Cerita tentang Istriku

Aku beruntung dapat istri yang cantik dan baik serta unik. Kami menikah 26 Maret 2000 delapan tahun lalu. Kini dikaruniai sepasang buah hati yang sehat dan lucu. Istriku seorang yang keras hati sekaligus si lembut hati.
Suatu malam, aku mau mengunjungi adikku Ira, yang kos tak jauh dari kantor. Saat bertemu, Yeni Astuti–wanita yang kini jadi istriku, terkesan cuek. Kulitnya putih. Mata sipit mirip orang Cina dengan rambut lurus sebahu. Gadis Palembang itu, segera menyita perhatianku.
Akrab seminggu, aku ajak menikah. Ia menangis tersedu-sedu. Belakangan, ia bilang terharu. Antara nekad dan spontan. Soalnya, saat itu aku sudah 33 tahun dan ia baru 22 tahun. Tapi, masa pacaran sampai setahun juga. Saya melamarnya dan kami menikah.
Lagu Terlena yang disenandungkannya di acara pernikahan kami, seolah mewakili perasaannya terhadapku. Lalu, kami melewati bulan madu yang indah di Thailand, selama dua minggu. Sampai hamil delapan bulan, istriku masih bekerja di perusahaan kosmetika Mirabella. Saat putra pertamaku Axel Ariel Muhammad lahir, ia memutuskan berhenti dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Istriku anak ke empat dari enam bersaudara. Ayahnya mantan pelaut dan berasal dari Jawa Timur. Ibunya wanita sederhana dari Ogan Komering Ilir. Namun, hanya istriku yang berkulit putih dan mata sipit seperti Cina. Sejak kecil, ia sering diolok-olok orang Cina.
Istriku seorang wanita yang sangat pengertian. Ia memahami pekerjaanku sebagai wartawan. Sering ia kubawa ke kantor agar ia tahu, wartawan bekerja kadang tak mengenal waktu. Saat aku bentrok dan nyaris disekap oleh seorang oknum pejabat tentara, ia ikut kubawa kabur. ”Ternyata, beginilah rasanya menjadi istri wartawan,”katanya. Ia ketakutan.
Istriku senang jalan-jalan. Ia suka hal-hal baru dan unik. Klop dengan tugasku sebagai wartawan. Wajahnya yang mirip orang Cina, sering membuat orang salah sangka. Kalau belanja di Nagoya, ia diajak bicara Mandarin yang tidak dimengertinya. Bosku Dahlan Iskan pun pernah bertanya,” Istri Anda Tionghoa?,.. aku tersenyum dan geleng kepala.
Tak pernah ia merecoki pekerjaanku. Kadang aku pulang tengah malam bahkan subuh, ia menelepon dan bertanya, apakah aku tidak pulang ke rumah. Sejak menikah, aku selalu bawa kunci rumah.Saat anak kami Alliya Sonia Azarena lahir, lengkap sudah kebahagian kami.
Satu hal yang aku salut padanya, salat lima waktunya tak pernah tinggal. Setelah ikut ESQ ia memutuskan memakai jilbab. Ia rajin menjadi guru anakku saat mengerjakan tugas sekolah. Ikut kursus bahasa Inggris agar bisa komunikasi dengan guru anakku karena bahasa pengantar di sekolahnya bahasa Inggris.
Beberapa kali, aku membuatnya jengkel. Suatu pagi, aku pergi dengannya membeli sarapan pagi. Setelah memutar mobil, aku kelupaan menjemputnya dan terus melaju di warung tempat ia membeli sarapan. Aku lupa, ha..ha..ha! Ia hanya cemberut melihat aku tertawa-tawa.
Pernah pula, saat mengantarnya belanja ke pasar pagi, aku pergi ke mobil boks yang mendistribusikan koran. Aku baru sadar, istriku sudah kelamaan di tengah keramaian pasar. Aku mencarinya, tapi tak ketemu. Jangan-jangan, ia sudah menunggu di mobil membawa belanjaan.
Celakanya, kami tak membawa handphone. Ternyata benar. Dari jauh kulihat ia berdiri di antara tumpukan belanjaan, sambil menangis terisak-isak. Oalah, istriku. Kalau ia kesal, dnegan ulah kedua anakku,ia juga menangis tersedu-sedu.
Ia juga bukan wanita yang suka jaga gengsi. Kendati aku menjabat sebagai pemimpin redaksi, ia tak malu-malu bikin kue, lalu dijual di kantir kantor. Aku yang disuruh mengantar penganan itu dan mengutip uang penjualannya. Suatu pagi, karena ngerem mobil mendadak, kue-kue itu berhamburan dalam mobil.
Satu persatu, kupungut kembali lalu aku tiup agar tidak kotor. Kue itu lalu dititipkan ke kantin. Sorenya, kulihat kue itu hampir habis. Barulah aku cerita, tadi kue itu terserak di mobil. Ha..ha..ha..
Istriku juga pernah membuka konter kosmetik di mal. Tiap hari ia ke mal berjualan. Namun, hanya bertahan delapan bulan lantaran mal itu semakin sepi. Pernah pula ia menjual pakaian secara kredit kepada ibu-ibu di komplek atau wirid pengajian.
Benarlah kata orang. Istri yang baik akan menjadi pendorong semangat suami. Aku bangga, istriku tak suka bergunjing, iri dan dengki seperti kebanyakan wanita. Postingan ini sebagai kado ulang tahunnya yang ke 30 tanggal 20 Juni 2008. Soal tanggal lahir ini, aku dan istriku serta kedua anakku, semua lahir tanggal 20 tapi bulannya berbeda. ***
Life Begin Fourthy One 20/05/67 – 20/05/08
Hidup dimulai pada usia 40 tahun. Selasa, 20 Mei 2008 saya genap 41 tahun. Saya berharap lebih sehat, lebih sabar dan makin bijak dan menjadi pemimpin yang adil. Meski libur dan tanggal merah, saya bahagia mendapat ucapan selamat dari orang-orang dekat dan keluarga.
Sehari sebelumnya, saya sibuk dengan acara Safari Jurnalistik PWI di Nagoya Plasa Hotel. Acara berjalan sukses dan dihadiri Gubernur Kepri,Ketua DPRD Kepri, Ketua DPRD Batam, Asisten III Wali Kota serta anggota DPRD Batam. Tiga tahun lalu, PWI Kepri juga sukses menggelar Training of Trainer dan menjadi yang terbaik di Indonesia.
Malamnya, SMS ucapan selamat ulang tahun mulai dikirim ke HP saya. Saya capek dan tidur-tiduran di kamar hotel. Tengah malam, menjelang pulang ke rumah, tiba-tiba muncul beberapa karyawan Batam Pos dan Posmetro Batam memberi kejutan.
”Selamat ulang tahun,” kata mereka, sambil membawa roti dan kentang, lalu dipasangi sebatang lilin. Bukan lilin ulang tahun, tapi lilin biasa yang dipasang kalau listrik mati. Saya terharu. Saat itu sekitar pukul 02.00 WIB. Ada Sigit, Rikson, Vina, Uci, Loli, Susi dan Tia. Saya traktir mereka ngopi dan makan ke Mc Donald subuh itu.
Dengan mata ngantuk berat, saya sampai di rumah pukul 04.00 subuh. Paginya, ciuman mesra dari istri saya, mendarat di pipi. ”Papa, selamat ulang tahun,” katanya. Siangnya, saya ke hotel lagi karena ada rombongan PWI Pusat yang harus terbang ke Jakarta.
Dalam perjalanan, Wina Armada, anggota Dewan Pers dan Sekjen PWI itu bertanya berapa umur saya. ”Hari ini tepat 41 tahun,” kata saya.
Wah, kalau begitu, selamat ulang tahun, ya? kata Wina seraya menyebutkan, ia tanya umur saya hanya feeling-nya saja.
Pulang dari bandara, saya ketiduran. Ternyata, sorenya dua buah hati saya, Axel Ariel Muhammad dan Sonya dan istri saya Yenni sudah menyiapkan kue ulang tahun. Sore itu saya masih sempat berkebun. Anak saya minta, agar lilin segera dinyalakan dan acara ultah sederhana di rumah dimulai.
Malamnya, saya telepon kakak dan adik saya Linda dan Ira agar bergabung. Di rumah, ada Novi dan suaminya Agus. Saya juga ajak Ridwan Ginting, guru saya nyetir. Hampir semua ponakan hadir. Kami menuju restoran Sri Rejeki di Batu Besar. Acara ulang tahun bersama keluarga pun dimulai.
Mama memberi saya kado. Isinya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebuah buku. Tapi, buku kali ini lebih istimewa, yakni buku pintar haji dan umroh. ”Keluarga sudah, kedudukan sudah, rumah dan mobil sudah. Hanya naik haji yang belum,” kata mama. Insya Allah!
Orang Amerika bilang, life begin fourthy atau hidup dimulai umur 40 tahun. Entah apa arti harfiahnya. Usia saya sudah 41 tahun. Banyak hal yang sudah saya capai dan berkah dari Allah SWT.Sepasang anak yang cantik dan ganteng, istri yang baik, keluarga yang hangat dan akrab, serta direktur perusahaan media terkemuka. Terima kasih ya Allah.
Namun, setiap ulang tahun saya, setiap itu pula hari Kebangkitan Nasional dirayakan. Apalagi, kali ini seabad hari kebangkitan itu. Hari ini, kebangkitan itu sangat diperlukan. Negara terancam kolaps setelah harga minyak dunia naik gila-gilaan. Sebentar lagi, harga BBM di dalam negeri, juga akan dinaikkan. Aksi demo menentang kenaikan BBM marak dimana-mana.
Indonesia Bisa! kata Presiden SBY membangkitkan semangat bangsa yang makin terpuruk. Meski slogan itu meniru Malaysia, pemimpin harus tetap optimis. Ibu SK Trimurti pengetik naskah proklamasi dan Ali Sadikin mantan gubernur DKI yang kontroversial itu, wafat.
Di hari Kebangkitan Indonesia ini, saya ingin menjadi orang Indonesia yang lebih baik, berguna bagi orang Indonesia lainnya. ***
Lihat Kebun Bungaku
Keinginan punya kebun bunga, akhirnya terkabul juga. Selain menyalurkan hobi bercocok tanam, lingkungan jadi asri, bisa dapat uang pula. Inilah cerita kebun bungaku–yang belum diberi nama–di tikungan jalan kompleks Taman BPD Indah, Batam Centre.
Sudah lama saya ingin punya kebun bunga. Lantaran dapat membeli rumah di bukit yang dipotong, ada buffer zone berbentuk tebing dan bisa memandang jalan raya. Tebing di depan rumah itu, saya jadikan taman. Kebetulan, ada adik kelas di INS Kayutanam dulu yang jago bikin relief.
Dulu, tebing di depan rumah itu penuh rumput ilalang dan paritnya kotor. Sekali tiga bulan, saya panggil tukang potong rumput membabatnya. Apalagi, dua rumah di sebelah rumah saya dibiarkan kosong oleh pemiliknya.
Kalau sekitar rumah tak dibersihkan, nyamuk merajalela.
Kebetulan, saya dipercaya warga menjadi Ketua RW selama tiga tahun. Saya sering pulang malam dan bertemu dua satpam kompleks. Sering ia mengeluh lantaran gajinya tak cukup. Apalagi kalau ada warga yang menunggak uang keamanan. Bagaimana saya bisa membantunya?
Spontan, saya tawarkan kepadanya, apakah ia mau merangkap jadi tukang kebun? Jadi, gajinya bisa dobel. Petrus, warga Flores itu mau. Lantaran ia tak tahu berkebun bunga, saya belikan buku dan menyuruhnya membaca. Ternyata, berbisnis bunga bisa menghasilkan uang banyak. Yang penting, Anda hobi berkebun bunga.
Ada dua ancaman berkebun bunga. Yakni bunga bisa mati karena tidak dirawat atau salah media tanamnya dan dicuri orang. Saya pernah mengalaminya. Bunga aunthurium yang sudah keluar dua bonggolnya digasak maling dari teras rumah.
Sejak bulan Mei 2007 itulah, saya mulai berburu bunga. Beruntung, saya bisa membeli berjenis-jenis bunga termasuk puluhan bakalan bonsai beringin Rp300 ribu. Banyaknya satu lori! Saya juga mengurus izin peminjaman lahan ke Otorita Batam. Luas kebun bunga saya lumayan. 100 meter x 8 meter, termasuk tebing.
Saya mulai membeli bunga, meski dalam jumlah terbatas. Mulai dari Sekupang, Batuaji hingga saya beli kalau kebetulan keluar kota seperti ke Natuna, Pekanbaru, Payakumbuh, Jakarta. Malah, ada bunga yang saya datangkan dari Surabaya dan Medan. Tak terasa, beli pot, polibag, tanah hitam, gaji tukang kebun, bikin gazebo menelan dana yang cukup besar hingga puluhan juta.
Kadang-kadang, saya merasa seperti gila bunga. Di pekanbaru, saya beli bunga murah yang ditanam di pot kaleng bekas dan berkarat. Bunga itu saya bawa ke hotel. Bagaimana cara membawanya. Tanahnya saya gali pakai sendok, lalu dimasukkan ke plastik dan dibungkus kardus. Tanah di kamar mandi yang berserakan saya semprot sampai bersih. Bunga jenis keladi itu laku Rp15 ribu satu pot.
Lama-lama, tak kuat juga di kantong beli bibit bunga. Kadang-kadang, pada hari Minggu saya ke hutan berburu pohon yang bisa dibonsai. Beberapa di antaranya mati, tapi ada juga yang hidup. Pelan tapi pasti, kebun bunga saya mulai terisi berbagai jenis bunga dan tanaman. Selama setahun, apa hasilnya?
Hasil penjualan bunga jauh dari memadai. Tampaknya, butuh kesabaran mengurus kebun bunga. Tapi, yang saya senang, warga di kompleks saya ikut senang melihat kebun bunga itu. ”Nah, ini baru namanya Taman BPD Indah, ya pak,” kata mereka. Soalnya, meski namanya pakai Taman, tidak ada taman di komplek itu.
Kalau biasanya saya panggil tukang potong rumput, akhirnya saya beli mesin potong rumput buatan China seharga Rp800 ribu. Awalnya, saya tidak tahu bagaimana menjalankan mesin itu. Ya, coba-coba saja. Eh, lama-lama jadi bisa. Memang, pada awalnya tubuh dan tangan rasanya bergetar memakai mesin yang digantung di punggung itu. Kompleks saya pun makin bersih.
Meski selama setahun saya evaluasi hasinya hanya beberapa ratus ribu rupiah saja,saya tetap optimis. Apalagi, sejak bulan April 2008 lalu, saya bekerja sama dengan Mas Bambang, pemilik Anugrah Rose Nursery. Ia termasuk pedagang bunga kelas atas di Batam.
Ia setuju join dengan saya setelah melihat kebun saya yang strategis. Di tepi jalan menikung dan di kawasan Batam Centre ke Bandara, dibangu ribuan perumahan baru. Ia mulai mendrop ratusan bunganya dan ditata di kebun saya, eh kami. Ia juga mengirim lima orang tukang kebunnya menggarap kebun bunga itu.
Dalam tempo dua pekan, kebun bunga saya yang belum diberi nama itu, langsung berubah.Bunga ditata apik. Tebing di depan komplek itu langsung hijau dan asri. Tukang kebun itu boleh tahan. Mulai pagi hingga sore, mereka yang berasal dari Jawa Barat itu, bekerja sungguh-sungguh.
Semangat saya yang mulai luntur, bangkit lagi. Saya juga ikut bekerja menata taman. Tak heran, kulit saya jadi hitam terbakar matahari. Tapi yang jelas, tiap hari berkeringat, mandi lalu berangkat kerja. Selain itu, berkebun ternyata sungguh mengasyikkan.
Apalagi, sejak akhir April 2008, penjualan bunga saya meningkat drastis. Dua paranet pelindung bunga dipasang. Lampu taman ditambah dan akan dibangun pondokan semacam green house di ujung taman. Saya optimis, kebun bunga saya akan menjadi taman bunga yang menghasilkan. ***
Berhenti Merokok
Hari ini, sudah tiga hari saya berhenti merokok. Ternyata, saya hebat juga. Bisa menyetop kebiasaan buruk bertahun-tahun itu. Karena tidak ada yang memuji, bolehlah saya puji keberhasilan saya ini. Padahal, saya mengantongi resep dokter untuk berhenti merokok. Tapi, ternyata bukan karena resep itu…
SAYA mulai belajar merokok kelas II SMP atau pada usia 15 tahun. Saat itu tahun 1981. Baru terasa kecanduan pada kelas I SMA. Saya masuk SMA tahun 1983 dan tamat tahun 1987. Lho, kok empat tahun. Ya iyalah, karena pakai tinggal kelas, saat kelas satu, he..he.
Nah, anggaplah saya merokok sejak tahun 1983 berarti, saya sudah menjadi perokok selama 25 tahun! Itu berarti lebih separuh dari usia saya saat ini. Kalau rata-rata saya merokok sebungkus per hari atau 20 batang x 365 hari x 25 tahun berarti saya sudah mengisap 182.500 batang rokok.
Itu baru jumlah rokoknya. Kalau hitung-hitungan duit yang sudah ‘terbakar’ selama ini? Taruhlah sebungkus Rp7.500 saja maka uang yang sudah terbuang percuma Rp7.500 x 365 x 25 tahun berarti Rp68.437.500. Lumayan besar, bukan?
Tapi, ya begitulah. Namanya juga kecanduan. Saat SMP saya pernah kabur dari rumah. Agar tetap bisa merokok, saya bekerja setengah hari di pabrik tas, memasang paku yang diketok palu ke tas-tas itu. Sorenya, langsung dapat gaji. Saya belikan rokok, dan asap pun mengepul.
Setelah tinggal kelas, saya masuk INS Kayutanam, sekolah dengan areal 18 hektar, lengkap dengan asrama, ruang makan, kolam renang dan lapangan sepakbolanya. Merokok tetap dilarang dan kami lakukan sembunyi-sembunyi. Kalau tanggal tua, malah sebatang rokok bisa diisap tiga orang!
Pernah saya melihat ada teman yang mengumpulkan puntung rokok, lalu dilinting dan dibungkus kertas tipis, dan diisap lagi. Persis seperti orang melinting ganja. Itu karena kiriman uang dari orangtuanya belum datang-datang dan di kantin tak dikasih ngutang lagi.
Saat di asrama, saya jadi punya teman akrab karena rokoknya sama-sama Bentoel Biru. Saat kuliah, saya lama sekali mengisap rokok putih Dunhill. Lumayan mahal, tapi saya terdorong untuk cari uang agar bisa beli rokok. Saya kuliah sambil bekerja serabutan. Sehingga, beli rokok sudah tak masalah.
Pada tahun 2003 saya pernah berhasil berhenti merokok selama empat bulan. Saya tidak ingat karena apa. Yang jelas, saya ingin berhenti. Tapi, suatu sore, rumah kontrakan saya dilalap api karena korsleting. Saya stres, lalu merokok lagi. Rokok pun gonta-ganti. Marlboro, lalu Sampoerna, pindah ke LA Light, balik lagi ke Marlboro dan Sampoerna lagi.
Keinginan berhenti merokok tetap ada. Tapi, bagaimana caranya dan kapan memulainya? Saya pernah membeli CD untuk menghipnotis orang agar berhenti merokok. Saya putar sebentar, lalu saya merokok lagi.
Pernah pula saya beli buku saku.Ukuran dan disainnya seperti kotak rokok. Judulnya, baca buku ini dan berhenti merokok.Saya tidak sempat baca semuanya, bukunya saya simpan saja. Dalam beberapa tahun terakhir, saya termasuk rajin check-up kesehatan.
Termasuk memeriksa darah dan jantung. Saya pernah treathmill selama 12 menit. Kata dokter, tak ada masalah. Begitu pula rekam jantung. Hanya saja, belakangan ulu hati terasa sesak, perut kembung dan dada nyeri. Ternyata, itu karena naiknya asam lambung.
Nah, terakhir saya konsultasi dengan dokter Afdalun, spesialis jantung. Saya bertanya cara berhenti merokok. Dokter itu tersenyum. Lalu, ia memberi saya resep. ”Kalau coba obat ini, lama-lama rokok terasa tidak enak,” katanya. Resep itu saya simpan dan tidak jadi saya tebus. Saya merasa, sehebat apapun obatnya, kalau kita tidak mau berhenti, ya susah.
Malam tanggal 13 April itu, dua bungkus rokok di ruang tamu, berikut korek apinya, saya remas sampai setengah hancur, lalu saya buang jauh-jauh. Saya berhenti merokok,” kata saya dalam hati. Saat kisah ini saya posting, sudah tiga hari saya berhenti merokok.
Ini lelucon tentang rokok. Seorang lelaki berusia 50 tahun pergi ke dokter. Terjadi dialog seperti berikut:
Dokter: Anda merokok?
Pasien: Oh, tidak, dok.
Dokter: Minum minuman keras?
Pasien: Ah, juga tidak, dok.
Dokter: Main perempuan?
Pasien: Wah, apalagi itu dokter. Nggaklah!
Dokter: Jadi, buat apa lagi Bapak hidup. Tiga itulah kenikmatan dunia.
Lalu, ada kisah seorang lelaki yang batuk-batuk dan sesak nafas, datang berobat ke dokter penyakit dalam. Sambil menulis resep, dokter berkata. ”Bapak tidak boleh merokok lagi,” katanya. Sebatang rokok terselip di bibirnya dan asapnya berkepulan. Pasien itu heran, lalu bertanya,” Dokter, Anda melarang saya merokok, tapi Anda sendiri merokok,’’sergahnya.
”Nah, itulah beda dokter dan pasien,” jawab dokter itu kalem.
Saat istri saya melahirkan, saya melihat dokter spesialis kandungan juga merokok sebelum melaksanakan operasi caesar. Alasannya, ia tegang dan stres sehingga merokok.
Jadi, kalau saya berhenti merokok, itu sudah hebat. Kalau saya nanti merokok lagi, maklum sajalah! Yang jelas, saya sudah merasakan salah satu kenikmatan dunia. Bagi yang tidak merokok, cobalah, lalu berhentilah. ***
Sewindu Pernikahanku
Hari Rabu, 26 Maret 2008 tepat sewindu atau delapan tahun saya menikahi gadis Palembang bernama Yenni Astuti, yang kini telah memberi saya sepasang putra-putri yang ganteng dan cantik. Kami merayakannya dengan sangat sederhana, berdua saja.
Saat malam tiba, menunggu si kecil tidur, saya pergi berdua menuju kawasan Jodoh. Di Jodoh saya bertemu jodoh, delapan tahun lalu. Ini seperti berkah, karena saat itu saya sudah 33 tahun dan mulai gelisah dan sering ditanya ibu saya, kapan saya menikah. Begini kisahnya.
Malam itu, selesai kerja saya mau pergi ke rumah kos adik saya, di perumahan Jodoh Permai. Saya mengajak Yos, naik motor ke sana. Rencananya, kami mau makan. Adik saya ini, terkenal pintar masak. Di rumah itu, kami ”menemukan” dua wanita cantik. Satu namanya Fitri, dan satunya Yenni.
Karena sama-sama jomblo, saya dan Yos langsung tertarik pada kedua wanita yang bekerja sebagai beauty promotor kosmetik Mirabella itu. Singkat cerita, jadilah kami dua pasangan. Yos dengan Fitri, saya dengan Yenni. Namun entah mengapa, Yos dan Fitri hanya bertahan tiga bulan.
Agar bisa pacaran, saya menyuruh wartawan cepat-cepat bikin berita. Maklum, saat itu saya koordinator liputan. Jadi, kalau kerja cepat selesai, bisa cepat-cepat menemui pujaan hati saya. Kami pacaran naik motor butut saya, GL Pro keluaran tahun 90-an. Suara knalpotnya brmm..brmm.
Kalau ada duit lebih, saya mengajak Yeni makan malam di restoran Batam Kuring, di jalan Borobudur yang menanjak menuju ke Bukit Senyum. Masakannya Sunda, dan restoran itu dipenuhi bunga-bunga dan taman.
Seminggu pacaran, saya mengajaknya menikah. Saya kaget melihat Yenni menangis berurai air mata. Setelah kami menikah, ia mengaku terharu…
Saat melamar Yeni, saya langsung mengajak ibu saya ikut serta. Ibu saya ‘’sembunyikan” di hotel, lalu saya datang sendiri ke rumah Yenni di Lorong Putra, Palembang. Saat ditanya, mana keluarganya, saya terpaksa berbohong kepada calon mertua. Saya bilang, nanti saya jemput ke Batam, padahal ibu saya sudah di Palembang. Keesokan harinya, saya bawa ibu saya ketemu calon besannya. Perundingan berjalan lancar. Hari dan tanggal pernikahan pun ditetapkan.
Kami menikah di Palembang. Acaranya cukup meriah. Hanya saja, selain beberapa keluarga yang saya boyong ke Palembang, tak satupun tamu saya kenal. Dua hari kemudian, kami berbulan madu ke Thailand. Ini kado dari seorang sahabat saya, Ny Maria Muna Englo, seorang pengusaha Tionghoa yang suda menganggap saya seperti adiknya.
Begitulah. Merayakan ulang tahun perkawinan, saya mengajak istri saya makan di restoran Batam Kuring dan ngobrol mengingat masa lalu. Setelah itu, kami datang ke rumah kosnya dulu. Bertemu dengan pemilik rumah yang kini sudah ditinggal suaminya yang warga Singapura itu. Anak semata wayangnya, sama persis hari kelahirannya dengan anak tertua saya.
Saya tidak hanya ingin bercerita soal perkawinan dan kebahagiaan kami. Betapa sulitnya mencari jodoh yang tepat di Batam. Sebab, selain sama-sama pendatang, lelaki sulit percaya, apakah wanita di dekatnya orang baik-baik dan berasal dari keturunan baik-baik pula. Apalagi perempuan, juga sulit percaya apakah lelaki yang mendekatinya, bukan suami orang, punya pekerjaan tetap dan dari keluarga baik-baik.
Kalau sudah berpacaran pun, melangkah ke jenjang pernikahan, juga bukan perkara mudah. Kalau mereka sama-sama berasal dari daerah yang sama, mungkin tidak terlalu sulit. Tapi, kalau yang satu dari Sumatera sedangkan yang lain dari Kalimantan? Wah, repot juga mencari waktu dan memikirkan biayanya untuk saling berkenalan dengan calon mertua.
Lalu, bagaimana? Saya punya tips bagi Anda untuk mengenal lebih jauh pasangan Anda.
Pertama, kenali sifatnya. Ada orang yang pendiam, periang, tertutup atau terbuka. Orang cantik dan ganteng juga sifat. Namanya sifat genetik. Nah, Anda pasti tahu, lebih suka yang sifatnya seperti apa.
Kedua, latar belakang keluarga. Nah, ini yang agak sulit, apalagi kalau keluarganya nun jauh di kampung sana. Bagaimana orang dibesarkan dalam sebuah keluarga, akan sangat berpengaruh pada karakternya. Misalnya, anak seorang guru, tentu berbeda dengan anak seorang tentara yang sering membawa disiplin militer ke rumahnya. Contoh lain, anak kecil yang diajak bertamu ke rumah orang lain, saat mengambil kue dengan tangan kiri, ibunya bilang,” eh, ambil dengan tangan bagus!” Sehingga, sampai mati sang anak menganggap tangan kanan itu tangan bagus.
Ketiga, teman sepermainan. Dalam istilah sosiologi, ini namanya peer group atau kelompok pengaruh. Seseorang yang berteman dengan penjual parfum, ia akan kecipratan wanginya. Sebaliknya, seseorang yang berteman dengan pencuri, minimal ia akan terseret sebagai saksi di pengadilan.
Keempat, latar belakang pendidikan. Memang, soal wawasan, pengetahuan akan ditentukan oleh latar belakang pendidikan sesorang. Tentu, berbeda wawasan dan cara berpikir seorang sarjana dengan orang yang tamat SD misalnya. Namun, tidak jarang, seseorang yang hanya tamat SMA tapi cara berpikir dan kecerdasannya melebihi seorang sarjana.
Dan yang kelima, usianya. Makin tua usianya, mestinya sesorang makin matang dan dewasa. Tapi, dalam beberapa kasus, ada juga orang yang usianya sudah tua, tapi masih kekanak-kanakan. Nah, setidaknya, lima faktor inilah yang harus menjadi perhatian agar kita bisa mengenal seseorang lebih dekat dan lebih akurat.
Celakanya, di Batam memang banyak kasus perceraian dan perselingkuhan serta kekerasan rumah tangga yang membuat orang berpikir dua kali untuk menikah. Saat saya masih lajang, saya mengalami ”tekanan” untuk segera menikah. Apalagi, dari empat saudara, hanya saya yang belum berkeluarga. Saya tak bisa bayangkan, tekanan yang dihadapi para wanita, ketika usia sudah hampir kepala tiga, belum juga menikah.
Kalau cowok sih, masih mendingan. Sebab, ia bisa mengejar wanita idamannya, seperti yang dimauinya. Nah, kalau wanita menyukai seorang pria? Tentu ia tidak mau dianggap murahan dan mentel sehingga mengejar-ngejar pria. Artinya, wanita ”dipaksa” menunggu” sang pangeran datang ke haribaannya.
Saya ingin mengatakan, ternyata tidak hanya wanita yang menghadapi ”tekanan” terlambat menikah. Bisa berupa tekanan psikis (kok aku belum laku-laku ya?) tekanan biologis (awas, melahirkan di atas usia 30-an bahaya lho, padahal peralatan medis makin canggih) atau tekanan sosiologis dari sanak keluarga (apa lagi yang ditunggu, kapan mau menikah? dsb).
Sejak lama, saya merasa, membuka biro konsultasi keluarga atau membuka biro jodoh bisa jadi bisnis menggiurkan di Batam. Bayangkan, dalam setahun lebih 500 orang yang bercerai. Entah karena pengaruh sinetron dan ulah para artis, atau bisa jadi karena wanita makin berani menggugat hak-haknya. Apalagi, di sekitar kita, masih banyak yang melajang. Mungkin mereka perlu bantuan. ***
Shakespeare, Namaku Socrates…

APALAH arti sebuah nama, kata Shakepeare, pujangga Inggris. Tapi, kini nama tidak hanya sebuah identitas, juga merek alias brand yang sangat mahal. Pantaslah ada orang meniru nama atau merek tertentu.
Saat di SMP, Ibu Upik, seorang guru yang jengkel dengan kebandelan saya, mengusulkan di depan kelas agar nama saya diganti. Namamu ganti Muslim saja,” katanya. Saya malu dan mulai berpikir mengganti nama saja.
Sejak itu, pernah berhari-hari saya memikirkan, bagaimana caranya ganti nama. Apa perlu pergi ke pengadilan. Tapi, siapa yang akan saya mintai tolong untuk proses ganti nama? Mau mengadu ke orang tua, saya tak berani.
Tanpa diminta, ibu saya menjelaskan, nama saya pemberian kakek, seorang pejuang yang pernah dibuang Belanda ke Boven Digul. Apalagi, dari empat saudara, hanya nama saya yang aneh dan antik. Abang saya Dideng dari asal kata Daeng, kakak perempuan saya Corry Herlinda dan adik saya Selvia Havira.
Namun, saya menduga, ibu saya memberi nama ini setelah ia membaca buku Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karangan Dale Carnegie. Salah satu babnya berjudul: Rahasia Socrates, filsuf Yunani Kuno itu.
Masalah nama muncul ketika saya mulai kuliah. Dosen Bahasa Inggris, menertawakan nama saya di depan kelas. Saya marah. Saya bilang, nama Anda juga bukan nama Indonesia asli. Namanya Yosefino. Akibatnya, nilai saya jeblok. Saya menduga, dosen itu marah karena saya mengkritik dia setelah dia mengejek saya.
Suatu hari, saya pergi ke pustaka. Karena sudah biasa ke sana, saya langsung ke rak buku. Seorang bapak memanggil saya dan berkata,” Hei, isi buku tamu dulu.” Ops, saya lupa. Lalu menulis nama di buku tamu. Ia tampak heran. Lalu meminta saya memperlihatkan Kartu Tanda Penduduk.
Setelah diamatinya, bapak itu berkata,” Saya kira kamu tadi main-main.” Setelah itu, ia jadi ramah dan menawarkan mencarikan buku yang saya perlukan. Sejak awal dia minta KTP saya, saya sudah menduga, pasti ada masalah dengan nama saya.
Begitulah. Saya jadi terbiasa jadi bahan gunjingan soal nama. Mereka tertawa-tawa dengan nada mencemooh. Saya jadi agak senang ketika di televisi nama Socrates yang pemain sepakbola Brazil dan juga dokter gigi itu, dikenal dimana-mana. Tapi, tidak ada yang mengait-ngaitkan nama saya dengan dia. Berarti, ada tiga orang yang senama dengan saya di dunia, pikir saya.
Jujur saja, kadang saya merasa minder bernama Socrates. Apalagi, filsuf Yunani itu mati minum racun. Sejak tahun 1989 saya menulis opini di koran, banyak yang menyangka saya memakai nama samaran. Ada juga yang kaget, ternyata saya memakai nama asli.
Tapi, nama ini teryata juga membawa berkah. Orang sering ingat nama saya, karena aneh, unik dan gampang diucapkan. Pendek kata, nama saya jadi terkenal, he..he..Kadang orang mengejek nama saya dengan menyebut Plato atau Aristoteles.
Celakanya, saya yang sering lupa nama seseorang. Sambil ngobrol dengan orang itu, saya berusaha keras mengingat-ingat siapa namanya. Kalau kebetulan ada teman lain lewat, saya sengaja perkenalkan agar saya tahu nama lawan bicara saya.
Jadi wartawan membuat saya banyak teman. Biarlah orang mengejek saya, karena lama-lama saya jadi kebal dengan pertanyaan kenapa nama saya Socrates. Seorang wartawan televisi Jepang yang saya dampingi meliput di Batam juga bertanya,” Why do you name Socrates?
Saat mau menikah di Palembang, istri saya cekikikan lantaran Ketua RT yang mengurus surat pernikahan kami salah menyebut nama saya. Ia memanggil saya Skuter! ”Itulah, namanya susah sekali disebut wong Palembang,” kata istri saya tertawa-tawa.
Pernah saya dan istri diskusi main-main soal nama saya. Saya mau menambah nama belakang saya dengan marga Batak. Kata istri saya, mungkin yang cocok Socrates Purba, karena nama saya jadul alias jaman dulu. Kalau pakai gelar Minang, juga kurang pas. Misalnya, Datuk Paduko Socrates.
Sampai saat ini, nama saya tetap jadi bahan gurauan dan olok-olok. Di kantor, beberapa karyawan diam-diam mengganti nama saya Syukro. Ada juga teman di Surabaya kalau menelepon memanggil saya Haji Muhammad Socrates.
Tapi, akhirnya saya pasrah saja dengan nama ini. Sebab, banyak juga yang menduga, saya ini pintar karena nama itu. Yang saya sadari, nama saya memang tidak Islami. Saya juga beruntung, orang tidak menambah-nambahi embel-embel di belakang nama saya. Seperti yang sering terjadi dengan nama Edy, Dewi, Andi dan nama-nama pasaran lainnya. Ternyata, nama sangat berarti. Paling tidak buat saya. ***


