Bandung Euy…
Hampir semua kota di Pulau Jawa, sudah pernah saya kunjungi. Baik saat jadi mahasiswa, maupun setelah bekerja. Tapi Bandung, belum sama sekali. Jadi penasaran juga dengan kota berjuluk Paris Van Java ini. Kali ini, saya berlebaran dan jalan-jalan bersama keluarga ke Bandung, sekaligus menuntaskan penasaran. Read more
Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (1)
Kata pepatah, banyak berjalan banyak dilihat. Sejak kecil, saya sering mengimpikan jalan-jalan kemana-mana. Sebab, saya suka sesuatu yang baru, aneh, unik dan mengesankan.Perjalanan saya yang pertama saat berusia tujuh tahun ke Jakarta naik kapal laut. Namanya kapal Berau dengan rute Teluk Bayur, Padang ke Tanjungpriok Jakarta. Read more
Napak Tilas Seorang Wartawan
Roda pesawat baru menyentuh landasan yang licin. Bandara Simpang Tiga yang kini bernama Sultan Syarim Kasim II. Dari udara, beberapa kawasan kota bertuah itu tergenang air. Kalau tak banjir, kota ini sering dikepung asap kebakaran hutan. Disinilah saya memulai karir sebagai wartawan pada tahun 1996. Read more
Bukittinggi setelah 12 Tahun
Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas tahun? Read more
Berdamai dengan Kenyataan (20/5/1967 – 20/5/2009)
Hari ini, 20 Mei 2009, saya berumur 42 tahun. Tak ada rencana khusus untuk merayakannya. Meski istri saya sudah berencana mengantarkan makanan sekadarnya untuk anak-anak panti asuhan, tanda bersyukur kepada Allah SWT. Kalau biasanya saya diberi kado buku oleh mama, beberapa hari sebelum ultah, mama mengatakan kepada saya: Berdamailah dengan kenyataan… Read more
Axel dan Sonya
Anakmu bukanlah anakmu, tapi anak masa depan…
Kalimat itu saya kutip dari kata-kata pujangga Khalil Gibran. Saya kadang merenung dan menerawang melihat dua anak saya, Axel Ariel Muhammad dan Alliya Sonya Azarena, dalam keseharian mereka. Anak pertama saya, laki-laki kini 8 tahun kelas II SD Kalista dan adiknya perempuan bernama Sonya 4 tahun di TK Islam Bintang Kejora. Read more
Helikopter ala Alexis
Hotel bintang empat itu kini ganti nama dari Grand Ancol menjadi Alexis. Hotel itu kini terkenal dengan bisnis esek-esek yang digemari orang dari berbagai daerah di Jakarta. Inilah praktik bisnis prostitusi terang-terangan dan terkenal dengan gaya helikopter dan melibatkan pelacur antar bangsa.
Agustus yang Melelahkan
Bulan Agustus 2008 bagi saya punya catatan tersendiri. Bulan ini cukup melelahkan. Baik secara fisik maupun pikiran. Berkejaran dengan waktu, seperti berada di stasiun kereta api melihat sepur terus menjauh. Namun, tetap ada sisi lain yang membahagiakan. Itulah kehidupan.
Sepak Bola

Hari ini, Senin 30 Juni 2008 headline koran-koran umumnya masih berkutat soal kecelakaan pesawat Cassa TNI AU atau (Kompas,Republika) dan dugaan suap menteri (Koran Tempo) dan koran-koran lokal di Batam memilih berita Anwar Ibrahim. Sedangkan Batam Pos, memilih berita utama soal kejayaan tim sepakbola Spanyol yang menumbangkan kedigjayaan Jerman dengan skor 1-0. Mengapa Batam Pos memilih juara Euro 2008 sebagai berita utama?
Dia Tak Mau Menyusahkan Orang

Kolom Kamisan yang ditulis Hasan Aspahani, Pimred Batam Pos tanggal 6 Juni lalu punya kesan tersendiri buat saya. Sebab, orang yang dipanggilnya Mama itu, adalah mamaku Emmywarsih yang melahirkan aku 41 tahun yang lalu. Ini hanya sekelumit kisah ketegaran dan kemandiriannya. Tulisan Hasan membuat aku bangga punya ibu seperti dia yang telah memberiku nama Socrates. Terima kasih yang tulus buat Hasan. Semoga tulisan itu tidak karena aku bosnya.
BULAN Agustus nanti umurnya sudah 65. Saya memanggilnya Mama, sebagaimana sebutan dia ketika meng-aku-kan diri kepada orang-orang muda seperti saya. Selasa kemarin, saya bertemu dia. Itulah pertama kalinya saya singgah di rumah yang ia bangun sendiri di Batubesar. Ya, ia bangun sendiri. Ia beli sendiri tanahnya. Ia rancang sendiri bangunannya. Bangunan yang amat sederhana, tapi tampak sekali ia sangat bangga dengan rumah itu. Di depan dan di belakang rumah itu ia tanami berbagai jenis tanaman obat. Ia beberapa kali menyebut kumis kucing.
“Saya sudah pelajari, obat-obat hasil pabrik farmasi itu kebanyakan bahan bakunya kumis kucing,” katanya.
Ingatannya masih sangat baik untuk seorang seumur dia. Dia masih sangat sehat. Kemarin ketika saya telepon lagi, dia bercerita baru saja mencari buku untuk hadiah ulang tahun menantu perempuannya. Kepada anak-anaknya pun dia selalu memberi hadiah ulang tahun buku. Dia memang suka membaca. Amat suka. Mungkin karena itu ingatannya tak menumpul.
Ia bahkan mengingat jam ia dilahirkan. “Jam 12, hari Minggu. Di Batusangkar. Sekarang tinggal di Batubesar,” dia lantas tertawa. Kalau bertemu dengannya saya tak pernah tidak menjumpainya sebagai seorang yang periang. Kelihatannya dia tak pernah bersedih, ah lebih tepat dia tampak selalu ingin membuat orang lain bersemangat. Ia ingin menularkan semangat hidupnya.
Saya mengagumi dia sebagai orang yang luar biasa. Dulu dia bekerja sebagai perawat. Ah, bahkan sampai sekarang pun di depan pintu rumahnya yang amat sederhana itu ia pasang papan nama dan kata “bidan” di depannya. Saya bertanya dengan hati-hati, takut membuat dia tersinggung,”Kenapa mama masih juga praktek bidan?” Dia tertawa dan ah syukurlah tawa itu bukan keluar dari hati seseorang yang tersinggung.
“Hasan, Mama tak mau membebani anak-anak. Kalau ada orang yang minta tolong mama bantu,” katanya. Saya lalu meminta dia memeriksa tekanan darah saya. “Wah, rendah sekali, Hasan. Kamu harus banyak minum jus wortel dan tomat. Suruh Yana menyiapkannya,” ia menyebut nama istri saya, yang juga dia kenal baik.
Kalau dia mau, dia bisa memilih tinggal di salah satu dari empat anaknya yang pasti tak akan merasa direpotkan oleh kehadirannya. “Mama tak mau merepotkan orang lain. Tak mau merepotkan anak-anak. Mama masih bisa berguna bagi Tuhan, diri sendiri dan orang lain.”
Saya bilang bukankah anak-anaknya juga harus diberi kesempatan untuk membalas jasanya? Dia tidak mengharapkan itu. “Kalau Mama serumah dengan anak-anak, nanti suatu saat ada kalanya mama marah, atau bosan atau anak-anak yang bosan. Pasti akan jadi masalah. Lebih baik terpisah tapi kan juga tidak jauh, jadi sayangnya dobel. Sayang karena tidak serumah, dan sayang karena Mama memang harus disayangi,” ujarnya, lagi-lagi dia tertawa.
Ia lantas mengambil sekeping obat dari lemari kaca di depan mejanya. Ada buku panjang, buku catatan keuangan yang baginya digunakan untuk mencatat apapun. Beberapa nomor telepon, dan tulisan berikut ini yang paling menarik:
Bicara 10 Persen
Mendengar 45 Persen
Membaca 25 Persen
Menulis 20 Persen.
Saya bertanya apa maksud tulisannya itu. Lagi-lagi dia tertawa. “Itu pola hidup Mama,” dan ia bilang begitulah kalau ingin mencapai keberhasilan. Orang harus mendengarkan orang lain lebih banyak daripada bicara tentang diri sendiri. Dan tentu saja saya amat tertarik dengan persentase membaca dan menulis itu.
“Sejak tahun 1971 sampai sekarang, Mama langganan Intisari. Banyak ilmu pengetahuan bisa didapat dari majalah itu,” katanya. 1971? Ah, itu tahun kelahiran saya. Dan dia sudah membaca majalah itu? “Sekarang mama juga langganan majalah lain, dan beli buku. Sekarang lagi baca buku ESQ,” katanya.
Tapi, rasanya dia melanggar persentase pola hidupnya tadi. “Mama membaca Quran sehari satu juz, katanya. Lalu dia menyebut beberapa surat kabar, majalah, dan beberapa judul buku. Jangan-jangan persentase membaca dia lebih dari 25 persen!
Saya suka tulisan tangannya, khas tulisan orang-orang yang berpendidikan di sekolah lama. Saya ingat begitulah tulisan Ayah saya. Tersambung rapi dari huruf ke huruf, dengan derajat kemiringan konsisten dan selalu terasa ditarik dengan kecepatan tetap. Hmm, pernah lihat tanda tangan Soekarno? Nah, kira-kira seperti itulah. Dia sekolah perawat dulu di RSU Ahmad Muhtar, Bukittinggi.
Hal lain yang sangat saya teladani dari dia adalah semangat belajarnya. Beberapa waktu lalu dia kursus Bahasa Jepang! Ya, Bahasa Jepang. Saya tanya alasannya. “Anak angkat Mama kan menikah dengan orang Jepang. Kalau bertemu dengan keluarga Jepang itu, Mama bisa bicara dan belajar banyak, termasuk tentang ilmu pengobatannya,” katanya.
Dia mengagumi Hembing, si pakar pengobatan herbal itu. Dia menyebut sudah tamat belajar pada Profesor itu tentang berbagai khasiat obat dari berbagai tanaman. Di mana belajarnya? “Saya ikuti dari televisi,” katanya. Lihatlah, betapa dia tak memandang media belajar. Dia bisa belajar di televisi, dari siapa saja, dari buku, dari majalah.
Berapa saya membayar untuk konsultasi dan sekeping obat penambah tekanan darah? Gratis. Kami sepakat membarter jasa itu dengan sebuah handgrip – alat melatih otot tangan milik saya yang kebetulan saat itu saya kantongi.
“Tiap pagi Mama kesemutan, ini bagus buat mama, kamu beli saja lagi. Iklhas, Hasan?”
“Ikhlas,” kata saya.
Sepulang dari pertemuan dengannya, saya lalu terpapar pada sejumlah pertanyaan: seberapa merepotkan saya bagi orang lain? Seberapa tergantung saya pada orang lain? Apakah saya sudah menularkan semangat hidup pada orang lain, atau sebaliknya merepotkan dan membuat orang lain tidak bersemangat? Seberapa merepotkan saya bagi kantor tempat saya bekerja yang tiap bulan menggaji saya? Seberapa merepotkan saya bagi negara saya? Apakah saya terlalu menuntut? Seberapa manjakah saya?
Setiap pertanyaan itu akhirnya hanya memingatkan saya pada Mama: Dia yang tak mau menyusahkan orang lain, bahkan orang yang akan sangat ikhlas ketika harus ia repotkan. Saya ingin bertemu lagi dengan dia, dan seperti setiap kali saya bertemu dia, saya akan menyalaminya dan mencium tangannya.***
* Komentari tulisan ini di www.hasanaspahani.blogspot.com


