Batam Pos 10 Tahun (1)
TANGGAL 10 Agustus 2008. Harian Pagi Batam Pos berusia sepuluh tahun. Perjalanan surat kabar nasional pertama dari Batam ini, penuh dinamika dan berhasil menempatkan dirinya sebagai media berpengaruh di Kepulauan Riau. Banyak nama yang memberi warna eksistensi surat kabar ini. Saya ingin mencatatnya sebagai kaca pantul dan menatap ke masa depan.
Batam Pos tidak bisa dilepaskan dari Harian Pagi Riau Pos yang berawal dari koran kecil di Pekanbaru yang diterbitkan PT Riau Pos Intermedia di bawah bendera Jawa Pos Grup yang terbit pertama kali 17 Januari 1991. Koran ini juga beredar di Kepulauan Riau yang saat ini masih satu propinsi dengan Riau.
Saat saya mulai bergabung ke Riau Pos bulan Maret 1996, saat itu ada empat kantor perwakilan Riau Pos. Yakni, Dumai, Tanjungpinang, Batam dan Sumatera Barat. Kemajuan yang diraih Riau Pos, tiga perwakilan belakangan malah punya koran sendiri, yakni Dumai Pos, Batam Pos dan Padang Ekspres.
Empat Kepala Perwakilan itu antara lain, Bang Marganas Nainggolan di Batam, Suseto di Dumai, Akmal Atatrick di Tanjungpinang. Saya sendiri sempat menjadi Kepala Perwakilan Sumbar selama setahun dan kemudian hijrah ke Batam Juni 1997.
Saat saya pindah tugas ke Batam menjadi redaktur, teman-teman di Perwakilan Sumbar yang berkantor di Bukittinggi, juga pindah ke Padang. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 10 Agustus 1998, terbitlah koran Sijori Pos, yang merupakan pengembangan sayap Riau Pos di Batam.
Nama Sijori Pos dipilih terkait dengan pengembangan kawasan segitiga Singapura, Johor dan Riau. Dengan cepat, Sijori Pos melesat dan menjadi koran nasional pertama dari Batam. Pada malam menjelang terbit perdana, tinggal Bang Mafirion, Bang Ace, Mega orang pra cetak dan saya di kantor Orchid Point, Jodoh. Kami bekerja dengan segala kemampuan untuk menyelesaikan edisi perdana itu. Halaman demi halaman. Tak sadar, target deadline molor. Saya menyingkap gorden jendela. ”Wah, sudah pagi, Bang,” kata saya kepada Mafirion. Menjelang subuh, akhirnya koran itu naik cetak dan siap beredar.
Tak ada persiapan khusus untuk peluncuran koran edisi perdana itu. Namun, pada tanggal 10 Agustus 1998, mantan presiden Habibie akan meresmikan jembatan Barelang. Kami berharap, edisi perdana Sijori Pos akan ditandatangani Habibie. Bang Marganas dan Depan Maju Sihite serta saya, hadir pada saat peresmian jembatan tersebut. Sayang, acara Habibie padat sekali sehingga tidak sempat menandatangani koran perdana itu.
Beberapa nama, selain Pak Rida, pantas disebut dengan kehadiran koran lokal pertama dari Batam ini. Pertama, Bang Marganas yang sejak awal bekerja sangat keras mengembangkan koran ini masuk ke Batam. Ia sangat piawai soal bisnis, menguasai masalah manajemen keuangan serta seorang wartawan yang jago menulis feature.
Kedua adalah Bang Akmal Atatrick di Tanjungpinang, yang mengurus percetakan dan distribusi koran sebelum akhirnya dipindahkan ke Batam. Meski ia jauh lebih senior dari saya, bang Akmal masih mau saya ”tugaskan” saat saya menjadi koordinator liputan.
Nama Bang Mafirion, saya letakkan yang ketiga. Sebab, ia adalah pimpinan redaksi Sijori Pos yang pertama. Saat ia, ia menjadi staf ahli Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. Mafirion dikenal bekerja lugas dan cepat. Namun, ia perlu didukung tim yang tangguh pula.
Keempat adalah Bang Taufik Muntasir yang akrab disapa Bang Ace. Setelah sempat bertugas di Tanjungpinang, ia ditarik ke Batam, mengikuti kepindahan mesin cetak. Saya mengenal Bang Ace orang dengan etos kerja tinggi.
Di bagian iklan, ada Usep yang memiliki jaringan dan relasi yang luas. Pria asal Sunda ini dikenal supel dan pergaulannya luas. Ia juga sangat berpengalaman di divisi iklan, jauh sebelum Sijori Pos terbit, saat masih di Riau Pos. Usep termasuk karyawan terlama.
Di bagian pemasaran, ada Herman Mangundap, lelaki asal Menado yang sejak awal sudah terbiasa dan bertahun-tahun bergelut di bagian distribusi dan sirkulasi. Sampai Batam Pos berusia sepuluh tahun, Herman tetap menjadi andalan di pemasaran dan event organizer.
Di bagian administrasi dan keuangan ada Syarifah Harani atau Nani, yang termasuk karyawan terlama, sejak masih berkantor di Windsor. Saat ini, ia dipercaya menjadi wakil manajer di percetakan dan tugasnya diteruskan kadernya Meta Sidabutar sebagai manajer keuangan.
Tentu saja masih banyak lapis kedua yang bekerja keras mengembangkan Sijori Pos. Sebut saja di redaksi ada Depan Sihite, Tariden Turnip, Lilis Lishatini, Lisya Anggraini, Umi Kalsum, Johan Howan dan sebagainya. Sebagian lainnya, memilih pindah ke media lain seperti Erwan Buntaro, Subari, Pramono, Emerson Tahihoran, Parlindungan dan sebagainya.
Dua tahun kemudian, tepatnya tanggal 14 Februari 2000 Sijori Pos menerbitkan ”anak”nya Batam Pos, yakni koran kriminal pertama di Batam. Dengan cepat, Batam Pos menerobos pasar Batam. Koran ini dikenal berani dan blak-blakan.
Januari 2003 ada keputusan manajemen yang unik, sekalgis menjadi kasus marketing yang jarang terjadi. Nama Sijori Pos dikuburkan dan dianggap sebagai masa lalu dan diganti jadi Batam Pos, dan Batam Pos yang sebelumnya koran kriminal, diganti menjadi Posmetro Batam.
Saat itu, beberapa wartawan kecewa. Sebab, nama Batam Pos yang dibangun selama tiga tahun, tiba-tiba harus diganti. Buat saya, nama Batam Pos sesuatu yang mendatangkan semangat juang, kegairahan dan keinginan menyuguhkan berita terbaik dan paling cepat.
Kepada wartawan itu saya bilang, Batam Pos yang berganti nama menjadi Posmetro itu, tetap akan eksis. Sebab, ciri khas koran itu berani dan tampilannya warna-warni. Ternyata saya benar. Batam Pos dan Posmetro sama-sama eksis. Buktinya, riset AC Nielsen menyebutkan, koran pembaca
terbanyak adalah Batam Pos dan kedua Posmetro!
Comments
One Response to “Batam Pos 10 Tahun (1)”
Leave a Reply



Bang socrates, aku mau gabung di PWI gimana caranya, apa boleh media wartawan mingguna gabung ke PWI ,trims Adi