Caleg oh Caleg
Manusia memang kerap terpesona dengan kekuasaan, yang dilambangkan dengan dewa Janus. Dewa dalam mitologi Yunani kuno yang berwajah kembar dan menghadap ke kiri dan ke kanan. Kebutuhan manusia seperti digambarkan Maslow, yang tertinggi adalah kebutuhan eksistensi diri. Nah, dalam posisi seperti apa calon-calon legislatif kita yang hari-hari ini sibuk menjaring suara?
Seorang caleg menelepon saya. Ia mengatakan, butuh tambahan suara. Ia minta saya agar saya mengumpulkan warga dan minta dukungan untuknya. Caleg lain, juga megirim pesan pendek. Katanya, demi persahabatan, ia minta diskon harga iklan. Sedangkan yang mengirim pesan minta dukungan, juga cukup banyak.
Ada pula caleg yang menyebutkan kepada saya, ia lebih memilih memberikan bantuan ke tempat ibadah. Sebab, kalau dananya dikucurkan kepada tim sukses, belum tentu ia akan menang. ”Kalau memberi untuk tempat ibadah, kalau kalah pun kita tak kecewa. Hitung-hitung beramal,” kata politisi senior itu.
Lain lagi ulah seorang caleg yang kebetulan kenal saya. Sore menjelang magrib, ia datang ke rumah saya. Ia mengundang saya hadir pada acara tahlilan. Karena tetangga dan apalagi ini tahlilan, saya pun datang. Dengan memakai baju koko dan songkok, saya datang ke rumah tetangga saya itu. Ternyata, sudah ramai. Saya pun duduk di sudut.
Ternyata, acara tahlilan itu hanya bungkusnya. Isinya adalah, sang kiai mengajak warga doa bersama agar tetangga saya yang nyaleg itu, terpilih dalam pemilu nanti. Begitu acara doa bersama selesai, buru-buru saya pulang.
Melihat banyaknya caleg yang sedang berebut suara pemilihnya, seorang teman berkata. Dulu pemilu tahun 1999, caleg yang mengakali rakyat pemilihnya. Lalu, pada pemilu tahun 2004 kondisinya terbalik. Malah rakyat yang mengakali caleg dan parpol. Salah satunya, di Batam pernah ada orang yang menyebut dirinya Singa Lapar yang menawarkan satu orang yang hadir kampanye uang tunai Rp50 ribu.
Kenapa ia lakukan itu? Si Singa Lapar menjawab. ”Saya tahu, partai politik tak punya massa, makanya saya sediakan massa asalkan bayar. Soal apakah ia memilih parpol yang kampanye itu atau tidak ya terserah dia,” katanya, tertawa.
Nah, konon pada pemilu 2009 ini, masih kata teman saya itu, antara rakyat dan caleg saling intip, siapa mengakali siapa.
Yang merisaukan saya, soal partisipasi politik yang makin menurun. Antara lain, orang yang tidak menggunakan hak pilihnya alias golput. Bisa jadi karena tak terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap atau karena ia memilih untuk tidak memilih. Yang lebih membuat miris, makin banyak orang-orang yang apolitics alias orang yang anti dengan politik. ***
Comments
One Response to “Caleg oh Caleg”
Leave a Reply



Saya juga melihat caleg kadang terlalu mengada-dada dalam berkampanye. saya lebih setuju bila seorang caleg itu menyumbang ke rumah ibadah. bagaimanapun pasti lebih bermanfaat dari pada langsung kepada orang per orang.
salam kenal bang socrates.