<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; jurnalisme</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/category/jurnalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 16:47:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[Batam kota yang enak buat melanglang buana dan pergi ke mana-mana. Sebab, kota pulau ini memiliki penerbangan langsung ke kota lain. Sayang, meski bandara internasional, tak satu pun penerbangan internasional langsung dari Hang Nadim, kecuali penerbangan haji. Tapi, kita bisa menyeberang ke Singapura dan terbang kemana saja dari bandara Changi.
Berbeda dengan Padang atau Pekanbaru, misalnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13.2px;"><img class="alignleft size-full wp-image-338" title="blog ft" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/05/blog-ft.jpg" alt="blog ft" width="481" height="480" />Batam kota yang enak buat melanglang buana dan pergi ke mana-mana. Sebab, kota pulau ini memiliki penerbangan langsung ke kota lain. Sayang, meski bandara internasional, tak satu pun penerbangan internasional langsung dari Hang Nadim, kecuali penerbangan haji. Tapi, kita bisa menyeberang ke Singapura dan terbang kemana saja dari bandara Changi.<span id="more-337"></span></span></p>
<p>Berbeda dengan Padang atau Pekanbaru, misalnya. Dari Batam ada penerbangan langsung ke Surabaya, Pontianak dan Jambi. Maksudnya, di kota lain harus transit dulu di Jakarta. Perjalanan saya yang cukup berkesan adalah saat mengunjungi beberapa negara di Timur Tengah seperti Lebanon dan Yordania.  Saya menyusuri jalan berkelok-kelok hingga ke perbatasan Irak dan melihat Israel dari kejauhan.</p>
<p>Saat mendarat di Lebanon, yang membuat saya heran adalah bangunan yang  tampak seperti kubus dan berwarna kusam dan pucat. Konon, warna ini menyesuaikan dengan kondisi alam dan gurun di sana.  Ibukota Lebanon Beirut, memang indah dan terletak dibibir pantai Mediterania.  Di beberapa sudut kota, masih terlihat tembok yang bolong diterjang peluru, saat konflik internal di Lebanon.</p>
<p>Jalannya mulus. Semua mobil stirnya di kanan, sehingga saya yang tak terbiasa naik mobil begini, rasanya mau ditabrak saja. Satu hal yang membuat saya terkesan : perempuan Lebanon cantik-cantik. Sampai-sampai dubes Indonesia untuk Lebanon bilang, dari 10 wanita Lebanon, 15 yang cantik. Lho, kok bisa?. ‘’Karena bayangannya pun ikut cantik,’’ katanya, tertawa.</p>
<p>Di Beirut, saya bertemu Gusdur di kedutaan Indonesia. Ia tidak mengenakan peci, tampil dengan kemeja batik lengan pendek. Ini kali kedua saya bertemu dengan mantan presiden itu. Saat jadi presiden, saya mewawancarainya di istana negara. Saya senang ke kedutaan, karena bisa makan nasi. Selama di Lebanon, hanya dua kali dapat menu nasi. Itupun nasinya besar-besar, diberi kuah kari dan lalapan ala Timur Tengah plus buah zaitun.</p>
<p>Dari Lebanon, saya bersama rombongan sempat berkunjung ke Mount Nebo Siyagha, Memorial of Moses di perbatasan Yordania. Sejauh mata memandang, tampak pemandangan yang fantastis seperti Laut Mati (Dead Sea), Tepi Barat, Sungai Yordan, dan jika cuaca cerah, Betlehem dan Yerusalem tampak jelas.</p>
<p>Selain menyaksikan dari dekat salib Serpentine yang mengisahkan tongkat nabi musa yang berubah menjadi ular,  yang mengesankan adalah saat saya mencoba berenang di Laut Mati. Tubuh mengapung dengan sendirinya, lantaran berat jenis air laut tersebut lebih besar dari tubuh manusia.</p>
<p>Yang membuat saya heran, air yang sangat asin itu, membuat kulit terasa halus. Ternyata, lumpurnya diolah menjadi sabun. Saya menyesal membeli sabun itu hanya beberapa biji sebagai cendera mata. Pantas saja wanita di Lebanon dan Yordania cantik dan kulitnya mulus, pikir saya.</p>
<p>Selain ke kedutaan Indonesia di Beirut dan Amman, saya juga berkunjung ke Gua Kahfi atau Cave of the Seven Sleeper seperti yang dikisahkan dalam surah Al-Kahfi dalam Al-Qur’an. Perjalanan ke Timur Tengah sungguh mengesankan. Saya melihat kota-kota yang menjadi saksi sejarah dan peradaban umat manusia.</p>
<p>Meski dalam perjalanan ke Timur Tengah ada beberapa wartawan, antara lain dari Bisnis Indonesia, Republika dan Tempo, saya yang pertama menulis perjalanan ke sana di Posmetro Batam, yang nota bene koran lokal dan koran kriminal.</p>
<p>Perjalanan lainnya yang juga mengesankan adalah menjelajahi beberapa kota di China. Transit di Hongkong, lalu terbang ke Sanghai, dan menempuh jalan darat ke Suchow, Guangzhou dan Beijing. China Negara dengan penduduk terbanyak di dunia, mengejar ketinggalannya sejak masuk ke era pasar bebas. Jalan-jalan tol, kota baru yang terus dibangun tanpa meninggalkan kota lama, pusat peradaban dari Timur ini memang mencengangkan.</p>
<p>Saya bersama rombongan mengunjungi istana-istana kuno, tembok China yang terkenal itu, istana terlarang dan lapangan Tiananmen yang jadi saksi bisu tragedi berdarah di negeri tirai bambu itu.</p>
<p>Yang jadi masalah adalah soal bahasa. Meski hotel bintang lima, resepsionisnya tetap berbahasa Mandarin, sementara saya tidak mengerti sama sekali. Diajak bahasa Inggris, malah dia yang tidak paham. Kalau menelepon, jawabannya selalu : mihau, mihau. Saya balas dengan bahasa Minang, agar sama-sama tak mengerti, ha..ha..ha.</p>
<p>Di Beijing, kebetulan ada pertandingan final bulutangkis Piala Sudirman. Saya dengan beberapa teman, ikut menonton di stadion. Memang, kalau di luar negeri, baru terasa nasionalisme dan cinta Indonesia. Saat kami yang hanya puluhan orang berada di tengah ribuan orang China mengibarkan merah putih, tiba-tiba ada yang melempar kami dengan sebotol air mineral!</p>
<p>Pengalaman aneh lainnya, ketika saya berempat mencoba spa ala China. Kami buka baju dan tinggal celana dalam. Begitu masuk ke kolam air panas, alamak! Ternyata, semua kecuali kami berempat telanjang bulat. Rasanya aneh, melihat ‘senjata’ tak disunat dan berkulit putih di depan mata. Sejak itu, lama sekali saya mau mandi sauna dan masuk spa.</p>
<p>Satu hal yang membuat saya kapok, sejak pulang dari China, kolesterol saya naik dan sampai sekarang harus jaga makan. Pasalnya, setiap makan selalu khawatir ada babinya sehingga kami berebut makan telor dadar. Selain itu, makanan teman lain meja yang tersisa, kami sikat. Sampai saat ini, kalau mengecek kolesterol, saya sering ingat China dan tak ingin dating untuk kedua kalinya. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mesin Cetak Canggih, Koran Tak Kalah dengan Ipad</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/mesin-cetak-canggih-koran-tak-kalah-dengan-ipad/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/mesin-cetak-canggih-koran-tak-kalah-dengan-ipad/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Mar 2011 23:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=328</guid>
		<description><![CDATA[Mesin cetak ibarat jantung bisnis surat kabar. Kendati berbagai negara terus mempro-duksi mesin cetak koran, kualitas dan kemampuannya tidak sama. Webco New Zealand  merekondisi mesin cetak merek Dauphin Graphic Machinary (DGM) buatan Amerika Serikat dan memasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Inilah catatannya:
Perusahaan yang memproduksi mesin cetak koran DGM berbasis di Pennsylvania Amerika Serikat, yang kemudian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12.96px;"><img class="alignleft size-full wp-image-329" title="webco1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/03/webco1.jpg" alt="webco1" width="400" height="405" />Mesin cetak ibarat jantung bisnis surat kabar. Kendati berbagai negara terus mempro-duksi mesin cetak koran, kualitas dan kemampuannya tidak sama. Webco New Zealand  merekondisi mesin cetak merek Dauphin Graphic Machinary (DGM) buatan Amerika Serikat dan memasarkan ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Inilah catatannya:<span id="more-328"></span></span></p>
<p><span style="font-size: 12.96px;">Perusahaan yang memproduksi mesin cetak koran DGM berbasis di Pennsylvania Amerika Serikat, yang kemudian menjadi kekuatan global dalam industri surat kabar. Webco Ltd melayani industri surat kabar dalam bentuk penjualan <em>spare part</em>, rekondisi mesin agar menghasilkan kualitas cetak terbaik, hingga pelayanan purna jual selama dua puluh empat jam.</span></p>
<p>Webco Ltd New Zeland berlokasi di Birch Avenue, Tauranga sekitar 200 kilometer dari Auckland. Tauranga merupakan salah satu kota pelabuhan tersibuk di New Zealand.</p>
<p>‘’Jika mesin cetak koran rusak atau bermasalah, tidak mungkin koran berhenti terbit, sehingga kami melayani penerbit koran selama 24 jam, baik untuk <em>spare part</em> maupun servis mesin,’’ kata Managing Director Webco New Zealand, Brendon Whitley.</p>
<p>CEO Riau Pos Grup Makmur, Dirut Percetakan Graindo Pekanbaru Ngatenang, Dirut Webco Indonesia Kusnadi dan Direktur Hatin Wahyu Nugroho serta dua manajer percetakan dari Pekanbaru dan Palembang serta saya, menempuh perjalanan selama 10 jam penerbangan ke Tauranga, New Zealand.</p>
<p>Webco memilih hanya mereparasi dan merekondisi mesin cetak merek DGM. Sebab, bahan baku mesin percetakan merek ini, memiliki daya tahan dan kualitas tinggi. ‘’Mutu mesin DGM lebih baik dari mesin merek lain. Setelah direkondisi, mesin ini mampu mencetak koran lebih bagus dan memiliki daya tahan hingga 25 tahun,’’ papar Brendon Whitley.</p>
<p>Mesin cetak DGM awalnya lebih banyak digunakan di Amerika Serikat.  Mesin cetak yang pertama kali diproduksi dengan merek Goss tahun 1973 itu, makin diminati oleh negara-negara lain. Webco memiliki spesialisasi mesin DGM dalam merekayasa teknik dan meningkatkan kemampuannya, baik soal konfigurasi halaman, tingkat presisi hasil cetak, serta kemampuan cetak halaman berwarna.</p>
<p>Menurut Brendon Whitley,  selain melayani rekondisi dan perlengkapan mesin cetak DGM, tim Webco memiliki kemampuan yang handal menangani mesin cetak merek DGM. ‘’Ini pekerjaan yang kompleks dan memerlukan tingkat akurasi yang tinggi. Kami percaya, mesin cetak DGM tetap yang terbaik dalam industri surat kabar,’’ katanya seraya mencontohkan, rekondisi mesin merek lain hanya mampu bertahan 4 tahun, sementara DGM bisa beroperasi hingga 25 tahun.</p>
<p>Mesin-mesin DGM tersebut didatangkan dari Amerika Serikat atau Kanada, lalu dire-kondisi dan suku cadang yang tidak layak diganti dengan yang asli. Tauranga yang terletak di tepi pantai Laut pasifik, sehingga menjadi kawasan strategis untuk menerima dan mengirim mesin-mesin tersebut ke berbagai negara di Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Asia.</p>
<p>Mesin-mesin cetak koran yang pernah direkondisi melalui rekayasa teknik di Webco New Zealand antara lain, <em>Solomon Star, The Phnom Penh Pos, Le Gratuit, Fiji Times, Advertiser, Fiji Sun</em> dan <em>Padang Ekpres</em>, salah satu koran Riau Pos Grup. Dalam waktu dekat, akan segera menyusul <em>Riau Pos</em>, <em>Batam Pos</em>, <em>Rakyat Bengkulu</em> dan <em>Sumatera Ekspres. </em></p>
<p>Webco tidak hanya memasarkan mesin cetak merek DGM ke berbagai Negara Asia Pasifik, Kanada, Australia dan Amerika Serikat. Juga melayani pertanyaan operator mesin cetak melalui <em>chatting</em>, email dan telepon setiap saat. Perbedaan waktu Indonesia dan New Zealand enam jam, memungkinkan untuk itu, karena saat koran naik cetak, di New Zealand sudah pagi.</p>
<p>Selain itu, Webco mau melakukan transfer teknologi mesin cetak dengan memberikan pelatihan untuk operator mesin cetak DGM. Saat ini, dua menajer percetakan, Alek dari Riau Pos Pekanbaru dan Nanang dari Sumatera Ekspres Palembang, sedang belajar tentang seluk beluk mesin cetak tersebut.</p>
<p>Menurut Brendon Whitley, meski penetrasi internet semakin meluas, namun ia optimis surat kabar tidak akan tergantikan dan kalah dengan media online dan ipad. ‘’Perkembangan internet memang pesat, tapi tidak akan mematikan karena membaca di internet dan Ipad, merepotkan. Anda harus <em>scroll-scroll</em> terus untuk membaca,’’ ujar Brendon sambil memainkan ibu jarinya.</p>
<p>Jauh sebelum era internet mewabah seperti saat ini, kemunculan industri televisi tahun 1950-an, dinilai akan mengancam dominasi media cetak. Namun, sampai saat ini, koran masih terus bertahan. Sebab, koran memiliki karakter khusus yang membe-dakannya dengan televisi dan radio.</p>
<p>‘’Saat krisis melanda Amerika Serikat, memang berpengaruh pada sirkulasi dan oplah surat kabar. Namun, setelah krisis dan ekonomi mereka bangkit, bisnis surat kabar tumbuh lagi. Buktinya, pesanan mesin DGM dari kami makin meningkat,’’ kata Brendon, tersenyum.</p>
<p>Mesin yang sudah direkondisi dan suku cadangnya diganti, selain mampu mencetak lebih cepat dalam jumlah lebih banyak, juga menghasilkan kualitas cetak yang lebih baik. Selain itu, konfigurasi halaman dengan menambah empat tower, mampu menghasilkan halaman berwarna yang lebih banyak. ‘’Kita ingin memberikan pelayanan lebih baik lagi kepada pembaca dan pemasang iklan,’’ kata CEO Riau Pos Grup, Makmur, setelah menekan kesepakatan kerjasama dan kontrak dengan Brendon Whitley, bos Webco New Zealand.</p>
<p>Selain menyuguhkan berita-berita terbaru, surat kabar juga memberikan informasi produk, promosi dalam bentuk iklan. Dengan penyempurnaan dan mempercanggih mesin cetak, merupakan komitmen Riau Pos Grup yang menjadi bagian Jawa Pos Grup meningkatkan pelayanan dan kepuasan konsumen.</p>
<p>Jaringan surat kabar dan televisi lokal serta percetakan Jawa Pos National Network, kini merupakan jaringan media terbesar di Indonesia yang membentang dari Aceh hingga Papua. Riau Pos Grup sendiri, merupakan grup media terbesar di Sumatera di lima provinsi yang meliputi Nanggroe Aceh Darusalam, Sumut, Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau.</p>
<p>Divisi Regional Batam saja, kini terdapat delapan perusahaan seperti Harian Pagi Batam Pos, Posmetro Batam, Tanjungpinang Pos, Percetakan Bintana, Batam Televisi, Graha Pena, Media Link dan Batam Pos Entrepreneur School. Pencapaian selama ini, tidak lain tidak bukan karena kepercayaan masyarakat Kepulauan Riau, sehingga grup media ini, harus terus meningkatkan kemampuan dan profesionalismenya, termasuk kemampuan mesin cetak percetakan Bintana.</p>
<p>Saat reformasi, media cetak di Indonesia tumbuh luar biasa. Data Dewan Pers menyebutkan, tahun 1997 hanya ada 289 media cetak. Namun tahun 1999 tercatat sebanyak 1.687 media cetak. Sepuluh tahun kemudian, tahun 2009 hanya tinggal 951 media cetak. Dari jumlah sebanyak itu, hanya 30 persen yang sehat secara bisnis. Artinya, hampir separuh berhenti terbit.</p>
<p>Salah satu kendalanya, selain tidak diterima pasar, adalah ketiadaan mesin cetak. Inilah salah satu bukti bahwa percetakan merupakan jantungnya bisnis surat kabar. Ketika jantungnya tak berdegup lagi, bisa ditebak apa yang akan terjadi***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/mesin-cetak-canggih-koran-tak-kalah-dengan-ipad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percetakan Terbaik Riau Pos Grup (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/percetakan-terbaik-riau-pos-grup-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/percetakan-terbaik-riau-pos-grup-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 16:01:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=325</guid>
		<description><![CDATA[Dampak perkembangan teknologi mesin cetak, memang luar biasa. Majalah Life menganggap, mesin cetak adalah penemuan yang paling luar biasa dalam 1.000 tahun terakhir. Hampir sama dengan penemuan abjad dan perkembangan internet dewasa ini. Jika sebelumnya Percetakan Bintana berkonsentrasi pada cetak koran grup, kini mengembangkan bisnis cetak komersial.
Percetakan Bintana, sejak mulai beroperasi di Tanjungpinang, lalu pindah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 12.96px;"><img class="alignleft size-full wp-image-326" title="mesin-3" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/01/mesin-31.jpg" alt="mesin-3" width="300" height="225" />Dampak perkembangan teknologi mesin cetak, memang luar biasa. Majalah Life menganggap, mesin cetak adalah penemuan yang paling luar biasa dalam 1.000 tahun terakhir. Hampir sama dengan penemuan abjad dan perkembangan internet dewasa ini. Jika sebelumnya Percetakan Bintana berkonsentrasi pada cetak koran grup, kini mengembangkan bisnis cetak komersial.<span id="more-325"></span></span></p>
<p>Percetakan Bintana, sejak mulai beroperasi di Tanjungpinang, lalu pindah ke Sagulung dan kini di kompleks Graha Pena Batam Centre, menjadi saksi jatuh bangun dan maju mundurnya penerbitan koran di Kepulauan Riau.  Selain mencetak Batam Pos, Posmetro Batam, Tanjungpinang Pos, puluhan koran-koran mingguan dan tabloid juga pernah dicetak di Ripos Bintana Press. Malah, percetakan ini pernah mencetak koran terbitan Singapura.</p>
<p>Mesin yang digunakan mencetak koran, juga terus diperbaharui, baik kemampuan maupun teknologinya. Koran-koran yang diterbitkan Riau Pos Grup yang semula dicetak pada mesin merek Heidelbergh, Haris V dan terus diperbaharui dengan mesin SSC Goss Community, lalu ditambah satu tower (two hight) DGM dan kini menjadi dua tower (four hight) merek DGM.</p>
<p>Mesin-mesin cetak tersebut, dengan kreativitas dan rekayasa teknik para teknisi percetakan, bisa saja merupakan kawin silang mesin berbagai merek. Misalnya, mesin Gemini buatan India dikawinkan dengan Cromoman buatan Jerman. Hasilnya adalah mesin merek Giman. Mesin Gemini dikawinkan dengan Goss Universal buatan Perancis menjadi Ginem. Kini, beberapa percetakan juga menggunakan mesin cetak canggih seperti Cromoman, Unises dan Universal.</p>
<p>Kemampuan bongkar pasang mesin dan rekayasa teknik karyawan Bintana, seperti Saryadi, La Umpa, Jhoni Simanjuntak, Junaidi, Tobing, Eko Hadi, Slamet Riyadi, Saryaza dan Ahsani terlatih karena diikutsertakan pada pemasangan mesin-mesin grup percetakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Maka, ketika pergantian empat  tower 11 Januari lalu, karyawan Bintana bisa melakukannya hanya dalam waktu tiga hari.</p>
<p>Padahal, mesin-mesin tersebut beratnya 5 ton dan diturunkan dengan bantuan crane dan forklift, lalu dipasang dengan memperhatikan tingkat presisi yang tinggi. ‘’Ini menjadi rekor pemasangan mesin baru, biasanya butuh waktu seminggu,’’ kata Hendrik, teknisi dari Riau Pos Pekanbaru dan Kholik yang mengurus soal elektrik mesin tersebut.</p>
<p>Sejak setahun lalu, Percetakan Bintana mulai mengembangkan bisnis cetak komersial. Seluruh kebutuhan barang cetakan grup, seperti Batam Pos, Posmetro, Tanjungpinang Pos, Batam TV, mulai dari amplop, notes, kuitansi hingga berbagai kebutuhan event organizer seperti sablon kaos, spanduk, baliho dan barang cetakan lainnya. Souvenir untuk pelanggan seperti payung, jam dan kaos cantik kini juga diproduksi di Bintana.</p>
<p>Tidak hanya Batam Pos grup, beberapa perusahaan di Mukakuning, PT Sun Precision, PT Buana Jaya Technindo, PTM Great Dynamic Indonesia, PT Multi Transfer,  Angkatan Udara Tanjungpinang, Sekolah Dasar Kartini, Bea Cukai Batam, Easy Speak hingga Yayasan Al Fateh Batam, di antara yang menjadi costumer percetakan PT Ripos Bintana Press. Sebab, selain mesin cetak koran dan tabloid, Bintana juga memiliki mesin offset, digital printing  dan perangkat pendukung lainnya.***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/percetakan-terbaik-riau-pos-grup-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percetakan Bintana, Pencetak Sejarah Pers Kepri (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-pencetak-sejarah-pers-kepri-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-pencetak-sejarah-pers-kepri-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 15:59:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=321</guid>
		<description><![CDATA[Percetakan Ripos Bintana Press seperti menapak tilas sejarah pers di Kepulauan Riau. Perusahaan percetakan pertama di Kepri ini, menjadi yang pertama menerapkan sistim cetak jarak jauh (SCJJ) dan yang pertama pula menggunakan Computer to Plate dan memasuki era percetakan modern.  Bagaimana lika-liku perusahaan percetakan pertama di Kepulauan Riau ini?
Jauh sebelum era pers bebas di republik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: 13.2px;"><img class="alignleft size-full wp-image-323" title="mesin-4" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/01/mesin-4.jpg" alt="mesin-4" width="300" height="205" />Percetakan Ripos Bintana Press seperti menapak tilas sejarah pers di Kepulauan Riau. Perusahaan percetakan pertama di Kepri ini, menjadi yang pertama menerapkan sistim cetak jarak jauh (SCJJ) dan yang pertama pula menggunakan Computer to Plate dan memasuki era percetakan modern.  Bagaimana lika-liku perusahaan percetakan pertama di Kepulauan Riau ini?<span id="more-321"></span></span></p>
<p><span style="font-size: 12.96px;">Jauh sebelum era pers bebas di republik ini, Kepulauan Riau sudah tampil di panggung jurnalistik nasional.  Budaya dan sastra Melayu berkembang pesat yang ditandai dengan tradisi tulis menulis, penerbitan buku dan majalah.  Tahun 1857 Raja Ali Haji menulis buku Kitab Pengetahuan Bahasa.  Jurnal perjalanan Raja Ali Kelana ke Natuna ‘’Pohon Perhimpunan’’ yang terbit tahun 1889 menjadi awal sejarah jurnalistik di kawasan ini.   Majalah Al Imam yang terbit 1906 melaporkan tentang Pulau Tujuh dan beredar di seluruh semenanjung hingga ke Singapura. Majalah Peringatan terbit tahun 1939 dengan pemimpin redaksi Raja Haji Muhamad Yunus Ahmad di Penyengat. Juga kehadiran Rusdiyah Klab sebagai wadah para inteklektual dan budayawan bertukar  pikiran dan perpustakaan dengan koleksi ribuan buku dan karya tulis.</span></p>
<p>Kejayaan jurnalisme di bumi Melayu itu, didukung oleh dua percetakan tahun 1890 yakni Mathaatul Al Riauwiyah dan Mathbaatul Al Ahmadi yang dibangun di Pulau Penyengat.  Sejarah seperti berulang. Tahun 1994 merupakan tonggak sejarah dengan dimulainya sistem cetak jarak jauh (SCJJ) di Tanjungpinang yang dilakukan Ripos Bintana Press, perusahaan percetakan koran pertama di Kepulauan Riau.</p>
<p>Chairman Riau Pos Grup Rida K Liamsi, memimpikan Kepulauan Riau memiliki percetakan sendiri. Sebab, sebelumnya koran dikirim dari Pekanbaru dengan pesawat ke Batam dan Tanjungpinang,  baru beredar siang atau sore hari. Sistim Cetak Jarak Jauh (SCJJ)  adalah sebuah mimpi dan kenekatan Rida, putra Melayu yang berasal dari Dabosingkep ini. Ia dikenal bertangan dingin dan meruntuhkan mitos tak ada koran harian yang bisa hidup di Riau. Kini, ia dikenal sebagai raja media di Sumatera.</p>
<p>Ketika koran-koran lain mengklaim menerapkan SCJJ pertama di Indonesia di saat teknologi internet berkembang pesat,  percetakan Bintana sudah melakukannya sejak 17 tahun lalu.  Tiga unit mesin cetak merek Gross Community dipasang di Sungai Jang, Tanjungpinang.  Padahal, halaman demi halaman koran, dikerjakan dan dilay-out di Pekanbaru.  Bagaimana caranya?</p>
<p>Kondisi geografis, kendala alam,  teknologi komputer yang masih sederhana, sulitnya mengirim data via satelit , tingkat gradasi dan transmisi data antara lain merupakan tantangan yang tidak mudah ditaklukkan dalam menerapkan sistem cetak jarak jauh ini.  Namun, tekad untuk selalu menjadi pelopor,   kerja keras yang tak kenal lelah akhirnya menjadikan Riau Pos sebagai surat kabar pertama yang menerapkansistim cetak jarak jauh itu.</p>
<p>Mengirim mesin cetak ke Tanjungpinang juga bukan pekerjaan gampang. Saat itu, tidak ada fasilitas bongkar muat alat berat di pelabuhan. Padahal, mesin cetak itu beratnya antara 3-5 ton. Mesin-mesin itu lalu dibawa dengan truk, lalu naik kapal dan langsung menuju lokasi percetakan agar tak perlu dibongkar di pelabuhan.  Lalu, bagaimana caranya menurunkan dari truk mesin dengan berat belasan ton?  Karena tak ada forklif, mesin itu diturunkan dengan titian kayu yang landai, lalu ditarik satu demi satu! Mesin itu ditarik pakai mobil lain, atau diikatkan ke pohon dan truknya bergerak menjauh.  Pemasangan mesin juga tak kalah sulitnya. Tidak ada crane,  katrol pun jadi. Mesin cetak itu dipasang satu demi satu dengan cara diderek pelan-pelan. Akhirnya, dengan kerja keras tak kenal lelah, mesin cetak itu berhasil diset-up.</p>
<p>Sistim Cetak Jarak Jauh (SCJJ) itu menjadi sejarah.  Tidak hanya pembaca yang terheran-heran, kok ada koran yang terbit pagi di Tanjungpinang dan Batam.  Harmoko, Menteri Penerangan saat itu dan tokoh-tokoh pers nasional yang kebetulan ada di Batam saatitu, juga kaget.  Secara bisnis, dampaknya juga luar biasa. Tiras  dan iklannya meningkat berkali lipat. Namun,  Batam ternyata jauh lebih berkembang secara bisnis dibanding Tanjungpinang.</p>
<p>Setahun kemudian, tepatnya di penghujung 1997, mesin cetak tersebut dipindahkan ke Sagulung, Tanjunguncang, Batam. Beberapa karyawan percetakan, juga ikut hijrah mengikuti kepindahan mesin ke Batam.  Pemidahan mesin cetak tersebut, juga mencatat sejarah sebagai muatan pertama kapal roll-on, roll-off (roro) dari Bintan ke Batam.  Pemindahan mesin dari Tanjungpinang ke Batam juga bukan pekerjaan gampang.  Tapi begitulah. Semangat kerja yang menyala, bisa mengatasi berbagai kendala.</p>
<p>Namun, era SCJJ yang bersejarah itu pun berakhir dengan terbitnya Sijori Pos pada 10 Agustus 1998, bertepatan dengan peresmian jembatan Barelang yang merupakan jembatan cable stay pertama di Indonesia. Sijori Pos pantas menyebut dirinya sebagai koran nasional terbesar dari Batam. Tahun 2003 nama Sijori Pos ditinggalkan dan berubah nama menjadi Batam Pos sampai sekarang.</p>
<p>Percetakan di Sagulung, lagi-lagi pindah setelah Batam Pos grup terus tumbuh dan berkembang. Setelah pembangunan gedung Graha Pena rampung, mesin cetak di Sagulung juga dipindahkan ke gedung baru di Batam Centre pada tahun 2005.  Jika sebelumnya antara kantor redaksi dengan percetakan terpisah  karena jarak Sagulung-Jodoh sekitar 30 kilometer, akhirnya bersatu di Graha Pena. Begitu juga dengan Posmetro Batam dan Batam TV.</p>
<p>Tidak hanya soal mesin, teknik percetakan koran pun makin maju. Dulu, proses percetakan masih sederhana dan teknologi lama. Mulai dari setting halaman, monting, bikin film, dijadikan plat lalu dicetak.  Namun, berkat temuan dan kreasi Armawi KH salah satu perintis Riau Pos Grup dan rela meninggalkan statusnya sebagai PNS, dicoba teknik kalkir (tracing paper) sehingga bisa mempercepat proses pracetak hingga tiga hingga empat jam!</p>
<p>Bahan koran di komputer, diprint dengan kertas kalkir,  lalu ditembakkan ke plat tanpa melalui proses film seperti sebelumnya.  Sistem kalkir ini, mirip dengan proses sablon.  Hasil coba-coba itu, ternyata bisa mempercepat proses percetakan koran. Selain cepat dan murah, teknologi komputer dan printer, juga berkembang pesat.</p>
<p><span style="font-size: 12.96px;">Percetakan Bintana terus berbenah menuju percetakan modern dengan teknologi canggih.  Setelah SCJJ, Bintana menjadi percetakan pertama di Kepri yang menerapkan teknologi Computer to Plate (CTP). Sejak beberapa tahun lalu, percetakan Bintana mulai menerapkan sistem CTP sehingga proses film mulai ditinggalkan. Bahan koran yang sudah dilay-out, langsung diprint dalam bentuk plat dan bisa segera dicetak. Satu lagi proses lebih maju dengan tingkat presisi yang tinggi karena tidak lagi menggunakan film dan image setter. Setelah era SCJJ, cetak kalkir dan CTP dilalui, bukan tidak mungkin Percetakan Bintana akan menerapkan  sistem Computer to Machine. *** (bersambung)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-pencetak-sejarah-pers-kepri-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percetakan Bintana (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Oct 2010 14:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=315</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis percetakan adalah jantung bisnis surat kabar. Selama mengurus percetakan, saya belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana mesin cetak itu beroperasi, keterkaitan dengan pemasok kertas, tinta, plat dan bahan kimia, hingga distribusi kertas dari pabriknya. Yang paling utama adalah, bagaimana orang-orang di bisnis percetakan itu bekerja dan menjalankan tugasnya.
Dalam bisnis percetakan, biasanya yang lebih menonjol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-317" title="mesin 1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/10/mesin-11.jpg" alt="mesin 1" width="300" height="195" />Bisnis percetakan adalah jantung bisnis surat kabar. Selama mengurus percetakan, saya belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana mesin cetak itu beroperasi, keterkaitan dengan pemasok kertas, tinta, plat dan bahan kimia, hingga distribusi kertas dari pabriknya. Yang paling utama adalah, bagaimana orang-orang di bisnis percetakan itu bekerja dan menjalankan tugasnya.<span id="more-315"></span></p>
<p>Dalam bisnis percetakan, biasanya yang lebih menonjol adalah medianya. Sementara, mesin percetakan hanya sebagai sarana pendukung. Maka, tidak heran, orang-orang media seperti wartawan, iklan dan pemasaran jauh lehib menonjol dalam kehidupan sosial dimana koran itu berada. Sementara, orang percetakan umumnya berada di belakang layar.</p>
<p>Orang percetakan sering diindentikkan dengan pekerja malam, berlepotan oli dan tinta,  kerja shift , dan gedung percetakan kadang mirip gudang.  Barang-barang sisa seperti pembungkus kertas, plat bekas, ember tinta, koran retur, bertumpuk jadi satu.  Biasanya, gedung percetakan pun letaknya di belakang gedung koran yang megah dan mentereng.</p>
<p>Dengan kondisi seperti itu, jangan heran kalau orang-orang percetakan merasa minder dengan rekan kerjanya yang kerja sebagai wartawan. Sebab, wartawan dengan mudah masuk ke dalam pergaulan dengan para pejabat, pengusaha dan tokoh-tokoh masyarakat. Sedangan orang percetakan hanya berkomunikasi dengan karyawan bagian lay-out, pemasok bahan baku percetakan dan karyawan bagian distribusi, agen serta loper.</p>
<p>Di sisi lain, percetakan meski menjadi jantung penerbitan surat kabar, namanya hanya ditulis di boks redaksi di bagian akhir dan diembeli dengan tulisan: isi di luar tanggungjawab percetakan. Meski kantor percetakan Bintana hanya berjarak 50 meter saja dari gedung Graha Pena Batam yang sembilan lantai itu, sejak dibangun mereknya tidak ada. Saya memutuskan membuat merek perusahaan, dengan warna tulisan putih berlatar belakang biru cerah.</p>
<p>Karena tidak ada merek perusahaan, tidak jarang pegawai kantor pos atau jasa pengiriman, kesulitan mencari alamat kantor Bintana. Apalagi, di depan percetakan ada bangunan untuk genset yang cukup besar. ‘’Dulu, sebelum ada merek Bintana, yang dikira orang kantor Bintana ya gedung genset itu,’’ cerita seorang karyawan, sambil tersenyum masam.</p>
<p>Saya yakin, jika semangat , tim yang solid, komunikasi yang intens antar sesama karyawan, Bintana akan semakin hebat. Selain mesin web, peralatan canggih Computer to Plate (CtP), pasokan kertas secara kontiniu, kawan-kawan di Bintana juga mampu membuat alat pemutar kertas, alat sablon putar dan penomoran serta mengoperasikan mesin offset.</p>
<p>Ternyata, beberapa karyawan Bintana berlatar belakang teknik grafika, yang mempelajari manajemen dan seluk beluk bisnis percetakan. Sejak awal 2010, kami sudah memulai mengembangkan bisnis cetak komersial. Hasilnya cukup menggembirakan. Paling tidak, Bintana memasok semua kebutuhan barang cetakan di grup sendiri.</p>
<p>Mulai dari kebutuhan kertas buram yang ternyata selain lebih efisien, juga tidak membuat mata cepat lelah. Itu sebabnya, belakangan banyak novel dan buku dicetak dengan kertas buram. Lalu percetakan offset, buku tulis, rapor dan map mulai diproduksi.  Tidak hanya itu saja. Sablon kaos dan stiker, aneka gift seperti payung dan jam hingga mencetak koran sekolah dan majalah.  Bisnis cetak komersial pun dimulai.</p>
<p>Meski tidak terlalu gegap gempita, ternyata selama enam bulan Bintana mampu membukukan omset yang cukup besar. Hasilnya, pada evaluasi semester I di Jakarta, Bintana merupakan percetakan dengan pertumbuhan cetak komersial tertinggi se Jawa Pos Grup. Pada evaluasi triwulan tiga di Jambi bulan Oktober 2010, Bintana juga masuk sepuluh besar percetakan terbaik.</p>
<p>Yang paling penting, semangat kebersamaan, kepedulian dan kerjasama tim mulai bergerak. Rapat umum, rapat head departemen, dan berbagai upaya meraih kemajuan, kini menjadi keseharian di perusahaan. Mulai dari staf, hingga para manajer. Ruangan mesin mulai bersih dan rapi.</p>
<p>Seorang wartawan mengirim SMS seperti ini: Dulu saya berjanji tak akan masuk ke toilet Bintana yang kotor dan bau. Kini pernyataan itu saya cabut. Kini, toilet Bintana bersih dan harum, ada pula sabun pencuci tangan seperti di hotel. Saya hanya tersenyum, senang.</p>
<p>Orang tidaklagi hanya sekedar datang, cetak koran, lalu pulang. Di sela jam istirahat, ada yang menonton televisi satelit, membaca buku, menjelajah internet hingga sekedar nongkrong di depan taman kantor. Kini, Bintana sedang bersiap menambah tower mesin sehingga kemampuan cetak warna bertambah, menambah investasi digital printing dan siap melayani kebutuhan cetak grup maupun masyarakat umum.</p>
<p>Saat sarapan pagi di sebuah hotel di Jambi, seorang teman yang juga mengurusi percetakan, berdiskusi dengan saya. Ia mengeluhkan susahnya mengembangkan cetak komersil di daerahnya lantaran begitu banyak bisnis sejenis. Padahal, sepuluh bulan sebelumya, saya belajar banyak kepadanya soal percetakan.</p>
<p>Saya bangga, menyaksikan karyawan Bintana mulai bangga bekerja sebagai karyawan Bintana&#8230;****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Percetakan Bintana</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Aug 2010 16:50:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=311</guid>
		<description><![CDATA[
Tak terasa, sudah delapan bulan saya ditugaskan ke PT Ripos Bintana Press, sejak Januari 2010 perusahaan percetakan yang mencetak Harian Batam Pos, Posmetro Batam dan Tanjungpinang Pos serta belasan koran mingguan di Kepulauan Riau. Saya bangga ketika Bintana dalam evaluasi semester di Jakarta, menjadi percetakan dengan pertumbuhan tertinggi di Jawa Pos Grup.
Saat mendengar nama saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-312" title="foto bintana oke" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/08/foto-bintana-oke.jpg" alt="foto bintana oke" width="500" height="415" /></p>
<p>Tak terasa, sudah delapan bulan saya ditugaskan ke PT Ripos Bintana Press, sejak Januari 2010 perusahaan percetakan yang mencetak Harian Batam Pos, Posmetro Batam dan Tanjungpinang Pos serta belasan koran mingguan di Kepulauan Riau. Saya bangga ketika Bintana dalam evaluasi semester di Jakarta, menjadi percetakan dengan pertumbuhan tertinggi di Jawa Pos Grup.<span id="more-311"></span></p>
<p>Saat mendengar nama saya disebut sebagai pimpinan percetakan itu, saya pikir inilah saatnya saya belajar tentang mesin, dan seluk beluk percetakan. Jujur saja, ini sesuatu yang baru dan asing bagi saya. Memang, sesekali saya melihat bagaimana koran dicetak, dihitung dan didistribusikan ke pelanggan. Tapi harus tahu secara detil? Aha, inilah saatnya.</p>
<p>Sengaja saya datang sore hari saat karyawan percetakan belum masuk. Sebab, cetak pertama dimulai pukul 17.00 sore dan berlangsung sampai dinihari pukul 03.00 WIB. Saya berdiri di depan mesin cetak yang besar itu sendirian. ‘’Apa ini? Bagaimana cara kerjanya? Bagaimana caranya saya tahu benda-benda yang bergerak dan mencetak koran?,’’ batin saya. Jangankan mesin cetak, mesin motor dan mesin jahit saja saya tak tahu.</p>
<p>Saya coba cari di internet. Yang saya temukan hanya binsis percetakan dan offset. Mau bertanya pada karyawan, wah kelihatan sekali bodohnya saya, ha..ha..ha. Saya bertekad harus mempelajarinya. Ada dua teman orang yang berkomentar negatif saat tahu saya mengurus percetakan. Intinya, mereka menyesalkan mengapa saya di percetakan. Salah satunya berkata,’’ Ah, sayang ya, kok Anda di percetakan?,’’ katanya, mematahkan semangat.</p>
<p>Saya balik bertanya,’’ Memangnya kenapa?’’. ‘’Ya, kau kan wartawan, karir kau akan mati kalau di percetakan,’’ katanya, serius. Saya diam saja. Yang terpikir hanya ini. Bagaimana menjadikan perusahaan percetakan ini bersih, rapi, hasil cetaknya bagus dan yang paling penting, orang-orangnya para karyawan yang menjalankan dan merawat mesin percetakan ini.</p>
<p>Saya sempat gamang. Sebab, gedung percetakan kotor. Mesin belepotan dengan oli, lantai menghitam karena tinta, ruangan mesin panas dan pengap bercampur dengan tumpukan kertas, forklift dan cat kusam dan berdebu. Celakanya, hanya ada dua petugas cleaning service. Bagaimana mungkin membersihkan gedung sebesar ini berdua? Baru beberapa hari, saya melihat seorang lay-outer dengan santai merokok. Padahal, di sekelilingnya banyak bahan kimia. Saya membentaknya,’’ Sekali lagi kau merokok di ruangan ini, aku pecat kau!’’ gertak saya. Ia gemetar.</p>
<p>Yang lebih memprihatinkan, dalam rapat grup ada yang mengatakan bahwa gedung percetakan menyeramkan dan mirip kantor polisi. Mungkin pandangan seperti itu benar. Sebab, di depan gedung yang kumuh itu, dijaga seorang sambil merokok dan tatapan mata tak bersemangat. Saya putuskan, saya akan mulai mengepel, mengecat dinding dan membersihkan gedung Bintana.</p>
<p>Dengan mengepel, membersihkan taman dan mengecat bagi saya itu olahraga. Apalagi, dalam ruang percetakan yang panasnya minta ampun itu, gampang mandi keringat, seperti steam atau spa. Mulailah saya dibantu dua petugas kebersihan mengepel. Awalnya, mereka bilang tak bisa membersihkan lantai yang mengitam itu. Harus pakai cairan khusus atau minyak tanah. Begitu dipel, bekas tinta itu melekat lagi. Ternyata, setelah digosok, harus segera dilap agar bekas tinta tidak kering. Lama-lama, warna lantai yang hijau itu, mulai kelihatan.</p>
<p>Saya mulai mengecat. Ruangan kantor dulu, pelan-pelan yang lainnya, pikir saya. Hasilnya mulai kelihatan. Ternyata, lebih enak melihatnya. Seorang manajer berkata kepada saya,’’ Wah, aku malu. Masak bos mengepel dan mengecat?’’ katanya, menggaruk-garuk kepalanya. ‘’Oh, ternyata masih punya malu? Ayo kita bersihkan,’’ kata saya. Ia menceritakan bahwa Bintana pernah mendapat penghargaan sebagai percetakan terbersih se Jawa Pos.</p>
<p>Kerja bersih-bersih itu, mulai mendapat respon. Mesin yang sudah lama tidak dibersihkan, dicuci lagi. Tiap unit memerlukan waktu seminggu lebih. Secara bertahap, kualitas cetak mulai membaik. Bagian depan kantor, dicat ulang. Sebab, cat yang lama ternyata untuk interior. Pantas gampang lusuh dan kusam. Saya pasang merek perusahaan. ‘’Selama ini, banyak orang kesulitan mencari kantor Bintana. Mereka menduga, kantor kita bangunan ini,’’ kata seorang karyawan sambil menunjuk ruangan genset tepat di depan kantor percetakan Bintana.</p>
<p>Satu hal yang membuat saya risau, karyawan bekerja apa adanya. Komunikasi sering macet. Maklum, sebagian masuk siang, sebagian masuk sore sampai subuh. Ada yang suka berkeluh kesah, kerja monoton dan kurang gairah. Ada pula yang menceritakan masa lalu yang kurang indah. Sebagian besar diam saja, melihat dan menunggu kemana arus membawa. Mengapa mereka tidak bangga menjadi karyawan Bintana?</p>
<p>Saya harus mengajak mereka bicara. Saya bicara soal betapa pentingnya tim. Lalu soal rencana masa depan Bintana. Kami akan mengembangkan bisnis cetak komersial. Kalau selama ini Bintana hanya mencetak koran dan tabloid, Bintana akan menjajaki bisnis cetak offset, sablon, kantong kertas, buku dan barang cetakan lainnya. Toh, pasarnya sudah ada. Yakni tujuh perusahaan lain yang ada di kelompok Batam Pos Grup.</p>
<p>Masalahnya, yang ada hanya karyawan bagian operator dan maintenance. Saya butuh tenaga desain dan marketing. Saya baru tahu, ternyata sebagian karyawan latar belakangnya grafika. Malah, ada yang sebelumnya pernah kerja di percetakan offset dan sablon. Saya amati supir di Bintana. Badannya gempal, kulitnya bersih dan pakaiannya rapi. ‘’Kau terlalu ganteng jadi supir, pindah saja jadi marketing,’’ kata saya. Ia mau dan dalam tempo beberapa bulan, omset cetak komersial naik secara drastis.</p>
<p>Saya senang, para pimpinan dan manajer di Bintana mulai berbenah. Mereka rapat secara rutin setiap minggu, membahas masalah-masalah yang terjadi dan mencari solusinya. Saat motor utama mesin percetakan rusak, saya melihat kerjasama yang cepat dan kompak, bisa mengatasi masalah dengan tepat. Jadi, apa yang diraih Bintana pada rapat evaluasi di Mercure, Ancol Jakarta, bukan karena saya, tapi karena perubahan yang dilakukan seluruh karyawan di Bintana. <em>(bersambung)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/percetakan-bintana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Internet : Pisau Bermata Dua</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/internet-pisau-bermata-dua/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/internet-pisau-bermata-dua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Feb 2010 13:11:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[Interconnected Network (internet) adalah sebuah sistem komunikasi global yang meng-hubungkan komputer  dan jaringan jaringan komputer di seluruh dunia, yang berisi ber-bagai informasi, baik statis, dinamis dan interaktif.
Riset Militer
Kemunculan internet diawali riset  Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Ad-vanced Research Projects Agency(DARPA)  tahun 1962 bagaimana agar computer ter-hubung satu sama lain. Riset ini dikenal dengan nama Arpanet.  Delapan tahun kemu-dian, lebih 10 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Interconnected Network (internet) adalah sebuah sistem komunikasi global yang meng-hubungkan komputer  dan jaringan jaringan komputer di seluruh dunia, yang berisi ber-bagai informasi, baik statis, dinamis dan interaktif.<span id="more-298"></span><img class="alignnone size-full wp-image-299" title="Axel (10) dan Sonya (5) menjelajah dunia maya" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/02/Picture1.jpg" alt="Axel (10) dan Sonya (5) menjelajah dunia maya" width="502" height="377" /></p>
<p><strong>Riset Militer</strong></p>
<p>Kemunculan internet diawali riset  Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Ad-vanced Research Projects Agency(DARPA)  tahun 1962 bagaimana agar computer ter-hubung satu sama lain. Riset ini dikenal dengan nama Arpanet.  Delapan tahun kemu-dian, lebih 10 komputer terhubung dan berkomunikasi membentuk jaringan (network).  Tahun 1972 dikembangkan program e-mail dan icon @ dan setahun kemudian, Arpanet dikembangkan ke luar Amerika Serikat.</p>
<p><strong>Email Pertama</strong></p>
<p>Sejak itu, gagasan pengembangan internet terus bergulir.  Tahun 1976 Ratu Inggris berhasil mengirim email.  Lebih 100 komputer menjadi network dan diciptakan news-group pertama.  Jaringan computer makin banyak, muncul Internet Protocol tahun 1982 dan system alamat  computer dikenal dengan nama DNS atau domain name system.  Sejak itu, jaringan computer melonjak berpuluh kali lipat sejak adanya internet relay chat.</p>
<p><strong>Worl Wide Web</strong></p>
<p>Sejak 1990 ditemukan program editor dan browser yang bisa menjelajah antar com-puter yang disebut World Wide Web (www) dan istilah surfing antara jutaan computer.  Muncul situs internet, virtual shopping. Yahoo didirikan dan lahirlah netscape navigator. Dunia langsung berubah!</p>
<p><strong>Paguyuban Network</strong></p>
<p>Di Indonesia, jaringan internet diawali tahun 1990-an dengan komunikasi beberapa ahli IT dan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang dikenal dengan paguyuban network. Perkembangan internet dunia dibahas melalui mailing list. Lambat laun, komunitas internet terbentuk.</p>
<p><strong>Pesatnya Internet</strong></p>
<p>Layanan internet komersial dimulai pada tahun 1994 dengan beroperasinya IndoNet. Bisnis internet marak dengan kehadiran puluhan Internet Service Provider. Lalu, ber-kembang e-commerce dan warung internet atau yang kita kenal warnet. Kini, internet seperti mewabah ke seluruh dunia, termasuk Indonesia yang menempati rangking keli-ma di Asia. Pengguna internet di Indonesia terus meningkat  dengan pesat  dan men-capai 30 juta penguna. Pengguna internet di dunia tahun lalu mencapai 1,7 miliar lebih atau 25,6 persen dari total populasi penduduk dunia. Di Indonesia jumlah pengguna internet diperkirakan mencapai 30 juta orang, naik sebesar 1.150 persen dibandingkan tahun 2000.  Namun, penetrasi in-ternet di Indonesia hanya 12,5 persen.  Di Malaysia angka penetrasi 65,7 persen, Singapura 72,4 persen, dan Thailand r 24,4 persen</p>
<p><strong>Kecanduan Internet?</strong></p>
<p>Di China sekitar 10% dari remaja yang disurvei  kecanduan internet. Yang mengejut-kan, remaja yang kecanduan online ini 2,4 kali suka menyakiti diri sendiri, memiliki gejala psikiatrik dan depresi,  gugup dan hilang mood saat tidak online. (<em>Reuter, 2009</em>)</p>
<p><strong>Jejaring Sosial</strong></p>
<p>Hasil survey LP3ES dan SPS di 15 kota besar di Indonesia, termasuk Batam, situs in-ternet yang paling sering di akses adalah jejaring sosial. Apa saja jejaring sosial itu? Ternyata, warung internet adalah tempat paling banyak yang digunakan untuk meng-akses internet sebanyak 67,1 persen, dirumah 19,3 persen, di kantor 7,9 persen dan di kafe 1,6 persen.</p>
<p>Internet ibarat dua sisi mata uang dan pisau bermata dua. Internet banyak manfaatnya. Konvergensi teknologi informasi dan ko-munikasi ini menjadikan dunia semakin global. Pengem-bangan ilmu pengetahuan, bisnis online, kecepatan informasi,  mengakes data melalui mesin pencari (<em>search engine</em>) dsb</p>
<p>Makin murahnya tarif internet dari berbagai operator, Rp0,5 hingga Rp5 per kilobyte, kecanggihan teknologi sehingga pelajar SD, SMP dan SMU kini sudah biasa memakai handphone dan punya email dan account di situs jejaring sosial.</p>
<p><strong>Fenomena Facebook</strong></p>
<p>Di Indonesia, pengguna Facebook lebih dari 17 juta dan Twitter lebih 2,4 juta orang. Facebook diluncurkan 4 Februari 2004 oleh Mark Zucker-berg, mahasiswa Harvard merupakan situs jejaring pertemanan. Twitter adalah layanan micro blogging yang bisa mengirim pembaruan status dan tulisan diluncurkan Maret 2006. Myspace situs jejaring antar teman, profil pri-badi, blog, grup, foto, musik dan video. Linkedin jejaring sosial berorientasi bisnis..</p>
<p>Dalam tempo 6 tahun, pengguna Facebook menembus 400 juta. Di Indonesia sendiri, Facebooker tumbuh begitu cepat. Bahkan, hingga saat ini faceboker Indonesia me-nempati urutan pertumbuhan tercepat kedua di dunia Indonesia hanya kalah dari AS. Survei Inside Facebook yang dilakukan e-marketer, jumlah pengguna Facebook di Indonesia naik 1.431.160 juta pengguna dalam sebulan terakhir.</p>
<p>Blog kini 30 kali lebih banyak dari tiga tahun lalu. Setiap hari tercipta 70.000 blog baru di seluruh dunia.  Diperkirakan, kini alebih 100 juta blog di seluruh dunia.  Awalnya,  weblog atau blog lebih sebagai catatan harian elektronik. Namun, kini berkembang menjadi online berita, citizen journalist  yakni warga biasa yang menjadi wartawan. Koran elektronik Ohmy News di Korea Selatan dibaca 700.000 pengunjung setiap hari dan mengguncang negeri Gingseng itu.</p>
<p><strong>Kasus di Internet, Salah Siapa?</strong></p>
<p>Ketua Komnas Perlindungan Anak (PA) , Seto Mulyadi mengatakan pihaknya menerima setidak-tidaknya 100 laporan pengaduan tentang dampak dari penggunaan situs jejaring sosial, Facebook. Anak-anak terutama remaja,  selalu mencari tempat untuk memperoleh perhatian. Kalau dulu mereka memakai surat menyurat atau radio, saat ini ada media lain yang lebih canggih yaitu Facebook ataupun Twitter. Situs jejaring sosial ini dijadikan sebagai tempat curhat, karena merasa kurang diperhatikan di sekolah dan di rumah.</p>
<p>Inilah beberapa kasus yang sempat mencuat ke permukaan:</p>
<ol>
<li>Farah      (18) ABG kelahiran      Dumai, Riau divonis 2,5 bulan dengan masa perco-baan 5 bulan oleh Pengadilan Negeri Bogor  karena menghina orang lain melalui      Facebook. Terdakwa dijerat pasar 310 dan 331 KUHP      tentang perbuatan pence-maran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan.</li>
<li>Anthony Stancl      (18) menipu teman-temannya dengan mengaku sebagai seorang wanita dan      meminta mengirimkan foto telanjangnya. Remaja asal AS itu ditahan dan      membayar uang jaminan 25 ribu USD. Ia terlibat kasus pelecehan seksual dan      pornografi. Ia dikeluarkan dari sekolahnya.</li>
<li>Seorang pria      Inggris membunuh istrinya karena mengubah status di profilnya menjadi single.      Edward Richarson, akhirnya divonis penjara seumur hidup.</li>
<li>Kasus email      Prita Mulyasari yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit Omni Internasional,      bergulir ke pengadilan dan ia didenda Rp204 juta yang menimbul-kan simpati publik dengan cara mengumpulkan koin.      Kasus ini menjadi masalah nasional.</li>
<li>Febriari      Irianto (18) dituduh melarikan Marrieta Nova Triani (14) dan mencabuli      gadis di bawah umur. Ari terancam pidana bui 9 tahun. Mereka berdua mulai      ber-kenalan melalui situs jejaring sosial Facebook.      Bahkan, Ari dalam informasi profil Facebook menulis telah menikah dengan      Nova.</li>
<li>Gara-gara      Facebook,. Achmad Idris (16), siswa kelas 1 SMA di Gresik gant-ung diri di kandang kambing milik keluarganya.      Menurut polisi, korban diduga kecewa berat karena dibelikan telepon      genggam (HP) tidak sesuai dengan harapannya. Sebelum gantung diri, korban      minta dibelikan HP kepada ibunya.  Namun, HP merek Nokia seharga      Rp800 ribu itu ditolak karena tidak memiliki fitur jejaring sosial <em>facebook</em>.      Dia meminta HP itu dikembali-kan, namun ibunya menolak. Ia nekad bunuh      diri.</li>
<li>Virona Berta      (50), warga Bandar Lampung, melaporkan Muhammad Iqbal (27), warga Way      Halim Bandar Lampung ke polisi karena menulis kata-kata kasar pada      facebook. Pesan itu berisi kata-kata penghinaan sekaligus menyudutkan      dirinya. sebanyak tiga kali melalui Facebook.</li>
<li>Empat orang      siswa SMU Negeri 4 Tanjungpinang dikeluarkan dari sekolah ka-rena mengancam dan menghina gurunya di facebook.      Keempat siswa itu menulis: sebaiknya guru itu dibuang kelaut aja,      dimutilasi saja. Mereka juga menghina gurunya sebagai perawan tua.</li>
<li>Sylvia      Russiana, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang,      yang dikabarkan hilang dibawa kabur oleh kenalannya di facebook,      dikabarkan telah ditemukan di daerah Jambi, Jumat (12/2) 2010</li>
</ol>
<p>.</p>
<ol>
<li> Seorang siswi SMK di Jakarta Timur,      menghilang sejak Selasa 16 Februari 2010. Aecha Nazara (15), warga Jalan      Matraman Dalam, Jakarta Pusat, ini diduga menjadi korban temannya di      jejaring sosial Facebook. Menurut Bernadus, ayah korban, putrinya tersebut      beberapa hari belakangan aktif mengakses Facebook melalui handphone.  ABG ini akhirnya pulang ke rumah setelah      menghilang tiga hari.</li>
<li>Foto perselingkuhan Bupati Pekalongan      dan wakil bupatinya disebar secara sengaja di Facebook. Entah siapa yang      menyebar, foto tersebut cukup menarik perhatian pengguna Facebook. Akun yang menampilkan foto profil Bupati Pekalongan      Qomariyah dan Wakil Bupati Pekalongan Ponco Nugroho sedang berpelukan      dalam kondisi bertelanjang dada ini dilengkapi dengan tulisan      &#8220;Kemesraan modal awal membangun komitmen bersama untuk menjadi Bupati      dan Wakil&#8230; Berikut hobi menyalurkan birahi di hari Valentine&#8221;.</li>
</ol>
<p><strong>Lalu, Apa yang harus Dilakukan? </strong></p>
<p>Internet memang bagaikan dua sisi mata uang dan pisau bermata dua. Ada sisi positif dan negatif. Kasus-kasus yang terjadi seperti, penghinaan, perselingkuhan, pencemaran nama baik, penipuan, pelecehan seksual, pornografi hingga penculikan dan bunuh diri.</p>
<p>Kasus-kasus ini, membuka mata kita agar menimalisir dampak negatif internet terhadap kehidupan kita, terutama anak-anak dan remaja. Inilah beberapa saran :</p>
<ol>
<li>Harus disadari      bahwa internet memiliki dualisme, sisi baik dan buruk, negatif dan      positif.</li>
<li>Apa yang Anda      tulis di internet dan jejaring sosial, akan menjadi ‘’milik publik’’      karena terekspos ke ranah publik.</li>
</ol>
<ol>
<li>Waspadai      narsisisme, yakni kepribadian jatuh cinta       dengan dirinya. Gejala nar-sis, selalu berusaha menarik perhatian orang lain,      menganggap dirinya terbaik, serta selalu terobsesi dengan fantasi mengenai      kesuksesan dan ketenaran.</li>
<li>Jangan      salahkan teknologi yang terus berkembang, penyedia jasa internet dan      warnet. Kalau anak, remaja dan pelajar menyukai internet, sebagai orang      tua dan guru, kita tidak boleh gaptek dan memahami kemajuan teknologi agar      bisa memberikan pengarahan, mana yang baik dan mana yang buruk.</li>
<li> Menulis informasi data-data,      gambar-gambar pribadi secara berlebihan, akan      mengundang kejahatan. Misalnya, jika Anda tiap hari menulis status dengan      lugu dan polos, misalnya hari ini dimana dan kapan dan sedang ngapain,      Anda sebenarnya mengundang suatu kejahatan pada diri Anda sendiri.</li>
<li>Jika Anda      tidak gaptek, dampingi putra-putri Anda mengakses internet, baik di      ponsel, personal computer maupun di warnet. Anak Anda yang menghabiskan      waktu berlama-lama di warnet patut diwaspadai.</li>
<li>Kalau Anda sering login facebook dari      warnet maka jangan lupa logout facebook anda jika telah selesai. Ini juga      berlaku untuk login facebook dari komputer lainnya. Sebab, ini akan memudahkan orang lain yang      iseng masuk ke acoount dan menulis hal-hal negatif di wall facebook Anda.</li>
<li>Orangtua dan      guru perlu belajar tentang internet dan facebook. Artinya, ikut      berpartisipasi dalam kemajuan teknologi yang digandrungi anak dan remaja.      Tidak perlu malu belajar. Tidak juga harus menjadi ahli komputer.      Setidaknya, orang tua dan guru tahu hal-hal negatif, seperti memasang      foto orang lain pada statusnya, memalsukan data pribadi untuk memikat      pembaca, menjual produk      berbahaya, pornografi dan sebagainya.</li>
<li>Orang tua dan      perlu memberi perhatian dan membentengi anak dari dampak negatif internet.      Memberi pengarahan, pendidikan      dan berdialog dengan mereka saat mengakses      teknologi informasi .</li>
<li>Internet tidak      hanya berdampak negatif, tapi juga bermanfaat. Antara lain, ter-sedia      informasi untuk kehidupan pribadi :kesehatan, rekreasi, hobby,      pengem-bangan pribadi, rohani, sosial. Informasi untuk kehidupan      profesional/pekerja :sains, teknologi, perdagangan, saham, komoditas,      berita bisnis, asosiasi pro-fesi, asosiasi bisnis, berbagai forum      komunikasi. Selain informasinya cepat, internet tidak mengenal batas      negara, ras dan ideologi yang tidak terikat ruang dan waktu. Mengakses      internet harus bersiap menjadi anggota komunitas dunia.</li>
<li>Sebaiknya orangtua dan guru yang mengenalkan internet      pada anak, bukan orang lain.      Artinya, orangtua dan guru harus lebih dulu melek internet dan tidak      gaptek. Jika anak terlalu canggih, sementara orangtua dan guru tidak tahu      soal internet dan games, mereka akan memenuhi rasa ingin tahu dan akhirnya      terjebak pada informasi dan gambar yang menyesatkan.</li>
<li>Jika anak      sudah kecanduan internet, gunakan software yang dirancang      khusus untuk memproteksi.      Misalnya saja program nany chip atau parents lock yang dapat memproteksi      anak dengan mengunci segala akses yang berbau seks dan kekerasan .  ****</li>
</ol>
<p>Socrates: Deputy Chief Operating Officer Riau Pos Grup Divre Batam</p>
<p>Wakil Direktur Utama Batam Pos</p>
<p>(Disampaikan pada Diklat Informasi &amp; Teknologi Guru SMPN 28 Batam, 20 Februari 2010)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/internet-pisau-bermata-dua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Sahabat Pers</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/menjadi-sahabat-pers/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/menjadi-sahabat-pers/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 06:26:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana berhubungan dengan media? Apa yang harus dilakukan ketika Anda berseberangan dengan media? Bagaimana menembus media melalui siaran pers? Bagaimana caranya menggunakan hak jawab? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap menjadi pekerjaan rumah bagi perorangan, humas dan organisasi sosial. Inilah pointers yang disampaikan pada work shop Media Relation yang ditaja Batam Pos Entrepreneur School, 30 Januari 2010 di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-medium wp-image-296" title="kartun-1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/02/kartun-1-300x150.jpg" alt="kartun-1" width="300" height="150" />Bagaimana berhubungan dengan media? Apa yang harus dilakukan ketika Anda berseberangan dengan media? Bagaimana menembus media melalui siaran pers? Bagaimana caranya menggunakan hak jawab? Pertanyaan-pertanyaan ini kerap menjadi pekerjaan rumah bagi perorangan, humas dan organisasi sosial. Inilah pointers yang disampaikan pada work shop Media Relation yang ditaja Batam Pos Entrepreneur School, 30 Januari 2010 di Hotel Novotel Batam. <span id="more-295"></span></p>
<p>Landasan Penyelenggaraan Pers<br />
Kemerdekaan berpendapat, berekspresi, dan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia Persatuan Bangsa-Bangsa.<br />
Mewujudkan kemerdekaan pers, Wartawan Indonesia juga menyadari adanya kepentingan bangsa, tanggung jawab sosial, keberagaman masyarakat, dan norma-norma agama.</p>
<p>Hak  dan Kewajiban Pers<br />
1. Mentaati UU Pers No 40/1999<br />
Hak (pasal 4)<br />
a. Kemerdekaan pers adalah hak asasi warga negara.<br />
b. Terhadap pers tidak dikenakan penyensoran, pembreidelan dan pelarangan  penyiaran.<br />
c. Hak mencari, memperoleh, menyebarluaskan gagasan dan   informasi.<br />
d. Mempunyai hak tolak.<br />
Kewajiban (pasal 5)<br />
Menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan  masyarakat  serta asas praduga tak bersalah.<br />
b. Pers wajib melayani hak jawab<br />
c. Pers wajib melayani hak koreksi.<br />
Pers menghormati hak asasi setiap orang.<br />
Pers  harus profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.<br />
Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik.</p>
<p>Era Orde Baru<br />
Pemerintah mengontrol dan mengendalikan pers, Menerap-kan UU Pokok Pers No 11/1966 dan bisa men-cabut SIUPP dan Dewan Pers tidak inde-penden.</p>
<p>Era Reformasi<br />
Pers mengontrol peme-rintah dan pemerintah ti-dak berwenang mengin-tervensi pers. Penerbitan pers tidak memerlukan izin, dan Dewan Pers in-dependen. Kemerdekaan pers dikukuhkan dalam UU Pers No 40/1999.<br />
Peran Pers<br />
Melaksanakan kegiatan jurnalistik secara teratur. Mencari, mengolah, menyimpan dan menyampaikan informasi serta melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan saran.<br />
Hanya informasi yang mempunyai nilai bagi peri kehidupan manusia yang dicari, diperoleh, dimiliki, disimpan, diolah dan disampaikan secara etis, yang pantas, yang patut dan layak diberitakan<br />
Media massa mendorong well informed society<br />
Peran universal pers:<br />
watchdog yang memberi peringatan dini pada penyelenggara negara yang melanggar prinsip clean and good governance, Wadah dialog, pasar gagasan terbuka. Pilar keempat demokrasi yang menegakkan kedaulatan rakyat.</p>
<p>Wartawan Profesional<br />
1.Paham pekerjaan wartawan dan berita seperti straight news, investigative repor-ting, indept news, reportase, human interest news, artikel, foto berita, dan grafis yang bernilai berita.  Mengerti standar berita dan memenuhi syarat jurnalistik dan rumus 5 W + H.<br />
2.Tahu cara mengumpulkan data dan fakta, wawancara, reporta-se, riset dan inves-tigasi. Menjunjung tinggi fakta, membela kebenaran, melawan ketidakadilan, kepen-tingan umum tidak mencampuradukkan fakta dan opini<br />
3.Berita berdasarkan fakta publik, bukan fakta pribadi. Fakta publik men-cakup fakta empirik dan fakta psikologis seperti peristiwa dan kejadian nyata. Tahu kapan dan dimana mencari berita, siapa yang diwawancarai dan memverifikasi hasilnya.<br />
4.Paham syarat sebuah berita, yakni akurat, berimbang, tidak melanggar norma dan rasa kesusilaan masyarakat. Mewakili kepentingan publik.<br />
5.Paham UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik, sebagai rambu-rambu dan aturan yang ha-rus dipatuhinya ter-masuk penafsirannya. UU dan KEJ harus menjadi buku saku wartawan kemanapun dia pergi.<br />
6.Prinsip balancing dan cover both side dipegang teguh. Tahu hukum dan pencema-ran nama baik, peng-hinaan persidangan, hak-hak parlementer dan ketentraman publik.<br />
7.Tiga syarat berita: akurasi, akurasi, akurasi. Check and recheck, mengedit ulang apakah sudah memenuhi standar jurnalistik. Kesalahan penulisan adalah kemalasan dan kecerobohan dan bisa mencelakakan narasumber, orang lain dan wartawan itu sendiri.<br />
8.Mencintai profesi, idealisme tinggi dan solidaritas terhadap profesi. Ia tidak silau oleh godaan uang dan menjadi alat kekuasaan. Prinsip menghalal-kan segala cara tak ada dalam kamus reportasenya.<br />
9.Dihargai karena karya jurnalistiknya, bukan karena jabatannya. Bukan pula karena pintar melobi, dekat dengan pejabat dan pintar cari muka. Ia menyadari benar sebagai seorang intelektual dengan standar moral yang tinggi.<br />
10.Menyajikan berita kaya informasi, datanya lengkap, kaya analisis, mampu memberi motivasi dan inspirasi bahkan empati pembacanya. Kewajiban paling dasar: meng-gali dan memverifikasi fakta dari lapangan</p>
<p>PERKEMBANGAN PERS NASIONAL</p>
<p>TAHUN 					   MEDIA CETAK<br />
1997 		     			     	  289<br />
1999 					   	 1.687<br />
2006                  				 829<br />
2008		      			     	         816</p>
<p>(surat kabar harian, tabloid, mingguan, majalah, buletin).<br />
Hanya 30 % SEHAT!</p>
<p>TAHUN               			RADIO          		 TELEVISI<br />
1997 					  741			             6<br />
1999 	             			  1.111			    11<br />
2005 	           			  2.000                  	     65</p>
<p>PERKEMBANGAN ORGANISASI WARTAWAN<br />
Sebelum reformasi hanya ada wadah tunggal organisasi wartawan yakni PWI<br />
Pada tahun 2004 muncul 50 organisasi wartawan<br />
Pada tahun 2006, tinggal 27 organisasi wartawan.<br />
Hasil verifikasi Dewan Pers 14 Maret 2006 ternyata hanya tiga organisasi wartawan yang memenuhi standar, yakni PWI (14.000 anggota) AJI (500 anggota) dan IJTI (600 anggota).</p>
<p>MEDIA LOKAL<br />
Era koran lokal di Kepri terbit Sijori Pos 10 Agustus 1998. Setelah itu terbit Batam Pos, Lantang, Sijori Mandiri, Posmetro Batam, Batam News, Tribun Batam dan Media Kepri. Belasan koran mingguan dan majalah juga terbit di Batam, Tanjungpinang dan Natuna.</p>
<p>FAKTA PERS LOKAL<br />
Masuk kelompok usaha penerbitan (JP, RPG, KKG dsb)<br />
Tantangan cukup berat seperti,  tiras atau oplahnya kecil, lambat beradaptasi dengan tren pasar, bingung membidik segmen pasar, SDM dan teknologi lemah<br />
Iklan sangat tergantung dari belanja pemerintah daerah. Baik iklan ucapan selamat maupun advertorial dari dinas dan instansi pemerintah.<br />
Kebanyakan sulit menggarap iklan kolom dan dis-play dari dunia usaha lokal. Akibatnya, lebih banyak pers lokal yang mati dan ber-henti terbit daripada yang bertahan hidup.</p>
<p>PERAN PERS<br />
Kalau saya harus memutuskan, apakah kita harus memiliki pemerintah tanpa surat kabar, atau memiliki surat kabar tanpa pemerintah, saya tidak ragu akan memilih yang kedua (Thomas Jefferson)<br />
Pemerintah dibentuk sebagai produk demokrasi untuk mensejah-terakan rakyat, yang dapat saja menyalahgu-nakan kekuasaannya dan karena itu harus dikontrol produk demokrasi lain, yakni parlemen. Namun, keduanya bisa saja tidak harmonis dan dapat merugikan rakyat, karena itu keduanya harus dikontrol oleh alat demokrasi lain yang bernama: Pers.  (Walter Lipman)<br />
Pers mendorong pemerintah menjalankan kekuasaannya dengan benar, menjadi partner pemerintah daerah, memberdayakan masyarakat, membuka wawasan berpikir publik dan menghargai prestasi pemerintah dan masyarakat.<br />
Pers juga secara kritis mengkritik kinerja pemerintah yang buruk dan masyarakat yang melanggar hukum. Pers menjalankan fungsi informasi, pendidikan, kontrol sosial, hiburan dan sebagai lembaga ekonomi.</p>
<p>KODE ETIK JURNALISTIK<br />
1.  Independen, akurat, berimbang, tidak beritikad buruk.<br />
2.  Menempuh cara-cara yang profesional<br />
3.  Menguji informasi, berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini  yang menghakimi, asas praduga tak bersalah.<br />
4. Tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis dan cabul.<br />
5.  Tidak menyiarkan indentitas korban kejahatan susila dan tidak  menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.<br />
6.  Tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.<br />
7.  Memiliki hak tolak<br />
8.  Tidak menyiarkan berita prasangka atau diskriminasi.<br />
9.   Menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan umum.<br />
10. Segera mencabut, meralat dan memperbaiki berita yang keliru dan  tidak akurat disertai permohonan maaf.<br />
11. Melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional</p>
<p>KOMPETENSI WARTAWAN PROFESIONAL<br />
1.  Melakukan kegiatan jurnalistik secara teratur.<br />
2.  Kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan mengolah dan menyampaikan informasi.<br />
3. Sumber berita yang kredibel, berita cover both side.<br />
4. Menguji dan memverifikasi informasi, cek dan ricek.<br />
5. Imparsial dan independen.<br />
6. Untuk kepentingan umum<br />
7. Wartawannya digaji tidak di bawah UMR.</p>
<p>KONTROL TERHADAP PERS<br />
Pers nasional wajib memberitakan perisitiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta asas praduga tak bersalah.<br />
Pers wajib melayani hak jawab<br />
(Pasal 5 UU Pers ayat 1 &amp; 2)<br />
Perusahaan pers yang melanggar pasal 5 serta pasal 13 dipidana dengan denda paling banyak Rp 500 juta.</p>
<p>KONTROL INTERNAL<br />
Hati nurani wartawan<br />
Redaktur, Korlip dst<br />
Ombudsman</p>
<p>EKSTERNAL<br />
Masyarakat<br />
Media Watch<br />
Organisasi Pers<br />
Dewan Pers<br />
Jalur Hukum</p>
<p>Ketika Berseberangan dengan Media<br />
Saat narasumber atau pembaca tidak puas terhadap media, sering disebabkan oleh tiga hal:<br />
1. Akurasi (kesesuaian judul, isi berita, waktu, data pendukung dan faktualitas berita).<br />
2. Netralitas (sumber berita seimbang atau tidak seimbang).<br />
3.  Validitas (sumber berita jelas atau tidak jelas atau anonim dan kompetensi).</p>
<p>Apa yang Harus Dilakukan?<br />
1. Gunakan Hak Jawab Anda<br />
Pers profesional antara lain adalah pers yang yang secara jujur melayani hak jawab serta melakukan hak koreksi pembacanya dan mengakui kesalahan serta meminta maaf secara ksatria.<br />
Hak Jawab adalah hak seseorang, sekelompok orang, organisasi atau badan hukum untuk me-nanggapi dan menyanggah pemberitaan atau karya jurnalistik yang melanggar Kode Etik Jur-nalistik, terutama kekeliruan dan ketidakakurat-an fakta, yang merugikan nama baiknya kepada pers yang memublikasikan.<br />
Hak Jawab berasaskan keadilan, kepentingan umum, proporsionalitas, dan profesionalitas. Pers wajib melayani setiap Hak Jawab.<br />
2. Hak Koreksi<br />
Adalah hak setiap orang untuk mengoreksi atau membetulkan kekeliruan informasi yang diberita-kan oleh pers, baik tentang dirinya maupun ten-tang orang lain.<br />
3. Kewajiban Koreksi<br />
Adalah keharusan melakukan koreksi atau ralat terhadap suatu informasi, data, fakta, opini, atau gambar yang tidak benar yang telah diberitakan oleh pers yang bersangkutan.</p>
<p>OMBUDSMAN<br />
Pers sebagai wacana publik sehingga lenbaga ombudsman diperlukan agar pers tidak menjadi tirani dengan sikap arogansi. Ombudsman diharapkan menjembatani ketidakpuasan masyarakat, baik pembaca maupun narasumber sehingga kesalahan-kesalahan pers bisa diperbaiki. Namun, tidak semua media memiliki lembaga ombudsman.</p>
<p>Tugas Ombudsman<br />
Tugas ombudsmen adalah sebagai jembatan antara media dengan masyarakat agar setiap keluhan masyarakat tidak berakhir dengan gugatan di pengadilan, serta sebagai ’’jaksa internal’’ ke redaksi agar bekerja sesuai Undang-Undang Pers Nomor 40/1999 serta Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI).</p>
<p>FUNGSI DEWAN PERS<br />
Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain<br />
Melakukan pengkajian untuk pengemba-ngan kehidupan pers<br />
Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik;<br />
Memberikan pertimbangan dan mengupa-yakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers<br />
Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah<br />
Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturan-peraturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan.<br />
Mendata perusahaan pers<br />
Bersahabat dengan Pers<br />
Kebebasan pers ’beribu’ demokrasi  ‘berbapak’ kebebasan berekspresi, mengeluarkan pendapat lisan maupun tulisan. Untuk memenuhi hak masyarakat mendapatkan informasi yang benar.<br />
Ketika pers menjadi industri, profesionalisme wartawan adalah harga mati.  Pers harus memiliki SDM yang berkualitas dan menjunjung etika<br />
Komunitas pers harus bersedia melakukan otokritik, karena wartawan juga manusia<br />
Wartawan harus terus-menerus berburu kebe-naran tanpa kenal lelah.<br />
Wartawan menunjukkan bahwa kesetiaannya pertama-tama adalah kepada publik<br />
Menjaga independensinya dari subyek yang te-ngah mereka liput<br />
Wartawan harus mengawasi jalannya kekuasa-an, dan memberikan suara kepada mereka yang tak mampu bersuara lantang<br />
Wartawan harus menyediakan forum bagi munculnya kritik dari publik dan forum bagi penyelesaian masalah.<br />
Wartawan harus membuat berita yang proporsional dan relevan</p>
<p>INTERAKSI DAN SINERGI DENGAN PERS<br />
Pejabat publik diharapkan agar sesering mungkin berbicara kepada publik melalui media dan mengadakan temu pers secara berkala.<br />
Humas harus meningkatkan profesionalis-menya dalam menjalin hubungan dengan pers.<br />
Jangan alergi terhadap pers.<br />
Jangan memberi amplop kepada warta-wan, karena yang memberi dan menerima sama-sama salah dan meracuni idealisme pers.<br />
Bangun dialog dua arah dengan pers melalui organisasi wartawan, yakni hubungan sehat, terhormat dan bermartabat.<br />
Ketahui seluk-beluk dunia wartawan, irama kerja, nilai berita, deadline, peta media massa, Kode Etik Jurnalistik, Kode Etik (Pedoman Perilaku) Penyiaran, Undang-undang No. 40/1999 tentang Pers, Undang-undang No. 32/2002 tentang penyiaran, kekuatan media massa, visi dan misi dan sebagainya.<br />
Kenali dunia pers dengan belajar membuat press release, magang di media massa atau mengikuti program redaktur tamu.<br />
Jangan berlaku diskriminatif terhadap wartawan. Layani wartawan ’’asli’’ dengan memberikan fakta-fakta dan informasi.</p>
<p>CARA MEMBUAT SIARAN PERS<br />
Ada Tulisan : SIARAN PERS atau PRESS RELEASE<br />
CONTACT PERSON di bagian akhir<br />
HEADLINE (Judul) sangat menentukan<br />
TANGGAL harus jelas<br />
PARAGRAF UTAMA penting dan relevan<br />
TEKS atau ISI berupa informasi tambahan<br />
Pastikan informasinya bernilai<br />
Pastikan datanya lengkap<br />
Deskripsikan secara ringkas<br />
Siaran Pers = Informasi awal, jika menarik akan dihubungi media<br />
Cantumkan kemana media mencari informasi lanjutan <!--more--></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/menjadi-sahabat-pers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Prilaku Konsumen Media</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/prilaku-konsumen-media/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/prilaku-konsumen-media/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 06:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[
Krisis ekonomi global tidak hanya melanda sektor keuangan dan properti. Tapi juga menerpa industri media massa. Buktinya, beberapa surat kabar di Amerika Serikat, tutup. Atau beralih ke koran digital. Akibatnya, industri media massa di Indonesia, juga ketar-ketir. Indikatornya adalah, makin menurunnya pembaca dan pemasang iklan yang selama ini menjadi nyawa surat kabar. Bagaimana di Batam?
Survei [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Krisis ekonomi global tidak hanya melanda sektor keuangan dan properti. Tapi juga menerpa industri media massa. Buktinya, beberapa surat kabar di Amerika Serikat, tutup. Atau beralih ke koran digital. Akibatnya, industri media massa di Indonesia, juga ketar-ketir. Indikatornya adalah, makin menurunnya pembaca dan pemasang iklan yang selama ini menjadi nyawa surat kabar. Bagaimana di Batam?<span id="more-275"></span></p>
<p class="MsoNormal">Survei tentang prilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media massa yang dilakukan LP3ES bekerja sama dengan Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) menarik dicermati. Dari 15 kota yang disurvei, Batam termasuk salah satunya, selain Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Palembang, Padang, Banjarmasin, Pontianak, Makassar, Manado dan Denpasar. Ke-15 kota ini ditentukan secara purposive sampling dan dianggap media cetak relatif dinamis.</p>
<p class="MsoNormal">Survei tersebut dilakukan untuk merepresentasikan pendapat pembaca suratkabar, mewakili kelompok<span> </span>pembaca remaja dan dewasa. Jumlah responden 2.971 orang dengan tingkat keperca-yaan 95%.<span> </span>Selain itu, juga dilakukan wawancara mendalam dengan pengelola media serta <em>focus grup discussion</em> (FGD)<span> </span>mewakili pembaca media dari unsur profesional, pelajar, ibu rumah tangga, akademisi, aktivis LSM.</p>
<p class="MsoNormal">Pertumbuhan media cetak, meski tidak lagi seperti pada awal era reformasi, namun terus bertambah. Jumlah surat kabar tahun 2008 sebanyak 290 buah, naik dibanding tahun 2007 yang berjumlah 269. Namun, surat kabar mingguan turun dari 247 tahun 2007 menjadi 224 pada tahun 2008.<span> </span>Pertumbuhan yang paling tinggi terjadi pada majalah.</p>
<p class="MsoNormal">Ada beberapa hal yang menarik dicermati dari hasil survei ini. Pertama, masih ada pengelola media yang tidak percaya survei. Mereka beranggapan, hasil survei bisa dipesan dan meragukan validitas, metode maupun hasilnya. Padahal, secara ilmiah hasil survei bisa dibantah melalui survei. Rasa tak percaya ini terutama yang hasilnya tidak ’menguntungkan’ bagi media tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Kedua, selain televisi sebagai media yang menjadi saingan suratkabar (misalnya dalam perebutan kue iklan) penetrasi internet mulai menguat. Sumber informasi selain media cetak adalah televisi 95,9 % dan internet 34,1%. Artinya, kedua media inilah yang akan menjadi kompetitor surat kabar di masa depan. Waktu membaca media cetak pun makin berkurang, hanya 3,2 jam sampai 4 jam seminggu. Berarti, hanya sekitar 40 menit sehari.</p>
<p class="MsoNormal">Ketiga, fenomena surat kabar lokal yang kini mampu menjadi raja di daerahnya. Sebanyak 69 % responden menyebutkan, lebih mengandalkan surat kabar lokal. Jika sebelumnya koran daerah dipandang sebelah mata dan masyarakat lebih mengutamakan koran-koran dari Jakarta sebagai sumber informasi, kini kondisinya terbalik. Koran dari Jakarta hanya menjadi pilihan warga Jakarta. Tidak ada lagi dikotomi koran daerah dan koran nasional. Sebab, koran daerah menjelma menjadi koran nasional yang berbasis di daerah. Otonomi daerah diperkirakan mempengaruhi hal ini.</p>
<p class="MsoNormal">Keempat, <span> </span>informasi yang mendapat perhatian pembaca dan rubrik yang mendapat perhatian adalah kecelakaan, musibah atau bencana (67,9%) berita kriminal (60,6%) pendidikan (56,6%) olahraga (53,4%) dan gaya hidup (51,2%). Artinya, pembaca membutuhkan informasi yang hanya mereka inginkan dan dibutuhkan kecepatan untuk penyampaian informasi tersebut. Namun, pembaca majalah dan tabloid lebih dominan membaca berita tentang gaya hidup. Mungkin karena survei ini dilakukan di perkotaan sehingga mencerminkan selera kaum urban dan metropolis.</p>
<p class="MsoNormal">Kelima, makin tingginya penetrasi internet tidak serta merta suratkabar ditinggalkan, seperti yang belakangan dikhawatirkan pengelola media. Sebab, survei menunjukkan, lokasi yang biasa digunakan untuk mengakses internet sebanyak 67,1 % di warung internet. Artinya, pengguna internet perlu datang ke warnet untuk menjelajahi dunia maya. Situs yang paling banyak diakses adalah jejaring sosial seperti facebook, twiter dan friendster. Waktu yang digunakan mengakses internet rata-rata 1 sampai 2 jam sehari.</p>
<p class="MsoNormal">Keenam, meski sekitar 60 % kue iklan diraup media elektronik seperti televisi, surat kabar tak perlu berkecil hati. Sebab, iklan yang ditayangkan di surat kabar, juga menjadi perhatian pembacanya. Sebanyak 84,2% responden memperhatikan iklan di televisi dan 67,3% memperhatikan iklan di surat kabar. Yang menarik, sebanyak 11,8% responden memperhatikan iklan di internet. Surat kabar yang kebanyakan iklan, ternyata lebih separuh atau 59,4 % tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam membeli media tersebut. Namun, 33.3% memang menjadi pertimbangan apakah ia akan membeli media tersebut atau tidak.</p>
<p class="MsoNormal">Jenis iklan yang mendorong pembaca membeli surat kabar antara lain, produk fashion dan kosmetik, otomotif, produk kebutuhan rumah tangga dan makanan, handphone dan aksesorisnya, elektronik, iklan lowongan kerja, properti dan komputer. Hal ini dapat dipahami lantaran survei yang dilakukan LP3ES dan SPS ini dilakukan di 15 kota besar di Indonesia dengan pertimbangan pertumbuhan media cetak relatif dinamis dan menggambarkan gaya hidup kaum urban dan masyarakat perkotaan.</p>
<p class="MsoNormal">Selain data kuantitatif, survei ini juga menyertakan temuan kualitatif melalui wawancara dengan pengelola media dan focus grup discussion dengan berbagai kalangan.<span> </span>Survei tersebut menyatakan, kelangsungan hidup media cetak khususnya surat kabar, masih tetap dipandang secara optimis. Selain animo membaca koran masih tinggi, m<span lang="EN-US">edia cetak masih tetap bisa diharapkan kelangsungan hidup</span><span>n</span><span lang="EN-US">ya,</span><span lang="EN-US"> asal mampu </span>meningkatkan <span lang="EN-US">isi/kualitas berita </span>untuk <span lang="EN-US">menandingi keunggulan media online dan media televis</span>i<span lang="EN-US">.<span> </span></span>Syaratnya adalah, menyajikan berita-berita mendalam (indepth news) berita di balik berita dan investigasi.</p>
<p class="MsoNormal">Berikut ini, beberapa rekomendasi dari LP3ES dan SPS terkait penelitian tersebut. Antara lain, keunggulan media cetak tak tergantikan. <span>M</span><span lang="EN-US">edia cetak </span><span>lokal </span><span lang="EN-US">bisa menjadi “psiko-grafis” masyarakat</span><span>. </span>S<span lang="EN-US">urat kabar mengidentifikasi diri</span>nya<span lang="EN-US"> dengan warga masyar</span>a<span lang="EN-US">kat kota atau daerah tersebut. <span>Media cetak masih tetap berpotensi untuk meyajikan berita-berita yang lebih luas, mendalam dan lengkap</span></span> sebagai keunggulan <span lang="EN-US">media online dan media televisi.<span>Media cetak masih menjadi sarana untuk mengkomunikasikan jati diri si pembaca.</span> <em>”Who you are, it depends on what you read.</em></span><em><span lang="EN-US"> </span></em><span lang="EN-US">Apa yang kau baca itulah dirimu.” <span>Media cetak bisa menjadi sarana lingkungan pergaulan sosial,</span> k</span>arena <em>“</em><em><span lang="EN-US">media is the extention of yourself.</span>”</em><span> </span>A<span lang="EN-US">da dorongan untuk tidak mau lepas dari media cetak</span> sebagai <span lang="EN-US">instrumen untuk mengkomunikasikan siapa sebenarnya dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Soal urgensi kebutuhan kedalaman dan keluasan informasi. <span lang="FI">Tidak semua kebutuhan informasi terpenuhi melalui televisi dan </span><span>media </span><span lang="FI">online.</span><span lang="FI"> Meskipun telah melihat televisi dan mengakses internet, pada saat yang sama </span>orang <span lang="FI">masih terdorong mem</span>baca<span> </span>media cetak <span lang="FI">dengan harapan dapat menggali informasi lebih mendalam.</span><span lang="FI"> </span><span>B</span><span lang="FI">etapapun cepat informasi diwartakan oleh </span><span>televisi ataup</span><span lang="FI">un media on</span><span>-</span><span lang="FI">line, sajian informasinya bersifat instan</span><span>. </span>S<span lang="FI">ehingga tidak berhasil menggambarkan inti informasi</span><span lang="FI"> </span><span lang="FI">apa</span>-<span lang="FI">lagi kejadian yang ada di balik berita atau informasi tersebut</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Respon Media Cetak terhadap Perkembangan Media Online</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Meski pelaku media </span>cetak <span lang="FI">optimi</span>stik<span lang="FI"> bahwa media online belum menjadi ancaman serius dalam waktu dekat, namun <span>kebijakan </span></span><span>bisnis media cetak tak urung di</span><span lang="FI">bayang-bayang ke</span><span>khawatiran </span><span lang="FI">tren penurunan pembaca media cetak</span><span>. </span><span lang="FI">Media cetak melakukan antisipasi dengan kebijakan penerbitan dua versi</span><span>:</span> <span lang="FI"><span> </span>media cetak dan online</span>.</p>
<p class="MsoNormal"><span>Penerbitan media online umumnya </span><span lang="FI">lebih </span><span>bersifat reaktif, </span><span lang="FI">untuk menyaingi kecepatan pemberitaan berbagai media online yang memang secara sadar menjadikan dirinya sebagai situs berita. </span>K<span lang="FI">ebijakan menebitkan dua versi media,<span> media-online </span></span><span>masih </span><span lang="FI">sekadar sebagai pelengkap saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Strategi Mengintegrasikan Media Cetak dan Online Secara Konseptual</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span>S</span><span lang="FI">udah mulai ada strategi untuk mengintegrasikan media cetak dan media online.</span><span lang="FI"> </span><span>Terdapat pula </span><span lang="FI">ta</span><span>-</span><span lang="FI">hap yang lebih maju</span> dengan<span lang="FI"> mengintegrasikan media cetak, online, radio, dan <em>mobile </em></span><em>media</em> <span lang="FI">dalam satu <em>news room operation.</em></span><em><span lang="FI"> </span></em>I<span lang="FI">ntegrasi berbagai jenis media dalam </span>K<span lang="FI">onsep ”Tiga I”</span><span lang="FI"> </span>yakni <em><span lang="FI">Immediate</span></em><em><span lang="FI">, breaking news </span><span lang="FI"><span> </span></span></em><em><span lang="FI">menggunakan saluran radio dan mobile</span> media</em><em><span lang="FI">.<span> </span><span>Interaktif,</span> mengundang partisipasi publik dengan </span>melalui </em><em><span lang="FI">radio dan </span>media </em><em><span lang="FI">online <span>Indepth,</span> </span>m</em><em><span lang="FI">emaksimalkan porsi media cetak. </span>Sejumlah media telah </em><em><span lang="FI">mengembangkan konsep ”Majalah Harian</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><strong>Strategi Memelihara Pembaca Tradisional untuk Sajian Pemberitaan Mendalam</strong></p>
<p class="MsoNormal">Tingginya p<span lang="EN-US">rosentase pembaca </span>yang <span lang="EN-US">memilih surat kabar lokal dibanding nasional</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">mengisyaratkan besarnya pembaca tradisional </span>(pembaca fanatik).<span> <span lang="EN-US">Media cetak perlu ”berurusan” dengan budaya daerah atau lokal,</span></span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">lebih dari sekedar melibatkan aspek kebahasaan semata; </span>tetapi <span lang="EN-US">juga aspek geo</span>-<span lang="EN-US">grafis, psiko-grafis masyarakatnya</span>.<span> </span><span lang="EN-US">T</span>erjadi paradoks: S<span lang="EN-US">urat kabar lokal semakin menjauh dari prio</span>-<span lang="EN-US">ritas untuk mendekatkan diri dengan komunitas lokal yang merupakan pembaca tradisional/fanatik surat kabar</span>. S<span lang="IT">urat kabar lokal ternyata dari sisi isi berita sejatinya merupakan surat kabar </span>“<span lang="IT">nasional</span>”<span lang="IT"> yang berbasis di daerah</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Mempertanyakan Kesungguhan Pemilik Media untuk Menghadapi Persaingan Antar-grup Media secara Benar</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI">Potensi </span><span>ke</span><span lang="FI">bangkrut</span><span>an</span><span lang="FI"> media lokal bukan akibat maraknya media online sebagai pesaing, </span><span lang="FI">melai</span>n<span lang="FI">kan persaingan tajam di kalangan grup media besar di daerah. </span><span>Pengelola media terjebak pada imagologi</span> untuk membuat media bagus tanpa didukung kesadaran membuat sajian berita mendalam &amp; leng-kap melalui<span lang="EN-US"> jurnalisme riset</span>. <span>K</span><span lang="EN-US">ualitas media profesional </span><span>tidak bisa terjadi jika </span><span lang="EN-US">kesejahteraan</span><span lang="EN-US"> </span><span lang="EN-US">wartawan </span><span><span> </span>rendah;</span> <span lang="EN-US">setidaknya pada tingkat standar yang secara paralel mencerminkan kompetensi dan kemampuan profesional wartawan</span>. <span>P</span><span lang="EN-US">engelola kurang memberi prioritas anggaran untuk rekrutmen wartawan yang handal dan profesional.</span><span lang="EN-US"> </span></p>
<p class="MsoNormal">Begitulah. Dengan presentasi survei ini, setidaknya bisa menjadi cermin bagi pengelola media dan kemana arahnya keinginan pembaca mengarah. ***</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/prilaku-konsumen-media/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme dan Bisnis</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/jurnalisme-dan-bisnis/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/jurnalisme-dan-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 06:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[jurnalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=252</guid>
		<description><![CDATA[ 
Dalam manajemen media, kepentingan perusahaan sebagai entitas bisnis kerap dipertentangkan dengan kepentingan wartawan. Artinya,  visi idealisme media  dan tugas mulianya mencerdaskan bangsa, kontrol sosial, menjalankan fungsi hiburan, fungsi pendidikan, bertabrakan dengan visi pragmatisme perusahaan yang mengejar target laba.  Singkatnya, jurnalisme dan bisnis harus satu bahasa. 
      Tidak selalu kepentingan bisnis dan redaksional bertabrakan; dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/redaksi.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-253" title="redaksi" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/redaksi-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Dalam manajemen media, kepentingan perusahaan sebagai entitas bisnis kerap dipertentangkan dengan kepentingan wartawan. Artinya,<span>  </span>visi idealisme media<span>  </span>dan tugas mulianya mencerdaskan bangsa, kontrol sosial, menjalankan fungsi hiburan, fungsi pendidikan, bertabrakan dengan visi pragmatisme perusahaan yang mengejar target laba.<span>  </span>Singkatnya, jurnalisme dan bisnis harus satu bahasa. <span id="more-252"></span></p>
<p><span lang="SV"> <span>     </span>Tidak selalu kepentingan bisnis dan redaksional bertabrakan; dan meski se-nantiasa ada dalam ketegangan, kedua sisi ini bukannya tidak bisa saling men-dukung. Tidak semestinya wartawan/redaksi mengabaikan sama sekali aspek bisnis, yang juga akan berpengaruh pada kinerja redaksi dan mutu profesional wartawan.</span></p>
<p><span lang="SV">Jika bisnis media buruk, tak ada uangnya misalnya, wartawan takkan mendapat kamera bagus untuk menghasilkan foto jurnalistik berkualitas. Itu contoh yang paling gampang. Ada banyak hal yang bisa dilakukan redaksi dalam mendukung kesehatan bisnis, tanpa melanggar etiknya.</span></p>
<p><span lang="SV"><span>1.<span>      </span></span></span><span lang="SV">Memperbaiki mutu tulisan/berita yang disajikan. Tulisan yang menarik, mengilhami publik, dan mudah dicerna akan potensial menangguk pem-baca/audiens, yang pada akhirnya akan mem-perlancar perolehan iklan. (Banyak wartawan menyalahkan kurangnya minat baca pada kecilnya oplah koran, padahal si war-tawan sendiri menulis amburadul dan tidak mudah dicerna pembaca.)</span></p>
<p><span lang="SV">2. Memperluas rubrikasi atau variasi rubrik, yang artinya akan memperluas peluang bagian bisnis menangguk iklan; atau sebaliknya memperkuat fokus pada kekuatan sebuah rubrik, yang menjadi competitive advantage media bersangkutan.</span></p>
<p><span lang="SV">3. Selalu sadar akan kepentingan pembaca dan siapa mereka. Untuk tema se-sulit apapun (yang penting bagi publik) ada kiat untuk menya-jikannya dengan menarik dan populer.</span></p>
<p><span lang="SV">4. Efisien dalam bekerja: memakai sumber daya (dana dan waktu) seminimal mungkin untuk menghasilkan tulisan/liputan berkualitas. Menghemat pengeluaran perusahaan.</span></p>
<p><span lang="SV">5. Pahami<span><span> </span></span><span class="yshortcuts"><span>proses produksi</span></span><span><span> </span></span>dan pemasaran media secara menyeluruh, bukan egois dan berpikiran sempit. Meski tugasnya hanya sebagai wartawan tulis, misalnya, kita perlu mendalami aspek visual (foto, tipografi dan layout), membantu desainer menyajikan koran lebih menarik. Bukannya egois, dengan menulis sangat panjang, tidak memberi peluang bagi foto dan desain, sehingga tampilan koran tidak menarik.</span></p>
<p><span lang="SV">Sebaiknya Anda para wartawan,<span>  </span>melihat mesin cetak bekerja. Atau ikut naik mobil sirkulasi ke percetakan, melihat koran/majalah selesai dicetak dan dibawa ke lapak-lapak.</span></p>
<p><span lang="SV">[Banyak wartawan tak pernah melihat mesin percetakan!] Mereka menganggap, itu bukan bagian dari pekerjaan mereka. Jangankan jadi pimred, pimpinan umum, jadi redaktur saja kadang sudah merasa seperti bos, he..he..</span></p>
<p><span lang="SV">Dengan cara itu, kita memiliki empati kepada karyawan bagian lain dari bisnis media, bahkan jika mereka hanya loper.<span>  </span>Sesekali, boleh juga tidur di kantor, ngobrol dengan orang percetakan atau bagian ekspedisi sambil menunggu dan melihat koran kita dicetak.<span>  </span>Meski hanya sebagai wartawan, kita perlu memahami seluruh proses bisnis. Punya empati kepada karyawan bagian lain, tanpa harus kehilangan martabat sebagai wartawan, yang salah satu tugasnya menjaga<br />
independensi redaksional.</span></p>
<p><span lang="SV">Ayo, kita berubah menjadi lebih baik!</span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/jurnalisme-dan-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

