Napak Tilas Seorang Wartawan

December 21, 2009 · Filed Under pribadi · Comment 

Roda pesawat baru menyentuh landasan yang licin. Bandara Simpang Tiga yang kini bernama Sultan Syarim Kasim II. Dari udara, beberapa kawasan kota bertuah itu tergenang air. Kalau tak banjir, kota ini sering dikepung asap kebakaran hutan. Disinilah saya memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1996. Read more

Bukittinggi setelah 12 Tahun

July 24, 2009 · Filed Under pribadi · 1 Comment 

Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas tahun? Read more

Berdamai dengan Kenyataan (20/5/1967 – 20/5/2009)

May 26, 2009 · Filed Under pribadi · 3 Comments 

 

Hari ini, 20 Mei 2009, saya berumur 42 tahun. Tak ada rencana khusus untuk merayakannya. Meski istri saya sudah berencana mengantarkan makanan sekadarnya untuk anak-anak panti asuhan, tanda bersyukur kepada Allah SWT. Kalau biasanya saya diberi kado buku oleh mama, beberapa hari sebelum ultah, mama mengatakan kepada saya: Berdamailah dengan kenyataan… Read more

Axel dan Sonya

April 7, 2009 · Filed Under pribadi · 1 Comment 

Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan…

Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam Bintang Kejora. Read more

Helikopter ala Alexis

August 31, 2008 · Filed Under pribadi, weblog · 6 Comments 

Hotel bintang empat itu kini ganti nama dari Grand Ancol menjadi Alexis. Hotel itu kini terkenal dengan bisnis esek-esek yang digemari orang dari berbagai daerah di Jakarta. Inilah praktik bisnis prostitusi terang-terangan dan terkenal dengan gaya helikopter dan melibatkan pelacur antar bangsa.

Read more

Agustus yang Melelahkan

August 22, 2008 · Filed Under pribadi · Comment 

Bulan Agustus 2008 bagi saya punya catatan tersendiri. Bulan ini cukup melelahkan. Baik secara fisik maupun pikiran. Berkejaran dengan waktu, seperti berada di stasiun kereta api melihat sepur terus menjauh. Namun, tetap ada sisi lain yang membahagiakan. Itulah kehidupan.

Read more

Sepak Bola

June 30, 2008 · Filed Under pribadi · 1 Comment 


Hari ini, Senin 30 Juni 2008 headline koran-koran umumnya masih berkutat soal kecelakaan pesawat Cassa TNI AU atau (Kompas,Republika) dan dugaan suap menteri (Koran Tempo) dan koran-koran lokal di Batam memilih berita Anwar Ibrahim. Sedangkan Batam Pos, memilih berita utama soal kejayaan tim sepakbola Spanyol yang menumbangkan kedigjayaan Jerman dengan skor 1-0. Mengapa Batam Pos memilih juara Euro 2008 sebagai berita utama?

Read more

Dia Tak Mau Menyusahkan Orang

June 7, 2008 · Filed Under pribadi · Comment 


Kolom Kamisan yang ditulis Hasan Aspahani, Pimred Batam Pos tanggal 6 Juni lalu punya kesan tersendiri buat saya. Sebab, orang yang dipanggilnya Mama itu, adalah mamaku Emmywarsih yang melahirkan aku 41 tahun yang lalu. Ini hanya sekelumit kisah ketegaran dan kemandiriannya. Tulisan Hasan membuat aku bangga punya ibu seperti dia yang telah memberiku nama Socrates. Terima kasih yang tulus buat Hasan. Semoga tulisan itu tidak karena aku bosnya.

BULAN Agustus nanti umurnya sudah 65. Saya memanggilnya Mama, sebagaimana sebutan dia ketika meng-aku-kan diri kepada orang-orang muda seperti saya. Selasa kemarin, saya bertemu dia. Itulah pertama kalinya saya singgah di rumah yang ia bangun sendiri di Batubesar. Ya, ia bangun sendiri. Ia beli sendiri tanahnya. Ia rancang sendiri bangunannya. Bangunan yang amat sederhana, tapi tampak sekali ia sangat bangga dengan rumah itu. Di depan dan di belakang rumah itu ia tanami berbagai jenis tanaman obat. Ia beberapa kali menyebut kumis kucing.
“Saya sudah pelajari, obat-obat hasil pabrik farmasi itu kebanyakan bahan bakunya kumis kucing,” katanya.
Ingatannya masih sangat baik untuk seorang seumur dia. Dia masih sangat sehat. Kemarin ketika saya telepon lagi, dia bercerita baru saja mencari buku untuk hadiah ulang tahun menantu perempuannya. Kepada anak-anaknya pun dia selalu memberi hadiah ulang tahun buku. Dia memang suka membaca. Amat suka. Mungkin karena itu ingatannya tak menumpul.
Ia bahkan mengingat jam ia dilahirkan. “Jam 12, hari Minggu. Di Batusangkar. Sekarang tinggal di Batubesar,” dia lantas tertawa. Kalau bertemu dengannya saya tak pernah tidak menjumpainya sebagai seorang yang periang. Kelihatannya dia tak pernah bersedih, ah lebih tepat dia tampak selalu ingin membuat orang lain bersemangat. Ia ingin menularkan semangat hidupnya.
Saya mengagumi dia sebagai orang yang luar biasa. Dulu dia bekerja sebagai perawat. Ah, bahkan sampai sekarang pun di depan pintu rumahnya yang amat sederhana itu ia pasang papan nama dan kata “bidan” di depannya. Saya bertanya dengan hati-hati, takut membuat dia tersinggung,”Kenapa mama masih juga praktek bidan?” Dia tertawa dan ah syukurlah tawa itu bukan keluar dari hati seseorang yang tersinggung.
“Hasan, Mama tak mau membebani anak-anak. Kalau ada orang yang minta tolong mama bantu,” katanya. Saya lalu meminta dia memeriksa tekanan darah saya. “Wah, rendah sekali, Hasan. Kamu harus banyak minum jus wortel dan tomat. Suruh Yana menyiapkannya,” ia menyebut nama istri saya, yang juga dia kenal baik.
Kalau dia mau, dia bisa memilih tinggal di salah satu dari empat anaknya yang pasti tak akan merasa direpotkan oleh kehadirannya. “Mama tak mau merepotkan orang lain. Tak mau merepotkan anak-anak. Mama masih bisa berguna bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain.”
Saya bilang bukankah anak-anaknya juga harus diberi kesempatan untuk membalas jasanya? Dia tidak mengharapkan itu. “Kalau Mama serumah dengan anak-anak, nanti suatu saat ada kalanya mama marah, atau bosan atau anak-anak yang bosan. Pasti akan jadi masalah. Lebih baik terpisah tapi kan juga tidak jauh, jadi sayangnya dobel. Sayang karena tidak serumah, dan sayang karena Mama memang harus disayangi,” ujarnya, lagi-lagi dia tertawa.
Ia lantas mengambil sekeping obat dari lemari kaca di depan mejanya. Ada buku panjang, buku catatan keuangan yang baginya digunakan untuk mencatat apapun. Beberapa nomor telepon, dan tulisan berikut ini yang paling menarik:
Bicara 10 Persen
Mendengar 45 Persen
Membaca 25 Persen
Menulis 20 Persen.
Saya bertanya apa maksud tulisannya itu. Lagi-lagi dia tertawa. “Itu pola hidup Mama,” dan ia bilang begitulah kalau ingin mencapai keberhasilan. Orang harus mendengarkan orang lain lebih banyak daripada bicara tentang diri sendiri. Dan tentu saja saya amat tertarik dengan persentase membaca dan menulis itu.
“Sejak tahun 1971 sampai sekarang, Mama langganan Intisari. Banyak ilmu pengetahuan bisa didapat dari majalah itu,” katanya. 1971? Ah, itu tahun kelahiran saya. Dan dia sudah membaca majalah itu? “Sekarang mama juga langganan majalah lain, dan beli buku. Sekarang lagi baca buku ESQ,” katanya.
Tapi, rasanya dia melanggar persentase pola hidupnya tadi. “Mama membaca Quran sehari satu juz, katanya. Lalu dia menyebut beberapa surat kabar, majalah, dan beberapa judul buku. Jangan-jangan persentase membaca dia lebih dari 25 persen!
Saya suka tulisan tangannya, khas tulisan orang-orang yang berpendidikan di sekolah lama. Saya ingat begitulah tulisan Ayah saya. Tersambung rapi dari huruf ke huruf, dengan derajat kemiringan konsisten dan selalu terasa ditarik dengan kecepatan tetap. Hmm, pernah lihat tanda tangan Soekarno? Nah, kira-kira seperti itulah. Dia sekolah perawat dulu di RSU Ahmad Muhtar, Bukittinggi.
Hal lain yang sangat saya teladani dari dia adalah semangat belajarnya. Beberapa waktu lalu dia kursus Bahasa Jepang! Ya, Bahasa Jepang. Saya tanya alasannya. “Anak angkat Mama kan menikah dengan orang Jepang. Kalau bertemu dengan keluarga Jepang itu, Mama bisa bicara dan belajar banyak, termasuk tentang ilmu pengobatannya,” katanya.
Dia mengagumi Hembing, si pakar pengobatan herbal itu. Dia menyebut sudah tamat belajar pada Profesor itu tentang berbagai khasiat obat dari berbagai tanaman. Di mana belajarnya? “Saya ikuti dari televisi,” katanya. Lihatlah, betapa dia tak memandang media belajar. Dia bisa belajar di televisi, dari siapa saja, dari buku, dari majalah.
Berapa saya membayar untuk konsultasi dan sekeping obat penambah tekanan darah? Gratis. Kami sepakat membarter jasa itu dengan sebuah handgrip – alat melatih otot tangan milik saya yang kebetulan saat itu saya kantongi.
“Tiap pagi Mama kesemutan, ini bagus buat mama, kamu beli saja lagi. Iklhas, Hasan?”
“Ikhlas,” kata saya.
Sepulang dari pertemuan dengannya, saya lalu terpapar pada sejumlah pertanyaan: seberapa merepotkan saya bagi orang lain? Seberapa tergantung saya pada orang lain? Apakah saya sudah menularkan semangat hidup pada orang lain, atau sebaliknya merepotkan dan membuat orang lain tidak bersemangat? Seberapa merepotkan saya bagi kantor tempat saya bekerja yang tiap bulan menggaji saya? Seberapa merepotkan saya bagi negara saya? Apakah saya terlalu menuntut? Seberapa manjakah saya?
Setiap pertanyaan itu akhirnya hanya memingatkan saya pada Mama: Dia yang tak mau menyusahkan orang lain, bahkan orang yang akan sangat ikhlas ketika harus ia repotkan. Saya ingin bertemu lagi dengan dia, dan seperti setiap kali saya bertemu dia, saya akan menyalaminya dan mencium tangannya.***

* Komentari tulisan ini di www.hasanaspahani.blogspot.com

Cerita tentang Istriku

June 7, 2008 · Filed Under pribadi · Comment 


Aku beruntung dapat istri yang cantik dan baik serta unik. Kami menikah 26 Maret 2000 delapan tahun lalu. Kini dikaruniai sepasang buah hati yang sehat dan lucu. Istriku seorang yang keras hati sekaligus si lembut hati.

Suatu malam, aku mau mengunjungi adikku Ira, yang kos tak jauh dari kantor. Saat bertemu, Yeni Astuti–wanita yang kini jadi istriku, terkesan cuek. Kulitnya putih. Mata sipit mirip orang Cina dengan rambut lurus sebahu. Gadis Palembang itu, segera menyita perhatianku.
Akrab seminggu, aku ajak menikah. Ia menangis tersedu-sedu. Belakangan, ia bilang terharu. Antara nekad dan spontan. Soalnya, saat itu aku sudah 33 tahun dan ia baru 22 tahun. Tapi, masa pacaran sampai setahun juga. Saya melamarnya dan kami menikah.
Lagu Terlena yang disenandungkannya di acara pernikahan kami, seolah mewakili perasaannya terhadapku. Lalu, kami melewati bulan madu yang indah di Thailand, selama dua minggu. Sampai hamil delapan bulan, istriku masih bekerja di perusahaan kosmetika Mirabella. Saat putra pertamaku Axel Ariel Muhammad lahir, ia memutuskan berhenti dan menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Istriku anak ke empat dari enam bersaudara. Ayahnya mantan pelaut dan berasal dari Jawa Timur. Ibunya wanita sederhana dari Ogan Komering Ilir. Namun, hanya istriku yang berkulit putih dan mata sipit seperti Cina. Sejak kecil, ia sering diolok-olok orang Cina.
Istriku seorang wanita yang sangat pengertian. Ia memahami pekerjaanku sebagai wartawan. Sering ia kubawa ke kantor agar ia tahu, wartawan bekerja kadang tak mengenal waktu. Saat aku bentrok dan nyaris disekap oleh seorang oknum pejabat tentara, ia ikut kubawa kabur. ”Ternyata, beginilah rasanya menjadi istri wartawan,”katanya. Ia ketakutan.
Istriku senang jalan-jalan. Ia suka hal-hal baru dan unik. Klop dengan tugasku sebagai wartawan. Wajahnya yang mirip orang Cina, sering membuat orang salah sangka. Kalau belanja di Nagoya, ia diajak bicara Mandarin yang tidak dimengertinya. Bosku Dahlan Iskan pun pernah bertanya,” Istri Anda Tionghoa?,.. aku tersenyum dan geleng kepala.
Tak pernah ia merecoki pekerjaanku. Kadang aku pulang tengah malam bahkan subuh, ia menelepon dan bertanya, apakah aku tidak pulang ke rumah. Sejak menikah, aku selalu bawa kunci rumah.Saat anak kami Alliya Sonia Azarena lahir, lengkap sudah kebahagian kami.
Satu hal yang aku salut padanya, salat lima waktunya tak pernah tinggal. Setelah ikut ESQ ia memutuskan memakai jilbab. Ia rajin menjadi guru anakku saat mengerjakan tugas sekolah. Ikut kursus bahasa Inggris agar bisa komunikasi dengan guru anakku karena bahasa pengantar di sekolahnya bahasa Inggris.
Beberapa kali, aku membuatnya jengkel. Suatu pagi, aku pergi dengannya membeli sarapan pagi. Setelah memutar mobil, aku kelupaan menjemputnya dan terus melaju di warung tempat ia membeli sarapan. Aku lupa, ha..ha..ha! Ia hanya cemberut melihat aku tertawa-tawa.
Pernah pula, saat mengantarnya belanja ke pasar pagi, aku pergi ke mobil boks yang mendistribusikan koran. Aku baru sadar, istriku sudah kelamaan di tengah keramaian pasar. Aku mencarinya, tapi tak ketemu. Jangan-jangan, ia sudah menunggu di mobil membawa belanjaan.
Celakanya, kami tak membawa handphone. Ternyata benar. Dari jauh kulihat ia berdiri di antara tumpukan belanjaan, sambil menangis terisak-isak. Oalah, istriku. Kalau ia kesal, dnegan ulah kedua anakku,ia juga menangis tersedu-sedu.
Ia juga bukan wanita yang suka jaga gengsi. Kendati aku menjabat sebagai pemimpin redaksi, ia tak malu-malu bikin kue, lalu dijual di kantir kantor. Aku yang disuruh mengantar penganan itu dan mengutip uang penjualannya. Suatu pagi, karena ngerem mobil mendadak, kue-kue itu berhamburan dalam mobil.
Satu persatu, kupungut kembali lalu aku tiup agar tidak kotor. Kue itu lalu dititipkan ke kantin. Sorenya, kulihat kue itu hampir habis. Barulah aku cerita, tadi kue itu terserak di mobil. Ha..ha..ha..
Istriku juga pernah membuka konter kosmetik di mal. Tiap hari ia ke mal berjualan. Namun, hanya bertahan delapan bulan lantaran mal itu semakin sepi. Pernah pula ia menjual pakaian secara kredit kepada ibu-ibu di komplek atau wirid pengajian.
Benarlah kata orang. Istri yang baik akan menjadi pendorong semangat suami. Aku bangga, istriku tak suka bergunjing, iri dan dengki seperti kebanyakan wanita. Postingan ini sebagai kado ulang tahunnya yang ke 30 tanggal 20 Juni 2008. Soal tanggal lahir ini, aku dan istriku serta kedua anakku, semua lahir tanggal 20 tapi bulannya berbeda. ***

Life Begin Fourthy One 20/05/67 – 20/05/08

May 21, 2008 · Filed Under pribadi · Comment 

Hidup dimulai pada usia 40 tahun. Selasa, 20 Mei 2008 saya genap 41 tahun. Saya berharap lebih sehat, lebih sabar dan makin bijak dan menjadi pemimpin yang adil. Meski libur dan tanggal merah, saya bahagia mendapat ucapan selamat dari orang-orang dekat dan keluarga.

Sehari sebelumnya, saya sibuk dengan acara Safari Jurnalistik PWI di Nagoya Plasa Hotel. Acara berjalan sukses dan dihadiri Gubernur Kepri,Ketua DPRD Kepri, Ketua DPRD Batam, Asisten III Wali Kota serta anggota DPRD Batam. Tiga tahun lalu, PWI Kepri juga sukses menggelar Training of Trainer dan menjadi yang terbaik di Indonesia.
Malamnya, SMS ucapan selamat ulang tahun mulai dikirim ke HP saya. Saya capek dan tidur-tiduran di kamar hotel. Tengah malam, menjelang pulang ke rumah, tiba-tiba muncul beberapa karyawan Batam Pos dan Posmetro Batam memberi kejutan.
”Selamat ulang tahun,” kata mereka, sambil membawa roti dan kentang, lalu dipasangi sebatang lilin. Bukan lilin ulang tahun, tapi lilin biasa yang dipasang kalau listrik mati. Saya terharu. Saat itu sekitar pukul 02.00 WIB. Ada Sigit, Rikson, Vina, Uci, Loli, Susi dan Tia. Saya traktir mereka ngopi dan makan ke Mc Donald subuh itu.
Dengan mata ngantuk berat, saya sampai di rumah pukul 04.00 subuh. Paginya, ciuman mesra dari istri saya, mendarat di pipi. ”Papa, selamat ulang tahun,” katanya. Siangnya, saya ke hotel lagi karena ada rombongan PWI Pusat yang harus terbang ke Jakarta.
Dalam perjalanan, Wina Armada, anggota Dewan Pers dan Sekjen PWI itu bertanya berapa umur saya. ”Hari ini tepat 41 tahun,” kata saya.
Wah, kalau begitu, selamat ulang tahun, ya? kata Wina seraya menyebutkan, ia tanya umur saya hanya feeling-nya saja.
Pulang dari bandara, saya ketiduran. Ternyata, sorenya dua buah hati saya, Axel Ariel Muhammad dan Sonya dan istri saya Yenni sudah menyiapkan kue ulang tahun. Sore itu saya masih sempat berkebun. Anak saya minta, agar lilin segera dinyalakan dan acara ultah sederhana di rumah dimulai.
Malamnya, saya telepon kakak dan adik saya Linda dan Ira agar bergabung. Di rumah, ada Novi dan suaminya Agus. Saya juga ajak Ridwan Ginting, guru saya nyetir. Hampir semua ponakan hadir. Kami menuju restoran Sri Rejeki di Batu Besar. Acara ulang tahun bersama keluarga pun dimulai.
Mama memberi saya kado. Isinya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sebuah buku. Tapi, buku kali ini lebih istimewa, yakni buku pintar haji dan umroh. ”Keluarga sudah, kedudukan sudah, rumah dan mobil sudah. Hanya naik haji yang belum,” kata mama. Insya Allah!
Orang Amerika bilang, life begin fourthy atau hidup dimulai umur 40 tahun. Entah apa arti harfiahnya. Usia saya sudah 41 tahun. Banyak hal yang sudah saya capai dan berkah dari Allah SWT.Sepasang anak yang cantik dan ganteng, istri yang baik, keluarga yang hangat dan akrab, serta direktur perusahaan media terkemuka. Terima kasih ya Allah.
Namun, setiap ulang tahun saya, setiap itu pula hari Kebangkitan Nasional dirayakan. Apalagi, kali ini seabad hari kebangkitan itu. Hari ini, kebangkitan itu sangat diperlukan. Negara terancam kolaps setelah harga minyak dunia naik gila-gilaan. Sebentar lagi, harga BBM di dalam negeri, juga akan dinaikkan. Aksi demo menentang kenaikan BBM marak dimana-mana.
Indonesia Bisa! kata Presiden SBY membangkitkan semangat bangsa yang makin terpuruk. Meski slogan itu meniru Malaysia, pemimpin harus tetap optimis. Ibu SK Trimurti pengetik naskah proklamasi dan Ali Sadikin mantan gubernur DKI yang kontroversial itu, wafat.
Di hari Kebangkitan Indonesia ini, saya ingin menjadi orang Indonesia yang lebih baik, berguna bagi orang Indonesia lainnya. ***

Next Page »