Bukittinggi setelah 12 Tahun

July 24, 2009 · Filed Under pribadi 

Setelah dua belas tahun, saya kembali ke Bukittinggi. Bulan Juli 1997 saya pindah tugas ke Batam, setelah setahun di kota yang menawan ini. Rasanya, baru kemarin saya berada di bawah jam Gadang. Setelah memburu berita, mengirim via modem, lalu rehat sejenak menikmati hawa Bukittinggi yang dingin menusuk tulang. Apa perubahan yang terjadi setelah dua belas tahun?

Saat menjejakkan kaki di Bukittinggi 12 tahun lalu, saya dan beberapa teman ditugaskan merintis perwakilan Riau Pos di Sumatera Barat. Ada Riki di bagian pemasaran, Nila sebagai kapoltir iklan, Aning, Arman dan Santi di pemasaran koran, Junaidi pengantar koran serta Afrimen dan kawan-kawan di beberapa daerah sebagai wartawan. Ada satu karyawan administrasi bernama Eva.

Kami menempati sebuah rumah tua –konon dulu pernah jadi rumah sakit—di kawasan Mandiangin. Dua kamar tidur, satu ruangan tengah, dan satu kamar di belakang dan dapur. Dua bulan kemudian, Ade Adran Syahlan bergabung ke Bukittinggi. Kami menjadikan kantor itu sekaligus sebagai tempat tinggal.

Rumah tua itu berdebu. Saya dan Riki gotong royong membersihkannya. Semua serba terbatas. Saya tidur di kamar depan menggunakan velbed alias tempat tidur lipat. Dari Pekanbaru yang panas lalu pindah tugas ke Bukittinggi yang dingin, memang bukan perkara gampang. Yang jelas, jadilan saya tidur meringkuk di tempat tidur lipat, lalu paginya memburu berita.

Saat itu, sungguh sulit menjelaskan ke narasumber, apa dan bagaimana koran Riau Pos. Sebab, selain koran-koran di Sumatera Barat sudah eksis seperti Haluan dan Singgalang, nama Riau Pos tidak populer dan familiar di telinga orang Minang. Malah, ada yang mengira saya pegawai kantor pos, ha..ha..ha..!

Namun, bekerja di Bukittinggi cukup menyenangkan. Meski gaji saya saat itu relatif kecil, tapi cukup karena tak biaya hidup terjangkau. Apalagi, tak perlu bayar kos. Kota ini gudang kuliner dan makan enak. Selain nasi kapau yang terkenal itu, di sebelah kantor kami, ada warga yang berjualan nasi dengan sambal lado teri yang enak dan gurih.

Selain itu, hubungan dengan kawan-kawan sekerja akrab dan hangat. Kadang-kadang, kami patungan beli sayur dan lauk, lalu cewek-ceweknya masak-masak dan kami makan beramai-ramai. Dengan wartawan dari media lain, kami juga akrab dan diterima sebagai teman seprofesi. Meski medianya bersaing, hubungan antar wartawan cukup dekat.

Ada beberapa kisah yang saya kenang di Bukittinggi. Sekitar empat bulan di Bukittinggi, tiba-tiba saya menerima perintah pindah tugas ke Batam. Namun, saya datang ke kantor Riau Pos di Pekanbaru yang saat itu masih di Jl Kuantan Raya, saya dipanggil bos saya Pak Rida, ke ruangan dekat percetakan. Saya ditanya,’’ kau mau kemana?,’’ tanya Pak Rida. Saya heran, lalu menjawab,’’ Kan katanya mau pindah ke Batam, Pak,’’ jawab saya.

Tanpa saya duga, Pak Rida berkata,’’Nggak usahlah kau ke Batam. Kau balik saja ke Bukittinggi dan menjadi Kepala Perwakilan di sana,’’ katanya. Saya tercengang. Padahal, baru sekitar delapan bulan saya menjadi wartawan. Spontan saya berkata,’’ Apa nggak buru-buru mengambil keputusannya, Pak?,’’ kata saya. ‘’Kau coba sajalah. Aku dulu juga nggak tahu soal bisnis surat kabar,’’ katanya. Jadilah saya kembali ke Bukittinggi menjabat sebagai Kepala Perwakilan. Saya jadi malu, karena sebelumnya sempat pamitan dengan kawan-kawan dan kenalan di Bukittinggi.

Tidak gampang memasarkan Riau Pos di Sumbar. Selain cetaknya di Pekanbaru, perlu waktu lima jam mengirimnya ke Bukittinggi menggunakan mobil ekspedisi. Supir dan pemilik mobil ekspedisi itu kami panggil Uwo, orang Bangkinang. Tubuhnya tinggi dan gempal, memakai kacamata minus. Kalau koran siap cetak, ia ngebut ke Bukittinggi seperti kesetanan. Padahal, jalan ke Pekanbaru sempit dan penuh tikungan tajam.

Suatu hari, saya heran melihat Uwo. Matanya merah dan jalannya limbung. Dia bilang, minta maaf karena sudah tidak tahan lagi. Saya makin heran, maksudnya apa. Uwo lalu pergi ke belakang kantor. Ketika saya ke belakang, saya melihat Uwo duduk di kursi dan tangannya di dengkul. Kepalanya menggeleng-geleng dengan kuat. Matanya terpejam. Di kupingnya, terpasang earphone dari sebuah walk man.

Ada apa dengan Uwo? Oalah! Ternyata ia lagi ‘’on’’ setelah menelan pil ekstasi. Jadi, selama di perjalanan, ia menggeleng-geleng sambil menyetel musik keras-keras. Saya lalu menagmbil kamera dan memotretnya. Saya berpikir, kalau saya tulis ulahnya, dia pasti marah. Dan kalau saya biarkan, ia pasti ketagihan. Nah, kalau terus-terusan begitu, bisa-bisa mobilnya masuk jurang dan koran tidak sampai ke pelanggan. Lalu, bagaimana?

Saya putuskan tetap menulis. Nama Uwo saya samarkan. Begitu tulisan itu terbit keesokan harinya, si Uwo marah besar. Ia hampir memukul saya. Saya diam saja. Saya bilang, tujuannya baik agar ia tak celaka di jalan. Perkiraan saya benar. Saya mendengar kabar, Uwo pernah menabrak kerbau yang melintasi jalan, menabrak beberapa taksi yang parkir di pinggir jalan, dan pernah masuk jurang. Sekarang, saya tidak pernah bertemu lagi, setelah saya pindah ke Batam.

Meski setahun jadi Kepala Perwakilan Riau Pos di Sumbar, kami sempat menjadi tuan rumah rapat Jawa Pos Grup wilayah Barat. Saya bertemu dan ngobrol dengan Pimred Jawa Pos Dimam Abror. Saya juga pernah dikejar-kejar tentara, gara-gara menulis kisah seorang pramuria di kafe bernama Pondok Bambu. Tulisan itu salah kode sehingga senior saya M Siebert juga kena getahnya. Saya salut, ia bertahan tidak memberitahukan identitas saya kepada tentara yang datang menjemputnya jam tiga dinihari.

Tak terasa, dua belas tahun sudah saya meninggalkan Bukittinggi. Tak banyak yang berubah, kecuali sudah cukup bersih. Hanya saja, hawanya tidak sedingin dulu. Mungkin karena makin padat dan hutannya berkurang. Jalan-jalan masih saja sempit. Billboard dan papan merek makin bertaburan tak teratur. Saya menginap di hotel Novotel yang sejak dua tahun lalu berganti nama menjadi hotel The Hills.

Bagi saya, Bukittinggi masih tetap kota yang saya sukai. Makanannya tetap enak. Mulai dari nasi kapau, emping dadiah, hingga lontong sayur dan serabi. Saat melintasi Jalan A Rivai, saya teringat seseorang. Jalan ini adalah alamat yang selalu jadi tujuan surat-surat yang saya kirimkan kepadanya. Juga seseorang yang tak sanggup melawan kehendak ayahnya ketika ada yang mendekatinya.

Jam Gadang, Ngarai Sianok, Nasi kapau, panorama, pasar atas, bawah dan pasar lereng, bendi-bendi yang ditarik kuda, benteng Fort de Kock, jembatan Limpapeh. Jalannya yang berliku dan menurun mendaki serta hawanya yang sejuk. Ah, Bukittinggi memang kota yang menawan….

Bukittinggi, 24 Juli 2009

Comments

One Response to “Bukittinggi setelah 12 Tahun”

  1. yudi on August 28th, 2009 9:50 pm

    anda sungguh orang yg tabah,,,tetapi semua itu sudah ada hasilnya,,,

Leave a Reply