<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; pribadi</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/category/pribadi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bandung Euy&#8230;</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 06:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Hampir semua kota di Pulau Jawa, sudah pernah saya kunjungi. Baik saat jadi mahasiswa, maupun setelah bekerja. Tapi Bandung, belum sama sekali. Jadi penasaran juga dengan kota berjuluk Paris Van Java ini. Kali ini, saya berlebaran dan jalan-jalan bersama keluarga ke Bandung, sekaligus menuntaskan penasaran.Apalagi, beberapa tahun lalu, sebagai Ketua PWI Kepri, saya diundang ke [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-353" title="jalan2" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/10/jalan22.jpg" alt="jalan2" width="350" height="227" />Hampir semua kota di Pulau Jawa, sudah pernah saya kunjungi. Baik saat jadi mahasiswa, maupun setelah bekerja. Tapi Bandung, belum sama sekali. Jadi penasaran juga dengan kota berjuluk Paris Van Java ini. Kali ini, saya berlebaran dan jalan-jalan bersama keluarga ke Bandung, sekaligus menuntaskan penasaran.<span id="more-348"></span>Apalagi, beberapa tahun lalu, sebagai Ketua PWI Kepri, saya diundang ke Bandung menghadiri peringatan hari pers nasional. Hotel sudah disediakan di Savoy Homan, persis di depan kantor surat kabar Pikiran Rakyat. Namun, karena kesibukan kerja, saya batal hadir. Bersama kedua buah hati dan istri, saya seminggu berlebaran di Bandung.</p>
<p>Meski dari Batam ada penerbangan langsung ke Bandung dengan Merpati Airlines, saya memilih naik Garuda via Jakarta. Sebab, selain jadwal yang tidak jelas, sudah lama Merpati kesulitan mengoperasikan pesawatnya. Dari Jakarta, kami naik Alphard sewaan menuju Bandung.</p>
<p>Tiga hari menjelang lebaran, sungguh enak melintasi jalan-jalan Jakarta yang sepi. Kota yang terkenal macet itu ditinggal penghuninya mudik lebaran. Begitu pula saat melintasi jalan tol Cipularang, yang juga sering macet. ‘’Heran, kok lancar ya? ‘’ kata supir kami. Saya menduga, karena pada hari itu Minggu, mungkin banyak orang berpikiran Cipularang macet sehingga memilih tidak jalan.</p>
<p>Udara sejuk Bandung mulai terasa. Saya menginap di Panghegar Hotel, di Jalan Merdeka. Malamnya, kami menyantap masakan Sunda tak jauh dari hotel. Esoknya, mulailah kami menjelajahi Bandung. Seorang anak muda bernama Jai, menemani keluargaku selama di Bandung.</p>
<p>Kedua anakku, Axel dan Sonya sejak awal berencana mengunjungi Trans Studio, yang iklannya gencar di televisi.Meski sehari sebelum lebaran, pusat rekreasi itu luar biasa ramainya. Loketnya antri sejak pag dan tiketnya satu orang Rp200 ribu. Ternyata, konsepnya meniru model Universal Studio Singapore. Bagi warga Jawa Barat dan sekitarnya, memang punya daya tarik luar biasa.</p>
<p>Tiga hari menjelang lebaran, kami tiba di Jakarta. Lalu naik Alphard melewati tol Cipularang menuju Bandung. Alphard? Sesekali naik mobil sewaan bagus ya boleh juga. Lagi pula, hanya sehari kok, hehehe.. Namun, terasa jauh bedanya kalau kita melintasi jalan-jalan di Malaysia, dari Johor, Melaka menuju Kuala Lumpur. Selain bersih, rest area-nya nyaman dan ramai disinggahi pelancong. Kami menginap di Grand Panghegar Hotel di Jalan Merdeka di pusat kota dan dekat kemana-mana.</p>
<p>Bandung memang kota yang kaya kuliner. Makan di restoran, tidak terlalu mahal. Tapi, kadang malah lebih enak makan di kawasan Punclut, di perbukitan sambil memandang kota Bandung di ketinggian. Atau makan di kaki lima di berbagai sudut kota kembang ini.  Puluhan rumah makan, mulai dari nasi timbel sampai makanan khas Sunda berjejer di Punclut. Umumnya, rumah makan tersebut berbentuk rumah panggung. Hawa yang dingin membuat makan makin sedap.</p>
<p>Kami jalan ke Cibaduyut, yang terkenal dengan produksi tas, aneka sandal dan sepatu itu. Lalu keesokan harinya jalan-jalan ke Lembang, mampir ke peternakan sapi yang membuat berbagai jenis makanan ringan dari susu, dan mandi air panas di Ciater yang terkenal itu.  Kawasan itu kini tidak hanya menyediakan mandi air panas, juga bebragai permainan untuk anak-anak dan keluarga. Mulai dari naik kuda, ATV hingga gokart.</p>
<p>Bandung memang kota yang unik. Selain wisata alam seperti Gunung Tangkuban Perahu, juga banyak sekali gedung-gedung bersejarah seperti Gedung Sate, Gedung Merdeka, dan museum Konferensi Asia Afrika yang terkenal itu. Namun Masjid Raya yang menjadi salah satu ikon Bandung itu, kondisinya kurang terawat dan kumuh. Pengemis dan pedagang kaki lima memenuhi areal alun-alun masjid itu.</p>
<p>Supir kami, Jay yang asli Sunda itu,  hapal jalan-jalan Jawa Barat. Kami diajak ke kampungnya di Ciwidey. Kawasan yang terletak di ketinggian ini, memang mengasyikan. Angin bertiup sepo-sepoi dan udara sejuk. Sejauh mata memandang hanya sawah dan kebun sayur milik warga. Kami disuguhi rengginang dan renggining, penganan khas Sunda. Di rumah Jay, bawaannya lapar dan ngantuk.</p>
<p>Saya dan anak saya Ariel, salat Jumat di kampong Ciwidey. Kami hanya terbengong-bengong saat mendengar khatibnya ceramah pakai bahasa Sunda. Hehehehe… Sepulang dari masjid, saat ditegur beberapa orang tua, saya terpaksa diam saja karena tidak mengerti apa yang dikatakannya. Yang jelas, kalau berpapasan, selalu berkata: punteen…nuhun…hehehehe.</p>
<p>Meski sempat mengunjungi Asep Strawberry yang terkenal itu, namun tempat peristirahatan, bungalow dan tempat memetik buah strawberry dari pohonnya itu tutup lantaran masih dalam suasana lebaran. Saya sempat makan mie dan ngopi serta melihat-lihat tempat itu. Pulangnya, kami terjebak macet di kawasan Nagrek dan baru malam hari sampai kembali ke hotel.</p>
<p>Agar bisa cepat mengenal kota, hamper tiap pagi saya keliling naik sepeda yang disewakan hotel. Jalan-jalan utama di kota Bandung yang satu arah, memudahkan untuk mengenal kota dengan cepat. Namun, meski jaraknya pendek, terpaksa harus jalan memutar. Tak terasa, seminggu di Bandung cukup menuntaskan penasaran menjelajahi sebagian Jawa Barat. Apalagi, pulangnya kami memilih melewati Cianjur dan Bogor. Sebab, kedua anak saya ingin mengunjungi Taman Safari di Bogor. Meski sempat macet selama tiga jam di kawasan Puncak lantaran jalan buka-tutup, kami menikmati perjalanan itu. Malamnya, tiba di Jakarta dan menginap di Santika Hotel, di Jalan KS Tubun.</p>
<p>Masih ada agenda liburan. Yakni ke Kidzania, kotanya anak-anak. Sebelumnya, kedua anak saya pernah ke sana, bersama rombongan Sekolah Kallista. Tapi, mereka belum puas, lantaran masih banyak permainan yang belum dicoba.  Setelah itu, kami mengunjungi Masjid Istiqlal yang terbesar di Asia Tenggara dan meninjau pesantren Darunnajjah di Jakarta Selatan. Pulang ke Batam, meski capek, liburan bersama keluarga kali ini sungguh mengayikkan…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/bandung-euy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 12:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Kata pepatah, banyak berjalan banyak dilihat. Sejak kecil, saya sering mengimpikan jalan-jalan kemana-mana. Sebab, saya suka sesuatu yang baru, aneh, unik dan mengesankan.Perjalanan saya yang pertama saat berusia tujuh tahun ke Jakarta naik kapal laut. Namanya kapal Berau dengan rute Teluk Bayur, Padang ke Tanjungpriok Jakarta.Saya senang bukan main. Saya berdiri dipinggir dek dan melemparkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12.96px;"><img class="alignleft size-full wp-image-333" title="cina blog" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/04/cina-blog.jpg" alt="cina blog" width="300" height="225" />Kata pepatah, banyak berjalan banyak dilihat. Sejak kecil, saya sering mengimpikan jalan-jalan kemana-mana. Sebab, saya suka sesuatu yang baru, aneh, unik dan mengesankan.</span><span style="font-size: 13.2px;">Perjalanan saya yang pertama saat berusia tujuh tahun ke Jakarta naik kapal laut. Namanya kapal Berau dengan rute Teluk Bayur, Padang ke Tanjungpriok Jakarta.<span id="more-332"></span></span><span style="font-size: 13.2px;">Saya senang bukan main. Saya berdiri dipinggir dek dan melemparkan kertas yang dibuat menjadi kapal terbang mainan. Kertas itu melayang ditiup angin, lalu mencebur ke laut.  Saya hanya berdua ibu saya. Padahal, ke Jakarta untuk mengecek kesehatan saya. Senang sekali melihat ikan terbang dan ombak yang  memutih dan pecah diterpa lambung kapal.</span></p>
<p>Setelah itu, menjelang remaja beberapa kali saya pergi ke Peranap, kota kecil di Indragiri Hulu, Riau. Di sana, ada paman saya yang suka mengajak saya keliling, ikut dia berjualan dari pasar ke pasar. Kami naik pompong, kapal kayu yang bunyinya pong, pong, pong menarik tongkang berisi barang dagangan.</p>
<p>Para pedagang yang dijuluki anak belok atau pedagang berbelok itu,  tidur di los-los pasar, paginya berjualan, dan sore kembali melayari Sungai Indragiri menuju pasar berikutnya. Penduduk setempat bersama para transmigran, selalu menunggu kedatangan pedagang setiap hari pekan. Saya mengamati paman saya berjualan, mengepak barang dan diajak makan ikan patin yang sedap itu. Sepanjang sungai, saya sering melihat monyet berkeliaran.</p>
<p>Saat kelas I SMA, saya lagi-lagi pergi ke negeri orang, pindah sekolah ke INS Kayutanam, sekitar 90 kilometer dari rumah saya di Payakumbuh. Saya tinggal di asrama, bersama puluhan anak-anak dari berbagai daerah, seperti Jawa, Medan, Aceh dan Sumbar sendiri.  Jadi, sejak remaja saya sudah terbiasa bergaul dengan anak dari berbagai daerah.  Seperti nasionalisme begitu. Masalah bahasa bisa jadi masalah antar anak asrama.</p>
<p>Selama tiga tahun di asrama, saya jadi tahu daerah orang. Selain di sekitar sekolah, saya sering diajak ke Padang, Padangpanjang dan Pariaman saat teman seasrama pulang kampung.  Kami naik kereta api batubara, di sela-sela sambungan gerbongnya! Memang berbahaya, tapi gratis.  Sampai di stasiun tujuan, cari dulu tempat cuci muka karena kena debu batubara dan karatan gerbongnya.</p>
<p>Selama kuliah, lagi-lagi saya jalan-jalan. Dua tahun lebih saya jadi ketua unit kegiatan olahraga mahasiswa di tingkat universitas. Jadi, setiap cabang olahraga yang bertanding ke kota lain pada kejuaraan nasional mahasiswa, saya selalu ikut sebagai tim manager.  Padahal, saya tak paham olahraga. Saya hanya senang mengorganisir teman-teman saja. Jadilah saya ke Jakarta, Semarang dan kota-kota lain mengikuti kejuaraanantar mahasiswa .</p>
<p>Hobi jalan-jalan, makin tersalurkan setelah saya jadi wartawan. Pertama kali menjadi wartawan di Pekanbaru, baru dua bulan, saya ditugaskan ke Perawang, sekitar 60 kilometer dari Pekanbaru. Disinilah PT Indah Kiat Pulp and Paper pabrik bubur kertas terbesar kedua di Indonesia  itu berlokasi.  Beberapa kilometer saja sebelum tiba, bau bahan kimia sudah menusuk hidung. Desa kecil itu penduduknya  15.000 lebih,  dan sarat dengan beragam masalah sosial.</p>
<p>Tiaphari, saya bolak-balik menempuh 120 kilometerdengan angkot plat hitam. Kalau hujan, jalan yang belum diaspal becek , kalau panas berdebu. Kadang, saya memakai penutup hidung dengan sapu tangan seperti ninja. Empat bulan kemudian, saya ditarik lagi ke Pekanbaru.</p>
<p>Enam bulan jadi wartawan, saya dipindahtugaskan ke Bukittinggi. Dari kota yang panas dan lembab seperti Pekanbaru, pindah ke kota yang sejuk dan menawan. Jadilah saya tidur di kantor merangkap tempat tinggal meringkuk kedinginan setiap malam. Nama daerahnya saja Mandiangin.  Saya kembali  menjelajahi kota-kota di Sumbar. Saya bertugas setahun di Bukittinggi.</p>
<p>Inilah buat pertama kalinya saya ke luar negeri, yakni ke beberapa kota di Malaysia. Saya ikut dalam rombongan wartawan Bukittinggi dalam program kota kembar Bukittinggi-Seremban. Kami berangkat melalui Dumai, terus ke Johor, Port Dickson, Seremban dan Selangor.  Sampai akhirnya, saya dipindahtugas lagi ke Batam.</p>
<p>Batam  ternyata menjadi pintu gerbang saya menjelajahi negara-negara lain. Dua kali ke Thailand, dan lima kali ke Malaysia serta puluhan kali ke Singapura.  Sehingga saya jadi hapal rute jalan dan kota-kota negara bagian Malaysia atau sudut-sudut wilayah Singapura.  Beberapa negara, dan kota-kota besar Indonesia, saya kunjungi sejak bertugas di Batam 14 tahun lalu. Kemana saja? (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Napak Tilas Seorang Wartawan</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/napak-tilas-seorang-wartawan/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/napak-tilas-seorang-wartawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 22:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=286</guid>
		<description><![CDATA[Roda pesawat baru menyentuh landasan yang licin. Bandara Simpang Tiga yang kini bernama Sultan Syarim Kasim II. Dari udara, beberapa kawasan kota bertuah itu tergenang air.  Kalau tak banjir, kota ini sering dikepung asap kebakaran hutan. Disinilah saya memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1996. 
Meski sudah mulai menulis artikel di beberapa surat kabar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Roda pesawat baru menyentuh landasan yang licin. Bandara Simpang Tiga yang kini bernama Sultan Syarim Kasim II. Dari udara, beberapa kawasan kota bertuah itu tergenang air.  Kalau tak banjir, kota ini sering dikepung asap kebakaran hutan. Disinilah saya memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1996. <span id="more-286"></span></p>
<p>Meski sudah mulai menulis artikel di beberapa surat kabar sejak 1989, saya baru melamar ke Riau Pos setamat kuliah. Saya ingin menjadi dosen di Universitas Riau, sambil terus menulis. Surat lamaran saya kirimkan kepada adik ibu saya Suasti Chadra, yang tinggal di Pekanbaru.<br />
Saya dipanggil tes di saat ibu saya terbaring di rumah sakit dan menghabiskan belasan botol infus di Payakumbuh. Paman saya menguatkan hati saya berangkat ke Pekanbaru. ‘’Pergilah, kan kami ada disini menjaga mama,’’ katanya. Dengan hati galau saya berangkat.<br />
Tes jadi wartawan tak seperti yang saya bayangkan. Ada dua orang yang menanyai saya. Pak Amril Noor mantan polisi itu berkata,’’ Aku piker badan kau tinggi besar karena namamu Socrates,’’katanya. Satu lagi almarhum Busra Algerie, yang menyuruh saya membaca buku-buku jurnalistik, karena saya memang belum pernah jadi wartawan.<br />
Sejak bulan Maret 1996, saya jadi wartawan. Saya tinggal menumpang dengan adik ibu saya di Kampung Bukit, Rumbai. Saat saya mulai bekerja, ternyata ada dua orang wartawan baru. Namanya Abu Bakar Sidik, mantan wartawan Gatra dan Noorham Wahab yang dikenal sebagai penulis budaya. Selain itu, ada dua setter baru Ekot dan Nasrul.<br />
Saya tidak pernah kursus computer. Satu-satunya yang saya tulis pakai computer saat menulis skripsi dengan program Chi-Writer. Itupun menumpang di rental computer teman dekat kosan saya. Biasanya, saya menulis artikel dengan mesin ketik tua bekas dari kantor polisi pemberian tante saya. Tangkai penggulung kertasnya sudah patah dan saya las. Bunyinya, brttt..tak.tak..<br />
Saya bingung. Seorang wartawati menyangkan saya setter. Ia menyuruh saya mengetik beritanya. Saya mau saja, sambil belajar mengetik computer. Kadang saya catat di telapak tangan, bagaimana menyimpan, membuka file computer. Hari ketiga, barulah saya membuat berita pertama. Saya dapat informasi dari tante saya bahwa di rumah sakit banyak keluarga pasien yang kecopetan.<br />
Saya pergi ke rumah sakit. Ternyata, cukup banyak keluarga pasien yang terpaksa tidur di emperan dan bangku-bangku rumah sakit. Saya lalu menjumpai seorang wanita yang menjabat humas rumah sakit itu. Saat saya tanyakan soal keluarga pasien yang sering kehilangan di rumah sakit, ia menolak menjawab. ‘’Saya tidak mau menjawab pertanyaan itu,’’katanya, ketus. Entah ide darimana saya berkata,’’ bagi saya, ibu tidak menjawab pun sudah sebuah jawaban.’’ Buru-buru ia menukas,’’Eh, jangan begitulah. Saya mau memberi informasi, tapi jangan tulis nama saya,’’ katanya. Ia mengakui, banyak kejadian kehilangan yang dialami keluarga pasien.<br />
Sudah hampir seminggu, berita saya cuma satu. Ternyata, susah sekali jadi wartawan. Saya cemas ketika Koordinator Liputan yang terkenal galak, sambil menaiki tangga kantor Riau Pos di Jalan Kuantan Raya, berkata sambil berjalan.’’ Kalau nilai kau C berturut-turut, keluar kau,’’ katanya.<br />
Berita kedua saya kisah seorang mahasiswa yang sehari sebelum wisuda, tewas disengat listrik di rumahnya. Saya pergi melayat ke rumah duka dan terpaksa berbohong kepada orangtuanya bahwa saya kenal dekat dengan almarhum. Ini membantu saya mendapatkan berita. Begitulah. Sebagai wartawan baru, saya memang tidak produktif.<br />
Baru bekerja dua minggu, saya dipanggil Korlip. Ia menawarkan saya pindah ke Dumai. Kabarnya, ada wartawan yang bermasalah disana. Saat saya sudah mengepak buku-buku dan barang saya dalam kardus kecil dan sebuah tas, keputusannya berubah. Saya sendiri seumur-umur belum pernah ke Dumai. ‘’Tak usahlah kau ke Dumai, kau ke Perawang saja,’’ katanya.<br />
Sehari sebelum bertugas di sana, saya pergi ke Perawang. Desa Tualang Perawang ternyata ramai sekali.Sebab, di desa itulah lokasi PT Indah Kiat Pulp &#038; Paper. Jaraknya 60 kilometer dari kota Pekanbaru. Jalannya separuh aspal dan separuh tanah liat. Saya naik angkutan liar plat hitam. Tiap hari, tiga kali ganti angkot dari Rumbai ke Pasar Bawah lalu ke Perawang.<br />
Saya berangkat pagi-pagi, sampai di kantor menjelang magrig barulah mengetik berita. Saya pulang ke rumah jam 9 malam dan sering jalan kaki dari Pasar Rumbai ke Kampung Bukit jalan kaki, sambil bersiul-siul karena takut dan gelap. Tidak banyak berita yang bisa saya tulis tentang Perawang. Saya tambahi dengan tulisan dan foto.<br />
Saya senang ketika tak sengaja mendengar Pak Rida yang sedang melihat koran yang akan dicetak di ruang lay-out berkata,’’ Socrates ini dibikinnya Perawang seperti kota besar saja.’’ Ia tidak tahu, tiap hari saya ke sana seperti Ninja, yang harus menutup hidung dengan sapu tangan karena debu saat naik angkutan liar. Kalau hujan, jalannya jadi becek sekali.<br />
Hampir empat  saya di Perawang. Oplahnya perlahan mulai bertambah. Yang saya wawancarai, hanya Pembantu Camat, Kepala Desa dan Ketua LKMD. Saat itu, Perawang belum menjadi kecamatan. Tapi penduduknya lebih 10.000 orang yakni pekerja pabrik kertas. Beberapa kilometer sebelum sampai, bau bahan kimia sudah menusuk hidung. Truk balak berseliweran mengangkut kayu besar-besar untuk bahan kertas. Saya mulai didekati oleh humas perusahaan itu dan ditraktir makan. Beberapa kali bertemu, ia memaksa saya amplop. Saya bingung. Oh, ternyata jadi wartawan kayak begini.<br />
Dua amplop yang diberikannya, tidak saya buka. Saya simpan di bawah lipatan baju di lemari plastik. Suatu hari, saya nekad menjumpai pak Rida, lalu saya katakan soal amplop itu. Saya bilang, ‘’kenapa orang lain yang memperhatikan saya, bukan Riau Pos?’’ kata saya.<br />
Maksud saya, naikkan gaji saya. Saat itu, saya menerima Rp150 ribu sebulan. Ongkos Rp5.000 sehari. Lalu saya makan apa? Untunglah, tante saya memaksa saya makan pagi sebelum pergi kerja sehingga sampai siang perut saya masih tahan. Kalau tanggal tua, ia memberi saya uang Rp20 ribu, buat beli rokok.<br />
Suatu hari, saya disuruh Korlip menjumpai orang Indah Kiat. Saya tidak Tanya siapa. Saya datang saja sesuai perintah dan temui di Hotel Mutiara Merdeka. Disana, dua orang yang sudah agak tua menunggu saya. Kami ngobrol ngalor ngidul. Yang tua, mengaku pernah jadi wartawan di Star Weekly. Ia berkata,’’ Oh, jadi Anda baru tamat kuliah, ya. Pantas masih fresh,’’ katanya. Saya tidak paham maksudnya.<br />
Saya sempat berdebat dengannya. Ia bilang, Indah Kiat sudah membantu masyarakat setempat seperti tong sampah dan pompa air. Saya kakatan, bantuan itu tidak efektif karena tong sampah dijadikan tong air, lalu pompa air tidak ada gunanya karena tekanan air rendah. Mukanya memerah.<br />
Saat makan malam, saya diajak ke restoran. Ada udang, berbagai jenis ikan, lobster dan makanan yang aneh-aneh di mata saya. Saya bingung saat ditawari, lalu saya bilang,’’ saya mau nasi goring saja.’’ Mereka menatap saya keheranan. Setelah itu, pertemuan usai. Saya berganti kartu nama dengan mereka. Dalam hati, saya heran siapa sebenarnya mereka berdua? Saya menduga orang humas Indah Kiat.<br />
Lalu motor milik om saya hentikan di atas jembatan Elekton di atas Sungai Siak. Disitu ada lampu jalan. Saya keluarkan kartu namanya. Ternyata, yang tua adalah Direktur Utama Indah Kiat Njau Kwiet Mien dan satunya wakil direktur utama. Saya tertawa sendiri .<br />
Entah mengapa, saya tiba-tiba ditarik lagi ke Pekanbaru. Kota ini jalannya juga tidak terlalu hapal. Karena kemalaman, saya menginap di rumah Mafirion, Koordinator liputan. Rumahnya dekat dengan kantor. Paginya, meski kemeja saya kusut, saya disuruh bertemu Rusli Zainal, yang saat itu Ketua Gapensi Riau dan kini menjadi Gubernur Riau di hotel Bumi Asih.<br />
Mungkin karena tampang saya lusuh, Rusli menatap saya dari atas sampai ke bawah, lalu berkata,’’ Ayo, mau tanya apa, silakan,’’ katanya, menantang. Saya mulai wawancara, hal-hal yang ringan dan makin lama menjurus pada Gapensi yang selalu menguasai Kadin, organisasinya pengusaha. Tak lama kemudian, dengan memegang keningnya, Rusli Zainal berkata,’’ Tajam juga pertanyaan kau ya?,’’ katanya. Saya diam saja. Ketika mau pulang, ia memaksa saya menerima amplop yang isinya Rp15.000 untuk ongkos saya, katanya.<br />
Tak lama kemudian, saya dipindahkan ke Bukittinggi, merintis berdirinya kantor Riau Pos Perwakilan Sumbar. Setahun di sana, saya dipindahtugaskan ke Batam sejak bulan Juni 1997 sampai saat tulisan ini saya buat.<br />
Saat rapat Riau Pos Grup 17 Desember 2009 lalu, saya pergi ke Kampung Bukit di Rumbai. Kamar ukuran 2 x 2 meter yang saya tempati dulu tak ada lagi. Rumah tante saya yang wafat pada Idul Adha dua tahun lalu, sudah dipisah dengan Musala Nurul Yakin yang kini menjadi mesjid yang masih terus dibangun. Jalannya masih aspal yang berlobang-lobang seperti dulu.<br />
Tak terasa, 13 tahun berlalu. Saya bersyukur, saat pertama jadi wartawan, jangankan jadi direktur, jadi redaktur pun tak terbayangkan. Saya malah terkagum-kagum pada teman-teman wartawan yang setiap hari wawancara gubernur atau wali kota. Juga pada teman yang bisa membuat berita kriminal setiap hari. Mereka hebat sekali dan kadang mentraktir saya makan nasi goreng.<br />
Pekanbaru sudah banyak berubah. Bangunan makin padat. Jalan-jalannya tambah bersih. Ada beberapa gedung baru yang sepertinya dibuat agar ada, tapi belum digunakan. Mungkin karena propinsi ini salah satu yang terkaya di negeri ini. Menjejakkan kaki di kota bertuah ini, selalu membuat saya seperti melihat spion, menatap ke belakang perjalanan sebagai seorang wartawan. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/napak-tilas-seorang-wartawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukittinggi setelah 12 Tahun</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 09:45:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas tahun?<span id="more-271"></span></p>
<p class="MsoNormal">Saat menjejakkan kaki di Bukittinggi 12 tahun lalu, saya dan beberapa teman ditugaskan merintis perwakilan Riau Pos di Sumatera Barat. Ada Riki di bagian pemasaran, Nila sebagai kapoltir iklan, Aning, Arman dan Santi di pemasaran koran, Junaidi pengantar koran serta Afrimen dan kawan-kawan di beberapa daerah sebagai wartawan. Ada satu karyawan administrasi bernama Eva.</p>
<p class="MsoNormal">Kami menempati sebuah rumah tua –konon dulu pernah jadi rumah sakit—di kawasan Mandiangin. Dua kamar tidur, satu ruangan tengah, dan satu kamar di belakang dan dapur. Dua bulan kemudian, Ade Adran Syahlan bergabung ke Bukittinggi. Kami menjadikan kantor itu sekaligus sebagai tempat tinggal.</p>
<p class="MsoNormal">Rumah tua itu berdebu. Saya dan Riki gotong royong membersihkannya. Semua serba terbatas. Saya tidur di kamar depan menggunakan velbed alias tempat tidur lipat. Dari Pekanbaru yang panas lalu pindah tugas ke Bukittinggi yang dingin, memang bukan perkara gampang. Yang jelas, jadilan saya tidur meringkuk di tempat tidur lipat, lalu paginya memburu berita.</p>
<p class="MsoNormal">Saat itu, sungguh sulit menjelaskan ke narasumber, apa dan bagaimana koran Riau Pos. Sebab, selain koran-koran di Sumatera Barat sudah eksis seperti Haluan dan Singgalang, nama Riau Pos tidak populer dan familiar di telinga orang Minang. Malah, ada yang mengira saya pegawai kantor pos, ha..ha..ha..!</p>
<p class="MsoNormal">Namun, bekerja di Bukittinggi cukup menyenangkan. Meski gaji saya saat itu relatif kecil, tapi cukup karena tak biaya hidup terjangkau. Apalagi, tak perlu bayar kos. Kota ini gudang kuliner dan makan enak. Selain nasi kapau yang terkenal itu, di sebelah kantor kami, ada warga yang berjualan nasi dengan sambal lado teri yang enak dan gurih.</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, hubungan dengan kawan-kawan sekerja akrab dan hangat. Kadang-kadang, kami patungan beli sayur dan lauk, lalu cewek-ceweknya masak-masak dan kami makan beramai-ramai. Dengan wartawan dari media lain, kami juga akrab dan diterima sebagai teman seprofesi. Meski medianya bersaing, hubungan antar wartawan cukup dekat.</p>
<p class="MsoNormal">Ada beberapa kisah yang saya kenang di Bukittinggi. Sekitar empat bulan di Bukittinggi, tiba-tiba saya menerima perintah pindah tugas ke Batam. Namun, saya datang ke kantor Riau Pos di Pekanbaru yang saat itu masih di Jl Kuantan Raya, saya dipanggil bos saya Pak Rida, ke ruangan dekat percetakan. Saya ditanya,’’ kau mau kemana?,’’ tanya Pak Rida. Saya heran, lalu menjawab,’’ Kan katanya mau pindah ke Batam, Pak,’’ jawab saya.</p>
<p class="MsoNormal">Tanpa saya duga, Pak Rida berkata,’’Nggak usahlah kau ke Batam. Kau balik saja ke Bukittinggi dan menjadi Kepala Perwakilan di sana,’’ katanya. Saya tercengang. Padahal, baru sekitar delapan bulan saya menjadi wartawan. Spontan saya berkata,’’ Apa nggak buru-buru mengambil keputusannya, Pak?,’’ kata saya. ‘’Kau coba sajalah. Aku dulu juga nggak tahu soal bisnis surat kabar,’’ katanya. Jadilah saya kembali ke Bukittinggi menjabat sebagai Kepala Perwakilan. Saya jadi malu, karena sebelumnya sempat pamitan dengan kawan-kawan dan kenalan di Bukittinggi.</p>
<p class="MsoNormal">Tidak gampang memasarkan Riau Pos di Sumbar. Selain cetaknya di Pekanbaru, perlu waktu lima jam mengirimnya ke Bukittinggi menggunakan mobil ekspedisi. Supir dan pemilik mobil ekspedisi itu kami panggil Uwo, orang Bangkinang. Tubuhnya tinggi dan gempal, memakai kacamata minus. Kalau koran siap cetak, ia ngebut ke Bukittinggi seperti kesetanan. Padahal, jalan ke Pekanbaru sempit dan penuh tikungan tajam.</p>
<p class="MsoNormal">Suatu hari, saya heran melihat Uwo. Matanya merah dan jalannya limbung. Dia bilang, minta maaf karena sudah tidak tahan lagi. Saya makin heran, maksudnya apa. Uwo lalu pergi ke belakang kantor. Ketika saya ke belakang, saya melihat Uwo duduk di kursi dan tangannya di dengkul. Kepalanya menggeleng-geleng dengan kuat. Matanya terpejam. Di kupingnya, terpasang earphone dari sebuah walk man.</p>
<p class="MsoNormal">Ada apa dengan Uwo? Oalah! Ternyata ia lagi ‘’on’’ setelah menelan pil ekstasi. Jadi, selama di perjalanan, ia menggeleng-geleng sambil menyetel musik keras-keras. Saya lalu menagmbil kamera dan memotretnya. Saya berpikir, kalau saya tulis ulahnya, dia pasti marah. Dan kalau saya biarkan, ia pasti ketagihan. Nah, kalau terus-terusan begitu, bisa-bisa mobilnya masuk jurang dan koran tidak sampai ke pelanggan. Lalu, bagaimana?</p>
<p class="MsoNormal">Saya putuskan tetap menulis. Nama Uwo saya samarkan. Begitu tulisan itu terbit keesokan harinya, si Uwo marah besar. Ia hampir memukul saya. <span> </span>Saya diam saja. Saya bilang, tujuannya baik agar ia tak celaka di jalan.<span> </span>Perkiraan saya benar.<span> </span>Saya mendengar kabar, Uwo pernah menabrak kerbau yang melintasi jalan, menabrak beberapa taksi yang parkir di pinggir jalan,<span> </span>dan pernah masuk jurang. Sekarang, saya tidak pernah bertemu lagi, setelah saya pindah ke Batam.</p>
<p class="MsoNormal">Meski setahun jadi Kepala Perwakilan Riau Pos di Sumbar, kami sempat menjadi tuan rumah rapat Jawa Pos Grup wilayah Barat. Saya bertemu dan ngobrol dengan Pimred Jawa Pos Dimam Abror. Saya juga pernah dikejar-kejar tentara, gara-gara menulis kisah seorang pramuria di kafe bernama Pondok Bambu. Tulisan itu salah kode sehingga senior saya M Siebert juga kena getahnya. Saya salut, ia bertahan tidak memberitahukan identitas saya kepada tentara yang datang menjemputnya jam tiga dinihari.</p>
<p class="MsoNormal">Tak terasa, dua belas tahun sudah saya meninggalkan Bukittinggi. Tak banyak yang berubah, kecuali sudah cukup bersih. Hanya saja, hawanya tidak sedingin dulu. Mungkin karena makin padat dan hutannya berkurang. Jalan-jalan masih saja sempit. Billboard dan papan merek makin bertaburan tak teratur. Saya menginap di hotel Novotel yang sejak dua tahun lalu berganti nama menjadi hotel The Hills.</p>
<p class="MsoNormal">Bagi saya, Bukittinggi masih tetap kota yang saya sukai. Makanannya tetap enak. Mulai dari nasi kapau, emping dadiah, hingga lontong sayur dan serabi. Saat melintasi Jalan A Rivai, saya teringat seseorang. Jalan ini adalah alamat yang selalu jadi tujuan surat-surat yang saya kirimkan kepadanya. Juga seseorang yang tak sanggup melawan kehendak ayahnya ketika ada yang mendekatinya.</p>
<p class="MsoNormal">Jam Gadang, Ngarai Sianok, Nasi kapau, panorama, pasar atas, bawah dan pasar lereng, bendi-bendi yang ditarik kuda, benteng Fort de Kock, jembatan Limpapeh. Jalannya yang berliku dan menurun mendaki serta hawanya yang sejuk. Ah, Bukittinggi memang kota yang menawan&#8230;.</p>
<p class="MsoNormal">Bukittinggi, 24 Juli 2009</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/bukittinggi-setelah-12-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdamai dengan Kenyataan (20/5/1967 &#8211; 20/5/2009)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/berdamai-dengan-kenyataan-2051967-2052009/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/berdamai-dengan-kenyataan-2051967-2052009/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 21:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[ 
Hari ini, 20 Mei 2009, saya berumur 42 tahun. Tak ada rencana khusus untuk merayakannya. Meski istri saya sudah berencana mengantarkan makanan sekadarnya untuk anak-anak panti asuhan, tanda bersyukur kepada Allah SWT. Kalau biasanya saya diberi kado buku oleh mama, beberapa hari sebelum ultah, mama mengatakan kepada saya: Berdamailah dengan kenyataan&#8230;
Seingat saya, tak pernah ulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal">Hari ini, 20 Mei 2009, saya berumur 42 tahun. Tak ada rencana khusus untuk merayakannya. Meski istri saya sudah berencana mengantarkan makanan sekadarnya untuk anak-anak panti asuhan, tanda bersyukur kepada Allah SWT. Kalau biasanya saya diberi kado buku oleh mama, beberapa hari sebelum ultah, mama mengatakan kepada saya: Berdamailah dengan kenyataan&#8230;<span id="more-267"></span></p>
<p class="MsoNormal">Seingat saya, tak pernah ulang tahun saya dirayakan. Meski tak kekurangan, keluarga saya biasa-biasa saja. Malah, makin lama, hidup terasa makin susah. Padahal, sampai berumur 10 tahun, keluarga saya termasuk berada untuk ukuran di kota kecil Payakumbuh, Sumatera Barat. <span> </span>Sebab, papa saya penguasaha di bidang transportasi dan mama bekerja sebagai perawat bidan yang pensiun muda lalu buka apotik.</p>
<p class="MsoNormal">Papa punya usaha angkutan antar kota. Mobil bus kuno miliknya namanya Pozsla. Artinya, Perusahaan Oto Zubir Sutan Lembang Alam. Itu nama kakaknya yang kemudian sakit-sakitan dan usahanya diteruskan papa. Mama buka apotik di kawasan pecinan dan namanya Misoya Farma. Tetangga kami orang Tionghoa dan pergaulan orangtua saya, cukup banyak warga Tionghoa. <span> </span>Rumah kami, hanya 100 meter dari bioskop sehingga saya paling sering diajak nonton film kungfu dan Shaolin.</p>
<p class="MsoNormal">Teman-teman pun banyak warga Tionghoa. Ada Asiong yang pernah saya tendang sampai setengah pingsan, Aming, Meme, Lily dan lainnya. Seperti dua kakak dan adik saya, kami semua sekolah di SD Pius, sekolah terbaik di Payakumbuh. Anak-anak warga Tionghoa, umumnya sekolah di sana. Sampai kemudian, keluarga saya pindah dan membangun rumah sendiri di <span> </span>LabuhBasilang.<span>  </span>Ini karena jalannya bersimpang empat seperti silang.</p>
<p class="MsoNormal">Kawasan ini terkenal dengan premannya.<span>  </span>Jadilah saya ikut-ikutan ulah preman juga. Begadang sambil main gitar, nyolong ayam, hingga berkelahi dan tawuran. Beberapa kali, saya malah berkelahi dengan tentara. Akibatnya bisa ditebak. Bonyok. Lantaran nakal, saat kelas I SMA saya tinggal kelas karena memaki guru dalam kelas. Saya jengkel karena dituduh bikin keributan karena ulah teman yang iseng.<span>  </span>Karena malu, saya kemudian pindah ke INS Kayutanam.</p>
<p class="MsoNormal">Sebenarnya, ini sekolah bagus. Memadukan teori dan praktek, seperti SMK sekarang. Namun, imejnya terlanjur jelek: sekolah anak nakal. Saya akui, teman-teman saya rata-rata nakal. Tapi, mereka juga pintar. Mungkin karena kurang perhatian dan label nakal sudah disandangnya. Yang saya suka sekolah disana, sikap hidup mandiri tertanam kuat. Dari pohon mangga, jangan harapkan buah rambutan, tapi harapkanlah buah mangga yang paling manis. Jadilah dirimu sendiri. Itulah motto sekolah itu.</p>
<p class="MsoNormal">Masa kuliah, adalah masa-masa sulit. Saya harus kuliah sambil kerja serabutan. Mulai dari kerja di toko dan numpang tinggal di rumah majikan, beternak ayam, jual stiker di kampus dan menulis opini di surat kabar. Saat baru kuliah, papa saya terserang stroke selama 13 tahun! Mama harus berperan seperti single parent dan pontang-panting mencari uang. Keluarga kami selalu terbelit utang.<span>  </span>Saya masih ingat, mama memberi uang receh untuk ongkos ke kota provinsi berangkat kuliah yang baru diambil dari celengan.</p>
<p class="MsoNormal">Tapi, saya tak menyerah. Kuliah hampir tujuh tahun akhirnya tamat juga. Saya masih bisa jadi aktivis kampus. Ketua kesenian, pimred buletin kampus, ketua UKM Olahraga dan selalu jadi team manager kampus saat bertanding dalam kejuaraan olahraga antar kampus di tingkat nasional. Padahal, saya tidak mengerti olahraga. Hanya hobi main catur dan tenis meja.</p>
<p class="MsoNormal">Tahun 1996 saya masuk ke dunia kerja. Tidak mengerti komputer, tidak pernah jadi wartawan. Hanya modal menulis opini selama tujuh tahun dan pengalaman ikut penelitian, sangat membantu. Saya bersyukur karir saya tergolong cepat dan sering meloncat-loncat. Delapan bulan jadi reporter, dikarbit jadi kepala perwakilan. Lalu jadi redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana, pimpinan redaksi dan pimpinan umum. Tiga tahun lalu, jadi direktur. <span> </span>Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan.</p>
<p class="MsoNormal">Tuhan memang maha adil. Ada siang, ada malam. Ada susah, ada senang. Baik dan buruk. Bahagia dan menderita. Sukses dan gagal.<span>  </span>Kaya dan miskin. Sehat atau sakit dan seterusnya. Saya mengalami keduanya. Setelah susah payah sekolah, ada juga masa senangnya setelah bekerja dan bisa menabung. Menderita bertahun-tahun, akhirnya<span>  </span>kebahagiaan mulai merebak. <span> </span>Banyak teman yang suka, tak sedikit pula yang membenci&#8230;</p>
<p class="MsoNormal">Gagal di sekolah, toh bisa juga menuai prestasi dan tiga kali menerima beasiswa. Sehat sepanjang tahun, tiba-tiba drop sakit lalu masuk rumah sakit. Beberapa hari lalu, saya malah di rumah sakit Pakar Putri Hospital, Johor Bahru<span>  </span>Malaysia. Saya check-up perut dan lambung dengan USG seperti orang hamil dan endoskopi, memasukkan monitor melalui selang di rongga mulut untuk memotret isi perut. Hari ini, saat saya berulang tahun ke 42, teman-teman mengucapkan selamat dan minta traktir makan-makan, saya malah duduk di kursi dokter gigi.</p>
<p class="MsoNormal">Saat salat Zuhur berjamaah di masjid Darul Hikmah Baloi, saya berdoa: Ya Allah, ampunilah aku. Lindungi ibuku, istri dan anak-anakku dan seluruh keluargaku. Jauhkanlah kami dari api neraka jahanam, dari orang-orang yang berniat jahat dan malapetaka. Terima kasih atas rahmat dan karunia-Mu. Jangan jadikan aku orang yang mendustai nikmat-Mu.</p>
<p class="MsoNormal">Meski saya tak punya agenda merayakan ulang tahun kali ini, istri tercinta menyediakan kue dan lilin, lalu saya tiup bersama kedua buah hati saya. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun, lalu mencium pipi papanya. Terima kasih ya Allah&#8230;</p>
<p class="MsoNormal"> Batam, 20 Mei 2009</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/berdamai-dengan-kenyataan-2051967-2052009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Axel dan Sonya</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Apr 2009 17:36:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan&#8230;
Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan&#8230;</p>
<p>Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam Bintang Kejora.<span id="more-262"></span></p>
<p>Sungguh, saya berbahagia dikarunia sepasang buah hati yang sehat, cerdas, lincah dan rupawan. Si sulung Axel yang biasa disapa Ari, menyandang nama yang saya artikan orang yan gagah perkasa dan penyayang seperti Nabi Muhammad. Sementara Sonya artinya wanita yang berakhlak mulai, bijaksana dan penyayang. Beda usia keduanya empat tahun. </p>
<p>Sejak awal, saya ingin mendidik Axel menjadi anak yang mandiri. Sebab, sejak ia mulai bisa berjalan, tampaknya ia sangat tergantung pada ibunya. Ia anak yang lasak dan tak suka diam. Meloncat, berlarian dan membuat suasana rumahjadi gaduh. Saat saya bawa ia menghadiri acara yang dihadiri gubernur, ia malah bergulingan di dekat panggung. </p>
<p>Saat adiknya lahir, sebagai anak sulung, ia agak cemburu. Malah, kadang tak segan-segan ia mengungkapkan kecemburuan itu pada istri saya yang mereka panggil Bunda. Saya mulai mengajarinya mengambil keputusan saat mau masuk sekolah dasar. Seharian saya tak masuk kantor dan mengajaknya mengunjungi beberapa sekolah yang dinilai favorit.</p>
<p>Kami berkeliling. Mulai dari SD Islam Terpadu di Tiban, SD unggulan di Sei Panas, Sekolah Nabila dan terakhir ke SD Kalista, afiliasi sekolah internasional Global Indoasia. Setelah itu, saya tanya, ia mau sekolah dimana. Namun, pertanyaan saya dijawabnya dengan ucapan tidak tahu, sambil memalingkan muka. Tak lama kemudian, saya mendengar ia meminta kepada ibunya agar sekolah di Kalista saja.</p>
<p>&#8221;Kan sekolahnya pakai bahasa Inggris?&#8221; kata istri saya. Anak saya menjawab enteng. &#8221;Ya, nggak apa-apa. kan kalau kita ke Singapura bisa ngomong,&#8221; katanya. Ketika saya mengajuknya masuk sekolah itu mahal, lagi-lagi ia menjawab,&#8221; Kan tabungan Ai (sebutan sayangnya) ada,&#8221; katanya. Sejak bayi, kami memang menabung untuk biaya sekolahnya.</p>
<p>Meski masih kelas 2, anak saya kini terbiasa bicara memakai bahasa Inggris di sekolahnya. Tapi, ia menolak bila di rumah diajak berbahasa Inggris. Capek, katanya. Nilai rapornya bagus. Ia juga keranjingan komputer dan internet. Laptop milik omnya di rumah jadi sasarannya untuk membuka games cartoonnetwork. Saya juga melihatnya mencatat beberapa alamat situs internet. </p>
<p>Yang jadi pikiran saya, saya bapaknya tidak pernah kursus komputer dan baru paham setelah bekerja. Itupun dengan mencatat di tangan bagaimana mengoperasikan komputer. Sesekali, kalau ia libur, saya ajak Axel meliput dan melihat bagaimana realitas kehidupan. </p>
<p>Berbeda dengan abangnya yang agak serius dan pendiam, terutama sejak sekolah yang dari jam 07.30 WIB hingga pukul 15.00 sore, adiknya Sonya sifatnya bertolak belakang. Selalu ceria dan suka tertawa. Umur dua tahun dan saat pandai berjalan, ia susah bicara. Tapi sekarang, cerewetnya minta ampun. Saya tercengang ketika saat mulai bisa ngomong ia berkata,&#8221; Batu, jembatan, ai juuun&#8230;&#8221; celotehnya. Saya heran. Oala, ternyata ia menirukan ucapan Dora, dalam film Dora Explorer. </p>
<p>Sonya memang generasi televisi. Kini, ia sering menirukan iklan kartu selular murah seperti: jojing-jojing,cakep-cakep, mau, mau, mau?&#8230;Atau iklan coca cola yang setelah diminum langsung berucap brrrrrr&#8230;Ia juga senang menyanyi dan mewarnai. Satu kegemarannya terhadap boneka berbie dan princess membuat saya dan istri kadang kewalahan. Tidak saja boneka dan tas, apa saja yang bergambar putri itu ia mau. kalau tak dipenuhi, ia langsung berdiri tegak dengan muka manyun!</p>
<p>Apapun, saya bersyukur punya buah hati yang membanggakan hati. Saya hanya makin terkaget-kaget ketika Sonya bilang ia mau nonton sinetron Cinta Fitri. Meski saya sibuk dan kadang harus pulang larut malam, sesekali saya berusaha mendongeng dan membacakan buku cerita. Untunglah kedua buah hati saya ini suka buku. Sehingga ia tidak kehilangan daya imajinasi. ***</p>
<p> </p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/axel-dan-sonya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Helikopter ala Alexis</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/helikopter-ala-alexis/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/helikopter-ala-alexis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Aug 2008 15:46:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[weblog]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[
Hotel bintang empat itu kini ganti nama dari Grand Ancol menjadi Alexis. Hotel itu kini terkenal dengan bisnis esek-esek yang digemari orang dari berbagai daerah di Jakarta. Inilah praktik bisnis prostitusi terang-terangan dan terkenal dengan gaya helikopter dan melibatkan pelacur antar bangsa.

 Letaknya di pinggir jalan raya menuju Ancol,  Jakarta.Nama Alexis kesohor hingga ke Papua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p> <![endif]--><!--[if gte mso 10]><br />
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p> <![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Hotel bintang empat itu kini ganti nama dari Grand Ancol menjadi Alexis. Hotel itu kini terkenal dengan bisnis esek-esek yang digemari orang dari berbagai daerah di Jakarta. Inilah praktik bisnis prostitusi terang-terangan dan terkenal dengan gaya helikopter dan melibatkan pelacur antar bangsa.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span id="more-224"></span> Letaknya di pinggir jalan raya menuju Ancol,  Jakarta.Nama Alexis kesohor hingga ke Papua sana. Hotel yang memanjang itu tekesan mewah. Lobbynya tidak terlalu luas. Lift terletak di belakang resepsionis. Malam itu, tak banyak tamu yang check-in. Tapi, sejumlah lelaki keluar masuk ke hotel itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dengan ramah, seorang lekaki kebanci-bancian memegang handy talki, menyambut tamu dan membawanya ke lantai lima. Tamu itu dibawa ke salah satu kamar. ‘’Ini kamar peragaan.’’katanya. Bagi yang baru pertama kali ke sana, tentu penasaran dan bertanya-tanya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kamar itu kosong. Kasurnya digeletakkan di lantai. Tak ada meja dan kursi, kecuali sebuah bangku yang melengkung terbuat dari kayu dan dilapisi kulit empuk. Di atas plafon, ada besi stainless berukuran satu meter seperti gantungan. ‘’Kalau cewek-cewek di lantai lima ini, harganya Rp1,9 juta tapi di lantai tujuh hanya Rp1,7 juta. Bedanya sedikit, tapi pelayanannya beda,’’kata lelaki memakai jas itu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Menurut marketing Alexis, pelayanan ditempatnya something different. Jika tamunya oke, ia bias memilih perempuan yang dimauinya. Ada yang dari Uzbekistan, Vietnam, Thailand, Filipina dan bule. Ini hanya di lantai lima. Di lantai tujuh, ada juga cewek local. ‘’Cewek yang mau kerja di Alexis harus menjalani test body dulu,’’kata seorang sales promotion girl yang temannya pernah kerja di sana.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Selain menjual sensasi, Alexis tahu benar memanjakan tamu. Saat melihat jarak plafon ke kasur, tentu yang terbayang adalah wanita bertubuh tinggi. Ternyata, kaki cewek itu digantung pakai kain, lalu diputar. Nah, saat tubuhnya berputar mengikuti kakinya yang dipelintir kain itulah, wanita itu melakukan oral seks! Inilah yang mereka sebut gaya helicopter.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di lantai tujuh, pemandangannya sungguh mengejutkan. Puluhan bahkan ratusan wanita antar bangsa, berkumpul dan duduk berkelompok. Wanita Thailand di sudut ruangan yang menyerupai hall itu, lalu ada wanita-wanita bule, dari China atau biasa disebut cewek Cungkok, Uzbekistan pecahan Rusia, Vietnam dan cewek local di sudut lain mengenakan baju super ketat dan seksi berwarna merah jambu.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Berkedok massage dan spa, beberapa lelaki juga hilir mudik dan keluar masuk. Ada yang berpakaian sopan, ada pula yang hanya mengenakan baju handuk, bercengkrama dengan beberapa wanita. Inilah pelacuran internasional dan kelas atas yang tidak saja digemari lelaki Jakarta, tapi juga kesohor ke berbagai daerah.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Praktik prostitusi kelas atas itu buka sampai pukul 02.00 dinihari. Setelah berganti baju, wanita-wanita itu tampak seperti perempuan baik-baik. Namun, diskotek di lantai satu buka sampai pukul 05.00 pagi. Beberapa wanita yang sebelumnya mejeng di lantai tujuh, juga turun ke diskotek mencari mangsa.</p>
<p class="MsoNormal">Apakah aparat kepolisian tidak tahu adanya prostitusi kelas atas di Alexis? ‘’Sejak buka, Alexis tak pernah tersentuh. Bosnya kuat sekali sehingga tak pernah di razia,’’ kata seorang supir taksi yang sering mendrop tamu ke sana. Alexis seolah membenarkan cerita di buku Jakarta Undercover. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/helikopter-ala-alexis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agustus yang Melelahkan</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/agustus-yang-melelahkan/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/agustus-yang-melelahkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 18:59:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/agustus-yang-melelahkan/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Agustus 2008 bagi saya punya catatan tersendiri. Bulan ini cukup melelahkan. Baik secara fisik maupun pikiran. Berkejaran dengan waktu, seperti berada di stasiun kereta api melihat sepur terus menjauh. Namun, tetap ada sisi lain yang membahagiakan. Itulah kehidupan. 
 
Setelah mengikuti Kongres PWI di Nanggroe Aceh Darussalam, tak terbayangkan negeri serambi Mekkah itu bangkit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan Agustus 2008 bagi saya punya catatan tersendiri. Bulan ini cukup melelahkan. Baik secara fisik maupun pikiran. Berkejaran dengan waktu, seperti berada di stasiun kereta api melihat sepur terus menjauh. Namun, tetap ada sisi lain yang membahagiakan. Itulah kehidupan. </p>
<p> <span id="more-221"></span></p>
<p>Setelah mengikuti Kongres PWI di Nanggroe Aceh Darussalam, tak terbayangkan negeri serambi Mekkah itu bangkit dari nestapa tsunami. Sisa-sisa duka menyelinap dimana-mana. Tatapan mata yang kosong, perasaan bergidik kalau kisah itu ditanyakan lagi, tergambar di mata orang-orang Aceh.<br />
   Saat berangkat ke Aceh, saya dan teman-teman menempuh perjalanan memutar. Sebab, seat pesawat Batam-Medan-Aceh penuh sehingga rutenya menjadi Batam-Jakarta-Medan dan Aceh. Kami landing jam 10.00 malam dan baru masuk hotel pukul 01.00 dinihari.<br />
   Kongres selesai, sepuluh orang delegasi PWI Kepri berpisah sesuai tujuan masing-masing. Ada yang balik ke Natuna, ke Jakarta, atau langsung pulang ke Batam. Saya harus menunggu kedatangan tim sepakbola Divre Batam yang akan berlaga di Medan. Entah kenapa, Medan menjadi menjemukan. Naiklah becak motor kalau Anda ingin tahu kacaunya lalu lintas di Medan.<br />
   Dua hari di lapangan Kebun Bunga, markas PSMS Medan menyaksikan teman-teman bertanding, juga melelahkan. Bukan soal kalah menang. Tapi karena sikap tidak sportif pemain yang berlanjut ke luar lapangan. Lalu, apa lagi yang harus saya pertahankan? Apalagi, saya tak begitu suka dan mengerti sepakbola. Ya, sudahlah.<br />
  Kembali ke Batam dan hari bersejarah bagi Batam Pos menjelang usia sepuluh tahun, sudah menanti. Apa yang akan dilakukan agar hari ulang tahun koran ini berkesan? Agenda rally wisata sudah matang. Begitu pula kerjasama dengan Yayasan Maria Monique Last Wish yang akan memberikan 17 kursi roda bagi penderita lumpuh layu, sudah disiapkan.<br />
   Gagasan besar pun datang dari Pak Rida. Gerakan seribu rumah baca se Kepulauan Riau. Lalu, ditambah dengan pemberian 500 kacamata gratis dari Juwis Optical. Lalu, apa lagi? Alangkah bahagianya kalau buku saya yang sudah disiapkan sejak bertahun-tahun lalu, bisa diluncurkan. Sebagai kado buat Batam Pos.<br />
  Klop. Ada rally wisata, festival band dan dancer sebagai acara entertaint, ada pemberian kursi roda dan kacamata, ditambah gerakan rumah baca dan peluncuran buku. Semua agenda yang semula tak nyambung itu seakan direkatkan sesuatu sehingga menjadi sebuah mozaik acara yang fenomenal.<br />
    Kegiatan yang sambung menyambung itu, membuat fisik saya tergerus. Padahal, saya harus ke Jakarta, menghadiri undangan seorang vice president perusahaan ternama. Saat bangun pagi, tulang belikat saya sakit sekali. Seperti keseleo. Saya pikir, hanya kecapean. Saya kaget, saat cek darah ke laboratorium, ternyata kolesterol saya tinggi. Rasa sakit di tangan makin menjadi-jadi dan menjalar sampai ke jari.<br />
   Saat orang merayakan hari kemerdekaan, saya malah masuk rumah sakit di unit gawat darurat Awal Bross. Meski disuntik penghilang nyeri, tetap tak sembuh. Dokter bagian rehabilitasi medik yang biasa menangani pasien patah tulang mengatakan, otot saya bermasalah. &#8221;Seperti orang olahraga, tapi tak ada pemanasan,&#8221; katanya. Pijat? Sudah enam tukang pijat tapi tak sembuh juga.<br />
   Pada tanggal 17 Agustus hari itu, putri saya Sonya ulang tahun ke empat dan dirayakan di rumah, bersama anak tetangga. Saya meringkuk di kamar kesakitan. Ia sebenarnya lahir tanggal 20 Agustus. Istri saya kali ini juga mau merayakan bersama anak-anak teman sekantor pas tanggal 20 itu. Sampai saatnya tiba, saya masih belum sembuh juga. Baru kali ini kami memesan tempat ulang tahun di luar. Kalau dibatalkan, sudah bayar down payment. Walah.<br />
  Senin tanggal merah. Saya sudah lama janji dengan Pak Abidin bos Satnusa Persada pertandingan persahabatan dengan Batam Pos. Saya memaksakan diri datang dengan bahu dibalut perban lantaran sakit. Istri saya yang nyetir, saya nyengir kesakitan sepanjang jalan.<br />
   Meski mendadak, acara ulang tahun putri kami lumayan meriah. Malah, kami sekeluarga terlambat datang ke tempat acara.  Malamnya, kami pergi ke panti asuhan di dekat rumah, merayakan ultah Sonya dengan anak-anak panti asuhan Darul Aitam. Lengkap sudah. Iseng saya tanya istri saya soal ulang tahun yang komplit itu, ia menjawab,&#8221; Kan Sonya ulang tahun tanggal 20-08 tahun 2008&#8230;,&#8221; katanya. Walah!<br />
   Hari Jumat 22 Agustus juga istimewa. Sebab, mama saya berulang tahun yang ke 66. Istri saya beli kue, lalu kami beli lilin-lilin kecil, kedua anak saya mengucapkan selamat ulang tahun buat neneknya di rumahnya malam hari. Ibu saya tersenyum bahagia. Sakit di tangan saya pun sudah mulai reda. Begitulah. Agustus memang melelahkan, sekaligus membahagiakan. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/agustus-yang-melelahkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepak Bola</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/sepak-bola/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/sepak-bola/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 09:07:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panggilakubos.wordpress.com/2008/06/30/sepak-bola/</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini, Senin 30 Juni 2008 headline koran-koran umumnya masih berkutat soal kecelakaan pesawat Cassa TNI AU atau (Kompas,Republika) dan dugaan suap menteri (Koran Tempo) dan koran-koran lokal di Batam memilih berita Anwar Ibrahim. Sedangkan Batam Pos, memilih berita utama soal kejayaan tim sepakbola Spanyol yang menumbangkan kedigjayaan Jerman dengan skor 1-0. Mengapa Batam Pos [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp1.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SGikSp0tKnI/AAAAAAAAAEo/FxFJrplnazc/s1600-h/bolaa.jpg"><img style="display:block;text-align:center;cursor:hand;margin:0 auto 10px;" src="http://bp1.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SGikSp0tKnI/AAAAAAAAAEo/FxFJrplnazc/s400/bolaa.jpg" border="0" alt="" /></a><br />
Hari ini, Senin 30 Juni 2008 headline koran-koran umumnya masih berkutat soal kecelakaan pesawat Cassa TNI AU atau (Kompas,Republika) dan dugaan suap menteri (Koran Tempo) dan koran-koran lokal di Batam memilih berita Anwar Ibrahim. Sedangkan Batam Pos, memilih berita utama soal kejayaan tim sepakbola Spanyol yang menumbangkan kedigjayaan Jerman dengan skor 1-0. Mengapa Batam Pos memilih juara Euro 2008 sebagai berita utama?</p>
<p><span id="more-207"></span><br />
<span class="fullpost"><br />
Saya merasa, ini pertandingan klimaks, pada saat dukungan orang terbelah antara semangat matador Spanyol dengan mental juara Jerman. Saya menelepon Wapimred dan Redpel Batam Pos jam 1.00 dinihari agar menunggu berita pertandingan itu. Hasilnya, hanya Batam Pos yang menerbitkan berita itu di halaman depan. Judulnya tegas. Spanyol Juara!<br />
Pada sepakbola kita belajar berorganisasi, kerja sama dan semangat tim yang bisa menghasilkan kemenangan. Lihatlah, postur tubuh yang kurang tinggi pemain Spanyol tidak menghalangi mereka saat berhadapan dengan pemain Jerman yang rata-rata 185 centimeter. Juga bagaimana menggelar even kolosal dengan biaya triliunan, menjinakkan suporter dan membuka negaranya untuk tamu-tamu yang berdatangan.<br />
Jujur saja, saya tak mengerti sepak bola. Pada Euro 2008 ini, saya malah kalah tiga kali bertaruh. Pertama, pegang Turki saat melawan Jerman, lalu pegang Rusia saat melawan Spanyol dan terakhir pegang Jerman saat melawan Spanyol. Tapi tak apalah. Toh, komentator, wartawan olahraga dan analis bola pun sering salah tebak. Padahal, mereka membaca dan mengikuti pertandingan dan tahu persis kekuatan dan kelemahan lawan.<br />
Boleh saja nama saya Socrates, pemain sepakbola Brazil yang juga dokter gigi itu. Tapi, sekali lagi, saya tidak mengerti sepakbola. Malah, kadang-kadang saya heran, kok satu bola dikejar-kejar 22 orang dan disepak ke sana-kemari. Saat masih kecil sampai SMP, saya memang ikut-kutan main bola sesama anak di kampung saya.<br />
Saya mulai agak serius berpikir tentang sepakbola. Sebab, saat kuliah saya dipercaya menjadi ketua Unit Kegiatan Olahraga Universitas Andalas. Unit kegiatan yang setara dengan Menwa, Mapala itu tugasnya mengurusi olahraga di tingkat mahasiswa di semua fakultas. Jadi, mau tak mau saya harus mengurusi soal tenis, takraw, pencaksilat, basket, volley ball dan sepak bola. Pokoknya, semua cabang olahraga. Setiap ada kejuaraan nasional mahasiswa, saya selalu menjadi team managernya.<br />
Dari semua cabang, yang agak sulit mengurusi sepakbola. Sebab, orangnya banyak dan butuh biaya besar. Saat membawa tim Universitas Andalas bertanding ke Pekanbaru, saya melakukan kesalahan fatal. Saya memberi seluruh pemain obat penambah stamina. Hasilnya, mereka tak bisa tidur dan digasak pemain lawan. Saya terkejut selesai makan lantaran harus membayar lebih besar dari anggaran makan tim. &#8221;Ya, gimana. Mas-mas itu makan lauknya tiga,&#8221; kata wanita pemilik restoran, menjawab kekagetan saya kok tagihannya besar.<br />
Tamat kuliah, praktis saya tak pernah lagi bersentuhan dengan sepakbola. Sebab, saya memang bukan hobi dan gila bola. Tapi, lagi-lagi saya harus mengurusi sepak bola. Pak Rida K Liamsi, bos saya yang mantan penjaga gawang di masa mudanya, menggelar turnamen Riau Pos Grup tahun 2007 di Pekanbaru. Saya ditunjuk menjadi team manager divisi regional Batam. Yang ikut adalah tim dari Pekanbaru, Padang, Medan dan Batam.<br />
Agar saya kelihatan suka sepakbola dan tampak agak mengerti, sebelum bertanding melawan Medan, saya juga ikut-ikutan latihan. Lari-lari dan menendang-nendang bola. Pakai seragam pula dan ikut berfoto bersama. Hitung-hitung sambil olahraga, pikir saya. Apalagi, pemain kami kurang, totalnya hanya 14 orang dan saya bersiap-siap jadi cadangan. Tapi, sampai kompetisi selesai, tak sekalipun saya turun bertanding.<br />
Hasilnya, tanpa diduga tim Batam menjadi runner-up, kalah dari Pekanbaru di partai final. Kami mendapat hadiah Rp15 juta. Dan diputuskan, tahun 2008 Batam menjadi tuan rumah RPG Cup tersebut. Bulan lalu, saya mulai lagi bersentuhan dengan sepakbola. Kami memulai program latihan menghadapi kompetisi yang direncanakan akhir Juli 2008 itu. Mulai dari persiapan latihan, mencari lapangan, konsumsi pemain dan sebagainya.<br />
Sejak awal, saya menyadari, saya membutuhkan rancangan kerjasama yang kuat untuk membentuk tim yang tangguh. Perlu ada team manager, official dan pelatih sehingga pemain bisa berkonsentrasi latihan dan meningkatkan kemampuannya. Saya tidak mau seperti selama ini, pemain juga sibuk mencari lapangan, mengontak pemain lain lalu tiba di lapangan bermain bola.<br />
Akhirnya, saya berhasil mengajak Jessi Mustamu, mantan pemain Niac Mitra tahun 80-an dan mantan pelatih PS Batam. Tangan Jessi yang mengantarkan PS Batam masuk ke divisi II. Saat bertemu Jessi pertama kali, saya yakin ia bisa menangani tim Batam Pos yang merupakan gabungan pemain dari percetakan Bintana, Graha Pena, Posmetro Batam, Batam TV, Batam News dan Batam Pos sendiri. &#8221;Tim sepakbola itu yang penting organisasinya dulu yang harus dibenahi,&#8221; kata Jessi.<br />
Sebelum ditangani Jessi Mustamu, tim Batam Pos sudah beberapa kali latihan. Pemanasan, lari keliling lapangan dan main bola yang ditandai satu tim buka baju. Saat latih tanding lawan PS Garuda Legenda Malaka, lansung kelihatan kerjasama tim Batam Pos belum solid. Batam Pos kalah 1-2. Lalu, saat uji coba melawan PS Rileks, Batam Pos dibantai 10-0 tanpa balas. Beberapa pemain Rileks adalah mantan pemain andalan PS Batam.<br />
Meski uji coba, saya kecewa. Tapi, medapat lawan latih tanding yang jauh lebih perkasa, saya kira akan memberi pelajaran berharga buat tim ini. &#8221;Saya optimis tim ini bakal kuat. Yang perlu dilakukan adalah membenahi dasar-dasar bermain sepakbola,&#8221; kata Jessi, membesarkan hati saya. Dan, Senin (30/6) kemarin, latihan bersama Jessi dimulai. Mereka diajarkan teknik dasar bermain sepakbola, passing dan kontrol bola serta sprint. Selain teknik dasar, juga melatih fisik pemain.<br />
Begitulah. Sepakbola olahraga yang paling digemari orang sejagat itu, kini mulai menarik perhatian saya. Meski saya tidak mengerti sepakbola, saya senang bagaimana orang-orang mengorganisir dirinya dalam sebuah kerjasama. Belajar bagaimana bertahan dan menyerang, menyusun stretegi dan sebagainya. Tidak mudah memang. Jadi, berhentilah mencaci maki orang yang mengurus sepakbola. Sebab, Anda atau saya, belum tentu bisa. ***</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/sepak-bola/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia Tak Mau Menyusahkan Orang</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/dia-tak-mau-menyusahkan-orang/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/dia-tak-mau-menyusahkan-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Jun 2008 05:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://panggilakubos.wordpress.com/2008/06/07/dia-tak-mau-menyusahkan-orang/</guid>
		<description><![CDATA[Kolom Kamisan yang ditulis Hasan Aspahani, Pimred Batam Pos tanggal 6 Juni lalu punya kesan tersendiri buat saya. Sebab, orang yang dipanggilnya Mama itu, adalah mamaku Emmywarsih yang melahirkan aku 41 tahun yang lalu. Ini hanya sekelumit kisah ketegaran dan kemandiriannya. Tulisan Hasan membuat aku bangga punya ibu seperti dia yang telah memberiku nama Socrates. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp0.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SEod902J9OI/AAAAAAAAADA/e6I4Jn5ZGlE/s1600-h/MAMA.jpg"><img style="float:left;cursor:hand;margin:0 10px 10px 0;" src="http://bp0.blogger.com/_nid0XmFBDBc/SEod902J9OI/AAAAAAAAADA/e6I4Jn5ZGlE/s400/MAMA.jpg" border="0" /></a><br />Kolom Kamisan yang ditulis Hasan Aspahani, Pimred Batam Pos tanggal 6 Juni lalu punya kesan tersendiri buat saya. Sebab, orang yang dipanggilnya Mama itu, adalah mamaku Emmywarsih yang melahirkan aku 41 tahun yang lalu. Ini hanya sekelumit kisah ketegaran dan kemandiriannya. Tulisan Hasan membuat aku bangga punya ibu seperti dia yang telah memberiku nama Socrates. Terima kasih yang tulus buat Hasan. Semoga tulisan itu tidak karena aku bosnya. <br /><span class="fullpost"></p>
<p>BULAN Agustus nanti umurnya sudah 65. Saya memanggilnya Mama, sebagaimana sebutan dia ketika meng-aku-kan diri kepada orang-orang muda seperti saya. Selasa kemarin, saya bertemu dia. Itulah pertama kalinya saya singgah di rumah yang ia bangun sendiri di Batubesar.  Ya, ia bangun sendiri. Ia beli sendiri tanahnya. Ia rancang sendiri bangunannya. Bangunan yang amat sederhana, tapi tampak sekali ia sangat bangga dengan rumah itu. Di depan dan di belakang rumah itu ia tanami berbagai jenis tanaman obat.  Ia beberapa kali menyebut kumis kucing. <br />    &#8220;Saya sudah pelajari, obat-obat hasil pabrik farmasi itu kebanyakan bahan bakunya kumis kucing,&#8221; katanya.  <br />   Ingatannya masih sangat baik untuk seorang seumur dia. Dia masih sangat sehat. Kemarin ketika saya telepon lagi, dia bercerita baru saja mencari buku untuk hadiah ulang tahun menantu perempuannya. Kepada anak-anaknya pun dia selalu memberi hadiah ulang tahun buku. Dia memang suka membaca. Amat suka. Mungkin karena itu ingatannya tak menumpul. <br />   Ia bahkan mengingat jam ia dilahirkan. &#8220;Jam 12, hari Minggu. Di Batusangkar. Sekarang tinggal di Batubesar,&#8221; dia lantas tertawa. Kalau bertemu dengannya saya tak pernah tidak menjumpainya sebagai seorang yang periang. Kelihatannya dia tak pernah bersedih, ah lebih tepat dia tampak selalu ingin membuat orang lain bersemangat. Ia ingin menularkan semangat hidupnya.<br />   Saya mengagumi dia sebagai orang yang luar biasa. Dulu dia bekerja sebagai perawat. Ah, bahkan sampai sekarang pun di depan pintu rumahnya yang amat sederhana itu ia pasang papan nama dan kata &#8220;bidan&#8221; di depannya. Saya bertanya dengan hati-hati, takut membuat dia tersinggung,&#8221;Kenapa mama masih juga praktek bidan?&#8221; Dia tertawa dan ah syukurlah tawa itu bukan keluar dari hati seseorang yang tersinggung.<br />    &#8220;Hasan, Mama tak mau membebani anak-anak. Kalau ada orang yang minta tolong mama bantu,&#8221; katanya.  Saya lalu meminta dia memeriksa tekanan darah saya. &#8220;Wah, rendah sekali, Hasan. Kamu harus banyak minum jus wortel dan tomat. Suruh Yana menyiapkannya,&#8221; ia menyebut nama istri saya, yang juga dia kenal baik. <br />     Kalau dia mau, dia bisa memilih tinggal di salah satu dari empat anaknya yang pasti tak akan merasa direpotkan oleh kehadirannya. &#8220;Mama tak mau merepotkan orang lain. Tak mau merepotkan anak-anak. Mama masih bisa berguna bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain.&#8221; <br />    Saya bilang bukankah anak-anaknya juga harus diberi kesempatan untuk membalas jasanya? Dia tidak mengharapkan itu. &#8220;Kalau Mama serumah dengan anak-anak, nanti suatu saat ada kalanya mama marah, atau bosan atau anak-anak yang bosan. Pasti akan jadi masalah. Lebih baik terpisah tapi kan juga tidak jauh, jadi sayangnya dobel. Sayang karena tidak serumah, dan sayang karena Mama memang harus disayangi,&#8221; ujarnya, lagi-lagi dia tertawa. <br />   Ia lantas mengambil sekeping obat dari lemari kaca di depan mejanya. Ada buku panjang, buku catatan keuangan yang baginya digunakan untuk mencatat apapun. Beberapa nomor telepon, dan tulisan berikut ini yang paling menarik: <br /> Bicara 10 Persen<br /> Mendengar 45 Persen<br /> Membaca 25 Persen<br /> Menulis 20 Persen.<br /> Saya bertanya apa maksud tulisannya itu. Lagi-lagi dia tertawa. &#8220;Itu pola hidup Mama,&#8221; dan ia bilang begitulah kalau ingin mencapai keberhasilan. Orang harus mendengarkan orang lain lebih banyak daripada bicara tentang diri sendiri. Dan tentu saja saya amat tertarik dengan persentase membaca dan menulis itu. <br />   &#8220;Sejak tahun 1971 sampai sekarang, Mama langganan Intisari. Banyak ilmu pengetahuan bisa didapat dari majalah itu,&#8221; katanya. 1971? Ah, itu  tahun kelahiran saya. Dan dia sudah membaca majalah itu?  &#8220;Sekarang mama juga langganan majalah lain, dan beli buku. Sekarang lagi baca buku ESQ,&#8221; katanya. <br />    Tapi, rasanya dia melanggar persentase pola hidupnya tadi. &#8220;Mama membaca Quran sehari satu juz, katanya. Lalu dia menyebut beberapa surat kabar, majalah, dan beberapa judul buku. Jangan-jangan persentase membaca dia lebih dari 25 persen! <br />   Saya suka tulisan tangannya, khas tulisan orang-orang yang berpendidikan di sekolah lama. Saya ingat begitulah tulisan Ayah saya. Tersambung rapi dari huruf ke huruf, dengan derajat kemiringan konsisten dan selalu terasa ditarik dengan kecepatan tetap. Hmm, pernah lihat tanda tangan Soekarno? Nah, kira-kira seperti itulah. Dia sekolah perawat dulu di RSU Ahmad Muhtar, Bukittinggi. <br />   Hal lain yang sangat saya teladani dari dia adalah semangat belajarnya. Beberapa waktu lalu dia kursus Bahasa Jepang! Ya, Bahasa Jepang. Saya tanya alasannya. &#8220;Anak angkat Mama kan menikah dengan orang Jepang. Kalau bertemu dengan keluarga Jepang itu, Mama bisa  bicara dan belajar banyak, termasuk tentang ilmu pengobatannya,&#8221; katanya. <br />    Dia mengagumi Hembing, si pakar pengobatan herbal itu. Dia menyebut sudah tamat belajar pada Profesor itu tentang berbagai khasiat obat dari berbagai tanaman. Di mana belajarnya? &#8220;Saya ikuti dari televisi,&#8221; katanya. Lihatlah, betapa dia tak memandang media belajar. Dia bisa belajar di televisi, dari siapa saja, dari buku, dari majalah.  <br />    Berapa saya membayar untuk konsultasi dan sekeping obat penambah tekanan darah? Gratis. Kami sepakat membarter jasa itu dengan sebuah handgrip &#8211; alat melatih otot tangan milik saya yang kebetulan saat itu saya kantongi. <br />&#8220;Tiap pagi Mama kesemutan, ini bagus buat mama, kamu beli saja lagi. Iklhas, Hasan?&#8221; <br /> &#8220;Ikhlas,&#8221; kata saya.  <br />    Sepulang dari pertemuan dengannya, saya lalu terpapar pada sejumlah pertanyaan: seberapa merepotkan saya bagi orang lain? Seberapa tergantung saya pada orang lain? Apakah saya sudah menularkan semangat hidup pada orang lain, atau sebaliknya merepotkan dan membuat orang lain tidak bersemangat? Seberapa merepotkan saya bagi kantor tempat saya bekerja yang tiap bulan menggaji saya? Seberapa merepotkan saya bagi negara saya?  Apakah saya terlalu menuntut? Seberapa manjakah saya?<br />     Setiap pertanyaan itu akhirnya hanya memingatkan saya pada Mama: Dia yang  tak mau menyusahkan orang lain, bahkan orang yang akan sangat ikhlas ketika harus ia repotkan.  Saya ingin bertemu lagi dengan dia, dan seperti setiap kali saya bertemu dia, saya akan menyalaminya dan mencium tangannya.*** </p>
<p>* Komentari tulisan ini di www.hasanaspahani.blogspot.com </p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/dia-tak-mau-menyusahkan-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

