Batam Pos Sepuluh Tahun (2)

August 22, 2008 · Filed Under Uncategorized 

Ada banyak kisah dibalik nama Batam Pos, yang selama tiga tahun, tepatnya dari 14 Februari 2000 sampai 17 Januari 2003 hingga berganti menjadi koran umum. Tentu tidak mudah juga bagi kawan-kawan di Sijori Pos berubah nama menjadi Batam Pos.

Rapat perdana Batam Pos dipimpin Pak Rida. Ade Adran Syahlan ditunjuk menjadi pemimpin redaksi, saya dipercaya menjadi redaktur pelaksana dan Andra S Kelana menjadi koordinator liputannya. Beberapa nama lain, ada Yunus Suchari, Johan Howan, Fredy, Buyung dan Reza Pahlevi. Ada delapan orang.
Ada juga yang menolak bergabung dan menganggap, seolah-olah pindah ke Batam Pos ”dibuang.”  Tapi, kami jalan terus. Halaman satu dirancang dan menunggu ada berita besar yang ”diledakkan.” untuk menarik perhatian pembaca. Ternyata, ada kasus pembunuhan warga Singapura di Batam yang lalu menjadi headline-nya. Koran yang direncanakan promosi gratis seminggu, hanya dua hari sudah dijual di pasaran. Batam Pos dengan warna utama merah itu, berhasil menembus pasar Batam dalam tempo singkat.
Oplahnya terus meningkat. Batam Pos tampil beda dan berani. Beritanya hangat, cepat dan akurat. Saat terjadi bentrokan massal, Batam Pos menempatkan foto kerusuhan itu di halaman satu. Padahal, saat itu Ade dan saya sedang rapat di luar kota. Hanya ada Andra yang jaga gawang. Oplahnya menembus 15.000 eksemplar.
Begitulah. Batam Pos menjadi bacaan utama kedua setelah Sijori Pos. Terutama bagi warga kota yang dilanda ketidakpastian, tingginya angka kriminalitas sehingga orang ingin tahu, apalagi yang terjadi di Batam. Kami juga menempatkan beberapa wartawan yang disebut buser (buru sergap) sama dengan istilah yang dipakai polisi.
Setahun kemudian, Batam Pos merah ini pernah mau digugat seorang pejabat karena memuat berita dugaan perselingkuhannya terkait kasus penculikan. Tahun 2001 saya dipercaya menjadi pimpinan redaksi. Kemajuan pesat yang dicapai Batam Pos sehingga kami bisa pindah ke kantor sendiri di Baloi Point, berpisah dengan koran induk Sijori Pos di Jodoh.
Saya banyak belajar di Batam Pos. Termasuk meredakan kemarahan orang terhadap berita. Kantor kami pernah mau didatangi 40 orang pengacara yang mau menggugat karena ada berita tentang oknum pengacara. Sebelum mereka datang, saya datang menemui mereka di hotel dan menjelaskan masalahnya.
Didemo massa, orang marah-marah karena berita, seperti menjadi sarapan pagi. Yang membuat saya sedih, kaca kantor kami pernah dihancurkan beberapa lelaki tak dikenal karena ada berita dari salah seorang keluarganya yang mengaku kepada polisi menanam ganja di rumahnya. Meski koran kriminal, beberapa kali Batam Pos membuat event seperti Gelar Heboh Paranormal dari Gunung Lawu, seminar remaja dan seks yang menampilkan pakar seks Naek L Tobing serta dialog Batam Forum dengan pembicara Kapoltabes Barelang.
Tahun 2003, tanpa kami duga, tiba-tiba ada keputusan berganti nama. Nama Sijori Pos diganti dengan Batam Pos dan Batam Pos memakai nama baru Posmetro Batam. Masa sosialisasi nama baru ini hanya sebulan. Seorang wartawan berkata kepada saya, bahwa ia kecewa kenapa nama koran diganti. Saya mencoba memberinya semangat. ”Percayalah, orang sudah kenal koran kita karena berwarna-warni, beritanya cepat dan berani,” kata saya.
Saya pikir, ini kasus marketing yang unik. Dua koran satu grup berganti nama di satu kota dengan pembaca yang sama? Rasanya, jarang terjadi. Tapi begitulah. Ade Adran Syahlan yang saya tahu orang yang kaya ide, lalu membuat membuat gebrakan, menerbitkan tiga koran di tiga pulau berbeda sekaligus. Isinya, tinggal saling melengkapi. Maka, jadilah Batam Pos merah menjadi Posmetro Batam, Posmetro Bintan dan Posmetro Karimun.
Tak lama kemudian, bertambah menjadi empat. Namanya Batam News dan awalnya diterbitkan dan beredar di Mukakuning. Mau tahu dijual dimana? Di Masjid Nurul Islam dan bandrolnya disebutkan, infak Rp1000,- Namun belakangan, Batam News juga menjadi koran perkotaan dan semi kriminal. Maka, kami punya empat koran yang terbit pagi, siang dan malam hari. Koran ini juga berkembang di Tanjungpinang dan Karimun. Malah, Posmetro Bintan pernah mencapai oplah tertinggi di Tanjungpinang.
Tahun 2005 saya naik pangkat menjadi pemimpin umum Posmetro Batam, Posmetro Bintan, Posmetro Karimun dan Batam News. Begitulah. Awal tahun 2006 saya ditugaskan kembali ke markas besar. Harian Pagi Batam Pos. Nama yang sangat lekat dan akrab buat saya. Lima tahun di Posmetro membuat saya agak kikuk bergabung kembali ke Batam Pos. Apalagi, teman-teman di Posmetro sudah seperti keluarga.
Namun, dengan cepat saya bisa menyesuaikan diri. Toh, sebagian wajah lama. Saya kan wajah baru stok lama, he..he. Saya punya tim yang hebat. Ada Usep yang jagoan marketing iklan. Herman yang piawai di pemasaran koran bertahun-tahun, juga diuji kemampuannya di event organizer. Ternyata, ia hebat. Saya dengar, lelaki bertubuh gempal ini sampai latihan di depan kaca menjadi host. Dan ia pernah menjadi bintang iklan, walau sekali.
Redaksi dipimpin Candra Ibrahim, yang berpengalaman dua kali menjadi pemimpin redaksi di Pekanbaru. Ia asli Natuna dan mertuanya di Penyengat dan paham persoalan di Kepulauan Riau. Tahun 2008 Candra dipromosikan menjadi Pimpinan Umum Batam News dan menjadi wakil saya dan posisinya digantikan Hasan Aspahani, seniman dan puisiwan yang sudah lama berduet dengan saya di Posmetro sebelumnya.
Di Keuangan ada Meta, wanita tangguh yang teliti dan cermat. Ia berani memberi masukan kepada atasannya jika dalam kalkulasi keuangan tidak menguntungkan. Di Bagian Umum dan SDM ada Nelda Murti, orang lama yang juga teliti dan ferfeksionis. Ia mau mengubah surat berkali-kali kalau ada salah ketik dan tanda baca.
Oh, ya. Ada juga anak muda yang punya kemampuan statistik dan sempat memimpin departemen pemasaran. Kini ia menjadi manager Research and Development dan sedang menyiapkan lembaga survey di Kepulauan Riau. Masih ada Depan Maju Sihite manager Informasi dan Teknologi yang membangun portal Batamcyber Zone.
Secara bisnis, Batam Pos berkembang pesat, tumbuh dan mencapai target. Kendati dikepung para pesaingnya, menurut saya ini malah memacu semangat dan memperbesar pasar Batam Pos di masa depan. Selama sepuluh tahun membangun pasar, membuka jalur distribusi sampai ke pelosok pulau lantaran Kepuluan Riau 95 persen wilayahnya adalah laut, tidak gampang bagi orang lain mengikutinya begitu saja.
Kami juga punya tim lapis kedua dan ketiga, kaderisasi berbasis kinerja yang dinilai setiap bulan. Jadi, saya yakin, Batam Pos akan terus menjadi koran pemimpin pasar di Kepri. Saya percaya dengan kekuatan tim. Di pasar kelas atas, Batam sangat kukuh. Di lapis tengah ada Batam News dan di lapis bawah ada Posmetro Batam ditambah dengan Batam Televisi yang makin berkibar.
Pesan bos saya Rida K Liamsi jadi acuan saya. ”Koran ini tidak akan pernah kalah bersaing di pasar, kecuali pecah di dalam,” katanya. Artinya, tim yang tangguh dan solid akan membuat kami berjaya. Atasan saya Bang Marganas Nainggolan juga memberi kepercayaan besar kepada kami, di tengah kesibukannya yang juga menjadi Penanggungjawab Operasional Divisi Regional Batam dan Medan.
Akhirnya, saya ucapkan terima kasih ya Allah. Terima kasih pembaca dan pelanggan serta mitra bisnis kami. Prestasi yang kami raih berkat kepercayaan Anda yang akan terus kami jaga. Pada usia ke sepuluh ini, saya ingin berkampanye dua kalimat saja. Saya pilih Batam Pos saja! dan Batam Pos, a part of my life….***

Comments

One Response to “Batam Pos Sepuluh Tahun (2)”

  1. Batam Digital Island Blog on August 22nd, 2008 9:18 am

    ikutan nih..

    “Saya pilih Batam Pos saja! dan Batam Pos, a part of my life…”

    Hidup Batam, Hidup Batam Pos.

    Salam

Leave a Reply