Belajar dari Ahmadinejad

June 17, 2009 · Filed Under politika · 2 Comments 

IRAN adalah negara dengan sejarah dan peradaban tua, kaya dengan minyak bumi yang membawa kemakmuran rakyatnya, saat ini tetap menjadi kawasan strategis secara global, baik dari segi ekonomi, politik serta pertahanan. Tidak heran, pemilu di negeri para mullah itu, menjadi sorotan dunia. Read more

Caleg oh Caleg

March 27, 2009 · Filed Under politika · 1 Comment 

Manusia memang kerap terpesona dengan kekuasaan, yang dilambangkan dengan dewa Janus. Dewa dalam mitologi Yunani kuno yang berwajah kembar dan menghadap ke kiri dan ke kanan. Kebutuhan manusia seperti digambarkan Maslow, yang tertinggi adalah kebutuhan eksistensi diri. Nah, dalam posisi seperti apa calon-calon legislatif kita yang hari-hari ini sibuk menjaring suara? Read more

Empat Caleg di Satu Komplek

October 15, 2008 · Filed Under politika · 4 Comments 

 

Inilah pekerjaan yang menantang dan menggairahkan: menjadi calon legislatif atau caleg. Namun, gejala pesimis bahkan apatis makin menguat pada masyarakat yang mempunyai hak pilih dan menentukan nasib para caleg itu. Buktinya, mereka yang tidak menggunakan hak pilih alias golput makin besar. Ketika daftar calon sementara diumumkan, publik terkesan biasa-biasa saja.

  Read more

Pejabat dan KPK-Mania

September 8, 2008 · Filed Under politika · 1 Comment 

Menonton pejabat kita berpidato di televisi, mestinya tidak ada masalah yang berarti. Mimik wajahnya berseri-seri. Senyuman menghiasi bibirnya. Ia bicara soal program pemerintah yang sudah dilaksanakan. Lengkap dengan gerakan tangan dan basah tubuh yang bersemangat. Tapi kenapa harga barang tak terkendali, sampah menumpuk di mana-mana dan jalanan penuh lubang yang menganga?

Read more

Jadi Caleg, Euy!

August 23, 2008 · Filed Under Uncategorized, politika · Comment 

Istilah caleg alias calon legislatif, merebak ke seantero negeri. Saat nama-nama caleg didaftarkan ke Komisi Pemilihan Umum, siapa yang perduli, seperti apa ya kira-kira gaya caleg kita nanti? Betapa enaknyajadi caleg menurut kacamata seorang lelaki Sunda yang sudah empat bulan di Batam. Jadi caleg, euy! Read more

Bendera Parpol

July 21, 2008 · Filed Under politika · Comment 

Pesan short massage service (SMS) soal bendera parpol itu saya kirim tanggal 28 Maret 2008 pukul 14.50 WIB. Jawaban wali kota singkat saja. Gagasan bagus, terima kasih. Kini sampai sembilan bulan ke depan, wajah kota akan bertabur bendera parpol.

Isi SMS itu begini: Yth Pak Walikota, saya usul Pemko menyediakan tempat pemasangan bendera partai, LSM dan OKP di tempat tertentu. Tiang dan lubangnya disediakan Pemko, termasuk membantu memasang dan membongkarnya. Waktu pemasangan dibatasi 3-5 hari dan parpol tinggal memberikan bendera. Selain kota lebih rapi, ini akan menjadi terobosan baru Anda, terima kasih.
Read more

Program Saya Jadi Wali Kota (2)

April 28, 2008 · Filed Under politika · Comment 

PERENCANAAN itu penting. Sebab, tanpa rencana, segala kegiatan yang dilakukan, tentu juga akan tanpa arah. Orang yang sudah punya rencananya, bisa saja dalam prakteknya tidak bagus. Apalagi kalau tidak punya rencana. Seumpama saya wali kota, jauh-jauh hari saya sudah menyusun rencana dan program kerja.

Program saya yang lain adalah menata kota. Batam yang sudah menjadi kota ruko, memang tidak artisitik dan terkesan kaku. Seluruh pemilik ruko atau penyewa, saya wajibkan mengecat ulang ruko. Sehingga tidak ada lagi kesan suram dan kusam.
Kalau perlu, saya bikin lomba. Ruko yang paling cantik dengan kombinasi warna paling menarik, dapat hadiah berupa uang pengganti seluruh biaya mengecat rukonya. Ruko tidak boleh dibiarkan terlantar pemiliknya sehingga merusak wajah kota.
Saya akan menindak warga yang melanggar Izin Mendirikan Bangunan. Juga akan mengecek, apakah ada tangga darurat, racun api dan hal-hal yang membahayakan jiwa warga saya terhadap bencana kebakaran.
Gorong-gorong dan drainase kota harus bersih sehingga saat hujan turun, air tidak meluber ke jalan. Parkir diatur dan tertib. Batam harus bebas sampah. Jalan memutar yang bikin macet ditutup agar pengemudi tidak belok sembarangan.
Meski sudah sulit mencari lahan kosong di tengah kota, saya akan bikin mini garden agar kota tidak terasa kaku dan gersang. Bisa jadi hanya berupa penataan beberapa tanaman di beberapa sudut strategis, dilengkapi bangku dan meja serta lampu hias untuk orang rehat sejenak dari rutinitas.
Pedagang kaki lima, yang selama ini dinilai membuat pemerintah sakit kepala, ditata sungguh-sungguh. Artinya, hukum akan ditegakkan tanpa pandang bulu. Pasar disediakan buat mereka dan tidak boleh berjualan di pinggir jalan. Buktinya, pasar pagi yang dinilai ilegal, saban pagi tetap ramai.
Para pedagang kecil itu, akan disediakan gerobak dengan desain khusus yang menimbulkan daya tarik tersendiri.Mereka boleh membayar dengan cara mencicil dan setelah itu, bisa menjadi milik mereka sendiri. Jadi, tidak ada lagi tempat berdagang yang dibuat sembarangan.
Para pedagang kaki lima ini, dibina dan dipantau setiap hari. Termasuk diberikan bimbingan untuk memperbesar skala usahanya. Termasuk mengenalkan mereka kepada perbankan untuk mendapatkan pinjaman modal usaha.
Meski akan berhadapan dengan berbagai pihak yang tidak suka dengan kebijakan saya, law enforcement akan saya tegakkan, sesuai ketentuan yang berlaku. Warga kota Batam harus disiplin. Sebab, dengan disiplin akan membuat warga menghargai waktu, menaati peraturan, tahu dan taat hukum serta menghormati hak orang lain.
Warga Batam haus hiburan, terutama untuk keluarga. Saya akan mendukung pengusaha swasta yang perduli dengan bisnis yang menyentuh segmen keluarga. Bisa taman safari, wisata alam dan pantai, water boom dan lain sebagainya. Meski investasinya besar, bisa berkembang untuk jangka panjang karena struktur penduduk Batam berusia produktif dan punya satu atau dua anak.
Saya juga akan membentuk tim dari beberapa karyawan kreatif yang merancang berbagai even baik domestik,regional maupun internasional. Sebab, dengan even akan menarik minat orang berkunjung ke Batam. Toh, selama ini Batam sudah punya nama dan menempati urutan ketiga nasional kedatangan wisatawan di republik ini.
Agar berbagai kegiatan tersebut waktunya tidak berbenturan, saya akan mengumpulkan semua pihak termasuk sponsor, agar memberikan jadwal kegiatannya, selama setahun ke depan. Kegiatan tersebut, akan dipajang di billboard utama kota agar bisa diketahui publik.
Semua partai politik, LSM, organisasi kemasyarakatan, akan saya kumpulkan dan membuat kesepakatan bersama, saat memasang atribut partai, spanduk, umbul-umbul tidak boleh merusak keindahan kota. Mereka tinggal menyerahkan atribut dan bendera ke Pemko yang akan membantu memasang dan membuka kembali secara teratur dan rapi.
Program lain yang akan menjadi perhatian saya tentu saja pendidikan. Sebab, Batam tidak mampu menampung ledakan murid setiap tahun. Bisa saja, ruko-ruko kosong, dimanfaatkan sementara untuk ruang kelas, agar tidak ada yang tidak bisa sekolah. Daripada kosong dan akhirnya rusak?
Saya tidak akan menjanjikan pendidikan dan kesehatan gratis. Lebih baik saya meningkatkan kesejahteraan guru dan paramedis dulu dan meminta mereka meningkatkan kualitas pelayanannya. Namun, pemberian beasiswa akan saya tingkatkan tiga kali lipat untuk mendorong siswa berprestasi. Saya tidak mau terjebak dengan janji-janji muluk, teryata hanya pepesan kosong belaka. Toh, belum tentu juga saya jadi wali kota kan?
Bisa jadi, Anda mengejek dan mencemooh saya sebagai orang yang terlalu percaya diri dan narsis. Tapi, biar sajalah. Toh, Anda juga tidak menunjukkan tanda-tanda mau memimpin Batam sebagai wali kota. Atau, bisa jadi ada anggapan ini hanya khayalan belaka. Soalnya, jangankan jadi wali kota, Anda kan belum pernah menjadi Ketua RT sekalipun.
Saya mengutip enam sikap orang yang paliung tidak efektif dari milis di internet. Yakni, kehilangan sikap. Orang-orang biasanya mendapatkan apa yang mereka harapkan dari hidup mereka. Harapkan yang terburuk, dan itulah yang akan Anda peroleh. Kedua, berhenti berkembang. Orang-orang adalah apa mereka adanya, dan ke mana mereka menuju disebabkan oleh apa yang ada di dalam pikiran mereka.
Ketiga, tidak memiliki rencana dalam hidup. Sebagaimana yang dikatakan oleh William Feather, penulis dari The Business of Life,”Ada dua jenis kegagalan: orang yang mempunyai rencana tanpa bertindak apa-apa, dan orang yang bertindak tanpa rencana apa-apa.”
Keempat, tidak bersedia berubah. Beberapa orang memilih lebih baik berpegangan pada
apa yang mereka benci daripada memeluk apa yang mungkin lebih baik karena mereka takut memperoleh sesuatu yang lebih buruk.
Ketiga, gagal dalam berhubungan dengan orang lain. Orang-orang yang tidak dapat bergaul dengan orang lain mungkin tidak akan pernah bergerak maju dalam hidupnya. Keempat, tidak mau membayar harga kesuksesan. Jalan menuju sukses selalu menanjak. Setiap orang yang ingin memperoleh harus mengorbankan banyak. Dan yang keenam, penghargaan yang tertinggi untuk pekerjaan Anda bukanlah apa yang Anda dapat karenanya, tapi siapakah Anda jadinya olehnya. ***

Program Wali Kota Masa Depan

April 24, 2008 · Filed Under politika · Comment 

Sebagai warga kota, saya memimpikan Batam menjadi kota yang hebat. Kota ini berpotensi jadi kota megapolitan dan dikenal secara global. Masyarakatnya dinamis. Kota ini diisi oleh orang-orang profesional, sejahtera dan modern. Inilah beberapa program saya, seandainya suatu saat saya menjadi wali kota Batam.

Sadar atau tidak, selama ini di Batam terjadi survival of fittes atau seleksi alam. Bagi yang kuat, bertahan dan berhasil meningkatkan taraf hidupnya. Sebaliknya, tak sedikit pula yang kalah, bangkrut dan akhirnya pergi meninggalkan Batam.
Biasanya, seorang calon wali kota wajib menyusun program yang akan dijualnya kepada pemilihnya. Programnya hebat-hebat. Ini untuk meyakinkan orang, agar memilih dia. Saya juga menyusun program, seandainya suatu saat saya terpilih sebagai wali kota.
Bedanya, program ini sederhana saja, tapi fokus. Kalaupun saya gagal jadi wali kota, calon-calon lain, atau wali kota terpilih, bisa mengadopsi program saya ini. Tidak apa-apa. Demi kebaikan kita bersama sebagai warga Batam. Jika calon lain itu jujur dan tidak plagiator, ia akan bicara dengan saya, bahwa ia menyadur gagasan saya. Jika tidak? Ya tidak apa-apa.
Apa saja program saya sebagai wali kota Batam? Pertama, membangun jalan raya. Sebab, jalan raya adalah urat nadi perekonomian. Jalan raya di Batam adalah wajah Indonesia yang menjadi etalase ke negara jiran. Bandingkanlah jalan di Singapura dan Malaysia dengan Batam. Sungguh kualitasnya beda jauh.
Lihatlah kualitas jalan protokol, dari bandara Hang Nadim sampai ke Nagoya. Penuh lubang, bekas tambalan dan bergelombang. Padahal, baru beberapa bulan diaspal ulang. Jalan yang tidak berkualitas, tidak hanya membuat ekonomi tersendat, juga menyebabkan banyak nyawa melayang.
Yang dituduh penyebab jalan rusak gara-gara hujan dan banjir menggenangi bahu jalan. Atau, alasan klasik minimnya anggaran. Sementara, banyak jalan dibangun tanpa gorong-gorong dan kendaraan berat bebas melenggang.
Jika saya jadi wali kota, saya akan bangun ulang jalan raya yang bersifat permanen dan memenuhi kebutuhan jangka panjang. Kendaraan dengan tonase yang melebihi daya dukung jalan, tidak boleh melintas sembarangan. Harus lewat jalur alternatif atau jalan tanah, agar tanah yang diangkut tidak berceceran di jalan.
Kedua, program lingkungan dan pengijauan total. Saya merindukan Batam yang nyaman, asri dan tertata. Banyak warga yang mengeluh, udara kota ini panas sekali dan membuat orang tidak betah berlama-lama di kota ini.
Selama ini, pemerintah–siapapun dia, baik Otorita maupun Pemko–tak perduli dan main babat saja. Tidak hanya menebangi pohon, hutan lindung dan bukit pun dibabat. Kalau saya jadi wali kota, stop semua tindakan yang tidak bersahabat dengan lingkungan.
Pernahkah Anda perhatikan tangan supir taksi. Banyak yang tangannya hitam sebelah. Kebiasaan para supir itu, menyetir sambil mengeluarkan tangan kanannya. Akibatnya, tangannya hitam dan belang diterjang terik matahari.
Saya akan keras dengan developer yang seenaknya menebang hutan dan mengambil tanah
perbukitan untuk timbunan. Yang melanggar, akan saya umumkan secara terbuka dan masuk daftar hitam pengusaha tak ramah lingkungan. Ini agar publik tahu dan tidak tertarik membeli rumahnya.
Janji-janji membuat fasilitas umum dan sosial, wajib dipatuhi. Drainase dan gorong-gorong, harus mereka bangun, agar kota ini tidak menjadi langganan banjir.Para pengembang, melalui REI harus menyisihkan sedikit keuntungan untuk program penataan kota.
Saya juga akan mengawasi pemotongan bukit dan penimbunan daerah rendah, lantaran kontur tanah di Batam yang berbukit-bukit. Termasuk reklamasi yang dilakukan pengembang. Sebab, reklamasi yang sembarangan malah mengakibatkan banjir lantaran buangan air ke laut makin jauh dan dataran rendah dan genangan air disulap jadi perumahan dan ruko.
Selain itu, setiap pasangan yang mau menikah, wajib menanam sepuluh pohon. Ini akan menjadi kado perkawinan mereka, melihat seberapa besar pohon itu tumbuh, sampai ke anak cucunya. Bisa dibayangkan, Batam menjadi hijau dan bersih. Kita tidak perlu khawatir global warning karena Batam sudah mengantisipasi sejak dini.
Saya akan menggandengn petani bunga, dan membiarkan mereka memanfaatkan row jalan dan buffer zone agar ditata sedemikian rupa sehingga Batam menjadi kota taman. Ini bukan karena saya sejak setahun lalu saya juga menjadi petani bunga di depan rumah saya. Setidaknya, saya membuka sedikit lapangan kerja, memperindah lingkungan dan warga pun senang.
Ketiga, program penataan pasar. Pasar induk, akan saya bongkar karena pedagang tidak memerlukan pasar seperti museum, cukup los-los untuk menggelar dagangan dan parkir yang cukup. Padahal, pasar yang dikelola swasta, cukup berhasil menarik pengunjung. Tentu ada yang salah dengan pasar-pasar yang sudah dibangun tapi gagal menjalankan fungsi tempat bertemunya pedagang dan pembeli. Nah, cukup tiga program dulu, setelah itu akan saya sampaikan kepada Anda program lainnya. ***

Wali Kota dan Rumus 5=2+2+1

April 23, 2008 · Filed Under politika · 1 Comment 

Tidak mudah jadi wali kota di era reformasi dan Pilkada langsung ini. Selain modal uang dan tampang, juga harus punya perahu partai politik. Saat seseorang maju jadi calon, ia sudah didekati dan mendekati berbagai elemen masyarakat. Sehingga, kini dikenal rumus: 5 = 2 + 2 + 1. Dan saya tidak mau jadi wali kota seperti pola itu.

Artinya, lima tahun berkuasa, dua tahun balas budi, dua tahun cari uang agar balik modal dan setahun siap-siap untuk maju lagi. Pertanyaannya, apakah sang wali kota masih memikirkan dan berbuat untuk rakyat yang memilihnya?

SAAT seseorang maju jadi calon wali kota, ada dua arus yang akan mengapungkannya, dan bisa jadi akan menenggelamkannya. Yang pertama, investor politik. Mulai dari partai politik, tim sukses, tim kampanye, sampai ke tokoh-tokoh masyarakat seperti RT dan RW yang akan menjadi mesin pendulang suara.
Kedua, investor ekonomi. Mulai dari pengusaha, simpatisan, broker dan calo politik, hingga keluarga yang punya dana. Nah, pada saat ia menjadi wali kota, kedua arus besar tadi akan menagih janji, meminta imbalan proyek, serta berbagai keuntungan finansial berlipat ganda.
Jadi, jangan heran. Ketika wali kota baru dilantik, antrian panjang kedua arus ini segera mendaftar. Alasan klasik, menghadap pak wali kota. Lihatlah daftar tamu di kantor wali kota. Wacana calon independen, setidaknya bisa meminimalisir keharusan berhadapan dengan kedua arus besar itu tadi.
Saat menjelang pemilihan wali kota tiba, kasak-kusuk tim sukses dan kelompok-kelompok kepentingan, segera meruap. Beberapa calon yang tadinya berminat maju ke bursa pemilihan, banyak yang kandas di tengah jalan dengan berbagai alasan. Yang paling sering menjadi sandungan adalah keterbatasan uang dan tidak punya perahu partai politik yang mengusungnya.
Saat-saat terakhir, calon potensial itu tadi harus menyingkir lantaran tak punya cukup uang menyetor untuk mengisi pundi-pundi pentolan partai. Atau karena tidak menemukan pasangan yang tepat karena kartu truf di tangan partai. Apalagi, energinya sudah terkuras menjelang babak penentuan siapa calon yang akan diusung.
Beberapa hari ini, saya berdiskusi dan berdebat dengan beberapa teman di Graha Pena, soal keinginan saya mencalonkan diri sebagai wali kota. Seperti Senin (21/4) sore, saya berdebat dengan Ngaliman, calon anggota KPUD Batam, Taman Tamba aktivis Angkatan Muda Partai Golkar, dan Jamil yang pernah menjadi rekdaktur opini dan menyusun buku soal pencalonan wali kota.
”Saya dukung Anda sekarang, tapi nanti belum tentu,” kata Tamba. Secara politis, ia ingin menegaskan, begitulah politik. Ia menyarankan agar saya mendekati partai tertentu. Itulah masalahnya. Saya tak pernah aktif di partai. Tamba termasuk yang sangat percaya kekuatan partai sebagai mesin politik.
Ngaliman lain lagi. Ia menganjurkan agar saya membangun akses yang luas dan nanti akan menjadi kendaraan saya mendulang dukungan. Ia menekankan, perlunya nilai jual seseorang agar dilirik partai. Sedangkan Jamin, lebih memposisikan diri sebagai penhamat dan melihat kemana arah pembicaraan mengalir.
Mungkin saya terlalu percaya diri. Belum apa-apa sudah mencalonkan diri. Tapi, itu lebih baik agar orang lain tahu, apa yang ada dalam pikiran saya. Jika orang lain memilih menahan diri agar tidak menjadi sasaran tembak, sebaliknya, penolakan terhadap keinginan saya menjadi wali kota, akan menjadi latihan jangka panjang. Sekecil apapun penolakan itu.
Yang meragukan kemampuan saya, sudah terbaca dari usulan agar saya cukup jadi wakil saja. Saya tidak mau. Saya mau jadi wali kota, satu periode saja. Waktu lima tahun cukuplah untuk berbuat sesuatu untuk masyarakat Batam. Hasan Aspahani membesarkan hati saya. ”Dulu, kita tahulah siapa orang-orang yang maju ke bursa pemilihan itu. Tapi, ternyata mereka bisa. Malah, George Bush punya blog sehingga orang bisa membaca pikiran dan gagasannya,” katanya.
Politik memang pas dilambangkan dengan Dewa Janus, dewa bermuka dua yang menghadap ke kiri dan ke kanan. Artinya, politik memang ibarat dua sisi mata uang dan sama dengan sifat manusia. Ada benci, ada cinta. Ada konflik, ada kerjasama. Ada rindu dan ada dendam.
Mereka yang benci politik, sering mengatakan bahwa politik itu kotor. Tapi, mereka yang lain mengatakan, dengan politik mengatur negara dan mencapai tujuan bersama. Politik memang paradoksal.
Partai bisa digunakan untuk mesin untuk mencari dan menjalankan kekuasaan, bisa pula dipakai untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Tidak heran, ada yang memilih berada di luar partai, ada pula yang masuk ke dalamnya. Jabatan wali kota adalah jabatan politis. Sehingga, untuk menggapainya, diperlukan langkah-langkah politik. Misalnya, mencari dukungan sebanyak mungkin, menggunakan kekuatan partai, membentuk tim sukses dan sebagainya.
Saya, sejauh ini tidak melakukan apa-apa. Keinginan menjadin wali kota, baru sebatas melontarkan gagasan kepada Anda di blog ini.
Secara akademis, saya paham politik. Sebab, saya memilih mendalami sosiologi politik. Secara teori dan analisis, saya menggunakan pendekatan para pakar dan kepekaan terhadap data dan fakta di lapangan. Sampai saat ini, saya belum tertarik masuk ke partai politik.
Artinya, keinginan saya menjadi wali kota, hanya keinginan berbuat sesuatu untuk kemajuan dan kemaslahatan masyarakat di Batam. Yang jelas, saya sudah menyatakan keinginan saya. Setuju atau tidak, mendukung atau tidak mendukung, bahkan abstain sekalipun, terserah Anda….***

Wali Kota Masa Depan

April 21, 2008 · Filed Under politika · 2 Comments 


Tulis Ringkasan Postingan Anda

Tulis Akhir Postingan Anda

Next Page »