar kita semua punya sikap membantu orang-orang lain. Jangan lupa memuliakan kaum ibu kita, usahakan memberdayakan kaum perempuan supaya mereka lebih tangguh berfungsi sebagai pendidik anak bangsa. Ingat selalu ibu-ibu kita yang selama sembilan bulan mengandung anak mereka, kemudian membesarkan dan mengasuh anak dengan kasih sayang. Kita berutang budi pada mereka. Bantulah mereka.
Saya doakan agar dalam keadaan bagaimanapun juga kita tetap bersikap
positif. Tidak terus mengomel dan mengkritik. Berusaha mengurangi kesenjangan sosial dan melenyapkan kecemburuan sosial. Berusaha bersama-sama mencari cahaya terang di ujung terowongan gelap. Berusaha memperbaiki lingkungan hidup.
Tidak ada yang orisinal, tidak ada yang luar biasa dalam salam dan doa di atas tadi. Saya hanya mengutip filsafat Oprah Winfrey, tokoh media televisi ternama di Amerika, seorang Afro-America, talkshow hostess yang berpengaruh dan berwibawa. Filsafat Oprah dirumuskan dalam kata-katanya sendiri adalah (1) Be true yourself, (2) Be grateful every day, (3) Transform your life, (4) Help others, (5) Stay positive.
Mungkin biasa-biasa saja kedengarannya, tetapi bagi saya cukup mengesankan justru karena biasa-biasa itu, namun mengandung suatu kebenaran yang mendalam. Dengan pengharapan agar bangsa Indonesia dalam tahun 2008 akan lebih baik keadaannya, sekali lagi bersama ini terimalah salam dan doa akhir tahun dari seorang wartawan tua. Semoga Tuhan memberkati kita semua.***
Keliling Batam dengan Boat Pancung

Keliling Batam melalui jalan darat naik mobil, atau menyaksikan pulau ini dari pesawat terbang, mungkin sudah biasa. Tapi, mengelilingi dan menjelajah Batam naik boat pancung? Ini mungkin tidak biasa. Itulah yang dilakukan fotografer Batam Pos dan anggota klub fotografi Batam Photo Club. Bagaimana kisahnya?
Seperti apa melihat Batam dari laut dan mengelilingi pulau ini, bagaimana kondisi pantai, hutan bakau dan sebagainya? Pertanyaan itu sudah menggoda saya sejak beberapa tahun lalu. Bak gayung bersambut, ketika Hasan yang biasa membawa koran Batam Pos ke Karimun setiap dinihari,
siap berkeliling Batam dengan boat pancung. Keliling Batam itu dilakukan Sabtu, (5/4) pekan lalu dengan pancung berukuran 7×2 meter.
Beberapa fotografer ikut. Yang lain terpaksa harus jaga gawang di Batam. Ide keliling Batam ini, segera disambut anggota BPC. Tapi, kapasitas boat pancung terbatas. Dari Batam Pos ada Imanuel, Socrates, Yusuf dan Iman Wahyudi. Dari BPC ada Ida Bagus G Mardawa, Ivan Siregar, Norman, Didit, Kim Sun, Melani, Dewi dan Eva serta Khairul dari Kediri. Dua lagi, Hasan pemilik boat dan ABK-nya Ibrahim. Total, 15 orang.
Pukul 07.45 pancung mulai membelah lautan dari pelabuhan Sekupang. Penasaran bercampur rasa ingin tahu, campur aduk. Tak seorangpun tahu, berapa lama perjalanan itu. Kamera disiapkan. Sesekali, pancung bergoyang diterpa gelombang. Kadang memercik dan membasahi penumpang.
Beberapa pengemudi pancung tampak heran menyaksikan rombongan ini. Barangkali dikira turis atau kelompok ekspedisi dari luar negeri. Maklum, semua menenteng kamera dan mengenakan topi lebar. Pancung dengan dua mesin masing-masing 40 PK itu, melewati Tanjungpinggir, Pulau Dongas dan Bakur. Di sebelah kiri, gedung-gedung di Singapura tampak berjejer. Pemandangan alam dan resort, tertata apik di atas bukit di antara rimbunan pepohonan dan hutan bakau.
Satu jam kemudian, pancung berhenti di restoran kosong di Batumerah karena ada tangga dari laut. Peta pun dibuka. Ternyata, tidak satu pun dari kami yang pernah mengelilingi Batam naik boat pancung. Termasuk Hasan dan Ibrahim, meski sudah belasan tahun mengemudi pancung.
Pantas saja, sebelum berangkat, Hasan yang berasal dari Pulau Terong itu minta agar bawa peta. Ia juga menganjurkan bawa jeruk agar tak mabuk laut. Kami juga tidak tahu, berapa lama waktu tempuh mengelilingi Batam.
Dari peta berskala 1:72.000 itu, diperkirakan baru sore hari pulau ini bisa dikelilingi. Garis karvak dibentuk, lalu dikalikan dengan waktu yang sudah dilalui. ”Wah, tampaknya tak cukup satu hari keliling Batam,” kata seorang fotografer.
Sebuah kapal kecil sandar dekat lampu suar kapal tampak sedang mengevakuasi kapal. ”Di tengah kita ini lokasi kapal tenggelam. Ukurannya cukup besar. Lihat saja luas garis tambang yang melintang memagari lokasi,” ujar Hasan, pengemudi pancung. Di perairan Tanjungsengkuang, tampak kerusakan pesisir pantai. Pohon bakau tumbuh enggan di antara pemukiman nelayan. Air laut keruh dan berlumpur. Dua alat berat berada di ujung timbunan tanah yang menjorok ke laut.
Terik matahari mulai terasa menyengat. Tiba-tiba, sebuah perahu beratap dikayuh seorang wanita, melintas. ”Suku Laut,” cetus seorang fotografer. Pancung kami minta berputar, agar bisa memotret. Suaminya keluar dari balik atap dan tampak kurang senang. ”Hei, mana boleh sembarangan?”katanya. Pancung pun segera pergi.
Namun, tak lama kemudian, di sebuah pulau karang, kami melihat ada beberapa perahu suku Laut yang sedang berlabuh. Dari balik pohon, beberapa fotografer membidikkan kamera. Mereka sekeluarga dan berasal dari Pulau Karas.
Pakaian dijemur di atap perahu. Anak-anak mereka bermain dalam perahu, sementara kepala keluarga, pergi ke pulau terdekat mengambil air bersih. Di lambung perahu, tempuling atau tombak ikan terikat kuat. Perahu ini biasanya diikat berantai dengan perahu lainnya. Menandakan suatu kelompok atau keluarga. Beberapa perahu ada juga yang dilengkapi motor tempel.
Motor ini digunakan dalam situasi tertentu, cuaca buruk atau menarik ikan berukuran besar. Konon, suku laut ini paling mahir berburu ikan hiu dan penyu raksasa. ”Kami cuma mau foto-foto,” kata Hasan kepada kepala keluarga Suku Laut yang datang membawa air. ”Begini pak, kalau mau foto harus bayar asuransi dulu,”katanya. Kami tercengang. Ternyata, asuransi yang dimaksudnya adalah, harus bayar sejumlah uang dulu, baru boleh memotret mereka.
Saat ditanya mereka memasak dan tidur dimana, salah seorang menjawab,”Tidur di perahu,kan tidak mungkin kami tidur di atas air,”katanya. Kami tergelak. Puas memotret, kami pun bergerak.
Menelusuri sepanjang pantai Nongsa, selain sejumlah resort, airnya jernih dan dasar laut tampak jelas. Kawasan ini memang cocok untuk snorkling dan scuba diving. Dua jetski berputar-putar di tengah laut.
Dari Teluk Mata Ikan, pancung terus melewati Batu Besar. Pancung kami minta berlayar 500 meter dari pantai, agar memudahkan memotret kondisi Pulau Batam. Selain nyiur di sepanjang pantai, kami menemukan aktivitas reklamasi yang menjorok ke tengah laut.
Ibrahim yang berada di haluan pancung, memberi tanda dengan lambaian tangan kepada Hasan sebagai tekong, agar mesin pancung tidak menyentuh batu di perairan dangkal. Kami menyaksikan aktivitas PT Citra Tubindo dari laut, melewati Kabil dan masuk ke pelabuhan Telagapunggur.
Rombongan berhenti makan siang di restoran Riverside, Telagapunggur. Ternyata, restoran seafood itu ada dalam peta. Tak terasa, kami sudah mengelilingi separuh Pulau Batam. Semangat yang sempat kendor bangkit lagi. Sudah empat jam kami di laut.
Meski kulit mulai memerah, pancung terus menuju Bagan dan terus ke Tanjungpiayu. Melewati perkampungan nelayan. ”Inilah wajah Batam sesungguhnya,” kata Ivan Siregar. Air laut yang tenang, kadang-kadang berputar dekat batu karang sehingga pengemudi pancung harus waspada.
Hampir satu jam kemudian, dari kejauhan tampak Jembatan Barelang berdiri kokoh. Beberapa fotografer berdiri sehingga pancung agak oleng. Kalau selama ini memotret jembatan kebanggaan warga Batam itu dari atas, kini kami bisa merekamnya dengan kamera dari bawah.
Kami terus melewati Pulau Akar, Tanjung Gundap dan Dapur Duabelas. Mendekati wilayah Sagulung, pemandangan terasa berbeda lantaran bisa melihat pembuatan kapal tongkang dan perusahaan shipyar. ”Oh, ternyata begini perusahaan perkapalan dilihat dari laut. Selama ini, saya tidak tahu seperti apa di dalamnya,” kata Dewi, yang bekerja di kawasan industri Tanjunguncang.
Beberapa pekerja perkapalan, melambaikan tangan. Dari Tanjunguncang, pancung terus melaju dengan kekuatan dua mesin menuju Tanjungriau. Kami memang tidak mengitari rangkaian pulau-pulau di Pulau Janda Berhias. Tak terasa, pancung tiba kembali di pelabuhan Sekupang. Enam jam lamanya kami di laut dan merapat pukul 02.00 siang.
Akhirnya, kami berhasil mengelilingi Pulau Batam yang berbentuk kalajengking itu. Ada enam tanjung dan empat teluk yang sudah dilewati. ”Kita berhasil keliling Batam,”cetus Mardawa, senang. Selain mendapatkan berbagai obyek foto, ada kepuasan tersendiri kembali ke titik pemberangkatan dengan selamat.
Rasa senang dan bangga membuncah dalam dada. Bagi sebagian orang mungkin perjalanan ini tampak mudah dan sederhana. Tapi bagi pekerja kantoran yang hobi memotret dan wartawan yang ingin tahu, perjalanan ini sungguh berkesan. Jangan-jangan, kami yang pertama keliling Batam naik boat pancung.
Ada yang mengusulkan, perjalanan berikutnya, selain mengelilingi pulau, juga kemping dan bermalam di sana. Petualangan keliling pulau ini, bisa saja dijadikan obyek wisata seperti Batam explorer atau Batam adventure. Sel
ain memberdayakan obyek wisata pulau, melihat perkampungan nelayan, restoran dan kelong di pinggir laut, Batam akan mendapat pengunjung baru dari wisatawan yang tertarik dengan petualangan tersebut. ***


