<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Socrates on New Media &#187; feature</title>
	<atom:link href="http://thesocratesmedia.com/category/feature/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://thesocratesmedia.com</link>
	<description>The Journey of My Life</description>
	<lastBuildDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gelper: Judi Gaya Baru Ala Batam</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 09:14:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=356</guid>
		<description><![CDATA[WAJAH lelaki itu mengeras. Matanya nanar menatap mesin poker itu. Ia mengaku sudah kalah lebih satu juta.Tangannya memukul tombol mesin judi itu keras-keras, ketika mengadu angka besar atau kecil, meleset. Lelaki supir taksi gelap ini, salah satu di antara  penjudi yang ketagihan  mengadu nasib di meja judi yang bernama gelanggang permainan alias gelper yang belakangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-357" title="RAZIA TEMPAT JUDI" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/12/Judi-300x186.jpg" alt="RAZIA TEMPAT JUDI" width="300" height="186" />WAJAH lelaki itu mengeras. Matanya nanar menatap mesin poker itu. Ia mengaku sudah kalah lebih satu juta.Tangannya memukul tombol mesin judi itu keras-keras, ketika mengadu angka besar atau kecil, meleset. Lelaki supir taksi gelap ini, salah satu di antara  penjudi yang ketagihan  mengadu nasib di meja judi yang bernama gelanggang permainan alias gelper yang belakangan marak di Batam.<span id="more-356"></span></p>
<p>Di tempat lain, seorang wanita muda dengan penampilan seksi, juga asyik menekan tombol mesin judi di sebuahmal terkenal. Yang membuat miris, putrinya yang berusia sekitar 2 tahun, juga ikut menemani ibunya main judi. Sesekali, bocah itu merengek dan minta disuapi ibunya, sambil terus bermain poker.  Bocah itu terheran-heran, melihat ibunya memelototi layar bergambar aneka buah-buahan itu.</p>
<p>Memang, puluhan arena Gelper yang tersebar di mal, hotel hingga ruko di Batam, menyediakan berbagai jenis permainan. Antara lain, poker yakni mesin yang menyediakan angka satu hingga tiga belas dan bisa diadu dengan pilihan besar atau kecil. Pemain membeli koin yang bernilai Rp20 satu koin. Dengan uang Rp100 ribu, pemain mendapat 5.000 koin.</p>
<p>Rata-rata, pemain menghabiskan Rp200 ribu hingga Rp500 ribu mengadu nasib di mesin poker. Bagi yang beruntung, bisa mendapatkan 25.000 koin atau hadiah tertinggi 5 joker yang mendapat 1.200 koin. Nah, koin ini ditukarkan berupa tiket yang bisa ditukarkan dengan uang. Yang menukar 25 ribu koin mendapat Rp500 ribu dan yang menang 5 joker mendapat Rp 2,4 juta.  Tapi, sangat jarang pemain mendapatkan hadiah tertinggi ini, sehingga mereka rata-rata, ya kalah.</p>
<p>Permainan lainnya adalah Doraemon. Bola sebesar kelereng yang diputar dan masuk ke lubang yang berisi angka satu hingga dua belas dan dua angka tiga belas atau bintang. Pemain yang memasang 100 koin, akan mendapat 12 kali lipat atau menjadi 1.200 koin. Permainan Doraemon bisa menyedot uang pemain hingga jutaan. Batas kemenangan pemain jika kreditnya yang ditukar tiket itu mencapai nilai Rp10 juta. Namun, jarang pemain bisa menang dan lebih banyak menelan kekalahan.</p>
<p>Jenis permainan lain misalnya tebakan angka di mesin jackpot berupa bola yang berputar dan masuk ke lubang berisi angka-angka dari satu hingga dua belas. Yang juga cukup banyak adalah mesin jackpot berupa gambar binatang atau buah-buahan. Dengan membeli koin seharga Rp100 ribu, mendapat kredit 5.000 koin, lalu tombol mesin jackpot itu dijepit dengan sedotan plastic sehingga jalan sendiri. Jika sembilan kotak di mesin itu gambarnya belalang semua, pemain dapat Rp500 ribu, kalau kupu-kupu dapat Rp1,4 juta. Hadiah dan bonus tertinggi jika gambarnya bunga mawar merah atau biru yang mendapat hingga Rp4 juta.</p>
<p>Kalaupun ada pemain yang menang,  dari mesin-mesin itu, keluarlah tiket seperti di tempat permainan anak-anak Time Zone, lalu dihitung wasit jumlahnya dan digiling dengan mesin penghancur tiket. Kepada pemain diberikan secarik kertas yang disebut cek, bertuliskan berapa jumlah tiketnya dan ditandatangani, Nah, cek itulah yang ditukarkan dengan uang, di tempat-tempat tertentu. Pokoknya, agak jauh dari lokasi permainan untuk menghindari razia. Penukaran uang itu dilakukan sembunyi-sembunyi di tempat parker atau di sudut lokasi Gelper yang sepi. Ada pula pemain mendapat hadiah berupa barang seperti handphone, blackberry atau handycam, lalu ada seseorang yang menampung dan membeli di sekitar lokasi kepada pemain.</p>
<p>Setiap permainan, dibawah pengawasan seorang koordinator dan  pemain dilayani beberapa orang yang disebut ‘wasit’ yang bertugas memberikan koin yang dibeli, memasukkan koin ke mesin dan melayani permintaan minuman dan makanan serta rokok. Untuk menghindari yang bukan pemain meminta rokok atau minuman, setiap pembelian koin, pemain mendapat kupon yang dalam jumlah tertentu bisa ditukarkan dengan rokok, makanan atau minuman keras.  Di setiap Gelper, karyawannya ada yang bertugas sebagai kasir, koordinator, keamanan, wasit, dan cleaning service.</p>
<p>‘’Wasit-wasit ini dibayar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu perhari. Kalau libur atau tak masuk kerja karena sakit, ya tidak dapat apa-apa,’’ cerita seorang wasit. Untuk mendapat tambahan pendapatan, para wasit ini menunggu kalau ada pemain yang berbaik hati memberi sejumlah uang sebagai tips jika menang. Karena wasit dilarang ikut main, tidak heran, kadang ada ‘’kerjasama’’ antara wasit dan pemain. Caranya, wasit memberi tahu pemain tertentu mana mesin yang pemainnya sudah kalah banyak dan berhenti. Biasanya, mesin yang sudah menyedot koin banyak, bakal ‘’muntah’’ sehingga pemain baru lebih besar kemungkinan menang.</p>
<p>Pemain yang kalah, meninggalkan gelanggang permainan dengan wajah merah padam, menggerutu dan satu dua orang marah-marah. Yang menang, biasanya mendapatkan teriakan hose. Entah apa artinya hose, mungkin dari istilah full house atau kombinasi kartu tertentu dalam permainan judi jenis poker. Ketika pemain menang dan mendapatkan koin dalam jumlah tertentu, teriakan hose akan membahana ke segala sudut ruangan gelper.</p>
<p>Kalau ada pemain yang menang, maka dari mesin-mesin itu, keluar berlembar-lembar tiket, sesuai dengan jumlah koin yang didapat. Tiket tersebut dilipat lalu dihitung wasit dan diserahkan ke karyawan yang bertugas menghitung ulang dan menghancurkan tiket tersebut di mesin penghancur kertas. Istilahnya, tiketnya ‘’digiling’’ alias dipotong-potong mesin. Lalu, petugas di ruang kasir itu lalu memberikan selembar kertas bertuliskan jumlah tiket dan ditandatangani. Kertas kecil itu disebut cek, yang bisa ditukarkan dengan uang. Agar tidak terkesan tiket bisa diuangkan, maka pemain harus mencari seseorang yang bertindak sebagai juru bayar sesuai jumlah kemenangan.</p>
<p>Tapi, harus sembunyi-sembunyi. Sang kasir atau juru bayar tersebut, biasanya menunggu di suatu tempat tertentu, seperti areal parker atau sudut-sudut ruangan yang gelap, baru membayarkan sejumlah uang, sesuai hasil perhitungan tiket pemain yang menang dan sudah dihancurkan. Kenapa harus sembunyi-sembunyi? ‘’Ah, biasalah bang. Kalau tidak kita bisa kena razia,’’ kata juru bayar itu, beralasan.</p>
<p style="text-align: center;">*****</p>
<p>Begitulah. Sejak dua tahun terakhir, gelanggang permainan atau Gelper, marak di Batam, sejak Peraturan Daerah (Perda) soal gelper ini diketok anggota dewan Kota Batam. Pejabat-pejabat di Batam, seperti Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Kepala Dinas Pariwisata Yusfa Hendri, mati-matian menolak anggapan bahwa Gelper itu judi.  Lalu, kalau bukan judi, kenapa digerebek dan disegel polisi?</p>
<p>Gelper mulai beroperasi saat Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam dijabat Guntur Sakti. ‘’Secara konsep, Gelper bukan judi, tetapi secara praktek, iya,’’ kata Guntur. Ia meneken  14 izin Gelper dari 16 izin yang sudah ada sehingga menjadi 40 izin Gelper. Namun, izin Gelper terus bertambah menjadi 62 lebih saat Guntur Sakti digantikan Yusfa Hendri sebagai Kadis Pariwisata. Kenyataannya, Gelper terus merambah ke berbagai sudut kota dan yang beroperasi mencapai 74 Gelanggang Permainan.  Menurut Guntur Sakti, jumlah tenaga kerja yang tertampung di gelanggang permainan ini mencapai 480 orang Jumlah ini terus bertambah seiring makin maraknya Gelper.  Berbeda dengan Guntur,Yusfa malah ngotot menyebutkan Gelper bukan judi.</p>
<p>Aturan main yang mengatur soal Gelper memang terkesan abu-abu alias samar-samar dan tak jelas. Yang jadi dasarnya adalah Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 tahun 2003 perubahan atas Perda nomor 17 tahun 2001 tentang kepariwisataan. Perda ini dikenal dengan sebutan Perda Kawasan Wisata Terpadu Ekslusif (KWTE) yang diterbitkan tahun 2002 silam.</p>
<p>Ide membangun kawasan khusus yang dinamakan Kawasan Wisata Terpadu Eksklusif (KWTE),  bertujuan melokalisasi berbagai jenis hiburan dalam sebuah wilayah yang jauh dari hunian penduduk. Gagasan ini muncul karena di kota Batam sejak 1990 jenis hiburan seperti karaoke, diskotek, mandi uap, dan panti pijat mulai marak, termasuk perjudian. Pemko Batam lalu menyodorkan draf Peraturan Daerah (Perda) tentang Kepariwisataan dan disetujui DPRD Batam tanggal 8 Oktober 2001. Dalam Bab XV perda itu disebutkan, KWTE hanya ditujukan untuk wisatawan mancanegara dan ditempatkan di kawasan khusus dan jauh dari permukiman.</p>
<p>KWTE baru dapat dilaksanakan jika pemkot telah menertibkan segala jenis hiburan dan perjudian yang tidak berizin di Batam. Prakteknya,perda belum disahkan, dan belum pula digelar penertiban bisnis judi, Pemkot Batam sudah menunjuk perusahaan pengelola perjudian itu, setelah  mengantongi izin prinsip dan izin lokasi KWTE sementara. Dalam Nota kesepakatan (<em>memorandum of agreement</em> &#8211;MoA), yang diteken Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Batam, Tering Bay Resort, Nongsa Point, ditetapkan sebagai lokasi sementara KWTE. Dalam Pasal 3 ayat 2 MoA itu disebutkanlah jenis-jenis permainan eksklusif untuk kawasan terpadu itu, seperti <em>roullete, baccarat, craps, ji si kie, pay kyu, black jack</em>, dan <em>poker</em>, yang tidak lain adalah jenis perjudian.</p>
<p>Perda kontroversial itulah yang diubah dan diutak-atik kembali. Namun, dalam Perda nomor 3 tahun 2003 KWTE tidak lagi disebutkan diperuntukkan khusus bagi wisatawan mancanegara, tidak seperti dalam Perda nomor 17 tahun 2001 yang telah direvisi. Disebutkan, Gelper atau gelanggang permainan mekanik/elektronik adalah suatu usaha yang menyediakan tempat, peralatan/mesin bola dan fasilitas untuk bermain ketangkasan yang bersifat hiburan bagi anak-anak dan orang dewasa serta dapat menyediakan restoran / rumah makan. Juga diatur dalam Perda tersebut  mencegah setiap orang untuk melakukan perjudian dan perbuatan yang melanggar kesusilaan serta tidak bertentangan dengan norma-norma keagamaan.</p>
<p>Dari Gelper, Pemko Batam berharap mendapat pemasukan berupa retribusi. Untuk mengurus Izin Prinsip Usaha Pariwisata (IPUP) dan Izin Tetap Usaha Pariwisata (ITUP), pengusaha Gelper membayar Rp50.000 per mesin. Begitu juga saat mendaftar ulang. Dinas Pariwisata dan Budaya sebagai pelaksana pemungut retribusi diberikan uang perangsang sebesar 5 % (lima persen) dari realisasi penerimaan retribusi yang disetorkan ke Kas Daerah, yang pengaturannya ditetapkan dengan Keputusan Walikota.</p>
<p>Sejak tahun 2009, Pemko Batam menggagas Visit Batam 2010 untuk menggenjot pendapatan dari sektor pariwisata.  Harap dicatat, kunjungan wisatawan ke Batam nomor tiga terbanyak di Indonesia. Itu pun jumlahnya hanya sekitar 1,3 juta orang per tahun. Bandingkan dengan Singapura yang mencapai 27 juta pertahun. Anehnya, dalam Perda yang sudah direvisi tiga kali itu, belakangan wisatawan mancanegara tidak lagi menjadi prioritas.</p>
<p>Nah, Gelper dinilai sebagai salah satu upaya mendongkrak kunjungan wisatawan itu untuk menambah pundi-pundi Pemko bernama Pendapatan Asli Daerah (PAD). Agar legal, aturannya pun dibuat. Maka muncullah Peraturan Daerah (Perda) Kota Batam Nomor 17 Tahun 2001 yang direvisi dengan Perda Nomor 3 Tahun 2003. Di seluruh Kepulauan Riau, total jumlah Gelper sebanyak 81 lokasi. Sebanyak 74 di Batam, 5 di Tanjungpinang dan 2 di Karimun.</p>
<p>Syarat lain,  tidak diperbolehkan penukaran hadiah berupa uang di arena Gelper dan arenanya harus berlokasi di tempat terbuka seperti mal, plaza dan hotel atau kawasan tertentu yang telah ditetapkan Pemko Batam.   Jika ada yang berjudi? ‘’Itu kewenangan polisi sebagai penyidik,’’ kata pejabat Pemko Batam, enteng.  Jam operasi Gelper diatur dari pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 malam. Hal lainnya adalah semua mesin gelper yang berada di arena gelper harus diverifikasi dan diregistrasi oleh Disparbud Kota Batam sebagai pemberi izin usaha.</p>
<p>Dari penelusuran di lapangan, dalam tempo singkat izin Gelper terus bertambah. Jika semula hanya ada 14 pemegang izin semasa Kadis Pariwisata dijabat Guntur Sakti, begitu ia digantikan Yusfa Hendri, izin Gelper seperti diobral, melejit menjadi 40 Gelper dan terakhir menjadi 74 Gelper. ‘’Sebelumnya, izin Gelper cukup ketat, dan harus menemui pejabat kepolisian dulu. Eh, belakangan main kasih saja. Satu tanda tangan izin Gelper membayar Rp30 juta hingga Rp 40 juta, sehingga jumlah Gelper tidak terkendali,’’ beber seorang pengusaha Gelper.</p>
<p>Meski di sejumlah Gelper dipasang tulisan hitam dengan kertas putih dilarang berjudi, polisi tetap menganggap bahwa Gelper adalah perjudian dengan modus operandi Gelanggang Permainan. Kombes Pos Napoleon Bonaparte dari Mabes Polri setelah menggerebek Gelper di Hotel Formosa Batam menyebutkan,’’Mabes Polri tidak hanya menggerebek Sky Zone, tapi semua Gelper. Kami menyita mesin dan uang Rp37 juta lebih, serta beberapa orang saksi,’’ katanya kepada wartawan.</p>
<p>Pajak Gelper juga jauh dari harapan. Dari puluhan Gelper hanya tiga saja yang membayar pajak.  Sebanyak 15 pengusaha tidak pernah membayar pajak.  Gelper yang mengoperasikan 100 hingga 300 mesin, omsetnya mencapai ratusan juta. Pengusaha Gelper wajib menyetor 20 persen dari total omsetnya ke kas Pemko Batam. Konon, pengusaha Gelper ‘’bekerja sama’’ dengan oknum Dinas Pariwisata, mengatur pemberian upeti terhadap oknum aparat dan oknum wartawan, agar tidak rebut-ribut dan mengusik keberadaan Gelper di setiap sudut kota.</p>
<p>Menurut seorang pejabat teras Pemko Batam, Perda yang mengatur soal Gelper ini, sebenarnya mengadopsi dan merevisi Perda Kawasan Wisata Terpadu Ekslusif (KWTE) yang pernah dibuat sebelumnya. Namun,  Perda tersebut yang mengatur soal kawasan wisata terpadu itu, gagal sebelum diterapkan. ‘’Menurut saya, Singapura menerapkan dan mengadopsi kawasanwisata terpadu ekslusif yang mau kita terapkan. Kawasan Marina Bay Sand dan Sentosa World Resort adalah buktinya,’’ katapejabat tersebut.  Tapi, pejabat itu lupa. Batam bukan Singapura.</p>
<p align="center">****</p>
<p>Pengusaha muda itu nelangsa. Usaha Gelper yang digelutinya baru lima bulan, mendadak harus tutup. Istilahnya, disegel sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Lokasi Gelpernya di mal dan  lokasi perhotelan di Nagoya, diberi garis polisi. Padahal, untuk membuka empat lokasi Gelper itu, masing-masing ia menanam modal sekitar Rp500 jutaan. Artinya, Rp 2 Miliar duitnya terbenam disitu.  ‘’Saya buka Gelper sudah terlambat. Ini karena ada pengelola Gelper yang ditangkap polisi, lalu disidang dan bebas. Artinya, secara hukum kan tidak bermasalah. Itu sebab saya berani terjun ke bisnis Gelper,’’ katanya. Setidaknya, sudah tiga kali kasus Gelper ini ditangani aparat hukum. Pemain ditangkap, diperiksa polisi dan diadili. Ternyata, pada tersangka yang dijerat pasal perjudian itu, belakangan malah bebas.</p>
<p>Ternyata, dari sebanyak 74 izin Gelper yang dikeluarkan, pemilik izin hanya berkisar 20 orang saja. Satu  pengusaha, bisa punya 3 hingga 6 lokasi Gelper.  Caranya, mereka memakai nama orang lain untuk menambah izin baru. Selain pengusaha-pengusaha beken dan dulu pernah terjun ke bisnis judi dan muka-muka lama, ada juga mantan pejabat kepolisian, mantan anggota dewan yang mengantongi izin tersebut.</p>
<p>Menurut seorang mantan pegawai Disparbud yang mengurusi izin-izin Gelper tersrebut, sejak awal pengusaha-pengusaha Gelper ini, sulit dikoordinir. Sebab, selain skala usaha mereka berbeda, masing-masing merasa punya channel dan koneksi ke kepolisian, baik di Polresta Barelang, Polda Kepri maupun Mabes Polri. ‘’Kalau diundang, banyak yang tak mau datang. Begitu pula untuk sumbangan ke pihak-pihak tertentu, agar usaha Gelper berjalan lancar,’’ kata mantan pegawai itu.</p>
<p>Setelah tutup beberapa bulan belakangan ini, diam-diam dua pegawai Dinas Pariwisata Pemko Batam, datang ke Mabes Polri, mencoba melobi dan mengirim surat ke Mabes Polri, agar Gelper dibuka kembali.  Tanggal 3 November lalu, Mabes Polri mengirim surat bernomor B/4184/XI/2011/Bareskrim tentang persetujuan permohonan membuka status quo jasa usaha Gelanggang Permainan (Gelper) di Batam.</p>
<p>Padahal, pada tanggal 21 September 2011, ada laporan polisi bernomor LP/594/2011/Bareskrim tentang tindak pidana perjudian di Kota Batam serta surat Irwasum Polri tentang hasil penyelidikan dan monitor perkembangan kegiatan Gelper yang berindikasi perjudian di wilayah Kepri. Tanggal 13 Oktober 2011 Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam Yusfa Hendri mengirim surat permohonan untuk membuka status quo jasa usaha gelanggang permainan mekanik/elektronikdi Batam.</p>
<p>Inti surat yang diteken Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Polisi Agung Santoso tersebut adalah, demi tercapainya kepastian hukum dan berjalannya usaha di bidang jasa rekreasi dan hiburan khususnya Gelanggang Permainan di Kota Batam, Bareskrim Polri tidak keberatan membuka status quo di setiap lokasi Gelper dan selanjutnya terhadap lokasi tersebut akan dilakukan penyegelan oleh Satpol PP Pemko Batam dengan catatan, pembukaan status quo bersama Bareskrim Polri dan Kepolisian Daerah Riau, Satpol PP Pemko Batam untuk menindaklanjuti pengecekan mesin.</p>
<p>Selain itu, melakukan pengecekan ulang (standarisasi) terhadap seluruh mesin, dan tidak menerbitkanb ijin operasional terhadap mesin-mesin yang melanggar aturan permainan atau melanggar hukum. Masalahnya, tertulis di surat itu Polda Riau, bukan Polda Kepri. ‘’Kami sudah bahas surat ini, katanya salah ketik,’’ kata seorang pengusaha Gelper yang masih menunggu diperbolehkannya kembali Gelper beroperasi.</p>
<p>Sampai saat ini, tulisan berlogo Mabes Polri berdasarkan Surat Perintah Sprint/2011/XI/2011/Bareskrim masih terpasang di seluruh arena Gelper berikut garis polisi (police line) tanggal 21 September 2011. Bunyinya: Diberitahukan bahwa mesin-mesin gelper diruangan ini telah disita oleh penyidik Bareskrim Polri terkait perjudian. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Batam, juga menyatakan, seluruh Gelper yang beroperasi di Batam adalah perjudian. Hal ini berdasarkan unsur jenis permainan yang jelas-jelas mengandung unsur adu nasib alias untung-untungan. Meski pejabat Pemko Batam berkali-kali mengatakan Gelper bukan judi, namun hukum positif Indonesia masih memandang berjudi sebagai perbuatan pidana. Masihkah para pejabat bersikeras bahwa Gelper bukan judi? ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/gelper-judi-gaya-baru-ala-batam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In Memoriam Akmal Atatrik</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 15:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[Menulis Sampai Akhir Hayatnya
 Ia layak mendapat julukan wartawan senior, bukan wartawan tua. Sebab, sampai akhirnya hayatnya, ia tetap menulis dan menulis. Sakit yang menderanya, tak mampu menahan Akmal Atatrik, tetap menulis. Kolom dari redaksi di Radar Kepri edisi ke 138 pekan lalu, adalah tulisan terakhirnya.
Kami, para wartawan yang mengenal Bang Akmal—begitu ia biasa disapa—sejak lama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menulis Sampai Akhir Hayatnya</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-345" title="radar kepri" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/10/radar-kepri1.jpg" alt="radar kepri" width="350" height="234" /> Ia layak mendapat julukan wartawan senior, bukan wartawan tua. Sebab, sampai akhirnya hayatnya, ia tetap menulis dan menulis. Sakit yang menderanya, tak mampu menahan Akmal Atatrik, tetap menulis. Kolom dari redaksi di Radar Kepri edisi ke 138 pekan lalu, adalah tulisan terakhirnya.<span id="more-343"></span></p>
<p>Kami, para wartawan yang mengenal Bang Akmal—begitu ia biasa disapa—sejak lama mendengar kabar soal kesehatannya yang terus menurun. Kepada putranya Irfan, ia masih memikirkan kelangsungan surat kabar mingguan Radar Kepri, yang berkantor di rumahnya di Sei jang, Tanjungpinang. Motonya, dengan membaca kita tau.</p>
<p>Akmal Atatrik malang melintang di dunia jurnalistik sejak 1968 dua tahun setelah ia menetap di Tanjungpinang. Lelaki kelahiran Payakumbuh, 15 Februari 1946 itu, sudah menjadi wartawan pada usia 22 tahun. Mulai dari harian <em>Api Pancasila</em>, lalu menjadi penulis lepas majalah <em>Varia</em>, koresponden majalah <em>Selecta</em>. Tahun 1977, Akmal menjadi wartawan majalah <em>Detik</em> hingga dibreidel pemerintah Orde Baru dan bergabung dengan Mingguan <em>Genta</em> tahun 1986.</p>
<p>Jejaknya di dunia pers Kepri makin lengkap. Akmal bergabung dengan <em>Riau Pos Grup</em> dan menjadi Kepala Perwakilan serta mengurus percetakan Sistem Cetak Jarak Jauh pertama, yang kemudian menerbitkan <em>Sijori Pos</em> dan <em>Batam Pos</em>. Tahun 2000 hingga 2003, ia menjadi Pemimpin Redaksi Tabloid <em>Sempadan</em> dan tahun 2007 menerbitkan surat kabar mingguan <em>Radar Kepri</em>.</p>
<p>Tidak hanya menjadi wartawan, Akmal memiliki andil cukup besar terhadap organisasi Persatuan Wartawan Indonesia. Ia didapuk menjadi Ketua PWI Perwakilan Kabupaten Kepri yang pertama. Saya malah ikut tes sebagai anggota PWI di Tanjungpinang, menempuh perjalanan dari Bukittinggi, Pekanbaru menuju Tanjungpinang.</p>
<p>Rida K Liamsi, tokoh pers di Sumatera dan kini memimpin <em>Jawa Pos National Network</em>, jaringan media terbesar di Indonesia, memiliki kesan khusus terhadap Akmal. ‘’Bagi saya, Akmal adalah contoh wartawan yang rajin, ulet dan gigih. Ia otodidak dan punya cita-cita menjadi seorang penerbit yang sukses dan jatuh bangun mengelola surat kabarnya,’’ kata Rida kepada saya melalui pesan pendek dari Wina, Austria. Ia sedang mengikuti konferensi asosiasi Koran sedunia WAN-IFRA .</p>
<p>Di mata Rida, Akmal adalah seorang pengurus PWI yang gigih memperjuangkan organisasi dan nasib anggotanya. ‘’Bicara soal perkembangan pers di Kepri, Akmal adalah bagian sejarah naik turunnya kehidupan pers di kepri. Ia membina dan mendidik para wartawan serta ikut berjuang melahirkan propinsi Kepri,’’ kata Rida K Liamsi.</p>
<p>Banyak kenangan yang tersisa semasa hidupnya. ‘’Bang Akmal mampu menjembatani komunikasi antara wartawan senior dan wartawan junior. Ia mempersatukan wartawan yang datang ke Kepri, baik yang tergabung dalam PWI maupun bukan. Ia turut menegakkan eksistensi PWI di Kepri,’’ kata Marganas Nainggolan, COO Riau Pos Grup Divre Batam.</p>
<p>Hal senada diungkapkan Taufik Muntasir, yang pernah bekerja bersama-sama Akmal di Tanjungpinang. ‘’Sebagai wartawan, Bang Akmal punya semangat kerja yang tinggi, meski kondisinya tidak memungkinkan karena sakit. Ketika kebanyakan orang seletingnya ‘’pensiun’’ dalam berbagai aktivitas kewartawanan, tidak demikian halnya dengan Bang Akmal. Ia terus menulis dan menulis,’’ papar Taufik Muntasir.</p>
<p>Dalam bidang politik, Akmal juga berperan penting dalam perjuangan menjadikan Kota Tanjungpinang sebagai kota otonom dan pembentukan Provinsi kepri. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Pemuda Pancasila Kabupaten Kepri hingga tahun 1972, salah seorang penandatangan fusi partai politik Murba, IPKI, PNI dan Perkindo yang menjadi Partai Demokrasi Indonesia. Bersama Rida K Liamsi, Imam Sudrajat, Arief Rasahan dan Zulkarnain Zainudin, Akmal aktif menggagas lahirnya Provinsi Kepulauan Riau yang membentuk Komite Pemekaran Kepulauan Riau yang kemudian menyelenggarakan Musyawarah Besar Rakyat Kepulauan Riau tanggal 15 Mei 1999.</p>
<p>Sejarah dan perjuangan pembentukan kota otonom Tanjungpinang, berdirinya Provinsi Kepri, hingga terpilihnya Suryatati A Manan sebagai wali kota pertama dan prestasinya, dirangkumnya dalam sebuah buku berjudul: Batu Tajam Menuju Kota Otonom Tanjungpinang, terbitan 1 Januari 2009. ‘’Akmal  adalah tokoh politik yang loyal pada partainya. Sejak zaman PNI, PDI hingga PDIP tidak pernah jadi kutu loncat meski dia kerap dikhianati,’’ kata Rida K Liamsi.</p>
<p>Kepergiannya, tidak hanya menyisakan duka di kalangan wartawan, juga bagi para politisi, dan pejabat teras di Kepri.  &#8221;Kita kehilangan tokoh wartawan senior yang ilmu dan pergaulannya luas sekali. Beliau merupakan contoh jurnalis yang konsisten dari muda hingga akhir hayatnya dan patut diteladani jurnalis lainnya. Dari partai kita juga sangat kehilangan,&#8221; kata Wakil Gubernur Kepri HM Soerya Resationo, di rumah duka, kemarin.</p>
<p>Walikota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan, mengenangnya sebagai jurnalis yang lugas dan tanpa basa basi. Almarhum juga diingatnya sebagai orang yang sangat peduli dengan kemajuan dan perkembangan daerahnya. Termasuk, memperjuangkan terbentuknya Kota Otonom Tanjungpinang serta Provinsi Kepri. &#8221;Kepergian beliau membuat kita kehilangan tokoh yang berani bicara apa adanya,&#8221; ucap Tatik.</p>
<p>Tidak hanya soal berita, Akmal juga paham soal mesin cetak. Sebab, mesin cetak jarak jauh diawali di Tanjungpinang tahun 1994. Mengirim mesin cetak ke Tanjungpinang juga bukan pekerjaan gampang. Saat itu, tidak ada fasilitas bongkar muat alat berat di pelabuhan. Padahal, mesin cetak itu beratnya antara 3-5 ton. Mesin-mesin itu lalu dibawa dengan truk, lalu naik kapal dan langsung menuju lokasi percetakan agar tak perlu dibongkar di pelabuhan.</p>
<p>Lalu, bagaimana caranya menurunkan dari truk mesin dengan berat belasan ton?  Karena tak ada forklif, mesin itu diturunkan dengan titian kayu yang landai, lalu ditarik satu demi satu! Mesin itu ditarik pakai mobil lain, atau diikatkan ke pohon dan truknya bergerak men-jauh.  Pemasangan mesin juga tak kalah sulitnya. Tidak ada crane,  katrol pun jadi. Mesin cetak itu dipasang satu demi satu dengan cara diderek pelan-pelan. Akhirnya, dengan kerja keras tak kenal lelah, mesin cetak itu berhasil diset-up. Akmal ikut membangun Riau Pos Grup di Kepri.</p>
<p>Di percetakan, Akmal juga dikenang anak buahnya sebagai pekerja keras, mendidik karyawannya hingga jadi orang dan memiliki kepedulian yang tinggi. ‘’Karena beliau saya bisa bekerja, mulai dari satpam, lalu mengurus perawatan mesin cetak. Kalau mesin rusak, Pak Akmal ikut turun tangan bersama karyawannya,’’ kata La Umpa, yang kini menjadi manajer maintenance percetakan Bintana, yang mencetak harian <em>Batam Pos, Posmetro Batam</em> dan <em>Tanjungpinang Pos</em> serta belasan koran mingguan di Kepri.</p>
<p>Meski usianya tak muda lagi, Bang Akmal orang yang energik dan bersemangat.Ia pekerja keras dan bangga dengan profesinya sebagai wartawan.Saya ingat betul, ketika ada peristiwa pembunuhan yang menggegerkan Tanjungpinang, Bang Akmal turun ke lapangan meliput.</p>
<p>Sampai tiga kali ia mengirimkan beritanya ke Batam karena ada informasi terbaru yang diperolehnya. Saya sampai mengultimatum karena dikejar deadline.Tapi, Bang Akmal tak balik marah kepada saya yang masih junior.Berita itu menjadi headline.</p>
<p>Pergaulannya yang luas sehingga tidak heran, banyak tokoh-tokoh Kepri yang melayat ke rumah duka. Mulai dari Wagub Kepri HM Soerya Respationo yang juga Ketua PDIP Kepri, dan Wali Kota Tanjungpinang Hj Suryatati A Manan. Ketua DPRD Kepri, HM Nur Syafriadi dan Ketua DPRD Tanjungpinang, Suparno ikut hadir.Juga tokoh masyarakat, anggota DPRD Kepri, DPRD Tanjungpinang dan wartawan di Kepri.</p>
<p>Ribut Suryadi  rekan Akmal menyebutkan almarhum adalah pejuang sejati. Bukan hanya pejuang untuk pers dan jurnalistik, tapi juga tonggak awal perjuangan Kepri bersama H Imam Sudrajat dan Arif Rasahan.  &#8221;Dia guru saya. Seorang yang idealis dan keras berprinsip. Walau keras tapi dia suka menolong teman yang susah dan tanpa pamrih. Kita semua sangat kehilangan,&#8221; kata rekan almarhum yang juga wartawan, Sofyan Tanjung sambil terisak di rumah duka. Imam Sudrajat juga mengenangnya sebagai seorang yang keras dalam berprinsip, gigih dan berjuang yang tanpa pamrih.</p>
<p>Bang Akmal juga saya kenal sebagai wartawan yang tidak menjaga jarak dengan wartawan yang jauh lebih muda atau sebaya anaknya. Kedai Kopi Sukaramai di jalan Merdeka Tanjungpinang, atau kedai kopi Ria di Jalan Bintan. Kedai kopi itu disebutnya sebagai ‘’kantor’’nya.</p>
<p>Akmal meninggalkan seorang istri, lima anak dan tujuh cucu. Dua di antara anaknya, mengikuti jejaknya sebagai wartawan. Kabar duka itu terasa menyentak. Bang Akmal berpulang, Kamis 13 Oktober 2011 dinihari. Yang tersisa adalah semangat dan kebanggaannya terhadap profesi wartawan, sampai akhir hayatnya. Selamat jalan Bang Akmal…***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-akmal-atatrik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melanglang Buana, Menjelajah Negeri (3)</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Jun 2011 23:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=340</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayangkan, saya akan menjejakkan kaki di benua kangguru Australia dan negeri kiwi New Zealand. Sebab, kota terjauh di Indonesia Timur yang saya kunjungi hanya Makassar. Kesempatan pergi ke Papua saya tolak dan digantikan teman saya. Kali ini, saya mengalami jet lag setelah terbang hampir 10 jam.
Terbang dari Jakarta malam hari naik pesawat Qantas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-341" title="news" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2011/06/news.jpg" alt="news" width="400" height="336" /></strong>Tak pernah terbayangkan, saya akan menjejakkan kaki di benua kangguru Australia dan negeri kiwi New Zealand. Sebab, kota terjauh di Indonesia Timur yang saya kunjungi hanya Makassar. Kesempatan pergi ke Papua saya tolak dan digantikan teman saya. Kali ini, saya mengalami jet lag setelah terbang hampir 10 jam.<span id="more-340"></span></p>
<p>Terbang dari Jakarta malam hari naik pesawat Qantas buat saya tak selalu nyaman. Sebab, entah mengapa, dalam setiap penerbangan saya tak bisa tidur dan lebih suka memandang keluar jendela pesawat. Jadilah saya main game, nonton dan bengong. Sampai akhirnya roda pesawat menyentuh landasan Sidney.</p>
<p>Namun, kami harus segera terbang lagi, menuju Auckland, New Zealand. Perbedaan waktu empat jam dengan Australia sehingga saat saya tiba sudah pukul 07.30 pagi. Dengan New Zealand beda waktu lagi dua jam dan kami sampai siang hari. Namun, rasa capek terbang terobati melihat dimana-mana rumput dan pepohonan menghijau.</p>
<p>Begitu mendarat di Auckland, bumi terasa bergoyang. Ternyata, beberapa jam sebelumnya Christchurch, kota di Selatan New Zealand dilanda gempa dahsyat. Ratusan orang tewas tertimbun. Saya dan rombongan menuju kota Turanga, menempuh jalan darat sepanjang 200 kilometer lebih.</p>
<p>Tengah malam, telepon bordering. Ternyata sanak saudara di Indonesia bertanya keadaan kami yang khawatir terkena gempa. Kami menduga, telepon tengah malam itu tidak mempertimbangkan kami sudah tidur pulas karena perbedaan waktu enam jam. Yang membuat saya terkesan, cara televisi setempat memberitakan bencana itu. Semua diarahkan pada proses evakuasi dan menjadi pusat informasi tentang gempa itu sendiri bagi keluarga korban di wilayah lain.</p>
<p>Jalan dan lingkungan sangat bersih. Sejauh mata memandang, semua rumput hijau seperti lapangan golf. Sesekali, tampak ribuan sapi merumput. New Zealand memang terkenal penghasil susu dan tentu saja buah kiwi itu. Yang menarik, sepanjang jalan, ada tulisan yang terasa lucu di lidah Indonesia. Ada daerah yang namanya mata-mata, kurukora dan sebagainya. Ternyata itu bahasa asli suku Maori di New Zealand.</p>
<p>Setelah menempuh perjalanan jauh, habis makan malam, saya langsung tergeletak tidur pulas. Paginya mengunjungi pabrik rekondisi mesin cetak koran DGM dan setelah itu balik lagi ke Auckland. Saya sempat menjajal casino di Hotel Sky Tower, yang tertinggi ke 13 di dunia. Lalu menikmati kota wisata Auckland. Karena capek, saya menemukan tempat pijit Thai Massage di sudut kota. Saat masuk, oalah, ternyata pemijitnya gadis asal Batam yang pernah tinggal di Malaysia. Ia memutar lagu pop yang mendayu-dayu Nafa Urbach, ketika tahu saya dari Indonesia. Sebelum jadi pemijat, ia bekerja di kebun kiwi yang membuatnya bosan karena gajinya kecil.</p>
<p>Malam menjelang terbang ke Sidney, entah mengapa saya tak bisa tidur. Saat menyingkap tirai jendela, tiang beton raksasa Sky Tower tepat di depan kamar saya. Saya jadi teringat gempa yang baru saja terjadi. Lalu, saya berjalan sendiri keluar, dan masuk ke kasino. Saya coba main, meski tak begitu mengerti di mesin yang sekali telan uang kertas 5 dolar NZ itu.</p>
<p>Sejam kemudian, saya mendapat free game. Saya lihat saja mesin itu bermain sendiri. Tiba-tiba, keluar tulisan disertai bunyi: <em>your winner maximum</em>, dan gambarnya maju mundur. Saya terkejut. Seorang pria Argentina yang berdiri dekat saya berkata,’’ <em>You’re lucky man, please your change the ticket</em>,’’ katanya. Ternyata, saya menang sebanyak 2.600 NZ Dollar atau setara Rp23 juta.</p>
<p>Kalau di luar negeri, kadang sedih jadi orang Indonesia. Nilai tukar rupiah rendah sekali. Malah, kadang tak ada penukaran  di money change, sementara negara lain ada. Bagi saya yang dari Batam, sudah biasa rupiah kalah perkasa dengan Dolar Singapura. Dan nilai tukar NZ Dollar sedikit di atas Singapura. Nah, ketika di Sidney, alamak satu dolar Ausie setara dengan Rp11.000 lebih. Jadilah saya hanya beli sebuah boneka kangguru dan sebuah boomerang buat anak saya.</p>
<p>Saat terbang kembali ke Jakarta, terasa lebih cepat karena mundur lagi ke waktu Indonesia Barat. Terbang jam 8 pagi dari Auckland, tiba di Jakarta jam 07.00 malam. Mata terasa berat. Body capek berat. Sampai di Batam, badan terasa limbung dan aneh. Jam 6 sore, mata mengantuk dan tengah malam sudah terbangun. Oalah! Saya terkena jet lag!</p>
<p>Satu hal yang sulit diatasi kalau ke luar negeri adalah soal makanan. Apalagi, lidah saya lidah Padang, salah satu pusat kuliner hebat di dunia, hehehe. Begitu pulang dari China, saya langsung makan lahap di rumah makan Ajo Pass di Yos Sudarso Batam. Meski perut menerima, lidah rasanya berontak kalau makan fast food, kebab Turki atau makanan aneh seperti nasi dicampur yogurt dan kari kambing.</p>
<p>Kota-kota yang saya kunjungi di Indonesia pun, saya paling suka Surabaya karena makanannya terasa pas di lidah saya yang suka pedas. Untunglah kalau ke kota-kota lain masih tetap ada rumah makan Padang! Seolah-olah orang Padang paham bangsanya suka merantau atau jalan-jalan seperti saya. Tapi di Semarang? Sudahlah capek mencari rumah makan Padang, begitu ketemu sambalnya terasa manis. Ternyata, mereknya saja rumah makan Padang, yang masak dan pemiliknya orang Jawa, hahaha…Thailand juga tak enak soal makanan. Saya pernah hampir muntah ketika makan Tom Yam yang terkenal itu lantaran serainya terlalu banyak.</p>
<p>Entah kenapa, saya kurang suka datang ke kota yang sama dua kali. Ketika teman-teman jalan-jalan ke Hongkong dan Macao, saya menolak ikut. Sebab, saya sudah pernah ke Hongkong dan Macao hanyalah kota ruko dengan kasino yang terkenal itu. Yang saya bayangkan, paling isinya ya mesin-mesin judi itu lagi, Saya sudah pernah menjajal kasino di Genting Highland, Malaysia , di Sentosa Island Singapura serta terakhir di Auckland New Zealand.</p>
<p>Kalau ke luar negeri rombongan, saya lebih suka jalan sendiri. Kalaupun nyasar, itu pengalaman yang membuat saya makin ingat jalan dan kawasan itu. Yang jelas, saya ingin sekarang pergi ke India, Afrika dan tentu saja Amerika. Sebab, saya sudah pernah mengunjungi pusat peradaban di China dan Timur Tengah. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/melanglang-buana-menjelajah-negeri-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>In memoriam Gus Dur</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 15:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=293</guid>
		<description><![CDATA[Saya mengagumi KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, sebelum ia jadi presiden RI ke 4. Itu pun hanya melalui wawancara dan pikiran-pikiran bernasnya di media massa. Lalu, saya membaca buku Tabbayun Gus Dur, hasil wawancaranya tentang negara, demokrasi dan pluralisme. Saya gembira ketika diberitahu ikut dalam rombongan wartawan Riau Pos Grup yang akan diterima wawancara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengagumi KH Abdurahman Wahid alias Gus Dur, sebelum ia jadi presiden RI ke 4. Itu pun hanya melalui wawancara dan pikiran-pikiran bernasnya di media massa. Lalu, saya membaca buku Tabbayun Gus Dur, hasil wawancaranya tentang negara, demokrasi dan pluralisme. Saya gembira ketika diberitahu ikut dalam rombongan wartawan Riau Pos Grup yang akan diterima wawancara khusus di istana negara, Jakarta. pada awal tahun 1999.<span id="more-293"></span></p>
<p>Wartawan yang berangkat menjumpai Gus Dur antara lain, Kazzaini, Abubakar Siddik, Muchid Al Bintani (dari Riau Pos Pekanbaru) Erisman Yahya (Jakarta) dan saya sendiri dari Sijori Pos, Batam. Kami menginap di Wisma Pemda Riau di Jakarta. Saya sibuk memikirkan apa yang akan saya tanyakan kepada Gus Dur. Sementara, Kazzaini sebagai yang paling senior, menyiapkan tiga lembar daftar pertanyaan. </p>
<p>Kami sempat berdiskusi soal wawancara khusus itu. Saya nyeletuk, saya akan menanyakan soal Batam yang sejak lama jadi kota judi dan soal pembagian keuangan pusat dan daerah yang saat itu sedang menjadi isu hangat secara nasional. Tiba-tiba, Abubakar berkata,&#8221; Ah, kau jangan tanya yang macam-macam pula,&#8221; katanya. Saya heran, kok wartawan tak boleh tanya apa saja?</p>
<p>Pagi-pagi karena takut macet, kami meluncur ke istana negara. Begitu melapor, ke sekretariat presiden, kami disuruh menunggu. Tapi, berjam-jam menunggu, tak ada tanda-tanda kami disuruh masuk menjumpai Gus Dur. Saya sempat ikut konferrensi pers dengan Yenni Wahid bersama puluhan wartawan istana. Sampai jam 14.00 WIB siang, kami belum juga bisa wawancara Gus Dur. </p>
<p>Tak lama kemudian, Ratih Harjono Sekretaris Presiden mantan wartawan yang cantik itu, datang menemui kami. Ia berkata,&#8221; Mohon maaf, wawancara dengan Presiden batal karena ada rapat kabinet mendadak. Semua biaya Anda ke Jakarta, akan diganti,&#8221; katanya, tegas. Kami melongo. Lho, kok bisa? Abubakar langsung menyodorkan tape recorder soal pembatalan itu dan berkata, apa alasannya dan pertanyaan itu on the record. </p>
<p>Ratih Harjono sempat menawarkan, meski wawancara batal, besok Gus Dur mau terbang ke Batam dan satu orang bisa ikut pesawat kepresidenan. Semua mata teman-teman tertuju kepada saya. Sebab, hanya saya sendiri yang dari Batam. Saya sudah membayangkan, alangkah hebatnya wawancara khusus dengan Gus Dur di atas pesawat. Namun, rencana itu batal. Ratih melapor lagi ke Gus Dur dan akhirnya, kami diberi waktu 15 menit saja. Setelah menunggu 8 jam! Kabarnya, Gus Dur kurang disiplin dengan waktu dan protokoler istana sehingga kalau ada tamu yang sudah duluan, bisa molor sehingga tamu berikutnya terpaksa diluar jadwal yang semestinya. </p>
<p>Kami masuk beriringan. Di depan saya, Erisman Yahya menyalami Gus Dur. Saat Erisman mau mencium tangannya, sontak Gus Dur menolak dan menarik tangannya. Saya hanya menyalami sambil menyebutkan nama saya, diikuti Muchid. Foto saya bersalaman itulah yang sampai saat ini dipajang di dinding rumah saya. </p>
<p>Kazaini memulai wawancara, setelah berbasa-basi sejenak. Jawaban Gus Dur juga datar-datar saja. Saya tak sabar karena waktunya terbatas. Meski kawan-kawan kurang suka, saya lalu nyelonong bertanya.&#8221; Gus Dur, saya mau tanya dua hal. Apakah pemerintah sedang kesulitan finansial sehingga pembagian keuangan pusat dan daerah itu belum juga direalisasikan? Kedua, ada pendapat Batam itu dijadikan kota judi saja. Bagaimana menurut Anda? </p>
<p>Gus Dur memutar duduknya dan langsung menjawab. &#8221;Anda ini gimana. Kalau kesulitan finansial, semua kita sedang kesulitan. Soal Batam jadi kota judi, ah pendapat kayak gitu aja kok dianggap. Gitu aja kok repot,&#8221; katanya. Saya kecewa tak dapat jawaban memuaskan. Padahal, kalau soal Batam jadi kota judi itu, saya ingin mendengar jawaban seorang presiden yang sekaligus ulama terkemuka. Berita wawancara bersama teman-teman RPG itu, lalu menjadi headline di koran kami masing-masing. Kalau melihat foto saya bersalaman yang dikirimkan Muchid ke saya itu, saya teringat pertemuan dengan Gus Dur.</p>
<p>Pertemuan kedua, saat Gus Dur berada di Kedutaan RI di Beirut, Lebanon tahun 2002. Saya dan rombongan dari Batam, mampir ke kedutaan saat melawat ke Timur Tengah. Saat itu, Gus Dur hanya pakai batik lengan pendek dan tanpa kopiah. Tapi, tak ada yang saya tanyakan ke Gus Dur karena saat itu ia sedang berbincang-bincang dengan duta besar. Saya mendapat kabar, Gus Dur terbilang sering ke Lebanon. </p>
<p>Lebanon yang terkoyak-koyak perang saudara karena agama memang unik. Gaya hidup sebagian warganya mengacu ala Paris. Sebagian penduduknya beragama Islam dan sebagian lagi Kristen sehingga masalah agama tabu dibicarakan. Saya hanya menduga, toleransi antar umat beragama yang ditularkan Gus Dur, bisa jadi karena pemahamannya yang mendalam tentang konflik antar umat beragama seperti yang terjadi di Lebanon. Itulah terakhir kali bertemu langsung dengan Gus Dur. </p>
<p>Saya kadang terheran-heran dengan pikiran-pikirannya, gaya nyelenehnya dan leluconnya. Ia menjadikan istana milik rakyat. Membubarkan Departemen Sosial dan Departemen Penerangan, membela kaum minoritas, membentuk kementerian HAM dan sebagainya. Jabatan presiden yang sangat formal, bagi seorang Gus Dur bisa jadi lelucon. Siapa calon presiden tahun 2014 Gus Dur? tanya wartawan. Dengan santainya Gus Dur menjawab dirinya. Caranya gimana Gus? &#8221;Ketik Reg Gus Dur Ciganjur,&#8221; katanya, enteng. </p>
<p>Meski matanya sejak lama tak melihat, berbagai penyakit yang menderanya, Gus Dur tidak hanya sebagai bapak bangsa, ia layak menjadi pahlawan dengan pikiran-pikiran besarnya. Selamat jalan KH Abdurahman Wahid&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/in-memoriam-gus-dur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Well Come to Casino Singapore</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 07:24:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=276</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dua tahun lalu, Singapura menggesa pembangunan dua kasino. Setelah perjudian ilegal dan kasino di Batam ditutup, diperkirakan kasino tersebut bakal banjir pengunjung dan bersaing ketat dengan Genting Highland, Malaysia. Bagaimana peluangnya dan seperti apa pengaruhnya terhadap pelaku bisnis di Batam?
Saat ini, Pemerintah Singapura tengah sibuk merampungkan pembangunan The Marina Bay Sands dan Sentosa World [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Sejak dua tahun lalu, Singapura menggesa pembangunan dua kasino. Setelah perjudian ilegal dan kasino di Batam ditutup, diperkirakan kasino tersebut bakal banjir pengunjung dan bersaing ketat dengan Genting Highland, Malaysia. Bagaimana peluangnya dan seperti apa pengaruhnya terhadap pelaku bisnis di Batam?<span id="more-276"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini, Pemerintah Singapura tengah sibuk merampungkan pembangunan The Marina Bay Sands dan Sentosa World Resorts, dua proyek raksasa yang sempat diperdebatkan di parlemen negeri Singa itu. <span> Di dua kawasan itu terpadu itu, disediakan berbagai jenis pertunjukan wisata dan kasino serta berbagai aneka perjudian yang bakal menjadi daya tarik utama. Meski belum rampung, diprediksi dua kawasan ini bakal menyedot wisatawan lebih besar lagi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kawasan wisata terpadu dan perjudian Genting Highland saja, yang dikenal sebagai Las Vegas-nya Malaysia berkembang pesat dan beranak pinak menjadi perusahaan kertas, pembangkit listrik, kapal pesiar, perusahaan minyak, perkebunan dan perumahan di bawah bendera Genting Bhd. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kawasan wisata itu memiliki enam hotel yang saling berdempetan di puncak bukit Titiwangsa dengan ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Hotel First World memiliki 6.118 kamar dan merupakan hotel terbesar kedua di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika dua kasino di Singapura rampung, diperkirakan orang akan memilih Singapura karena mudah dijangkau. Sementara, Genting Highland yang terletak di perbatasan Pahang dan Selangor, lebih jauh dan bisa dicapai dengan mobil dengan jalan berkelok-kelok dan curam, serta naik kereta gantung (sky way) sepanjang 3,5 kilometer. Sky Way ini merupakan yang terpanjang di Asia Tenggara dan tercepat di dunia. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebelum Singapura memutuskan membangun kasino, pada akhir pekan, kapal pesiar Star Virgo, Star Cruise yang nota bene milik Genting Group, membawa ribuan pelancong belanja ke Singapura. Dengan dua kasino ini, bakal menjadikan ekonomi Singapura makin perkasa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Konon kabarnya, dua kasino ini akan memiliki jenis perjudian yang berbeda. Di Sentosa World Resort akan bergaya Timur seperti Makau dan di Marina Bay Sand akan bergaya Barat seperti Las Vegas. Yang pertama dibangun<span> </span>Genting International,<span> </span>Malaysia dan yang kedua dibangun Las Vegas Sand. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Dari pantauan <em>Batam Pos</em> di Singapura pekan lalu, ribuan pekerja kontruksi bekerja siang malam menggarap proyek raksasa dan prestisius ini. Ratusan kendaraan dan alat berat seperti eskavator, kren, buldozer hilir mudik mengangkut bahan bangunan dan tak henti-hentinya meraung. Diperkirakan, dalam tempo enam bulan, kasino ini siap beroperasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Di Sentosa World Resorts (SWR), bangunan utama berbentuk kubah sudah mulai menampakkan wujud aslinya. Dibangun di kawasan wisata Pulau Sentosa, SWR nyaris membutuhkan seperempat lahan pulau tersebut. Integrasi antara sarana transportasi dan kawasan judi dibuat sedemikian rupa hingga akan memudahkan orang berkunjung ke sana. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Monorel yang menghubungkan Pelabuhan Harbour front dengan Pulau Sentosa, nantinya bakal menembus masuk dalam bangunan SWR . <em>Cable car</em> pun dirancang ulang sebagai alat transportasi baru. Bagi yang bermobil, sudah disiapkan berhektar-hektar lahan parkir proyek senilai S$6.59 miliar yang dikerjakan oleh perusahaan judi Malaysia, Genting International. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Nantinya, orang Batam atau Indonesia yang ingin berjudi, tinggal mengeluarkan uang tak lebih dari S$ 8 untuk bisa masuk ke SWR. Tapi untuk bertaruh, tentu saja tak cukup dengan bekal uang sekecil itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>The Marina Bay Sands (MBS) jauh lebih <span>masif</span>. Dibangun oleh perusahaan judi terbesar dunia Las Vegas Sands, daerah wisata MBS nantinya akan berpadu dengan Marina Barrage, dam yang indah dan mengesankan itu. MBS akan dikelilingi taman yang luar biasa besar dan indah. Bahkan disebut-sebut akan menjadi taman bunga terbesar di Asia. Sepekan lalu, ribuan bunga dan pohon aneka jenis teronggak di lokasi pembangunan taman, siap ditanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Selain berjudi, pengunjung MBS nantinya akan bisa berbelanja, menikmati hotel bintang lima, sekaligus mengasah otak di museum Lotus yang akan dibangun searea dengan MBS. Proyek senilai S$226 juta itu direncanakan bakal dibuka tahun depan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Singapura, dengan proyek dua kasino <span> </span>mereka yang luar biasa, tampaknya sudah berhitung betul sisi buruk dan manfaat yang bakal didapatkan. Dalam pembangunannya saja, ribuan pekerja dan jutaan dolar uang berputar. Ketika tahun ini Singapura dihantam krisis hingga menyebabkan ribuan warga menganggur, MBS dan SWR memberi lowongan kerja sekitar 4000 warganya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Antrian panjang terlihat ketika pihak manajemen MBS dan SWR membuka bursa lowongan pekerjaan di mal-mal seantero Singapura. Beberapa bulan lalu ketika dua kasino tersebut membuka sekitar 450 karyawan, ada sekitar 5.000 pencari kerja Singapura antri mendapatkan formulir lamaran. Mengutip <em>The Straits Times</em>, antrian tersebut dianggap sebagai antrian terbanyak pencari kerja sepanjang sepuluh tahun terakhir. Jika sudah jadi nanti, Pemerintah Singapura memprediksi bisa mempekerjakan 10.000 orang hanya untuk Sentosa Worlds Resort.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Hotel-hotel dipastikan bakal penuh jika dua rumah judi nanti akan dibuka. Pelaku judi yang disyaratkan harus berpaspor asing, tentu saja datang ke Singapura dengan segepok uang yang tak hanya dihabiskan di meja judi.Tentu saja mereka butuh makan, tempat tinggal, pakaian, dan tak akan segan mengeluarkan uang untuk keperluan ini. Bukan hanya pemerintah yang menangguk untung dari pajak kunjungan mereka, tapi pelaku usaha di Singapura dipastikan kecipratan untung dengan pembukaan dua kasino tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagi sebagian warga Singapura, juga menunggu dua kasino ini rampung. Misalnya, Raaj seorang lelaki keturunan India warga Malaysia namun bekerja di Singapura ini. Ia menyewa kamar di Hougang Avenue dan bekerja di perusahaan elektronik. Hobinya: bertelepon dan main judi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Jika sudah menelepon ke kampungnya di Perak, Malaysia, Raaj bisa menghabiskan setengah malam yang ia punya untuk bercengkerama dengan ibu, dan tentu saja calon istri pilihan ibunya. Untuk berjudi 4D atau yang biasa kita sebut <em>toggle</em> (baca togel), Raaj dengan mudah meloloskan 25 hingga 50 dolar sekali bukaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Setiap akhir pekan, taruhan <em>on-line</em> tentang tebak skor sepakbola, tak pernah ia lewatkan. Taruhan sepakbola dilakukannya<span> </span>melalui internet. Penjudi kelas teri dan kecil-kecilan seperti Raaj, memang amat populer di Singapura, negara yang memang melegalkan perjudian. Kesenangan, adrenalin yang melonjak saat dada dag-dig-dug menanti skor akhir, adalah faktor utama Raaj untuk menggemari taruhan 4D atau judi <em>on-line. </em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selain mal, <em>foodcourt</em>, dan alat-alat transportasi massal yang selalu disesaki masyarakat Singapura, konter 4D selalu menghadirkan antrian panjang petaruh setiap hari. Di pinggir jalan yang disesaki pelancong, kupon-kupon judi pacuan kuda, dengan mudah bisa didapat. Tinggal menunggu keberuntungan. Ini bukti betapa gairah warga Singapura terhadap perjudian.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jika kasino itu beroperasi, tak menutup kemungkinan tahun depan Raaj bakal menaikkan “kelas” judinya. Berada di meja judi sebenarnya. Ada roullet, black jack, baccarat dan berbagai jenis perjudian. Kasino di Sentosa dan Marina akan membuat Raaj menahan nafas, mengadu nasibnya, berjudi yang sebenar-benarnya.<span> </span><span> </span>“Saya pasti akan mencobanya,” katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span> </span>Tampaknya, Singapura<span> </span>tahu betul, ketimbang uang penggemar judi seperti Raaj disetorkan ke rumah judi <em>on-line </em>di Eropa sana, mendingan “diputar” di Singapura. Raaj yang berpaspor Malaysia, tentu saja dengan senang hati dipersilahkan menikmati bertaruh di meja judi sebenarnya: MBS dan SWR. Tapi untuk warga Singapura, cukup bermain judi lewat <em>toggle</em> saja. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span>***</span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bagaimana peluangnya bagi pelaku bisnis di Batam jika dua kasino itu dibuka? Ternyata, sebagian pengusaha Batam sudah mengintip peluang sejak pembangunan dua kasino ini digulirkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>’’Pasti anginnya akan berdampak ke Batam. Kabarnya, tahun lalu mereka mau buka, tapi ditunda karena krisis global. Kabarnya, Desember tahun ini mereka akan buka. Jika dibuka, tentu akan berpengaruh terhadap bisnis di Batam,’’ kata Cahya, yang baru saja dilantik menjadi Ketua Apindo itu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menurut Cahya, pembangunan dua kasino dan kawasan wisata terpadu di Singapura itu, merupakan angin segar bagi pelaku bisnis di Batam. Diperkirakan, tamu hotel akan meningkat, bisnis properti menggeliat, kunjungan wisatawan bertambah. ‘’Para pekerjanya tentu akan mencari rumah sewa yang lebih murah di Batam. Kita perlu persiapan untuk tahun depan,’’ ujar Cahya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Program pariwisata Batam yang mengapungkan slogan Visit Batam 2010 menurut Cahya, juga perlu berbenah. ‘’Infrastruktur harus dibenahi sehingga segala sesuatunya oke. Pemko Batam wajib promosi ke Singapura dan luar negeri. Wisatawan di Singapura kan tinggal selangkah lagi ke Batam. Kalau tidak mau berpromosi, visit Batam 2010 itu sama saja bohong,’’ kata Cahya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Untuk menangkap peluang bisnis tersebut, kata Cahya, perlu berbagai kebijakan dan kemudahan mengingat status Batam free trade zone (FTZ) yang memiliki kekhususan. ‘’Mestinya kewenangannya ada pada gubernur sebagai ketua Dewan Kawasan sehingga tidak menunggu pusat melulu,’’ tukasnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Cahya mengakui, pembangunan perumahan prestisius Coastarina dan kawasan wisata modern Ocarina, juga disiapkan untuk menangkap peluang dibangunnya dua kasino di Singapura. Coastarina dan Ocarina sendiri dibangun di atas lahan seluas 126 hektar. ‘’Saya akan kebut membangun water park dan mudah-mudahan Desember tahun ini juga rampung,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sementara itu, pengusaha lain seperti Abi yang terkenal dengan restoran Golden Prawn di kawasan Bengkong, juga menyiapkan diri. Restoran yang dibangun sejak tahun 1992 itu, kini terus mengembangkan sayap bisnisnya dengan mendirikan hotel Golden View yang beroperasi sejak 1996 lalu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saat ini, Abi terus ngebut dengan membangun kawasan wisata terpadu Golden City di atas lahan seluas 100 hektar. ‘’Selain berbagai permainan dan wisata alam, kami juga membuat miniatur kapal Ceng Ho,’’ kata Abi. Bagaimana dengan pengusaha lain melihat peluang ini? <strong>(Socrates &amp; Sultan Yohana)</strong> ***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/well-come-to-casino-singapore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lansia Batam dan Husnul Khatimah</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/lansia-batam-dan-husnul-khatimah/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/lansia-batam-dan-husnul-khatimah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 15:49:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=268</guid>
		<description><![CDATA[ 
Setiap anak, pasti punya orang tua. Tetapi, belum tentu setiap orang tua punya anak. Ketika memasuki usia senja, pada orang tua yang menjadi lanjut usia (lansia) membutuhkan perhatian, kepedulian dan penghargaan yang tidak sebatas lips service belaka.
 TANGGAl 29 Mei kemarin, tepat 13 tahun peringatan Hari Lansia. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, Lansia adalah orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal">Setiap anak, pasti punya orang tua. Tetapi, belum tentu setiap orang tua punya anak. Ketika memasuki usia senja, pada orang tua yang menjadi lanjut usia (lansia) membutuhkan perhatian, kepedulian dan penghargaan yang tidak sebatas lips service belaka.<span id="more-268"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> TANGGAl 29 Mei kemarin, tepat 13 tahun peringatan Hari Lansia. Menurut Undang-undang Nomor 13 tahun 1998, Lansia adalah orang yang sudah berumur 60 tahun ke atas. <span> </span>Meski pemerintah sudah membentuk Komisi Nasional Perlindungan Penduduk Lanjut Usia atau Komnas Lansia, sebanyak 1,5 juta Lansia di republik ini, hidup terlantar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Barangkali, tak banyak yang mengingat, apalagi memperingati Hari Lansia Nasional itu. Sebab, selain kurang punya nilai jual, hari penting tersebut kalah populer dengan misalnya Valentine Days atau hari besar lainnya. Padahal, tanpa orang tua, kita tak akan ada di dunia ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jumlah orang lanjut usia di Indonesia saat ini sekitar 16,5 juta jiwa dari total penduduk yang mencapai lebih 220 juta jiwa. Jumlah tersebut, terus bertambah seiring meningkatnya angka harapan hidup penduduk Indonesia, termasuk meningkatnya pelayanan kesehatan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Pada tahun 1980, angka harapan hidup warga Indonesia adalah 54 tahun (perempuan) dan 50,9 tahun (laki-laki) . Sepuluh tahun kemudian, tahun 1990 meningkat menjadi 64,7 tahun (perempuan) dan 61 tahun (laki-laki). Pada tahun 2000 meningkat lagi menjadi 70 tahun (perempuan) dan 65 tahun (laki-laki).<span>  </span>Sehingga, tidak berlebihan jika pada abad ke 21disebut sebagai abad lansia (<em>era of population ageing</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, sebagian besar lansia di Indonesia (61,73%) tinggal di pedesaan. Lansia perempuan jumlahnya lebih banyak daripada laki-laki. Lalu, seperti bagaimana data dan jumlah lansia di Batam? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sebagai kota urban, pertumbuhan penduduk Batam terbilang pesat. Pada periode tahun 1990 sampai 2000, laju pertumbuhan kota pulau ini mencapai 12,87 persen. Namun, sejak dibatasi melalui Perdaduk, pertumbuhannya bisa ditekan menjadi 6,36 persen pada tahun 2001 hingga 2006. </span></p>
<p><span>Sampai Agustus 2007 penduduk Batam berjumlah 727.878 jiwa yang tersebar di 12 kecamatan dan 64 kelurahan. Menurut Kepala Dinas Kependudukan Kota Batam Sadri Khairuddin, hingga Desember 2008 total penduduk Batam 899.944 jiwa. <span> </span>Jumlah lansia mencapai 13.981 jiwa. </span></p>
<p><span>Perinciannya, usia 60 sampai 64 tahun 6.363 jiwa, usia 65 sampai 69 tahun 3.866 jiwa, usia 70 sampai 74 tahun 1.852 dan usia 75 tahun ke atas 1.900 jiwa. ‘’Kebanyakan berdomisili di pulau-pulau dan kawasan hinterland,’’ kata Sadri Khairuddin. </span></p>
<p><span>Mengapa kita harus peduli dengan para lansia? Lanjut usia sering diidentikan dengan kepikunan, ketergantungan pada orang lain (baca: keluarga), tidak produktif, menurunnya kemampuan baik secara fisik, ekonomi dan sosial. Sehingga, tidak jarang muncul perasaan tak berdaya dan hanya menunggu datangnya kematian. </span></p>
<p><span>Meski kita sering mengumandangkan bahwa para lansia dihormati karena memiliki kearifan dan pengalaman lebih banyak, faktanya berbicara lain. Tidak sedikit keluarga yang menitipkan para lansia ke panti jompo, atau ‘’dipaksa’’ mengasuh cucu, disediakan baby sitter dan sebagainya. </span></p>
<p><span>Psikolog Sartono Mukadis, yang pada usia senja tetap produktif meski kakinya diamputasi itu mengatakan, ia selalu memberi semangat pada dirinya untuk menikmati hari tua. Sebab, ia tak ingin mengalami kematian psikologis berupa kemarahan terhadap diri sendiri karena merasa tak berguna, serta kematian sosial berupa perasaan tak dibutuhkan dan menjadi beban bagi orang lain. </span></p>
<p><span>Kendati di Batam pada umumnya penduduk berusia produktif,<span>  </span>dengan jumlah lansia yang mencapai 13.981 jiwa itu, merupakan generasi yang perlu mendapat perhatian dan meningkatkan partisipasi mereka dalam kegiatan sosial, ekonomi, kesehatan, kerohanian dan sebagainya. Budaya kita tentu berbeda dengan Singapura yang mengabaikan para lansia sementara anak-anaknya sibuk bekerja. </span></p>
<p><span>Sering orang mengadakan hajatan pada saat anaknya lahir, berulang tahun, menikah dan seterusnya. Namun, jarang orang merayakan pada saat ia memasuki usia pensiun dan menjadi lansia. Paling tidak, perlu dikampanyekan semangat menikmati hari tua. Bukan menghadapinya dengan ketakutan dan menimbulkan apa yang disebut post power syndrom.</span></p>
<p><span>Salah satu kegiatan para lansia yang cukup positif adalah majlis taklim Husnul Khatimah, yang dikelola dan dibina oleh Masjid Raya Batam. ‘’Awalnya, kami mengadakan pesantren kilat khusus lansia. Ternyata, sambutannya luar biasa. ‘’Kini, setiap minggu lebih 250 orang lansia adalah anggota aktif,’’ kata Teten Nasrudin, salah seorang pengurus Masjid Raya yang sejak awal ikut membidani kelahiran majlis taklim ini. </span></p>
<p><span>Menurut Teten, ia menyaksikan betapa para lansia anggota majlis taklim Husnul Khatimah menemukan kegembiraan, kebersamaan, teman berbagi suka dan duka dan bersama-sama menimba ilmu agama. ‘’Yang diperlukan mereka adalah mengisi batinnya,’’ kata Teten, sambil menunjuk dadanya. </span></p>
<p><span>Selain pengajian mingguan secara rutin, sejak berdiri pada 5 April 2008 lalu, anggota majlis taklim Husnul Khatimah terus bertambah. Melihat animo para lansia itu, Teten menggagas mendirikan villa pesantren Husnul Khatimah. ‘’ Misinya, sebagai pembinaan dan pemberdayaan orang tua dan meningkatkan kualitas hidupnya secara terpadu. Makanya namanya bukan pondok, tapi villa pesantren,’’ ujar<span>  </span>Teten. </span></p>
<p><span>Apa yang akan dipelajari para lansia di pesantren itu? Antara lain, membaca Al-Quran, memahami hukum Islam, tauhid dan akhlak. Juga pemberdayaan di bidang ekonomi dan sosial kemasyaratan. Teten sudah menyiapkan proposal pembangunan villa pesantren tersebut. <span> </span>Ia berharap, para lansia di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, ikut tertarik bergabung dengan para lansia di Batam. </span></p>
<p><span>Ketidak berdayaan para lansia, tidak hanya karena keterbatasan fisik karena makin menua, tapi juga oleh sikap dan label yang dilekatkan kepada mereka. <span> </span>Antara lain, pembatasan dan isolasi secara sosial. Misalnya, agar orang tua alias lansia di rumah saja. Akibatnya,<span>  </span>mereka kehilangan kepercayaan diri, frustrasi dan akhirnya sakit-sakitan. </span></p>
<p><span>Gagasan mendirikan vila pesantren Husnul Khatimah untuk para lansia, patut didukung. Sebab, selain jumlah lansia di Batam terus bertambah, misalnya anak yang merantau ke Batam dan kehidupan sosial ekonominya mulai meningkat, membawa orangtuanya yang sudah lansia ke kota ini. </span></p>
<p><span>Setahun usia majelis taklim Husnul Khatimah, selain mengadakan pengajian rutin sekali seminggu, mereka juga mengadakan wisata dakwah ke Pulau Setokok. Malah, baru-baru ini berkunjung ke Masjid Sultan di Singapura. </span></p>
<p><span>Selain itu, pesantren lansia ini bisa menjadi contoh dan model di kota-kota lain. Sehingga, para lansia menikmati hidup dan hari tuanya dengan penuh kegembiraan. </span></p>
<p><span> Batam, 29 Mei 2009</span></p>
<p><em><span>Tulisan ini dimuat di Harian Batam Pos edisi 29 Mei dan saya dedika-sikan buat mama saya yang pada 22 Agustus nanti berusia 67 tahun.<span style="font-style: normal;"> </span></span></em></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/lansia-batam-dan-husnul-khatimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pulau Penawar Rindu</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/pulau-penawar-rindu/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/pulau-penawar-rindu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 07:02:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[ 
Menatap Belakangpadang, seperti gambar kontras dengan Batam. Padahal, dulu Batam adalah bagian dari Kecamatan Belakangpadang. Pelantar, pancung yang berjejer, menjadi pemandangan khas dan tak berubah dari tahun ke tahun. Mengapa pulau yang berjuluk Penawar Rindu itu lambat sekali maju?
  
SUDAH lebih tiga tahun saya tidak ke Belakangpadang. Meski terkesan lambat, kecamatan tertua di Batam ini mulai maju. Begitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/padang.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-243" title="padang" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/padang-300x233.jpg" alt="" width="300" height="233" /></a>Menatap Belakangpadang, seperti gambar kontras dengan Batam. Padahal, dulu Batam adalah bagian dari Kecamatan Belakangpadang. Pelantar, pancung yang berjejer, menjadi pemandangan khas dan tak berubah dari tahun ke tahun. Mengapa pulau yang berjuluk Penawar Rindu itu lambat sekali maju?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> <span id="more-242"></span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">SUDAH lebih tiga tahun saya tidak ke Belakangpadang. Meski terkesan lambat, kecamatan tertua di Batam ini mulai maju. Begitu boat pancung<span>  </span>merapat ke pelantar yang sesak dengan motor yang diparkir itu, di bibir pantai tertulis: Selamat Datang di Belakangpadang, Pulau Penawar Rindu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span><span>       </span>Saat menuju Belakangpadang, laut tampak makin kotor dan penuh sampah. Ganggang yang mati, potongan kayu mengapung dan mengganggu jalannya boat pancung, karena bisa nyangkut di mesin Yamaha berbekuatan 40 PK itu. Sama seperti dulu, boat pancung itu tak dilengkapi pelampung pengaman yang memadai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span><span>       </span>Belakangpadang makin ramai. Terutama oleh sepeda motor. ’’Mobil di Belakangpadang hanya dua. Mobil ambulan dan mobil jenazah,’’cetus seorang warga Belakangpadang. Becak juga masih jadi angkutan andalan di Belakang-padang. Namun, jarang pengemudi motor yang menggunakan helm. Padahal, jalan-jalan di pulau ini tidak mulus dan berlubang-lubang di sana-sini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>       </span><span>     </span>Pasarnya juga makin luas. Tapi tetap sepi. Sebagian besar toko-toko ma-lah tutup. ’’Pasar Belakangpadang ya begini inilah setiap hari,’’ kata tukang beca yang membawa saya berkeliling. Toko-toko pun makin ramai dibanding tiga tahun lalu. Namun Belakangpadang masih tetap menjadi andalan perdagangan pulau-pulau di sekitarnya seperti Pulau Terong, Kasu, Geranting dan sebagainya. Maklum, kecamatan Belakangpadang terdiri dari 55 buah pulau. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>      </span><span>      </span>Belakangpadang, seperti julukannya, memang menjadi pulau penawar rindu, bagi warganya yang bermukim di Singapura dan Malaysia, atau pulau-pulau lain seperti Batam, Bintan dan Karimun. Suasana kampung sangat terasa dan tenang. Belakangpadang jauh dari hiruk pikuk dan kebisingan kota besar. Namun, suara knalpot sepeda motor, makin ramai saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>   </span><span>         </span>Kalau dulu warga Belakangpadang selalu kesulitan air bersih, sejak adanya dam sehingga air bersih kini tak masalah lagi. </span><span>Sebelumnya, warga terpaksa membeli air bersih yang diangkut dengan boat pancung dari pulau-pulau lain. </span><span lang="SV">Selain itu, Belakangpadang kerap menjadi tumpahan limbah dan minyak yang berasal dari kapal-kapal tanker yang melayari Selat Malaka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>Saat saya berkeliling, ternyata Sekolah Dasar Negeri 001 Belakang-padang,<span>  </span>sejak tiga pekan lalu pekarangannya longsor. Akibatnya, plang nama SD yang terbuat dari semen itu, patah. Longsor tersebut berbahaya bagi murid-murid SD yang tetap bersekolah. &#8221;Longsor terjadi sudah tiga minggu, sejak hujan sering turun. Murid-murid tetap sekolah. Mau belajar dimana lagi?,&#8221; kata seorang warga di depan sekolah yang berlokasi di Kampung Bugis, Belakangpadang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Di depan jalan, dipasang papan pengumuman dari triplek. Dilarang mendekat di lokasi longsor, berbahaya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span><span>       </span>Agar tidak mengancam keselamatan murid-murid, guru SDN 001<span>  </span>Belakangpadang memasang pembatas di pekarangan sekolah agar murid tidak menjadi korban. Lokasi sekolah yang berbukit-bukit, sementara dam pengaman su-dah retak dan tua, sehingga sekolah itu rawan longsor. Namun, meski longsor terjadi tiga pekan lalu, belum ada upaya memperbaiki pekarangan sekolah yang longsor tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span><span>          </span>Sementara itu, jembatan Melawa di Belakangpadang, juga rusak dan ber-lubang di sana-sini. Jembatan kayu yang cukup panjang itu, dilewati pejalan kaki, sepeda motor, becak dan sepeda. Kayu jembatan yang sudah lapuk, sebagian ditambal-tambal. Namun, karena banyaknya kayu yang lapuk, sebagian jem-batan itu dihiasi lubang yang menganga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>            </span>&#8221;Sudah banyak yang jatuh dan terjungkal ke laut. Entah mengapa jem-batan ini tak pernah diperbaiki,&#8221; kata seorang warga yang melintasi jembatan tersebut. Apalagi, di kiri dan kanan jembatan, tidak ada pagar pembatas sehingga rawan kecelakaan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span>Anehnya, pihak Dinas Pendidikan mengaku belum tahu soal ini, saat ditanya wartawan. Begitulah. Belakangpadang masih tetap berkutat dengan segala problematikanya. Perlu keperdulian dan terobosan, semisal membangun hotel, agar pulau ini tidak tertinggal dan dikebelakangkan. ***   </span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/pulau-penawar-rindu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kampung Pekasih Pulau Terong</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/kampung-pekasih-pulau-terong/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/kampung-pekasih-pulau-terong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 11:31:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[Ratusan pulau-pulau di Batam punya daya tarik dan pesona alami. Ingin sesekali melepaskan diri dari hiruk pikuk kota dan rutinitas kerja? Pergilah ke pulau. Menikmati alam, bercakap-cakap dengan nelayan,  ikannya yang gurih, dan menginap semalam memberikan nuansa berbeda. Salah satunya di Kam-pung Pekasih, Desa Pulau Terong Kecamatan Belakang Padang. Inilah ceritanya.
 
Semburat cahaya matahari sore menerpa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/anak-kasu3.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-240" title="anak-kasu3" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/anak-kasu3-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Ratusan pulau-pulau di Batam punya daya tarik dan pesona alami. </span><span lang="FI">Ingin sesekali melepaskan diri dari hiruk pikuk kota dan rutinitas kerja? Pergilah ke pulau. Menikmati alam, bercakap-cakap dengan nelayan,<span>  </span>ikannya yang gurih, dan menginap semalam memberikan nuansa berbeda. Salah satunya di Kam-pung Pekasih, Desa Pulau Terong Kecamatan Belakang Padang. Inilah ceritanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span lang="FI"><span id="more-236"></span>Semburat cahaya matahari sore menerpa air laut, saat pancung melaju. </span><span lang="SV">Pancung yang sudah penuh pe</span><span lang="FI">numpang, berangkat dari Sekupang ke Belakang-padang. Namun, pancung yang kami tumpangi, menuju Pulau Terung, pulau pa-ling ujung di gugusan pulau Kota Batam. Saat pancung melesat di riak ge-lombang, bau laut yang khas, kapal-kapal yang lego jangkar, pikiran terasa lepas sejauh mata memandang.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>    </span><span>        </span>Jalur Sekupang ke Pulau Terung bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Rutenya begini. Melewati Pulau Sekilak, terus melintasi Pulau Sarang, Pulau Lengkang, Pulau Mecan, Pulau Nirop, Pulau Pemping, Pulau Labun dan me-lintasi Pulau Kasu. Dari sana terus melewati Pulau Siali, Pulau Panjang, Pulau Bontong, Pulau Kepala Jeri, Pulau Pecong, Pulau Jaloh, Pulau Tumbar, Pulau Sayak, Pulau Geranting dan Pulau Terong. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>  </span><span>          </span>Pulau Terong sendiri, merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Be-lakangpadang dan terdiri dari beberapa kampung seperti Pulau Teluk Bakau, Pulau Sunti, Teluk Kangkung dan Pulau Pekasih. Puluhan pulau-pulau yang kami lintasi itu, hanya yang berpenghuni. Belum lagi puluhan pulau-pulau kosong dan sebagian belum punya nama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>  </span><span>          </span>Penduduk Pulau Terong sekitar 250 Kepala Keluarga atau sekitar 3.000 jiwa. Warga Pulau Terong umumnya nelayan dan pengumpul rumput laut secara tradisional. Uniknya, sejak dulu transaksi di Pulau Terong menggunakan dolar Singapura. Saat mata uang negeri jiran itu perkasa, warga juga mendapat keun-tungan dari selisih nilai tukar dengan rupiah. ’’Dulu, nelayan sini bisa langsung jual ikan ke Singapura,’’ kata Amin. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>    </span><span>        </span>Saya, Iman Wahyudi, Ahmadi dan Herianton, beruntung bisa berkunjung ke Pulau Terong. Sebab, Hasan pemilik pancung yang mengangkut Batam Pos setiap dinihari dari Batam ke Tanjungbalai Karimun, putra asli Pulau Terong.<span>  </span>Se-panjang perjalanan,<span>  </span>Iman menjepret panorama alam, menjelang matahari terbenam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>  </span><span>         </span>Pulau-pulau yang berjejer tak beraturan, kampung nelayan, kapal-kapal yang melintas dan betapa jauh bedanya dengan Batam yang gemerlapan bermandikan cahaya lampu. Satu jam kemudian, pancung merapat di Kampung Pekasih, Pulau Terong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FI"><span>   </span><span>         </span>Suasana malam di kampung nelayan itu sepi. Jauh dari hiruk pikuk kota. Beberapa warga duduk-duduk di beranda rumah, menunggu mata mengantuk. Sunyi senyapnya Kampung Pekasih lantaran tidak ada satu pun mobil. Yang punya sepeda motorpun hanya satu orang, yakni pegawai PLN. ’’Motor satu-satunya di pulau ini untuk mengatasi kalau ada masalah listrik,’’ kata Hasan. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="FI"><span>  </span><span>          </span>Listrik di Kampung Pekasih dilayani PLN Tanjungpinang. Dua mesin diesel di ujung pulau dengan kapasitas 200 kilowatt, menerangi desa nelayan itu dari pukul 17.00 sore hingga jam 07.00 pagi.<span>  </span>’’Selama ini, listrik tak ada masalah dan jarang mati,’’ kata Ibrahim, warga Pekasih. Padahal, hanya satu orang yang menjaga mesin diesel itu sepanjang malam. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="FI"><span>    </span><span>        </span>Malam itu, kami berkeliling. Dari Pekasih, Teluk Bakau hingga ke Pulau Sunti berjalan kaki. Menyaksikan pelantar yang sudah rusak dan bolong-bolong dan melihat warga menangkap udang yang diterangi lampu petromak. ’’Warga sini menangkap udang pakai serampang. Kalau tak biasa, udangnya lari dan air keruh,’’ kata Amin, pemuda di Pekasih kepada kami. Serampang adalah kayu untuk menombak udang dan diujungnya dipasangi empat besi runcing dari besi tangkai payung. Udang akan terjepit di tengah ujung besi dan tak bisa meloloskan diri lagi.</span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="FI"><span>         </span><span>   </span>Makan malam yang disajikan istri Hasan, sedap sekali. Ikan lebam bakar yang gurih, masak tumis tenggiri dan udang asam pedas. </span><span lang="SV">Selain ikannya segar, bumbunya sangat terasa dan pas di lidah. Yang juga istimewa, otak-otak buatan sendiri. ’’Selama ini aku makan otak-otak, tak ada yang seenak ini,’’ kata Iman Wahyudi. Selain isinya lebih banyak ikannya, kebanyakan otak-otak yang dijual lebih banyak tepungnya. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span></span><span lang="FI">Saat malam tiba, kampung nelayan itu sunyi senyap. </span><span lang="SV">Tak ada suara knalpot yang meraung-raung di tengah malam. Warga lebih suka tinggal di rumah dan bercengkrama dengan keluarga. Warung yang bisa dihitung jari, jam 20.00 malam sudah tutup. Kalau udara panas, warga memilih duduk bahkan tidur di pelantar di antara sepoi angin laut.<span>  </span></span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>  </span><span>          </span>Kendati warga Batam jarang yang pelesir ke Kampung Pekasih Pulau Terong, ternyata beberapa kali ada warga Singapura yang suka ke sana. Menikmati kesunyian dan keasrian alamnya dan tentu saja makanannya. Namun, sebagian besar warga Pekasih, merantau dan bekerja di Malaysia. ’’Kampung ini ramai kalau lebaran. Semua warga yang merantau pulang,’’ kata Hasan. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span> </span><span>           </span>Kehidupan warga Pekasih bernuansa religius. Umumnya, setiap kampung punya masjid yang hanya berjarak beberapa ratus meter saja.<span>  </span>Air bersih yang dialirkan dengan selang ke rumah-rumah penduduk, dikelola oleh masjid. Yang menagih pembayaran rekening adalah pengurus masjid. Satu-satunya SMA di sana, berlokasi di Teluk Bakau. Pelajar datang berjalan kaki, melewati jalan setapak. Namun, yang sering dikeluhkan warga, jalan menuju SD yang sudah bertahun-tahun tidak juga disemen. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span>Jembatan yang menghubungkan Teluk Bakau dan Teluk Sunti, baru selesai dibangun. Namun, sebuah pelantar yang menjadi andalan untuk trans-portasi warga menggunakan pancung dan speed boat, sudah lama rusak dan kayunya nyaris hancur. Seorang bidan desa bernama Ami, sudah dua tahun bertugas di Poliklinik Desa, melayani pengobatan warga. ’’Warga di sini lebih suka obat luar daripada obat generik,’’ katanya. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span>Pulau yang letaknya paling ujung di Batam itu, sampai saat ini masih menghadapi kendala soal telekomunikasi. Sinyal handphone hilang timbul. Beberapa warga, terpaksa pergi ke ujung pelantar untuk menelepon. Atau memasang antena khusus di rumah agar bisa menangkap sinyal operator<span>  </span>selular. Dalam perjalanan ke Pulau Terong, yang muncul malah sinyal Sing Tel Mobile Singapura. ’’Tak satu pun tower operator seluler berdiri di pulau ini,’’ kata Hasan. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"><span>            </span>Selain menangkap ikan, sektor perkebunan dan pariwisata, bisa dikembangkan di pulau ini. Apalagi, pasar Singapura yang sudah dimasuki warga bertahun-tahun sebelumnya, bisa dikembangkan lagi secara lebih baik sehingga mampu mendongkrak perekonomian warga setempat. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV">Yang diperlukan warga Pulau Terong adalah, perhatian dan kesungguhan hati pemerintah Kota Batam mengembangkan potensi yang ada. Bukan sekedar kunjungan seremonial beberapa jam, mengumbar janji-janji kepada warga, lalu pergi dan tak pernah kembali lagi. Dengan begitu, warga Pulau Terong tak perlu mengeluarkan pernyataan, memilih bergabung ke Kabupaten Karimun. </span></p>
<p class="MsoListBullet"><span lang="SV"> <strong>Kalau Stres, Pergilah ke Pulau&#8230;</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> KALIMAT itu terlontar secara spontan dari mulut Hasan. Sebelum ia mengundang saya ke Kampung Pekasih Pulau Terong, sudah beberapa kali rombongan warga Singapura, datang dan menginap di sana. Wisata alam dan wisata kuliner berpontensi dikembangkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Batam memang kota pulau.<span>  </span>Ratusan pulau-pulau mengelilingi kota perbatasan ini. Di Kecamatan Belakangpadang terdapat 55 pulau, Kecamatan Sekupang 7 pulau, Kecamatan Bulang 68 pulau, Kecamatan Nongsa 18 pulau dan di Kecamatan Galang 83 pulau. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Berkunjung ke pulau-pulau itu, selain melepaskan ketegangan dan menghilangkan stres, juga bisa memantau perkembangan warga hinterland yang tersebar di pulau-pulau tersebut. Alamnya yang menawan, makanan khas laut yang menggiurkan, serta pengalaman tinggal di pulau akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Caranya, Pemko Batam melalui Dinas Pariwisata, bisa mendata mana pulau-pulau yang layak kunjung dan menginformasikan potensi wisatanya. </span><span>Termasuk wisata kuliner, wisata sejarah dan wisata religius di pulau tersebut. Jika sudah ada pulau yang masuk daftar layak kunjung, lalu diinformasikan kepada warga pulau untuk bersiap menerima wisatawan. Mungkin wisatawan lokal dulu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kapal-kapal nelayan, seperti pancung, speed boat bisa dimanfaatkan sebagai sarana transportasi, saat mereka tidak melaut. Tak perlu bangun hotel, rumah-rumah penduduk, bisa disulap menjadi home stay, lalu menyediakan kebutuhan makanan dan minuman sesuai jumlah wisatawan yang bakal datang. Misalnya, ikan segar, otak-otak yang siap dibakar, minuman dan sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lalu, apa yang menarik minat wisatawan? Selain menjual suasana kampung nelayan, juga menjual pengalaman menangkap ketam, menjala atau memancing ikan, atau menombak ikan dan udang dengan serampang atau tempuling. Wisatawan bisa menjajal kemampuannya seolah-olah menjadi nelayan. Pemandu wisatanya tentu saja nelayan asli. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Interaksi dengan warga pulau, juga bisa dilakukan dengan pertandingan olahraga persahabatan semisal sepakbola dan voli ball, atau menggelar pertunjukan kesenian. Bagi penggemar hiking, bisa menjelajahi pulau. Yang suka fotografi, bisa berburu foto menarik tentang laut dan kehidupan nelayan. Pengalaman menginap di pulau, akan menjadi seru dan mengasyikkan. Jika Pemko Batam berkampanye Visit Batam 2010, hari ini kita bisa lakukan: Visit Pulau Terong, sekarang!*** </span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/kampung-pekasih-pulau-terong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyeberang Batam-Bintan</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/menyeberang-batam-bintan/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/menyeberang-batam-bintan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 04:22:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Bosan berputar-putar keliling pulau Batam? Anda bisa menyeberang ke Pulau Bintan. Naikkan mobil Anda dan keluarga ke kapal roro dari Telagapunggur menuju Tanjunguban. Tak sampai satu jam, Anda sudah bisa menyetir sendiri, menjelajahi Pulau Bintan. Seru dan mengasyikkan. 

 Pagi-pagi, saya sudah tiba di pelabuhan kapal roll on-roll off atau biasa disebut roro, di Telagapunggur. Dibandingkan pelabuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/roro.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-241" title="roro" src="http://thesocratesmedia.com/wp-content/uploads/2008/11/roro-300x253.jpg" alt="" width="300" height="253" /></a>Bosan berputar-putar keliling pulau Batam? Anda bisa menyeberang ke Pulau Bintan. Naikkan mobil Anda dan keluarga ke kapal roro dari Telagapunggur menuju Tanjunguban. Tak sampai satu jam, Anda sudah bisa menyetir sendiri, menjelajahi Pulau Bintan. Seru dan mengasyikkan.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-232"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> Pagi-pagi, saya sudah tiba di pelabuhan kapal <em>roll on-roll off</em> atau biasa disebut roro, di Telagapunggur. Dibandingkan pelabuhan ferry di sebelahnya, pelabuhan roro lebih sepi. Padahal, sejak dua tahun lalu, pelabuhan itu dikelola ASDP Ferry Indonesia. Ada tiga kapal roro yang dioperasikan. Yang paling besar, Kapal Mo-tor Penyeberangan (KMP) Kuala Batee II, yang mampu membawa 21 mobil dan puluhan sepeda motor.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>    </span>Selain warga Tanjunguban dan Lobam, kapal yang berlayar dua kali dari Ba-tam jam 10.00 pagi dan jam 16.00 sore, dan dari Tanjunguban jam 08.00 pagi dan jam 13.00 siang, cukup ramai. ‘’Pegawai Pemprov yang bawa mobil dari Batam ke Tanjungpinang, sering naik roro. Tapi, belum banyak warga Batam yang tahu, kini bisa menyeberang ke Bintan bawa mobil sendiri,’’ kata seorang warga Batam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>   </span>Ingin menjajal jalan-jalan di Pulau Bintan, saya mencoba naik kapal roro ini. Syaratnya, mobilnya bukan seri X, mengurus surat jalan dan dilengkapi fotocopy BPKB, STNK, SIM dan KTP serta membayar tiket kapal roro. Hanya lima menit, surat jalan dari polisi yang diteken Kapolpos Pelabuhan Penyeberangan ASDP Aiptu Ramli itu, selesai. Surat jalan itu berlaku tiga bulan, khusus penyeberangan roro Telagapunggur-Tanjunguban.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">  Harga tiket angkutan mobil bervariasi. Jenis sedan Rp178.400 sekali jalan. Penumpang dewasa Rp14.800 dan anak-anak Rp11.700. Saat jam kebe-rangkatan tiba, mobil yang akan menyeberang, mulai masuk ke kapal Kuala Ba-tee, dan disusun rapi dari haluan hingga ke buritan. Penumpang bisa duduk di lantai dua. Meski sudah agak tua, kapal roro Kuala Batee cukup nyaman dan lapang. Jika penumpang ramai, ASDP mengoperasikan dua kapal lainnya yang lebih kecil kapasitasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span>Beberapa saat setelah berangkat, dua awak kapal bernama Amiruddin dan Basri, memperagakan cara mengenakan life jaket atau pelampung keselamatan penumpang. Jika di pesawat terbang yang terdengar suara pramugari dan diperagakan awak kabin, di kapal roro pakai pengeras suara yang biasa dipakai demonstrasi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>     </span>‘<em>’Assalamualaikum.</em> Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, kami memperagakan cara menggunakan <em>life jacket</em> untuk keadaan darurat. Caranya, sama dengan memakai baju biasa, lalu kancingkan talinya dan tiup peluitnya untuk meminta bantuan. Semoga bapak ibu senang dengan pelayanan kami, dan selamat sam-pai di tujuan,’’kata Amiruddin, lalu mengatakan hal sama di ruangan tengah kapal. Kata-katanya, terdengar lagi oleh penumpang di depan. Beberapa pe-numpang yang baru pertama kali naik roro, tersenyum-senyum. ‘’Mirip naik pesawat,’’katanya, tertawa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>    </span>Perjalanan dari Telagapunggur ke Tanjunguban ditempuh selama 55 menit. Satu persatu, penumpang dan mobil keluar dari perut kapal. Saya yang sudah lama tak pergi ke Tanjunguban,<span>  </span>melihat ibukota kecamatan binut ini sudah ber-kembang pesat. Jalan-jalan, meskipun masih kurang lebar dan dua arah, makin mulus. Yang paling terasa, adalah sejak diperbaikinya jalan di sepanjang pantai Sekera yang melintasi Kelurahan Tanjunguban Utara, Sebong Pereh dan Se-bong Lagoi dan Sungai Kecil. Kalau menggunakan jalan satunya, berkelok-kelok dan banyak tikungan tajam, jalan di pantai Sekera lebih lurus sehingga kita bisa memacu kendaraan lebih cepat hingga ke simpang Lagoi.<span>  </span>‘’Jalan lama berkelok-kelok yang dibangun Jepang sehingga warga bilang, jalan itu dibikin Jepang mabuk,’’kata seorang warga, bergurau. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>   </span>Tanjunguban makin maju belakangan ini. Kota kecamatan itu makin ramai dan ruko-ruko baru dibangun, meski listrik masih jadi masalah. Bank-bank terus bermunculan seperti BCA, Bank Mandiri, BII, BNI dan BPR Bintan.<span>  </span>Rencananya, bulan depan juga akan diresmikan Bank Riau cabang pembantu Tanjunguban. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span>Jarak tempuh Tanjunguban ke Tanjungpinang jauhnya 90 kilometer. Jika jalan di Busung dibangun, maka jarak tempuhnya makin singkat menjadi 60 kilometer saja. Dari Tanjunguban, saya meluncur menuju Tanjungpinang. Jalannya lumayan mulus, tapi sempit dan banyak tikungan tajam dan naik turun bukit. Seke-liling jalan, masih banyak hutan dan baru ada rumah penduduk kalau melintasi desa. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span>Tak sampai setengah jam, saya melewati Simpang Lagoi, kawasan wisata ter-padu yang terkenal itu, lalu terus ke Sribintan, Toapaya, Busung, melewati jalan lintas Barat dan tembus ke Bintan Centre, Tanjungpinang. Mengemudi dengan kecepatan rata-rata 60 hingga 70 km/jam, saya menempuh Tanjunguban-Tan-jungpinang dalam waktu 1,5 jam. Di sepanjang jalan, bendera partai terpasang. Entah siapa sasaran kampanye partai-partai itu lantaran dipasang di tempat sepi begitu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><span>  </span>Jangan khawatir tersesat di jalan. Sebab, selain itu jalan satu-satunya, kita bisa bertanya kepada warga setempat, arah yang benar. Sebaiknya, Anda mengemudi siang hari karena tak satupun lampu jalan terpasang dan kondisi jalan yang rawan kecelakaan. Setelah beristirahat sejank di Tanjungpinang, saya kembali menempuh rute yang sama menuju Lagoi. Saya heran ketika Sigit Rahmat, Kepala Perwakilan <em>Batam Pos</em> di Tanjungpinang mengatakan, sayalah orang Batam Pos pertama yang menempuh rute Tanjunguban-Tanjungpinang naik mobil dari Batam.<span>  </span>Yang jelas, jika di Batam Anda mengemudi paling jauh hanya 54 kilometer sampai ke Galang melewati jembatan Barelang, kini ada pilihan lain, berlibur ke Pulau Bintan bisa menjadi pilihan naik kapal roro. Seperti semboyan ASDP: Menjadi jembatan bangsa. Biarlah proyek jembatan Batam-Bintan menjadi janji politik saja. ***</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/menyeberang-batam-bintan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mahakam di Tengah Malam</title>
		<link>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/</link>
		<comments>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Oct 2008 09:31:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>socrates</dc:creator>
				<category><![CDATA[feature]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://thesocratesmedia.com/?p=230</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan panjang ke Kilometer 26 Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, cukup melelahkan. Namun, rasa kebersamaan, keperdulian saat krisis ekonomi global, terasa mengental. Ini jadi modal menghadapi krisis yang tak tahu kapan akan berakhirnya.  

  
Melintasi udara dari Batam ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Balikpapan, menempuh jalan darat ke Samarinda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Perjalanan panjang ke Kilometer 26 Embalut Kecamatan Tenggarong Seberang Kutai Kartanegara Kalimantan Timur, cukup melelahkan. Namun, rasa kebersamaan, keperdulian saat krisis ekonomi global, terasa mengental. Ini jadi modal menghadapi krisis yang tak tahu kapan akan berakhirnya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-230"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal">Melintasi udara dari Batam ke Jakarta, lalu terbang lagi ke Balikpapan, menempuh jalan darat ke Samarinda dan melintasi Bukit Soeharto, terus menuju desa Tanjungjati, menyeberangi Sungai Mahakam naik perahu klotok di waktu malam, lalu tibalah kami di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cahaya Fajar Kaltim. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Lokasinya di tengah hutan. Perjalanan yang sungguh melelahkan.<span> </span>Dua jam naik pesawat dari Jakarta ke Balikpapan, lalu naik bus ke Samarinda, terus ke pinggir Sungai Mahakam, menyeberang pakai perahu, langsung rapat hingga dinihari. Badan rasanya penat alang kepalang.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Namun, saya terhenyak menyaksikan potret kemiskinan daerah terkaya di republik ini. Rumah-rumah kayu, jalan tanpa aspal dan berlubang, krisis listrik di berbagai wilayah, penataan kota yang semrawut lantaran keterbatasan di lokasi pinggir sungai. Berbanding terbalik dengan kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Kalimantan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Gundukan batubara yang siap diekspor, hasil hutan yang melimpah hingga minyaknya yang disedot dari dalam tanah. ‘’Seluruh Kalimantan ini sudah tersambung pipa minyak karena tanahnya berpasir, mungkin di bawah tanah sudah bolong semua,’’ kata Netty, warga Balikpapan keturunan Dayak dan Banjar.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di sepanjang jalan, saya menyaksikan banyak sekali baliho dan poster dukungan buat caleg dan kepala daerah. Saya bertanya-tanya, apakah mereka perduli dengan nasib warga Kalimantan yang ibarat ayam mati di lumbung padi? Wajah mereka calon kepala daerah dan calon legislative itu ganteng-ganteng dan kelihatannya kaya-kaya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Sementara, krisis terus menghantui berbagai belahan dunia. Bursa ditutup. Investor panik dan butuh likuiditas segera. Sebab, Amerika Serikat yang dikenal sebagai imperium kapitalisme itu, sedang limbung dihajar krisis. Nilainya tak tanggung-tanggung. 540 Triliun Dolar AS. Meski pemerintah Bush sudah mengguyurkan dana bailout, tidak mampu mengatasi krisis yang melanda.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Dalam perjalanan dari Samarinda ke Balikpapan, seorang pengusaha terkenal Batam menelepon saya. ‘’Krisis ini lebih buruk tiga kali lipat dibandingkan krisis yang pernah terjadi tahun 1930. Saya bukan tak mau bicara soal krisis keuangan ini, dampaknya tidak baik buat saham-saham saya. Perusahaan di kawasan industri di Batam bisa berkurang separuh dan dampaknya pada tenaga kerja,’’katanya, serius.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Di tengah gejolak krisis, saya menyaksikan Kalimantan yang kaya minyak, kayu dan batubara itu, masih tetap miskin. Samarinda sulit berkembang menjadi ibukota propinsi, dan kemajuannya dikejar Balikpapan. Jalan-jalan yang curam dan mendaki lantaran kontur tanahnya berbukit-bukit di pinggir sungai itu, penuh lubang dan sempit.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Rumah-rumah panggung, diselingi rumah beton yang megah pertanda disparitas pendapatan penduduk yang timpang. Kemegahan Samarinda hanya tersisa dari pembangunan stadion setelah sukses melaksanakan hajatan Pekan Olahraga Nasional. Gundukan batubara dalam kapal tongkang, silih berganti menyusuri Sungai Mahakam. Kapal-kapal kayu dan sampan, menjadikan sungai itu sebagai jalur pelayarannya. <span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Seorang pengusaha yang perduli dengan bumi Kalimantan, berupaya menyediakan energi listrik malah terancam kelangsungan bisnisnya. Ia memproduksi listrik dan menjual ke PLN dengan harga Rp475/kwh. Sementara, biaya produksi PLN Samarinda Rp2000/kwh. Celakanya, harga batubara yang disepakati dalam kontrak Rp20.000 kini melonjak dua kali lipat.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>‘’Saya tidak mau berbisnis dengan cara injak kaki atau nyogok. Ternyata, percuma saja kita baik sama Bupati, Wapres atau presiden sekalipun. PLN tetap bersikeras tidak mau merubah kontrak. Kini, seluruh kekayaan saya sudah tersedot proyek ini,’’katanya, menyesali keputusannya.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Memang, tak selamanya berbuat baik dan lurus-lurus saja, akan mulus hasilnya. Sedangkan yang bengkok-bengkok dan melanggar aturan bisa sukses dan meraup untung banyak. Ada istilah cost of doing business. Begitulah yang terjadi di negara yang korupsi, kolusi dan injak kaki sudah dianggap biasa dan wajar-wajar saja.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Kalau begini caranya, kapan provinsi kaya ini akan menikmati hasil kekayaannya sendiri, dalam bentuk listrik yang akan membuat Samarinda terang benderang? Tapi, mungkin PLN kualat. Saat tower listrik di Balikpapan roboh, kota itu gelap gulita dan listrik padam bergilir selama tiga hari. Agaknya, Mahakam akan tetap gelap di waktu malam. ***</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://thesocratesmedia.com/mahakam-di-tengah-malam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

