<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; humaniora</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/category/humaniora/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sisi Lain Ismeth Abdullah (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 10:57:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=307</guid>
		<description><![CDATA[ 
Meski kenal baik cukup lama, hanya dua kali saya ikut meliput acara Ismeth Abdullah. Selain ke Singapura, saya ikut rombongan wartawan saat kunjungan ke tiga negara di Timur Tengah studi banding kawasan berikat. Berikut catatan sisi lain Ismeth Abdullah bagian terakhir.Akses ke dunia internasional Ismeth Abdullah cukup baik. Apalagi, penampilannya yang flamboyan sehingga ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-308" title="0000" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/07/0000.jpg" alt="0000" width="260" height="161" />Meski kenal baik cukup lama, hanya dua kali saya ikut meliput acara Ismeth Abdullah. Selain ke Singapura, saya ikut rombongan wartawan saat kunjungan ke tiga negara di Timur Tengah studi banding kawasan berikat. Berikut catatan sisi lain Ismeth Abdullah bagian terakhir.<span id="more-307"></span>Akses ke dunia internasional Ismeth Abdullah cukup baik. Apalagi, penampilannya yang flamboyan sehingga ia diterima dengan baik oleh duta besar di Lebanon, pemimpin kawasan berikat di Yordania. Meski sebagian stafnya berkunjung ke tempat-tempat bersejarah, Ismeth memilih tetap fokus pada pekerjaannya.</p>
<p>Menurut orang-orang dekatnya, Ismeth memang pekerja keras. Sejak masih menjabat Ketua OB hingga menjadi Gubernur Kepri, Ismeth sering pulang larut malam. Akibatnya, stafnya terpaksa harus menunggu sampai ia pulang.</p>
<p>Sejak Ismeth menjabat sebagai Plt Gubernur dan ber-kantor di Sekupang, saya mulai jarang bertemu, kecuali sesekali ada acara seremonial dan saat melepas kontingen PWI Kepri mengikuti Porwanas di Pekanbaru.</p>
<p>Pada suatu hari, Ismeth Abdullah menelepon saya. ‘’Socrates, boleh saya berkunjung ke kantor Anda?’’ katanya. Saat itu, kami baru pindah ke Gedung Graha Pena, di Batam Centre. ‘’Oh, silakan, Pak,’’ jawab saya. Saya menduga, Ismeth datang gara-gara berita <em>head-line</em> Posmetro Batam hari itu. Judulnya, Otorita Batam Babat 16 Lokasi Hutan Lindung.</p>
<p>Ismeth datang ke lantai delapan. Ia berkeliling dan menyalami karyawan. ‘’Hebat, ya. Dulu pernah didemo, kantornya dilempari batu sekarang kantornya bagus,’’ komentar Ismeth, sambil melihat-lihat. Hebatnya, tak sedikitpun ia menyinggung soal berita hutan lindung itu. Padahal, saya yakin ia datang gara-gara berita itu.</p>
<p>Setelah menjadi Pelaksana Tugas Gubernur Kepri, Ismeth Abdullah bersiap maju sebagai calon Gubernur Kepri. Ia seperti mengikuti napak tilas sejarah. Mertua-nya SM Amin adalah  Gubernur Riau yang pertama ber-kedudukan di Tanjungpinang.</p>
<p>Suatu sore, Ismeth mengundang saya bertemu. Saya datang ke kantor Otorita Batam di lantai delapan pukul 17.00 sore. Setelah berbasa-basi sejenak, Ismeth Ab-dullah meminta saya membantunya dalam proses pemi-lihan Gubernur Kepri. ‘’Dari lubuk hati yang paling da-lam, saya minta Anda membantu saya,’’ katanya.</p>
<p>Saya terkejut. Lalu saya sampaikan bahwa bukannya saya tidak mau, tapi saya Ketua PWI Kepri sehingga sulit bagi saya terlibat dalam politik praktis. Sebab, saya akan menjatuhkan martabat organisasi wartawan tertua itu. ‘’Saya doakan Bapak jadi gubernur, tapi saya tidak bisa menjadi tim sukses. Pertama, saya belum pernah jadi tim sukses, kedua saya ketua PWI yang harus inde-penden,’’ kata saya. Saya lihat, Ismeth mengangguk-angguk dan diam saja.</p>
<p>Saya tidak tahu, apakah Ismeth kecewa atau tidak. Sebab, sebagai orang yang jam terbangnya di berbagai organisasi sangat tinggi, mestinya ia paham alasan saya. Namun, entah mengapa, sejak itu hubungan saya dengannya agak renggang.</p>
<p>Apalagi, karena adanya berita tentang dugaan korupsi alat x-ray di pelabuhan Batuampar yang menyebut-nyebut nama Ismeth. Berita itu saya baca di situs berita Detik.com. Saya minta wartawan mengkonfirmasi hal itu langsung ke Ismeth Abdullah. Sampai sore, kami tak berhasil dihubungi.</p>
<p>‘’Bapak ke Jakarta, kalau mau bisa menghubungi ajudan beliau di Jakarta. Saat ini sedang di pesawat,’’ kata ajudannya Junaidi kepada saya dan memberi nomor ajudan di Jakarta. ‘’Wah, penerbangan Ba-tam-Jakarta 1 jam 20 menit. Jadi, selama itu pula kami harus menunda deadline, agar bisa mewawancarai Ismeth,’’ pikir saya.</p>
<p>Saya putuskan menunda deadline. Begitu ia mendarat di Jakarta, saya menelepon dan langsung mewawan-carainya soal berita di situs itu. ‘’Tidak benar itu, So-cates,’’ katanya membantah. Berita itu terbit malam itu juga, dan beredar jam 8.30 malam.</p>
<p>Sekitar pukul 10.00 malam, tiba-tiba Ismeth menelepon saya. Ia marah-marah. ‘’Kenapa Anda beritakan itu, kan saya sudah bilang jangan. Ternyata, benarlah kata orang-orang, Anda tidak suka dengan saya,’’ katanya, dengan nada tinggi.</p>
<p>Saya berusaha menjelaskan, saya kan sudah konfirmasi soal berita itu. Malah, saya berniat baik agar berita yang dirilis detik.com itu berimbang dengan adanya jawaban dari Ismeth. Saya diam saja, karena saya tahu Ismeth lagi emosi. Hanya sebentar, sambungan telepon putus.</p>
<p>Kira-kira pukul 23.30, saya ditelepon Ketua PWI Pusat Tarman Azzam. Ia bertanya, ada apa antara saya dengan Pak Ismeth. ‘’Pak Ismeth mengadu pada saya, dengan sedih sekali, ada apa? Tanya Tarman. Saya jelaskan kronologis berita itu, dan terbit setelah saya mewawan-carai Ismeth agar berita cover both side.</p>
<p>‘’Ya sudah, kalau begitu. Kenapa tak boleh diberitakan, sedangkan pre-siden saja kita beritakan,’’ kata Tarman. Saya menduga, Ismeth mene-rima bisikan keliru tentang saya dari orang-orang di sekelilingnya. Sejak itu, hubungan kami terputus. Tak pernah lagi ada hubungan telepon antara saya dengan Pak Ismeth.</p>
<p>Setelah saya menolak menjadi tim sukses, ternyata ada juga wartawan yang jadi tim suksesnya. Sebab, saya lihat rumahnya ditempeli stiker calon gubernur dan wakil gubernur Kepri banyak sekali. Saya memang tidak pernah jadi tim sukses bagi siapapun.</p>
<p>Akhirnya, seperti dugaan banyak orang, termasuk saya, Ismeth Abdullah dan HM Sani terpilih sebagai gubernur Kepri yang pertama. Ismeth seolah sedang menapak tilas sejarah keluarganya. Mertuanya, SM Amin adalah gubernur Riau pertama dan berkedudukan di Tanjung-pinang.</p>
<p>Tak lama setelah Ismeth dilantik, kebetulan PWI Cabang Kepri yang masih baru dan saya menjadi ketuanya yang pertama, dipercaya PWI Pusat untuk menjadi tuan rumah pelaksanaan Training of Trainers. Pesertanya para wartawan senior dari berbagai daerah, dari Aceh hingga Papua.</p>
<p>Sebagai Gubernur, Ismeth yang membuka acara itu. Dalam pidatonya, ia mengatakan,’’ Kita akan bangun gedung PWI,’’ disambut tepuk tangan hadirin. Saya menghela nafas panjang. Sampai saya berhenti menjadi ketua PWI kantor itu tak pernah dibangun. Malah, pada periode saat ini, kantor PWI kembali menyewa ruko di Tanjungpinang, sama seperti PWI Perwakilan Batam dulu.</p>
<p>Sejak itu, saya jarang sekali berkomunikasi dengan Ismeth Abdullah. Dulu, saya bisa meneleponnya langsung. Tapi kemudian, harus melalui ajudannya. Saya hanya mengamati, betapa setelah menjadi gubernur yang dipilih langsung, Ismeth tetap kerepotan menghadapi lawan-lawan politiknya.</p>
<p>Suatu hari, saya lupa tanggalnya, seorang agen koran di Tanjungpinang membisikkan kepada saya, bahwa tabloid yang baru terbit dan dikirim kepadanya, habis diborong orang. Ia menyebutkan, isi tabloid yang belakangan saya tahu bernama Investigasi itu, menulis tentang sepak terjang Ismeth Abdullah dan dugaan korupsinya saat ia masih Ketua Otorita Batam.</p>
<p>Tabloid itu segera menyita perhatian orang. Ismeth pun kalang kabut. Ia menggugat tabloid itu ke pengadilan dan memakai pengacara terkenal Adnan Buyung Nasution. Namun, belakangan gugatan Ismeth ditolak. Namun, masalah tidak pernah selesai. Ismeth belakangan diperiksa sebagai saksi dalam kasus pengadaan mobil pemadam kebakaran saat ia menjabat Ketua Otorita Batam.</p>
<p>Pada penghujung 2009, saya sempat dua kali bertemu Ismeth Abdullah di Gedung Graha Kepri Batam Centre. Kami hanya ngobrol ringan. Saya juga menjelaskan posisi saya, bahwa selama ini saya tidak pernah menjadi tim sukses siapa-siapa. Tampaknya, Ismeth paham apa yang saya sampaikan. Saya berharap, ia keliru menilai saya telah menjadi tim sukses atau berpolitik praktis.</p>
<p>Kami ngobrol sekitar 15 menit. Kepada saya, Ismeth mengaku capek. Tapi ia tidak menjelaskan kenapa. Saat saya katakan bahwa belaka-ngan saya kesulitan meneleponnya, dia menyarankan agar saya mengi-rim pesan melalui SMS saja. Kali kedua, saya bertemu mengantarkan seorang teman yang ingin bicara padanya. Sejak itu, saya tidak pernah lagi bertemu dengan Ismeth Abdullah.</p>
<p>Ismeth Abdullah memang sudah beberapa kali diperiksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta seperti diberitakan media. Saat saya ada urusan ke Tanjungpinang, saya terkejut membaca running text di sebuah televisi swasta. Bunyinya: Gubernur Riau Ismeth A jadi tersangka kasus Damkar. Saya terkejut. Saya pikir, berita ini keliru. Mungkin yang dimaksud Ismeth gubernur Kepri. Saya lalu menelepon Kepala Biro Humas Pemprov yang juga mengatakan terkejut dengan running text itu.</p>
<p>Menurut wartawan Batam Pos di Jakarta, berita itu benar. Artinya, yang keliru menulis adalah televisi swasta itu. Ismeth memang sudah ditetapkan menjadi tersangka, berdasarkan wawancara dengan pejabat KPK dan dengar pendapat Komisi III DPR dengan KPK.</p>
<p>Untuk memastikan kebenaran berita itu, saya menelepon Ismeth Ab-dullah melalui ajudannya. ‘’Saya juga tidak tahu kebenarannya, saya ba-ru saja sampai di Jakarta,’’ kata Ismeth kepada saya. ‘’Tolong kabari saya apa yang terjadi, Pak,’’ kata saya. Berita itu makin santer. Bebe-rapa orang menelepon saya mengecek kebenarannya.</p>
<p>Satu jam kemudian, saya kembali menelepon Ismeth. Jawabannya ma-sih sama. ‘’Saya tidak tahu. Kabarnya masih simpang siur. Kepada masyarakat Kepri, saya berpesan agar tidak resah,’’ katanya di ujung telepon. Tak lama kemudian, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD juga menyebut Ismeth sebagai tersangka saat wawancara dengan sebuah stasiun televisi.</p>
<p>Berita itu kemudian menjadi headline Batam Pos. Koran-koran lain, juga memuat berita yang sama, tapi tidak menjadi berita utama. Malam itu juga, puluhan LSM datang ke redaksi Batam Pos mempertanyakan berita itu dan dijelaskan kenapa berita itu menjadi headline.</p>
<p>Saya merasa, berita itu dipolitisir oleh orang-orang tertentu, seolah-olah ada maksud tertentu. Padahal, berita itu murni fakta yang diperoleh di lapangan. Apalagi, secara jurnalistik sudah menempuh prosedur yang benar dengan mengonfirmasi kepada Ismeth Abdullah sebagai sumber berita.</p>
<p>Saya tak mau terjebak arus politik. Meski secara pribadi hubungan saya dengan Ismeth baik, saya tetap seorang wartawan yang independen. Apalagi, Ismeth Abdullah hanya salah satu dari tersangka kasus Damkar. Akhirnya, Ismeth Abdullah benar-benar ditahan di penjara Cipinang. Yang jadi pertanyaan banyak orang, apakah Batam Pos mendahului keterangan resmi KPK karena berita itu sempat dibantah oleh juru bicara KPK Johan Budi? Benarkah Batam Pos ‘menzalimi’ Ismeth Abdullah seperti dugaan orang-orang dekatnya? Jawabannya saya temukan dari orang dekat Ismeth sendiri.</p>
<p>‘’Sebenarnya, Pak Ismeth sudah menerima surat penetapannya sebagai tersangka, tapi beliau bilang, gimana sih, nanti berubah lagi. Dan, beliau juga sudah dicekal pada saat mau berangkat ke Johor di Imigrasi Batam Centre,’’ kata orang dekatnya itu, suatu malam di Tanjungpinang. Saya lega, bukan berarti senang Ismeth masuk penjara. Tapi bahwa Batam Pos secara jurnalistik sudah benar dan adil.</p>
<p>Saat istrinya maju dalam Pilkada Gubernur Kepri berpasangan dengan Eddy Wijaya yang sebelumnya Sekda Provinsi Kepri, Ismeth menyempatkan datang ke Tanjungpinang setelah mendapat izin dari hakim pengadilan Tipikor. Sayang, Aida Zulaikha Nasution yang juga putri Gubernur Riau pertama itu, kalah dari pesaingnya.</p>
<p>Beberapa wartawan pernah mengunjungi Ismeth di penjara Cipinang, namun saya tidak ikut. Saya prihatin melihat foto-foto Ismeth dalam persidangan. Wajahnya semakin tirus dan kelihatan tua. Saya hanya bisa berharap, Ismeth Abdullah tetap tegar menghadapi segala cobaan ini. Sebagai sahabat, saya berharap Ismeth tetap optimis seperti sikapnya selama ini. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisi Lain Ismeth Abdullah (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 06:28:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[ 
Menyaksikan Ismeth Abdullah duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ada perasaan miris dan prihatin. Mestinya, lelaki bertubuh jangkung dan berhidung mancung berusia 63 tahun 7 bulan itu, bersiap menikmati hari tuanya. Atau bersiap maju lagi dalam Pemilu Kepala Daerah Kepri yang akan digelar 26 Mei 2010. Pria kelahiran Cirebon, 29 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-303" title="2- ismeth" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2010/05/2-ismeth1.jpg" alt="2- ismeth" width="260" height="347" />Menyaksikan Ismeth Abdullah duduk di kursi terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) ada perasaan miris dan prihatin. Mestinya, lelaki bertubuh jangkung dan berhidung mancung berusia 63 tahun 7 bulan itu, bersiap menikmati hari tuanya. Atau bersiap maju lagi dalam Pemilu Kepala Daerah Kepri yang akan digelar 26 Mei 2010. Pria kelahiran Cirebon, 29 September 1946 itu malah terancam hukuman penjara seumur hidup. Inilah sisi lain Ismeth Abdullah.<span id="more-301"></span></p>
<p>Saya mengenal Ismeth Abdullah 12 tahun lalu, Juli 1998 saat ia usai dilantik menjadi Ketua Otorita Batam, mengganti-kan Junus Effendi Habibie, yang mundur setelah abangnya BJ Habibie dilantik jadi Presiden Republik Indonesia.</p>
<p>Kalau tidak salah, saya wartawan yang pertama di Batam me-wawancarai panjang Ismeth Abdullah dan dimuat di rubrik Cakap edisi Minggu. Sejak itu, saya dekat dengannya, dan se-ring bertemu sekedar diskusi, wawancara dan ngobrol. Biasa-nya, sebelum bertemu, saya menghubungi sekertarisnya Rudy Alfonso.</p>
<p>Sering saya bertemu Ismeth sore-sore sehabis jam kantor  atau selepas magrib. Sejak dulu, Ismeth memang pekerja keras dan sering pulang larut malam. Awalnya, pertemuan kami lebih ba-nyak basa-basi. Kalau wawancara, Ismeth menjaga betul kata-kata dan ucapannya. Meski dilontarkan pertanyaan tajam, Is-meth Abdullah tetap tenang, kalem dan mengontrol emosinya dengan sangat baik.</p>
<p>Saya mengamati, pada saat Ismeth Abdullah baru menjabat Ketua Otorita Batam, ia diserang kiri kanan, baik oleh pejabat, LSM, politisi dan kalangan akademisi. Apalagi, saat itu perlawanan terhadap apa saja yang berbau pusat, ditentang. Yang paling sering disorot adalah soal keberadaan Otorita Ba-tam yang dinilai sebagai negara dalam negara.</p>
<p>Pernyataan-pernyataan politik yang mengemuka saat itu : Audit Otorita Batam, bubarkan Otorita Batam dan soal masalah so-sial seperti perjudian, prostitusi, rumah liar dan sebagainya. Namun, Ismeth Abdullah yang kenyang pengalaman sebagai aktivis kampus, pernah bekerja di Bank Danamon, Asia Deve-lopment Bank dan 9 tahun di Badan Pegembangan Ekspor me-lontarkan gagasan social development.</p>
<p>Kepiawaiannya menjalin hubungan dan relasi sosial dengan berbagai pihak, sangat membantu eksistensi Otorita Batam. Jika sebelumnya Ketua OB sangat powerfull karena di bawah presiden dan hubungannya dengan Jakarta seperti jalan tol, Is-meth memilih menjalin hubungan baik dengan Gubernur dan tokoh-tokoh politik Riau. Ia juga membangun komunikasi dengan kalangan universitas dan siapa saja.</p>
<p>Malah, tidak jarang Ismeth menerima karyawan yang punya hu-bungan dengan lawan-lawan politiknya. Intinya, ia ingin meru-bah imej Otorita Batam yang arogan, kaku, berbau pusat dan <em>untouchable.</em></p>
<p>Lama-lama, Ismeth makin terbuka kepada saya. Ia kadang menceritakan masalah-masalah yang dihadapinya, dengan ca-tatan off the record. Ia termasuk yang sensitif terhadap berba-gai pemberitaan miring terhadap dirinya. Sejak awal, Ismeth termasuk dekat dengan wartawan dari berbagai media. Ia men-dukung Batam Journalist Club yang mengundang Sri Mulyani dan Menperindag Rahardi Ramelan dalam suatu diskusi.</p>
<p>Ismeth menawarkan LPEM-UI pimpinan Sri Mulyani untuk me-ngadakan penelitian berjudul Potensi Sosial Ekonomi Barelang sampai 2005. Kabarnya, gara-gara biaya penelitian tersebut Rp750 juta baru dibayar separuh, lembaga penelitian itu merilis berita potensial loss Batam karena tidak membayar Ppn sebesar Rp4 Triliun.</p>
<p>Saya mendapat informasi ini dari Rudy Alfonso. Pernah saya menelepon ke lembaga itu. Saat saya sebutkan dari Batam, pe-nerima telepon menyambungkan saya dengan bagian keu-angan. Mungkin dikiranya saya akan menyelesaikan masalah tersebut.</p>
<p>Sejak itu, rencana penerapan Ppn ditentang habis. Demo ter-jadi dimana-mana. Dari pengusaha hingga tukang ojek, meno-lak Ppn. Yang saya amati, bermacam motif bermunculan terkait demo penolakan Ppn tersebut. Mulai dari yang memang kha-watir berpengaruh terhadap ekonomi Batam hingga yang aji-mumpung dan memanfaatkan kesempatan tersebut mengem-bangkan bisnisnya sendiri.</p>
<p>Suatu ketika, karena resah dengan pemberitaan miring di be-berapa media, saya pernah mengusulkan, agar Ismeth me-ngundang para pimpinan media di Batam seperti Editor Club atau Forum Pimred.</p>
<p>Ia bisa memberi masukan atau menerima saran dari para pim-red. Namun yang terjadi, Ismeth malah mengundang banyak wartawan lalu memberikan kado berupa kamera, jam tangan dan handphone. Kegiatan itu akhirnya hanya menjadi seremo-nial dan tidak mencapai sasarannya.</p>
<p><strong>Social Development</strong></p>
<p>Konsep pembangunan sosial (social development) yang dilon-tarkan Ismeth Abdullah, mendapat sambutan baik. Sebab, ia menilai, selama ini pembangunan sosial kemasyarakatan di Batam terabaikan. Namun, konsep ini dalam prakteknya, ber-biaya tinggi. Sebab, mestinya konsep ini sudah diterapkan se-jak awal membangun Batam.</p>
<p>Masalah-masalah sosial, dalam era kepemimpinan Ismeth se-bagai Ketua Otorita Batam, memang menonjol. Lambat laun, Ismeth yang ternyata menggunakan pendekatan yang sangat berbeda dengan ketua OB sebelumnya, bisa diterima di tengah masyarakat, baik para pengusaha maupun politisi.</p>
<p>Gayanya yang low profile, postur tubuh di atas rata-rata serta hidung yang mancung, menjadi ciri khas Ismeth Abdullah. Na-da bicaranya pelan dan datar. Ia makin sering terlibat dalam berbagai kegiatan di Batam.</p>
<p>Meski Otorita Batam tak pernah sepi dari aksi demo, baik dari para buruh, warga rumah liar yang tergusur, posisi Ismeth makin kokoh. Dari pengalaman beberapa kali wawancara de-ngannya, Ismeth sangat piawai menghadapi wartawan. Meski dicecar dengan pertanyaan keras, jawaban dan emosinya tetap terkontrol.</p>
<p>Bagaimana penilaian orang lain terhadap Ismeth Abdullah? Pada sebuah seminar tentang investasi di Singapura, saya ber-tanya pada Presiden Indonesia Marketing Association Herma-wan Kertajaya, bagaimana penilaiannya tentang Ismeth. Jawa-bannya mengejutkan saya: Ini orang terlalu baik, katanya.</p>
<p>Secara pribadi, saya pernah mengatakan begini. ‘’Pak Ismeth, di mata masyarakat Batam, Anda dinilai orang yang baik. Tapi menurut saya, Bapak orangnya tidak tegas.’’ Apa jawaban Is-meth? ‘’Gaya setiap orang kan berbeda-beda,’’ katanya, santai.</p>
<p>Saat terpilih menjadi ketua PWI Perwakilan Batam, Ismeth memberikan dukungannya.Otorita Batam membantu biaya se-wa kantor berupa ruko tiga lantai di Jodoh. Lantai satu buat kantor, dan dua lantai lainnya menjadi kos-kosan wartawan. Ismeth datang saat peresmian kantor tersebut.</p>
<p>Karena saya mengenal Ismeth sejak lajang, setelah saya meni-kah dan punya anak, Ismeth Abdullah sering menanyakan ka-bar anak saya Axel Ariel Muhammad. Sungguh, tidak banyak pejabat yang saya kenal dengan gaya pendekatan dan human relation seperti Ismeth Abdullah. (<em>bersambung)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/sisi-lain-ismeth-abdullah-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesaksian di Pengadilan (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/kesaksian-di-pengadilan-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/kesaksian-di-pengadilan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 16:02:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[Waktu terus berlalu. Tanggal 14 Mei 2009 saya dipanggil kejaksaan agar hadir di pengadilan negeri Batam sebagai saksi korban.  Meski beberapa tahun lalu saya pernah meliput sebagai wartawan dipengadilan, namun seumur hidup, baru kali ini saya duduk di ruang pengadilan. 
Sidang dijadwalkan jam 13.00 WIB. Saya mengajak teman saya Herman dan sekretaris saya Levina [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu terus berlalu. Tanggal 14 Mei 2009 saya dipanggil kejaksaan agar hadir di pengadilan negeri Batam sebagai saksi korban.  Meski beberapa tahun lalu saya pernah meliput sebagai wartawan dipengadilan, namun seumur hidup, baru kali ini saya duduk di ruang pengadilan. <span id="more-264"></span></p>
<p>Sidang dijadwalkan jam 13.00 WIB. Saya mengajak teman saya Herman dan sekretaris saya Levina menemani saya.<br />
Kami masuk ke Pengadilan Negeri Batamlewat samping dan mampir ke kantin. Asap rokok mengepul di tiap sudut.  Beberapa lelaki berpakaian rapi yang saya kira pengacara, berbincang –bincang soal perkara. Saat kami masuk ke ruangan pengadilan, di depan ruangan tahanan sementara, belasan warga bergerombol. Polisi berseragam dan bersenjata serta beberapa pegawai kejaksaan,  tampak berjaga-jaga.<br />
Dalam surat panggilan itu tertulis, saya harus menghadap kepada jaksa Eny Maryani SWR, SH pada pukul 13.00 WIB untuk didengar keterangannya sebagai saksi di persidangan. Awalnya, saya sempat malas untuk datang. Tapi, sebagai warga negara yang taat hukum saya harus datang. Saya berpikir, korbannya bukan hanya saya sendiri. Bagaimana kalau saksi korban lainnya juga tidak datang?<br />
Ternyata, benar. Saksi korban lainnya seorang wanita yang mobilnya dipecahkan kacanya dan kehilangan handphone dan perhiasan, tidak hadir di pengadilan. Sempat juga muncul kekhawatiran, jangan-jangan wajah saya ditandai pelakunya. Soalnya, saya menduga mereka residivis dan sangat lihai dengan kejahatan jenis ini. Buktinya, ada belasan warga yang jadi korban. Kabarnya, kasusnya terungkap setelah mereka membobol mobil saya.<br />
Saya memutuskan hadir sebagai saksi di pengadilan. Apalagi, dalam surat panggilan kejaksaan disebutkan: Barang siapa yang dengan melawan hukum tidak datang sesudah dipanggil dapat dituntut berdasarkan ketentuan pasal  216 KUHP. Di kantor Pengadilan Negeri  Batam, saya menelusuri ruangan demi ruangan dan mencari di ruangan mana kira-kira saya akan bersidang.<br />
Ruangan sidang ada empat. Tiga di lantai satu dan satunya di lantai dua.  Meski di depan ruang sidang utama ada white board berukuran cukup besar yang memuat jadwal persidangan, baik perdata, pidana dan ekonomi, tapi tak satupun jadwal sidang tertulis di sana. Papan tulis itu kosong melompong. Padahal, pada hari itu, jadwal sidang cukup padat. Sedikitnya ada enam persidangan ang digelar sampai pukul 15.00 WIB sore. ‘’Kadang ada sidang sampai sore,’’ kata seorang pegawai kejaksaan.<br />
Di ruangan tahanan sementara di belakang gedung, kalau diintip dari ventilasi di tangga ke lantai dua, sekitar 18 orang berdesak-desakan menunggu jadwal sidang. Para terdakwa itu mengenakan seragam warna oranye. Padatnya persidangan di Pengadilan Negeri Batam, makin terasa gedung berlantai dua itu sempit. Gerbang pemeriksaan di pintu masuk tak berfungsi. Saya malah ikut menghadiri sidang penipuan kartu kredit dengan terdakwa warga negara Malaysia menunggu sidang pembobolan kaca mobil saya digelar.<br />
Yang mengherankan, meski  jaksa yang menangani perkara saya Eny Maryani, jaksa tersebut tidak ada di tempat. Saat saya hubungi memberitahu bahwa saya sudah hadir tepat waktu di pengadilan, ia malah menyuruh saya menghubungi  rekannya jaksa Melinda. Namun, perkaranya dioper lagi kepada jaksa Jusnetty.  Hakim Elfian SH yang akan mengadili perkara tersebut, juga tampak sibuk menjadi hakim kasus lain.<br />
Setelah menunggu hampir tiga jam, akhirnya kasus pembobolan mobil itu digelar juga. Setelah palu diketuk hakim tanda sidang dimulai, jaksa Jusnetty mulai membacakan surat dakwaan.  Jaksa tersebut membaca kurang lancar. Maklum, kasus tersebut bukan perkaranya sendiri.  Namun, jaksa ini cukup ramah. Ia berterima kasih karena saya sudah datang menjadi saksi.<br />
Dua orang terdakwa pembobol mobil itu, Kandar dan Wajir, usianya masih muda. Hebatnya, wajah keduanya terkesan lugu. Mereka hanya duduk tenang dan mendengarkan dakwaan. Saat hakim bertanya, apakah benar dakwaan tersebut, keduanya mengangguk. Lalu, saya disumpah sebagai saksi. Inilah pertama kali saya duduk di persidangan.  Saya diminta menceritakan kronologi singkat kejadian.<br />
Saat hakim meminta saya maju ke depan melihat barang-barang bukti, ternyata laptop-nya tidak ada. Termasuk handphone, kalung dan sepeda motor yang digunakan kedua terdakwa berbuat kejahatan. Satu persatu barang bukti dicek kembali. Lagi-lagi, jaksa kelabakan. Ia lalu menelepon seseorang dan meminta menghadirkan barang bukti tersebut.  ‘’Nah, inilah yang saya sesalkan. Barang bukti tidak lengkap. Nanti dikira orang sidang ini main-main saja,’’ cetus hakim Elfian.<br />
Saat hakim kembali memeriksa barang bukti, tiba-tiba telepon jaksa Jusnety berdering. ‘’Cepatlah, ini saya ditegur hakim karena barang buktinya tidak lengkap,’’ katanya. Mendengar itu, hakim tambah marah. ‘’Ibu Jusnety, tolong matikan handphone Anda. Saya saja saya matikan. Sidang ini tidak siap. Sidang saya skor sementara, selesaikan dulu urusan telepon Anda,’’ kata hakim sambil mengetuk palu sidang dan berdiri meninggalkan ruangan.<br />
Jaksa berusaha membela diri. ‘’Maaf, pak hakim. Ini bukanperkara saya. Saya hanya dititipi teman,’’ katanya. Di luar ruang sidang, saya dipanggil hakim saat ia merokok di ujung tangga di lantai dua. ‘’Itulah yang saya sesalkan. Masa di ruang sidang handphone-nya aktif. Saya saja saya matikan. Ini kan tidak menghormati sidang yang sakral,’’ kata hakim kepada saya. Di papan aturan persidangan nomor tiga, memang tertulis agar setiap pengunjung sidang mematikan telepon selularnya. Sidang kemudian ditunda seminggu kemudian.<br />
Saat menyusuri lorong-lorong gedung pengadilan negeri Batam, saya merasa ada sesuatu yang sulit dipahami  secara kasat mata. Mulai dari pengunjung dan keluarga tahanan, ruangan para hakim, jaksa, pengacara hingga panitera. Orang-orang pencari keadilan, seperti masuk ke labirin yang tak berujung.  Aturan soal kedisiplinan waktu, aturan yang sudah dibuat, dilanggar tanpa merasa bersalah. Adakah sesuatu yang lebih besar lagi di balik itu? Entahlah&#8230;*** </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/kesaksian-di-pengadilan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadi Korban Kejahatan (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/jadi-korban-kejahatan-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/jadi-korban-kejahatan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 May 2009 16:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Siapapun, bisa jadi korban kejahatan.  Termasuk saya. Mobil Grand Vitara BP 2 MN yang saya pakai, dibobol alap-alap maling pemecah kaca mobil. Kejadiannya cepat sekali, dan siang hari. Sebagai wartawan, saya selalu stand by dengan kamera dan laptop di mobil. Siapa tahu, ada kejadian bernilai berita saat saya di jalan. Biasanya, perlengkapan tersebut saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Siapapun, bisa jadi korban kejahatan.  Termasuk saya. Mobil Grand Vitara BP 2 MN yang saya pakai, dibobol alap-alap maling pemecah kaca mobil. Kejadiannya cepat sekali, dan siang hari. Sebagai wartawan, saya selalu stand by dengan kamera dan laptop di mobil. Siapa tahu, ada kejadian bernilai berita saat saya di jalan. Biasanya, perlengkapan tersebut saya bawa ke rumah. Tapi, malam itu karena pulang larut malam, tas kamera dan laptop saya tinggal di mobil.<span id="more-263"></span></p>
<p>Saya ingat benar, kejadiannya hari Kamis, 21 Januari 2009. Sekitar jam 10.00 WIB saya mandi dan bersiap ke kantor. Lamat-lamat, saya mendengar seperti butiran kerikil ditumpahkan di depan rumah. Saya kira, ada tukang yang sedang bekerja. Begitu saya mau berangkat, saya heran, kok kaca belakang sebelah kanan mobil terbuka. Alangkah kagetnya saya ternyata,  tas di dalam mobil lenyap. Kacanya berhamburan di jok mobil.<br />
Saya bertanya pada sekuriti, tapi tak ada yang melihat pelakunya. Siang itu juga, saya melapor ke kantor polisi di Polsek Batam Kota. Saya pikir, saya lagi sial. Kenapa tas kamera dan laptop itu saya tinggal di mobil?  Saya uring-uringan. Laptop Toshiba seri terbaru milik kantor, lensa kamera, enam data traveler, modem internet  lenyap tak berbekas.  Saya hanya bisa pasrah dan mengantongi surat laporan ke polisi. Kecil kemungkinan barang-barang itu bisa ditemukan. Sebab, pelakunya sepertinya sangat lihai.<br />
Jalan masuk ke komplek saya hanya satu. Selain dipasangi portal, jarak dua rumah dari rumah saya, ada pos keamanan. Pos itu saya yang membangun saat saya menjadi Ketua RW XIV Taman BPD Indah. Dua tahun lalu, saya mundur sebagai ketua RW. Sayangnya, sekuriti yang bertugas siang itu, tak punya kepekaan terhadap aksi kejahatan yang terjadi. Ia hanya menjawab tidak tahu apa yang sudah terjadi.<br />
Namun, dua bulan kemudian, saya dihubungi polisi dari Poltabes Barelang. Ia mengabarkan bahwa pelaku pembobolan mobil saya ditangkap. Ia minta saya datang memastikan apakah benar laptop yang disita polisi milik saya. Saat bertemu polisi, saya sempat ragu. Merek dan serinya sama. Tapi, datanya sudah dihapus semua dan diformat ulang.  Ternyata, kasus pembobolan mobil itu terjadi secara beruntun. Pelakunya diduga sama.<br />
Polisi mengatakan kepada saya, modus kejahatan pembobolan mobil itu. Caranya, setelah pelaku mengintip ada barang atau tas dalam mobil, seorang stand by di motor dan seorang lagi memecahkan kaca mobil dengan menggunakan busi bekas. Busi itu dipecahkan keramik putihnya, lalu dikulum di mulut. Lho, untuk apa? Ternyata, air ludah dianggap bisa meredam suara pecahan kaca saat busi tersebut dilempar sekuat tenaga ke kaca mobil.<br />
Kaca akan segera retak dan dengan mudah didorong pakai tangan. Setelah itu, barulah mereka menyambar benda berharga apa saja dalam mobil.  Saya baru yakin, mereka pelakunya setelah polisi memperlihatkan barang bukti lain tas kamera dan data-data saya di USB.  Setelah kasus saya terungkap, polisi mengembangkannya dan berhasil mengungkap beberapa kasus lainnya dengan pelaku yang sama.<br />
Kendati banyak juga warga yang enggan melapor ke polisi jika menjadi korban kejahatan pencurian yang nilainya relatif kecil, saya tetap melapor ke polisi. Jujur saja, memang makan waktu berjam-jam dan merepotkan. Tapi, kepada siapa lagi kita melaporkan kejadian naas yang menimpa kita? Saya dengan tulus mengucapkan, terima kasih pak polisi. (bersambung)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/jadi-korban-kejahatan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiket Bahagia</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/tiket-bahagia/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/tiket-bahagia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 08:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[ 
Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu. Semakin kita kejar, semakin dia berusaha terbang menghindar. Kalau punya pikiran yang tenang, berpikir dan berkontemplasi dengan baik, biasanya kebahagiaan lebih mudah kita dapatkan.  Postingan ini mungkin ada gunanya bagi Anda yang sering berkeluh kesah dan merasa tidak bahagia.
Mengapa banyak di antara kita merasa tidak bahagia? Penyebabnya, kita lebih banyak tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal">Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu. Semakin kita kejar, semakin dia berusaha terbang menghindar. Kalau punya pikiran yang tenang, berpikir dan berkontemplasi dengan baik, biasanya kebahagiaan lebih mudah kita dapatkan.<span>  </span>Postingan ini mungkin ada gunanya bagi Anda yang sering berkeluh kesah dan merasa tidak bahagia.<span id="more-259"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV">Mengapa banyak di antara kita merasa tidak bahagia? Penyebabnya, kita lebih banyak tahu tentang: ”apa yang harus kita lakukan untuk menjadi orang yang berbahagia” daripada tahu tentang: ”mengapa kita tidak bahagia”.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV">Perasaan tidak bahagia sebenarnya adalah penyakit. Hal itu adalah bentuk dari upaya meracuni diri sendiri. Mari kita rawat penyakit itu dengan cara yang terjangkau. Kita cermati gejala penyakit tersebut dan kita hancurkan gejala itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV">Di bawah ini terdaftar hal-hal yang biasanya merupakan gejala yang meracuni kebahagiaan kita beserta antibodi yang dapat menghancurkan gejala penyakit ketidakbahagiaan kita.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>   </span><span>   <strong>Racun 1 = Menghindar</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejalanya, lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan kita hanya akan mendapat kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodinya : Realitas</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara : Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustrasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 2 = Ketakutan</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejalanya, tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkawinan, kesulitan seksual.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodinya : Keberanian. Cara : Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun3 = Egoistis</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Nyinyir, materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodinya : Bersikap sosial.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> </span>Cara : Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui orang yang tidak mengharapkan apa pun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 4 = Stagnasi</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejalanya berhenti di satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodinya : Ambisi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Teruslah bertumbuh, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita akan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 5 = Rasa rendah diri</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi: Keyakinan diri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 6 = Narsistik</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodi : Rendah hati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan berbahagia. Hindari sikap ” sok tahu”. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  <strong>Racun 7 = Mengasihani diri</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Kebiasaan menarik perhatian, suasana hati yang dominan, murung, menghunjam diri, merasa menjadi orang termalang di dunia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span></span></span><span><span>Antibodi : Sublimasi</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimental dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 8 = Sikap bermalas-malasan</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi : Kerja</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 9 = Sikap tidak toleran</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi : Kontrol diri</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dari keberagaman kultur dan agama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span> <strong> Racun 10 =Kebencian</strong></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Gejala: Keinginan balas dendam, kejam, bengis.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Antibodi : Cinta kasih.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  </span>Cara: Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span lang="SV"><span>  Simpanlah paket tiket untuk melawan perasaan tidak bahagia dan mengaculah pada paket tiket ini saat kita sedang mengalami rasa depresi dan tidak bahagia. Gunakan sebagai sarana pertolongan pertama saat kita sedang berada dalam kondisi mental gawat darurat demi terhindar dari ketidakbahagiaan berlanjut pada masa mendatang.***</span></span></span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/tiket-bahagia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hukum Kerjasama Tim</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/hukum-kerjasama-tim/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/hukum-kerjasama-tim/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 08:27:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[ 
Kata kerjasama, koordinasi dan sejenisnya sangat sering diucapkan. Namun, tidak mudah mewujudkan kerjasama. Padahal, kerjasama penting untuk mencapai keberhasilan. Berikut 17 hukum kerjasama tim yang efektif yang dikutip entah dari mana saya lupa. Yang jelas, bagus buat orang yang sulit bekerja sama. 
1. Nilai kerjasama. 
Satu adalah jumlah yang terlalu sedikit untuk mencapai kebesaran. 
Jadi, untuk mencapai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><span style="color: #0000ee; text-decoration: underline;"><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/kerjasama1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-258" title="kerjasama1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/kerjasama1-280x300.jpg" alt="" width="280" height="300" /></a></span>Kata kerjasama, koordinasi dan sejenisnya sangat sering diucapkan. Namun, tidak mudah mewujudkan kerjasama. Padahal, kerjasama penting untuk mencapai keberhasilan. Berikut 17 hukum kerjasama tim yang efektif yang dikutip entah dari mana saya lupa. Yang jelas, bagus buat orang yang sulit bekerja sama. <span id="more-256"></span></p>
<p>1. Nilai kerjasama. </p>
<p><em>Satu adalah jumlah yang terlalu sedikit untuk mencapai kebesaran. </em></p>
<p>Jadi, untuk mencapai kebesaran, perlu kerjasama. </p>
<p>2. Gambaran Besarnya</p>
<p><em>Sasarannya adalah lebih lenting daripada perannya</em></p>
<p>Apakah yang mendorong seorang mantan presiden Amerika Serikat untuk berkeliling dengan bis, tidur di lantai bawah tanah, dan melakukan pekerjaan kasar selama satu minggu? Jawabannya dapat ditemukan dalam hukum gambaran besarnya.</p>
<p>3.Posisi yang tepat</p>
<p><em>Semua pemain memiliki tempat dimana mereka paling memberikan nilai tambah</em></p>
<p>Seandainya Anda adalah pemimpin dunia yang bebas, bagaimanakah Anda memutuskan, tugas apa yang harus Anda berikan kepada orang yang mampu mengerjakan tugas apapun &#8212; termasuk tugas Anda sendiri? Kalau Anda ingin semua orang menang, tentu Anda akan menggunakan hukum posisi yang tepat.</p>
<p>4. Gunung Everest</p>
<p><em>Semakin tinggi tantangannya, semakin tinggi kebutuhan kerjasamanya </em></p>
<p>Tenzing Norgay dan Maurice Wilson adalah pendaki gunung yang berpengalaman dengan peralatan yang tepat. Lalu mengapakah yang satu meninggal di gunung sementara yang lain berhasil menaklukkannya? Hanya satu yang mengenal Hukum Gunung Everest.</p>
<p>5. Mata Rantai</p>
<p><em>Kekuatan tim dipengaruhi oleh mata rantainya yang paling lemah</em></p>
<p>Apakah menjadi soal, kalau ribuan karyawan Anda mengerjakan tugas mereka dengan baik dan hanya satu orang saja yang membuat kekeliruan? Tanyakan saja kepada perusahaan yang membayar lebih dari $ 3 milyar untuk ganti rugi dan terjerat oleh Hukum Mata Rantai.</p>
<p>6. Katalisator</p>
<p><em>Tim-tim hebat memiliki pemain-pemain yang menjadikan segalanya terlaksana</em></p>
<p>Apakah yang akan Anda perbuat kalau tanggal 31 Desember sudah semakin dekat sementara armada penjualan Anda masih jauh dari sasaran? Gunakan hukum katalisator.</p>
<p>7. Kompas</p>
<p><em>visi memberikan arah serta kepercayaan diri kepada para anggota tim</em></p>
<p>Presiden Enron baru tahu tentang usaha bernilai multijutaan dolar di perusahaannya dua bulan sebelum usaha tersebut diluncurkan, dan itu sama sekali tidak mengganggunya. Mengapa? Karena ia dan timnya menuai manfaat dari Hukum Kompas.</p>
<p>8. Apel Busuk</p>
<p><em>Sikap-sikap busuk merusak tim</em></p>
<p>Mereka diharapkan menghancurkan persaingan. Mereka memiliki bakat serta ambisi untuk meraih kemenangan. Tetapi bukannya mendominasi, mereka malah merusak diri. Seandainya saja mereka tahu tentang Hukum Apel Busuk.</p>
<p>9. Keterandalan</p>
<p><em>Rekan-rekan satu tim harus dapat saling mengandalkan satu sama Lain dalam soal-soal penting</em></p>
<p>Mungkin orang takkan mati di organisasi Anda kalau seseorang menjatuhkan bolanya. Tetapi itu bisa terjadi pada orang-orang dalam bisnis keluarga ini. Itulah sebabnya Hukum Keterandalan ini demikian penting bagi mereka.</p>
<p>10. Bandrol Harga</p>
<p><em>Tim akan gagal mencapai potensinya kalau tidak membayar harganya</em></p>
<p>Perusahaan ini seharusnya dapat menjadi pengecer terbesar di dunia. Ternyata perusahaan ini malah terpaksa menutup usahanya setelah 128 tahun berbisnis. Mengapa? Para pemimpinnya harus menanggung ganjaran akibat mengabaikan Hukum Bandrol Harga.</p>
<p>11. Papan Angka</p>
<p><em>Tim bisa melakukan penyesuaian kalau tahu posisinya</em></p>
<p>Ribuan perusahaan berbasis Internet telah gagal. Banyak perusahaan yang &#8220;sukses&#8221; masih menunggu untuk membukukan keuntungan. Tetapi perusahaan yang satu ini terus menang dan tumbuh serta meraih keuntungan! Mengapa? Karena sedari awal perusahaan ini bermain menurut Hukum Papan Angka.</p>
<p>12. Pemain Cadangan</p>
<p><em>Tim-tim hebat memiliki kedalaman</em></p>
<p>Siapakah yang biasanya menjadi pemain paling berharga dalam sebuah organisasi? Direktur Utamanya? Pimpinan Puncaknya? Pramuniaga topnya? Percayakah Anda bahwa mungkin saja itu adalah seseorang dari Sumber Daya Manusia? Anda akan percaya kalau saja Anda tahu Hukum Pemain Cadangan.</p>
<p>13. Identitas</p>
<p><em>Yang Mengidentifikasikan Tim adalah Nilai-nilai yang Dijunjung Bersama</em></p>
<p>Bagaimanakah Anda membuat ribuan orang bersemangat bekerja, mengenakan seragam berwarna cerah, dan memenuhi setiap kebutuhan konsumen? Bernie Marcus dan Arthur Blank melakukannya dengan membangun landasan perusahaan mereka pada Hukum Identitas.</p>
<p>14. Komunikasi</p>
<p><em>Interaksi mendorong diambilnya tindakan</em></p>
<p>Tim mereka telah sepuluh kali ganti pemimpin dalam kurun waktu sepuluh tahun. Para karyawannya kelelahan serta penuh dengan kepahitan, dan perusahaannya terus kehabisan uang. Jadi bagaimanakah Gordon Bethune akan menyelamatkan penerbangan yang paling ketinggalan ini dari kehancuran? Ia mulai dengan menggunakan Hukum Komunikasi.</p>
<p>15. Keunggulan</p>
<p><em>Perbedaan antara dua tim yang sama berbakatnya adalah kepemimpinannya</em></p>
<p>Tim mereka mengalami masalah besar. Para pesertanya memiliki segalanya yang mereka butuhkan untuk meraih sukses &#8212; bakat, dukungan, sumber- sumber daya &#8212; segalanya, kecuali hal yang paling penting. Satu- satunya harapan mereka untuk mengubah segalanya adalah seseorang yang memenuhi Hukum Keunggulan.</p>
<p>16. Moral yang tinggi</p>
<p><em>Kalau Anda menang, sakitnya tak terasa</em></p>
<p>Apakah yang mendorong seorang pria berusia lima puluh tahun, yang bahkan berenang saja tidak bisa, untuk terus berlatih demi mengikuti lomba triatlon yang paling berat di dunia? Bukan, bukan karena krisis paruh baya. Melainkan karena Hukum Moral yang Tinggi.</p>
<p>17. Hasil Investasi</p>
<p><em>Investasi dalam tim akan berkembang dengan berjalannya waktu</em></p>
<p>Pernahkah Anda tertipu untuk menerima sebuah pekerjaan? Morgan Wootten mengalaminya, dan akibatnya, ia telah mengubah kehidupan ribuan anak. Kehidupannya yang diwarnai dengan sikap memberi akan mengajari Anda segalanya yang perlu Anda ketahui tentang Hukum Hasil Investasi.</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/hukum-kerjasama-tim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepuluh Penghancur Karir</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/sepuluh-penghancur-karir/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/sepuluh-penghancur-karir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 07:04:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=254</guid>
		<description><![CDATA[ 
Mungkin Anda perlu waktu tiga bulan, bahkan setahun lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok. Celakanya, hanya dalam waktu beberapa hari atau minggu kita bisa kehilangan pekerjaan tadi. Lho, kok bisa?  Tentu saja bisa dan itu karena kesalahan yang Anda lakukan. Tanpa disadari, Anda menghancurkan karier sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mematikan karier dalam sekejap. 
 1. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/jenjang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-255" title="jenjang" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2009/01/jenjang-300x263.jpg" alt="" width="300" height="263" /></a>Mungkin Anda perlu waktu tiga bulan, bahkan setahun lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok. Celakanya, hanya dalam waktu beberapa hari atau minggu kita bisa kehilangan pekerjaan tadi. Lho, kok bisa?  Tentu saja bisa dan itu karena kesalahan yang Anda lakukan. Tanpa disadari, Anda menghancurkan karier sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mematikan karier dalam sekejap. <span id="more-254"></span></p>
<p> 1. KETIDAKMAMPUAN </p>
<p>Ketidakmampuan bisa berbuntut panjang. Penelitian menunjukkan, perusahaan selalu berpendapat, lebih baik punya pegawai yang secara konsisten mau belajar menambah keterampilannya daripada yang hanya berhenti pada satu kemampuan. Soalnya, pegawai tipe ini tidak akan berkembang dan cenderung tak mau bekerja sama.</p>
<p>2. SULIT KERJA TIM</p>
<p>Tidak ada seorang pun yang merasa senang hidup di samping seorang primadona. Perusahaan pasti akan kesulitan menghadapi karyawannya yang tak mau atau tak mampu bekerja dalam tim. Jadi, pastikan Anda bisa menjadi anggota tim kerja yang baik dan bisa bertindak sebagai makhluk sosial yang baik pula. </p>
<p>3. TAK TEPAT WAKTU</p>
<p>Jika pekerjaan harus selesai hari Rabu, misalnya, camkan di benak bahwa hari Kamis tidak akan pernah ada. Suatu organisasi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab, dipercaya. Tak menepati tenggat waktu bukan hanya mencerminkan seseorang yang tidak profesional, tapi juga berarti merusak bahkan menghancurkan jadwal kerja orang lain. Ujung-ujungnya, bos Anda yang bakal jadi sorotan. Jika sudah meiliki komitmen, tepati janji, apa pun yang terjadi. Hal ini sangat penting!</p>
<p> </p>
<p>4. MEMANFAATKAN FASILITAS PERUSAHAAN</p>
<p>Fasilitas perusahaan seperti e-mail dan telepon yang ada adalah untuk keperluan bisnis perusahaan. Gunakan telepon untuk keperluan pribadi sesingkat mungkin dan jangan menerima pangggilan telepon yang bersifat pribadi dengan waktu bicara yang lama. Juga jangan pernah menulis e-mail yang tidak ingin dibaca oleh bos karena banyak sistem yang dapat menyimpan kiriman-kiriman e-mail yang dihapus ke dalam satu berkas. Ingat pada orang-orang yang berjiwa kerdil yang mencari muka pada atasan. Lagipula, memanfaatkan e-mail milik perusahaan untuk keperluan pribadi, amat tidak diperbolehkan.</p>
<p>5. SOK EKSKLUSIF </p>
<p>Jangan mengisolasi diri atau bertingkah sok eksklusif. Kembangkan diri Anda dan jalin hubungan dengan rekan sekerja. Orang yang mempunyai jaringan yang efektif, akan memiliki jalur dan sumber informasi yang akurat sehingga dapat lebih mudah mencapai dan mengerti plotik organisasi di perusahaan tersebut. Penelitian membuktikan, para pegawai yang mempunyai jaringan yang luas, umumnya cenderung menjadi seorang yang dapat bekerja dalam tim, banyak memberi andil pada sukses tim kerja, memiliki nilai lebih, sehingga bisa lebih cepat mendapat promosi serta kompensasi yang tinggi.</p>
<p>6. MENJALIN ASMARA DI KANTOR </p>
<p>Walaupun Anda dan si dia berada di ruangan atau divisi terpisah, menjalin hubungan asmara di kantor bukan merupakan pilihan yang baik. Jika kebetulan terlibat percintaan dengan bos, begitu ada kesempatan promosi, naik jabatan, pasti akan mejadi gunjingan. Minimal, rekan sekerja mencibir karena anggapan Anda naik posisi gara-gara dekat dengan atasan. Yang juga tak mengeenakkan, hubungan asmara dengan atasan atau rekan sekerja yang putus di jalan, bisa membuat hubungan kerja jadi terganggu. Belum lagi harus menghadapi omongan rekan-rekan sejawat. </p>
<p>7. TAKUT AMBIL RISIKO </p>
<p>Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, maka orang lain pun tidak akan percaya pada Anda. Bersikaplah untuk dapat mengerjakan sesuatu dan mengambil risiko. Katakan dengan jujur, &#8220;saya belum pernah mengerjakan hal tersebut tapi saya akan berusaha mempelajari bagaimana caranya.&#8221; Jangan takut gagal atau khawatir membuat kesalahan. Jika keadaan menjadi kacau, segera ubah dan minta bantuan rekan atau atasan yang lebih jago. Pokoknya, coba untuk belajar pada semua kesempatan yang ada di setiap situasi. Ingat, lembur karena risiko kerja dapat membuat Anda menjadi lebih tertantang dan lebih cepat maju. </p>
<p>8. TANPA TUJUAN </p>
<p>Kegagalan bukanlah sesuatu keburukan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Yang buruk adaklah jika Anda tak punya tujuan untuk mencapai sesuatu. Jadi, susun rencana kegiatan sehari-hari untuk mencapai tujuan tadi. Percaya atau tidak, 80 persen dari keberhasilan yang diraih seseorang, 20 persennya datang dari aktivitas yang dilakukannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Atur mana yang menjadi prioritas dan fokuskan pada pekerjaan tersebut. </p>
<p>9. TERKESAN CEROBOH </p>
<p>Jujur atau tidak, penampilan selalu diperhitungkan. Orang selalu menilai semua penampilan serta tingkah laku Anda. Dengan kata lain, usahakan untuk tidak berpakaian seenaknya saat pergi ke kantor atau berpakaian yang tidak selayaknya dikenakan ke kantor. Berlakulah jujur, berbicara dengan bahasa yang baik, sopan, tidak menggunakan bahasa dialek atau daerah. Bersikaplah sebagai seorang yang kompeten, mempunyai komitmen dan perilaku yang baik.</p>
<p>10. TAK MENJAGA MULUT </p>
<p>Ruangan kecil, gang, tangga berjalan, bahkan kamar mandi kantor, semua itu bukan milik pribadi Anda. Berhati-hatilah jika sedang berbicara di tempat-tempat umum tadi dan perhatikan pada siapa Anda berbicara.  Jangan bercanda mengenai kepercayaan, suku, rahasia perusahaan, gosip teman sekantor, dan juga pribadi-pribadi para bos. Semua pembicaraan mengenai hal itu bukanlah sesuatu yang bebas, tidak gratis, terutama sangat berharga dan amat berarti bagi pekerjaan Anda! ***</p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/sepuluh-penghancur-karir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerakan Hemat Batam (2)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-2/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Nov 2008 10:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=245</guid>
		<description><![CDATA[ 
Berita-berita perusahaan bangkrut, pemutusan hubungan kerja secara massal makin gencar di media massa hari-hari ini. Berbagai lembaga keuangan seperti bank, kepayahan terancam krisis global. Kepanikan tidak akan memberi jalan keluar. Marilah kita berhemat, sebelum keadaan bertambah buruk.
 Sama seperti orang kebanyakan lainnya, awalnya saya tak begitu paham apa binatang krisis finansial ini. Kebetulan, dua tahun lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal"><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/simpanan-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-246" title="simpanan-1" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/simpanan-1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Berita-berita perusahaan bangkrut, pemutusan hubungan kerja secara massal makin gencar di media massa hari-hari ini. Berbagai lembaga keuangan seperti bank, kepayahan terancam krisis global. Kepanikan tidak akan memberi jalan keluar. Marilah kita berhemat, sebelum keadaan bertambah buruk.</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <span id="more-245"></span>Sama seperti orang kebanyakan lainnya, awalnya saya tak begitu paham apa binatang krisis finansial ini. Kebetulan, dua tahun lalu saya coba-coba investasi di reksadana. Konon, bunganya lebih tinggi dari deposito. Setiap bulan, saya dikirimkan laporan keuangan dan saldonya. Namun, sejak krisis terjadi, jangankan bunga, malah uang yang saya tanamkan jauh merosot. Oh, begini rasanya kena krisis. Untunglah nilainya relatif kecil. Padahal, saya sudah berencana menambah jumlah investasinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kembali ke soal hemat tadi,<span>  </span>zaman sekarang kita makin konsumtif. Kita membeli apa yang kita inginkan, bukan apa yang kita butuhkan. Paman saya pernah mengajarkan: Kalau kamu butuh sesuatu, usahakan mendapatkannya. Tapi, kalau hanya ingin, sebaiknya ditunda dulu. Caranya, saya disuruh membuat daftar kebutuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Nah, dari daftar itu, bisa diketahui, mana yang paling dibutuhkan. Kalau kita butuh punya rumah, mobi, motor, handphone terbaru, televisi LCD dan sebagainya, dengan membuat daftar ini, mungkin membeli barang yang tak perlu bisa ditunda. Yang jadi kebutuhan adalah rumah. Tapi, sering terjadi, begitu ada uang yang dibeli motor atau handphone dulu sehingga kapan uangnya cukup beli rumah. Satu hal yang menjadi catatan adalah: kita harus fokus. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Zaman sekarang, mungkin tidak semua anak-anak punya celengan. Sehingga dari uang receh yang dikumpulkan, lama-lama jadi banyak juga. Kita tentu ingat dengan pepatah lama.<span>  </span>Sedikit demi sedikit , lama-lama menjadi bukit, sehari selembar benang, lama-lama menjadi kain. Malah, membawa anak kecil ke mesin ATM yang terekam dalam memorinya adalah, ada mesin yang bisa memberikan uang secara cuma-cuma!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Dulu, waktu saya kecil, saya permah melihat ibu saya mengambil segenggam beras dari panci yang mau dimasak. Ketika saya tanya, ibu saya bilang, selagi ada jangan dimakan, kalau tidak ada barulah dimakan. Saya tidak mengerti maksudnya. Ternyata, ibu saya berhemat dan menabung beras! Jadi, pada saar mau memasak, segenggam beras itulah yang ditabung dalam tempat khusus. Kalau terjadi krisis keuangan keluarga, ada tabungan beras untuk dimakan. Masihkah ibu-ibu punya kebiasaan ini sekarang? Tentu tidak kalau yang memasak adalah pembantu rumah tangga, </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Saya membaca buku Financial Revolution karya Tung Desem Waringin yang pernah menaburkan uang Rp100 juta dari pesawat terbang itu. Ia mengajarkan, 20 persen dari penghasilan kita, harus diinvestasikan, lalu diinvestasikan lagi. Investasi yang paling mudah adalah menabung. Dalam pikiran saya, kalau gaji kita Rp1 juta, sebanyak Rp200 ribu harus ditabung. Setahun sudah Rp2,4 juta (tanpa bunga) dan 40 bulan Anda sudah bisa punya deposito di bank manapun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Seorang teman berkata kepada saya. Ia mau meminjam uang ke bank, lalu uang pinjaman itu ditabung. Lho, kok bisa? Bukankah bunga kredit jauh lebih besar daripada bunga tabungan? ’’Saya tak pernah bisa menabung. Jadi, saya harus memaksa diri saya dengan cara seperti itu,’’ katanya. Ini hanya contoh kecil betapa kita memang tidak memenej finansial kita secara baik. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Sebagian pejabat kita juga tak lebih baik. Sebab, Batam seperti namanya, bisa diartikan Banyak TAMu sehingga perlu biaya ekstra menjamu tamu-tamu yang datang agar kita dianggap tuan rumah yang baik. Akibatnya, tak jarang banyak pengeluaran yang berada diluar pos anggaran yang menjadi kewenangannya. Maka, tidak heran kalau ada biaya-biaya tertentu yang di mark-up agar mulus saat diperiksa BPK, BPKP atau KPK!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Lalu, bagaimana caranya agar hidup hemat menjadi sebuah gerakan bersama?<span>  </span>Kalau mau formal, kita minta Wali Kota yang mencetuskan gerakan ini. Hemat listrik, akan meringankan warga bayar rekening, dan membantu PLN yang kekurangan daya. Hemat air juga begitu sehingga bisa membantu warga yang belum tersambung air bersih. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Kalaupun tak bisa mewujudkan gerakan hemat secara menyeluruh di Batam, marilah kita berhemat untuk diri kita sendiri. Tulisan yang saya kutip dari danareksa.com ini mungkin bisa membantu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p><strong><span lang="SV">Tips Menabung dengan Mudah</span></strong></p>
<p><span lang="SV">Anda mungkin menemukan kesulitan untuk mulai menabung, padahal Anda punya penghasilan yang menurut Andapun cukup dan Anda bahkan tidak mempunyai hutang dimanapun. Jadi dimana masalahnya ? Masalahnya adalah Anda terbiasa menghabiskan seluruh uang Anda setiap bulannya dan Anda tidak sanggup untuk merubah kebiasaan tersebut.</span></p>
<p><span lang="SV">Berikut ini adalah tips-tips menabung dengan mudah , yang dapat membantu Anda untuk menyimpan uang dengan lebih baik.</span></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Pay your self first.<br />
Seringkali kesulitan menabung bukan karena tidak adanya uang, tetapi lebih      tepatnya karena tidak ada lagi sisa penghasilan yang bisa ditabung. Jadi      mengapa harus menunggu ada sisa uang terlebih dahulu, toh selama ini dari      penghasilan anda juga jarang ada sisanya. Karena itu rubahlah kebiasaan      Anda dan mulailah dengan membayar tabungan Anda terlebih dahulu sebelum      anda membayar kebutuhan hidup lainnya. Dengan demikian Anda tidak perlu      khawatir lagi apakah diakhir bulan ini Anda masih punya uang atau tidak      untuk ditabung</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Jadikan tabungan sebagai      pos pengeluaran.<br />
Pada tiap bulannya sebelum Anda lakukan pembayaran untuk pengeluaran      apapun maka bayarlah sejumlah tertentu untuk pengeluaran tabungan . Jadi      masukkan pos tabungan ke dalam pos pengeluaran rutin tiap bulan. Anggaplah      menabung sebagai pengeluaran rutin Anda sama dengan membayar cicilan      hutang, atau biaya rumah tangga lainnya seperti tagihan listrik, PAM,      makanan , transportasi dan lain-lain.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Jangan remehkan uang receh<br />
Jangan pernah membayar dengan uang logam . Berbelanjalah hanya dengan uang      kertas saja. Jika Anda dapat kembalian uang logam , masukanlah uang logam      tersebut ke dalam celengan ( celengan ayam atau kaleng ). Jangan dibuka      sebelum penuh, jika sudah penuh masukkanlah ke dalam rekening Anda di      Bank. Besarnya uang logam yang harus masuk celengan dapat Anda tentukan      sendiri misalnya uang logam senilai Rp 100 dan Rp 500 ,- atau hanya Rp      1000,- saja atau semuanya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Naikkan setoran tabungan      tiap kali penghasilan anda naik<br />
Setiap kali Anda mendapat uang lebih seperti bonus tahunan, atau THR maka      sisihkanlah terlebih dahulu untuk menambah tabungan Anda. Begitu juga jika      gaji Anda naik maka naikkan juga jumlah setoran rutin tabungan anda.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Miliki rekening khusus      tabungan<br />
Kesulitan orang pada umumnya dalam mengelola keuangan sehari-hari      disebabkan karena tidak adanya kejelasan antara pengeluaran untuk keluarga      , mana pengeluaran untuk pribadi dan mana pengeluaran untuk investasi.      Karena itu sebuah keluarga sebaiknya memiliki satu rekening khusus yang      digunakan untuk membiayai pos-pos pengeluaran keluarga terpisah dari      rekening pribadi. Sedangkan rekening khusus tabungan sebaiknya juga dibuat      terpisah agar akumulasi dana yang terkumpul untuk tujuan keuangan yang      ingin dicapai tidak terpakai untuk pengeluaran lain.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p><span lang="SV"></p>
<p></span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gerakan Hemat Batam (1)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-1/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 09:37:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[
Krisis membuat kita miris. Dampaknya sudah terasa secara psikologis. Kendati sampai tulisan ini dibuat belum ada pemutusan hubungan kerja di Batam, namun krisis global ini dengan mudah menggerus sendi sendi ekonomi kita.  Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
 
Menurut hemat saya, yang harus kita lakukan adalah berhemat. Hemat dalam apa saja. Hemat listrik, hemat air bersih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="center">
<div style="text-align: left;">Krisis membuat kita miris. Dampaknya sudah terasa secara psikologis. Kendati sampai tulisan ini dibuat belum ada pemutusan hubungan kerja di Batam, namun krisis global ini dengan mudah menggerus sendi sendi ekonomi kita.<span>  </span>Lalu, apa yang bisa kita lakukan?</div>
<p> </p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span id="more-244"></span>Menurut hemat saya, yang harus kita lakukan adalah berhemat. Hemat dalam apa saja. Hemat listrik, hemat air bersih, hemat belanja dan apa saja yang bisa dihemat. Sedari kecil, kita sering mendengar pepatah, hemat pangkal kaya. Masihkan pepatah lama ini relevan dan berguna?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Warga Batam ’terbiasa’ hidup dengan biaya mahal. Sebab, mata uang kedua di kota pulau ini adalah Dolar Singapura. Sepuluh tahun lalu, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Singapura hanya Rp1.800 . Kini, saat krisis tiba menjadi Rp7.800. atau naik 4,3 kali lipat.<span>  </span>Bisa dibayangkan, bagaimana harus membayar sewa ruko atau transaksi bisnis dengan mata uang negara tetangga itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Sejak krisis moneter tahun 1997, pedagang dan pramuniaga terbiasa mengambil kalkulator dan menghitung harga barang berdasarkan kurs yang setiap saat berubah alias kurs jalan. Beberapa pengusaha lainnya—tidak hanya pedagang valuta asing—punya teletext, untuk memonitor pergerakan mata uang dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Sadar atau tidak, warga Batam memang cenderung konsumtif. Selain godaan barang-barang impor dan bermerek, sebagian terbiasa belanja ke Singapura. Padahal, di Orchard Road masih juga suka memilih barang-barang diskon dan cuci gudang. Lalu, bertemu pakaian made in Indonesia. Selain itu, mal-mal terus bertambah. Tak cukup uang beli yang baru? Bisa berburu barang-barang seken. Biar bekas tapi bermerek punya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Tak percaya? Perhatikan saja kalau ada orang yang baru pindah ke Batam. Kalau sebelumnya dandanannya terkesan kuno dan kampungan, tak lama kemudian, bisa berganti gaya. Pakaian kinclong, jam tangan dan sepatu berkilat, dan tentu saja kalau balik kampung, tampak makin gaya dan keren. Kalau saya? Ya, sama saja. Belanja ke Singapura, beli baju diskon merek Montagut, buatan Paris dengan harga miring. He..he..Soalnya, harga biasa tak terjangkau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Celakanya, sanak saudara, handai tolan di kampung beranggapan (mungkin karena penampilan berubah) mereka yang bekerja di Batam hidupnya sudah enak dan jadi orang kaya. Maka, mengalunlah lagu permintaan. Minta barang elektroniklah, barang imporlah, sampai bantuan uang. Padahal, taruhlah gajinya tinggi, namun biaya hidup di Batam juga tinggi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Ketika warga Batam pulang kampung, biasanya harga barang-barang di kota asalnya, terasa lebih murah. Akibatnya, ya main borong sehingga kesan orang Batam banyak uang, beredar dari mulut ke mulut. Ditambah lagi kalau orang tersebut sesumbar di kampungnya bahwa Batam dekat dengan Singapura, barang impor murah dan gampang cari kerja. Inilah yang antara lain menjadi promosi ampuh sehingga orang datang berbondong-bondong ke Batam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Tidak sedikit pula, warga yang jauh-jauh datang ke Batam, harus mengirim uang ke kampung halaman. Membantu orang tua, saudara dan keluarga. Padahal, pada saat ia baru bekerja, tentulah penghasilannya pas-pasan dengan ukuran Upah Minimum Regional yang besarnya Rp960 ribu per bulan. Nah, hitung saja kalau biaya kos Rp250 ribu, transportasi Rp200 ribu, makan Rp450 ribu, maka gajinya habis untuk biaya satu orang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Bagi pekerja di Mukakuning, selain gaji mereka berharap dapat overtime alias kerja lembur. ’’Sejak krisis global ini, semua pekerja di Mukakuning tak ada OT tapi masih bekerja meneruskan order tahun ini,’’ kata seorang pekerja kepada saya. Kalau dihitung-hitung, jauh lebih bisa berhemat dan menyimpan uang seorang pembantu rumah tangga di Batam dibandingkan mereka yang bekerja di kawasan industri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Tak percaya? Gaji seorang pekerja taruhlah Rp1 juta sebulan. Sementara, biaya harian yang harus dikeluarkannya, terutama yang tidak tinggal di dormitori, sehingga susah untuk menabung. Sedangkan seorang pembantu rumah tangga, begitu dia diambil majikan dari yayasan penyalur, dibayar Rp1,2 juta sebagai ganti ongkos, lalu gajinya berkisar Rp450 ribu hingga Rp600 ribu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Makan dan minum, tempat tinggal jelas sudah ditanggung majikan. Malah, kalau beruntung dapat majikan baik, segala kebutuhan tetek bengek seperti sabun, sampo, pembalut hingga pakaian, dibelikan sang majikan. Kalau pembantu tersebut bisa berhemat, dengan gaji Rp500 ribu ia bisa menyimpan paling tidak Rp5 juta setahun. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Kita tidak tahu sedalam apa krisis global ini, dan sejauh mana dampaknya. Seorang pengusaha mengatakan kepada saya, krisis ini bakal lebih parah tiga kali dibandingkan resesi dunia yang pernah terjadi 50 tahun lalu. Memang, bagi orang awam tak terlalu terasa pada awalnya. Karena krisis ini adalah krisis orang kaya yang bermain saham di lantai bursa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Yang bisa kita lakukan adalah berhemat. Ya, sekali lagi berhemat dan hidup lebih efisien. Setidaknya, ketika dampak krisis itu sudah sampai di depan pintu rumah kita, kita jauh lebih siap. Bagaimana caranya? Ikuti tulisan selanjutnya. ***</span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/gerakan-hemat-batam-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merasa Bisa, Bisa Merasa</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/merasa-bisa-bisa-merasa/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/merasa-bisa-bisa-merasa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 07:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[Belajar tidak selalu dari orang pintar. Bisa jadi, pengetahuan baru kita dapatkan dari orang yang baru kenal, orang-orang sederhana dan biasa-biasa saja. Tapi, dari mereka banyak mutiara kehidupan yang bisa diperoleh. Saya mencatat beberapa pelajaran dari orang-orang biasa, yang ternyata relevan dengan kondisi kekinian. Sementara, bagi sebagian orang, ini dianggap tidak keren, kuno dan djadoel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Belajar tidak selalu dari orang pintar. Bisa jadi, pengetahuan baru kita dapatkan dari orang yang baru kenal, orang-orang sederhana dan biasa-biasa saja. Tapi, dari mereka banyak mutiara kehidupan yang bisa diperoleh. Saya mencatat beberapa pelajaran dari orang-orang biasa, yang ternyata relevan dengan kondisi kekinian. Sementara, bagi sebagian orang, ini dianggap tidak keren, kuno dan djadoel alias jaman dulu. <span id="more-234"></span></p>
<p>Namanya Katidjan. lelaki separo baya itu senang dipanggil mbah. Saya mengenalnya saat lengan saya sakit bukan kepalang. Sudah enam tukang urut yang dimintai bantuan. Sampai akhirnya, saya dibawa teman ke rumah mbah Katidjan. Ia mengaku tukang pijat syaraf dengan pengobatan yang lain daripada yang lain. Saya dipijat dari kaki hingga kepala. Lalu, sebelah kaki diangkat, dan kaki Mbah itu mendarat di tubuh saya. Krakk..krak, tulang belulang saya bunyi semua. Setelah itu, penat hilang dan terasa lega. </p>
<p>    Lama-lama, saya jadi akrab dengan mbah Katidjan. karena sama-sama perokok, ia menyarankan agar saya minum jamu Anik. Saya baru dengar, jamu apa itu? Oalah&#8230;ternyata jamu Anti Nikotin, produksi Djago. Saat ngobrol-ngobrol itulah, mbah Katidjan mengatakan, sekarang banyak orang yang <em>rumongso biso, biso rumangsani. </em>Saya nggak ngerti artinya. Melihat saya bengong, Mbah Katidjan menjelaskan, itu artinya banyak orang yang merasa bisa, tapi tidak banyak yang bisa merasa. Saya makin bingung. </p>
<p>  Orang yang merasa bisa selalu merasa dirinya hebat, punya kemampuan lebih, merasa bisa jadi pemimpin seperti orang lain. Rasa percaya diri berlebihan dan cenderung sombong. Kadang-kadang, mereka merasa bisa sekedar menutupi kelemahannya. Ada yang merasa bisa jadi pemimpin, jadi manajer, jadi wali kota, wakil rakyat dan bahkan presiden. </p>
<p>Merasa bisa jadi anggota parlemen, misalnya. Entah berapa banyak calon legislatif yang merasa bisa dan merasa akan terpilih saat pemilu nanti. Merasa dikenal oleh calon pemilihnya, merasa bisa mewakili suara rakyat. Orang-orang yang merasa bisa ini, bahkan tidak segan-segan membicarakan kemampuannya jika ia menduduki posisi yang diinginkannya di antara sesamanya. Tentu sesama yang merasa bisa juga. </p>
<p>  Sebaliknya, orang yang bisa merasa, akan menunjukkan sikap empati dan bisa merasakan, tidak mudah menjadi pemimpin, menjadi manajer, menjadi wali kota dan presiden. Sebab, semua jabatan itu memiliki tingkat kesulitan sendiri-sendiri, tantangan yang berbeda dan sebagainya. Orang yang bisa merasa, akan lebih rendah hati (bukan rendah diri) tidak selalu melihat ke atas, tetapi juga ke samping dan ke bawah. </p>
<p>Orang yang merasa bisa, kadang terjebak dengan pikirannya sendiri dan memandang orang lain secara streotype. Bisa dari bentuk tubuh sampai ke suku bangsa. Sedangkan orang yang bisa merasa, mampu menempatkan diri dalam perspektif orang lain dan memiliki empati terhadap orang lain. Selalu ada pertanyaan dan dialog dengan dirinya sendiri,&#8221; kalaulah saya jadi dia, apakah saya sanggup memikul beban seperti dia? dan sebagainya. </p>
<p>Selain Mbah Katidjan, saya sering medapat masukan, nasehat, dan kata-kata yang memberi motivasi. Seorang lelaki tua yang saya tidak kenal namanya, pernah bercerita tentang kisah orang yang mencari sesuatu dalam hidupnya, ibarat mencari air sebagai sumber kehidupan. Ia mengisahkan, ada orang yang mencari air, lalu menggali tanah berharap mendapatkan air. </p>
<p>&#8221;Ia menggali tanah dengan bersemangat dan sekuat tenaga. Namun, setelah menggali sedalam satu meter, air yang dicari tak ditemukan juga sehingga ia pindah dan menggali lubang yang lain. Satu meter digali, air tak ada, begitu seterusnya. Ia pindah-pindah dari satu lubang ke lubang yang lain. Tapi, air yang dicarinya tidak kunjung ditemukan, dan sudah banyak lobang yang digali,&#8221; kata pak tua itu. </p>
<p>&#8221;Kalau ibaratnya kamu mencari air, cobalah pakai apa yang diajarkan orang-orang tua dulu. Yakin, tekun, dan sabar. Cukup satu lobang saja yang digali, cepat atau lambat, air yang dicari akan ditemukan. Nah, seperti itu juga hal-hal lain dalam kehidupan ini,&#8221; katanya. Lama saya mencerna kata-katanya. Sampai akhirnya saya temukan satu kata mengartikan perumpamaan itu. Yakni: fokus. </p>
<p>Saya mengibaratkan seperti kamera. Sehebat apapun obyek fotonya, secanggih apapun kameranya, tapi kalau tangan sang fotografer bergoyang-goyang, fotonya akan kabur dan hasilnya tidak menarik dipandang mata. Banyak orang karena tidak fokus, merasa semua bisa, akhirnya tak satupun upayanya berhasil dan mendulang sukses. </p>
<p>Soal kesabaran, Dahlan Iskan juga punya perumpamaan yang menarik. &#8221;Orang yang sabar itu, seperti sekolah dan ada tahapannya. Kelas satu, kelas dua, kelas tiga dan seterusnya. Tapi, kalau orang yang tidak sabar, dari kelas satu maunya loncat ke kelas tiga. Tapi, kalau Anda kelas satu terus, keterlaluan sabarnya,&#8221; katanya. </p>
<p>Pak Dahlan juga pernah berkata, dalam perusahaan, ada tiga orang yang tidak boleh dilawan. Pertama, atasan. Kedua, orang kaya. Dan ketiga, orang gila. &#8221;Yang lebih celaka lagi, kalau atasan Anda, sudahlah kaya, gila pula,&#8221; katanya. </p>
<p>banyak sekali mutiara kehidupan di sekitar kita. Tidak hanya dari buku teks, tapi ada dimana-mana. Seperti kata pepatah, alam terkembang menjadi guru. Sayang, kita tak lagi banyak belajar kepada alam. Apa yang saya sampaikan ini, hanya sekedar berbagi. Saya yakin, Anda punya banyak kisah inspiratif dan mutiara kehidupan. </p>
<p>Saya hanya bisa berkata, saya tidak punya uang untuk dibagikan-bagikan secara cuma-cuma kepada Anda. Jadi, saya beri nasehat saja. Mudah-mudahan berguna. Jangan sampai seperti teman saya ini. Teman saya yang sudah bekerja sambil kuliah ini, malah pernah berkata lebih kasar lagi, meski disampaikan secara bergurau. &#8221;Daripada kamu aku beri uang dan akhirnya jadi berak, lebih baik aku beri berak, siapa tahu bisa jadi uang setelah diolah jadi pupuk,&#8221; katanya tertawa ngakak. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/merasa-bisa-bisa-merasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

