Berdamai dengan Kenyataan (20/5/1967 – 20/5/2009)

May 26, 2009 · Filed Under pribadi 

 

Hari ini, 20 Mei 2009, saya berumur 42 tahun. Tak ada rencana khusus untuk merayakannya. Meski istri saya sudah berencana mengantarkan makanan sekadarnya untuk anak-anak panti asuhan, tanda bersyukur kepada Allah SWT. Kalau biasanya saya diberi kado buku oleh mama, beberapa hari sebelum ultah, mama mengatakan kepada saya: Berdamailah dengan kenyataan…

Seingat saya, tak pernah ulang tahun saya dirayakan. Meski tak kekurangan, keluarga saya biasa-biasa saja. Malah, makin lama, hidup terasa makin susah. Padahal, sampai berumur 10 tahun, keluarga saya termasuk berada untuk ukuran di kota kecil Payakumbuh, Sumatera Barat.  Sebab, papa saya penguasaha di bidang transportasi dan mama bekerja sebagai perawat bidan yang pensiun muda lalu buka apotik.

Papa punya usaha angkutan antar kota. Mobil bus kuno miliknya namanya Pozsla. Artinya, Perusahaan Oto Zubir Sutan Lembang Alam. Itu nama kakaknya yang kemudian sakit-sakitan dan usahanya diteruskan papa. Mama buka apotik di kawasan pecinan dan namanya Misoya Farma. Tetangga kami orang Tionghoa dan pergaulan orangtua saya, cukup banyak warga Tionghoa.  Rumah kami, hanya 100 meter dari bioskop sehingga saya paling sering diajak nonton film kungfu dan Shaolin.

Teman-teman pun banyak warga Tionghoa. Ada Asiong yang pernah saya tendang sampai setengah pingsan, Aming, Meme, Lily dan lainnya. Seperti dua kakak dan adik saya, kami semua sekolah di SD Pius, sekolah terbaik di Payakumbuh. Anak-anak warga Tionghoa, umumnya sekolah di sana. Sampai kemudian, keluarga saya pindah dan membangun rumah sendiri di  LabuhBasilang.  Ini karena jalannya bersimpang empat seperti silang.

Kawasan ini terkenal dengan premannya.  Jadilah saya ikut-ikutan ulah preman juga. Begadang sambil main gitar, nyolong ayam, hingga berkelahi dan tawuran. Beberapa kali, saya malah berkelahi dengan tentara. Akibatnya bisa ditebak. Bonyok. Lantaran nakal, saat kelas I SMA saya tinggal kelas karena memaki guru dalam kelas. Saya jengkel karena dituduh bikin keributan karena ulah teman yang iseng.  Karena malu, saya kemudian pindah ke INS Kayutanam.

Sebenarnya, ini sekolah bagus. Memadukan teori dan praktek, seperti SMK sekarang. Namun, imejnya terlanjur jelek: sekolah anak nakal. Saya akui, teman-teman saya rata-rata nakal. Tapi, mereka juga pintar. Mungkin karena kurang perhatian dan label nakal sudah disandangnya. Yang saya suka sekolah disana, sikap hidup mandiri tertanam kuat. Dari pohon mangga, jangan harapkan buah rambutan, tapi harapkanlah buah mangga yang paling manis. Jadilah dirimu sendiri. Itulah motto sekolah itu.

Masa kuliah, adalah masa-masa sulit. Saya harus kuliah sambil kerja serabutan. Mulai dari kerja di toko dan numpang tinggal di rumah majikan, beternak ayam, jual stiker di kampus dan menulis opini di surat kabar. Saat baru kuliah, papa saya terserang stroke selama 13 tahun! Mama harus berperan seperti single parent dan pontang-panting mencari uang. Keluarga kami selalu terbelit utang.  Saya masih ingat, mama memberi uang receh untuk ongkos ke kota provinsi berangkat kuliah yang baru diambil dari celengan.

Tapi, saya tak menyerah. Kuliah hampir tujuh tahun akhirnya tamat juga. Saya masih bisa jadi aktivis kampus. Ketua kesenian, pimred buletin kampus, ketua UKM Olahraga dan selalu jadi team manager kampus saat bertanding dalam kejuaraan olahraga antar kampus di tingkat nasional. Padahal, saya tidak mengerti olahraga. Hanya hobi main catur dan tenis meja.

Tahun 1996 saya masuk ke dunia kerja. Tidak mengerti komputer, tidak pernah jadi wartawan. Hanya modal menulis opini selama tujuh tahun dan pengalaman ikut penelitian, sangat membantu. Saya bersyukur karir saya tergolong cepat dan sering meloncat-loncat. Delapan bulan jadi reporter, dikarbit jadi kepala perwakilan. Lalu jadi redaktur, koordinator liputan, redaktur pelaksana, pimpinan redaksi dan pimpinan umum. Tiga tahun lalu, jadi direktur.  Sesuatu yang tak pernah saya bayangkan.

Tuhan memang maha adil. Ada siang, ada malam. Ada susah, ada senang. Baik dan buruk. Bahagia dan menderita. Sukses dan gagal.  Kaya dan miskin. Sehat atau sakit dan seterusnya. Saya mengalami keduanya. Setelah susah payah sekolah, ada juga masa senangnya setelah bekerja dan bisa menabung. Menderita bertahun-tahun, akhirnya  kebahagiaan mulai merebak.  Banyak teman yang suka, tak sedikit pula yang membenci…

Gagal di sekolah, toh bisa juga menuai prestasi dan tiga kali menerima beasiswa. Sehat sepanjang tahun, tiba-tiba drop sakit lalu masuk rumah sakit. Beberapa hari lalu, saya malah di rumah sakit Pakar Putri Hospital, Johor Bahru  Malaysia. Saya check-up perut dan lambung dengan USG seperti orang hamil dan endoskopi, memasukkan monitor melalui selang di rongga mulut untuk memotret isi perut. Hari ini, saat saya berulang tahun ke 42, teman-teman mengucapkan selamat dan minta traktir makan-makan, saya malah duduk di kursi dokter gigi.

Saat salat Zuhur berjamaah di masjid Darul Hikmah Baloi, saya berdoa: Ya Allah, ampunilah aku. Lindungi ibuku, istri dan anak-anakku dan seluruh keluargaku. Jauhkanlah kami dari api neraka jahanam, dari orang-orang yang berniat jahat dan malapetaka. Terima kasih atas rahmat dan karunia-Mu. Jangan jadikan aku orang yang mendustai nikmat-Mu.

Meski saya tak punya agenda merayakan ulang tahun kali ini, istri tercinta menyediakan kue dan lilin, lalu saya tiup bersama kedua buah hati saya. Mereka menyanyikan lagu ulang tahun, lalu mencium pipi papanya. Terima kasih ya Allah…

 Batam, 20 Mei 2009

 

Comments

3 Responses to “Berdamai dengan Kenyataan (20/5/1967 – 20/5/2009)”

  1. ferry sumarlen on June 3rd, 2009 9:57 am

    Assalamualaikum bang… saya karyawan POSMETRO MEDAN (sodara lah berarti kita… hehehe)… mau minta izin ma abang buka2 blog ama baca tulisan abang… ketagihan ni gara2 nyari foto Pak Rida (bos kita) trus pas di klik rupanya link ke blog abang inilah… sekalian aja kubaca kisah perjalanan abang sama Pak Rida ke kampung yang habis manis sepah dibuang… salam kenal ya bang…

  2. alfan MIKO on June 15th, 2009 11:33 pm

    sungguh sebuah perjalanan hidup yang menarik At..sekarang berarti sudah mapan…semoga lebih sukses

  3. sri mustika on September 30th, 2009 2:00 am

    Saya tertarik dg kisah-kisah yang Anda tulis. Tapi sejauh ini saya tidak tahu nama Anda. Saya salah seorang pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo, Jakarta. Mungkin Anda kenal dg bos saya dulu, Pak Atmakusumah yang juga pernah jadi Ketua Dewan Pers.
    Kalau tidak keberatan saya ingin berkenalan dg Anda. Dan mungkin bekerja sama untuk melakukan suatu penelitian ttg. wartawan.
    Tks.

Leave a Reply